Articles in the Opini Category
Humaniora, Opini »
Oleh: Mel Latte
Saya mengikuti acara dari Keuskupan Agung Jakarta dengan tema Compassionate Profesionals and Entrepreneurs yang menghadirkan empat narasumber yang sangat menginspirasi saya; yaitu Pak Dahlan Iskan menteri BUMN, Pak Hasnul Suhaimi CEO XL Axiata, Prijono Sugiarto CEO PT Astra Internasional, dan Romo Deshi.
Humaniora, Opini »
Oleh: Indy
“If you aren’t happy single, you won’t be happy taken. Happiness comes from within; not from others.” (Anonymous)
Siapa yang sekarang sedang jomblo alias single, coba angkat tangannya! Yak, nampaknya sekarang banyak lesbian yang sedang berada dalam masa jomblo. Tengok deh linimasa Twitter, ada banyak sekali kicau nan galau dari para jomblo. Buruk? Kondisi ini menjadi salah satu indikator yang membuat jomblo selalu diasosiasikan dengan konotasi negatif seperti tidak bahagia, galau, pengeluh, dan lain-lain.
Film, Humaniora, Opini, Seni Budaya »
Oleh: bE
Sejujurnya, aku dan partner sama-sama belum membaca buku The Hunger Games dan hanya mengenal tokoh Katniss dari SepociKopi, tapi kami memutuskan untuk mengikuti ajakannya menikmati ‘permainan’ yang satu ini.
Nah, singkat cerita kami akhirnya menonton filmnya. Tulisan ini bukan resensi film The Hunger Games. Ada beberapa hal menarik yang aku tangkap sebagai pesan yang ingin disampaikan lewat kisah The Hunger Games. Mungkin teman-teman juga merasakan yang sama, tapi mungkin juga tidak, karena itu aku memutuskan untuk menuliskan pesan-pesan yang berhasil kutangkap di sini:
Humaniora, Opini »
Oleh: Cleo Andromeda
Bayangkan jika dulu RA Kartini tidak pernah memulai gerakan untuk memperjuangkan emansipasi perempuan dan tetap menjadi perempuan Jawa patuh yang hanya mendengar kata orangtua. Beliau tahu dia adalah perempuan, dan perempuan tidak boleh bersuara kalau tidak diminta. Bisa jadi sampai saat ini perempuan masih hidup dalam kodrat ‘manak, masak, macak’ yang berarti hanya boleh mengurus rumah, berdandan cantik untuk suami, dan melahirkan anak. Ruang perempuan hanyalah sebatas kasur dan dapur.
Humaniora, Poling »
Oleh: Samuel Steffany
Kekayaan ayahku telah menempatkanku di pasar budak, dan pria ini telah membeliku. Aku tidak tahu dan tidak mencintainya, namun aku akan belajar mencintainya, melayaninya, dan membuatnya bahagia. Aku akan memberi dia semua yang dapat diberikan seorang wanita lemah pada laki-laki kuat.
Humaniora, Opini »
Oleh: Zara Aulia
Bagaimana reaksi sesama lesbian waktu mendengar kata lesbian? Oke, mungkin kata ini sudah biasa dibaca di situs lesbian kesayangan kita semua. Bagaimana dengan kata-kata lainnya, seperti: homofobia, konservatif, radikal, liberal, atau sekuler? Lihatlah, bagaimana setiap kata mampu memberikan gambaran mengenai suatu hal. Saya tidak bisa menjabarkan tafsir yang satu dan tunggal ketika saya menyebutkan (salah satu) kata di atas.
Humaniora, Opini »
Oleh: Samuel Steffany
Beberapa waktu yang lalu, saya berkata gagah ke teman dan pada diri saya sendiri: “Saya mau berhenti menjadi lesbian!”
Teman tertawa terkekeh-kekeh dan saya juga terkekeh-kekeh, tertawa ironis. Saya memutuskan tidak mau membaca artikel-artikel SepociKopi yang ditulis oleh Lakshmi. Sebab, setiap selesai membacanya, bulu kuduk saya berdiri, pipi tertampar, disertai rasa mulas di perut. Pokoknya, saya tidak mau tertular positive zone yang ada dalam tulisannya! Saya pikir, semua yang Lakhsmi tulis hanyalah utopia.
Humaniora, Opini »
Oleh: Seez Lim
Membaca aneka twit dari akun Twitter @sepocikopi tentang investasi dan keuangan, aku tergelitik menulis tentang investasi, khususnya Reksa Dana (RD). Tidak ada salahnya mempelajari sejarah dan mengenal jenis-jenis reksa dana agar mata lesbian melek tentang investasi. Investasi bukan sebatas tabungan dan deposito saja loh.
Humaniora, Opini »
Oleh: Dee
Karena hujan lebat yang beberapa kali mengguyur tempat tinggal saya, aliran listrik sering padam. Listrik padam, sementara tidak tersedia genset dan emergency lamp lupa di-charge, pilihan tentunya jatuh pada sumber cahaya yang lain. Maka lilin menjadi pilihan saya. Tidak seterang emergency lamp tentunya. Masih juga kalah dengan petromaks. Belum lagi, api lilin yang suka bergoyang-goyang jika terkena embusan angin.





