Articles in the Intermezzo Category
Humaniora, Intermezzo »
Oleh: Ade Rain
Aku dan Jie gemar menjajal restoran baru, mencoba hampir semua tempat jajanan makanan dan mengeksplorasi menu halal yang ada, kemudian usil mengomentari setiap ramuan koki. Tapi yang lebih membuat kami berdua merasa sering tergoda yakni paket-paket yang disajikan sedemikian lengkap, khas, dan unik.
Tidak tahu siapa yang pertama kali memiliki ide membuat paket khusus pesanan makanan, mungkin awalnya dimotori oleh gerai makanan cepat saji. Bayangkan untuk menjerat konsumen anak-anak ada sepotong paha ayam, kentang goreng, dan coke ditambah bonus mainan tokoh-tokoh kartun yang lagi up to date. Di …
Humaniora, Intermezzo »
Oleh: Ceacilia Choo (dan Lakhsmi)
Guess what? Jumat siangku diwarnai dengan coretan cat hitam. Sudah seminggu aku berencana kabur ke Plaza Indonesia saat lunch. Aku pengin ngupi-ngupi dan ngegosip nggak jelas dengan seorang sahabat lama. Itu niat luhurku yang kujaga dari hari Senin. Tapi sungguh menyebalkan, rencana itu akhirnya batal. Aku menutup Jumat dengan mendengarkan curhat dodol seorang teman lain. Teman lesbian.
Dia memulai ngobrol di YM dengan ucapan rusuh seperti ini, “Gue bener-bener mau cekik tu orang! Tahu nggak, semua orang di kantor sekarang ngira gue lesbian! Itu gara-gara si Lutung …
Humaniora, Intermezzo »
Oleh : Jupiter
Love is blind! Ini adalah komentar yang masuk ke inbox-ku melalui fasilitas FanBox. Aku sempat dibuat tak berkedip ketika melihat ID pengirimnya. Dia adalah salah seorang sahabat heteroku yang sudah setengah tahun menghilang. Persahabatan yang telah kami bina selama tujuh tahun, tiba-tiba harus kandas tanpa adanya permasalahan yang jelas.
Satu bulan terakhir sebelum sahabatku itu menghilang, hampir setiap hari dia datang ke pertapaanku, demi sekadar membagi tangis pedihnya di pundakku. Kerumitan masalah rumah tangga yang dipikulnya telah membuat sahabatku yang paling tegar dan terkenal dengan keceriaannya ini menjadi sentimentil.Masih …
Humaniora, Intermezzo »
Oleh: Ratri M.
Sebagai penggemar berat The L Word, hidupku bisa dibilang tidak jauh-jauh dari apa yang ada dalam setiap episode L Word. Tentu saja episode yang beradegan tentang sosialisasi dengan teman-teman lesbian lainnya. Soal detail pekerjaan dan detail kehidupan dengan keluarga, tentu tidak semuanya bisa muncul di layar L Word, sama dengan episode-episode yang diri bagi di blog ini. Semuanya pasti berhubungan dengan ke”lesbianan” diri ini. So begitulah L Word dan diri ini berjalan seiring.
Bila di L Word ada pasangan berkategori femme berpasangan dengan femme lain seperti si Tina dan …
Humaniora, Intermezzo »
Oleh: Lakhsmihttp://jejakartemis.blogspot.com/
Di awal penulisan blog ini, aku pernah menciptakan kata heterofobia. Kata asing yang nggak jamak saat itu, bahkan partner pun sebenarnya nggak setuju dengan definisi heterofobia buatanku. Heterofobia kucetuskan saat aku lagi bete-betenya dengan serial The L Word yang sampai detik ini aku tetap tidak pernah bisa menyukainya. Banyak kegeraman dan protes-protes nyaringku yang bikin suasana menonton bersama-sama partner menjadi rusak berat. Partner selalu mengakhiri menonton dengan emosi tinggi, “Menyebalkan sekali nonton L Word sama kamu!”
Kata pertama yang muncul di kepalaku ketika melihat serial The L Word adalah kata …
Berita, Intermezzo »
Dikutip dari: www.kompas.comhttp://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.01.25.14551790&channel=1&mn=20&idx=27
Jumat, 25 Januari 2008 14:55 WIBURBANA, RABU – Para ahli dari University of Urbana-Champaign belum lama ini mengumukan sebuah riset menarik mengenai kualitas perkembangan serta kesehatan hubungan antar pasangan dewasa. Riset menunjukkan, hubungan asmara antara pasangan dengan jenis kelamin sama (gay atau lesbi) ternyata memiliki kesamaan dengan pasangan heteroseks (pria-wanita) dalam hal keterikatan dan komitmen.
Hasil riset yang akan dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychology edisi Januari ini mendapat catatan khusus karena mematahkan hasil riset sebelumnya yang mengklaim bahwa hubungan homoseksual tidaklah terikat dan tidak sehat secara psikologis ketimbang …
Humaniora, Intermezzo »
Oleh: Ade Rain
Mentari belum muncul di timur ketika kendaraan kami menikmati alur jalan yang lengang. Udara pagi membuat otak terasa jernih meski setengah kumpulan nyawa masih berada di kasur. The Corrs berteriak-teriak melantunkan lagu Radio. Tiba-tiba anakku mengecilkan volume musik kemudian menyebut nama semua teman-teman gayku. “Mom, kalau kamu misalnya saja tidak dengan Bunda, ayo aku jodohkan sama yang lain. Gimana kalau kamu dengan Jen, hehehe, kamu bakal kelihatan seperti ibu guru yang pintar dan serius.”
Botol air mineral yang kupegang langsung tumpah ketika ia menyebut nama Jen, bukan karena …
Humaniora, Intermezzo »
Oleh: Lakhsmihttp://jejakartemis.blogspot.com
Selamat malam, Rumah
Seperti tahun-tahun lalu, esok dan beberapa hari ke depan, kau akan ditinggalkan oleh penghunimu. Satu per satu, bergiliran, seakan-akan gerakan ini seperti gerakan kartu domino yang jatuh bertaburan dengan rapi. Setiap sudut dan sisi akan menjadi lengang. Dinding-dindingnya akan memantulkan sejuta dongeng bisu tentang drama manusia yang terjadi di sekitarnya.
Aku akan menyusuri ruang demi ruang, menikmati kesendirianku, berkata dalam hati, “Ah, satu tahun berlalu lagi.” Hidupku bukan mengikuti kalender Gregorian. Hidupku patuh pada kalender Sang Bulan, kalender yang menghitung permulaan tahun pada saat Hari Raya berakhir. Aku …
Humaniora, Intermezzo »
Oleh: Ade Rain
Gedung menjulang tinggi mengkerubuti mata di sepanjang Mega Kuningan, Kawasan Niaga Sudirman dan Thamrin, aku berbisik pada diri, “Selamat datang di Gotham City.” Jakarta bagai pemandangan kota-kota buatan di film Batman yang kerap memberikan kesan misteri akan sebuah komunitas masyarakat urbannya. Di bagian sisi lain teriakan para pedagang makanan keliling dan deru lengkingan bajaj saling menjerit, sangat terasa kota ini menyajikan ruang hidup penuh tantangan bagi siapa saja yang berada di sana.
Mata berpendendar di antara ratusan mal yang bermunculan, hiruk-pikuk manusia langsung mengintimidasi pikiran. Semua urusan birokrasi …
Humaniora, Intermezzo »
Oleh: Ratri M.
Terbayangkah Anda kalau ada seseorang bertanya enteng mempertanyakan status virginitas Anda. Nah ada seorang sahabat yang belum lama mengalaminya. Saat itu dia pergi ke salon cukup ternama, bukan salon langganan dia sehari-hari. Begitu sama di sana, sang penata rambut (cowok) bertanya dengan nada enteng: “Mbak masih virgin nggak?”Kontan saja sahabat perempuan saya ini terkaget-kaget: “Yang bener aja, Msas…. Saya sudah married 7 tahun, kok dibilang masih virgin?”
Jawaban sangat tegas ini membuat si mas salon malah tertawa terpingkal-pingkal,
“Maksud saya rambutnya mbak. Masih virgin itu artinya belum pernah diwarnain.”
Sebuah istilah …





