<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Lagak Lajang</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/lagak-lajang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Avatar</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/26/lagak-lajang-avatar/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/26/lagak-lajang-avatar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 10:44:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16306</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar A.
Ada hamparan perasaaan yang muncul ketika melihat kolom yang sama terbit lagi di majalah ini. Namanya, hamparan perasaan bangga, senang, sekaligus iri dan cemburu. Bangga dan senang, tak perlu dijelaskan lagi. Tapi iri dan cemburu yang muncul di hati penulisnya sendiri, bagaimana menafsirnya? Kalaulah semuanya ideal, dualisme sungguh tak diperlukan lagi kehadirannya. Menjadi ini, lalu besok menjadi itu, adalah fase menjijikkan yang harus saya hadapi setiap waktu. Bermuka dua. Saya adalah orang yang bermuka dua, menjadi pengajar baik-baik di institusi, lalu berubah menjadi lesbian munafik yang nangkring sana-sini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/Mirror_Mask_by_InertiaK.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16307" title="Mirror_Mask_by_InertiaK" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/Mirror_Mask_by_InertiaK-241x300.jpg" alt="" width="241" height="300" /></a>Oleh: Oscar A.</p>
<p>Ada hamparan perasaaan yang muncul ketika melihat kolom yang sama terbit lagi di majalah ini. Namanya, hamparan perasaan bangga, senang, sekaligus iri dan cemburu. Bangga dan senang, tak perlu dijelaskan lagi. Tapi iri dan cemburu yang muncul di hati penulisnya sendiri, bagaimana menafsirnya? Kalaulah semuanya ideal, dualisme sungguh tak diperlukan lagi kehadirannya. Menjadi ini, lalu besok menjadi itu, adalah fase menjijikkan yang harus saya hadapi setiap waktu. Bermuka dua. Saya adalah orang yang bermuka dua, menjadi pengajar baik-baik di institusi, lalu berubah menjadi lesbian munafik yang nangkring sana-sini di hamparan bumi lainnya. Sungguh, saya benar-benar jijik menjadi diri saya sendiri.</p>
<p>Semuanya menjadi sok suci ketika saya terbelenggu aturan-aturan sosial yang harus saya akui keberadaanya, padahal seharusnya, kesucian itu tak boleh ternodai ketika alam pikiran saya bergerak bebas mengikuti arus yang tercipta dengan sendirinya itu. Mungkin bukan ciptaan Tuhan, mungkin bukan ciptaan manusia. Mungkin saja, memang alam yang menciptakannya, agar sekeping rasa yang bernama cinta itu, berkembang jenis, bermetamorfosis, atau berevolusi dengan sendirinya.</p>
<p>Ada nama Oscar A. di sini, entah Arumi entah Aishiteru, entalah&#8230; Saya membenci nama itu. Nama itu membuat penulisnya seolah-olah mentereng dengan kolomnya sendiri, padahal jelas-jelas saya yang menulisnya. Itu semua ada dalam kepala saya, saya yang menciptakannya, saya yang melahirkannya, saya yang membuatnya berproduksi. Kau tahu? Oscar Arumi itu sesungguhnya tidak ada! Yang ada hanyalah saya, saya, saya! Saya yang berkedok di balik nama Oscar. Saya, manusia nyata yang benar-benar menjalani hidup dan pemikiran yang nyata, tetapi terdampar dalam ke-<em>avatar</em>-an seorang tokoh yang bernama Oscar lalu terjebak dalam karya-karya sok ilmiahnya&#8212;kalau boleh dibilang begitu&#8212;di dalam dunia maya. Ulangi, <em>di dalam sebuah dunia maya!</em></p>
<p>Sungguh! Saya ingin menjerit kuat dan meneriaki kencang-kencang ketikan tuts yang sedang saya mainkan. Lagi-lagi, ini <em>avatar</em> saya, Oscar A. Dan, saya benci harus terus menerus sembunyi di balik <em>avatar</em> ini, menyembunyikan semua kedok yang saya punya, demi memuaskan dahaga-dahaga haus yang berkeliaran di sini. Oh ya, bukan cuma kalian kok yang kehausan. Sebab saya juga menulis bukan karena kekenyangan atau sedang puas dahaganya.</p>
<p>Paling enak kalo menulis teriak-teriak, meskipun tak ada yang membaca, mendengar apalagi menggubris sama sekali. Pernah saya membayangkan berkata lantang seperti ini, misalnya, “Hai, saya Pujianti Rukmini, Kepala SDN 087910. <em>(Btw, nama ini cuma contoh lho)</em>. Saya seorang lesbian dan baru <em>coming out. </em>Oh ya, apakah Anda yakin akan menyekolahkan anak Anda di sini?”</p>
<p>Oke, itu kalimat yang ingin sekali saya utarakan di dunia nyata. Tanpa perlu lagi bertopeng dan harus mengucapkannya dengan <em>avatar</em> di dunia maya, seperti si Oscar A.&#8212;yang lama-lama bikin saya sendiri jijik melihatnya: sok suci, sok pintar padahal hanya berani berbicara di dunia maya. Ah, lagi-lagi, saya iri melihat <em>avatar</em> sendiri, kenapa dia begitu nyata melakoni semuanya di dunia maya? Meneriakkan semaunya di sini, menjadi seorang lesbian sejati dalam jajaran bahasa pemrograman yang saya sendiri nggak mengerti?</p>
<p>Sementara saya sendiri, menjadi apa di dunia nyata?</p>
<p>Hanya, robot sosial yang digerakkan melalui bahasa norma dan etika. Ah, <em>bullshit! </em></p>
<p>Tiba-tiba saya ingin berdoa, <em>Semoga,</em> avatar <em>ini berhenti dengan sendirinya, hingga saya bisa menjelma menjadi sebenar-sebenarnya diri sendiri, di dunia yang sungguhan dan tidak maya lagi.</em></p>
<p>@Oscar A., SepociKopi, 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/26/lagak-lajang-avatar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Dibelai-belai</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/01/dibelai-bela/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/01/dibelai-bela/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 08:55:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15047</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar Arumi
Suatu kali, saya berkunjung ke sebuah International School di sebelah timur Sumatera. Kebetulan, sahabat lama saya bekerja di sana sebagai salah seorang teacher aid (guru pembantu – fungsinya seperti asisten guru yang sedang mengajar). Sembari bernostalgia, Rina – sahabat saya itu, mengajak berjalan-jalan mengeliling sekolah anak-anak bule di daerahnya. Mulai dari lapangan bola yang luas, lapangan basket, taman bermain, kolam renang, kebun binatang mini sampai perpustakaan, semuanya ada di lokasi sekolah. Saat bel sekolah berdering, anak-anak sekolah berhamburan ke segala penjuru. Salah satunya, seorang anak perempuan India berumur ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/un_coeur_de_papillon_by_ladysybile-d421dwc.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15049" title="un_coeur_de_papillon_by_ladysybile-d421dwc" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/un_coeur_de_papillon_by_ladysybile-d421dwc-228x300.jpg" alt="" width="228" height="300" /></a>Oleh: Oscar Arumi</p>
<p>Suatu kali, saya berkunjung ke sebuah <em>International School</em> di sebelah timur Sumatera. Kebetulan, sahabat lama saya bekerja di sana sebagai salah seorang <em>teacher aid </em>(guru pembantu – fungsinya seperti asisten guru yang sedang mengajar). Sembari bernostalgia, Rina – sahabat saya itu, mengajak berjalan-jalan mengeliling sekolah anak-anak bule di daerahnya. Mulai dari lapangan bola yang luas, lapangan basket, taman bermain, kolam renang, kebun binatang mini sampai perpustakaan, semuanya ada di lokasi sekolah. Saat bel sekolah berdering, anak-anak sekolah berhamburan ke segala penjuru. Salah satunya, seorang anak perempuan India berumur tujuh tahun mendekati kami, mengambil setangkai bunga dari pucuknya.</p>
<p>“<em>What is this, miss</em><em>?” </em></p>
<p><em></em>“<em>It is Jasmine</em>,<em> h</em><em>oney. </em>Melati in <em>bahasa.</em>”</p>
<p>“<em>Jasmine for you, miss</em> Rina.”</p>
<p>Anak perempuan itu sungguh menggemaskan. Sebelum dia berlari lincah mengejar teman-teman kelasnya, saya sempat membelai rambutnya yang tergerai, mengucapkan terima kasih atas bunganya meskipun bukan saya yang diberinya bunga.</p>
<p>“Untung kamu belainya cuma sebentar, semoga tidak masalah bagi guru-guru yang sempat melihatnya.”</p>
<p>Ucapan Rina barusan membuat dahi saya berkerut, apa maksudnya?</p>
<p>Beberapa tahun yang lalu, konon seorang guru Perancis bernama Patrick, senang sekali membelai anak-anak kecil, hm mungkin kesenangannya sama seperti yang saya rasakan barusan. Suatu saat, diadakanlah pesta perpisahan untuk guru yang berpulang ke negara asalnya. Entah kenapa, saat itu Patrick berdandan ala perempuan Gypsi, lengkap dengan <em>makeup </em>dan <em>lipstick</em>-nya. Awalnya, pihak sekolah hanya memandangnya sebagai gurauan Patrick belaka. Gurauan itu berubah menjadi ancaman saat Patrick benar-benar mabuk dan berkicau nyaring seperti wanita-wanita jalang.</p>
<p>Keesokan harinya di sekolah, Kepala Sekolah mengeluarkan selembar surat yang membuat Patrick tak pernah kembali ke sekolah itu. Isu lain beredar di sekolah, kalau Patrick senang sekali membelai anak-anak lelaki di kelasnya. Padahal mungkin, Patrick senang membelai semua anak di sekolah. Isu itu melahirkan keputusan Kepala Sekolah lainnya, kalau guru-guru dan semua anggota sekolah dilarang melakukan kontak fisik kepada murid-murid sekolahan, bahkan sebuah belaian sekali pun.</p>
<p>Saya mengangguk-angguk mendengar cerita Rina, sebagian mengerti, lebih banyak yang tidak saya mengerti. Saya yakin, belaian Patrick adalah belaian kasih sayang dan bukan belaian nafsu yang dituduhkan pihak sekolah padanya, terlepas dari kenyataan bahwa Patrick adalah seorang <em>gay. </em></p>
<p><em></em>Banyak yang menganggap sentuhan lengan, bahu atau mungkin belaian ke rambut seseorang adalah sebuah pelecehan, biasanya di dunia lesbian seperti itu. Aish… Entahlah, mungkin saja benar, bisa jadi salah. Tidak semua belaian dan sentuhan itu bermakna negatif. Seperti saya, misalnya, yang kekurangan belaian kasih sayang dari orang tua, justru mendapatkan belaian-belaian positif dari guru-guru semasa kecil dulu. Orangtua saya tidak pernah membelai, itu benar. Mereka mengajarkan kehidupan kepada anak-anaknya namun tanpa belaian sedikitpun, sesuatu yang saya sadari baru-baru ini. Entahlah, mungkin saya dan saudara di rumah hanya dibelai saat bayi sampai balita, setelahnya tidak pernah. Sesuatu yang hilang dari ingatan saya. Mungkin karena itu, saya jadi benar-benar senang melakukan kontak fisik saat berbicara dengan teman-teman saya. Sentuhan jemari, lengan, bahu sampai rambut (untuk yang sangat dekat) berarti kasih sayang yang terucap tanpa kata-kata. Bisa pula karna alasan yang sama, Patrick membelai anak-anak itu karna kasih sayangnya yang luar biasa namun disalah artikan oleh orang-orang sekitar yang melihatnya.</p>
<p>Ah, tiba-tiba, ada seseorang yang benar-benar ingin saya belai saat ini. Apakah dia, bersedia saya belai-belai sekarang ini? Kalau yang ini, jelas belaian dengan makna yang lebih dalam.</p>
<p>@Oscar Arumi, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/01/dibelai-bela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Ocher</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/07/09/lagak-lajang-ocher/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/07/09/lagak-lajang-ocher/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2011 16:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13498</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar A.
Masih tentang Cherry – Si Penyusup Bermata Elang itu. Kali ini, label penyusup sudah gak tepat lagi disematkan padanya, sebab dia sudah mendapatkan izin saya untuk masuk kelas dan mengejar ketertinggalannya selama ini. Harusnya, tulisan ini sudah berganti topik, tidak tentang dia lagi. Habisnya gimana lagi, kalau otak saya masih melulu berputar tentang dia? Memangnya bisa digencet, disekap, ditutup mulutnya, lalu dibuang ke jurang curam yang gak bisa ditemukan orang lain, begitu? Wuih, sulit. Gak segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau persendian lenganmu lagi patah, bisa kebayang kan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/pocismile1.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/pocismile1-300x284.jpg" alt="" title="pocismile" width="300" height="284" class="alignleft size-medium wp-image-13504" /></a>Oleh: Oscar A.</p>
<p>Masih tentang Cherry – Si Penyusup Bermata Elang itu. Kali ini, label penyusup sudah gak tepat lagi disematkan padanya, sebab dia sudah mendapatkan izin saya untuk masuk kelas dan mengejar ketertinggalannya selama ini. Harusnya, tulisan ini sudah berganti topik, tidak tentang dia lagi. Habisnya gimana lagi, kalau otak saya masih melulu berputar tentang dia? Memangnya bisa digencet, disekap, ditutup mulutnya, lalu dibuang ke jurang curam yang gak bisa ditemukan orang lain, begitu? Wuih, sulit. Gak segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau persendian lenganmu lagi patah, bisa kebayang kan susahnya gimana.</p>
<p>Kali ini, saya membuat permainan kecil di dalam kelas. Saya menyuruh 30 orang masiswa secara acak (dan tentunya Cherry termasuk di dalamnya, hihihi) berdiri dan membentuk lingkaran. Tugas mereka hanya satu, yaitu berhitung. Hitungan satu dimulai dari mahasiswa pertama, dilanjutkan angka dua oleh mahasiswa kedua, dan mahasiswa ketiga harus melanjutkannya dengan mengatakan “Boom’’. Pernah belajar KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) atau FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) waktu SD dulu? Ya, mirip-mirip gitu deh. Bedanya, kau harus menggantikan angka tiga dan kelipatannya dengan kata-kata “Boom”. Yang menyebutkan kata selain dari kata “Boom” harus keluar dari permainan dan saya tugaskan membuat makalah untuk dipresentasikan minggu depan.</p>
<p>Oke, sudah dapat poinnya? Satu, Dua, Boom! Empat, Lima, Boom! Tujuh, Delapan, Boom! Sepuluh, Sebelas, Duabelas!. Aha, seorang mahasiswa terpaksa harus keluar dari permainan. Dia lupa menyebutkan “Boom” sebagai pengganti angka duabelas. Inti permainan ini hanya satu, konsentrasi dan fokus. Saya melirik Cherry sesekali. Hitungan dasarnya oke nih, Cherry melewatkannya dengan gampang. Saya yakin, pada dasarnya dia anak yang pintar. </p>
<p>Jumlah peserta semakin menyusut. Lucu deh melihat anak-anak ini. Kelihatan polos meski udah pada gede dan hampir menyandang gelar sarjana. Ternyata, kalau dikasih permainan seperti ini, semuanya benar-benar antusias dan kembali seperti anak-anak kelas 1 SD. Terkadang, pas gilirannya dia bengong. Ada yang ngeliat kanan kiri, padahal satu lingkaran udah ngeliatin dia menunggu hitungan selanjutnya. Pesertanya tinggal sepuluh, makin mengecil menuju angka lima, empat, tiga dan dua.</p>
<p>&#8220;Sekarang, Cherry dan Haris berhadapan. Tatap mata lawanmu, lalu hitungan satu dimulai dari Haris.&#8221; Dua anak sedang beradu fokus dan konsentrasi. Haris kelihatan tegang sementara Cherry terlihat tenang dan damai. Terdengar, angka tujuh belas dari mulut Haris. Cherry terdiam sejenak. Seisi kelas ikut tegang melihat permainan ini.</p>
<p>“Boom”. Dua detik sejak terdiamnya, untung saja Cherry berhasil mengeluarkan kata-kata ampuh itu. Kalau tidak, akan dinyatakan didiskualifikasi kalau menurut penonton diamnya terlalu lama. Lalu, berlanjut ke angka dua puluh dua oleh Cherry dan Harispun melanjutkan dengan kata-kata ampuhnya.</p>
<p>“Boom”. Seisi kelas lemas mendengarnya dan serentak berucap Aaaaaaaaa panjang. Oke, permainan usai. Cherry menang dalam permainan ini. Dalam hati saya, Haris sebenarnya bukan kalah berhitung, tapi kalah ditatap oleh mata Cherry yang tajam itu. Ya, pasti.</p>
<p>Seusai kelas, kali ini giliran Cherry mengajak saya “BRUNCH”. Katanya, Brunch adalah KPK dari dari Breakfast dan Lunch. Ah, bahasa yang terdengar sangat aneh di telinga saya. Lalu, saya bermain KPK dalam kata-kata yang mungkin terdengar lebih aneh lagi di telinga Cherry.</p>
<p>“Oke, OCHER akan Brunch’’. Kernyitan dahi Cherry membuat saya tersenyum dan melanjutkannya dengan kepanjangan dari OCHER. Oscar dan Cherry.</p>
<p>Hahaha, iseng saya mengganti kepanjangannya dalam pikiran sendiri. OCHER. Bagaimana kalau dipanjangkan saja seperti ini, Oscar-nya Cherry?</p>
<p>@Oscar Aishiteru, SepociKopi, 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/07/09/lagak-lajang-ocher/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Penyusup Bermata Elang</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/06/18/penyusup-bermata-elang/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/06/18/penyusup-bermata-elang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 11:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12875</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar Aishiteru
Saya gundah ditatap seperti tadi. Mata elang-nya tajam, diam-diam menusuk ke dalam sanubari. Pandangannya mampu mengacaukan, untuk apapun yang ingin saya katakan. Tatapannya sebenarnya hangat, meski lama-lama menyeramkan. Sinar matanya berhasil mengalihkan alam pikir saya ke pemukiman terpelosok di negeri antah berantah dunia. Harusnya ya, nggak seperti ini. Masa gara-gara dua bundar itu saya jadi linglung. Wah, bisa kacau SKS saya gara-gara si dia yang bermata tajam itu.
Siapa sih dia? Kok saya gak pernah lihat di dalam kelas. Sabotase. Kriminal. Penyelundupan. Eh, penyelundup maksudnya. Ya benar, ada penyusup ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/Kill_Me_Softly_by_GoldenDune.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-12876" title="Kill_Me_Softly_by_GoldenDune" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/Kill_Me_Softly_by_GoldenDune-300x182.jpg" alt="" width="300" height="182" /></a>Oleh: Oscar Aishiteru</p>
<p>Saya gundah ditatap seperti tadi. Mata elang-nya tajam, diam-diam menusuk ke dalam sanubari. Pandangannya mampu mengacaukan, untuk apapun yang ingin saya katakan. Tatapannya sebenarnya hangat, meski lama-lama menyeramkan. Sinar matanya berhasil mengalihkan alam pikir saya ke pemukiman terpelosok di negeri antah berantah dunia. Harusnya ya, nggak seperti ini. Masa gara-gara dua bundar itu saya jadi linglung. Wah, bisa kacau SKS saya gara-gara si dia yang bermata tajam itu.</p>
<p>Siapa sih dia? Kok saya gak pernah lihat di dalam kelas. Sabotase. Kriminal. Penyelundupan. Eh, penyelundup maksudnya. Ya benar, ada penyusup di dalam kelas. Mana absensi, mana absensi? Iya benar! Mahasiswi penyusup. Aduh, jangan-jangan NII. Antek-antek NII. Iya, kan? Siapa tahu? Mungkin saja iya, mungkin saja benar. Jangan-jangan, dia alien. Alien yang berasal dari Planet Mata-mata. Penduduk planetnya semua bermata indah. Tugas mereka hanya satu, yaitu memata-matai penduduk dunia. Lah, tapi buat apa? Ya buat di-analisis, mungkin mereka lagi skripsi atau tesis di muka bumi. Atau, jangan-jangan penduduk dunia berada dalam bahaya. Kacau. Saya harus bertindak untuk menyelamatkan bumi.</p>
<p>“Bu Os, ini absen kelas F. Absen tiga orang, tanpa izin. Kelas Ibu rame banget, semester depan harus dipecah dua,’’ kata si petugas pengumpul absen.</p>
<p>“Makasih Pak Edi&#8230;,”  <em>Sudah mengacaukan lamunan saya</em>. Itu lanjutannya.</p>
<p>Saya tatap daftar absensi itu lekat-lekat.  Satu, dua, tiga, tahan… Dapat, dapat! Tapi, ah&#8230; GAGAL. Tidak ditemukan penyusupnya.</p>
<p>Bergegas saya menuju toilet. Pikiran mulai sesak, yang di bawah juga menyesak. Saat pintu toilet terbuka, saya hampir menemukan jawabannya. Mata yang tadi itu menatap lagi. Kali ini dia tak akan lolos. Tak ada kata tidak, saya akan biarkan dua bundar indah itu meluluhlantakkan saya di ruangan khusus. Interogasi.</p>
<p>‘’Sudah lama jadi penyusup?’’ Tanya saya di ruangan pribadi dosen, empat mata dengannya.</p>
<p>‘’Bukan penyusup, Bu. Saya juga mahasiswi di <em>College.</em> Ini Kartu Mahasiwa saya, 06A0189.’ ’Sambil mengeluarkan dompetnya, saya tetap mengamati dengan seksama.</p>
<p>‘’Hampir enam tahun. Pasti <em>DO Warning</em> sudah sampai ke rumah kamu’’.</p>
<p>‘’Benar, Bu. Saya harus tamat tahun depan, kalau tidak&#8230; saya yang bakalan tamat, Bu.’’ Si mata elang mulai mengeluarkan jurus  memelasnya.</p>
<p>Namanya Cherry.</p>
<p>Dari ceritanya, Cherry hanya ingin mengulangi semua mata kuliah dengan cara masuk ke semua kelas meski tak terdaftar dalam SKS-nya. Intinya, dia mau kejar ilmu, benar-benar haus ilmu. Sepertinya mau menghapus dosa selama lima tahun dengan kejar tayang selama setahun. Sejujurnya, saya tidak terlalu simpatik dengan cerita-ceritanya. Salahnya sendiri, bermalas-malasan tak  karuan. Ditumpuk di akhir tahun, harus bisa selesai dalam sekejap. Yah, tapi sudahlah. Seperti yang saya bilang tadi, bukan dia yang luluh lantak karena pengakuannya, tapi saya yang megap-megap karena tatapannya. Mungkin cuma saya satu-satunya dosen yang grogi karena ditatap oleh mahasiswinya. Sinkronisasi pikiran dan kata-kata pun mulai berantakan, hingga akhirnya&#8230;. Saya mengajaknya makan siang bareng. Makan bareng adalah salah satu cara mendekatkan diri dengan mahasiswi yang &#8220;sedikit bermasalah&#8221;.</p>
<p>‘’Yuk, makan lesbian.’’ Kalimat itu terucap dengan enteng dari bibir saya tanpa rasa bersalah, membuat si Mata Elang menjadi terdiam.</p>
<p>‘’Maksud saya, makan lesehan.&#8221;</p>
<p>Astaga! Apa yang barusan saya ucapkan? Tak senonoh, memalukan. Kali ini saya sudah dimakan bulat-bulat olehnya. Dipelototi tajam dari arah depan, dilumat-lumatnya dari arah belakang.</p>
<p>@ Oscar Aishiteru, SepociKopi 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/06/18/penyusup-bermata-elang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Tanpa Batas dan Belenggu</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/05/28/lagak-lajang-tanpa-batas-dan-belenggu/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/05/28/lagak-lajang-tanpa-batas-dan-belenggu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 10:52:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12391</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar
Kaki saya melangkah ke luar rumah. Kursi di balkon ini memang empuk. Rotan muda yang sudah semakin menua. Baru tersadar oleh saya, kenapa Bapak senang sekali menghabiskan waktunya di kursi ini. Imajinasi menjadi tak terbatas, sambil memandang hamparan di depan mata. Rumput terbentang, daun-daun menari di atas dahan, ranting pohon bernyanyi bahkan burungpun bisa berdansa. Wah hebat! Harmonisasi alam, konser kehidupan di dunia nyata. Ah, tapi bukan. Lama-lama persis dunia kartun. Apa pun bisa berbicara, benda mati pun punya ruh. Ya, inilah alam saya, imajinasi saya. Apa pun bisa, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/pocijuga.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-12392" title="pocijuga" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/pocijuga.jpg" alt="" width="220" height="151" /></a>Oleh: Oscar</p>
<p>Kaki saya melangkah ke luar rumah. Kursi di balkon ini memang empuk. Rotan muda yang sudah semakin menua. Baru tersadar oleh saya, kenapa Bapak senang sekali menghabiskan waktunya di kursi ini. Imajinasi menjadi tak terbatas, sambil memandang hamparan di depan mata. Rumput terbentang, daun-daun menari di atas dahan, ranting pohon bernyanyi bahkan burungpun bisa berdansa. Wah hebat! Harmonisasi alam, konser kehidupan di dunia nyata. Ah, tapi bukan. Lama-lama persis dunia kartun. Apa pun bisa berbicara, benda mati pun punya ruh. Ya, inilah alam saya, imajinasi saya. Apa pun bisa, kalau saya maui. Bukankah ini hal yang paling menyenangkan untuk dilakoni? Menjadi Tuhan di dunia ciptaan sendiri.</p>
<p>Tahun lalu, Bapak masih aktif bertugas di kantornya. Piket malampun dilakukannya dengan penuh tanggung jawab. Namun, usia tak bisa berbohong. Ini adalah tahun pertama masa pensiunnya. Setelah mengurus kebun dan ikan-ikannya, Bapak sering menghabiskan kantuknya di kursi ini. Mungkin Bapak masih belum terbiasa dengan rutinitas pensiunnya. Seseorang yang biasa terbangun pagi dan berangkat ke kantor, kini harus terbiasa dengan aktivitas-aktivitas berbeda meskipun bukanlah suatu hal yang baru. </p>
<p>Saya teringat pada seorang sahabat di kampus. Putri dan suaminya lahir tepat di tanggal, bulan dan tahun yang sama. Entah sudah berapa kali Putri bercerita bahwa dia dan suaminya akan menjalani masa pensiun bersama. Mereka bahkan sudah membeli setapak lahan yang menjadi fokus aktivitas pensiunnya. Ah, luar biasa menurut saya, sudah memikirkannya sampai ke sana.</p>
<p>Segala yang di dunia adalah terbatas. Tak ada satu pun yang tanpa batasan. Jangan pikir cintamu tak terbatas padanya, atau berpikir kau tak akan pernah tua dan melemah. Setiap dari kita diberi waktu yang terbatas oleh Tuhan, agar kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Yang tak terbatas adalah keinginan dan hawa nafsu. Tak pernah berhenti di satu titik kecukupan, karna pasti mau dan mau lagi. Keinginan tak mengenal kata cukup, tapi keinginan punya rasa bosan bahkan muak. Ketika keinginan itu muak akan sesuatu, maka keinginan pun beralih ke hal-hal lain yang tak terduga. Bukankah setiap orang harus belajar untuk membatasi keinginannya sendiri?</p>
<p>Saya tahu, Bapak masih punya keinginan luar biasa untuk bekerja. Tapi sayang, tua dan lemah membatasinya hanya sampai pada titik tertentu. Saya juga tahu, air muka Ibu selalu suram ketika menghadiri acara pernikahan sanak-saudara. Jangan kira saya tak paham itu semua. Saya juga punya keinginan yang suci dan luar biasa saat ayah mempelai saya membacakan ijab-kabul pernikahan lalu terharu memeluk saya, pasangan sah anak perempuannya. Ah, inilah alam saya, imajinasi saya. </p>
<p>Apa pun bisa, kalau saya maui. Bukankah ini hal yang paling menyenangkan untuk dimimpikan? Saat impian berubah menjadi nyata, saat semua keinginan bebas dari segala batas dan belenggu. Ah, mungkin saya sudah punah dan musnah, saat mimpi-mimpi ini berubah menjadi nyata.</p>
<p>@Oscar Aishiteru, SepociKopi, 201</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/05/28/lagak-lajang-tanpa-batas-dan-belenggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Lajang Kantoran</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/05/14/lajang-kantora/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/05/14/lajang-kantora/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 May 2011 05:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12165</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar A.
Saya mencintai pekerjaan pokok saya, sebagaimana saya mencintai dunia tulis-menulis, ah lebih tepatnya dalah hal menulis kolom lagak lajang ini. Kalau dunia tulis-menulis adalah istri kedua yang berhasil membuat diri ini tersenyum lalu mencekcoki mimpi-mimpi saya, maka pekerjaaan adalah istri pertama yang membangunkan saya melihat kenyataan, bahwai “hei, inilah hidup’’. Bila istri kedua berhasil membuat saya orgasme habis-habisan, maka istri pertama juga berhasil menyadarkan bahwa saya sebenarnya loyo dan selalu butuh obat kuat untuk di ranjang. Istri pertama tidak tahu bahwa saya punya istri lain, sedangkan istri kedua ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Busy_Pink_Office_Lady_by_ChelseaBritain.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Busy_Pink_Office_Lady_by_ChelseaBritain-300x286.jpg" alt="" title="Busy_Pink_Office_Lady_by_ChelseaBritain" width="300" height="286" class="alignleft size-medium wp-image-12166" /></a>Oleh: Oscar A.</p>
<p>Saya mencintai pekerjaan pokok saya, sebagaimana saya mencintai dunia tulis-menulis, ah lebih tepatnya dalah hal menulis kolom lagak lajang ini. Kalau dunia tulis-menulis adalah istri kedua yang berhasil membuat diri ini tersenyum lalu mencekcoki mimpi-mimpi saya, maka pekerjaaan adalah istri pertama yang membangunkan saya melihat kenyataan, bahwai “hei, inilah hidup’’. Bila istri kedua berhasil membuat saya orgasme habis-habisan, maka istri pertama juga berhasil menyadarkan bahwa saya sebenarnya loyo dan selalu butuh obat kuat untuk di ranjang. Istri pertama tidak tahu bahwa saya punya istri lain, sedangkan istri kedua selalu menuntut untuk dipuaskan dan diperhatikan. Maka, habislah saya, membayangkan bila kedua istri itu bertemu ditengah-tengah. Selama muka kusut saya tertutupi oleh pekerjaan yang menumpuk, disitu pulalah ide-ide menulis saya lahir dan tajam mengalir tak bisa dibendung.  Huff, menarik napas setahap demi tahap.</p>
<p>Sebenarnya, saya sangat mencintai pekerjaan pokok saya. Sekali lagi, hanya pekerjaan pokok saya. Sayangnya, bukan hanya pekerjaan mengajar yang harus saya tangani. Ini-itu diluar pekerjaan utama, sebahagian besar ditanggungjawabi oleh saya. Misalnya, pengadaan barang dan jasa di kampus diserahkan bulat-bulat ke saya.. Lalu, pengawas kebersihan dan keamanan di kampus, mulai memberati pundaknya saya. Mulanya hanya mengawasi petugas kebersihan dan satpam saja melaksanakan tugasnya, tapi eh perlahan-lahan, kok pengawasan supir-supir dan mobil kampus juga beralih ke pundak yang sama. Lama-kelamaan, berbagai ini dan itu pindah kelas semuanya ke pundak saya. Alhasil, ponsel saya hampir selalu berdering, krang kring krang kring. Hilanglah satu kenikmatan saya yang bernama ketenangan.</p>
<p>Sebab muasalnya adalah kelajangan saya. Jika kamu lajang, sendirian, gak punya pacar, kekasih, suami, istri atau selingkuhan dan punya pekerjaan bagus, maka sebahagian besar lingkungan akan mengecap bahwa kamu adalah tipe wanita karir yang mandiri, yang hobi- nya adalah bekerja. Lalu, bos dan rekan-rekan kerja di kantor pun mungkin menganggap kamu seperti itu. Sebagai seorang perempuan yang tidak menikah dan tak punya tanggung jawab apapun di rumah, tidak ada salahnya toh, dibebani tanggung jawab lebih dari rekan-rekan kantor yang keluarganya menunggui di rumah. Sebagai seorang pengejar karir, gak ada salahnya juga kan lembur habis-habisan, toh itu buat masa depan kamu juga kan?. Bukankah masa depanmu adalah pekerjaan, sebab kau tak memiliki istri, suami ataupun anak yang menjadi masa depan impianmu, begitukan?. Mungkin, inilah yang ada di kepala bos-bos di kampus saya. Oh… tarik napas lagi.</p>
<p>Bukankah harusnya saya senang, artinya kampus mempercayai saya karena sudah menyerahkan bagian-bagian penting ke pundak saya? Bukankah harusnya saya bangga, sebagai seorang perempuan, saya sudah diakui dan ‘’dianggap’’ oleh bos-bos yang mayoritas berasal dari kaum adam itu? Bukankah harusnya saya bangga dengan semua itu?. Terlepas dari itu, sekarang ini yang benar-benar saya butuhkan adalah ketenangan. Ponsel saya matikan dan laptop saya nyalakan. Jari-jari saya mulai memburu-buru sesuatu. Rasa-rasanya ada di folder ini, rasa-rasanya pernah saya lihat disini. Dan… yup, jari-jari saya berhasil mendapatkan sesuatu, sebuah file berjudul “If You Want to Resign”.</p>
<p><em>‘’Dear Sir,<br />
After a serious consideration, I hereby inform you that I have reached a definite decision to take a leave from the College, effective ….”</em><br />
Sampai disitu, editan tulisan saya terhenti, saya gak tahu harus menuliskan apa. Mulainya saya menulis <em>effective </em>May 1, 2011, lalu saya teringat ujian tengah semester sedang berlangsung. Saya geser menjadi July 1, 2011. Ah, itukan masa-masa ujian akhir semester. Kepala saya mulai cenut-cenut, sepertinya semuanya harus dipertimbangan dengan sangat matang. Sesaat saya diam dan tak melakukan apa-apa, ada sesuatu yang berbisik di telinga saya, “Makanya kawin!”</p>
<p>Ah, nasib si lajang kantoran ini, lesbian pula!. Setetes air menari-nari di pipi saya. Kalau sudah begitu, ini adalah saat terbaik untuk tidur dan beristirahat total.</p>
<p>@Oscar A., SepociKopi, 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/05/14/lajang-kantora/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Lamunan Prasejarah</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/04/02/lamunan-prasejara/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/04/02/lamunan-prasejara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 07:16:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=11361</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar A
Laser pointer saya tiba-tiba mati. Lasernya nyala, tapi tombol-tombolnya gak berfungsi. Huh, lima belas menit lagi menuju angka delapan. Mau pesan di toko komputer mana pagi-pagi begini? Di kampus ini, yang punya barang jualan cuma kantin dan koperasi. Mau makan ya di kantin, mau fotocopy ya di koperasi. Mau beli pointer? Ya cari sana di toko komputer, yang letaknya menjauhi kampus. Mau minjam? Uhm, sepertinya semua dosen yang datang pagi-pagi begini mesti karena ada kelas. Bakalan balik lagi ke teknik manual, dimana presentasi akan dikendalikan oleh seorang mahasiswa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/04/fox_arm_warmers_2_by_stuffitcreations-d2xl4q7.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-11362" title="fox_arm_warmers_2_by_stuffitcreations-d2xl4q7" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/04/fox_arm_warmers_2_by_stuffitcreations-d2xl4q7-300x251.jpg" alt="" width="300" height="251" /></a>Oleh: Oscar A</p>
<p>Laser pointer saya tiba-tiba mati. Lasernya nyala, tapi tombol-tombolnya gak berfungsi. Huh, lima belas menit lagi menuju angka delapan. Mau pesan di toko komputer mana pagi-pagi begini? Di kampus ini, yang punya barang jualan cuma kantin dan koperasi. Mau makan ya di kantin, mau fotocopy ya di koperasi. Mau beli pointer? Ya cari sana di toko komputer, yang letaknya menjauhi kampus. Mau minjam? Uhm, sepertinya semua dosen yang datang pagi-pagi begini mesti karena ada kelas. Bakalan balik lagi ke teknik manual, dimana presentasi akan dikendalikan oleh seorang mahasiswa yang berfungsi memencet-mencet tombol “Enter’’ laptop ketika aba-aba “Next” terlontar dari mulut saya. Dengan begitu, presentasi akan berpindah ke slide selanjutnya. Oke, manual lagi, manual lagi.</p>
<p>Khayalan saya tiba-tiba menjauhi kenyataan pada jutaan tahun yang lalu. Manusia berkedok <em>pithecanthropus erectus </em>menghampiri saya yang sedang teronggok dan terperangkap di dalam gua. Gelap dan gulita. Kelelawar memata-matai seolah saya adalah perampok asing yang akan segera dieksekusi. Lengkaplah sudah, rekaman prasejarah kini hadir di depan mata. Dengan sebuah isyarat yang tak saya mengerti sama sekali, monyet ini, eh maksud saya manusia <em>erectus </em>ini melompat-lompat tiada henti. Manalah saya tau apa maksudnya. Dua buah batu diambilnya, digesek-gesekkannya ke sebuah ranting, lalu sebuah percikan api mencuat dibalik asap. Aha, monyet ini sedang membuat api kah?</p>
<p>Kami berdua terdiam, dalam keheningannya masing-masing. Membaca pikiran sendiri saja sudah susah, lebih-lebih bila ditambah harus membaca pikiran monyet ini. Kami tahu, kami sama-sama terperangkap di gua kelelawar ini. Bukannya tak mampu keluar, tapi ini adalah saat terbaik berada di dalam gua. Di luar sana jauh lebih buas dan mengerikan. Dari awal, saya tidak pernah takut sama monyet ini. Entahlah, seperti ada sinyal yang mengatakan kalau dia adalah salah seorang makhluk baik di jagad raya ini. Jadilah, kami berdampingan memandang pasukan api yang berperang meluluhlantakkan pasukan kayu. Hening, mengambang, membelantarai jiwa dan sukma sendiri. Terbayanglah, kehidupan monoton yang saya lakoni. Membosankan memang!. Tapi, kok rasanya saya merindukan semuanya ya? Merindukan menonton televisi, merindukan metropolitan, merindukan kecanggihan zaman, dan juga merindukanmu, yang entah berada di mana. Ah…</p>
<p>Tak berapa lama, kuping saya menangkap sesuatu. Sebuah langkah yang terseret-seret mendekati kami. Tak-Tak-Tak. Ternyata benar, spesies yang sama. Saya dan dua makhluk berpostur kera dan berbulu tebal. Kedua makhluk ini bergandengan dan saling merangkul. Dalam hati saya, keduanya pasti sudah  lama tak bertemu. Seolah-olah permisi, kedua makhluk ini berjalan menjauhi saya. Saya menghentikannya, mengisyaratkan bahasa “tunggu dulu’’. Sesaat berhenti, saya mengambil kamera poket di kantung celana. Aha, masih ada!. Lalu, sayapun menyempil diantara keduanya. Astaga! Dua-duanya berpayudara! Oh My God!! Ini beneran nenek moyang saya kalau begitu. Satu, dua, tiga, cheeesseeee!</p>
<p>Teeeeeeet. Bel masuk memekik kencang. Glek, sudah jam delapan. Saya bergegas masuk ke dalam kelas, mengambil bahan dan laptop. Memulai hari dengan mata kuliah pendukung karir saya. Kembali lagi ke lamunan, bagaimana bisa saya bermimpi bertemu kedua makhluk prasejarah itu. Misteri ataukah sebuah pertanda. Huh, lamunan aneh, diawali oleh laser pointer yang rusak.</p>
<p>“Os..!’’ Bu Ratih, pasti beliau.</p>
<p>“Pointermu rusak? Nih, pake punyaku’’. Terdiam dan tersenyumlah saya.</p>
<p>“Ibu sendiri?’’</p>
<p>“Jangan bilang siapa-siapa ya. Aku lagi malas ngajar. Mau ngasi tes mendadak sama kelas,’’ katanya sambil cekikikan menyikut lengan saya.</p>
<p>Saya pun ikut tertawa sambil bergidik saat bersentuhan dengan lengan si Ibu satu ini. Aduh, lagi-lagi, perempuan berbulu tebal di hari ini. Ah, bulu roma saya pun berdiri lagi.</p>
<p>@Oscar A., SepociKopi, 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/04/02/lamunan-prasejara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Hipotesis Tanpa Suara</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/01/29/lagak-lajang-hipotesis-tanpa-suara/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/01/29/lagak-lajang-hipotesis-tanpa-suara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 16:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[single]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=9530</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar A.
Lantaran kebijakan pemerintah yang entah mau membatasi atau sekadar ingin mengontrol akses Blackberry di Indonesia, netizen sempat panas-dingin.  Saya sendiri adem-adem aja karena seringnya cuma menatap monitor ponsel yang jarang berdering, apalagi hanya  berbunyi ‘tit’. Namanya juga ponsel jadul, yang punya juga gak kalah jadul, jadi sukanya sama yang jadul-jadul. Baiklah, jadul dari segi style harusnya gak masalah dong ya, asal gak jadul dari segi pemikiran.
Yang lebih memprihatinkan ya, kalau seseorang itu mengaku tak pernah ketinggalan zaman dan canggih dalam teknologi, namun ternyata sempit dalam kerangka berpikir. Kasihan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/01/poci9.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/01/poci9.jpg" alt="" title="poci" width="133" height="190" class="aligncenter size-full wp-image-9531" /></a>Oleh: Oscar A.</p>
<p>Lantaran kebijakan pemerintah yang entah mau membatasi atau sekadar ingin mengontrol akses Blackberry di Indonesia, <em>netizen </em>sempat panas-dingin.  Saya sendiri adem-adem aja karena seringnya cuma menatap monitor ponsel yang jarang berdering, apalagi hanya  berbunyi ‘tit’. Namanya juga ponsel jadul, yang punya juga gak kalah jadul, jadi sukanya sama yang jadul-jadul. Baiklah, jadul dari segi <em>style</em> harusnya gak masalah dong ya, asal gak jadul dari segi pemikiran.</p>
<p>Yang lebih memprihatinkan ya, kalau seseorang itu mengaku tak pernah ketinggalan zaman dan canggih dalam teknologi, namun ternyata sempit dalam kerangka berpikir. Kasihan orang begitu. Kalau ketemu dengan sesamanya, yang dibicarakan tak lain-lain dari, harga-harga mobil terbaru, merk-merk kamera tercanggih atau sekadar pamer <em>i-pad</em> dan <em>gadget </em>terbaru yang dipunyai. Eits, jangan pikir saya iri lantas gak punyai semua itu. Nggak sama sekali. Bukan barang-barang itu yang jadi masalah, tetapi konsep berpikir si-empunya barang yang sepertinya gak berbobot sama sekali. Pembicaraan seputar itu harusnya jadi hiburan dalam obrolan, tetapi kalau materinya adalah itu dan itu terus setiap kali bertemu, hohoho pliss deh, emangnya penting banget ya?<br />
<span id="more-9530"></span><br />
Dari hasil studi kasus pribadi yang saya lakukan di kampus terhadap mahasiswa-mahasiswi penggila penatap layar ponsel atau laptop, ditemukan hampir sebagian besarnya berstatus lajang. Sungguh ajaib dampak sihir teknologi, membuat orang betah berlajang-lajang tanpa ada yang menemani. Ada yang menyudut dengan laptopnya sambil cekikikan sendiri menatap layar monitor. Ada yang pencet-pencet ponsel diawali dengan mimik serius, lalu cengengesan, dan berakhir dengan senyum-senyum sendiri tanpa kejelasan. Atau, mungkin sedang membaca komentar status <em>facebook </em>seseorang kali ya, atau lagi nge-<em>tweet </em>ria sambil melepas rasa. Ah, tetapi yang paling aneh adalah, ketika seorang mahasiswa <em>chat </em>di YM dengan mahasiswa lainnya, padahal nyata-nyata mereka sedang duduk bersebelahan. Glek! Tuhan, dunia apa ini? Kok rasanya sedang berada di luar angkasa, di mana masing-masing alien berkomunikasi dengan cara yang aneh, dengan bahasa yang tidak saya mengerti sama sekali. Astaga! Sekarang kok rasanya, saya yang jadi <em>alien</em>-nya? Lah wong mereka saling mengerti kok, saya saja yang sepertinya gak mengerti sama sekali.</p>
<p>Kalau dibuat hipotesisnya kira-kira begini, bahwa mayoritas penggila gadget yang suka menyendiri adalah lajang. Tiga kata kunci yaitu, penggila gadget, suka menyendiri dan lajang. Namun, tiba-tiba hipotesis saya terpatahkan dengan munculnya hipotesis lainnya, bahwa ternyata mayoritas penggila gadget yang suka berkelompok adalah lajang. Satu kata kunci yang berbeda yaitu, suka berkelompok. Iseng, saya coret kata-kata menyendiri dan berkelompok. Hipotesis baru saya berbunyi, mayoritas penggila gadget di kalangan mahasiswa, adalah lajang. Bagaimana, setuju tidak?</p>
<p>Entah kenapa, saya melihat kemajuan teknologi sebagai sebuah kemunduran sosial yang mengkhawatirkan. Komunikasi mulai dikuasai oleh alat, opini mulai dirajai oleh jaringan. Bibir dan mulut letaknya masih di kepala kan ya? Belum pindah ke <em>server </em>lain kan? Kenapa sibuk menjalin komunikasi di ponsel sendiri, atau asyik bersendagurau maya menatap laptop, sementara komunikasi dengan manusia di sekeliling mulai terabaikan. Atau jangan-jangan, sudah berantakan.</p>
<p>“Os, kamu pake BB dong,’’ hipotesis saya mulai pecah konsentrasi saat Bu Ratih memanggil.</p>
<p>&#8220;Buat apa?’’ Alahai, kenapa pertanyaan bodoh ini yang malah saya lontarkan?</p>
<p>&#8220;Biar kita bisa BBM-an.&#8221;</p>
<p>Beugh! Bagaimana caranya saya harus menolak permintaan dari seorang Ibu Ketua Jurusan? Hipotesis oh hipotesis. Sepertinya, ada hipotesis tanpa suara, yang sedang mencuat dari dalam benak saya.</p>
<p>@Oscar A., SepociKopi, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/01/29/lagak-lajang-hipotesis-tanpa-suara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Tak Pernah Cukup</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/01/01/lagak-lajang-tak-pernah-cukup/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/01/01/lagak-lajang-tak-pernah-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 14:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=9184</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar A.
Seperti apa cinta yang kau cari? Kerlap-kerlip ibarat kunang-kunang di malam hari? Terang benderang secerah lampu 10.000 watt? Ataukah mungkin, meredup-redup sepi ibarat lilin ketiupan angin senja? Alahai&#8230; cinta oh cinta. Mengubek-ubek resolusi tahun baru gak akan pernah habis-habisnya. Tahun baru, cita-cita baru, resolusi baru, hingga akhirnya muncul kegagalan baru. Pesimis sih bukan, tapi berharap optimis terus-menerus juga tak selalu mendatangkan kebahagiaan atau ketenangan. Yang ada hanyalah, realistis, tanpa mengingat janji-janji manis yang sudah berlalu.
Hidup adalah kepingan-kepingan realita yang tersusun sedemikian rupa hingga mencapai bentuk yang diinginkannya. Entah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/01/enough.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-9187" title="enough" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/01/enough-206x300.jpg" alt="" width="161" height="233" /></a>Oleh: Oscar A.</p>
<p>Seperti apa cinta yang kau cari? Kerlap-kerlip ibarat kunang-kunang di malam hari? Terang benderang secerah lampu 10.000 watt? Ataukah mungkin, meredup-redup sepi ibarat lilin ketiupan angin senja? Alahai&#8230; cinta oh cinta. Mengubek-ubek resolusi tahun baru gak akan pernah habis-habisnya. Tahun baru, cita-cita baru, resolusi baru, hingga akhirnya muncul kegagalan baru. Pesimis sih bukan, tapi berharap optimis terus-menerus juga tak selalu mendatangkan kebahagiaan atau ketenangan. Yang ada hanyalah, realistis, tanpa mengingat janji-janji manis yang sudah berlalu.</p>
<p>Hidup adalah kepingan-kepingan realita yang tersusun sedemikian rupa hingga mencapai bentuk yang diinginkannya. Entah diinginkan siapa, apakah pemiliknya atau penciptanya. Bila melaju terus-menerus, tanpa jeda, tanpa koma, tanpa spasi diantaranya, sampailah ia ke sebuah titik yang bernama kejenuhan. Kok lama-lama hidup ini seperti mesin. Berputar terus, bekerja terus, meroda terus. Lalu, apa bedanya manusia dengan robot? Apa bedanya manusia dengan mesin? Apa bedanya kita dengan kumpulan besi-besi canggih itu? Yah beda sih sebenarnya, beda bentuk aja, fungsinya yah kurang lebih sama. Bekerja.<span id="more-9184"></span>Ah, tahun baru ya sebentar lagi. Apa yang baru memangnya? Selain tahunnya yang baru, tagihan-tagihan baru mulai menumpuk di depan mata. Tagihan kontrakan rumah tinggal yang harus segera dibayar, sewa kantor , tagihan pajak motor, mobil, asuransi, beuggh, yang harus dilunasi mendekati jatuh temponya. Ah, bagi yang sudah punya anak, gak heran kalau bobotnya juga bertambah berkali-kali lipat. Semua bertumpuk-tumpuk, menumpuk tinggi di atas puncak si tahun baru.</p>
<p>Saya melamun di atas motor hitam saya, masih menggunakan jaket putih kesukaan yang mulai berubah warna menjadi kelabu, sambil memandang burung-burung persinggahan di danau petak-petak ini. Sesekali terdengar suara jangkrik, atau ngok-ngok si kodok jantan. Indah nian nusantaraku ini, andai tak pernah ada yang namanya penjajahan kepada alam, atau tak ada yang namanya tangan-tangan jail manusia yang merusaknya, ah pastilah damainya negeriku ini. Entah kenapa tiba-tiba lamunan saya bertambah panjang. Bahwa hidup, tentu saja pilihan. Bersyukurlah saat diberi kesempatan untuk memilih, artinya ada pertimbangan diatas pertimbangan. Coba lihat manusia-manusia yang dilahirkan tanpa punya pilihan apa-apa. Tahu-tahu sudah jadi bayi gelandangan, tahu-tahu sudah jadi bulan-bulanan di tempat pelacuran, atau tahu-tahu sudah terlahir tanpa apa-apa dan siapa-siapa. Pilihan tak didapatkannya begitu saja, tetapi mungkin harus diperjuangkan habis-habisan.</p>
<p>Saya mengambil dua koin berwarna emas untuk diberikan ke tukang parkir pinggiran danau. Cukuplah untuk kompensasi sejenak menjaga si motor hitam. Ah, tiba-tiba saya tertegun lagi dengan kata ‘cukup’?</p>
<p>Cukupkah apa yang sudah kita miliki sekarang? Cukupkah harta yang berlimpah? Cukupkah bila memang harus hidup pas-pasan? Cukupkah menafkahi lahir batin keluarga yang tanggunggannya ada di pundak kita? Cukupkah semuanya untuk mencapai kebahagiaan? Cukupkah berlari hanya sampai di sini?</p>
<p>Kata-kata cukup itu tak pernah ada batasnya, bahkan tak tahu cakupannya seluas apa. Cukup itu ada di dalam diri, cukup itu ada di dasar hati. Memang enak kalau cuma ngomong dan menuliskan di sini saja, siapa sih yang pernah merasa cukup? Fitrahnya manusia itu memang tak akan pernah merasakan cukup, kecuali dia sendiri yang membuat batasan cukup untuk dirinya sendiri. Nah, itu kalau untuk diri sendiri, kalau untuk berbagi dengan pasangan, bagaimana membatasi rasa ‘cukup’nya sang pasangan?</p>
<p>Si lajang ini sedang membuat batasan-batasan cukup untuk dirinya sendiri, sehingga tak perlu mencari cintanya yang belum ketemu. Andai dengan sebuah kata cukup, saya datang ke hadapan perempuan pujaan lalu berkata. Cukupkah dengan cinta yang kupunya bisa untuk membahagiakanmu? Samar-samar terdengar lirih… Ah, memangnya cukup kalau hanya bermodalkan cinta dan dengkul saja?</p>
<p>Kira-kira, cukuplah sekian dulu. Tak akan pernah cukup kata kalau hanya berkoak-koak di kolom saya ini.</p>
<p>@Oscar A., SepociKopi, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/01/01/lagak-lajang-tak-pernah-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Cabang Hati</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/12/05/lagak-lajang-cabang-hati/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/12/05/lagak-lajang-cabang-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Dec 2010 09:55:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[single]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8825</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar A.
Komitmen. Sebuah kata yang selalu menghantui, karena saya tak pernah mampu menjalaninya dengan baik. Beberapa kali pacaran, beberapa kali berkomitmen, namun beberapa kali itu juga melanggarnya. Bercabang hati adalah padanan kata ragu-ragu tapi dia berjibaku menghantam dinding-dinding kesetiaan. Andai satu hanya untuk satu, maka konsep poligami tak akan pernah di muka bumi.
Nggak perlu serta-merta membantah atau menyalahkan, kalau sudah tergelincir di kubangan cinta yang tak bisa diungkapkan ini, barulah tahu rasanya bagaimana. Nikmat, deg-deg ser, penuh tantangan, dan  ahh&#8230; rasanya selangit. Seperti ABG yang jatuh cinta lagi, jatuh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/12/poci.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-8826" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/12/poci.jpg" alt="" width="170" height="146" /></a>Oleh: Oscar A.</p>
<p>Komitmen. Sebuah kata yang selalu menghantui, karena saya tak pernah mampu menjalaninya dengan baik. Beberapa kali pacaran, beberapa kali berkomitmen, namun beberapa kali itu juga melanggarnya. Bercabang hati adalah padanan kata ragu-ragu tapi dia berjibaku menghantam dinding-dinding kesetiaan. Andai satu hanya untuk satu, maka konsep poligami tak akan pernah di muka bumi.</p>
<p>Nggak perlu serta-merta membantah atau menyalahkan, kalau sudah tergelincir di kubangan cinta yang tak bisa diungkapkan ini, barulah tahu rasanya bagaimana. Nikmat, deg-deg ser, penuh tantangan, dan  ahh&#8230; rasanya selangit. Seperti ABG yang jatuh cinta lagi, jatuh dan jatuh cinta lagi. Yah, kali ini dilemanya bukan karena ABG yang sedang jatuh cinta lagi, tetapi karena ada benih-benih baru yang bermunculan di luar ikatan komitmen.</p>
<p><span id="more-8825"></span>Katanya, cinta tak pernah salah. Datang tiba-tiba, dan bahkan tak mungkin, cinta juga bisa pergi dengan tiba-tiba. Semuanya serba tiba-tiba.  Apakah memang begitu yang dinamakan dengan cinta. Atau, sebenarnya, hati ini berporsi bagaimana sih? Setengah untuk si dia dan setengah lagi untuk yang lainnya, atau bagaimana? Saya hampir tak tahu, bagaimana komitmen itu bisa berjalan utuh tanpa ada cacat dan noda di sana-sini.</p>
<p>Hati, adalah organ utuh yang juga punya hak yang sama dengan organ lainnya. Terkadang, hati juga punya keinginan menentukan pilihannya sendiri, tanpa selalu diatur oleh otak dan logika. Seperti tangan yang berhak untuk menyentuh dan menggenggam, ataupun mata yang berhak memandang siapa saja yang tersilaukan olehnya, maka hati pun harusnya punya hak yang sama untuk menentukan detik ini dia mau jatuh cinta sama siapa, ataupun di hari esok, bila hatinya ternyata terpikat oleh yang lain. Bagaimana memangnya merantai hati, bisakah? Logika mungkin hampir selalu benar, tetapi hati juga tak selalu dapat dipersalahkan.</p>
<p>Katanya lagi, dua di antara tiga pria berselingkuh. Tapi kalau kata saya, dua di antara tiga lesbian, bercabang hatinya. Bercabang, apakah bisa dinamakan dengan selingkuh juga, saya tak mau mendefinisikan. Sebab, selingkuh menurut saya identik dengan adanya komitmen lain di luar komitmen yang sudah ada. Sementara, bercabang hatinya, mungkin tak pernah ada komitmen. Komitmennya di awang-awang, hanya bisa dirasakan oleh hati. Sudah ada pasangan jiwa, tapi kok tiba-tiba muncul lagi yang namanya pendamping jiwa yang lain. Kalau dengan pasangan jiwa, sebenarnya semua sudah klop, sempurna dan hampir tak ada cacat, <em>perfecto </em>deh. </p>
<p>Tetapi, kok rasa-rasanya ada yang beda aja dengan kehadiran si pendamping baru ini ya? Dengan si pendamping, rasanya sejuk dan adem, seperti berada di dunia baru tatkala bersamanya. Ada impian-impian yang berbeda, rasa yang berbeda, dan sensasi yang berbeda pula. Sang pendamping ini melahirkan titik-titik embun cinta yang membuat diri seperti terlahir kembali, punya rasa yang baru, suasana yang baru dan ahhh, tentu saja mungkin, persemian sebuah cinta yang baru.</p>
<p>Secara logika, harusnya si pendamping ini tidak boleh dibiarkan lama-lama bersaing dengan pasangan yang sudah ada. Tumbuhan yang sudah subur dan cukup nutrisi dari tanah sebagai pasangan jiwanya, tanpa ada atau tidaknya pupuk, pasti mampu hidup di alam raya. Tetapi, kalau sang tuan tanah datang dan menyiramkan sedikit atau banyak pupuk ke dalam tanahnya, memangnya si tumbuhan mampu menolak? Enggak, kan? Lah wong, tumbuhannya juga ikut tumbuh subur menjulang langit. Harusnya tiga komponen ini, tumbuhan, tanah dan pupuk mampu hidup berdampingan, tanpa ada curiga mencurigai. Maunya begini ya, si tanah gak boleh mencemburui si pupuk dan si pupuk juga gak boleh dengan bangga berkesimpulan bahwa si tumbuhan bisa subur karena adanya pupuk. Ah, ribet, kenapa saya jadi ngomongin filosofi biologis seperti ini?</p>
<p>Masih ingat gak lagu Reza yang duet  dengan Masaki Ueda &#8211; <em>Biar Menjadi Kenangan</em>? Kira-kira, seperti itulah saya sekarang ini, digantung oleh si tumbuhan, dan pasti dibenci mati oleh sang tanah. Salah siapa? Salah saya? Memangnya saya salah kalau jatuh cinta? Memangnya saya mau jadi perusak rumah tangga orang? Memangnya saya bisa atur hati saya mau jatuh cinta sama siapa? Ah, memang begitu kok yang namanya cinta, deritanya hampir tiada akhir.</p>
<p>@ Oscar A., SepociKopi, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/12/05/lagak-lajang-cabang-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

