Articles in the Lagak Lajang Category
Coming Out, Humaniora, Lagak Lajang, Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar A.
Ada hamparan perasaaan yang muncul ketika melihat kolom yang sama terbit lagi di majalah ini. Namanya, hamparan perasaan bangga, senang, sekaligus iri dan cemburu. Bangga dan senang, tak perlu dijelaskan lagi. Tapi iri dan cemburu yang muncul di hati penulisnya sendiri, bagaimana menafsirnya? Kalaulah semuanya ideal, dualisme sungguh tak diperlukan lagi kehadirannya. Menjadi ini, lalu besok menjadi itu, adalah fase menjijikkan yang harus saya hadapi setiap waktu. Bermuka dua. Saya adalah orang yang bermuka dua, menjadi pengajar baik-baik di institusi, lalu berubah menjadi lesbian munafik yang nangkring sana-sini …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar Arumi
Suatu kali, saya berkunjung ke sebuah International School di sebelah timur Sumatera. Kebetulan, sahabat lama saya bekerja di sana sebagai salah seorang teacher aid (guru pembantu – fungsinya seperti asisten guru yang sedang mengajar). Sembari bernostalgia, Rina – sahabat saya itu, mengajak berjalan-jalan mengeliling sekolah anak-anak bule di daerahnya. Mulai dari lapangan bola yang luas, lapangan basket, taman bermain, kolam renang, kebun binatang mini sampai perpustakaan, semuanya ada di lokasi sekolah. Saat bel sekolah berdering, anak-anak sekolah berhamburan ke segala penjuru. Salah satunya, seorang anak perempuan India berumur …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar A.
Masih tentang Cherry – Si Penyusup Bermata Elang itu. Kali ini, label penyusup sudah gak tepat lagi disematkan padanya, sebab dia sudah mendapatkan izin saya untuk masuk kelas dan mengejar ketertinggalannya selama ini. Harusnya, tulisan ini sudah berganti topik, tidak tentang dia lagi. Habisnya gimana lagi, kalau otak saya masih melulu berputar tentang dia? Memangnya bisa digencet, disekap, ditutup mulutnya, lalu dibuang ke jurang curam yang gak bisa ditemukan orang lain, begitu? Wuih, sulit. Gak segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau persendian lenganmu lagi patah, bisa kebayang kan …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar Aishiteru
Saya gundah ditatap seperti tadi. Mata elang-nya tajam, diam-diam menusuk ke dalam sanubari. Pandangannya mampu mengacaukan, untuk apapun yang ingin saya katakan. Tatapannya sebenarnya hangat, meski lama-lama menyeramkan. Sinar matanya berhasil mengalihkan alam pikir saya ke pemukiman terpelosok di negeri antah berantah dunia. Harusnya ya, nggak seperti ini. Masa gara-gara dua bundar itu saya jadi linglung. Wah, bisa kacau SKS saya gara-gara si dia yang bermata tajam itu.
Siapa sih dia? Kok saya gak pernah lihat di dalam kelas. Sabotase. Kriminal. Penyelundupan. Eh, penyelundup maksudnya. Ya benar, ada penyusup …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar
Kaki saya melangkah ke luar rumah. Kursi di balkon ini memang empuk. Rotan muda yang sudah semakin menua. Baru tersadar oleh saya, kenapa Bapak senang sekali menghabiskan waktunya di kursi ini. Imajinasi menjadi tak terbatas, sambil memandang hamparan di depan mata. Rumput terbentang, daun-daun menari di atas dahan, ranting pohon bernyanyi bahkan burungpun bisa berdansa. Wah hebat! Harmonisasi alam, konser kehidupan di dunia nyata. Ah, tapi bukan. Lama-lama persis dunia kartun. Apa pun bisa berbicara, benda mati pun punya ruh. Ya, inilah alam saya, imajinasi saya. Apa pun bisa, …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar A.
Saya mencintai pekerjaan pokok saya, sebagaimana saya mencintai dunia tulis-menulis, ah lebih tepatnya dalah hal menulis kolom lagak lajang ini. Kalau dunia tulis-menulis adalah istri kedua yang berhasil membuat diri ini tersenyum lalu mencekcoki mimpi-mimpi saya, maka pekerjaaan adalah istri pertama yang membangunkan saya melihat kenyataan, bahwai “hei, inilah hidup’’. Bila istri kedua berhasil membuat saya orgasme habis-habisan, maka istri pertama juga berhasil menyadarkan bahwa saya sebenarnya loyo dan selalu butuh obat kuat untuk di ranjang. Istri pertama tidak tahu bahwa saya punya istri lain, sedangkan istri kedua …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar A
Laser pointer saya tiba-tiba mati. Lasernya nyala, tapi tombol-tombolnya gak berfungsi. Huh, lima belas menit lagi menuju angka delapan. Mau pesan di toko komputer mana pagi-pagi begini? Di kampus ini, yang punya barang jualan cuma kantin dan koperasi. Mau makan ya di kantin, mau fotocopy ya di koperasi. Mau beli pointer? Ya cari sana di toko komputer, yang letaknya menjauhi kampus. Mau minjam? Uhm, sepertinya semua dosen yang datang pagi-pagi begini mesti karena ada kelas. Bakalan balik lagi ke teknik manual, dimana presentasi akan dikendalikan oleh seorang mahasiswa …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar A.
Lantaran kebijakan pemerintah yang entah mau membatasi atau sekadar ingin mengontrol akses Blackberry di Indonesia, netizen sempat panas-dingin. Saya sendiri adem-adem aja karena seringnya cuma menatap monitor ponsel yang jarang berdering, apalagi hanya berbunyi ‘tit’. Namanya juga ponsel jadul, yang punya juga gak kalah jadul, jadi sukanya sama yang jadul-jadul. Baiklah, jadul dari segi style harusnya gak masalah dong ya, asal gak jadul dari segi pemikiran.
Yang lebih memprihatinkan ya, kalau seseorang itu mengaku tak pernah ketinggalan zaman dan canggih dalam teknologi, namun ternyata sempit dalam kerangka berpikir. Kasihan …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar A.
Seperti apa cinta yang kau cari? Kerlap-kerlip ibarat kunang-kunang di malam hari? Terang benderang secerah lampu 10.000 watt? Ataukah mungkin, meredup-redup sepi ibarat lilin ketiupan angin senja? Alahai… cinta oh cinta. Mengubek-ubek resolusi tahun baru gak akan pernah habis-habisnya. Tahun baru, cita-cita baru, resolusi baru, hingga akhirnya muncul kegagalan baru. Pesimis sih bukan, tapi berharap optimis terus-menerus juga tak selalu mendatangkan kebahagiaan atau ketenangan. Yang ada hanyalah, realistis, tanpa mengingat janji-janji manis yang sudah berlalu.
Hidup adalah kepingan-kepingan realita yang tersusun sedemikian rupa hingga mencapai bentuk yang diinginkannya. Entah …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar A.
Komitmen. Sebuah kata yang selalu menghantui, karena saya tak pernah mampu menjalaninya dengan baik. Beberapa kali pacaran, beberapa kali berkomitmen, namun beberapa kali itu juga melanggarnya. Bercabang hati adalah padanan kata ragu-ragu tapi dia berjibaku menghantam dinding-dinding kesetiaan. Andai satu hanya untuk satu, maka konsep poligami tak akan pernah di muka bumi.
Nggak perlu serta-merta membantah atau menyalahkan, kalau sudah tergelincir di kubangan cinta yang tak bisa diungkapkan ini, barulah tahu rasanya bagaimana. Nikmat, deg-deg ser, penuh tantangan, dan ahh… rasanya selangit. Seperti ABG yang jatuh cinta lagi, jatuh …





