Articles in the Opini Category
Humaniora, Opini »
Oleh: Adette Curly
Suatu hari, seorang kawan lesbian bertanya mengenai hal-hal pribadi. Misalnya, bagaimana rupa kekasih saya, siapa namanya, apa nama samarannya, mana akun jejaring sosialnya, mengapa dia tak pernah memberi komentar pada status-status Facebook saya, dan lain sebagainya. Anda pernah mengalami kejadian semacam ini? Jika ya, Anda tidak sendirian.
Humaniora, Opini »
Oleh: Appu
Pada awal tahun, teman saya, seorang perempuan heteroseksual yang gay-friendly, bercerita tentang keluh-kesah sahabat gaynya. Sahabatnya berkata bahwa ia memutuskan untuk berhenti berkomentar di beberapa forum gay Indonesia di dunia maya. Capek, jelasnya, karena di antara kaum homoseksual sendiri terdapat perbedaan pandangan-pandangan yang justru saling menjatuhkan.
Humaniora, Kesehatan dan Seksualitas, Opini »
Oleh: Edith
…Bahkan ketika kamu adalah seorang homoseksual, kamu tidak punya hak untuk mengklaim seseorang itu berkecenderungan atau bahkan seorang homoseksual atau bukan…
Saya benar-benar kesal dengan orang yang dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang punya indikasi menjadi homoseksual, hanya karena ia sudah berinteraksi dengan komunitas lesbian dan gay. Bagi saya, tidak ada yang layak untuk mempublikasikan, menebak-nebak, mendeklarasikan orientasi seksual atau identitas gender seseorang kecuali dianya sendiri.
Ini terjadi pada seorang teman dari Solo. Dia berencana mengadakan kegiatan bertema tentang homoseksual dan dia merasa sangat tidak nyaman ketika seorang lesbian yang seharusnya sudah …
Humaniora, Opini »
Oleh: Justin
Kekuatan jari telunjuk adalah judul yang saya pilih karena terinspirasi dari kejadian di suatu acara perkawinan. Saat itu saya melihat seorang anak menunjuk-nunjuk temannya, menuduh si temanlah yang memecahkan gelas. Apa yang terjadi kemudian? Akan saya beritahukan nanti dong (kalau tidak tulisan saya hanya beberapa baris saja, bukan?).
Humaniora, Opini »
Oleh: JustNoone
Personality. Seringkali kita mendengar atau membaca kata tersebut. Yah, kepribadian/watak dalam bersosialisasi itu penting bukan? Penting juga di dunia kerja, dan tentunya penting di dunia lesbian. Salah satu faktor penting dalam memilih pasangan yang tentunya perempuan. Perempuan biasanya lebih mengutamakan perasaan daripada logika, karena itulah ada yang menyebutkan bahwa perempuan bisa disebut manusia galau. Setuju atau tidak? Terserah masing-masing pribadi.
Humaniora, Opini »
Oleh: Krishna
Benarkah karena kita berbeda, kita tidak bisa meraih yang terbaik untuk diri kita? Pertanyaan yang sama telah memenuhi benak saya sejak lama. Pertama kali menyadari saya berbeda ketika saya berumur sepuluh tahun. Hidup terasa aneh karena bagaimana mungkin teman-teman saya sibuk membicarakan anak laki–laki tampan di kelas sebelah, sementara saya sibuk mengagumi teman sekelas yang imut bagaikan boneka? Lain waktu teman–teman sibuk bermain boneka, saya sibuk bermain layang–layang bersama abang di sawah belakang rumah.
Humaniora, Opini »
Oleh: Saraswati Firdauz
Tengah malam ini, aku terkena insomnia lagi, tapi tidak masalah. Aku selalu menyukai tengah malam. Kutengok dia yang sudah terlelap sejak jam sebelas. Awalnya, aku memilih untuk mengganggunya saat tidur. Memberikan sentuhan dan kecupan ringan, tapi setengah jam kemudian aku bosan. Lalu aku ingat, dia bercerita tentang mantannya. Dia memintaku membuka FB mantannya.
Humaniora, Opini »
Oleh: Appu
Di usia sebelas tahun, saya menyadari bahwa saya sudah tertarik pada makhluk perempuan. Tertarik pada rambutnya yang indah. Tertarik pada tengkuknya yang landai. Tertarik pada kelembutannya yang khas. Maka, saya mendekat dan terus mendekat pada perempuan. Hingga saya tersentak, kalau saya benar-benar jatuh cinta pada perempuan. Dan hanya bisa jatuh cinta pada perempuan.
Humaniora, Opini »
Oleh: Carmen dan Lakhsmi
(Sambungan dari bagian 2)
Apakah menurutmu analisis dari dua artikel sebelumnya berlebihan? Misalnya, “Ribet amat sih mau pacaran sama cewek aja, pakai acara mengenal identitas diri dulu!” atau “Banyak kok lesbian yang bisa langgeng dengan pacarnya, tanpa harus rempong mencintai diri sendiri!” Wiihh…. Kalau yang ini malah kasus yang super parah, lho! Mau contoh?
Inilah ilustrasi nomor tiga. Cekidot….
Humaniora, Opini »
Oleh: Carmen dan Lakhsmi
(Sambungan dari bagian 1)
Nah, kemarin kan kita bicara soal akibat dari “tidak mencintai diri sendiri” yang tidak bisa dianggap enteng, karena bisa memengaruhi kualitas hidup si individu lesbian. Perasaan inferior terhadap kaum heteroseksual membuat si lesbian menjadi kikuk bergaul dengan kaum itu karena dihantui perasaan takut ketahuan lesbian melulu. Dia bahkan tidak berani melakukan hal-hal intelektual yang berhubungan dengan LGBT, misanya mengikuti seminar/diskusi tentang homoseksual, membeli buku gay/lesbian di toko buku, dan lain-lain. Istilah ini dinamakan heterophobia. Di kasus pertama, Irene akhirnya diam-diam menjadi lesbian yang introver, …





