Articles in the Memory Category
Humaniora, Memory, Relationship »
Oleh: Arie Gere
Setiap orang punya pengalaman pahit dalam bercinta. Sangat pahit hingga dada terasa sesak bila mengingatnya. Termasuk aku, diriku sendiri pernah mengalaminya. Butuh waktu untuk melupakan, butuh orang lain untuk membantu melupakannya. Butuh keberanian yang tangguh untuk mengakui sebuah kesalahan. Butuh siklus yang sangat panjang untuk menghentikan wilayah berpikirku menuju ke arah yang itu-itu saja. Sudah banyak yang bilang, masa lalu untuk dikenang dan masa depan untuk dihadapi. Artinya, jalani saja semuanya, penuh dengan sikap optimis dan semangat yang berapi-api.
Aku pernah terjebak dengan masa remaja yang begitu bergejolak, penuh …
Berita, Humaniora, Memory »
Oleh: Ade Rain
Tuhan memang mahaadil. Semakin bertambah umur, ternyata ada saja hal yang membuat hidup berubah menjadi lebih baik. Padahal masa mencari-cari identitas diri rasanya gamang, bingung mau ke mana masa depan dibawa. Atau manisnya, ke manakah nanti kelesbianan ini membawa. Aih-aih pertanyaan itu bisa dimodifikasi. Males banget mengingat masa lalu. Ada waktu-waktu pengin matek! Ah, masa itu masa yang mati nggak bisa, hidup juga malas.
Hari-hari remajaku aneh dan banyak mellow. Hellow? Apakah kamu sedang di fase ini? Masa sampai begitu sih? Lupakan kesedihan itu. Percayalah, cinta masa muda memang …
Memory, Partnership, Tentang Cinta »
Oleh: Bening
Dari sudut mataku, aku bisa menangkap wajah Aa yang langsung berubah kelam. Di tangannya selembar kertas putih yang warnanya sudah mulai menguning.
“Baca apa sih, A? kok serius banget?” tanyaku, dengan tatapan menyelidik.
“Ah, enggak. Cuma kerjaan lama!” Seketika kertas itu langsung ditekuk dan disobeknya menjadi beberapa bagian kecil. Feeling-ku berkata kertas itu tidak sama dengan kertas-kertas lain. Aa tidak menjawab dengan sebenarnya, meski tidak selalu dalam kategori berbohong.“Emang kerjaan apa sih, A?” Aku melongok ke kardus Aqua yang kami fungsikan untuk menampung kertas-kertas yang telah dihancurkan. Kuambil secuil kertas robekan …
Humaniora, Memory, Renungan, Tentang Cinta »
Oleh: Pisank
Hari Sabtu pukul sebelas siang, aku menunggunya seperti biasanya; di tempat biasa, di bangku taman di bawah pohon kemuning tempat pertama kami saling berbicara, tempat pertama kali aku membuatnya menangis, tempat pertama kali dia mencium pipiku, dan tempat aku melepaskannya.
Aku tahu, dia tak akan datang kali ini. Seperti orang bodoh, aku hanya ingin duduk beberapa lama dan menunggunya di sini. Dan selalu saja aku mengenangnya saat kami duduk bersama. Dadaku sesak, serasa akan meledak saat merindukannya. Rindu! Rasa rindu yang selalu datang menyerangku setiap hari Sabtu pukul sebelas siang …
Humaniora, Memory, Perempuan, Personal Life »
Oleh: Sagita Rius
Kali ini, aku mencoba untuk kilas balik, biar bagaimanapun secuek-cueknya aku atau telah berdamai dengan diriku yang lesbian (menurut beberapa sista yang mengenalku dengan baik), jujur saja sampai sekarang aku kerap kali mempertanyakan diriku sendiri dan juga kepada Penguasa seisi alam, “Mengapa aku terlahir sebagai lesbian?”
Ketika aku telah jauh dari pandangan orangtua dan saudara-saudaraku, karena aku melanjutkan kuliah di ibukota, aku menghirup hawa kebebasan bukan sebagai lesbian, lebih sebagai seorang anak perempuan yang lepas dari pengawasan yang lumayan ketat dari orangtua dan saudara-saudara lakiku. Pada saat inilah aku …
Memory, Your Story »
From: http://jejakartemis.blogspot.com
Seorang teman lesbian melontarkan pertanyaan padaku, “ngapain sih menulis blog Jejak Artemis?” Nggak butuh bermenit-menit untuk menelan arti pertanyaan itu. Aku tercenung seketika. Benar juga ya, kenapa aku bela-belain menulis esai demi esai, opini demi opini untuk sebuah blog aneh, yang judulnya beda, yang konsepnya tidak selaras dengan dunia mapan kaum lesbian, yang isinya juga tentang hal yang “nggak banget deh”.
Mulanya aku tidak pernah ingin menulis dunia lesbian apalagi membagi kisah hidupku yang kupikir ruwet, mengundang banyak orang untuk mencibir.Tapi otakku memang tidak dapat berdamai dengan hati. Mereka ditakdirkan …





