<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Eits, Ini Privasiku!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/31/eits-ini-privasiku/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/31/eits-ini-privasiku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 10:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17771</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Adette Curly
Suatu hari, seorang kawan lesbian bertanya mengenai hal-hal pribadi. Misalnya, bagaimana rupa kekasih saya, siapa namanya, apa nama samarannya, mana akun jejaring sosialnya, mengapa dia tak pernah memberi komentar pada status-status Facebook saya, dan lain sebagainya. Anda pernah mengalami kejadian semacam ini? Jika ya, Anda tidak sendirian.
Mungkin dari sekian banyak teman lesbian, saya yang termasuk sangat pelit membeberkan identitas sang pujaan hati. Bagaimana pun caranya mendesak, saya tidak akan pernah membocorkan informasi sekecil apa pun.
Tujuan pemikiran saya sih, sebenarnya sangat sederhana. Hanya ingin melindungi privasi si Dia. Posisinya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/social-media-privacy.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17772" title="social-media-privacy" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/social-media-privacy-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Oleh: Adette Curly</p>
<p>Suatu hari, seorang kawan lesbian bertanya mengenai hal-hal pribadi. Misalnya, bagaimana rupa kekasih saya, siapa namanya, apa nama samarannya, mana akun jejaring sosialnya, mengapa dia tak pernah memberi komentar pada status-status Facebook saya, dan lain sebagainya. Anda pernah mengalami kejadian semacam ini? Jika ya, Anda tidak sendirian.</p>
<p><span id="more-17771"></span>Mungkin dari sekian banyak teman lesbian, saya yang termasuk sangat pelit membeberkan identitas sang pujaan hati. Bagaimana pun caranya mendesak, saya tidak akan pernah membocorkan informasi sekecil apa pun.</p>
<p>Tujuan pemikiran saya sih, sebenarnya sangat sederhana. Hanya ingin melindungi privasi si Dia. Posisinya yang sangat penting di lingkungan pekerjaan, membuatnya harus ekstra hati-hati dalam melindungi nama baik dan menjaga sikap. Terlebih lagi dalam lingkungan keluarganya, yang belum dapat menerima hal-hal di luar norma masyarakat. Saya tidak mau mengambil resiko &#8211; bila suatu saat &#8211; ketika menunjukkan foto Sang Doi, ternyata ada yang mengenalinya. <em>No no, it&#8217;s too risky for her!</em></p>
<p>Apakah kekhawatiran saya ini berlebihan? Menurut saya tidak. Bahkan sangatlah wajar. Kami adalah lesbians <em>in the closet</em>, dan saya merasa memiliki kewajiban untuk turut menjaga nama baiknya. Sebutlah saya &#8220;bermain aman&#8221;. Namun bukankah rasa aman itu yang menciptakan kenyamanan dalam sebuah hubungan? Apakah satu-satunya bukti kemesraan sepasang kekasih adalah dengan berbalas pesan pribadi di <em>wall </em>Facebook untuk kemudian diperlihatkan pada khalayak umum? Mungkin itu cocok bagi sebagian orang. Tapi tidak bagi kami.</p>
<p>Status-status di Facebook khusus lesbian saya hanyalah tempat untuk menyalurkan perasaan, uneg-uneg, yang tak dapat saya sampaikan secara langsung di “dunia nyata”. Saya bahkan tidak peduli, apakah pacar membacanya atau tidak. Memang, pacar tidak memiliki Facebook khusus lesbian yang memungkinkan kami bertukar pesan di <em>wall</em>. Menurutnya ada cara berkomunikasi yang lebih efektif ketimbang mengumbar kemesraan di depan publik. Setiap hari kami terhubung melalui media telpon dan <em>messenger</em>. Kami juga bersua di dunia nyata. Saling menggengam. Menikmati langit bertabur gemintang hingga fajar menjelang. Bila keberadaannya yang dipertanyakan, dengan mantap saya akan berkata, <em>she&#8217;s real!<br />
</em><br />
Tak saya pungkiri, pastilah menyenangkan bila ada teman yang bertanya dan memperhatikan. Namun batasilah keingintahuan itu. Jangan sampai membuat orang yang ditanyai merasa gerah.  Hargailah privasi orang lain. Tidak semua orang &#8211; lesbian maupun hetero &#8211; merasa senang bila dicecar terus menerus dengan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya pribadi, yang ujung-ujungnya malah terkesan usil.</p>
<p>Mari kita belajar mengendalikan sikap diri sendiri dan jangan repot mengurusi urusan pribadi orang lain. Coba alihkan energi itu untuk hal lain. Menggali informasi lebih dalam lagi pada pasangan masing-masing, misalnya. Siapa tahu ada yang belum terungkap. Dengan begitu kan, jadi bisa lebih mengenali pasangan.</p>
<p>@Adette Curly, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/31/eits-ini-privasiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perpecahan Antara Lesbian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/25/perpecahan-antara-lesbian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/25/perpecahan-antara-lesbian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 03:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17635</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Appu
Pada awal tahun, teman saya, seorang perempuan heteroseksual yang gay-friendly, bercerita tentang keluh-kesah sahabat gaynya. Sahabatnya berkata bahwa ia memutuskan untuk berhenti berkomentar di beberapa forum gay Indonesia di dunia maya. Capek, jelasnya, karena  di antara kaum homoseksual sendiri terdapat perbedaan pandangan-pandangan yang justru saling menjatuhkan.
&#8220;Bagaimana minta orang-orang straight mengerti tentang kita kalau di antara kaum sendiri malah menjatuhkan saudaranya?&#8221; ujarnya kesal.
Saya terenyak. Bagaimana tidak? Keberadaan kaum LGBT di negeri ini masih belum bisa sepenuhnya diterima masyarakat bulat-bulat. Kaum homoseksual Indonesia tengah berjuang membuktikan dirinya bukan sampah atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/smashed_and_broken_heart-1505.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17637" title="smashed_and_broken_heart-1505" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/smashed_and_broken_heart-1505-300x237.jpg" alt="" width="300" height="237" /></a>Oleh: Appu</p>
<p>Pada awal tahun, teman saya, seorang perempuan heteroseksual yang <em>gay-friendly,</em> bercerita tentang keluh-kesah sahabat gaynya. Sahabatnya berkata bahwa ia memutuskan untuk berhenti berkomentar di beberapa forum gay Indonesia di dunia maya. Capek, jelasnya, karena  di antara kaum homoseksual sendiri terdapat perbedaan pandangan-pandangan yang justru saling menjatuhkan.</p>
<p><span id="more-17635"></span>&#8220;Bagaimana minta orang-orang <em>straight </em>mengerti tentang kita kalau di antara kaum sendiri malah menjatuhkan saudaranya?&#8221; ujarnya kesal.</p>
<p>Saya terenyak. Bagaimana tidak? Keberadaan kaum LGBT di negeri ini masih belum bisa sepenuhnya diterima masyarakat bulat-bulat. Kaum homoseksual Indonesia tengah berjuang membuktikan dirinya bukan sampah atau penyakit, melainkan bagian dari bangsa ini yang bisa berkontribusi positif. Bahwa kita adalah manusia normal, hanya berbeda orientasi seksual. Kini tiba-tiba ada keluhan, bahwa para gay, secara tersirat maupun tersurat, justru menyudutkan rekan-rekannya sendiri.</p>
<p>Saya pun mencoba mencari informasi, isu-isu apa yang biasanya memicu <em>fight club</em> di antara para lesbian sendiri.  Berdasarkan pengamatan, ternyata kebanyakan berkisar tentang pertentangan antara para feminis dan pengusung maskulinitas perempuan. Para feminis percaya bahwa <em>all forms of masculinity are problematic </em>(Sheila Jeffrey, 2003). Menurut mereka, perempuan harus diidentifikasi sebagai perempuan saja. Sebisa mungkin, lesbian harusnya membatasi kontak dengan lelaki atau segala hal yang berhubungan dengan sifat-sifat lelaki. Perempuan berpenampilan jantan dianggap bukti supremasi pria. Oleh karena itu, lesbian feminis menolak pembagian peran &#8220;maskulin-feminin&#8221; dalam hubungan. Posisi kedua perempuan dalam hubungan adalah sejajar.</p>
<p>Untuk para lesbian maskulin, biasanya kita menyebutnya butch. Agar adil, saya juga mencari informasi mengenai keberadaan para butch. Istilah butch mempunyai arti orang tangguh (<em>tough kid</em>). Istilah ini dipakai untuk mengidentifikasi seorang yang terlihat jantan, apa pun jenis kelaminnya, termasuk lesbian. Terminologi lesbian menjelaskan butch sebagai citra yang maskulin.  Kata ‘citra’ digunakan untuk menegaskan bahwa butch lebih dari sekedar tampilan busana. Seorang tokoh lesbian menggambarkan butch sebagai &#8220;pernikahan yang sempurna sisi maskulin dan feminim&#8221;.  Dalam sejarahnya, butch akan berhubungan dengan femme (lesbian dengan peran feminin).  Butch dan femme telah menjadi “ikon” yang langsung menghubungkan masyarakat umum dengan dunia lesbian sejak pertengahan abad ke-20 di dunia barat hingga mendapatkan perlawanan keras dari sesama “saudari” pendukung feminisme pada tahun 70-an. Para feminis mengritik kedua subgender ini sebagai “peniruan gagal peran heteroseksual”.</p>
<p>Saya langsung teringat pada film<em> If These Wall Could Talk 2.</em> Terbagi jadi tiga segmen, bagian kedua film tersebut mengisahkan tentang sekumpulan mahasiswa lesbian feminis tinggal serumah dengan latar tahun 1972.  Linda, salah seorang lesbian, berkenalan dengan Amy, butch muda berdasi pengendara Harley. Keduanya jatuh cinta dan mulai berhubungan. Hubungan keduanya menjadi masalah bagi teman-teman Linda karena Amy yang begitu “cowok”, sedangkan feminis menolak sejauh-jauhnya asosiasi dengan lelaki. Adegan memperlihatkan saat teman-teman Linda menertawakan jas dan dasi Amy saat bertandang ke rumah serta memaksanya memakai blus. Amy yang merasa tak nyaman pun pergi.</p>
<p>Kedua pandangan di atas yang saya coba bagikan memberikan gambaran  perbedaan pendapat mengenai “bagaimana seharusnya lesbian&#8221;. Ini salah satu faktor yang bisa menarik kunci granat bernama perpecahan. Berat, ya? Di benak kita, perpecahan mungkin sudah lebih jauh daripada keributan ini.</p>
<p>Pada kenyataannya, pernahkah kita merenungkan bahwa kita menolak berteman dengan seorang lesbian karena penampilannya? Misalnya, saya (ini contoh ya) nggak mau berteman dengan butch bertato dan bertindik di mana-mana. Atau, kita menganggap aneh para <em>no labels</em> karena menganggap perannya “tidak jelas”. Menilai futch (butch yang femme) sebagai butch yang takut ketahuan lesbi, misalnya? Hal-hal kecil macam begitu sedikit demi sedikit akan melebarkan jurang prasangka di kalangan lesbian sendiri. Akibat ketidakmengertian dan dugaan di antara sesama lesbian, yang terjadi malah perpecahan.</p>
<p>Coba ingat-ingat lagi perasaan kita, saat orang-orang sekeliling menjauh ketika tahu kita lesbian. Ingatlah mereka yang berbisik-bisik dan bergidik tentang “betapa seramnya ternyata ada lesbian di kantor ini”. Sekumpulan orang yang meneriakkan kata-kata tak pantas ketika kita lewat bersama pasangan saat bergandengan tangan. Diusir keluarga setelah <em>coming out</em>. Saya bahkan pernah mendengar kisah para lesbian yang diruwat berkali-kali oleh keluarganya atas nama “re-edukasi”.  Mari kita sama-sama ingat perasaan yang pertama kali muncul dalam diri kita menghadapi situasi-situasi tersebut.</p>
<p>Apa pun pandanganmu tentang lesbian, ingatlah baik-baik bahwa dihina dalam bentuk paling ringan sampai tingkat ekstrim yang menimbulkan pemisahan/pengucilan sangat menyakitkan. Apalagi jika dilakukan oleh sesama lesbian sendiri. Kita, komunitas lesbian, semestinya menjadi keluarga terdekat yang membalut luka-luka kekejaman masyarakat. Menjadi sumber inspirasi yang menolong lesbian untuk merasa nyaman dengan dirinya sendiri sehingga bisa banyak berkarya secara positif. Sebab, siapa lagi yang lebih mengerti rasanya menjadi lesbian selain komunitasnya sendiri?</p>
<p>Biarkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah kisah tentang kambing. Seekor kambing hitam yang kelaparan tengah mencari rumput untuk makan, sampai ia tiba di sebuah padang rumput yang ditempati kumpulan kambing putih. Ia baru saja mau menyantap rumput di situ, ketika para kambing putih mengusirnya dari padang itu.</p>
<p>&#8220;Warna bulumu hitam. Tak cocok dengan kami yang berbulu putih,&#8221; ujar para kambing putih, serempak.</p>
<p>Kambing hitam berkilah, &#8220;Hitam? Justru lebih baik karena warna bulu saya hitam semua. Dibandingkan kambing hitam yang belang-belang putih itu.&#8221; Ia menunjuk seekor kambing hitam belang putih yang baru saja datang.</p>
<p>Si kambing hitam belang putih tidak terima. &#8220;Enak saja! Mendingan saya, dong! Tuh, lebih parah lagi kambing putih belang hitam. Nggak jelas kambing apa sebenarnya!&#8221;</p>
<p>Perdebatan bertambah sengit dengan kedatangan kambing-kambing lain dengan varian bulu berbeda-beda. Tiba-tiba terdengar embikan lantang. Sontak semua kambing balas mengembik. Seekor kambing bandot tua berdiri di atas batu datar.</p>
<p>&#8220;Tuh lihat! Kalian baru saja membuktikan kalau kita semua di sini adalah kambing.&#8221;</p>
<p>@Appu, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/25/perpecahan-antara-lesbian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda-tanda Lesbi?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/24/24-jan-tanda-tanda-lesbi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/24/24-jan-tanda-tanda-lesbi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 08:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17307</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Edith
…Bahkan ketika kamu adalah seorang homoseksual, kamu tidak punya hak untuk mengklaim seseorang itu berkecenderungan atau bahkan seorang homoseksual atau bukan…

Saya benar-benar kesal dengan orang yang dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang punya indikasi menjadi homoseksual, hanya karena ia sudah berinteraksi dengan komunitas lesbian dan gay. Bagi saya, tidak ada yang layak untuk mempublikasikan, menebak-nebak, mendeklarasikan orientasi seksual atau identitas gender seseorang kecuali dianya sendiri.
Ini terjadi pada seorang teman dari Solo. Dia berencana mengadakan kegiatan bertema tentang homoseksual dan dia merasa sangat tidak nyaman ketika seorang lesbian yang seharusnya sudah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Pride_by_XxWritergurl06xX.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17425" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Pride_by_XxWritergurl06xX-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Oleh: Edith</p>
<p><em>…Bahkan ketika kamu adalah seorang homoseksual, kamu tidak punya hak untuk mengklaim seseorang itu berkecenderungan atau bahkan seorang homoseksual atau bukan…<br />
</em><br />
Saya benar-benar kesal dengan orang yang dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang punya indikasi menjadi homoseksual, hanya karena ia sudah berinteraksi dengan komunitas lesbian dan gay. Bagi saya, tidak ada yang layak untuk mempublikasikan, menebak-nebak, mendeklarasikan orientasi seksual atau identitas gender seseorang kecuali dianya sendiri.</p>
<p>Ini terjadi pada seorang teman dari Solo. Dia berencana mengadakan kegiatan bertema tentang homoseksual dan dia merasa sangat tidak nyaman ketika seorang lesbian yang seharusnya sudah paham tentang seksualitas dan bagaimana membangun gerakan, mengatakan bahwa dia punya &#8216;tanda-tanda&#8217; sebagai seorang lesbian.</p>
<p>&#8220;Aku bisa melihat dari sorot mata kamu, kalau kamu punya &#8216;tanda-tanda&#8217; itu.&#8221;</p>
<p>Pernyataan itu membuat teman saya yang berasal dari Solo menjadi benar-benar cemas dan membuatnya selama dua minggu tidak bisa konsentrasi, hanya terus menerus memikirkan apakah dia seorang lesbian. Apesnya, pernyataan itu malah membuat dia menjadi homofobia. Dia berpikir bahwa semua lesbian selalu begitu, senang mengajak orang lain untuk menjadi bagian dari mereka.</p>
<p>Bagi saya, organisasi atau komunitas LGBT dibentuk bukan untuk mengubah semua orang menjadi manusia yang memiliki orientasi seksual lesbian, gay, biseksual, atau transgender. Saya mengerti sekali tentang teori yang mengatakan bahwa seksualitas itu cair dan semua orang bisa memiliki kecenderungan untuk heteroseksual maupun homoseksua.  Tapi teori ilmu itu bukan berarti dapat dijadikan legitimasi untuk melabeli seseorang dengan identitas tertentu. Bukankah itu sama saja seperti mementahkan kembali usaha yang telah dibangun bersama untuk membangun ulang nilai-nilai heteronormatif di kaum awam?</p>
<p>Ketika sistem sosial dan politik mengarahkan semua orang pada label heteroseksual, kenapa pada saat yang sama juga ada oknum yang mengadopsi aturan hegemoni seperti itu; dengan mengarahkan atau mencemplungkan seseorang pada label homoseksual sesuai dengan &#8216;tanda-tanda&#8217;?</p>
<p>Perbincangan homoseksualitas tidak akan pernah berhenti dan selama wacana tersebut terus bergulir, akan ada banyak kategori baru tentang homoseksual. Tidak akan ada satu kategori tunggal mengenai homoseksual. Homoseks kelas menengah atas atau menengah ke bawah? Homoseks yang religius atau tidak religius? Homoseks muda atau tua? Homoseks yang bekerja atau tidak bekerja? Homoseks yang bergerak di gerakan perjuangan identitas, akademisi/peneliti, berperan sebagai wartawan, pembuat film, penulis, pekerja seni, pemuka agama, kritikus sastra, politisi, pengacara, dan lain-lain? Jadi, kenapa harus berpikiran sangat sempit dalam tema homoseksual sebagai oposisi atau lawan dari heteroseksualitas?</p>
<p>Jadi, berhentilah membuat stereotip dengan tidak serta merta mengatakan bahwa dia mempunyai tanda-tanda seorang homoseksual!</p>
<p>@Edith, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/24/24-jan-tanda-tanda-lesbi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Jari Telunjuk</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/10/kekuatan-jari-telunjuk/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/10/kekuatan-jari-telunjuk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 06:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17117</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Justin
Kekuatan jari telunjuk adalah judul yang saya pilih karena terinspirasi dari kejadian di suatu acara perkawinan. Saat itu saya melihat seorang anak menunjuk-nunjuk temannya, menuduh si temanlah yang memecahkan gelas. Apa yang terjadi kemudian? Akan saya beritahukan nanti dong (kalau tidak tulisan saya hanya beberapa baris saja, bukan?).
Waktu saya kecil, saya diajarkan untuk menunjuk sesuatu dengan jari telunjuk. Entah siapa yang membuat aturan itu, karena pada akhirnya aturan itu membuat saya bertanya-tanya. Kenapa tidak menunjuk sesuatu dengan keempat jari yang lain selain telunjuk? Kenapa, kenapa dan kenapa?
Seiring perjalanan waktu, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/i-blame-you.jpg"><img class="size-medium wp-image-17205 alignleft" title="i-blame-you" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/i-blame-you-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" /></a>Oleh: Justin</p>
<p>Kekuatan jari telunjuk adalah judul yang saya pilih karena terinspirasi dari kejadian di suatu acara perkawinan. Saat itu saya melihat seorang anak menunjuk-nunjuk temannya, menuduh si temanlah yang memecahkan gelas. Apa yang terjadi kemudian? Akan saya beritahukan nanti dong (kalau tidak tulisan saya hanya beberapa baris saja, bukan?).</p>
<p><span id="more-17117"></span>Waktu saya kecil, saya diajarkan untuk menunjuk sesuatu dengan jari telunjuk. Entah siapa yang membuat aturan itu, karena pada akhirnya aturan itu membuat saya bertanya-tanya. Kenapa tidak menunjuk sesuatu dengan keempat jari yang lain selain telunjuk? Kenapa, kenapa dan kenapa?</p>
<p>Seiring perjalanan waktu, saya diberitahu teman saya yg sama-sama berumur empat belas tahun saat itu, bahwa kalau menunjuk dengan jari tengah, artinya saya sedang meminta orang untuk memukul saya. Menunjuk dengan jari manis akan dikira saya minta dikawinin, dan menunjuk dengan jari kelingking berarti saya baru saja meminta maaf atas sebuah kesalahan.</p>
<p>Penjelasan itu memang tidak logis dan cenderung diberikan asal-asalan. Tapi anehnya, saya percaya dan berpegang teguh pada penjelasan itu sampai saya dewasa. Karena memang aneh bukan kalau menunjuk sesuatu dengan ketiga jari yang saya sebutkan di atas. Tapi kemudian saya belajar menunjuk sesuatu dengan jempol. Ya, jempol, si jari tergendut itu ternyata mempunyai efek menyopankan penunjukan. Saya jadi ingat cara orang-orang kraton yang menggunakan jempol. Lebih sopan sih memang kelihatannya.</p>
<p>Sepelekah hal tunjuk-menunjuk itu?</p>
<p>Ternyata tidak.</p>
<p>Mari coba mengingat-ingat, berapa kali kita menggunakan jari telunjuk untuk kebaikan? Dan berapa kali kita menggunakan jari itu untuk hal yang buruk? Kebaikan jari telunjuk terlihat ketika kita menunjukan jalan pada orang yang bertanya pada kita. Keburukannya akan terlihat jelas ketika kita menunjukan kesalahan orang lain. Persis dengan apa yang anak itu lakukan di pesta pernikahan.</p>
<p>Apa relevansi tunjuk-menunjuk itu pada kehidupan saya, seorang lesbian? Saya mengakui (dan sama sekali tidak bangga) bahwa saya pernah menggunakan jari telunjuk saya untuk menunjuk orang-orang dengan orientasi seksual berbeda. Saya menunjuk si anu adalah lesbian atau saya menunjuk si anu adalah gay. Saya mengingkari dan tidak menerima kenyataan bahwa saya seorang lesbian sejak saya kecil dengan cara menunjuk &#8220;kelainan&#8221; orientasi seksual orang lain. Menyedihkan bukan? Sangat! (Nanya sendiri, jawab sendiri dong).</p>
<p>Apa yang terjadi saat itu? Tentu saja, keterpurukan orang-orang yang menerima akibat dari aktifitas jari telunjuk saya. Dengan cara yang pahit saya belajar, bahwa ketika jari telunjuk saya mengarah pada orang lain, keempat jari saya justru mengarah pada saya sendiri. Ya, pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga. Pada akhirnya, peristiwa tunjuk-menunjuk itu membuat saya berdamai dengan diri sendiri yang kemudian menerima diri saya apa adanya tanpa ada pengingkaran terhadap siapa saya sebenarnya. Demikian halnya perdamaian itu terjadi dengan &#8220;korban-korban jari telunjuk&#8221; saya.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman saya pribadi, dengan menunjukan kesalahan orang lain, saya menjadi merasa superior, lebih kuat, karena orang lain terjatuh dan saya tidak. Tapi faktanya tidak demikian. Dengan menunjukan kesalahan orang lain, saya sebenarnya sedang terjatuh dalam suatu lubang yang dinamakan lubang intoleransi dan kesombongan. Saya merasa diri saya lebih baik dari semua orang. Saya lupa, keempat jari yang lain menunjuk langsung pada diri saya sendiri.</p>
<p>Saya ingin mengajak teman-teman SepociKopi untuk sejenak melihat keadaan negara ini. Pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa kekacauan demi kekacauan terjadi hanya oleh karena kekuatan jari telunjuk? Saat kekacauan terjadi, kita dengan entengnya berkata, &#8220;Dia yang salah, nggak bener dia ngurusin negara.&#8221; Atau mungkin kita pernah menunjuk orang sambil berkata, &#8220;Gara-gara dia semua jadi kacau!&#8221; Sadar atau tidak, kita dan jari telunjuk kita ikut andil membuat keadaan menjadi buruk, bahkan lebih buruk.</p>
<p>Kembali ke dunia lesbian, sering kali kita menggunakan si jari telunjuk untuk menunjuk-nunjuk keluarga kita, karena mereka tidak mengerti keputusan yang kita ambil untuk berpasangan dengan perempuan (ini terjadi dalam kehidupan beberapa teman saya). Apakah kita akan terus menerus menyalahkan keluarga, atau mungkin tetangga, karena mereka tidak mengerti jalan yang kita pilih? Atau justru kita berhenti menyalahkan mereka dan menggunakan keempat jari yang lain untuk membuktikan bahwa menjadi seorang lesbian bukan kejahatan?</p>
<p>Begitu hebatnya kekuatan jari telunjuk untuk membuat kerusakan. Begitu hebatnya kekuatan jari telunjuk untuk membuat hati pasangan kita ataupun keluarga dan orang-orang terdekat menjadi luluh-lantak. Begitu hebatnya kekuatan jari telunjuk untuk membuat seseorang menemukan jalan yang dia cari. Pilihan itu ada pada diri kita masing-masing. Apakah kita akan menggunakan kekuatan jari telunjuk kita untuk kebaikan, atau justru untuk keburukan.</p>
<p>Melalui tulisan pertama saya ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk merenungkan kehidupan lesbian dalam perspektif yang berbeda. Dunia lesbian memang lekat dengan romantisme dan segala permasalahannya. Tapi lesbian tidak hanya hidup dalam dunia romantisme saja, bukan? Orientasi seksual kita mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, tapi kita tetap bagian dari komunitas masyarakat, sehingga kita dituntut untuk tetap berbaur dan mengaktualisasikan diri kita di tengah masyarakat secara positif. Berhenti menyalahkan orang lain (ataupun diri sendiri) dan berusaha memperbaiki diri sendiri sebelum menunjuk kesalahan orang lain&#8230;. <em>Is highly recommended</em> <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oh ya, akhir kisah anak yang saya ceritakan di awal tulisan seperti ini: setelah dia menunjuk temannya, dia dipukul oleh sang teman. Tapi kemudian orangtua anak itu datang dan justru memarahinya, karena mereka melihat sendiri bahwa yang menyenggol gelas sampai terjatuh, adalah sang anak. Hehehe.</p>
<p>@Justin, SepociKopi 2012</p>
<p><em>Catatan Redaksi: Dear Justin, sebagai tulisan pertama ini sangat luar biasa! Semoga bukan jadi tulisan terakhir ya <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  </em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/10/kekuatan-jari-telunjuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Mana Sifatmu?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/03/yang-mana-sifatmu/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/03/yang-mana-sifatmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 11:39:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17062</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: JustNoone

Personality. Seringkali kita mendengar atau membaca kata tersebut. Yah, kepribadian/watak dalam bersosialisasi itu penting bukan? Penting juga di dunia kerja, dan tentunya penting di dunia lesbian. Salah satu faktor penting dalam memilih pasangan yang tentunya perempuan. Perempuan biasanya lebih mengutamakan perasaan daripada logika, karena itulah ada yang menyebutkan bahwa perempuan bisa disebut manusia galau. Setuju atau tidak? Terserah masing-masing pribadi.
Sifat atau kepribadian perempuan itu biasanya lebih rumit yah dibanding lelaki, makanya perempuan, menurut saya lebih hebat dan menarik dibanding lelaki. Menurut Florence Littauer, ada 4 kepribadian dalam diri manusia:

1. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/personality.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17063" title="personality" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/personality-300x298.jpg" alt="" width="300" height="298" /></a>Oleh: JustNoone<br />
<em><br />
Personality.</em> Seringkali kita mendengar atau membaca kata tersebut. Yah, kepribadian/watak dalam bersosialisasi itu penting bukan? Penting juga di dunia kerja, dan tentunya penting di dunia lesbian. Salah satu faktor penting dalam memilih pasangan yang tentunya perempuan. Perempuan biasanya lebih mengutamakan perasaan daripada logika, karena itulah ada yang menyebutkan bahwa perempuan bisa disebut manusia galau. Setuju atau tidak? Terserah masing-masing pribadi.</p>
<p><span id="more-17062"></span>Sifat atau kepribadian perempuan itu biasanya lebih rumit yah dibanding lelaki, makanya perempuan, menurut saya lebih hebat dan menarik dibanding lelaki. Menurut Florence Littauer, ada 4 kepribadian dalam diri manusia:<br />
<strong><br />
1. Sanguinis &#8211; Yang Populer</strong><br />
Orang sanguin dikenal sangat ramah dan sangat suka berbicara kepada siapa saja dengan topik apa saja. Mereka penuh inspirasi, sangat aktif, dapat mempengaruhi orang lain untuk percaya pada apa yang dikatakan, bisa menjadi motivator yang menyenangkan, dan sikapnya cenderung optimis.</p>
<p>Orang sanguin mudah dipengaruhi, cenderung menjadi pengikut, dan mau melakukan apa saja untuk menyenangkan hati orang lain. Mereka pintar membuat kesan, mempunyai banyak kawan, mengenal banyak orang penting, menyukai kehidupan sosial, mempunyai rasa humor yang tinggi, mempunyai antuasisme, dan sikap ekspresif. Hal ini membuat mereka disukai oleh setiap orang yang mereka ajak bicara.</p>
<p>Orang sanguin sangat suka menjadi pusat perhatian, menyukai pujian, dan perhatian, mempunyai impian-impian besar, kreatif dalam merencanakan sesuatu. Tapi mereka kurang terdorong untuk mewujudkan impian dan rencananya, sering tidak disiplin dan pelupa. Meraka sangat takut kehilangan popularitas atau kehilangan kawan.<br />
<strong><br />
2. Melankoli &#8211; Yang Sempurna</strong><br />
Orang melankolis adalah orang yang serius dan tertutup, namun cerdas dan sangat kritis dalam berpikir. Mereka mengerjakan suatu hal lebih tekun, memahami sesuatu setahap demi setahap, menjalani sebagian hidupnya dengan sangat serius. Mereka mampu menganalisis suatu keadaan dengan jauh lebih baik.</p>
<p>Orang melankolis sangat hati-hati, teliti, suka curiga, tidak senang membuat kesalahan, senang dengan detail, menyukai data, fakta, angka-angka dan grafik. Mereka taat mengikuti instruksi dengan seksama, tidak suka mendesak, tidak perlu menjadi pemimpin, senang berada di sekeliling orang yang ramah dan terbuka.</p>
<p>Orang melankolis sangat terpusat pada diri mereka sendiri, kurang memiliki fleksibilitas dalam membangun suatu hubungan interpersonal yang hangat. Mereka sering sekali murung, cenderung melihat hal-hal yang salah daripada hal-hal yang benar, sering keliru membaca orang, sikap mereka cenderung kaku, suka berteori, tidak suka bersosialisasi, suka melindungi dirinya sendiri, dan sangat segan mencoba hal-hal baru.<br />
<strong><br />
3. Koleris &#8211; Yang Kuat</strong><br />
Orang koleris memiliki keinginan yang sangat kuat, juga cenderung sangat yakin pada kemampuan diri mereka sendiri serta sangat mandiri. Mereka tidak suka diperintah oleh orang lain, tetapi suka memberikan perintah. Tidak suka orang yang plin-plan, banyak bicara, tetapi tidak produktif.</p>
<p>Orang koleris dikenal sebagai orang yang keras, tegas, dan sangat menuntut. Mereka memiliki energi besar untuk melakukan hal-hal sulit, memiliki dorongan dan keyakinan yang kuat akan kemampuan diri mereka. Mereka pantang menyerah, tidak ada yang namanya kegagalan dalam kamus mereka. Bila mereka gagal, mereka akan terus mencoba dan mencoba lagi.</p>
<p>Orang koleris jarang menangis, jarang memberikan perhatian yang hangat, dan menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya dalam bentuk memberi atau menghasilkan “sesuatu” bagi orang yang mereka cintai.<br />
<strong><br />
4. Phlegmatis &#8211; Cinta Damai</strong><br />
Orang phlegmatis adalah tipe orang yang paling menyenangkan untuk dijadikan kawan. Orang phlegmatis adalah orang yang manis, tidak mendesak, tidak suka memerintah. Mereka mempunyai sifat pemalu, tidak suka menonjolkan diri, menyukai keramaian, sopan dan mempunyai aturan yang baik dalam pergaulan, tidak suka dengan konflik dan pertentangan, senang memberi dukungan dan setuju dengan pendapat orang lain, sangat tertutup dan menjadi pendengar yang baik dan tidak mudah tersinggung.</p>
<p>Mereka hanya bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu tertentu, tidak bisa mengerjakan banyak hal secara bersamaan, senang pekerjaan yang bersifat monoton dan berulang. Orang phlegmatis baik dalam menyimpan rahasia, baik dalam menerima perintah, sulit untuk berkata &#8220;tidak&#8221; , memiliki sifat menyerah, suka menyenangkan orang lain, tidak tegas, mudah dibujuk untuk melakukan hal yang tidak disenanginya.</p>
<p>Mereka tidak menyukai kejutan, bersifat sentimental, mempunyai kebutuhan mendasar berupa penghargaan dan penerimaan, tidak banyak menuntut, apa adanya, tenang dan bahagia dalam hidupnya. Sifatnya rendah hati, sabar, simpatik, teratur, efisien, dan sangat praktis. Dan mereka selalu mencari solusi yang paling sederhana dari setiap masalah yang dihadapi, selalu bersikap konservatif (berhati-hati), tapi kadang bisa menjadi penakut, dan selalu ingin mengetahui hasilnya sebelum mereka memulainya.</p>
<p>***</p>
<p>Memang manusia dilahirkan dengan watak dan kepribadian yg berbeda-beda. Wahai lesbian, silakan menilai diri sendiri dan pasangan. Saya adalah tipe melancholy-plegmatis, bagaimana dengan Anda dan partner Anda?</p>
<p>@JustNoone, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/03/yang-mana-sifatmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dictionary for Self Improvement</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/20/dictionary-for-self-improvement/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/20/dictionary-for-self-improvement/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 09:02:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16835</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Krishna
Benarkah karena kita berbeda, kita tidak bisa meraih yang terbaik untuk diri kita? Pertanyaan yang sama telah memenuhi benak saya sejak lama. Pertama kali menyadari saya berbeda ketika saya berumur sepuluh tahun. Hidup terasa aneh karena bagaimana mungkin teman-teman saya sibuk membicarakan anak laki–laki tampan di kelas sebelah, sementara saya sibuk mengagumi teman sekelas yang imut bagaikan boneka? Lain waktu teman–teman sibuk bermain boneka, saya sibuk bermain layang–layang bersama abang di sawah belakang rumah.
Selain layang–layang dan bermain senapan angin, saya gemar berkelahi di sekolah, terutama dengan teman laki–laki. Bahkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Screen-shot-2011-11-07-at-2.30.01-PM.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-16836" title="Screen-shot-2011-11-07-at-2.30.01-PM" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Screen-shot-2011-11-07-at-2.30.01-PM-300x200.png" alt="" width="300" height="200" /></a>Oleh: Krishna</p>
<p>Benarkah karena kita berbeda, kita tidak bisa meraih yang terbaik untuk diri kita? Pertanyaan yang sama telah memenuhi benak saya sejak lama. Pertama kali menyadari saya berbeda ketika saya berumur sepuluh tahun. Hidup terasa aneh karena bagaimana mungkin teman-teman saya sibuk membicarakan anak laki–laki tampan di kelas sebelah, sementara saya sibuk mengagumi teman sekelas yang imut bagaikan boneka? Lain waktu teman–teman sibuk bermain boneka, saya sibuk bermain layang–layang bersama abang di sawah belakang rumah.</p>
<p><span id="more-16835"></span>Selain layang–layang dan bermain senapan angin, saya gemar berkelahi di sekolah, terutama dengan teman laki–laki. Bahkan saya punya musuh tetap, teman sekelas yang badungnya minta ampun. Hampir setiap hari kami bertengkar, adu mulut dan bahkan sempat adu fisik. Untungnya keburu dilerai oleh ibu wali kelas.</p>
<p>Meski gemar berkelahi, saya rajin di kelas. Maklum ibu saya guru. Malu dong kalau raportnya kebakaran. Sampai ketika di kelas lima, kelebihan saya dalam hal berkelahi dilirik oleh wali kelas saya. Ketika ada ekskul karate dan taekwondo, ibu wali kelas mendorong saya mendaftar. Jadilah saya mengikuti olahraga bela diri yang faktanya malah mengurangi intensitas saya dalam berkelahi. Sisi terbaiknya &#8211; selain saya jadi jarang terlihat di ruang guru karena dihukum &#8211; ada beberapa hal yang saya pelajari selama mengikuti pelatihan bela diri.</p>
<p><strong>Disiplin diri</strong><br />
Disiplin diri dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam keseimbangan diri belajar, nongkrong, pergi latihan, pacaran, dan lain-lain. Disiplin membawa diri kita menjadi lebih terkontrol dan mawas diri.</p>
<p><strong>Pantang menyerah</strong><br />
Sikap pantang menyerah ini tidak cuma pada saat mengejar sang pujaan hati, siap memanjat pagar, bersepeda beberapa kilometer hanya untuk mengantar buku pelajaran yang tidak penting tapi juga pantang menyerah dalam meraih mimpi. Banyak teman menyalahkan kelesbianan sebagai alasan untuk tidak berusaha maksimal dalam meraih sesuatu. Padahal untuk bisa menjadi seseorang dan diakui keberadaannya, kita harus membuat orang memandang kita secara utuh, walaupun kita lesbian. Buat orang melirik kita dengan cara yang positif, baik, dan <em>fair</em>.</p>
<p><strong>Tinggalkan rasa frustasi!</strong><br />
Frustasi merupakan menu yang terasa akrab untuk kita, terlebih menyangkut perasaan pada tambatan hati, hubungan keluarga, dan sosial. Misalnya, cinta bertepuk sebelah tangan, IPK nasakom, sering bengong sampai nabrak abang becak, menjelek-jelekkan orang lain, pemarah, heterofobia/homofobia merupakan tanda kejiwaan yang tidak sehat. Segera hubungi rumah sakit terdekat, eh, maksud saya segera melakukan introspeksi diri dan perbaikan. Nggak banget deh kalau sampai frustasi merusak hidup. Sakit hati sudah pasti tapi jangan mati dulu sebelum membayar utang sama bapak ibumu di rumah. <em>It’s a whole life credit</em> loh!<br />
<strong><br />
Membuat perencanaan</strong><br />
Dalam kamus saya, perencanaan tentang masa depan menjadi sesuatu yang penting karena tanpa perencanaan, kita tidak tahu harus pergi ke mana. Rencana adalah pembimbing kita menuju masa depan. Dalam menyusun perencanaan, kita mesti melihat seberapa perencanaan itu dapat diwujudkan sehingga tidak menimbulkan frustasi dan depresi apabila perencanaan kita tidak berjalan dengan mulus.</p>
<p><em><strong>Be the best!</strong></em><br />
Berusaha yang terbaik merupakan hal yang sering kali terlupakan, dalam melakukan apapun, berusahalah yang terbaik. Tembaklah bintang. Kejar yang paling tinggi. Jangan tanggung-tanggung! Memberikan yang terbaik juga akhirnya bisa mengeksplorasi dan mengenal diri sendiri. Kita juga bisa tahu sampai sejauh mana kemampua kita.<br />
<em><strong><br />
Take critics as granted</strong></em><br />
Dikritik adalah hal yang paling tidak menyenangkan. Mana ada sih orang yang suka rela dikritik? Termasuk saya dong! Saya belajar untuk menerima kritik karena partner top banget dalam hal kritik mengkritik: pedas, panas dan mengena. Glek! Sisi positifnya, terkadang kritik membuat kita menjadi lebih baik karena kita melihat diri kita dari kacamata orang lain.</p>
<p><strong>Jangan berhenti belajar!</strong><br />
Hidup adalah buku pelajaran paling tebal di dunia. Kehidupan adalah sekolah paling abadi. Jadi jangan pernah berhenti belajar, di kantor, di rumah, di sekolah. Berhenti belajar berarti kita akan menjadi pemilik masa lalu, bersiap ditinggalkan dan dilupakan.<br />
<strong><br />
Terakhir dan terpenting, jauhi narkoba, miras dan rokok!</strong><br />
Lesbian yang keren bukan pecicilan dengan rokok, miras, dan narkoba, tapi lesbian yang berprestasi, bisa membahagiakan bapak ibu di rumah, mandiri, mampu berkarya, membuat para gadis manis, cantik, cakep, seksi memandangmu kagum dan utuh.<br />
<em><br />
So dear girls, </em>sebelum saya melantur, <em>monggo </em>dilanjutkan daftarnya untuk kelengkapan kamus <em>self improvement.</em> Terus semangat! Generasi lesbian selanjutnya adalah generasi lesbian yang bersinar, duduk di posisi penting, dan memiliki pengaruh di masyarakat.</p>
<p>@Krisha, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/20/dictionary-for-self-improvement/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulislah, Biar Dapat Pacar!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/15/menulislah-biar-dapat-pacar-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/15/menulislah-biar-dapat-pacar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 06:28:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16718</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Saraswati Firdauz
Tengah malam ini, aku terkena insomnia lagi, tapi tidak masalah. Aku selalu menyukai tengah malam. Kutengok dia yang sudah terlelap sejak jam sebelas. Awalnya, aku memilih untuk mengganggunya saat tidur. Memberikan sentuhan dan kecupan ringan, tapi setengah jam kemudian aku bosan.  Lalu aku ingat, dia bercerita tentang mantannya. Dia memintaku membuka FB mantannya.
Inisialnya N.I. Aku langsung cengengesan begitu membaca status-statusnya. Seperti petasan, tapi dia tidak berjeda sejak dibakar sampai meledak. Semuanya terasa to the point. Aku menengok note-nya. Ada 112 note di sana. Dengan semangat 45 plus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/love-to-write.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16721" title="love to write" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/love-to-write-218x300.jpg" alt="" width="218" height="300" /></a>Oleh: Saraswati Firdauz</p>
<p>Tengah malam ini, aku terkena insomnia lagi, tapi tidak masalah. Aku selalu menyukai tengah malam. Kutengok dia yang sudah terlelap sejak jam sebelas. Awalnya, aku memilih untuk mengganggunya saat tidur. Memberikan sentuhan dan kecupan ringan, tapi setengah jam kemudian aku bosan.  Lalu aku ingat, dia bercerita tentang mantannya. Dia memintaku membuka FB mantannya.</p>
<p><span id="more-16718"></span>Inisialnya N.I. Aku langsung cengengesan begitu membaca status-statusnya. Seperti petasan, tapi dia tidak berjeda sejak dibakar sampai meledak. Semuanya terasa <em>to the point.</em> Aku menengok <em>note</em>-nya. Ada 112 <em>note </em>di sana. Dengan semangat 45 plus doa semoga koneksi tidak tiba-tiba lemot, aku mulai membaca.</p>
<p>Sebelumnya aku katakan dulu. Aku adalah seseorang yang sangat pencemburu. Partnerku harus selalu bersiap-siap melihatku manyun ketika membahas mantan atau cewek yang naksir partnerku. Apalagi kalau aku tahu ada cewek yang naksir dia sekarang, kadar kecemburuanku melebihi batas normal. Dalam suasana biasa, mungkin aku sudah manyun begitu partner membahas soal N.I, tapi ada hal berbeda dengan cerita cinta mereka di masa lalu. Bukan hanya tentang saling jatuh cinta, tapi cinta yang ada karena kata-kata pada tulisan.</p>
<p>Aku bocorkan satu rahasia kecil. Dari dulu, partnerku selalu terpukau dengan kemampuan kata-kata seseorang. Itu bisa membuatnya jatuh cinta. Pertama, dengan N.I. Kedua, saat dia jatuh cinta padaku. Awal mengenalku, dia bilang dia tidak melihat sesuatu yang istimewa padaku, tapi saat dia membaca tulisanku, dia melihat diriku yang lain. Aku terlihat berbeda; terlihat begitu menarik, begitu cantik, dan dia pun jatuh cinta padaku (bagian ini aku tambah dengan kenarsisanku). Ya, intinya dia mulai jatuh cinta padaku setelah membaca tulisanku.</p>
<p>Saat dia membaca tulisanku, dia menemuka diriku yang sebenarnya. Saat menulis, aku tidak menggunakan topengku, begitu katanya. Menurutku, partnerku memang agak aneh, tapi begitulah dirinya. Dia membaca tulisan dan seketika menanggapku pintar. Perempuan pintar sama dengan perempuan cantik. Mungkin sama dengan N.I dulu. Dia jatuh cinta pada N.I karena tulisan.</p>
<p>Berapa banyak manusia seperti partnerku? Jika saja banyak orang di dunia seperti partnerku, sepertinya para jomblowati yang masih lebih sibuk nyalon untuk meningkatkan daya tariknya harus mulai mengubah trik mencari pasangan. Mulai sekarang tidak usah sering-sering ke salon, tapi sering-seringlah menulis. Siapa tahu tulisanmu terbaca oleh seseorang seperti partnerku, lalu dia jatuh cinta, dan kamu pun bisa mengubah status di Facebook dari <em>single </em>menjadi <em>in a relationship</em>.</p>
<p>Info tambahan, <em>note </em>Facebook N.I baru terbaca sepuluh, artinya masih ada seratus <em>note </em>lagi. Hmmmm&#8230; ini akan jadi malam yang menyenangkan.</p>
<p>@Sarawasti Firdauz, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/15/menulislah-biar-dapat-pacar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuka Jendela</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/13/membuka-jendela/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/13/membuka-jendela/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 07:15:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16689</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Appu
Di usia sebelas tahun, saya menyadari bahwa saya sudah tertarik pada makhluk perempuan. Tertarik pada rambutnya yang indah. Tertarik pada tengkuknya yang landai. Tertarik pada kelembutannya yang khas. Maka, saya mendekat dan terus mendekat pada perempuan. Hingga saya tersentak, kalau saya benar-benar jatuh cinta pada perempuan. Dan hanya bisa jatuh cinta pada perempuan.
Seterusnya saya jatuh cinta pada perempuan dan mau melakukan apa pun untuk orang yang saya cintai. Bak lagu dangdut, saya jatuh bangun mengejar perempuan. Semuanya saya lakukan dengan bahasa kerahasiaan. Tanpa kata. Sebab apabila saya lakukan dengan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Open_Window_by_thefantasim.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16692" title="Open_Window_by_thefantasim" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Open_Window_by_thefantasim-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" /></a>Oleh: Appu</p>
<p>Di usia sebelas tahun, saya menyadari bahwa saya sudah tertarik pada makhluk perempuan. Tertarik pada rambutnya yang indah. Tertarik pada tengkuknya yang landai. Tertarik pada kelembutannya yang khas. Maka, saya mendekat dan terus mendekat pada perempuan. Hingga saya tersentak, kalau saya benar-benar jatuh cinta pada perempuan. Dan hanya bisa jatuh cinta pada perempuan.</p>
<p><span id="more-16689"></span>Seterusnya saya jatuh cinta pada perempuan dan mau melakukan apa pun untuk orang yang saya cintai. Bak lagu dangdut, saya jatuh bangun mengejar perempuan. Semuanya saya lakukan dengan bahasa kerahasiaan. Tanpa kata. Sebab apabila saya lakukan dengan terang-terangan, maka yang tak sanggup saya hadapi adalah penolakan. Penolakan membuat saya patah hati. Patah hati menorehkan ingatan yang menyakitkan.</p>
<p>Dengan jatuh bangunnya saya dalam percintaan, saya berusaha menunjukkan kepada para perempuan yang saya cintai bahwa sekali pun berorientasi seksual berbeda dengan orang kebanyakan, saya selalu serius dengan mereka. Akibatnya, saya diam ketika diduakan kekasih. Saya diam ketika kekasih memilih jalan dengan seorang lelaki di hari jadian kami. Saya diam ketika selama bertahun-tahun dia menunjukkan keraguan untuk melanjutkan ke hubungan ke jenjang lebih serius. Saya diam ketika seorang perempuan tidak jelas maunya apa dan menggantungkan saya. Saya diam ketika saya dimanfaatkan untuk kepentingannya saja.</p>
<p>John Dewey, seorang filsuf, kritikus sosial, dan pakar pendidikan kenamaan dari Amerika Serikat pernah berkata, “Pendidikan bukanlah persiapan menghadapi hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri.” Sebagai filsuf, Dewey percaya kalau filsafat haruslah berpijak pada pengalaman hidup dan mengolah pengalaman tersebut secara kritis. Jika bisa saya interpretasikan pemikiran Dewey ini, bahwa kebijaksanaan lahir dari refleksi pengalaman hidup.</p>
<p>Dari berbagai kepahitan yang dialami serta ribuan diskusi dengan teman-teman, akhirnya saya menyadari, saya hidup hanya bercermin dengan diri sendiri. Semua yang saya lakukan berpusat pada diri sendiri. Keseriusan saya tak lebih dari sebuah pembuktian terus-menerus. Bukan penerimaan terhadap hidup yang kita miliki. Akibatnya, kita malah bermusuhan dengan sekitar kita, dengan menganggap kita berbeda. Permusuhan seperti itu justru membuat kita makin terpojok. Padahal pada kenyataannya, kita sama dengan orang lain. Hanya berbeda selera. Beda selera berarti normal, kan? (tersenyum)</p>
<p>Seberapa banyak dari kita yang hidup bak cermin? Ketika bercermin, yang dilihat adalah bayangan kita sendiri. Tidak salah untuk banyak bercermin. Melihat ke dalam pribadi dan hidup kita sendiri. Ingin membuat perbaikan-perbaikan sana-sini. Menginginkan percintaan yang lebih baik. Perempuan secantik Agnes Monica yang hanya ada untuk kita sendiri. Seorang Angelina Jolie di atas ranjang kita setiap malam, mungkin. Perempuan yang memuja kita seumur hidup. Namun, pernahkah kita terpikir untuk mengubah cermin itu menjadi sebuah jendela? Jendela bisa dibuka, sehingga orang yang berada di baliknya bisa melihat keluar. Banyak yang bisa dilihat di luar jendela. Jendela juga mampu mengubah hawa, memberi ruang untuk udara masuk.</p>
<p>Konsep jendela ini saya dapatkan saat saya tengah mencari kutipan inspirasi yang pas untuk laman jejaring sosial khusus para orangtua murid. Saya mendapatkan kutipan dari Sidney J. Harris, seorang jurnalis dan pendidik, yang berkata, “Tujuan utama dari pendidikan adalah mengubah cermin menjadi jendela.” Jika pendidikan adalah hidup itu sendiri, maka sesungguhnya tujuan hidup ialah mengubah cermin menjadi jendela.</p>
<p>Bagaimana caranya?<br />
<strong><br />
1. Gunakan cermin itu untuk berdamai dengan diri sendiri.</strong><br />
Akui saja, kita adalah perempuan pecinta perempuan. Dalam hal kehidupan cinta, kita merasa lengkap bila berpasangan dengan sesama perempuan. Bercermin juga berarti melihat ke dalam diri, mengenali hal-hal yang dapat kita lakukan. Menggali segala potensi amat penting dalam proses menyadari, bahwa seorang lesbian dapat memberikan kontribusi untuk hidup. Mengenal siapa kita sesungguhnya bisa membantu pencarian pasangan yang sesuai. Terus terang, saat menggali ke dalam pribadi saya, saya jadi lebih mudah menetapkan kriteria perempuan yang ingin saya bawa ke hubungan yang serius. Justru itu membuat saya tenang karena mengerti yang benar-benar saya inginkan.</p>
<p><strong>2. Membuka jendela</strong><br />
Membuka jendela artinya mulailah membuka wawasan hidup. Wawasan hidup tidak melulu bicara pengetahuan yang muluk-muluk. Wawasan hidup bisa berupa mengenali kebutuhan keluarga kita. Itu jauh lebih baik daripada memusuhi mereka gara-gara keluarga belum bisa cocok dengan selera cinta kita. Bantu keluarga kita sampai mereka menyadari, anaknya sebenarnya bisa berbakti dengan caranya sendiri.</p>
<p>Membuka wawasan hidup juga berarti memperluas pergaulan. Saat memperluas pergaulan, satu hal yang perlu kita ingat adalah jadilah diri sendiri. Menutup diri justru akan lebih memberi kesan aneh daripada bikin penasaran. Pada suatu hari, saya mengenakan jersey klub bola kesayangan di tempat kerja. Seorang rekan perempuan yang tidak tahu saya lesbian menjejeri saya dan berkomentar, “Lu feminin dikit kenapa sih?”</p>
<p>Dengan santai, saya menjawab, <em>“Well, this is who I am.” </em>Si rekan malah salah tingkah dan menimpali, “Kalau cowok, ganteng banget lu. Hahaha!” Saya gesit merespon, “Kenapa emang? Naksir yah?”</p>
<p><strong>3. Menjadi jendela</strong><br />
Saat menjadi jendela, kita siap untuk memberikan kontribusi kepada sekeliling kita. Apakah seorang fotografer, musisi, arsitek, guru, kepala sekolah, apa pun pekerjaan kita, pekalah pada isu-isu yang membutuhkan kehadiran kita di situ. Sebab, sangat sayang bila hidup hanya sekedar dihargai dengan kehidupan cinta dengan pasangan. Hanya sibuk dengan mengejar perempuan-perempuan tidak jelas dan belum tentu mau bersama kita. Atau sibuk memunguti kepingan-kepingan hati akibat ditolak atau putus.</p>
<p>Lihat Harvey Milk. Bayangkan kalau dia cuma mengurusi pasangannya seumur hidupnya. Tidak akan ada revolusi di Castro. Lebih banyak gay yang bunuh diri atau hidupnya berakhir di ujung candu dan obat bius. Atau contoh Ellen Degeneress. Tak akan pernah ada yang bisa membuat jutaan orang di seluruh dunia terhibur dan terinspirasi dengan <em>daytime talkshow</em>-nya, bila dia terus-menerus terpuruk akibat ditolak sana-sini selepas<em> coming out.</em></p>
<p>Berkaryalah sebanyak mungkin. Sesungguhnya, itu yang sanggup membuat seorang manusia merasa berarti: ketika dia menyadari, bahwa dia adalah bagian penting dalam kehidupan banyak orang. Sebagai seorang guru, saya mendidik para siswa saya untuk bisa menghargai diri sendiri sehingga mereka bisa memberikan yang terbaik. Sebagai teman, terlalu egois jika saya tidak berbagi pengalaman berharga kepada orang lain. Sebagai lesbian, penting untuk membuat orang menyadari kalau kita sama normalnya dengan mereka, hanya berbeda selera.</p>
<p>Di balik jendela yang terbuka itu, siapa tahu ada perempuan indah yang tersentuh akan kehadiran kita.</p>
<p>@Appu, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/13/membuka-jendela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trilogi Cinta: I Love Me! (3)</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/08/trilogi-cinta-i-love-me-3/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/08/trilogi-cinta-i-love-me-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 01:38:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16593</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen dan Lakhsmi
(Sambungan dari bagian 2)
Apakah menurutmu analisis dari dua artikel sebelumnya berlebihan? Misalnya, &#8220;Ribet amat sih mau pacaran sama cewek aja, pakai acara mengenal identitas diri dulu!&#8221; atau &#8220;Banyak kok lesbian yang bisa langgeng dengan pacarnya, tanpa harus rempong mencintai diri sendiri!&#8221; Wiihh&#8230;. Kalau yang ini malah kasus yang super parah, lho! Mau contoh?
Inilah ilustrasi nomor tiga. Cekidot&#8230;.
Belakangan ini, Dini sering gundah gulana. Dulu sering gundah, tapi entah kenapa makin lama gundahnya makin parah. Kegundahannya berhubungan dengan relasi mesranya dengan pasangan perempuannya bernama Sonya. Padahal dia selalu mencoba ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/unconditionaly.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16595" title="unconditionaly" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/unconditionaly.jpg" alt="" width="183" height="275" /></a>Oleh: Carmen dan Lakhsmi</p>
<p>(Sambungan dari <a href="http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/">bagian 2</a>)</p>
<p>Apakah menurutmu analisis dari dua artikel sebelumnya berlebihan? Misalnya, &#8220;Ribet amat sih mau pacaran sama cewek aja, pakai acara mengenal identitas diri dulu!&#8221; atau &#8220;Banyak kok lesbian yang bisa langgeng dengan pacarnya, tanpa harus rempong mencintai diri sendiri!&#8221; Wiihh&#8230;. Kalau yang ini malah kasus yang super parah, lho! Mau contoh?</p>
<p>Inilah ilustrasi nomor tiga. Cekidot&#8230;.</p>
<p><span id="more-16593"></span><em>Belakangan ini, Dini sering gundah gulana. Dulu sering gundah, tapi entah kenapa makin lama gundahnya makin parah. Kegundahannya berhubungan dengan relasi mesranya dengan pasangan perempuannya bernama Sonya. Padahal dia selalu mencoba menekan kegelisahannya dengan berbagai cara. Contohnya, setiap kali sehabis berciuman atau memeluk pasangannya, Dini langsung membersihkan tubuh dengan sabun antiseptik agar tubuhnya tercuci dari segala macam dosa badaniah. Setiap malam, dia berdoa meminta ampun kepada Tuhan atas dosanya mencintai Sonya. Dia bahkan banyak melakukan diet/puasa ketat. Tapi mengapa rasa bersalah ini selalu muncul? </em></p>
<p><em>Demi Tuhan, dia pernah mencoba keluar dari kelesbianannya. Dia berpamitan dengan teman-teman lesbian dan memberikan pengumuman di blog bahwa dia pensiun menjadi lesbian. Dia mau pergi ke kota suci untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tapi sungguh, dia tidak menemukan kedamaian di sana. Akhirnya Dini kembali lagi menjadi lesbian. Dia mengubah blog, menciptakan eksistensi nyata sebagai pacar Sonya. Tapi itu bukan akhir perdamaian bagi Dini. Ada saat-saat dia merasa gila sendiri. Dia sering kesal sama pacarnya tanpa sebab, padahal dia menyayangi Sonya. Akibatnya, dia marah-marah melulu sama pacarnya. Dia menghina pacarnya sampai dia sendiri bingung, kok bisa-bisanya keluar kata-kata jahat dari mulutnya sendiri. Sering sekali dia tidak bisa mengontrol kemarahannya, bahkan pernah memukul Sonya. Makin lama hubungannya makin mencekam dan tidak bahagia, penuh ketegangan. Pacarnya pun seperti berada dalam penjara. </em></p>
<p><em>Selain itu, Dini juga menjadi benci setengah mati dengan lesbian lain. Dia kesal kalau mendengar ada lesbian yang berbicara soal mimpi dan harapan. Dia mengamuk jika ada lesbian lain yang mengajak mencintai kelesbianan dalam dirinya. Dia menyerang lesbian lain dengan sengaja, menghina, dan bahkan mengancam akan membeberkan identitas teman-teman lesbiannya. Dia marah terus-menerus dan menyebarkan perilaku </em>hatred <em>yang mendalam di tengah-tengah komunitas lesbian. </em></p>
<p>Duh, seru kan baca cerita Dini? Secara garis besar ada beberapa masalah yang dialami Dini.</p>
<p>Masalah yang utama dan yang pertama adalah jelas bahwa Dini tidak mampu mencintai diri sendiri, yang berakibat ke masalah-masalah lain. Dia juga jauh dari mensyukuri hubungannya dengan pasangannya. Di satu sisi, dia tahu dia adalah lesbian. Virus “tidak mencintai jiwa lesbian dalam diri” begitu menguasainya hingga parah, sampai bertahun-tahun menjangkiti Dini. Akibatnya, dia mengalami depresi. Seperti yang tertulis di artikel kedua, muncullah perilaku resiko tinggi. Yang dilakukan Dini adalah menyakiti pacarnya secara verbal dan fisik. Ini masalah kedua yang sangat berat&#8211;perilaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga.</p>
<p>Masalah nomor dua yang dialami Dini adalah serangan kekerasan kepada teman-teman lesbian lain. Dalam istilah psikologi, namanya <em>self-loathing</em>. Ketidakmampuan Dini mencintai diri merembet kepada kaumnya, dalam hal ini kaum lesbian. Kesengajaan menyerang lesbian lain tercetus karena berbagai masalah yang timbul dari perasaan tidak mencintai diri, yang berbuntut menjadi depresi berkepanjangan. Waktu Dini merasa kecewa, sakit hati, sedih, dan aneka perasaan negatif lainnya, Dini merasa tak berdaya sehingga dia pun melakukan tindakan agresi kepada lesbian lain untuk menutupi kelemahannya. Agresi depresi ini dibuktikan dalam penelitian ilmiah yang nanti kami ceritakan di akhir tulisan ini.</p>
<p>Jadiiii&#8230; tepat sekali bukan, kalau dikatakan bahwa “tidak mencintai diri” adalah virus mematikan? Virus ini berperan besar lho dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan perilaku <em>gay-bashers</em> (homoseksual yang menyerang homoseksual lain). Nah, jangan heran kalau banyak lesbian melakukannya! Partnermu melakukannya! Kamu sendiri melakukannya! Atau sahabatmu melakukannya! Termasuk Dini! Konsep “<em>I love myself</em>” sangat sangat sangat penting, lesbian! Bahkan mungkin, jauh lebih penting dari mencintai pacar kita!</p>
<p>Mumpung lagi <em>hot </em>membahas masalah Dini sampai kami rebutan kipas, mungkin beberapa di antara kita bertanya-tanya, apa ya akibatnya bagi Sonya, pasangan Dini? Inilah ilustrasi nomor empat, kisah Sonya&#8230;.</p>
<p><em>Sonya orangnya pendiam dan introver. Dia tidak banyak bicara. Dia tahu dia tidak bahagia bersama Dini. Dia tahu setiap dicium Dini, kekasih yang paling dicintainya akan menganggap ciumannya seperti racun ular berbisa. Hatinya sakit sekali melihat Dini membersihkan badan dengan sabun antiseptik saat habis berpelukan dengannya. Dia juga sering mendengarkan Dini berkeluh kesah tentang rasa bersalahnya menjadi lesbian. Setiap hari, Sonya harus menutup telinga pada doa-doa yang dipanjatkan Dini yang mengutuk kehadiran Sonya dalam hidupnya. Walau di lain waktu, Dini bersikap sangat manis padanya dan mengucap kata-kata cinta, Dini juga sering bersikap semena-mena kepadanya. Apalagi saat Dini menuduh Sonya sebagai setan jalang penggoda hidupnya.<br />
</em></p>
<p><em>Sesungguhnya Sonya menerima semua perlakukan Dini karena dia menganggap dirinya tak mungkin mendapatkan kekasih perempuan lain. Mana ada lesbian lain di dunia ini? Sonya yakin, cintanya cukup besar untuk menyanggupi kejahatan Dini padanya. Dari sejak dulu, cinta Sonya selalu malang. Sebelum Dini, dia pernah dijadikan kekasih nomor dua oleh mantan pacarnya yang berselingkuh. Sonya menerima perlakukan mantannya dengan ikhlas sebab dia meyakini cinta sejati adalah cinta yang menerima segala-galanya, termasuk disiksa dan menjadi pacar kedua.<br />
</em></p>
<p><em>Diam-diam tanpa sepengetahuan Dini, Sonya menyakiti dirinya sendiri. Dia  menjeduk-jedukkan kepala ke tembok kalau selesai bertengkar. Sonya juga menyilet badannya, karena merasa sebagai orang yang paling tidak berharga. Saking stressnya, Sonya juga yakin bahwa hubungannya dengan Dini yang buruk adalah cobaan hidup yang pantas ditanggungnya. Puncaknya, sehabis Dini mengeluarkan kata-kata jahat yang membuatnya merasa menjadi orang paling hina di dunia, dia berniat menjatuhkan diri dari balkon rumah.</em></p>
<p>Stress kan pacar Dini?! Sonya juga wakil dari lesbian yang tidak mencintai diri sehingga menerima perlakuan jahat dari lesbian lain dengan rela.  Teman-teman, adik-adik, tante-tante, kakak-kakak, ibu-ibu, jeng-jeng, mbak-mbak, nenek-nenek&#8230; <em>Please, please, please,</em> kalau kamu mencintai pacarmu, cintailah dirimu yang lesbian dulu! Kita tidak mau mengulangi banyak tragedi lesbian yang sudah menguras air mata duka dan penyesalan.</p>
<p>Beberapa penelitian ilmiah berusaha menjelaskan fenomena agresivitas yang dimiliki orang-orang yang homofobia seperti Dini. Sebuah eksperimen membagi subyek laki-laki yang semuanya mengaku heteroseksual menjadi dua grup: Yang memiliki skor homofobia tinggi (setelah mengisi kuisioner) dan yang memiliki skor homofobia rendah. Satu per satu diajak ke ruangan kosong untuk menonton film secara <em>private. P</em>ada penis, dipasang alat <em>plethysmograph </em>untuk mengukur tingkat<em> sexual arousal</em>. Film yang diputar adalah film gay porno, lesbian porno, dan heteroseksual porno. Hasilnya apa? Ini dia hasilnya&#8230;.</p>
<p>1. Kedua grup memiliki skor <em>sexual arousal</em> yang sama saat diputar film lesbian dan heteroseksual porno.</p>
<p>2. Saat diputar film gay porno, grup yang punya skor homofobia tinggi yang mempunyai skor tinggi secara signifikan dalam <em>sexual arousal</em>-nya.</p>
<p>Apa  kesimpulan dari penelitian ilmiah ini? Orang yang menunjukkan agresivitas penyerangan (menghina, marah, kesal, menghasut) pada kaum homoseksual mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mengalami “fungsi defensif” pada bagian identitas seksualnya yang homoseksual (teori Herek, 1987). Yaitu, mereka ini &#8211; seperti Dini &#8211; adalah orang-orang <em>insecure </em>pada seksualitasnya, yang melampiaskan perasaan ketakutannya kepada kaum homoseksual lain dalam bentuk serangan, baik verbal sampai fisik.</p>
<p>***</p>
<p>Akhir kata, lesbian, mencintai diri sendiri di sini tidak sama dengan narsisme, karena justru di dalam kecintaan pada diri sendiri pada porsi wajar, banyak kapasitas besar untuk mencintai sesama. Untuk lesbian secara khusus, kecintaan pada diri sendiri yang produktif dan positif meliputi kecintaan dan penerimaan pada aspek lesbian dalam diri. Implementasinya adalah kapasitas mencinta yang sangat, sangat, sangat besar dan luar biasa.</p>
<p>Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, orientasi seksual adalah anugrah, jadi tidak bisa diubah oleh manusia. Yang bisa diubah adalah depresi berkepanjangan yang merupakan akibat dari ketidakmampuan menerima kelesbianan ini. Sama seperti sel-sel kanker yang merusak kesehatan tubuh, depresi membuat kesehatan jiwa merosot. Segeralah mencari pertolongan profesional jika merasa gejala-gejala depresi semakin menguasai diri, mencekam, dan tak dapat dikendalikan lagi. Sayangi diri, sayangi lingkungan sekeliling.</p>
<p>Siapkah mencintai (calon) pasanganmu, lesbian? Kata &#8216;cinta&#8217; dasyat banget ya! Cinta sanggup dan mampu menjadi suluh terang bagi dunia. Mari memberi terang buat yang lain. Tidak alasan lagi untuk mengatakan bahwa cinta lesbian kepada kekasihnya adalah cinta kualitas kriuk. Jadi, mulai deh dari berusaha mencintai dirimu sendiri!</p>
<p>@Carmen, Lakhsmi, SepociKopi, 2011</p>
<p><strong>Refences untuk tiga tulisan:</strong></p>
<p>Adams, H.E., Wright, L. W., &amp; Lohr, B. A. (1996). <em>Is homophobia associated with homosexual arousal? </em>Journal of  Abnormal Psychology, 105, 440–445.</p>
<p>Bernat, J. A., Calhoun, K. S., Adams, H. E. (2001). <em>Homophobia and physical aggression toward homosexual and heterosexual individuals. </em>Journal of Abnormal Psychology, 110, 1, 179-187</p>
<p>Francoeur, Robert T. (1995) <em>The Complete Dictionary of Sexuality.</em> Continuum Intl Pub Group (Sd)</p>
<p>Fromm, Erich (1989) <em>The Art of Loving</em>. Perennial Classic; Highlighting edition.</p>
<p>Gosselin, D. K. (2008). <em>Internalized homophobia, self-esteem, education, income, and the use of partner violence in a group of self-identified lesbian and bisexual women.</em> MI: Capella University</p>
<p>Parrott, D. J., Zeichner, A. (2005). <em>Effects of Sexual Prejudice and Anger on Physical Aggression Toward Gay and Heterosexual Men. </em>Psychology of Men &amp; Masculinity, 6, 1, 3-17</p>
<p>Walters, Garry (2011). <em>Out of the Fog &#8211; Information &amp; Support for Those with a Family Member or Loved One Who Suffers from a Personality Disorder.</em> e-book, Barnes And Noble Nook.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/08/trilogi-cinta-i-love-me-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trilogi Cinta: I Love Me! (2)</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 04:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16569</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen dan Lakhsmi
(Sambungan dari bagian 1)
Nah, kemarin kan kita bicara soal akibat dari “tidak mencintai diri sendiri” yang tidak bisa dianggap enteng, karena bisa memengaruhi kualitas hidup si individu lesbian. Perasaan inferior terhadap kaum heteroseksual membuat si lesbian menjadi kikuk bergaul dengan kaum itu karena dihantui perasaan takut ketahuan lesbian melulu. Dia bahkan tidak berani melakukan hal-hal intelektual yang berhubungan dengan LGBT, misanya mengikuti seminar/diskusi tentang homoseksual, membeli buku gay/lesbian di toko buku, dan lain-lain. Istilah ini dinamakan heterophobia. Di kasus pertama, Irene akhirnya diam-diam menjadi lesbian yang introver, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/i_love_me_large.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16573" title="i_love_me_large" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/i_love_me_large-229x300.jpg" alt="" width="229" height="300" /></a>Oleh: Carmen dan Lakhsmi</p>
<p>(Sambungan dari <a href="http://sepocikopi.com/2011/12/06/trilogi-cinta-i-love-me-1/">bagian 1</a>)</p>
<p>Nah, kemarin kan kita bicara soal akibat dari “tidak mencintai diri sendiri” yang tidak bisa dianggap enteng, karena bisa memengaruhi kualitas hidup si individu lesbian. Perasaan inferior terhadap kaum heteroseksual membuat si lesbian menjadi kikuk bergaul dengan kaum itu karena dihantui perasaan takut ketahuan lesbian melulu. Dia bahkan tidak berani melakukan hal-hal intelektual yang berhubungan dengan LGBT, misanya mengikuti seminar/diskusi tentang homoseksual, membeli buku gay/lesbian di toko buku, dan lain-lain. Istilah ini dinamakan <em>heterophobia</em>. Di kasus pertama, Irene akhirnya diam-diam menjadi lesbian yang introver, tidak pede, penakut, kaku, pendiam, serba salah, dan tidak bisa bergaul dengan lingkungannya.</p>
<p><span id="more-16569"></span>Mungkin akan ada yang bilang, &#8220;Ya, sudahlah, perasaanku yang negatif tidak akan merugikan orang lain. Aku menyimpannya untuk diriku saja.&#8221; Eh, enak aja, kenyataannya tidak begitu! Perasaan yang dialami manusia selalu terpantul lewat perilaku. Perilaku lesbian yang buruk akan berpengaruh pada perasaan, pikiran, dan sikap orang lain juga, bahkan memiliki akibat yang jahat bagi orang-orang di sekelilingnya.</p>
<p>Inilah ilustrasi nomor dua. Perhatikan&#8230;.</p>
<p><em>Siti adalah tipe orang yang suka bingung. Seperti saat ini, dia bingung mau memutuskan apa dalam hidupnya. Ujung-ujungnya selalu tidak pernah jelas. Contoh deh, soal percintaan. Siti bolak-balik pacaran tapi kandas dalam waktu singkat. Soalnya Siti suka menduakan pacarnya. Siti biasanya jatuh cinta sama makhluk berjenis kelamin cewek. Tidak ada hentinya dia diputusin cewek karena Siti juga berpura-pura pacaran sama lelaki jika sedang berpacaran dengan pacar ceweknya. Siti selalu trauma jika diputusin perempuan. Apa mereka tidak tahu bahwa susah berpura-pura pacaran dengan cowok, pikir Siti geram. Dia tidak pernah mencintai para lelaki itu! Capek, deh! Kadang Siti sampai tidak bisa tidur gara-gara ini. Kalau pun tidur, dia selalu gelisah dan terbangun beberapa kali. Siti pun mulai mencoba-coba merokok. Berbatang-batang rokok dihabisinya saat dia sedang gelisah, padahal dia cuma ingin menenangkan perasaannya. Aduh, ini kan yang namanya gejala-gejala depresi?</em></p>
<p><em>Padahal yang Siti lakukan, menurutnya, merupakan tameng dan pengorbanan besar untuk melindungi dirinya dan kekasih pujaan hati untuk bisa melanjutkan hubungan mereka. Biar tidak diejek teman-temannya. Biar kelihatan &#8220;normal&#8221;. Biar tidak tidak ketahuan lesbian. Masa mau diusir keluarga karena menjadi lesbian? Dia ingat waktu di sekolah dulu. Siti yang sangat tomboy sering diledek teman-temannya karena berbeda. Jadilah Siti bersikeras memenuhi ekspektansi lingkungan mulai dari bagaimana cara berpakaian, bertingkah laku, sampai ke hal ekstrim, yaitu berpacaran yang tidak sesuai hatinya. Salah satu mantan pacar ceweknya pernah berkata, &#8220;Aku menghargai diriku, Siti. Aku tidak mau kamu menyakiti diriku terus-menerus dengan menduakanku. Yang kamu lakukan bukan cinta.&#8221;</em></p>
<p><em>Siti makin bingung. Saking bingungnya, fokusnya selalu ke masalah percintaan melulu. Kuliahnya tidak pernah beres. Kadang-kadang Siti menyiksa dirinya dengan bekerja mati-matian sampai livernya tersiksa dan dia harus diopname di rumah sakit. Dia juga sibuk pacaran dengan cewek, sama satu, dua, tiga orang. Perasaannya galau tiada henti. Hatinya sakit terus-menerus. Di ambang frustrasinya, Siti memutuskan untuk menikah dengan lelaki yang tidak pernah dia cintai. Dia meyakini, menikahi lelaki ini adalah hukuman yang harus dihadapinya sebagai lesbian.</em></p>
<p>Pusing ya baca masalah Siti? Hadeeeh, pusing bangeeet! Soal perasaan cintanya pada pacar perempuannya nih, misalnya. Menurut Siti, cintanya kepada pacar perempuannya sangat besar tuh. Siti berani mengorbankan perasaan dirinya sampai seluruh jiwa raga nyeriiii. Padahal dia tidak menyadari, yang sakit bukan dirinya saja. Dia juga mengorbankan perasaan orang lain, seperti pacar laki-laki dan pacar perempuannya. Coba kalau si nona ini mencintai dirinya sepenuh hati, sedikit sekali kemungkinan dia bermain-main sama perasaan orang lain, apalagi perasaan dirinya sendiri. Dia takkan harus menanggung malam-malam penuh kesepian dan kemarahan yang berbentuk tangisan.</p>
<p>Atau, jika dia belum siap mencintai diri sendiri, lebih baik ditunda dulu kisah kasihnya pada perempuan, atau tentu saja, tidak memutuskan menikah. Menikah tuh bukan solusi bagi permasalahan urusan percintaan, apalagi percintaan lesbian. Masalah Siti bisa merembet ke mana-mana dan semakin parah untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Virus &#8220;tidak mencintai diri sendiri&#8221; adalah virus yang sangat jahat, bisa membunuh pelan-pelan. Mantan ceweknya Siti tahu secara intuitif bahwa hubungannya dengan Siti adalah hubungan yang tidak sehat. Dia tidak mau ikut-ikutan terjangkit virus seperti ini, sehingga memilih meninggalkan Siti.</p>
<p>Akhirnya lagi-lagi Siti gigit jari, diputus pacar yang dicintainya. Bete banget deh.</p>
<p>Dalam istilah psikologi, masalah yang dihadapi Siti disebabkan oleh perkembangan identitas diri yang kacau balau. Siti tidak mengenal siapa dirinya. Dia tidak tahu bagaimana caranya bersikap. Dia berusaha menjadi orang lain dengan berpura-pura sampai tingkat ekstrim. Akibatnya, keputusan-keputusan Siti dalam kehidupannya menjadi perilaku dengan resiko tinggi. &#8220;Resiko tinggi&#8221; di sini artinya aksi yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari. Misalnya, bergonta-ganti pacar, menduakan pacar (istilah kerennya <em>prosmicuity</em>), merokok tak kenal waktu, bolos kuliah, menyakiti diri sendiri dengan bekerja tanpa henti, menangis terus-terusan, tidur yang tidak pernah cukup, menyiksa diri dengan menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya.</p>
<p>Siti mewakili lesbian yang identitasnya kacau karena ekspektasi masyarakat yang sangat tinggi terhadap seksualitas dan gendernya. Dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengenal dan mencintai dirinya secara utuh. Permasalahan yang umum terjadi pada lesbian yang seperti ini biasanya si lesbian itu sendiri juga turut memelihara identitas yang kacau sehingga menimbulkan kerusakan masa depan. Untuk mencegah perkembangan identitas yang berantakan, cara paling efektif dan bisa dilakukan oleh Siti adalah dengan <strong>menerima diri apa adanya</strong>. Hal &#8220;menerima diri&#8221; adalah pertolongan pertama pada kecelakaan mental.</p>
<p>Eh tunggu, bukan cuma itu aja loh! Ternyata &#8220;menerima diri&#8221; pun tidak cukup untuk kesehatan jangka panjang. Selama pengobatan untuk kesehatan jiwa, pembangunan dan pembentukan &#8220;konsep diri yang baik&#8221; masih harus dikasih pertolongan pertama terus-menerus. Akar permasalahan pada diri Siti perlu dituntaskan setuntas-tuntasnya sampai Siti menjadi sehat lagi. Yaitu, Siti sebaiknya mencari afirmasi (bantuan kekuatan) untuk menyadari bahwa menjadi lesbian itu bukan beban atau penyakit atau hukuman, tapi anugrah. Dia bukan pula satu-satunya lesbian di dunia ini, bahwa masih ada ratusan juta manusia seperti dirinya yang memenuhi bumi, tercipta karena cinta. Siti juga harus belajar menghargai diri, menempatkan dirinya sebagai sosok yang disayang. Artinya dia sebaiknya kuliah dengan baik, tidak menduakan kekasih perempuan, tidak perlu berpura-pura pacaran dengan lelaki, tidak melarikan diri dengan merokok/minuman keras saat menyadari sedang tertekan, menghentikan rencana pernikahan, dan lain-lain. Jika Siti terlalu tertekan, Siti bisa membagi bebannya kepada orang yang bisa menghargai hidupnya sebagai lesbian. Ingat saja, jika ada orang lain yang berusaha merendahkan nilai kelesbianan Siti, artinya nilai Siti berada di atas mereka. Inilah vaksin &#8220;mencintai diri&#8221; yang digunakan untuk melawan virus <em>denial</em> pada lesbian seperti Siti.</p>
<p><em>Healing homosexual</em> adalah istilah yang digunakan untuk membantu lesbian menuju proses <em>self-acceptance</em>. Dalam proses <em>self-acceptance</em> ini, banyak yang harus lesbian lakukan. Contoh: mengikis habis perasaan benci-pada-diri dengan menyadari besarnya cinta Tuhan pada manusia, khususnya diri sendiri; memaafkan orang lain yang pernah menghina dirinya, khususnya kelesbianannya; dan akhirnya membantu lesbian lain yang juga mengalami masalah yang sama. Menurut psikologi, membantu sesama juga sebuah terapi yang memberikan perasaan dihargai, dicintai, dan berguna.</p>
<p>Fiuh, panjang ya. Masih ada lagi loh. Sudah siap dengan kisah lesbian lain dalam urusan percintaan dan konsep cinta-diri?</p>
<p>(bersambung <a href="http://sepocikopi.com/2011/12/08/trilogi-cinta-i-love-me-3/">ke bagian 3</a>)</p>
<p>@Carmen, Lakhsmi, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

