Home » Archive

Articles in the Lagak Lajang Category

Lagak Lajang, Sepocikopiana »

[7 Nov 2010 | 6 Comments | 208 views]

Oleh: Oscar A.
Ketika pertama kali diemban tugas untuk menulis di kolom ini, saya bertanya pada diri sendiri. Mampukah saya? Sanggupkah saya memenuhi deadline redaksi yang begitu ketat? Begitu ketatnya menagih tulisan tanpa peduli, apakah ini hari libur, hari raya ataukah hari kejepit nasional. Atau, apakah si penulis sedang sibuk, sedang sakit, sedang patah hati, sedang berkabung karena ikan kesayangannya yang mati sebab lupa di kasi makan. Atau, apakah si penulis itu sendiri sedang mau menulis atau tidak untuk SepociKopi. Tahukah redaksi tentang hal itu?
Setiap pilihan berbuahkan konsekuensi. Salah seorang sahabat …

Lagak Lajang, Sepocikopiana »

[22 Aug 2010 | 28 Comments | 196 views]

Oleh: Oscar A.
Dunia adalah samudra kesulitan, di seberangnya samudra kemudahan. Dalam kesulitan, semuanya terlihat buram. Lampu-lampu temaram, langit berwajah muram, tak ada senyuman selain wajah-wajah penuh rintihan dan meringis. Apa yang kau ingat tatkala kesedihan itu datang? Sakit hati yang sudah berkarat? Kekasih yang seenaknya meninggalkanmu dan menyayatmu perlahan-lahan? Apa yang kau lihat? Air hujan yang menetes dari sudut atapmu yang sudah bocor? Apa yang kau rasakan? Kepedihan yang tiada tara melebihi sakitnya seorang anak yang ditinggal mati kedua orangtuanya? Apa yang kau inginkan? Kekasih berengsek mu itu kembali pada …

Lagak Lajang, Sepocikopiana »

[8 Aug 2010 | 12 Comments | 217 views]

Oleh: Oscar Arumi
Otak tengah saya kosong. Otak kiri pincang, otak kanan tersumbat. Bukan, saya bukan salah satu dari makhluk jenius yang turun ke bumi. IQ saya pas-pasan, apalagi EQ dan SQ, beugh. Itulah sebabnya, mengapa saya gak suka berdebat, mendebat dan didebat. Yah, apa untungnya, hanya membuat leher belakang menjadi tegang, saraf tak beraturan.
Sejujurnya, selain kadar otak yang pas-pasan, saya juga termasuk salah satu dari sekian banyak pemalas yang mampir di pondok bumi. Yup, saya benar-benar pemalas. Bahkan, untuk menulis kolom ini, betapa ogah-ogahannya saya, kalau tidak di ingatkan …

Lagak Lajang, Sepocikopiana »

[24 Jul 2010 | 15 Comments | 117 views]

Oleh: Oscar A.
Sejenak saya merenung jawaban atas pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Pertanyaan itu dilontarkan melalui welcome note dalam ponsel adik saya yang baru saja berulang tahun ketujuh belas. Menjawabnya tak perlu bernada seperti bunyi ponsel, cukup dalam hati saja. Namun, saya masih bingung bagaimana menjawabnya. Apakah kamu bahagia? Apakah saya bahagia? Beugh, bagaimana mengukur kebahagiaan? Setahu saya yang ada ukuran itu adalah lingkar pinggang perempuan, jarak tempuh kendaraan, berat badan ataupun luas wilayah tertentu dalam sebuah kepulauan. Semua yang dinyatakan dengan satuan ukur sudah tentu bermakna pasti. Berapa ukuran …

Lagak Lajang »

[27 Jun 2010 | 17 Comments | 605 views]

Oleh: Oscar Arumi
Bus itu melaju lambat, bukan karena bobotnya yang kebesaran tetapi jalan berkelok-kelok yang harus dilaluinya. Berapa tikungan yang sudah dilampauinya, pak supir tetap tenang menjaga keseimbangan geraknya bus, plus kestabilan emosi penumpangnya. Saya hampir mual mengikuti perjalanan ini. Mengitari gunung yang berliku-liku, barulah sampai kepada tujuan. Liburan koordinasi istilahnya, antara pejabat-pejabat kampus dengan dosen dan staf lainnya. Entah apa yang dikoordinasikan, bukan hal penting bagi saya dan beberapa orang lainnya. Yang penting, sejenak menjauh dari mahasiswa, sesaat terhindar dari rutinitas.
Alangkah agungnya Yang Maha Kuasa, mencetak gundukan-gundukan bernyawa di …

Lagak Lajang, Sepocikopiana »

[13 Jun 2010 | 4 Comments | 122 views]

Oleh: Oscar Arumi
Bagaimana kau mampu menulis tanpa membaca? Bagaimana kau mampu bertanding tanpa berlatih? Bagaimana kau mampu berhasil tanpa pernah merasa gagal? Bagaimana kau bisa naik ke atas tanpa beranjak dari bawah? Bagaimana ada dua tanpa satu sebagai pembuka? Bagaimana tercipta luas tanpa ukuran panjang dan lebar? Bagaimana ada kita, kalau hanya ada aku? Ah, mulai lebay deh saya.
Inilah yang disebut dengan pembelajaran orang dewasa. Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar, ketika opini dihargai sebagai salah satu buah pikir manusia. Saya pernah diundang sebagai dosen penilai di kelas …

Lagak Lajang, Sepocikopiana »

[30 May 2010 | 4 Comments | 131 views]

Oleh: Oscar Arumi
Betapa sibuknya saya akhir-akhir ini. Ibarat perkantoran, kubikel di dalam otak saya masing-masing penuh dengan jadwal dan rutinitas yang harus dilakukan setiap harinya. Ahh, seolah-olah menghela nafaspun sudah ada skedulnya. Penuh, isian yang tak bersisa. Bagaikan roda, berputar terus tiada henti. Sepertinya, tinggal nunggu ban nya aus, baru deh oleng bergelindingan tak karuan. Baru kali ini, seumur-umur saya disibukkan dengan kegiatan akademis yang tak henti-henti. Bayangkan, baru selesai UAS (Ujian Akhir Semester), saya bukannya berlibur, eh malah ditugaskan mengikuti semacam program seminar internasional di sebuah kota negara yg …

Lagak Lajang »

[16 May 2010 | 5 Comments | 52 views]

Oleh: Oscar Arumi
Di kelas saya, mahasiswa dan mahasiswinya berasal dari beragam suku dan budaya, yah semacam kelas multi-etnislah namanya. Nggak usah saya sebut berasal dari daerah mana saja, yang pasti mulai dari berkulit hitam sampai putih lagi, dari yang nggak kedengaran suaranya sampai yang terbiasa ngomong dengan tekanan nada tinggi dan keras, dari yang bermata bundar sampai yang sipit, oh ya satu lagi dari yang femme, andro sampai butch, semuanya berkumpul di kelas saya.
Melihat mereka belajar bersama di dalam kelas, berjalan bergandengan ke kantin, melahap buku-buku perpustakaan beramai-ramai, atau sekadar …

Lagak Lajang, Sepocikopiana »

[25 Apr 2010 | 20 Comments | 168 views]

Oleh: Oscar Arumi
Dua minggu ini, saya direpotkan dengan penggantian beberapa unit komputer di ruang tunggu dosen, tata usaha dan dekan. Totalnya sih cuma delapan unit, tapi kok ribetnya seabrek-abrek ya? Baru kali ini saya mengurus hal-hal pengadaan yang gak ada hubungannya sama mengajar. Makin bertambah pusing, kalau dosen-dosen lain bukannya malah nolongin eh malah pada minta tolong supaya membeli PC-nya nanti di toko adeknyalah, istrinyalah, suaminyalah, selingkuhannyalah, siapalah. Uhhhh. Akhirnya, saya harus berhadapan dengan salah satu hal yang paling tidak mengenakkan selain menunggu. Tahu kan maksudnya? Yah itu, menolak. Setelah …

Lagak Lajang, Sepocikopiana »

[10 Apr 2010 | 18 Comments | 87 views]

Oleh: Oscar Arumi
Boleh pinjam bahunya? Boleh ya bersandar di sana? Ya ya ya? Saya nggak ingin menangis kok, hanya butuh waktu sebentar mengembalikan mood yang lagi jelek. Biasanya, saya akan bersandar di dinding kos sambil memeluk bantal kesayangan atau selonjoran di sofa ruang tamu kos. Sambil melamun, menyendiri, menyepi sejauh-jauhnya dari keramaian. Tetapi, kok kali ini agak beda ya, saya ingin bersandar di bahunya manusia, di bahunya seseorang. Saya ingin dipeluk, sekaligus ingin memeluk. Damai sekali membayangkan saat bahu saya ditepuk-tepuk seseorang. Tepukan bahu yang terakhir adalah dari seorang sahabat kuliah …