<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Kesehatan dan Seksualitas</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/kesehatan-dan-seksualitas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 10:08:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Tanda-tanda Lesbi?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/24/24-jan-tanda-tanda-lesbi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/24/24-jan-tanda-tanda-lesbi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 08:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17307</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Edith
…Bahkan ketika kamu adalah seorang homoseksual, kamu tidak punya hak untuk mengklaim seseorang itu berkecenderungan atau bahkan seorang homoseksual atau bukan…

Saya benar-benar kesal dengan orang yang dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang punya indikasi menjadi homoseksual, hanya karena ia sudah berinteraksi dengan komunitas lesbian dan gay. Bagi saya, tidak ada yang layak untuk mempublikasikan, menebak-nebak, mendeklarasikan orientasi seksual atau identitas gender seseorang kecuali dianya sendiri.
Ini terjadi pada seorang teman dari Solo. Dia berencana mengadakan kegiatan bertema tentang homoseksual dan dia merasa sangat tidak nyaman ketika seorang lesbian yang seharusnya sudah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Pride_by_XxWritergurl06xX.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17425" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Pride_by_XxWritergurl06xX-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Oleh: Edith</p>
<p><em>…Bahkan ketika kamu adalah seorang homoseksual, kamu tidak punya hak untuk mengklaim seseorang itu berkecenderungan atau bahkan seorang homoseksual atau bukan…<br />
</em><br />
Saya benar-benar kesal dengan orang yang dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang punya indikasi menjadi homoseksual, hanya karena ia sudah berinteraksi dengan komunitas lesbian dan gay. Bagi saya, tidak ada yang layak untuk mempublikasikan, menebak-nebak, mendeklarasikan orientasi seksual atau identitas gender seseorang kecuali dianya sendiri.</p>
<p>Ini terjadi pada seorang teman dari Solo. Dia berencana mengadakan kegiatan bertema tentang homoseksual dan dia merasa sangat tidak nyaman ketika seorang lesbian yang seharusnya sudah paham tentang seksualitas dan bagaimana membangun gerakan, mengatakan bahwa dia punya &#8216;tanda-tanda&#8217; sebagai seorang lesbian.</p>
<p>&#8220;Aku bisa melihat dari sorot mata kamu, kalau kamu punya &#8216;tanda-tanda&#8217; itu.&#8221;</p>
<p>Pernyataan itu membuat teman saya yang berasal dari Solo menjadi benar-benar cemas dan membuatnya selama dua minggu tidak bisa konsentrasi, hanya terus menerus memikirkan apakah dia seorang lesbian. Apesnya, pernyataan itu malah membuat dia menjadi homofobia. Dia berpikir bahwa semua lesbian selalu begitu, senang mengajak orang lain untuk menjadi bagian dari mereka.</p>
<p>Bagi saya, organisasi atau komunitas LGBT dibentuk bukan untuk mengubah semua orang menjadi manusia yang memiliki orientasi seksual lesbian, gay, biseksual, atau transgender. Saya mengerti sekali tentang teori yang mengatakan bahwa seksualitas itu cair dan semua orang bisa memiliki kecenderungan untuk heteroseksual maupun homoseksua.  Tapi teori ilmu itu bukan berarti dapat dijadikan legitimasi untuk melabeli seseorang dengan identitas tertentu. Bukankah itu sama saja seperti mementahkan kembali usaha yang telah dibangun bersama untuk membangun ulang nilai-nilai heteronormatif di kaum awam?</p>
<p>Ketika sistem sosial dan politik mengarahkan semua orang pada label heteroseksual, kenapa pada saat yang sama juga ada oknum yang mengadopsi aturan hegemoni seperti itu; dengan mengarahkan atau mencemplungkan seseorang pada label homoseksual sesuai dengan &#8216;tanda-tanda&#8217;?</p>
<p>Perbincangan homoseksualitas tidak akan pernah berhenti dan selama wacana tersebut terus bergulir, akan ada banyak kategori baru tentang homoseksual. Tidak akan ada satu kategori tunggal mengenai homoseksual. Homoseks kelas menengah atas atau menengah ke bawah? Homoseks yang religius atau tidak religius? Homoseks muda atau tua? Homoseks yang bekerja atau tidak bekerja? Homoseks yang bergerak di gerakan perjuangan identitas, akademisi/peneliti, berperan sebagai wartawan, pembuat film, penulis, pekerja seni, pemuka agama, kritikus sastra, politisi, pengacara, dan lain-lain? Jadi, kenapa harus berpikiran sangat sempit dalam tema homoseksual sebagai oposisi atau lawan dari heteroseksualitas?</p>
<p>Jadi, berhentilah membuat stereotip dengan tidak serta merta mengatakan bahwa dia mempunyai tanda-tanda seorang homoseksual!</p>
<p>@Edith, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/24/24-jan-tanda-tanda-lesbi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Saya Adalah Tipe Q</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 02:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17317</guid>
		<description><![CDATA[Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.
Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6.jpg"><img class="size-medium wp-image-17401 alignleft" title="raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.</em></p>
<p>Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya seolah membiarkan segala sesuatunya berjalan begitu saja, seperti air mengalir.</p>
<p>Saya mulai penasaran dengan orientasi seksual setelah saya mengenal Andien, sahabat saya yang luar biasa saya sayangi. Semakin dewasa, saya semakin intens mencari jati diri saya. Karena begitu besar rasa sayang saya kepada Andien, dalam beberapa bulan terakhir, saya getol mencari artikel-artikel homoseksual, khususnya lesbian.</p>
<p>Sempat ngeri, karena beberapa artikel ketika saya mengetik <em>keyword </em>“Lesbian”, sebagian besar artikel yang keluar dari <em>search engine Google</em> adalah cerita-cerita panas tentang lesbian. Sempat berfikir, kaum homoseksual sepertinya memiliki kecenderungan dengan aktivitas seksual yang lebih tinggi dibanding mereka yang hetero. Kengerian lain yang sempat saya baca adalah mengenai kecenderungan sifat posesif dari kaum homoseksual. Memiliki perasaan yang lebih mendalam, umumnya pasangan homo lebih sulit melepaskan pasangannya ketika rasa cinta itu masih terpendam dalam hati. Bahkan dari artikel yang pernah saya baca, kaum homo lebih cenderung pendendam dan memiliki potensi lebih besar untuk membunuh. Entah juga sih kebenarnnya, itu hanya sebatas pengetahuan yang pernah saya baca.</p>
<p>Beberapa artikel juga memaparkan lesbian dari sudut pandang psikologi. Ini terdiri dari apa saja faktor seseorang bisa menjadi lesbian, pertentangan batin yang mereka rasakan, serta bagaimana menyikapi orientasi seksual lesbian yang dianggap &#8220;menyimpang&#8221;. Dari sini, saya bisa memandang bahwa lesbian sama seperti manusia lainnya yang cukup menarik untuk dipelajari dan dikaji lebih lanjut dari sudut pandang keilmuan.</p>
<p>Saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca artikel-artikel terkait homoseksual, tak hanya lesbian tetapi juga kaum gay, hingga saya menemukan situs Sepocikopi. Wow, benar-benar tidak menyangka. Membaca SepociKopi membuat saya berada di antara takjub, heran, aneh, tetapi juga salut. Takjub dan heran karena ternyata ada situs yang benar-benar menampung dan mungkin menjadi wadah para perempuan lesbian yang selama ini menjadi kaum minoritas.</p>
<p>Pasti semua sependapat, bahwa kehadiran SepociKopi menjadi oase bagi para lesbian di Indonesia. Di tengah keheranan saya, saya juga salut dengan SepociKopi karena tulisan-tulisan dan artikel yang disajikan berisi kisah nyata, opini, dan wawasan terkait dunia lesbian yang dikemas dari sudut pandang yang berbeda, apa adanya, dan mengedepankan intelektualitas. Dan yang paling penting, tidak berbau pornografi seperti artikel-artikel lesbian kebanyakan.</p>
<p>Hampir setiap hari saya menyempatkan diri untuk membaca Sepocikopi. Walaupun tidak membenarkan orientasi seksual para lesbian, namun membaca SepociKopi membuat saya bisa melihat lesbian dari sudut pandang lain. Beberapa cerita, bahkan membuat saya terharu dan kagum atas mereka apa yang mereka alami dan bagaimana mereka menyikapinya. Saya benar-benar belajar dari mereka.</p>
<p>Dari artikel, saya mencoba menyambangi ke jejaring social Facebook untuk mengenal lebih dekat dengan kaum lesbian. Dari hasil pencarian pertemanan dengan kata kunci “lesbian” di sana saya menemukan banyak akun-akun lesbian, dan saya memilih membuka akun komunitas lesbian. Sempat membaca status-status yang ditulis serta komen-komen yang ditinggalkan. Hal ini cukup mengejutkan buat saya. Jadi sedikit geli, aneh, unik, serem, dan ada lucu-lucunya. Dengan beberapa pertimbangan, saya pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan nomor handphone (HP) pada dinding komentar di salah satu status mereka.</p>
<p>Malamnya saya mendapatkan SMS yang tiba-tiba mengajak berkenalan. Dari SMS-nya, ia mengaku berasal dari Surabaya dan menanyakan hal tentang saya. SMS kedua datang dari teman lesbian di Jakarta dan terakhir dari Sukabumi, hanya tiga orang. Yang membuat saya heran, SMS-SMS perkenalan yang awalnya begitu semangat dan menggebu-gebu, semua berakhir begitu saja ketika mereka mengetahui saya bukan atau lebih tepatnya belum mengetahui apakah saya lesbian atau tidak. Lah, faktanya seperti itu, mau mengakui lesbian kok rasanya aneh. Faktanya saya tidak pernah pacaran dengan perempuan dan tidak pernah punya teman lesbian.</p>
<p>Mau tidak mengakui, di satu sisi saya pernah begitu menyayangi seorang perempuan. Makanya saya bilang “Tidak tau.” atau “Bukan.”, setiap kali mereka bertanya “Apakah kamu lesbian?” Jawaban saya berakhir dengan menjauhnya mereka, bahkan mereka sama sekali tidak membalas SMS-SMS saya berikutnya. Malah, slah satu dari mereka mereka yang begitu menggebu-gebu berkenalan dengan saya, mendadak berkata bahwa dia bukan lesbian dan meminta maaf kepada saya. Haduh, saya jadi bingung sendiri. Kenapa mereka seperti itu?</p>
<p>Selama ini banyak sekali lesbian yang beranggapan mereka tidak diterima masyarakat karena dianggap menyimpang. Homoseksual menganggap selama ini masyarakat yang tidak mau menerima kehadirannya. Tapi kenapa ketika ada seseorang yang ingin mengenal keberadaan kaum lesbian, justru lesbian malah bersikap introver dan menarik diri? Padahal saya tidak berniat menjadikan lesbian sebagai objek pemuas rasa penasaran saya. Kendati sedikit kecewa, namun tetap berusaha untuk bisa memahami sikap mereka. Mungkin bukan hal yang mudah untuk bisa membuka diri dengan orang di luar komunitas lantaran menganggap diri lesbian sebagai kaum berbeda. Atau mungkin juga karena memang tak nyaman untuk menjalin hubungan/persahabatan dengan orang baru yang bukan/belum lesbian?</p>
<p>Entahlah, sampai sekarang saya masih bingung dengan orientasi seksual saya dan belum memiliki seorang teman lesbian satu pun. Adakah yang ingin menjadi sahabat saya?</p>
<p>@miss_lazy77, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Label is No Label</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/31/my-label-is-no-label/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/31/my-label-is-no-label/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 04:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17021</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin Sutomo
Saya mulai mengenal dunia lesbian, mengakui diri sebagai lesbian dan berteman dengan sesama lesbian (termasuk mulai pacaran sama perempuan, eheeem&#8230;) di tahun 80an.  Kala itu lesbian yang tomboy&#8212;baik sedikit tomboy maupun tomboy banget&#8212;disebut Butch.  Pasangannya “pasti” Femme.  Sebenarnya mungkin tidak se-saklek itu, tapi di lingkungan tempat saya bergaul ya begitu.
Kondisi ini makin lama menjadi stigma dalam kelompok lesbian pertemanan saya bahwa sesama Butch dilarang saling naksir.  Begitu juga kalau ada pasangan yang keduanya berpenampilan feminin, kami akan memandang dengan aneh. Siapa yang jadi laki dan siapa yang jadi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/no-label-freshjive-1-360x540.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17022" title="no-label-freshjive-1-360x540" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/no-label-freshjive-1-360x540-200x300.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Oleh: Yasmin Sutomo</p>
<p>Saya mulai mengenal dunia lesbian, mengakui diri sebagai lesbian dan berteman dengan sesama lesbian (termasuk mulai pacaran sama perempuan, eheeem&#8230;) di tahun 80an.  Kala itu lesbian yang tomboy&#8212;baik sedikit tomboy maupun tomboy banget&#8212;disebut Butch.  Pasangannya “pasti” Femme.  Sebenarnya mungkin tidak se-<em>saklek </em>itu, tapi di lingkungan tempat saya bergaul ya begitu.</p>
<p>Kondisi ini makin lama menjadi stigma dalam kelompok lesbian pertemanan saya bahwa sesama Butch dilarang saling naksir.  Begitu juga kalau ada pasangan yang keduanya berpenampilan feminin, kami akan memandang dengan aneh. Siapa yang jadi <em>laki </em>dan siapa yang jadi <em>perempuan </em>nih? Aneh kan kalimat ini? Bukankah mereka sama-sama perempuan? Kok tetap ada peran laki dan peran perempuan?</p>
<p>Stigma itulah yang membatasi lesbian zaman itu dalam mencari pasangan. Aturannya memang tidak digeneralisir, tapi paling tidak di kelompok saya begitulah adanya.</p>
<p>Baru beberapa tahun kemudian, saya mengenal ada kelompok lesbian berlabel Andro. Itu pun masih terdapat sublabel Andro-ke-Femme dan Andro-ke-Butch. Terus terang saya nggak mengerti betul.  Seorang teman seangkatan saya suatu hari berujar, “Zaman sekarang lesbian tomboy lebih senang mengaku Andro daripada Butch. Coba deh perhatikan,” katanya.</p>
<p>Menurut dia, teman saya itu, kalau seseorang secara yakin langsung mengatakan dia Butch, berarti dia hidup di angkatan yang sama dengan kami.  Sedangkan mengaku sebagai Andro lebih disukai oleh lesbian tomboy yang lebih muda. Hmmm&#8230; ya bolehlah diasumsikan demikian, walaupun lagi-lagi tidak se-<em>saklek </em>itu, mungkin hanya di kelompok pertemanan lesbian saya saja yang begitu.</p>
<p>Kenyataannya, beberapa kali pacaran, saya selalu berpasangan sama Femme.  Meski kadang-kadang ada rasa naksir juga ke Andro, tapi biasanya saya akan berusaha mematikan perasaan tersebut, mengingat, teman-teman saya pasti akan melecehkan saya, dengan bilang, &#8220;Kamu ih&#8230; kok jeruk minum jeruk?&#8221; Begitu.</p>
<p>Berpasangan dengan beberapa Femme (tentunya tidak di waktu yang sama), membuat saya bagaikan mengarungi bukit yang terjal dan menuruni lembah yang curam. Jatuh bangun nggak keruan.  Agak lebay sih, tapi begitulah analoginya. Saya sering kali mengalami tidak enaknya. Nggak usah disebutlah nggak enaknya apa, yang jelas kisah percintaan saya tidak berlangsung mulus. Ujung-ujungnya&#8230;. jomblo lagi… jomblo lagi.</p>
<p>Sampai suatu saat, saya menemukan ada yang menarik dari seseorang di dunia maya yang mengaku No Label. Lah… apa <em>pulak </em>ini?</p>
<p>“Saya tidak memposisikan diri berlabel apa pun, dan saya bisa tertarik dengan perempuan berlabel apa pun. Asal nyambung dan dia perempuan, bisa saja kami jadian,” katanya.</p>
<p>Dengar lesbian menyebut dirinya No Label sih sering, tapi kadang-kadang saya tidak mengerti maknanya, serupa dengan ketidakmengertian saya akan Andro-ke-Femme dan Andro-ke-Butch itu. Baru dari si Miss No Label yang menarik ini, pikiran saya terbuka lebar.</p>
<p>Saya sendiri sering kali <em>blank </em>kalau ditanya apa labelmu. Spontan ingin jawab: Butch (sesuai zamannya saya), tapi mikir lagi, benarkah? Saya nggak kelaki-lakian banget kok, apalagi sifat dan tutur kata. Ciaelaaah. Lagi pula beberapa referensi mengatakan, label tidak ditentukan dari penampilan, tapi dari sifat-sifat di dalam dirinya. Tuh kan? Selama ini kalau dicecar musti menyebutkan label, saya suka ngasal dan menjawab sekenanya, &#8220;Kata orang-orang sih Butch.&#8221;</p>
<p>Apakah mulai sekarang saya harus mengatakan pada dunia (dunia SepociKopi doang sih beraninya) bahwa saya ini No Label? Dengan demikian saya tidak memposisikan pada label mana pun. Hmm&#8230; No Label…. keren tuh kayaknya!  Walaupun No Label sering dicap pemakan segala, saya nggak peduli.</p>
<p>Intinya, saya nggak mau lagi label membatasi cakupan pencarian pasangan,  yang penting nyambung. Meskipun kata <em>nyambung </em>itu sendiri berkaitan dengan banyak variabel yang hanya bisa dirasakan dan susah dituliskan dengan kata-kata. Setuju atau setuju? He he he. Intinya lagi (lho inti kok banyak?), bukan cewek-cewek yang ngerepotin, manja dan nggak mandiri (ini pengalaman pribadi), terserah labelnya apa.</p>
<p>Kalau kelak nyambungnya sama cewek mandiri, nggak manja dan nggak ngerepotin yang berpenampilan kayak laki, trus saya dikatain jeruk minum jeruk, nggak peduli juga ah&#8230; Asal perbuatan, sikap, dan karakternya bikin geli-geli di perut (alias <em>butterfly in my stomach</em>), terusin aja ya… he he he.</p>
<p>Ayo, siapa berani maju? Hayyaaaah buntutnya: cari pacar!</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/31/my-label-is-no-label/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merawat Kekasih Saat Sakit</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/24/merawat-kekasih-saat-sakit/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/24/merawat-kekasih-saat-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 13:52:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16253</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: parikesit n1nna
Hari ini, tubuhku rasanya meleleh. Sendi-sendi terutama. Punggung bawah serasa copot, jari-jari linu, area belakang dengkul rasanya luar biasa pegal. Segera kuhubungi kakak kelasku yang seorang dokter.
&#8220;Wah, kayaknya kamu kena infeksi virus.&#8221;
&#8220;Virus apa?&#8221;
&#8220;Ya, kagak tau. Emang aku dukun?&#8221;
&#8220;Lho, situ kan dokter.&#8221;
&#8220;Coba diinget-inget, kontak ma orang sakit kagak akhir-akhir ini?&#8221;
Kutepuk jidatku! Astaga! Anak salah seorang perempuan yang mengobrol sama aku terkena cacar air.
&#8220;Ada luka-luka seperti jerawat di perut, punggung, muka, dan payudara,&#8221; kataku.
&#8220;Wah, kamu terkena varicella. Cacar air.&#8221;
Tuh kan, batinku.
&#8220;Sudah, nggak usah panik. Acyclovir 5x800mg 7-10 hari. Lukanya bukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/poci5.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16255" title="© Copyright 2011 CorbisCorporation" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/poci5-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Oleh: parikesit n1nna</p>
<p>Hari ini, tubuhku rasanya meleleh. Sendi-sendi terutama. Punggung bawah serasa copot, jari-jari linu, area belakang dengkul rasanya luar biasa pegal. Segera kuhubungi kakak kelasku yang seorang dokter.</p>
<p>&#8220;Wah, kayaknya kamu kena infeksi virus.&#8221;<br />
&#8220;Virus apa?&#8221;<br />
&#8220;Ya, kagak tau. Emang aku dukun?&#8221;<br />
&#8220;Lho, situ kan dokter.&#8221;<br />
&#8220;Coba diinget-inget, kontak ma orang sakit kagak akhir-akhir ini?&#8221;<span id="more-16253"></span></p>
<p>Kutepuk jidatku! Astaga! Anak salah seorang perempuan yang mengobrol sama aku terkena cacar air.</p>
<p>&#8220;Ada luka-luka seperti jerawat di perut, punggung, muka, dan payudara,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Wah, kamu terkena varicella. Cacar air.&#8221;</p>
<p>Tuh kan, batinku.</p>
<p>&#8220;Sudah, nggak usah panik. Acyclovir 5x800mg 7-10 hari. Lukanya bukan di genital?&#8221;<br />
&#8220;Genitalmu!&#8221; hardikku.<br />
&#8220;Hehe&#8230; kali aja. Nular banget loh. Pakaian harus disendirikan. Cuci pakai air panas. Sekalian selimut, bed cover, bantal-guling juga. Kamu juga berendam barengan, di air panas.&#8221;</p>
<p>Dokter menyebalkan, batinku.</p>
<p>&#8220;Tidak boleh masuk kerja. Istirahat yang banyak. Semoga cepat sembuh.&#8221;<br />
&#8220;Bagi surat dokternya.&#8221;<br />
&#8220;Jauh, ah. Minta klinik terdekat aja.&#8221;</p>
<p>Tambah menyebalkan saja, nih.</p>
<p>Jadi malam ini, ayah sibuk mencarikanku <em>acyclovir </em>(yang terbeli adalah <em>acyclovir </em>400mg, artinya aku harus minum sehari lima kali. Tiap kali minum dua tablet! Pingin kucekik rasanya kakak kelasku itu). Kuminum pertama kali jam 21.25 WIB. Berarti aku harus minum empat-lima jam setelahnya. Artinya jam satu malam. Yang benar saja! Kenapa obatnya cuma bekerja selama empat-lima jam, sih? Katanya harus istirahat? Kok malah harus bangun untuk minum obat? Nggak konsisten!</p>
<p>Apa bahayanya cacar air (<em>varicella</em>) ini?</p>
<p>Ternyata, cacar air merupakan penyakit infeksi dengan masa inkubasi virus kurang lebih dua minggu. Penyakit ini mempunya sifat dorman. Dia akan tetap tinggal dalam manusia yang pernah terkena (<em>carrier</em>/<em>manifest</em>), sehingga suatu hari bisa kambuh lagi. Saya sudah pernah terkena cacar air sewaktu kecil (atau sudah divaksinasi) kenapa bisa terjadi cacar air lagi? Karena tubuh membentuk kekebalan tubuh yang tak sempurna pasca vaksinasi atau paparan cacar air yang pertama, sehingga pada paparan yang kedua terjadi cacar air. Ada yang menyebutkan bahwa vaksinasi alami (pernah terkena cacar air) dan buatan (pemberian imunisasi) melindungi dalam jangka waktu dua puluh tahun saja, sehingga bila periode itu terlampaui maka seseorang kemungkinan menderita cacar air kembali.</p>
<p>Apa yang bisa kita lakukan bila partner/pasangan kita terkena cacar air? Saranku hanya satu dan satu-satunya:<br />
<em><br />
Hindari kontak dengannya. </em>Kita isolasi partner. Jebloskan di dalam kamar, kunci dari luar, kasih makan, minum, dan obat melalui jendela. Hehehe&#8230; Sepertinya kita bukan tipe sadis macam gini deh. Kalau bukan tipe sadis, artinya mari membuang tips nomor satu dan satu-satunya ini. Cukup perhatikan tips di bawah ini:</p>
<p>1. Bantu mengurus barang-barang yang kontak langsung dengan pasangan seperti pakaian, selimut, sarung bantal, dan guling. Pisahkan dan cuci dengan air panas, deterjen, atau chlorin.</p>
<p>2. Berikan asupan makanan untuk partner. Berikan buah, vitamin, dan jus. Kasih motivasi supaya dia minum yang banyak. Kontrol suhu badan partner dengan mengkompres atau memberikan obat penurun panas yang dianjurkan oleh dokter. Ingatkan partner jam-jam minum obatnya.</p>
<p>3. Potong pendek kukunya agar tidak terjadi infeksi sekunder. Luka yang sangat gatal tergaruk dan kulit yang terkelupas menjadi sasaran empuk untuk infeksi bakteri. Romantis kan potongin kuku partner?</p>
<p>4. Mandikan partner agar mengurangi rasa gatal. Pasien cacar air tidak boleh mandi adalah mitos. Mandi pakai larutan PK 1%. Perhatikan cara mengeringkan tubuh saat memakai handuk. Harus berhati-hati agar luka tidak tergaruk handuk dan menyebabkan infeksi sekunder. Taburkan tubuh dengan bedak.</p>
<p>5. Berikan acyclovir salep 5% pada luka-luka di kulit.</p>
<p>6. Sakit kepala, pegal-pegal otot, nyeri sendi yang rasanya seperti encok akan menyertai. Semua itu bisa membuat suasana hati partner menjadi jelek. Berikan dukungan, kasih sayang, semangat, baik dalam kata-kata, sikap, maupun tindakan agar tercipta kondisi psikis yang kondusif untuk percepatan penyembuhan partner. Sabar menghadapi partner yang lagi terbaring sakit.</p>
<p>Nah, kalau kamu ketularan, giliran partner yang akan mengurus kamu. Ingat, bukankah berkomitmen berarti menyayangi pasangan dalam sehat dan sakit?</p>
<p>@parikesit n1nna, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/24/merawat-kekasih-saat-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesehatan dan Seksualitas: Tahan Lama</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/18/kesehatan-dan-seksualitas-tahan-lama/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/18/kesehatan-dan-seksualitas-tahan-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 12:43:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16142</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Juno Bis
Hari Raya Idul Fitri kemarin, partner mengajak saya mengunjungi sahabatnya.  Saya ingin tahu seperti apa sahabatnya, mengingat mereka berdua saling mengidolakan. Tunggu dulu! Nafsu pengin ketemu bukan karena cemburu, tetapi lebih kepada rasa penasaran mengingat cerita-cerita kekasih tentang sahabatnya.  Saya sangat bersemangat menjelang pertemuan itu.

Tibalah kami di rumah sahabat karib partner. Sahabat partner dan pasangannya menyambut kami dengan hangat.  Bagai orang yang sudah berabad-abad tidak bertemu, mereka bertiga saling melepas kangen dan sejenak mengabaikan keberadaan saya. Kesempatan ini saya pergunakan untuk memperhatikan kedua perempuan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/forever.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16143" title="forever" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/forever.jpg" alt="" width="300" height="275" /></a>Oleh:  Juno Bis</p>
<p>Hari Raya Idul Fitri kemarin, partner mengajak saya mengunjungi sahabatnya.  Saya ingin tahu seperti apa sahabatnya, mengingat mereka berdua saling mengidolakan. Tunggu dulu! Nafsu pengin ketemu bukan karena cemburu, tetapi lebih kepada rasa penasaran mengingat cerita-cerita kekasih tentang sahabatnya.  Saya sangat bersemangat menjelang pertemuan itu.</p>
<p><span id="more-16142"></span></p>
<p>Tibalah kami di rumah sahabat karib partner. Sahabat partner dan pasangannya menyambut kami dengan hangat.  Bagai orang yang sudah berabad-abad tidak bertemu, mereka bertiga saling melepas kangen dan sejenak mengabaikan keberadaan saya. Kesempatan ini saya pergunakan untuk memperhatikan kedua perempuan tersebut. Sahabat partner berpenampilan butch dengan potongan rambut seperti Ellen DeGeneres dan pasangannya <em>soft</em>-andro dengan rambut model bob seperti Rihanna. Keduanya berkulit putih bersih dan terawat. Sahabat partner berkacamata frameless sedangkan pasangannya tidak. Keduanya memiliki mata yang “hidup” dan senyuman yang menyenangkan. Benar-benar pasangan yang serasi! Setelah berjabat tangan dan berbasa-basi layaknya kawan baru. Kami hanyut dalam obrolan-obrolan ringan di balkon apartemen mereka. Latar belakang  lampu gedung-gedung perkantoran di Jakarta membuat obrolan kami makin mengasyikkan.</p>
<p>Cerita bergulir tentang awal pertemanan partner saya dan sahabatnya, berlanjut ke cerita kegiatan sehari-hari, rumor sekitar gonjang-ganjing politik tanah air, hingga cerita tentang perkenalan saya dan partner. Yang paling menarik buat saya adalah perjalanan cinta sejoli tersebut yang telah mencapai tiga puluh tahun. Bayangkan, <em>temans</em>, tiga puluh tahun! Bagi saya dan kekasih yang hubungan cintanya masih seumur jagung, tiga dekade adalah suatu prestasi yang <em>ruaarrrr </em>biasa!</p>
<p>Naluri investigatif saya pun muncul untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang hubungan tersebut.  Mereka mengaku bahwa hubungan yang mereka jalani tidak selalu mulus. Ada <em>ups-and-downs </em>bahkan sampai <em>on-off </em>beberapa kali.  Dari<em> temporary break</em> tersebut mereka mengambil pelajaran bahwa komitmen bersama adalah hal yang terpenting dalam menjalani suatu hubungan romansa.  Hmm&#8230; lagi-lagi kata keramat ini yang saya dengar.</p>
<p>Kata ‘komitmen bersama’ mengusik pikiran saya.  Ayo teman-teman, angkat tangan, siapa yang setuju dengan pasangan tersebut bahwa komitmen bersama adalah kunci keberhasilan suatu hubungan? Wah, pada angkat tangan semua, ya!  Tuh, ada yang angkat tangan kiri karena tangan kanan sedang merangkul pujaan hati.  Kenapa ya, pikiran saya menolak meng-iya-kan pendapat umum tersebut.</p>
<p>Seusai perkenalan dengan sahabat partner, kami semua kembali tenggelam di kesibukan sehari-hari yang membuat saya lupa pada kata keramat tersebut. Hingga tadi malam, karena penasaran, saya ambil KBBI untuk mencari definisi ‘komitmen’. Ini dia bunyinya: <em>Komitmen adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak</em>.  Iseng-iseng saya cari juga pengertian ‘dedikasi’ dan ini artinya: <em>Pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia; pengabdian</em>.</p>
<p>Seseorang yang ingin membuat komitmen bersama dengan pasangannya patut mengawalinya dengan ‘dialog-diri’ tentang kesiapan untuk melakukan pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi pasangannya. Dedikasi menjadikan seseorang lebih kuat dan tidak mudah menyerah dalam mencapai tujuan mulia, hidup bersama sang kekasih hingga suatu saat nanti &#8211; bila Sang Maha Bijaksana mengizinkan &#8211; ketika alam barzah memanggil.</p>
<p>Kembali ke kasus sahabat karib partner saya dan pasangannya. Berdasarkan elaborasi saya, dedikasi-lah yang tergambar pada diri mereka saat menjalani hubungan tiga puluh tahun itu. Selama tiga dekade mereka berdua “jatuh bangun” dalam menjalani kisah kasih. Namun tidak demikian halnya untuk pendidikan. Mereka berhasil menyelesaikan pendidikan tertinggi dalam bidang akademik dan menduduki posisi top managemen di perusahaannya masing-masing. Bagaimana dengan keluarga mereka? <em>Photos never lie.</em> Ratusan foto di album mereka menceritakan keakraban di antara dua keluarga besar yang melahirkan mereka. Saya yakin kekerabatan itu terjalin berkat  peran serta sejoli yang telah menunaikan tugas mereka sebagai generasi penerus: melengkapi diri dengan pendidikan setinggi mungkin dan menjadi insan berguna bagi lingkungan dan masyarakat.</p>
<p>Saya berpikir-pikir, keberhasilan mereka dalam karir, percintaan, dan hubungan kekeluargaan, merupakan hasil jerih payah yang tak mungkin dicapai tanpa semangat saling mendukung dan mau berkorban demi pasangan. Tidak salah jika partner mengidolakan mereka.</p>
<p>***</p>
<p>Jam menunjukkan pukul tengah malam ketika partner masuk ke kamar dan tersenyum melihat saya.  Setelah membersihkan diri dan melepaskan yang tidak perlu dipakai (sandal rumah, maksudnya), dia merebahkan diri di samping saya. Terlihat raut lelahnya setelah bergumul dengan jurnal dan teks.  Dia mencermati wajah saya sejenak, dan kemudian berkata, &#8220;Kamu pengin ya, Sayang?!&#8221;</p>
<p>Saya kaget dan berpikir cepat, adakah ini bentuk dedikasinya atau hanya merupakan pelarian dari stres setelah bergulat dengan kertas-kertas disertasi?  Ah, masa bodoh, yang penting saat itu saya memang ingin bercinta. Seakan ingin bersaing dengan jurnal dan teks,  malam pun kami tutup dengan membaca tubuh dari halaman depan sampai indeks!</p>
<p>@Juno Bis, SepociKopi, 2011</p>
<p><em>Catatan:</em><br />
Terima kasih kepada L dan N untuk persahabatan yang tulus. Semoga berkesinambungan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/18/kesehatan-dan-seksualitas-tahan-lama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesehatan dan Seksualitas: Selingkuh</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/09/kesehatan-dan-seksualitas-selingkuh/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/09/kesehatan-dan-seksualitas-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 04:02:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14597</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Juno Bis
Siapa dari warga SepociKopi yang tidak pernah selingkuh? Sebentar, hitung dulu. Satu, dua, tiga. Hadeehh, dari sekian banyak cuma tiga yang tunjuk tangan! Sisanya? Memang, selingkuh itu nikmat dan bikin kecanduan, ya?
Mendengar istilah ‘selingkuh’ saja, hati ini sudah deg-degan. Apalagi membayangkan wajah selingkuhan saya. Andro keren, bersih, dan agak cuek. Dan senyumnya itu, loh, ngangenin banget! Suaranya mendinginkan kekesalan. Candanya menghapus kejengkelan. Bujukannya menghadirkan lagi semangat kerja yang hampir rontok. Tapi sebesar apa pun keinginan untuk sering bermesra, sulit untuk diwujudkan! Saya harus mencuri-curi waktu.
Jadi, begitulah, teman. Karena ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/honeymoon_bed_leh69.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14600" title="honeymoon_bed_leh69" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/honeymoon_bed_leh69-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Oleh: Juno Bis</p>
<p>Siapa dari warga SepociKopi yang tidak pernah selingkuh? Sebentar, hitung dulu. Satu, dua, tiga. Hadeehh, dari sekian banyak cuma tiga yang tunjuk tangan! Sisanya? Memang, selingkuh itu nikmat dan bikin kecanduan, ya?</p>
<p>Mendengar istilah ‘selingkuh’ saja, hati ini sudah deg-degan. Apalagi membayangkan wajah selingkuhan saya. Andro keren, bersih, dan agak cuek. Dan senyumnya itu, loh, ngangenin banget! Suaranya mendinginkan kekesalan. Candanya menghapus kejengkelan. Bujukannya menghadirkan lagi semangat kerja yang hampir rontok. Tapi sebesar apa pun keinginan untuk sering bermesra, sulit untuk diwujudkan! Saya harus mencuri-curi waktu.</p>
<p><span id="more-14597"></span>Jadi, begitulah, teman. Karena waktunya yang terbatas dan hasil mencuri, kesempatan berselingkuh itu jadi sangat berharga. Setiap kebersamaan dengan kekasih gelap tidak ingin saya sia-siakan. Saya hirup tuntas detik demi detik yang ada. Sambil mengobrol, saya elus tangannya. Saya kecup kelopak matanya. Saya cium bibirnya. Saya peluk dia seolah tidak ingin berpisah. Tidak saya biarkan hal remeh-temeh dan nggak bermutu muncul dalam obrolan. Apalagi pakai berantem dan ngambek! Nggak banget, deh!</p>
<p>Karena khawatir bahwa pacar gelap saya akan mencari cemceman baru, saya berupaya tampil prima. Jadi, berselingkuh membuat saya lebih sering bersolek. Saya selalu ingin tampil belia termasuk dalam urusan tidur-tiduran.</p>
<p>Selingkuhan saya? Dia pasangan tetap yang hidup seatap dengan saya! Dulu tidak terlintas di pikiran bahwa kesempatan untuk bermesraan, walaupun di rumah, akan jarang tersedia.  Kini kami berselingkuh, menyelinap diam-diam, keluar dari kesibukan. Setiap kali ada waktu yang bisa diselewengkan dari rutinitas harian menulis dan belajar, kami gunakan untuk berpagut. Berjeda-jeda memang. Tetapi kehangatannya bikin kami mau, mau dan mau lagi!</p>
<p>Penasaran? Cobalah bayangkan pasanganmu sebagai gebetan gelap. Lalu nikmati adrenalin yang terpacu di setiap gumulan singkat&#8230; apalagi ketika ada tambahan artikel SepociKopi yang segera kejar tayang!  *Lirik mata <em>blink-blink </em>ke Lakhsmi*</p>
<p>Selamat berselingkuh, teman!</p>
<p>@Juno Bis, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/09/kesehatan-dan-seksualitas-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>L&#8217;Amour: Fighting for Your Love</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/08/14/lamour-fighting-for-your-love/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/08/14/lamour-fighting-for-your-love/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 09:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14273</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Adette Curly
Bagi mereka yang sedang mengenyam jenjang pendidikan, mungkin urusan cinta hanya akan membuat pusing. Misalnya saja ketika menghadapi ujian, bukannya belajar dengan giat, ee&#8230; malah asyik neleponin calon pacar. Keesokan harinya kesulitan menjawab soal-soal ujian dan hasilnya&#8230; nilai ujian jeblok habis. Untuk yang sudah memasuki dunia kerja, urusan cinta juga tak kalah rumitnya. Saat sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan annual meeting, partner protes karena merasa diabaikan. Akibatnya terjadi pertengkaran semalam suntuk hingga keesokan harinya malah duduk terkantuk-kantuk di meeting room lantaran kurang tidur. Sedemikian negatifkah efek cinta itu?
Eits, jangan salah! ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Fight_by_ChocoHal.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14285" title="Fight_by_ChocoHal" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Fight_by_ChocoHal-224x300.jpg" alt="" width="239" height="321" /></a>Oleh: Adette Curly</p>
<p>Bagi mereka yang sedang mengenyam jenjang pendidikan, mungkin urusan cinta hanya akan membuat pusing. Misalnya saja ketika menghadapi ujian, bukannya belajar dengan giat, ee&#8230; malah asyik neleponin calon pacar. Keesokan harinya kesulitan menjawab soal-soal ujian dan hasilnya&#8230; nilai ujian jeblok habis. Untuk yang sudah memasuki dunia kerja, urusan cinta juga tak kalah rumitnya. Saat sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan <em>annual meeting</em>, partner protes karena merasa diabaikan. Akibatnya terjadi pertengkaran semalam suntuk hingga keesokan harinya malah duduk terkantuk-kantuk di <em>meeting room</em> lantaran kurang tidur. Sedemikian negatifkah efek cinta itu?</p>
<p>Eits, jangan salah! Cinta tak melulu hanya membangkitkan perasaan <em>mellow </em>dan efek negatif, lho. Setidaknya hal inilah yang terjadi ketika saya tengah jatuh cinta terhadap seorang perempuan.</p>
<p>Tahun lalu saya mengenal perempuan ini, seorang andro-butch yang berusia 15 tahun di atas saya. Sebut saja namanya Joan. Saya sangat menyukai sifatnya yang <em>cool</em>, tegas, lugas, jujur, dan berimbang dalam memandang suatu permasalahan. Kebersamaan kami telah menciptakan kesan tersendiri bagi saya. Terus terang, dia adalah perempuan pertama dan satu-satunya yang hingga detik ini berhasil meluluh-lantakkan hati saya.</p>
<p>Layaknya benda seni bernilai tinggi bak lukisan Monalisa yang sangat sulit untuk dimiliki, demikian pula halnya dengan Joan. Dari awal, saya menyadari bahwa saya bukanlah tipe perempuan yang biasa ia taksir. Perempuan femme, blasteran, tinggi, langsing, seksi, dengan rambut panjang terurailah yang selalu berhasil mencuri hatinya. Sedangkan saya hanya bermodalkan hati yang tulus dan tanpa tendensi apa pun saat mendekatinya. Saya hanya ingin mencintainya. Titik. Tidak ada lagi alasan apa pun di balik itu semua.</p>
<p>Kehadiran Joan dalam hidup saya justru banyak membawa dampak positif. Yang paling luar biasa adalah turunnya berat badan dengan jumlah sangat fantastis dalam waktu singkat. Sebelum mengenalnya, level percaya diri saya urusan bentuk tubuh hampir mendekati titik terendah. Bertahun-tahun berat badan saya di luar kendali hingga jauh melebihi angka berat badan normal yang seharusnya. Tidak ada pakaian yang menurut saya pantas untuk dikenakan. Setiap berganti tahun saya juga harus berganti ukuran celana seiring dengan bertambahnya timbunan lemak di dalam tubuh. Saya merasa tersiksa dengan kondisi tersebut, tapi bukannya tergerak untuk memulai pola hidup yang lebih sehat, sebaliknya rasa malas semakin merajalela.</p>
<p>Hingga pada suatu hari, tanpa tedeng aling-aling Joan berkata kepada saya di ujung sambungan telepon, &#8220;Aku kemarin lihat ada perempuan gemuk sekali. Kasihan deh, melihatnya. Kakinya pasti nggak akan kuat menopang badan sebegitu beratnya untuk jangka waktu lama. Kamu jangan gemuk-gemuk, deh. Kasihan jantung dan lututmu. Olahraga, gih! Ayo, aku temani lari.&#8221;</p>
<p>Saya yang masih terbengong-bengong mendengar ajakannya hanya bisa bertanya, &#8220;Sekarang?&#8221; Yang seketika langsung dijawabnya, &#8220;Ya iya, sekarang. Mau kapan lagi? Lari di rumah juga bisa, yang penting berkeringat. Aku juga lari, deh. Ayo, cepetan!&#8221; ujarnya melecut semangatku.</p>
<p>Hari berganti hari hingga malam berulang menjemput pagi. Saya bagaikan salah satu peserta acara <em>reality show</em> &#8220;<em>The Biggest Loser</em>&#8220;. Nyaris setiap pagi dan sore hari Joan menelepon saya dan bertanya, &#8220;Sudah lari berapa menit?&#8221; Secara bertahap ia menambahkan jadwal berlari saya dari hitungan waktu sepuluh menit ke 20 menit hingga mencapai 30 menit dalam satu sesi. Bagi mereka yang berbadan lebih ramping, pastilah hal ini tidak akan memberatkan. Beda halnya dengan saya. Sukar untuk berlari dengan berat tubuh yang berlebihan. Jantung berdetak kencang. Keringat membanjiri seluruh tubuh. Lemasnya bukan main. Terang saja, karena menurut sebuah studi, berlari 30 menit dapat terbakar 450 kkal, sedangkan stok karbohidrat saya kurang dapat menunjangnya. Karena untuk mempercepat penurunan berat badan saya melakukan diet karbo, menghindari segala bentuk karbohidrat serta menggantinya dengan asupan sayur dan buah serta dua liter air mineral per harinya.</p>
<p>Pada awal proses, di tengah kesibukannya yang sangat padat, Joan meluangkan waktunya untuk menemani saya berlari. Saat ia merasa saya telah memiliki pola olahraga yang teratur, Joan cukup mengingatkan saja. Terkadang ia menelepon ketika saya sedang berolahraga dan menghitung menit demi menitnya sembari tetap menyuntikkan semangat. Yang lebih menyenangkan lagi, terkadang ia menghadiahi saya kecupan di pipi ketika nafas saya masih terdengar terengah-engah setelah berlari beberapa menit. &#8220;Hadiah karena hari ini kamu mau berolahraga,&#8221; begitu ucapnya. Saya menikmati setiap tahap dari proses ini sembari mencanangkan target pribadi, bahwa di pertemuan kami yang kesekian, saya akan mempersembahkan hasil yang terbaik untuknya.</p>
<p>Tak terasa 215 hari telah berlalu terhitung sejak hari dimana Joan mengajak saya berolahraga. Kini saya telah berhasil membuang hampir 20 kg lemak yang pernah menempel dengan setianya di tubuh saya. Belum sepenuhnya mencapai target sih, tapi sungguh menyenangkan ketika mendengar pujian sepenuh hatinya ketika minggu lalu saya mengiriminya sebuah foto terbaru. &#8220;Wowwwww&#8230; Cantikkk! <em>Looks younger</em>!&#8221; serunya tak henti-henti.</p>
<p>Sambil tersenyum saya bergumam, &#8220;Hasil jerih payahku ini, kupersembahkan semata-mata untukmu&#8230;&#8221;</p>
<p>@Adette Curly, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/08/14/lamour-fighting-for-your-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesehatan dan Seksualitas: Mirror, Mirror on the Wall</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/07/01/kesehatan-dan-seksualitas-mirror-mirror-on-the-wall/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/07/01/kesehatan-dan-seksualitas-mirror-mirror-on-the-wall/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 09:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13194</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Juno Bis
Mirror, mirror on the wall, who is the sexiest girl of all?
Teman-teman di jagad SepociKopi ini tentu mahfum bahwa sebingkai cermin memiliki banyak sekali fungsi. Cermin besar yang ditempatkan di salah satu dinding ruang tamu bisa memberikan kesan luas. Ada juga cermin ukuran sedang yang digunakan sebagai aksen di dekat meja makan. Di kamar mandi cermin yang biasanya kita gantung di atas wastafel bisa menjadi ‘kawan’ yang pertama kali menyapa kita setelah bangun tidur.
Di meja kantor seorang kolega, cermin kecil yang ditempatkan persis di samping komputernya berperan sebagai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Mirror.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-13196" title="Mirror" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Mirror-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Juno Bis</p>
<p><em>Mirror, mirror on the wall, who is the sexiest girl of all?</em></p>
<p>Teman-teman di jagad SepociKopi ini tentu mahfum bahwa sebingkai cermin memiliki banyak sekali fungsi. Cermin besar yang ditempatkan di salah satu dinding ruang tamu bisa memberikan kesan luas. Ada juga cermin ukuran sedang yang digunakan sebagai aksen di dekat meja makan. Di kamar mandi cermin yang biasanya kita gantung di atas wastafel bisa menjadi ‘kawan’ yang pertama kali menyapa kita setelah bangun tidur.</p>
<p><span id="more-13194"></span>Di meja kantor seorang kolega, cermin kecil yang ditempatkan persis di samping komputernya berperan sebagai kaca spion untuk melihat kalau-kalau bosnya datang dari belakang. Tetapi, pernahkah kita menyadari bahwa sebenarnya cermin punya fungsi yang teramat canggih: menambah gairah bercinta!  Nggak percaya? Dengar kisah ini langsung dari si pengguna cermin seksi ini.</p>
<p><strong>Skenario awal: </strong>Mari kita longok sebentar kamar tidurmu. Di mana letak tempat tidurmu? Agak jauh dari dinding?  Kalau begitu, geser sedikit supaya dekat ke dinding.  Setelah itu, cari sepotong cermin, ukuran agak besarlah, kira-kira 40cm x 80cm, di toko bahan bangunan. Ya, iyalah, masak mau cari cermin di toko CD?  Kalau mau lebih rapi, cermin itu bisa kamu bingkai dulu di toko pembingkai lukisan. Kalau mau yang praktis, beli beberapa pengait atau klip untuk cermin.</p>
<p>Mau diapakan cermin itu?  Untuk digantung di dinding dekat tempat tidur dan tingginya kira-kira sejajar dengan kasur atau matras.  Posisi cermin horisontal alias memanjang ke samping.</p>
<p>Kalau kamu biasa bergaul dengan palu, obeng, tang dan paku, cobalah gantungkan cermin ini. Ini sudah sering saya buktikan. Ooops, buka rahasia! Tapi kalau kamu malas, minta tolong <em>handyman </em>alias tukang yang sering bikin betul kamar kos, atau tukang kebun yang datang sebulan sekali ke rumahmu untuk potong rumput. Kalau mereka tanya  &#8220;Non, untuk apa pasang cermin di dekat tempat tidur?&#8221; Bilang saja &#8220;Saya sering mimpi dandan, Mang. Jadi supaya muka nggak belepotan bedak sama lipstik, saya mesti tidur dekat cermin.&#8221; Beres kan?!</p>
<p><strong>Skenario berikutnya:</strong> Kekasih hatimu pasti bertanya-tanya kenapa tempat tidur berpindah lokasi dan ada cermin di dekat tempat tidur. Nah, di sinilah dituntut kepiawaianmu dalam membujuk sang belahan jiwa untuk bereksperimen. Bercinta di dekat cermin!</p>
<p><strong>Skenario penutup:</strong> Nikmati pantulan anatomi tubuh di cermin. Coba bayangkan, betapa indahnya gerakan sepasang kekasih yang saling mencintai terpantul di cermin. Lekukan tubuh yang biasanya luput dari mata terlihat seperti siluet cantik goresan sang pelukis maestro. Sensasi pemandangan ini bagai rayuan genit sang kekasih sewaktu hati terpanah Dewa Cupido. Oh, iya, sebelum beranjak ke peraduan, jangan lupa redupkan lampu kamar tidurmu.</p>
<p><strong>Skenario tambahan:</strong> Untuk teman-teman yang berani mengambil risiko, cermin seksi ini bisa diletakkan di atas plafon. Tapi, pastikan ada paku atau penjepit cukup kokoh menahan beban cermin, apalagi jika terjadi gempa bumi. Keselamatan harus menjadi nomor satu ya. Selamat mencoba! Salam dari Juno si pengguna cermin seksi.</p>
<p>@Juno Bis, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/07/01/kesehatan-dan-seksualitas-mirror-mirror-on-the-wall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesehatan dan Seksualitas: Orgasme dan Bahasa Inggris</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/05/27/kesehatan-dan-seksualitas-orgasme-dan-bahasa-inggris/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/05/27/kesehatan-dan-seksualitas-orgasme-dan-bahasa-inggris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 08:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Urusan Ranjang]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12368</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Juno Bis
Kata orang-orang bijak bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa yang tumbuh, berkembang dan menjadi baku merupakan gambaran suatu bangsa yang sudah mapan atau istilah dari negeri sono ‘developed nation’.  Kalau saya boleh ambil contoh, misalnya bahasa Inggris. Kalau kita perhatikan memang banyak perbedaan antara kosa kata tigapuluhan tahun yang lalu dengan pilihan kata yang kita pakai sekarang ini. Dulu, beberapa kata, misalnya mouse, burn, dan drive punya arti berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Sekarang bukan hal yang aneh kalau kita bilang ‘I want to burn this file into ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Orgasm_by_ChaosBang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-12374" title="Orgasm_by_ChaosBang" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Orgasm_by_ChaosBang-213x300.jpg" alt="" width="213" height="300" /></a>Oleh: Juno Bis</p>
<p>Kata orang-orang bijak bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa yang tumbuh, berkembang dan menjadi baku merupakan gambaran suatu bangsa yang sudah mapan atau istilah dari negeri sono <em>‘developed nation</em>’.  Kalau saya boleh ambil contoh, misalnya bahasa Inggris. Kalau kita perhatikan memang banyak perbedaan antara kosa kata tigapuluhan tahun yang lalu dengan pilihan kata yang kita pakai sekarang ini. Dulu, beberapa kata, misalnya <em>mouse</em>, <em>burn</em>, dan <em>drive </em>punya arti berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Sekarang bukan hal yang aneh kalau kita bilang ‘<em>I want to burn this file into a CD’</em>. Tapi, coba bayangkan apa yang terjadi dua atau tiga dekade yang lalu kalau kita nge‘<em>burn</em>’ suatu arsip?</p>
<p>Meskipun mengalami banyak pertambahan kata, yang pasti bahasa Inggris masih menjadi acuan universal. Bahasa itu dipakai di kalangan bisnis, di dunia sastra, di kancah jurnalistik, di lapangan pendidikan, dan yang paling menarik – menurut saya sebagai pengamat dunia <em>ajeb-ajeb</em> – bahasa itu pun paling sering dipakai oleh penikmat orgasme. Ketika seseorang mencapai titik paling tinggi dalam kenikmatan bercinta, ekspresi lisan dalam bahasa Inggris seringkali terlontar dari  mulutnya. Nggak tahu kenapa. Menurut dugaan saya, mungkin karena si penikmat orgasme sering terpapar pada bahasa itu. Nah, menurut catatan dan penelitian yang diam-diam saya susun, ungkapan kepuasan orgasme ada bermacam-macam. Ada yang tergesa-gesa, lugas, tegas, beringas, tapi ada juga yang lembut, halus, bahkan mendesah. Lagi-lagi menurut riset pribadi, kebiasaan, sifat dan kemampuan seseorang tergambar pada ekspresi orgasmenya. Mau dengar lebih rinci?  Mari kita menuju ke TKP!</p>
<p>Memiliki bakat jadi cenayang:<br />
Orang-orang ini seringkali mendahului pasangannya dalam melihat sesuatu yang belum terjadi. Sewaktu orgasme dia bilang: “<em>I can see it coming! It’s coming! It’s coming!</em>”</p>
<p>Tidak pernah puas:<br />
Perempuan ini nggak cukup merasakan sekali saja. Karena mau dan mau lagi, ekspresinya di tempat tidur pun nggak jauh beda: “<em>Give me more! Give me more!”</em></p>
<p>Spiritualisme<br />
Saya mohon maaf, teman-teman, menurut rekaman suara yang saya simpan, ada ekspresi kepuasan yang begini : “<em>O, my God, I’m coming! O God, I’m coming!&#8221;</em></p>
<p>Punya hobi ngebor:<br />
Kegemarannya ini terbawa-bawa ke adegan bercinta. Dia mendesah seperti ini: <em>“Push it deeper, darling! Push it deeper, please!”</em></p>
<p>Biar lambat asal selamat, eh, salah, maksudnya enak:<br />
Menurut dia, kenikmatan itu nggak boleh diburu-buru. So, dia bilang: <em>“Slowly, honey. Not too fast, not too fast, please!”</em></p>
<p>Menyukai kebersamaan:<br />
Apa-apa maunya barengan terus. Dia nggak mau tahu apakah pasangannya sudah hampir ‘sampai’ atau belum. Yang penting: “Oh, wait for me, baby!  Wait for me! We’ll do it together, OK?!”</p>
<p>Atasan yang baik dan suka memuji:<br />
Sikapnya yang sering memotivasi bawahan tergambar dalam komentarnya: <em>“Good, good! Do some more to me! Do many more, please! Oh, please!”</em></p>
<p>Senang main air:<br />
Kalau ketemu air rasanya bahagia banget! Pokoknya yang basah-basah pasti dia nikmati dan dia kasih pengumuman ke pasangannya: <em>“I’m wet now, sugar! I’m wet!”</em></p>
<p><em>Last, but not least,</em> ada juga loh perempuan-perempuan yang tidak memerlukan kosakata njlimet untuk menyuarakan kepuasannya. Seperti yang berikut ini:</p>
<p>Pemalu:<br />
Nggak ada suara, tetapi waktu orgasme senyumnya lebaaar sekali!</p>
<p>Penghemat:<br />
Orang yang punya kebiasaan ini nggak banyak ngomong. Sama seperti kebiasaannya yang tidak suka boros. Desahnya?  “Seehhh, haahh!  Seehh, haaahh!”</p>
<p>Kamu termasuk yang mana, teman? Silakan merekam suara kalian dan cocokkan dengan daftar si Juno ini.</p>
<p>@Juno Bis, SepociKopi, 2011</p>
<p>Catatan:<br />
Artikel ini hendaknya dibaca sebagai hiburan ringan. Mudah-mudahan tidak ada pembaca yang merasa terganggu atau pun tersinggung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/05/27/kesehatan-dan-seksualitas-orgasme-dan-bahasa-inggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesehatan dan Seksualitas: Seks dalam Hubungan Lesbian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/04/22/kesehatan-dan-seksualitas-seks-dalam-hubungan-lesbian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/04/22/kesehatan-dan-seksualitas-seks-dalam-hubungan-lesbian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 00:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=11751</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Juno Bis
Segala macam cara PDKT dan beribu gaya tepe-tepemu untuk mendapatkan kekasih ternyata sukses. Kedekatanmu dengan kekasih meningkat kepada tahap yang ditunggu-tunggu: hubungan seksual!  Ada dorongan untuk mendapatkan yang  lebih daripada sekedar melihat, mendengar suara dan menyentuh badannya. Kamu ingin mendekap lekat-lekat dan bercinta dengannya. Bagaimana rasanya ketika pertama kali kamu bercinta dengan  ‘honey bunny sugar pumpkin-mu?  Malu-malu, risih, atau malah kepingin lagi dan lagi dan lagi? Masih ingat masa-masa menggairahkan itu?
Rasanya tidak ada kenikmatan yang mampu menandingi legitnya adegan bercinta. Setiap jengkal lekuk liku tubuh kekasih seperti memanggil ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/04/Making_Love__by_CatiaMelo.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-11752" title="Making_Love__by_CatiaMelo" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/04/Making_Love__by_CatiaMelo-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a>Oleh: Juno Bis</strong></p>
<p>Segala macam cara PDKT dan beribu gaya tepe-tepemu untuk mendapatkan kekasih ternyata sukses. Kedekatanmu dengan kekasih meningkat kepada tahap yang ditunggu-tunggu: hubungan seksual!  Ada dorongan untuk mendapatkan yang  lebih daripada sekedar melihat, mendengar suara dan menyentuh badannya. Kamu ingin mendekap lekat-lekat dan bercinta dengannya. Bagaimana rasanya ketika pertama kali kamu bercinta dengan  ‘<em>honey bunny sugar pumpkin</em>-mu?  Malu-malu, risih, atau malah kepingin lagi dan lagi dan lagi? Masih ingat masa-masa menggairahkan itu?</p>
<p>Rasanya tidak ada kenikmatan yang mampu menandingi legitnya adegan bercinta. Setiap jengkal lekuk liku tubuh kekasih seperti memanggil untuk mampir. Terlebih lagi ada dorongan di dalam dirimu yang membuat intensitas hubungan intim meningkat. Yang tadinya sekali seminggu menjadi dua atau tiga kali, bahkan kepinginnya sih setiap hari. Iya, kan?  Para pakar seks dan hubungan manusia menamakan dorongan  itu <em>‘lust’</em> atau bahasa gaulnya ‘berahi’. Pada tahap ini seks merupakan alasan utama yang membuat para pasangan heteroseks maupun homoseks makin erat dan berani melangkah ke tahap berikutnya yaitu kehidupan romantis yang berkomitmen. Di babak lanjutan ini tidak sedikit pasangan lesbian yang mulai tinggal seatap seperaduan.</p>
<p>Babak kehidupan romantis ini berlangsung kira-kira 6 bulan dan kalau kamu dan pasanganmu kreatif dalam menemukan jurus-jurus bercinta, bisa bertahan sampai 2 atau 3 tahun. Kegiatan bercinta masih ada, tetapi tidak lagi seheboh dulu. Mungkin cuma dua atau tiga kali sebulan. Kedekatanmu dengan kekasih bukan lagi karena ketertarikan fisik tetapi lebih kepada hal yang lebih mendalam. Kamu sadari atau tidak, di tahap ini kamu berupaya mengenali dan memahami karakter pasanganmu.</p>
<p>Setelah kehidupan romantis berlalu datanglah masa-masa yang membuat kamu merasa tak ada lagi yang perlu dicemburui. Api asmara yang dulu membakar dada dan membutakan mata kini berubah menjadi air tawar. Wajah andro ataupun setengah <em>butchy</em> yang dulu membuatmu kangen setengah mati berubah menjadi paras yang biasa sekali. Nafsu seks dan gairah bercinta meredup. Kekasih pujaan kini seperti teman biasa. Lampu kuning!</p>
<p>Karena tidak lagi merasakan <em>‘burning desire’</em> yang pernah membuat hati deg-degan di setiap jumpa, bukan tidak mungkin lho kamu ataupun kekasihmu atau bahkan kalian berdua mulai mencari dekapan baru.  “Nggak apa-apa!  Dia juga nggak mesra lagi sama aku!” mungkin itu yang ada di pikiranmu. Tapi percayalah, kedekatan yang telah kalian jalin bertahun-tahun sangat berharga untuk ditelantarkan begitu saja. Kenapa?</p>
<p>Kita semua maklum sekali tentang rendahnya populasi perempuan yang menyukai sesama jenis. Nggak gampang lho nyari pacar di pelangi ini. Percayalah!  Nah, sebelum kekasih terbang diambil orang, mulailah hangatkan lagi tempat tidurmu. Kembalikan semangat bercintamu yang menggebu-gebu seperti bunyi drum pemusik rock dengan cara yang inovatif. Capek dan nggak ada tenaga untuk bercinta karena pekerjaan di kantor atau di kampus bertumpuk? Gampang!</p>
<p>Tenagamu bisa kembali dengan minuman secangkir jahe hangat dicampur madu. Undang nafsu dengan bersama-sama menikmati kolom Kesehatan dan Seksualitas di SepociKopi (narsisdotcom) kan juga oke. Bosan dengan adegan dan suasana yang itu-itu saja? Kenapa tidak mencoba suasana lain, misalnya bercinta dengan gaya liar, seliar yang bisa digapai imajinasimu. Di tempat yang tidak biasa, misalnya di garasi, di dapur atau di tangga!  Atau pakailah kostum yang tidak biasa, misalnya kamu dan pasangan bertukar kostum. Yang butchy coba pakai <em>petite lingerie</em>, yang femme pakai kemeja cowok. Atau ubah penampilan kalian. Potong rambutmu dengan gaya berbeda supaya serasa bertemu pertama kali. Mengubah gaya dandan dan busana juga boleh dicoba. Tambahkan humor di dalam kehidupan sehari-hari kalian. Asyik, kan?! Yang penting, berupayalah supaya cinta itu tetap membara dan gairah seks itu tidak memudar.</p>
<p>Kata banyak pakar seks hubungan cinta tanpa seks itu bagaikan sayur tanpa garam. Dan kegiatan seks yang sehat dan saling menghormati di antara pasangan bisa menjadi perekat yang mampu menangkal berbagai godaan. Pendapat ini tentunya berlaku tidak hanya bagi kaum hetero namun juga bagi para lesbian.</p>
<p>Selamat bercinta, temans!</p>
<p><em>@</em>Juno Bis, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/04/22/kesehatan-dan-seksualitas-seks-dalam-hubungan-lesbian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

