<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Intermezzo</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/intermezzo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Kota Kita Punya</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/05/22/kota-kita-punya/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/05/22/kota-kita-punya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 May 2011 16:47:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Milis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12304</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Bening
Dua bulan sudah Milis Sepocikopi hadir menjadi tempat untuk bersosialisasi yang lebih akrab dan lebih intim. Diskusi mengalir ringan dan santai, mulai dari topik LDR, Living Together, Kiat-kiat Hubungan Langgeng, Menekan Nafsu Belanja sampai ngobrolin Safe Sex. Kadang topik-topik yang lagi hangat di Web Sepocikopi.com dibahas dengan lebih seru di Milis. Apalagi beberapa pendapat yang paling menarik akan diposting di kolom Say It Out Loud yang setiap bulan memiliki tema asyik dan menarik.
Salah satu yang paling ditunggu-tunggu adalah chatting bersama setiap malam minggu. Mulanya masih malu-malu, makin malam makin ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/lovely-town1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-12306" title="lovely town" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/lovely-town1-300x175.jpg" alt="" width="300" height="175" /></a>Oleh: Bening</p>
<p>Dua bulan sudah Milis Sepocikopi hadir menjadi tempat untuk bersosialisasi yang lebih akrab dan lebih intim. Diskusi mengalir ringan dan santai, mulai dari topik LDR, Living Together, Kiat-kiat Hubungan Langgeng, Menekan Nafsu Belanja sampai ngobrolin Safe Sex. Kadang topik-topik yang lagi hangat di Web Sepocikopi.com dibahas dengan lebih seru di Milis. Apalagi beberapa pendapat yang paling menarik akan diposting di kolom Say It Out Loud yang setiap bulan memiliki tema asyik dan menarik.</p>
<p>Salah satu yang paling ditunggu-tunggu adalah <em>chatting </em>bersama setiap malam minggu. Mulanya masih malu-malu, makin malam makin seru. Ada kalanya dengerin teman curhat yang ditanggapi dengan riuh rendah. Kadang topik obrolan yang dilempar moderator melebar kemana-mana. Atau malah nggak kemana-mana karena cuma pengen saling bercanda, mencari hiburan atau sekedar merasakan kita ternyata nggak sendirian.</p>
<p>Tercatat sudah hampir 150 member yang terdaftar di Milis Sepocikopi. Dan 100-an member yang belum di-<em>approve </em>moderator. Anda salah satu di antaranya? Mari simak persyaratannya:</p>
<p>1. Milis Sepocikopi khusus untuk perempuan.<br />
Ya betul. Milis Sepocikopi khusus untuk perempuan. Bahkan saat menempatkan perempuan sebagai syarat utama, masih ada saudara kita, lelaki yang<em> open minded</em>, mengajukan diri menjadi anggota milis dengan harapan bisa ikut berdiskusi seputar masalah gender dll. Namun, sesuai persyaratan utama, tentu saja permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh moderator.</p>
<p>2. Keanggotaan Milis Sepocikopi khusus untuk usia 18+ tahun.<br />
Moderator menerima beberapa pengajuan dari teman-teman yang masih berusia 16 atau 17 tahun, dan dengan berat hati pengajuan ini juga ditolak oleh moderator.</p>
<p>3. Selain kedua syarat utama tersebut, setiap calon anggota milis diminta untuk mengisi beberapa data pribadi yang umum. Nama, nomor ponsel, usia (tanggal lahir), <em>nick name</em>, Id Facebook atau YM serta mengisi beberapa pertanyaan dan pernyataan.</p>
<p>Moderator menerima beberapa <em>email </em>yang bernada keluhan hingga bernada kesal dengan sulitnya persyaratan yang diterapkan. Perlu kami sampaikan bahwa semua persyaratan ini berlaku untuk semua semua anggota milis, kecuali beberapa penulis yang mendapat undangan khusus. Mengapa terkesan begitu dipersulit?</p>
<p>Sebenarnya, buat teman-teman yang memang memiliki niat baik dan serius untuk memiliki komunitas yang nyaman, persyaratan yang diharuskan bukanlan hal yang sulit. Nama depan dan nomor telepon yang diminta hanya dan hanya digunakan untuk verifikasi. Moderator bahkan berharap tidak terjadi sesuatu hal yang membuat moderator harus membuka arsip data dan menghubungi yang bersangkutan.</p>
<p>Mungkin ada yang bertanya, mengapa sih harus menuliskan pernyataan segala? Pernyataan keseriusan dan iktikad baik untuk bergabung di Milis SepociKopi bukanlah hal sulit untuk teman teman yang memang serius, nggak cuma iseng-iseng. Begitu juga pernyataan kesediaan untuk turut serta menciptakan suasana yang kondusif dan nyaman untuk berdiskusi. Karena hal utama yang paling kita inginkan adalah keamanan dan kebutuhan privasi tetap terjaga. Anggaplah milis sebagai sebuah kota kita bersama yang memiliki tata tertib yang harus dipatuhi oleh warganya. Kota yang nyaman ditinggali tentu saja adalah kota yang disiplin dan turut pada hukum yang telah ditetapkan.</p>
<p>Oya, jika ada yang bertanya-tanya siapa gubernur kota kita (a.k.a moderator), mereka bukanlah para anggota redaksi. Inilah salah satu cara SepociKopi untuk melakukan regenerasi dan pengembangan tanggungjawab di bahu sahabat lesbian lainnya. Silakan pembaca lesbian, tanyakan dirimu apa yang bisa kamu berikan untuk sesama, dan selama kamu bersedia, kami sangat gembira menerima segala bantuanmu yang bisa dikerjakan untuk SepociKopi.</p>
<p>Mari, kita menjadi warga yang baik, warga kota Milis SepociKopi. Saling menghormati tetangga. Cerdas, berwawasan, positif, dan percaya diri. Menghargai orang lain seperti menghargai dirimu sendiri. Berani bersikap serta berpendapat, namun juga menjadi pendengar yang baik. Dan tentu saja, tidak membuang &#8220;sampah&#8221; (baik arti harafiah sebagai sampah kotoran maupun sampah email sesuai aturan Milis SepociKopi) sembarangan. Kalau bukan kita yang merawat kota kita, siapa lagi?</p>
<p>@Bening, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/05/22/kota-kita-punya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Tahun</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/09/17/tiga-tahun/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/09/17/tiga-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 06:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4015</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Jeng Asih
17 Agustus 2009, tepat tiga tahun usiamu, Sayangku. Ah, kau memang belum tahu apa arti bertambah umur. Kau bersemangat melihatku membuat beberapa bingkisan alat tulis dan memasak nasi kuning untuk kakak-kakakmu di Panti Asuhan dekat rumah kita. Kau menggunting selotip, memadukan pinsil, penggaris, penghapus, alat raut, dan memasukkannya ke dalam kotak. Tak lupa dua buku tulis dan tas ransel bergambar Sponge Bob. Mari sini, aku yang membungkusnya dengan plastik bermotif hati kecil-kecil. Tinggal kupasang pita, selesai sudah. Eits, jangan diacak-acak lagi. Walah, kamu sudah mengantuk, ya? Ayo, bobo ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-4134" title="toddler-reading" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/09/toddler-reading-300x257.jpg" alt="toddler-reading" width="210" height="180" /></p>
<p>Oleh: Jeng Asih</p>
<p>17 Agustus 2009, tepat tiga tahun usiamu, Sayangku. Ah, kau memang belum tahu apa arti bertambah umur. Kau bersemangat melihatku membuat beberapa bingkisan alat tulis dan memasak nasi kuning untuk kakak-kakakmu di Panti Asuhan dekat rumah kita. Kau menggunting selotip, memadukan pinsil, penggaris, penghapus, alat raut, dan memasukkannya ke dalam kotak. Tak lupa dua buku tulis dan tas ransel bergambar <em>Sponge Bob</em>. Mari sini, aku yang membungkusnya dengan plastik bermotif hati kecil-kecil. Tinggal kupasang pita, selesai sudah. Eits, jangan diacak-acak lagi. Walah, kamu sudah mengantuk, ya? Ayo, bobo sebentar. Mama tunda perayaan ini hingga kau bangun nanti.</p>
<p>Dan kau pun tertidur, berdekatan dengan ketiakku yang “harum” karena belum mandi sedari tadi. Tapi kau tak peduli, ini “harum” yang akrab bagimu sejak kau masih bayi. Tak bisa aku menahan untuk tidak mencium pipimu, keningmu, bibirmu, tangan kecilmu, kaki mungilmu. Kau begitu lucu saat terlelap. Sampai-sampai aku tak merasa, tujuh butir air mata telah jatuh. Sudah sebesar ini kau, rupanya.</p>
<p><span id="more-4015"></span>Padahal dulu kau masih di dalam kandunganku, aku menikmati pertumbuhanmu dari waktu ke waktu. Di umurmu yang kelima, mulai terlihat rasa tak sabar hendak keluar dari perutku. Ciatt, tendangan kecil kau arahkan. Wah, campur aduk rasaku; terkejut, gembira, sekaligus sakit. Tapi tenang saja, semua perihku tak sebanding dengan kebahagiaan memilikimu. Ayo teruskan, semakin malam semakin menjadi. Hahaha, kau menonton bola, ya. Piala dunia yang disiarkan salah satu televisi swasta itu mempertemukan Inggris dengan Turki. Kalian berdua kompak berteriak saat Inggris menjebol gawang Turki. Dug! Aw! Perutku!</p>
<p>Kembali bulan berpendar. Waktunya telah tiba, sembilan bulan lima hari. Sebentar lagi kau melihat dunia, namun karena terlilit tali pusar di leher, akhirnya aku harus menjalani operasi cesar. Tak mengapa, yang penting kau selamat. Ini yang terbaik. Kuambil hikmahnya saja, setidaknya aku bisa memilih hari yang kusuka. 17 Agustus 2006 kupilih sebagai tanggal kelahiranmu, mudah-mudahan Tuhan memberkati, melancarkan segala sesuatunya. Amin.</p>
<p>Di meja operasi, aku membaca ayat-ayat Tuhan. Gugup, sukacita, semua kutelan. Dokter anastesi mulai beraksi. Suntikan pertama di tulang belakangku.</p>
<p>“Apa ibu seorang perokok?” tanya dokter anastesi padaku.</p>
<p>“Iya, tapi setelah saya hamil, sata berhenti total,” ujarku jujur.</p>
<p>“Rokok menthol?” Dokter kembali menyelidiki.</p>
<p>Aku hanya mengangguk pelan. Dokter pun menjelaskan bahwa rokok menthol merk apapun mengandung suatu zat anti kebal terhadap suntikan anastesi sehingga satu suntikan takkan mempan. Itu artinya ada suntikan yang kedua! Ya Allah, aku menyebut nama-MU. Mudah-mudahan kali ini berhasil.</p>
<p>Operasi dimulai. Dokter kandunganku menyetel musik yang syahdu. The Carpenters, <em>Close To You. </em>Ah, pilihan musik yang menenangkan, sampai-sampai aku tak merasakan perutku telah disobek perlahan. Tadinya aku menyangka, dokter akan bersenandung “Indonesia Raya” atau “Maju Tak Gentar”. Aku tersenyum sendiri hingga sebuah suara mengagetkan aku, “Ibu, siap ya, anaknya mau melihat dunia.”.</p>
<p>Aku tegang, ingin kulihat segera wajah dan kucium tubuhnya. Mana dia, mana? Kok tidak menangis?</p>
<p>“Eeeeaaaaa, eeeeaaaaa, eeeeaaa!”</p>
<p>Alhamdulillah, ya Allah! Itu dia suara tangisnya. Emosiku tak tertahan lagi. Aku menangis sesenggukan. Mana bayiku, aku mau memeluknya. Pukul 07.17, di saat Sang Saka Merah Putih berada di ujung tiang, kau seolah mengatakan pada bangsa ini, “Akulah generasi yang akan membuat Indonesia bermartabat!”.</p>
<p>Seorang suster memperlihatkanmu padaku. Maha Besar Engkau, Tuhan! Aku memujiMu, Kau tepati janjiMu. Bayiku sangat sehat, tampan, menggemaskan. Suster sibuk memeras payudaraku untuk mengambil colostrums. Tak kuhiraukan kesibukan itu. Jalani saja tugasmu, suster-suster cantik. Aku mau memandangi bayiku.</p>
<p>Indah kenangan itu, Sayang. Kau terlahir dengan tinggi 47 sentimeter, kini menjulang tinggi dibanding teman-teman sebayamu. Gigimu lengkap, tinggal geraham saja yang belum. Kaulah matahari hidupku, <em>my mood booster.</em> Kau alasan mengapa aku tangguh menghadapi kerasnya hidup hingga hari ini.</p>
<p><em>Handphoneku </em>bergetar. Seorang sahabat L-Mom menelepon.</p>
<p>“Ntar malam jadi, lho! Jangan membuat si kecil terlalu lelah. Pokoknya tidak perlu repot-repot. Datang aja bawa badan sama anak. Segala biaya kita tanggung bareng-bareng. Tidak ada minum-minum<em>, no smoking area</em> pokoknya, hahahaha. Bo, anak-anak bakal keracunan kalee. Oke ya, jangan lupa! <em>See you tonight, sis!”</em></p>
<p>Ah, sekali lagi berkah Tuhan di ulang tahunmu, Nak. Teman-teman lesbianku yang kau sebut tante-tante cantik sudah menyiapkan <em>surprise </em>buatmu nanti. Sekarang nikmatilah tidurmu. Aku mau mandi agar kakak-kakak Panti Asuhan tidak ada yang dilarikan ke rumah sakit karena mencium bau badanku nanti.</p>
<p>@Jeng Asih, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/09/17/tiga-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Day I Met Her</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/08/26/the-day-i-met-her/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/08/26/the-day-i-met-her/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 02:35:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=3836</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Justine Ht
Udara kebebasan membelaiku lembut saat kuinjakkan kaki di universitas. Masa aku menjadi terpidana berat telah berakhir. Jadwal sekolah yang ketat, pekerjaan rumah yang segerobak, tas punggung yang isinya lebih berat dari tas para pencinta alam, terpaksa berdiri di depan kelas jika tidak membawa buku teks atau tidak bisa mengerjakan soal. Tidak ketinggalan upacara bendera setiap hari Senin. Bahkan saat ada pelajaran yang gurunya berhalangan hadir pun pasti diisi oleh kepala sekolah yang tidak pernah bosan membahas Pancasila dan UUD45.
Cupid memang anak nakal. Di hari pertama aku di kampus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/08/sweet_heart_by_TuRkCeLLo.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15277" title="sweet_heart_by_TuRkCeLLo" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/08/sweet_heart_by_TuRkCeLLo-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Oleh: Justine Ht</p>
<p>Udara kebebasan membelaiku lembut saat kuinjakkan kaki di universitas. Masa aku menjadi terpidana berat telah berakhir. Jadwal sekolah yang ketat, pekerjaan rumah yang segerobak, tas punggung yang isinya lebih berat dari tas para pencinta alam, terpaksa berdiri di depan kelas jika tidak membawa buku teks atau tidak bisa mengerjakan soal. Tidak ketinggalan upacara bendera setiap hari Senin. Bahkan saat ada pelajaran yang gurunya berhalangan hadir pun pasti diisi oleh kepala sekolah yang tidak pernah bosan membahas Pancasila dan UUD45.</p>
<p>Cupid memang anak nakal. Di hari pertama aku di kampus ini, dia memanahku tepat mengenai jantungku. Percikan cinta langsung berpendar di mataku, membakar kantin tempat aku duduk. Seorang sahabat SMA-ku yang kebetulan satu fakultas denganku melambaikan tangannya, berjalan memasuki kantin bersama seorang teman.</p>
<p><span id="more-3836"></span>Wow, aku terpukau menatapnya. Rambut cepaknya tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang feminin, <em>t-shirt </em>merah, celana jeans, sepatu kets dan tas ransel merah sangat serasi dengan kulitnya yang putih. Sahabatku menghampiri dan duduk di depanku, sedangkan dia berjalan menuju tempat permen, mengambil beberapa, membayarnya, dan mendekati tempat kami duduk.</p>
<p>&#8220;Hai,&#8221; sapanya tersenyum.</p>
<p>Aku mengulurkan tanganku dan menyebutkan namaku. Dia menyambut tanganku tapi tidak menyebutkan namanya. Kuresapi halus tangannya. Dia menawari kami permen.</p>
<p>&#8220;Suka permen ya?&#8221; selidikku.</p>
<p>Dia hanya tersenyum. Sejak hari itu aku selalu menyediakan permen di kantongku walau aku tidak pernah suka permen.</p>
<p>***</p>
<p>Satu semester sudah aku terdampar di tempat ini. Aku menyebutnya &#8220;terdampar&#8221; karena aku lulus di universitas ini sebagai pilihan terakhir dari tiga pilihan yang kuambil. Namun yang paling penting bagiku adalah aku harus sekolah. Bapakku sangat mencintai pendidikan. Aku ingin membuatnya bangga. Kebodohan itu dosa. Sering dia mengatakan itu kepadaku sejak aku kecil. Aku tidak mengerti perkataannya saat itu karena dia tidak pernah memaksaku rajin bersekolah dan rajin belajar walau dia berprofesi sebagai guru. Bahkan dia membiarkanku bermain dan tetap menungguku pulang bermain hingga larut malam.</p>
<p>&#8220;Bermain itu belajar,&#8221; katanya kepada Mamak saat memarahinya karena membiarkan anak perempuannya terus bermain.</p>
<p>Bapak memang laki-laki istimewa di hatiku.<br />
<em><br />
&#8220;Pak, aku mau jadi pengacara hebat!&#8221; kataku semangat.<br />
&#8220;Iya, kau pasti bisa,&#8221; sahutnya tersenyum.</em></p>
<p><em>Di lain waktu aku berubah pikiran.</em></p>
<p><em>&#8220;Pak, aku mau jadi pengusaha sukses!&#8221; kataku dengan lantang.<br />
&#8220;Kau bisa menjadi apa saja yang kau inginkan, anakku. Karena itu kau harus berjuang dan sabar,&#8221; katanya tertawa kecil, lalu mengangkatku dan mendudukanku di pundaknya. Kedua tangannya memegang kedua tanganku dan berjalan menuju sungai untuk mandi. Aku sangat suka bermain di sungai tapi hanya dia yang mampu membuatku berkeinginan untuk mandi.</em><br />
<em><br />
</em><strong>Berjuang dan bersabar.</strong> Kata-kata itu kuukir di jidat. Setiap kali aku bercermin, terlihat olehku sehingga kata rintangan takkan ada dalam kamus hidupku.</p>
<p>Kantin ini memang tempat yang asyik untuk bersantai. Memandangi jejeran pepohonan Akasia yang meliuk genit mengikuti irama angin dan nyanyian Siamang yang bersahutan, diselingi kicauan aneka burung sebagai penyanyi latar. Seolah menyanyikan lagu <em>Welcome to the Jungle.</em> Dari sini aku juga bisa memandang ke-fakultas-ku dengan leluasa. Memperhatikan dia yang serius mengikuti kuliah. Berbeda denganku yang selalu tidur jika bertemu dosen itu.</p>
<p>***</p>
<p>Dosen di ruangannya terlihat berjalan keluar kelas, sebentar lagi dia pasti akan mencariku. Aku sudah hapal kebiasaannya. Dia akan menyodorkan kartu absenku dan bibir indahnya akan menari-nari memberiku ceramah karena kemalasanku kuliah. Aku menikmati ocehannya sambil menatapnya dan berpikir kapan aku bisa memiliki bibir itu.</p>
<p><em>Jika bapak ada di sampingku saat ini, akan kukatakan, &#8220;Pak, aku mau memiliki hatinya!&#8221;</em></p>
<p><em>Apakah bapak masih mengatakan hal yang sama? Aku tersenyum. Aku yakin bapak pasti mengatakan hal yang sama. Dia hanya akan bingung jika aku mengatakan sesuatu seperti, &#8220;Pak, aku mau jadi peragawati!&#8221;</em></p>
<p>Aha, aku mendapat ide. Dengan semangat aku atur strategi untuk diriku sendiri. Aku akan menyusup diam-diam ke hatinya dan menanam cinta di sana. Setelah itu aku akan menyiraminya setiap hari dan menunggunya sampai berbunga. Sesekali perlu kuberi pupuk agar tumbuh subur. Setelah berbunga barulah aku akan memetiknya.</p>
<p>Kuhabisi kopiku dengan sekali teguk dan bersiul kecil meninggalkan kantin untuk menemuinya. Kulambaikan tangan pada Bang Man pemilik kantin yang melongo melihat tingkahku. Semoga ada tugas dari dosen sehingga aku punya alasan untuk mengajaknya mengerjakan tugas itu di tempat kosku atau aku akan menginap di rumahnya. Cihuuy&#8230;</p>
<p>@Justine Ht, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/08/26/the-day-i-met-her/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Interogasi Panas Dalam</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/04/11/interogasi-panas-dalam/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/04/11/interogasi-panas-dalam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 16:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=1567</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Sebagai sesama lesbian, aku memang harus siap-siap nyengir jelek menjawab pertanyaan ketika berkenalan dengan lesbian lain, khususnya di dunia maya. Tentu jawaban yang diberikan juga bergantung pada niat-niat pertanyaan tadi, apakah masih dalam koridor kesopanan atau tidak. Jangan sampai jidatku makin jenong sehabis ditanyai macam-macam. Yah, setidaknya pemberi pertanyan juga tak melakukannya seperti sebuah wawancara kriminal yang siap menggiring badan ini dengan tangan terborgol masuk pada sebuah kesimpulan menurut versinya sendiri.
Secara usiaku masuk kepala tiga, sudah pasti dianggap bimo alias biang homo. Apalagi aku lesbian mom, yah pertanyaan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-thumbnail wp-image-1568" title="strange_questions__by_m0thyyku" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/04/strange_questions__by_m0thyyku-150x150.jpg" alt="strange_questions__by_m0thyyku" width="150" height="150" />Oleh: Ade Rain</p>
<p>Sebagai sesama lesbian, aku memang harus siap-siap nyengir jelek menjawab pertanyaan ketika berkenalan dengan lesbian lain, khususnya di dunia maya. Tentu jawaban yang diberikan juga bergantung pada niat-niat pertanyaan tadi, apakah masih dalam koridor kesopanan atau tidak. Jangan sampai jidatku makin jenong sehabis ditanyai macam-macam. Yah, setidaknya pemberi pertanyan juga tak melakukannya seperti sebuah wawancara kriminal yang siap menggiring badan ini dengan tangan terborgol masuk pada sebuah kesimpulan menurut versinya sendiri.</p>
<p>Secara usiaku masuk kepala tiga, sudah pasti dianggap bimo alias biang homo. Apalagi aku lesbian mom, yah pertanyaan tadi pun jadinya agak-agak gimana gitu. Sudah jelas sang penanya akan langsung memberi cap di dahi “dedengkot” lesbian. Walah, jika sudah demikian saat menjawab pertanyaan ya ngelus dada sambil berdoa semoga negara ini adil, damai, dan sejahtera. Namanya juga suka rela, ya mau dijawab silakan, ngga dijawab juga juga ngga apa-apa. Tapi aku berusaha menjawab sejujur mungkin, tergantung pada seberapa besar “derita” yang terasa di pertanyaan itu.</p>
<p><span id="more-1567"></span></p>
<p>“ASL please.” (Yang artinya <em>age, sex, location.</em>)<br />
“Muda, energik, dan keren 32/perempuan /ibukota tercinta Republik Indonesia, Jakarta.”</p>
<p>“Kamu ngga anti labelisasikan? Label kamu apa ya?” (<em>Maksud elu? Apel, CK, atau Victoria Secret gitu?</em>)<br />
“Butchy dunk!”</p>
<p>“Sudah berapa lama merasa jadi lesbian?” (<em>Emang konon menjadi lesbian sudah bisa dirasakan sejak kita mimik ASI dari payudara ibunda? Bodo amat, emang gue pikirin!</em>)<br />
“Yah, sejak kecil gitu.”</p>
<p>“Keluarga ada yang tahu? Kamu <em>coming out</em> ngga?” (<em>Keluarga tahu? Gue bunuh diri aja nelan sendok plastik!)</em><br />
&#8220;Ya nggak-lah. Secara bokap ketua pengajian, yang dia tahu aku anak baik-baik. Amin deh.”</p>
<p>“Suka ngerasa berdosa, nggak?” (<em>Doh! Bang Inal Inul, aku kan pengidap DBD alias diri banyak dosa</em>)<br />
“Namanya juga manusia, bohong banget deh kalau nggak. Soalnya minta ampun sama Gusti Allah itu nyaris setiap saat kalau otak mulai mikir-mikir perempuan.”</p>
<p>Kalau udah sering <em>chatting </em>bareng, pertanyaan terkadang mengalir sejoroknya.</p>
<p>“ Maaf, kamu kalau <em>make love,</em> gimana ya? <em>Fingering, licking</em>, atau <em>tools game</em>?” (<em>Yaelah, beha lu robek tuh, gimana mau jawabnya?</em>)<br />
“Yah, kayak air mengalir aja kaliii! Cinta selalu menemukan jalannya sendiri. Lagian, banyak jalan menuju Roma. Apa, tadi <em>tools game</em>? Tukang menukang gitu? Aku ngga tau soalnya aku kolot, ketinggalan jaman millenium.”</p>
<p>Kalau merasa nyaman, pertanyaan makin dalam.</p>
<p>“ Suami masih ada? Cerai? Atau ditinggal mati?” (<em>Duh, celana dalamku jadi slilit, deh. Nyelip abis.</em>)<br />
&#8220;Yah, gimana ya, penting apa? Ntar dikasih bimbingan rohani kalau jawabnya kejujuran.&#8221;</p>
<p>“ Jadi anak kamu tahu kamu lesbian?” (<em>Dengkul kejeduk meja.</em>)<br />
“Secara namanya anak gitu lho. Dia sahabat sejati, suka duka dibagi bersama. Ya, iyalah.”</p>
<p>“Ngga takut dia jadi lesbian juga?” (<em>Doiiing!!! Gubraks, kubayangkan dua anakku jadi lesbian. Kalau ya, kayaknya aku bisa mengajarkan mereka bagaimana mendapatkan cewek baik hati luar dalam!</em>)<br />
“Nggak! Sebahagia anakku aja, asal ingat sama Tuhan.”</p>
<p>“Suami tahu kamu begini? (<em>Kayaknya perutku masuk angin deh</em>.)<br />
&#8220;Ya tahulah, masa nggak sih? Nyantai aja kali!&#8221; (<em>Gubraks! Bohong mode on banget!)</em></p>
<p>Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bikin aku jadi pengen kerokan (efeknya bisa langsung buat kita panas dalam), masih ditambah lagi dengan pertanyaan yang lebih seru.</p>
<p>“Jadi, kalau kamu ketemuan dengan teman-teman lesbian, apa kamu akan nyamperin di hotelnya gitu?” (<em>Jibang deh pertanyaannya!)</em><br />
“Aduh emang semua pertemanan lesbian harus dimulai di hotel, kenapa ngga di tempat umum aja? Mesjid, gereja, vihara, atau pura gitu. Hotel? Kalau gue dihamili gimana? (Jawaban udah mulai ngaco.)</p>
<p>Pertemanan dunia maya sebenarnya juga tergantung takdir, apalagi dalam pencarian patner. Konon, takdir buruk bisa digeser dengan banyak doa dan amalan baik, jangan sampai diberi orang-orang yang langkahnya berada di jalan sesat. Urusan pencarian pacar apalagi, Johan banget! (Jodoh ada di tangan Tuhan!).</p>
<p>Semua hal dalam hidup ini konon memiliki humbungan timbal balik. Jika ingin mendapat teman yang gayanya jorki, ya kitanya juga harus bergaya jorok sesekali. Jika ingin mendapat teman yang nyebelin, ya bersikap aja belagu, galak, sekalian judesin jadi pertemanan itu; klop bisa saling mengisi. Kalau mau dapat yang keyen cekali, yah berdandanlah kucai ala kadarnya. Pasang tampang recek, kusut, ngga usah mandi sekalian. Semoga dia langsung trekathlon (lari, hiking, berenang) setelah pertemuan itu.</p>
<p>“ Jadi kamu akan begini terus sampai tua menjalani hidup sebagai lesbian mom?”<br />
“ Duh, kalau gue udah nenek-nenek dan nggak sama pacar gue lagi, mending cariin gue nenek-nenek lesbian ya! Ngga kebayang hidup sendirian tanpa perempuan!&#8221;</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/04/11/interogasi-panas-dalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oh My (Straight) Handphones!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/03/25/oh-my-straight-handphones/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/03/25/oh-my-straight-handphones/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 00:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepoci.wordpress.com/2009/03/25/oh-my-straight-handphones/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Semua pasti kenal yang namanya telepon genggam. Penjajahan handphone (HP) kini juga sudah sampai ke daerah sawah menyawah, dari tengah belantara sampai pulau-pulau terpencil yang banyak malarianya. Jadi jangan heran kalau Pak Tani juga bisa bergaya di depan padi menguning sambil menggengam Communicator.
Bentuk dan pilihan HP pun macam-macam, mau yang kecil bisa ditaruh antara selipan beha, mau yang memanjang sehingga bisa disembunyikan di selangkangan, atau bulat membundar canggih berdesain futuristik. Yang baterenya liquid, yang ada peta GPS, yang media hiburannya segede bagong, sehingga bisa ngilangi sedih-sedih ala film ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_fyhrxYN6pZo/ScnvPw6dyfI/AAAAAAAACeQ/PH4RzxIFL7Y/s1600-h/cellpohnes.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 170px; height: 113px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fyhrxYN6pZo/ScnvPw6dyfI/AAAAAAAACeQ/PH4RzxIFL7Y/s200/cellpohnes.jpg" border="0" alt="" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Semua pasti kenal yang namanya telepon genggam. Penjajahan handphone (HP) kini juga sudah sampai ke daerah sawah menyawah, dari tengah belantara sampai pulau-pulau terpencil yang banyak malarianya. Jadi jangan heran kalau Pak Tani juga bisa bergaya di depan padi menguning sambil menggengam <span style="font-style:italic;">Communicator</span>.</p>
<p>Bentuk dan pilihan HP pun macam-macam, mau yang kecil bisa ditaruh antara selipan beha, mau yang memanjang sehingga bisa disembunyikan di selangkangan, atau bulat membundar canggih berdesain futuristik. Yang baterenya liquid, yang ada peta GPS, yang media hiburannya segede bagong, sehingga bisa ngilangi sedih-sedih ala film Mumbay.</p>
<p>Juga banyak printal-printil lengkap, <span style="font-style:italic;">skype, google map,</span> teve kecil, radio, <span style="font-style:italic;">video call, push mail </span>(bagi yang punya banyak identitas tentu semua e-mail ajaib masuk ke dalam satu HP saja). Wushhhh email-email  setiap saat masuk ke dalam inbox dan sampailah rahasia segala macam info dengan cepat. Bahkan gambar dengan segala macam pose bisa saling dikirim buat nyenengi patner. Hmm, mau ambil gambar diri bugil, nampangi burket, bukit lembah bukit hot itu, atau bulu semua bulu dalam satu HP mungil, monggo… silakan miliki HP sesuai kocek dan kebutuhan.<span id="more-1038"></span><br />
<span class="fullpost"><br />
Buatku HP itu benda yang sungguh <span style="font-style:italic;">numero ono </span>te o pe kepentingannya.  Mati aja kalau nggak ada signal! Biar deh kalau nanti aku mati terlentang di atas kain kafan trus telepon genggamku ditaruh aja di sebelahnya, atau ditaruh di dada sebagai tanda duka cita. Sungguh hidup dan matiku CDMA! Alias Cuma Di Mata Andphone-ku (maksaaaa).  Meskipun ada waktu-waktu tertentu kalau aku lagi sama partner atau keluarga liburan di tempat indah beneran nggak mau diganggu HP, Tapi… aku nggak bisa nggak dapat berita tuh! Mau nggak mau kalau sudah begitu ya bawa HP ke mana pun, mulai dari ngebor sampai megap-megap&#8230;.</span></p>
<p>Justru di sinilah yang ingin kuceritakan, bahwa “benda keramat” itu memang begitu berkesan dalam hidup. (Tapi…)  Teringat pertama sekali memiliki telepon genggam. Bentuknya masih kayak tempat minuman anak-anak sekolah dasar yang gede itu, antenanya panjang, beli sekali dua. Satu jadi milik ibuku, dan satu punyaku berwarna sama dengan nyokap hanya ujung antena hape kucelupi warna akrilik pink norak biar beda.</p>
<p>Waktu itu masih pake sistem AMPS yang kalo nelepon terdengar suara geererrrek jegrekkkk geeerrrreek jegreek tanda nyari signal. Oh uh oh.. Auzubillaaah…Capek deh! Tapi kalau suaranya nyambung seneng luar biasa.  Tentu saja tidak semua kawasan mampu menerima pemancar dengan baik. Jadi teriak-teriak sambil pamer punya HP trus pura-pura nggak ada signal pun jadi tren yang sungguh cekiber malu-maluin. Nggak heran kalau para pemakai HP zaman itu sering keliatan konyol sendiri….</p>
<p>Suatu hari di kantin kampus dengan telpon AMPS sama ibuku:</p>
<p>“Maaa aku pulang kuliah jam 3, jemput ya.”<br />
“Nak, rendangnya ada di kulkas tinggal suruh mbok panasin…”<br />
(Mukaku makin manggut-manggut  mengkerut dalam hati udah ketawa ngakak, tapi tetap pasang wajah lempeng pura-pura ngerti…). Gubraks deh. Otakku cikulkulsap berasap, sungguh cepat panas pakai benda itu. Syukurnya bumi tetap berputar, dan zaman jebot HP kayak gituan cepat berakhir.</p>
<p>Sekarang begitu canggihnya <span style="font-style:italic;">handphone</span>, mau yang banyak multimedia pakailah aiiipon alias iPhone keluaran Apple itu (gilak, promosi! hihihih). Mau yang punya beratus-ratus alamat email, <span style="font-style:italic;">push mail </span>deh, 24 jam trus <span style="font-style:italic;">online </span>sampe mata berair. Bercokolah dengan blekberi, sekalian beli yang layar sentuh (ogah deh nggak kuku kukuku dipakai buat nyentuh layar, gagap abis!) Nggak akan buat kita istirahat, kerja terusss hehehe itulah jeleknya. Yang pasti blekberi itu penggangu tidur kalo nggak disiplin! Awas aja… jangan sampe stroke.</p>
<p>Nah jelas HP bagi <span style="font-style:italic;">“L  underground” </span>kayak aku menghadapinya sungguh beda. Begitu banyak provider yang menawarkan segala macam kelebihan, akhirnya jadi pakai beberapa deh. Pabrik chip pun ngga mau kalah,  sampe-sampe sekarang ada satu chip yang bisa digunakan untuk beberapa nomor GSM dan CDMA. Jangan heran kalau hapenya satu tapi nomornya bisa sampai lima sampai enam nomor. Tapi justru itu… pakainya pun bingung.</p>
<p>Yang repot kalau punya kerjaan serabutan kayak aku begini, hidup di tiga belahan dunia antah berantah, trus mengadu nasib di lima planet yang berbeda… walah, aku sampai rajin mengoleksi chip telepon genggam, bahkan yang berasal dari liang kubur pun punya (Hiperbola deh!). Jadi aku pun terpaksa menggunakan banyak HP, nggak pakai chip satu penggemarnya banyak tadi, bingung bo!</p>
<p>Tapi yang itu pun masih buat aku repot kayak tikus curut dan sering kena DBD (Diri Banyak Dosa). Pertama, sering salah nyebut nama. Aku pikir tadinya bapak-bapak yang minta produknya difoto, trus tiba-tiba yang nelepon suaranya mirip-mirip, kusebut dengan mantap nama orang yang baru menelepon itu dengan nama bapak sebelumnya… Aduh gelo nggak sih!</p>
<p>&#8220;Pak Danu nanti fotografernya langsung ke perusahaan bapak…”<br />
“Danu? Mbak, saya Pramsraju, yang kemarin nelepon…”</p>
<p>Bayangin itu ternyata etnis India yang mau kumintain tolong mengisi pertunjukan musik Tabla  di salah satu acara pesta kantor teman. ( Nomor hp-ku yang ini khusus untuk perusahan XXX)</p>
<p>&#8220;Rain… aku ke kotamu besok, kita ketemuan ya makan siang Soto Udang…” Sudah pasti ini dari <span style="font-style:italic;">handphone</span> “lesbian”-ku yang nada deringnyaa “Alone”. Nada itu membuatku cepat tahu siapa yang menelepon. Namun suatu kali… HP itu memanggil, aku main angkat aja. Dan masuklah kita ke dosa kedua deh, yaitu Bohong.</p>
<p>“Dengan Aderain… ada yang bisa kubantu, Sis?”<br />
Di ujung sana suara istri petinggi di kotaku yang minta fotografer memotret di tempatnya terdengar bingung terbata-bata, menyebut nama asliku memastikan ia menelepon orang yang benar…(walah-walah). Tentu asal jawabku yang gaya-gayaan nyebut Aderain itu berakibat fatal. Ketika harus ketemu ibu pejabat tadi dia pun bertanya, “ Nak kamu punya nama panggilan lain ya? Siapa tadi Adek Ren?”</p>
<p>“Ah bukan, Bu, namaku tetap satu kok.”</p>
<p>Aku terduduk lemas sambil berharap semoga si ibu ini langsung amnesia nggak nyebut-nyebut nama itu lagi.<br />
Sorenya waktu pulang kerja  anak sulungku iseng minjam HP “lesbian”ku itu… “ Mom aku minta lagu-lagumu ya, aku nyalain “blutut”-nya…<br />
“Hah jadi kamu yang ganti nada dering HP <span style="font-style:italic;">straight</span>-ku sama dengan HP Belok?”</p>
<p>Mukanya manyun. Dosa ketiga, marah nggak jelas sama anakku. Mukanya cengengesan, aku memang nggak ngomel-ngomel, pasrah aja mendongkol langsung buka baju masuk kamar mandi dan ngadem di bawah shower. Di dalam sana aku bersenandung…</p>
<p><span style="font-style:italic;">&#8220;Handphone-ku ada lima , rupa-rupa warnanya, hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru, berdering hp straight… dor! Hatiku sangat kacau, hpku masih lima, kupegang erat-erat.&#8221;</span></p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/03/25/oh-my-straight-handphones/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>On LDR</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/02/16/on-ldr/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/02/16/on-ldr/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 06:59:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepoci.wordpress.com/2009/02/16/on-ldr/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Bibiy
Saya jatuh sakit. Fisik dan terlebih hati. Ternyata hujan dan angin kencang belakangan ini tokcer merobohkan saya. Puncaknya terjadi kemarin. Tubuh saya sempoyongan, badan saya menggigil. Mata saya terasa panas dan mulai berair. Entah itu air mata atau efek tubuh saya yang menghangat terserang demam. Tenggorokan saya gatal seperti ada yang mengganjal. Di tengah kondisi seperti ini, saya malah memutuskan kabur saat jam kantor sudah selesai. Saya tepis bayangan hangatnya bergelung dibawah selimut.
Di bawah teror mendung yang setiap detik bisa melepaskan hujan dari sangkarnya, saya mulai berjalan. Tidak peduli ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_5cMJbl3JQfg/SZkQr2algoI/AAAAAAAABj0/T69RycSIpjs/s1600-h/Distance_by_jadedfang.jpg"><img style="float:right;cursor:pointer;width:146px;height:200px;margin:0 0 10px 10px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5cMJbl3JQfg/SZkQr2algoI/AAAAAAAABj0/T69RycSIpjs/s200/Distance_by_jadedfang.jpg" alt="" border="0" /></a>Oleh: Bibiy</p>
<p>Saya jatuh sakit. Fisik dan terlebih hati. Ternyata hujan dan angin kencang belakangan ini tokcer merobohkan saya. Puncaknya terjadi kemarin. Tubuh saya sempoyongan, badan saya menggigil. Mata saya terasa panas dan mulai berair. Entah itu air mata atau efek tubuh saya yang menghangat terserang demam. Tenggorokan saya gatal seperti ada yang mengganjal. Di tengah kondisi seperti ini, saya malah memutuskan kabur saat jam kantor sudah selesai. Saya tepis bayangan hangatnya bergelung dibawah selimut.</p>
<p>Di bawah teror mendung yang setiap detik bisa melepaskan hujan dari sangkarnya, saya mulai berjalan. Tidak peduli bahwa satu-satunya teman berjalan saya adalah pikiran yang kalut. Saya (lagi-lagi) gagal mentransformasikan pikiran saya menjadi kumpulan energi positif. Sudah berkali-kali gangguan ini datang menggelitik kayak kutil yang minta disentil.<br /><span class="fullpost"><br />Saya memikirkan tentang hubungan saya. Ya, saya menjalani hal yang menjadi momok bagi semua pasangan, <span style="font-style:italic;">long distance relationship </span>(LDR). Lima bulan sudah saya menjalani hubungan yang sendiri. Sendiri karena kekasih tidak bersama saya di sini. Sebuah hubungan yang orang bilang, “Tidak ada jalan berdampingan. Lupakan bergandeng tangan. Jangan harap keintiman. Tolong deh, jangan banyak protes!&#8221;</p>
<p>LDR memang tak sekeren namanya. <span style="font-style:italic;">Believe me, you don’t want to be in it. </span>Kau bisa mati sesak bila berharap napas dari kekasihmu. Tanpa sadar, kau akan berjalan terseok-seok dan akhirnya tersungkur ke dalam liang kesepian yang dalam dan gelap. Tak ada yang bisa kau lakukan di sana selain berteriak. Menjerit! Sekeras-kerasnya! Sampai kau kehilangan kewarasan dan yang ingin kau lakukan hanyalah melarikan diri. Jiwamu menolak segala kalimat penghiburan karena itu bukan obat penawar dari pikiranmu yang kacau.</p>
<p>Hati saya terus <span style="font-style:italic;">ngerengik</span>. Saya ibarat bayi raksasa yang menjerit-jerit berisik minta perhatian, kangen dijamah, haus kasih sayang, dan rindu dikelonin. Meski jeritan saya semakin melengking, dalam hati saya mengumpat. Hati dan pikiran saya riuh berdebat. Saya tahu logika yang akan jadi pemenang dalam pertarungannya ini. Saya tak mungkin mengharap kekasih terbang bermil-mil hanya untuk memeluk saya. Sayangnya, saya orang yang sangat mengagungkan hati. Dan saat ini hati saya sedang protes sekeras-kerasnya.</p>
<p>Begitulah saya, hari itu. Berjalan entah kemana. Saya menyeret kaki saya dan mengomandonya untuk terus melangkah. Saya mencari sebuah petualangan yang bisa membuyarkan kekusutan pikiran saya. Menyusuri trotoar sama sekali tidak ada enak-enaknya. Becek, berbatu, dan kadang berlubang. Beruntung sisa hujan seharian mengkamuflase debu-debu dan asap kendaraan. Sepintas jalanan tampak seperti tanpa polusi. Saya bisa bernapas teratur di tengah sesaknya kendaraan yang lalu lalang.</p>
<p>Sepanjang trotoar saya berjalan gagah seperti tentara. Jalan protokol yang saya lalui belum juga kelihatan ujungnya. Kaki saya juga belum lelah. Pikiran saya masih muram seperti awan yang bergulung di atas kepala.</p>
<p>SMS dari kekasih yang tiba-tiba masuk enggan saya balas. Amarah saya sedang kronis. Dan saat ini saya betul-betul sedang dikuasai olehnya. Tidak ada belas kasihan di setiap sudut relung hati saya. Bahkan untuk kekasih. Betul. Saya ngamuk padanya. Saya kalut karena dia. Saya kacau karena jarak. Karena dia tak disini. Karena dia mau saja disandera di negeri asing, meski dengan dalih sekolah. Satu tahun pula.</p>
<p>Maafkan Sayang, saya sedang sakit. Fisik maupun hati. Kalau kau tak ada disini, rasanya tidak ada guna aku memelas perhatianmu.  Saya sungguh-sungguh sakit. Fisik dan hati. Jarak yang jauh ini, oh benar membunuh saya&#8230;</p>
<p>@Bibiy, SepociKopi, 2009<br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/02/16/on-ldr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjingkat di Lesbian Bar</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/02/11/berjingkat-di-lesbian-bar/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/02/11/berjingkat-di-lesbian-bar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 08:12:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepoci.wordpress.com/2009/02/11/berjingkat-di-lesbian-bar/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Sudah beberapa hari aku merasa seperti dodol, badan dibaluri krim yang amat sangat tebal, lalu dibungkus lengan panjang tipis, pullover, ditambah jaket yang juga sungguh berukuran selimut.  Dikemas seperti dodol tradisional memang unik rasanya.  Seperti didandani secara komplet, tinggal dibaluri minyak goreng, daun pisang, plastik, baru bungkusan kulit Aren yang diikat ketat sehingga dodol tampak cantik dan apik.
Dengan pakaian robot dodol berlapis-lapis itu tentu saja jalan agak sulit untuk terlihat anggun. Tapi siapa juga peduli, lagi dalam keadaan dingin begitu ngga mikir lagi mau cantik-cantik ria. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_fyhrxYN6pZo/SZKml4ffpkI/AAAAAAAACR0/8d4LYWCbH-I/s1600-h/le+bar.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;width:170px;height:114px;margin:0 10px 10px 0;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fyhrxYN6pZo/SZKml4ffpkI/AAAAAAAACR0/8d4LYWCbH-I/s200/le+bar.jpg" alt="" border="0" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Sudah beberapa hari aku merasa seperti dodol, badan dibaluri krim yang amat sangat tebal, lalu dibungkus lengan panjang tipis, <span style="font-style:italic;">pullover,</span> ditambah jaket yang juga sungguh berukuran selimut.  Dikemas seperti dodol tradisional memang unik rasanya.  Seperti didandani secara komplet, tinggal dibaluri minyak goreng, daun pisang, plastik, baru bungkusan kulit Aren yang diikat ketat sehingga dodol tampak cantik dan apik.</p>
<p>Dengan pakaian robot dodol berlapis-lapis itu tentu saja jalan agak sulit untuk terlihat anggun. Tapi siapa juga peduli, lagi dalam keadaan dingin begitu ngga mikir lagi mau cantik-cantik ria. <span style="font-style:italic;">Heh&#8230; salah dink&#8230; </span>aku masih suka dandan juga. Salah seorang teman cowok satu programku habis-habisan mengomel setiap kali aku masih juga tanya besok mau pakai baju apa ya?<br /><span class="fullpost"><br />Berjuang memikirkan agar tetap tampil modis di tengah musim dingin itu membuatnya bete. Karena jelas-jelas dia juga setiap hari berbungkus seperti dodol tadi&#8230;(tapi dodol dia kayaknya dodol basi deh lebih tebal dan membuatnya tampak sedikit seperti dodol dalam bambu, tegang dan susah jalan.) Capcay deh, cape banget sama dia karena berantem tiap hari soal pakai baju apa ya besok?</p>
<p>Malam itu, aku tahu sekali, dia, si Raden, ingin mengekor mengikutiku pergi. Bete ngga sih? Dia kan cowok, lagian aku punya urusan sendiri. Urusan perempuan.</p>
<p>Dia membelok ke 12th street, aku lempeng, ngga mau lihat-lihat dia ke belakang… duh semoga dia beneran nggak ikut. Aku sudah <span style="font-style:italic;">browsing </span>tempat <span style="font-style:italic;">hangout </span>lesbian itu sejak di kota  ini. Nggak akan kuizinkan cowok kayak dia merusak malam itu.</p>
<p>Akhirnya tempat yang dicari ditemukan.  Lokasinya hanya berjarak beberapa blog saja dari hotel. Tempat nongkrong lesbian malam itu kecil jadi terlihat cukup ramai. Tak begitu mencolok meskipun berada di jantung kota .  Tempatnya di antara hilir mudik manusia yang keluar masuk lingkungan Forest Park Building.</p>
<p>Kumasuki bar mungil tersebut.  Ada meja tinggi memanjang, dengan dua bartender perempuan muda. Tulisan The XXXX  kecil menyala menyabut kedatangan. Meja bundar tak jauh dari situ berisi beberapa perempuan sibuk mengobrol, meja yang lebih jauh juga penuh. Musik ringan mengalun  perlahan tak mengganggu percakapan orang-orang di dalamnya. Aku membuka jaket, berjalan manis ke dalam.</p>
<p>Masih bingung ingin duduk di mana, akhirnya mendatangi meja bar.  Bertanya pada bartender minuman apa yang tak mengandung soda dan alkohol. Ia menganjurkan <span style="font-style:italic;">orange juice tonic, </span>setelah paham apa isinya aku memesan satu. Dengan ramah ia mengajakku mengobrol. Ia tertawa berkali-kali ketika kujelaskan soal dodol tadi dan cara berpakaianku. Kami tertawa. Sesekali aku melempar pandangan ke luar serbuk salju terkena cahaya lampu turun pelan-pelan, indah. Aku suka melihat serbuk putih itu liar ke sana kemari menjatuhkan diri.</p>
<p>Ragu-ragu aku bertanya apakah semua  tamu di sini kebanyakan lesbian, ia memastikan dengan anggukan dan senyuman. Tangannya yang berwarna kemerahan memanggil salah seorang perempuan. Tak kelihatan lesbian sama sekali. Ia menyebut namanya Alen. Bartender mengenalkan diri dengan nama Gael. Duh&#8230; beneran aku deg-deg-an berada di sekitar mereka, seperti masuk ke kampung sendiri dan langsung merasa nyaman di dalamnya.</p>
<p>Bisa kurasakan kehangatan Gael, ia memang pantas menjadi bartender. Sangat ramah dan aktif menghangatkan suasana. Gael meminta Alen mengenalkanku pada teman-temannya. Setelah mengobrol sebentar bertiga, Alen langsung membawaku ke meja di bagian tengah. Aku langsung tenggelam berada di kumpulan mereka, tak melihat satu butchy pun. Beberapa andro, satu cewek dengan lengan penuh tato tapi tetap saja terlihat feminin.</p>
<p>Pelan-pelan kutanya pada Alen, apakah mereka mengenal dua grup di meja lain? Alen bilang hanya tahu beberapa tapi tak kenal dekat dengan wajah-wajah tersebut, menurutnya yang berada di pojok berasal dari kota lain tempat lain, dan ia hanya familier wajah. Menurutnya ada sekitar 30-an L yang sering nongkrong di tempat itu, rata-rata warga kota , namun ada juga yang membawa teman-teman dari kota lain, umumnya lebih ramai hari Sabtu.</p>
<p>Sedang asyik-asyik mengobrol, tiba-tiba bel pintu masuk berbunyi&#8230; tamu baru, dan kulihat punggung Raden. Leherku seperti kelilit kemben.. eh syal eh dodol syalnya Raden. Aku tahu Raden selalu cari minuman buat menghangatkan diri, sejak kemarin dia keluar-masuk  Liquor bar.  Aku sontak panik. Bisik-bisik kukatakan pada Alen untuk menyembunyikan aku di pojokan mereka, agar Raden tak bisa melihatku.</p>
<p>Kukatakan dengan bisikan setan. <span style="font-style:italic;">(Itu loh bisik-bisik pucat yang secepat kilat dibarengi  muka tegang ketakutan&#8230;)</span></p>
<p><span style="font-style:italic;">&#8220;Pssst Alen I’m not coming out&#8230; he is one of my friend from Indonesia.&#8221;</span></p>
<p>Teman Alen, Christ datang menyusul, menyalami. Alen memintanya menutupiku.</p>
<p>Tiba-tiba…</p>
<p>&#8220;Eeeh… eh XXXXXX kok di sini?&#8221;</p>
<p>Kudengar suara Raden memanggil namaku. Dudul gundul pacul deh, beneran kayak dicolok selang air kupingku dengar suaranya.</p>
<p>&#8220;Aku kedinginan di luar jadi main masuk aja ke sini.&#8221;<br />&#8220;Ah elu mah muna katanya ngga minummm.&#8221;<br />&#8220;Iya ini mau mau mabuk air jeruk  biar ngga gila gara-gara kuliah kita siang tadi.&#8221;<br />Aku mulai ketus deh sama dia, sebenarnya ngga benci malah sering kecanduan berantem gitu&#8230; emang asyik berantem sama Raden semua suka ketawa kalau kita udah heboh. Masalahnya aku ngga  mood berantem di situ. <span style="font-style:italic;">Radeeeennn kamu keluar giiih!!!</span> aku berteriak dalam hati.</p>
<p>Raden mengajak duduk di mejanya. Aku melangkah di belakang pelan menyingkir dari Christ berbisik lagi memintanya untuk memberitahu Gael agar tak mengajakku mengobrol. Ah aku duduk di meja Raden&#8230; ingin kubunuh dia pake cangkir mini<span style="font-style:italic;"> liquor </span>yang diminumnya, bisa ngga ya, atau pakai taplak meja aja kubungkam mulutnya trus masukkan ke dalam drum bir biar ngga ganggu malamku.</p>
<p>Dia masih terus godain bilang aku muna diam-diam ternyata minum alkohol, bodoh ah&#8230; toh dia cuma liat aku minum jus. Sepuluh menit pertama  <span style="font-style:italic;">booorrriiing </span>setengah mati. Aku udah mau pamit meninggalkan bar itu, tapi  dia bilang mau ikut aku, padahal maksudnya mau keluar, tunggu dia keluar aku balik lagi ke tempat itu.</p>
<p>Obrolan sama Raden udah asal, aku maksa mau balik ke hotel. Raden buru-buru membayar minuman kami, aku masih melihat mimik Gael yang kasihan padaku. Aku hanya main mata.</p>
<p>Di bawah temaram lampu dan embusan angin <span style="font-style:italic;">winter</span>, aku ngacir berjalan jauuuuh di depan Raden, aku tahu otaknya udah terpana oleh campuran vodka, whiski dan jeruk nipis tadi, entah apalah namanya. Aku langsung ngacir buru-buru mau lantai 8. Di lift kujambak rambutnya sambil mengancam jangan ikut ke kamar. Raden malah ketawa ngakak, dan ikut.</p>
<p>Aku mau pinjam kameramu mau transfer foto-foto kita.</p>
<p>Radennnn  aku benar-benar ingin membunuhmu menjepitkan lehermu di pintu lift atau kugulung karpet hotel, kubuang dari jendela aja kali yaaa. Buru-buru kuambil kamera itu dan Brak!!! Kubanting pintu kamar,</p>
<p>&#8220;Aku tidur ya, Den.&#8221;<br />&#8220;Munaaa Munaaa munaaa, ma kasih, Sayang.&#8221;</p>
<p>Adduuh Den terserah deh mau bilang apa aja asal kamu ngga bilang aku lesbian. Belum lima menit telepon kamar bunyi. Raden lagi, kali ini minta izin semua foto ditransfer ke laptopnya, jadi flash disk d<br />
i kamera dikosongi. Terserah elu deh, Deeeen, makan tuh kamera, aku mau bebas malam ini.</p>
<p>Tak terasa hampir pukul 10 malam café nyaris tutup, aku masuk bar itu lagi 15 menit setelah pasti Raden nggak berkeliaran. Kali ini berjingkat memastikan tak ada Raden-Raden lain yang juga lalang melintang di sekitar jalan yang penuh tempat nongkrong itu. Aku masih duduk di meja, Chris dan Alen terbahak-bahak mendengar perjuanganku lepas dari Raden dan caraku menemukan tempat itu. Kami mengobrol sampai teman-teman lesbian lain meninggalkan ruangan. Aku lihat Gael berciuman bibir dengan Christ, oh mereka <span style="font-style:italic;">couple </span>ternyata… melihat ciuman bibir itu aku jadi kangen seseorang.</p>
<p>Setelah menutup bar, Christ, Gael, Allen, dan Jane mengantarku pulang, hanya beberapa blok dari tempat itu. Dan sepertinya mereka sangat menghargai aku yang sengaja mencari tempat itu dan nekat datang sendirian. Gael dan Christ bergenggaman, satu tangan Gael memeluk bahu sambil bersenandung lagu yang tak kukenal.</p>
<p>Jemari mengkerut padahal berbalut sarung kulit, tapi malam itu indah. Pohon tanpa daun ditiup angin, kelap kelip lampu Billboard, buliran es mengeras di aspal. Suara klakson mobil di kota tempat 9/11 menghancurkan WTC itu, membuat enggan pulang&#8230; mereka membuatku betah. Tapi sesekali aku masih melihat-lihat ke belakang, takkan pernah kubagi kebahagiaan malam itu dengan Raden. Tuhan aku benar bahagia meski terbungkus bagai dodol anyep, beku, dan dingin yang dimasukkan ke dalam kulkas bersuhu minus 15 derajat Celsius.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi. 2009<br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/02/11/berjingkat-di-lesbian-bar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oh, Starbutch!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2008/12/28/oh-starbutch/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2008/12/28/oh-starbutch/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 18:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepoci.wordpress.com/2008/12/28/oh-starbutch/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Pukul enam. Pagi itu mataku masih merem-melek. Hari itu aku membayar utang. Menepati janji pada Dily sahabat straight dengan membantunya  menjadi sopir wira-wiri, kliwar-kliwer menemani dia  yang sibuk menjadi panitia Futsal  Girls  Open Tournament. Ketika sampai di lapangan, mataku masih sepet,  kulihat Dily sedang menuliskan nama-nama tim di papan pengumuman. Tercatat di kepanitiaan ada sekitar 18 tim yang harus lolos seleksi pertama hari ini agar bisa masuk ke semifinal besok. Duh bakalan telat pulang nih, kataku dalam hati.
Iseng kubuka lembaran pendaftaran para tim ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_fyhrxYN6pZo/SVfD2jOCAFI/AAAAAAAACLs/TZW-Ye2J58k/s1600-h/futsal.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;width:170px;height:113px;margin:0 10px 10px 0;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fyhrxYN6pZo/SVfD2jOCAFI/AAAAAAAACLs/TZW-Ye2J58k/s200/futsal.jpg" alt="" border="0" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Pukul enam. Pagi itu mataku masih merem-melek. Hari itu aku membayar utang. Menepati janji pada Dily sahabat <span style="font-style:italic;">straight </span>dengan membantunya  menjadi sopir wira-wiri, kliwar-kliwer menemani dia  yang sibuk menjadi panitia Futsal  Girls  Open Tournament. Ketika sampai di lapangan, mataku masih sepet,  kulihat Dily sedang menuliskan nama-nama tim di papan pengumuman. Tercatat di kepanitiaan ada sekitar 18 tim yang harus lolos seleksi pertama hari ini agar bisa masuk ke semifinal besok. <span style="font-style:italic;">Duh bakalan telat pulang nih, </span>kataku dalam hati.</p>
<p>Iseng kubuka lembaran pendaftaran para tim futsal yang dilengkapi foto-foto, <span style="font-style:italic;">yaela napa semua pasfotonya pada  kayak abang-abang ya? </span>Jangan-jangan tempat ini bakal penuh peserta yang… <span style="font-style:italic;">au ah gelap.  </span>Mengingat begitu banyak <span style="font-style:italic;">deadline </span>aku malas mikir, mau siapa yang datang, siapa yang main, pasrah saja mengekor Dily.<br /><span class="fullpost"><br />Aku sama sekali buta soal futsal.  Dulu pernah menemani eks partner yang jagoan futsal itu ketika ada turnamen  antar biro hukum. Tapi duluuuu banget, heboh-heboh jadi suporter aku malah ditaksir butch temen kantornya dia. <span style="font-style:italic;">(Hehehe ayang, ayang, ayang… kamu masih ingat itu nggak? Manyuni muka.) </span>Aku belum sarapan, tak jauh dari situ kantin kecil ternyata menyediakan sarapan yang lumayan. Samar-samar kulihat di pojokan kursi beberapa “perangpuing” gagah berambut super pendek. Psst maksudku perempuan bo! Lagi-lagi radarku yang yahud setajam penciuman anjing yang ahli mengendus narkoba menemukan gerombolan lesbian.</p>
<p>Aku  sengaja duduk di meja yang tak jauh dari mereka, memunggungi, mencari zona aman, sambil menguping. Payah bo! Rasa mau tahuku ini emang nggak bisa terbendung. Melihat begitu banyak perempuan berambut cepak semangatku yang loyo sejak pagi mulai berkibar.</p>
<p>Karena kantin dekat dengan pintu masuk, dan aku duduk menghadap ke luar, mata bebas melihat berbagai bentuk manusia yang  datang. Gila bo, ganteng-ganteng perempuannya. Dari bajunya aku tahu mana yang pemain futsal beneran, yang sesekali main, atau yang dadakan. Sedang enak-enak meneguk teh panas hangat tiba-tiba gerombolan lebih banyak muncul, <span style="font-style:italic;">dungdangdung</span> jantung deg-degan, ada lima sepeda motor, duh… bentuknya gagah berani. Beberapa memang ada yang femme tapi nggak menarik mata (<span style="font-style:italic;">hehehe, dasar!).</span>  Begitu turun dari sepeda motor mereka langsung menghampiri teman-temannya yang ada di belakangku. Yaela ini ternyata benar-benar pasukan berani mati. <span style="font-style:italic;">Coming Out Group! </span> Aku langsung  jiper,  ngga perlu gaydar deh di sini baunya udah jelita, terang benderang. Aku pura-pura lihat hape.</p>
<p>“Hidup Starbutch! Hidup Starbutch!”<br />“Selamat datang,&#8221; kata Dily, &#8220;apa nama tim kalian?&#8221;<br />“Star Butch!”<br />“Oh, Star Batch…”<br />“Salah, Mbak, bacanya setarbuch!  Be U te ce ha.”</p>
<p>Seorang butchy berperawakan kecil mengeja butch, mengajari Dilly cara mengucapkan. Salah satu dari mereka teriak menggebu-gebu di dalam kantin mengelu-elukan kata Starbutch tadi. Nggak salah dengar telingaku??? Duh jangan sampai ada yang mengenaliku. Ternyata itu memang gerombolan “mereka”.  Rasanya aku pengin angkat rokku tinggi-tinggi terus ngabur dari situ.  Jangan sampai bulu ketekku makin panjang  gara-gara ketakutan dikenali seseorang. Apalagi memanggilku dengan nama dunia maya.</p>
<p>Aduh. Makananku masih hangat belum disentuh. Cepat-cepat kusisir dengan sendok semua detil lauk pauk lontong sayur itu. Beberapa pasangan butch yang kelihatan lebih gemulai menarik dua kursi plastik menjauh dari sampingku. Mereka ngomongin soal cewek. Alamak! Mengomentari peserta lain yang juga kayak ibutch-ibutch… maksudku bukan ibu-ibu tapi the butchies .</p>
<p>Makin lama di situ aku bisa celeng sempoyongan, beneran nggak nyaman. Karena aku datang dengan anak sulungku yang super cantik, seger buger cingklong modis dan wangi, beberapa butchy muda sebenarnya dari sampai mulai cari muka. Apalagi waktu Dily minta kami menurunkan  kardus air mineral dari mobil ke ruang sekretariat, bolak-balik lalu lalang di depan mereka, sebanyak itu juga mereka menggeliat sambil ujung  tangannya nyaris menyentuh badan kami ketika lewat. Beberapa di antaranya malah menawarkan diri ikut memindahkan kotak berisi air mineral gelas itu… Oh butchy!</p>
<p>Muka sulung yang iseng mulai nggak bisa ditolerir, ia main mata denganku, memegangi tangan, belai-belai dagu, mengusap kepalaku.  Hoi! Payah deh bawa makhluk edan, dia mulai sengaja berdiri merapatkan badannya di punggung. Kemudian mencium pipiku. Sontak  beberapa mata mendelik ke arah kami.</p>
<p>“Capcus yuk, Nak, cepetan makannya…” Mukaku cengengesan.<br />Dasar hidung landak! Sulung bukannya beranjak malah ngambil minuman suplemen dari kulkas dan tepe-tepe jalan manis melenggak-lenggok melewati mereka. Langsung mendatangiku sambil berbisik… “Kapok kamu, Mum… disangkain kita pasangan lesbi, hehehe.”</p>
<p>Mukaku e’ok, mulai ngga nyambung diajak ngomong Dily saat ia mulai menyantap lontong sayur pesanannya. Apalagi sulung mulai grepe-grepe, tangannya di bahu, belai-belai kepala, dahi sampai jemariku. Buat Dily ya ngga masalah wong dia tau sulung anakku. Tampangku yang cakep muda <span style="font-style:italic;">(narsistik!) </span>dan nggak keliatan udah ibu-ibu itu emang sering mengundang “buruk sangka” kalau aku dan sulung pasangan lesbian.</p>
<p>Adegan sulung memeluk dan meraba itu mulai menarik perhatian mereka, haram jaduk deh, mulai kudengar bisik-bisik psst psst dari belakang cuping kuping. Dily makan khusyuk, aku tau di pikirannya dia harus segera registrasi ulang peserta lalu siap-siap koordinasi untuk mulai dengan acara seremonial. Sementara itu kepalaku terasa agak berat, kayak pake konde, takut jatuh, aku mulai agak-agak hati-hati jalan dan jaga penampilan.</p>
<p>“Yuk kita registrasi peserta…”</p>
<p>Dily membawa beberapa berkas, aku berdiri dari kursiku… <span style="font-style:italic;">wink wink </span>satu butchy main mata… <span style="font-style:italic;">blink blink </span>yang berdiri paling belakang juga main mata.  D&#8217;oh satu butchy bertopi malah menatap dengan wajah mupeng… pengin ditaksir. Aku nggak berani lagi lihat kanan-kiri… wush langsung masuk ke ruang sekretariat, jangan sampai diterkam harimau. </p>
<p>Gila! Sulung melenggak-lenggok, tebar pesona. Jalan gemulai menebar senyumnya yang manis itu, tepe-tepe-an dia lebih dahsyat daripada tebaran pesonaku zaman dulu! Dari pintu kuintip mereka… Oh Tuhan mata para starbutch itu!</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2008<br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2008/12/28/oh-starbutch/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blood Type L</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2008/08/30/blood-type-l/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2008/08/30/blood-type-l/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 06:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepoci.wordpress.com/2008/08/30/blood-type-l/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Terkait pertemuanku dengan lesbian Arab beberapa waktu lalu, aku jadi teringat beberapa pertemuan ‘mengagetkan’ dengan lesbian lain di tempat yang tak disangka-sangka. Dalam perjalanan menuju New Jersey, pesawat badan besar EVA Air yang membawaku dari Kuala Lumpur menurunkanku di bandara Tacoma, Seattle. Penerbangan selanjutnya menggunakan pesawat lebih kecil milik maskapai penerbangan American Airlines. Akibatnya aku harus pindah terminal menunggu di gate C5.
Ketika berada di tempat yang indah, biasanya aku kerap memilih menjadi bisu, enggan berbicara dengan siapa pun. Memilih tempat duduk yang agak kosong, menikmati pemandangan yang jarang-jarang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_5cMJbl3JQfg/SLlZRy0t9pI/AAAAAAAAAp0/i70gnYQCJyU/s1600-h/four-woman-standing_%7Eu18403833.jpg"><img style="float:right;cursor:pointer;margin:0 0 10px 10px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5cMJbl3JQfg/SLlZRy0t9pI/AAAAAAAAAp0/i70gnYQCJyU/s200/four-woman-standing_%7Eu18403833.jpg" alt="" border="0" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Terkait pertemuanku dengan lesbian Arab beberapa waktu lalu, aku jadi teringat beberapa pertemuan ‘mengagetkan’ dengan lesbian lain di tempat yang tak disangka-sangka. Dalam perjalanan menuju New Jersey, pesawat badan besar EVA Air yang membawaku dari Kuala Lumpur menurunkanku di bandara Tacoma, Seattle. Penerbangan selanjutnya menggunakan pesawat lebih kecil milik maskapai penerbangan American Airlines. Akibatnya aku harus pindah terminal menunggu di gate C5.</p>
<p>Ketika berada di tempat yang indah, biasanya aku kerap memilih menjadi bisu, enggan berbicara dengan siapa pun. Memilih tempat duduk yang agak kosong, menikmati pemandangan yang jarang-jarang bisa dinikmati, demikian juga ketika transit di bandara Tacoma. Seattle memang sangat istimewa, aku maklum mengapa banyak manusia ingin menetap di sana. Tanahnya yang dipancangi Tuhan Gunung Rainier yang indah itu benar-benar menyihir hati.<br /><span class="fullpost"><br />Sedang asyik memandang Rainier yang puncaknya tertutup salju, tiba-tiba teman di sebelah mengajak mengobrol. Perempuan berwajah Asia, kutebak mungkin hanya berumur sekitar 28 tahun. Ia bertanya menggunakan bahasa Tagalog, namun segera meminta maaf dalam bahasa Inggris ketika melihatku bingung. Kami berdua akhirnya berkenalan kemudian mengobrol mengomentari Rainier.</p>
<p>Baru setengah jam asyik bercerita tiba-tiba saja dengan jujur mengatakan padaku bahwa ia seorang lesbian, dan bertanya apakah aku keberatan dengan pengakuannya. &#8220;Tentu saja, tidaaaak!&#8221; Aku menggelengkan kepala, berusaha tersenyum mengekspresikan ekspresi datar, siapa sih yang keberatan ngobrol dengan lesbian? Hah, kamu lesbian? Waduh! Sebenarnya ketika dia mengucapkan <em>“I am a lesbian”</em>, aku merasa terlempar dari tempat duduk, seperti baru terjungkal dari kursi loncat darurat para pilot ketika pesawatnya yang sedang mengudara mendadak rusak dan mati mesin.</p>
<p>Yang membuat kaget apakah ia bisa menebak aku lesbian sehingga ia berani berterus terang, atau perempuan ini memang begitu ke setiap orang berharap semua perempuan yang diajak bicara moga-moga saja lesbian dan ikut mengaku. Wah… ya enggalah… secara aku sudah memberikan nama asli dan kartu nama, ia tahu tempat aku bekerja, dan ia tahu siapa yang akan kutemui di New Jersey nanti.</p>
<p>Mungkin memang Tuhan Mahasayang, diberinya aku teman mengobrol yang menyenangkan. Tapi kenapa lesbian? Aku pun lupa dengan Gunung Rainier, padahal aku sudah ingin membuat sketsa di buku catatan perjalanan. Kemunculan perempuan itu membubarkan semua program transit tersebut.</p>
<p>Sebenarnya sejak awal mengobrol aku tak memiliki prasangka sama sekali apakah ia seorang Lesbian, ia tidak terlihat butchy atau andro, gayanya cukup kasual, ya bolehlah dimasukkan dalam daftar ciri lesbian. Tapi di tempat itu juga ada belasan perempuan berpakaian tidak beda dengan kami berdua, apakah mereka juga semua lesbian? Bulu kudukku tiba-tiba bergidik, memerhatikan mereka semua satu per satu dengan detail.</p>
<p>Melihat aku yang sedikit bingung, ia langsung bertanya lagi apa aku keberatan karena ia mengaku lesbian? Hohoho ya engga, kali! Jujur saja aku merasa takjub bercampur senang. Tapi tak mungkin kukatakan padanya terus terang. Aku hanya menjawab kalau di negaraku Indonesia tercinta aku juga memiliki banyak teman lesbian, jadi pengakuannya tak mengagetkanku… Biasa aja! <em>(Blah! Biasa aja??? Hahaha ya iya jelas saja teman lesbianku banyak, blahhh!)</em></p>
<p>Berlagak <em>straight </em>aku menghujaninya beragam pertanyaan sambil pasang wajah naif dan mimik bego seperti tak mengenal makhluk apa yang bernama lesbian. Bagaimana kehidupan di negaranya, seperti apa reaksi manusia di sana mengetahui dia lesbian. Sebenarnya sepanjang ia menjelaskan beragam hal terkait dunia L aku sudah dua kali ke toilet, yang pertama aku shock mengecek wajah apakah ada tulisan L di jidat. Yang kedua beneran pipis, sambil menguatkan diri tidak akan mengaku. Titik!</p>
<p>Ia menuliskan nomor telpon dan e-mail, memastikan bahwa ia perempuan baik-baik dengan menunjukkan padaku kartu tanda mahasiswa yang dilengkapi dengan kartu keanggotaan perpustakaan Library of Congress. Hmm lesbian terpelajar, oh lala…</p>
<p>Sekitar 10 tahun lalu pengalaman yang sama juga terjadi di kantor pos di kotaku, magnet itu berjalan tanpa sadar seperti ada kedekatan di mana kaki memang harus antri di depan konternya. Padahal ada sekitar sepuluh loket dan dua konter melayani jasa pengiriman pos luar negeri. Tapi aku selalu mengarahkan diri ke tempatnya. Setiap kali ke sana, setiap itu juga kami mengobrol lama.</p>
<p>Entah mengapa pengalaman bertemu andro charming di kantor pos itu suatu kali menjadi bahan percakapan SMS ke teman lesbian di Jakarta. Aku bercerita ada andro cakep di balik jeruji pos. Dengan rasa kaget teman ini lagsung menelpon dan bertanya ciri-ciri dan lokasi kantor pos tersebut. Olala Allahu! Si cewek pegawai Pos benar-benar &#8216;belok&#8217;, andro tersebut ternyata gebetannya. Kami akhirnya berteman baik, namun sayang ia hijrah ke Jakarta, karena teman lesbian tadi memiliki pengaruh cukup kuat memindahkan seorang pegawai negeri ke kantor pemerintahan mana saja yang ia mau.</p>
<p>Merunut pertemuan-pertemuan tak sengaja dengan para lesbian ini, sahabatku mengatakan mungkin aku memang sudah digariskan-Nya menjadi lesbian. Bersentuhan dengan hal-hal yang tak jauh dari dunia tersebut, dan tak bisa lagi menghindarkan diri dari semua hal berbau L.</p>
<p>“Kamu memiliki magnet itu sis, jadi banyak les yang langsung tanpa sadar mendatangi.”</p>
<p>Aku teringat kembali penerbanganku menuju New Jersey, Kantor Pos, Workshop Photography, perekrutan Scholarship, pembuatan iklan produk mi instan bersama Garin Nugroho, di dalam mesjid Nabawi Madinah ketika wajahku dibelai-belai sayang perempuan, dalam penerbangan menuju Jakarta, di lapangan golf, liburan di Andaman Sea, ah banyak lagi yang kecil-kecil. Lama-lama aku berpikir mungkin jenis darahku bukan A, B, AB atau O… tapi bergolongan darah L.</p>
<p><em>Yes… I am purely lesbian!</em></p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2008<br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2008/08/30/blood-type-l/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siluet Celana Dalam</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2008/05/21/siluet-celana-dalam/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2008/05/21/siluet-celana-dalam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 07:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepoci.wordpress.com/2008/05/21/siluet-celana-dalam/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Mata tertuju pada bayangan dari balik jendela kamar milik seorang teman. Di balik vitrage putih bercorak daun, tepat di tempat cahaya mentari datang, sebuah siluet hitam berbentuk segitiga yang biasa dipakai menutupi selangkangan tergantung menantang. Setiap kali menumpang solat di tempatnya,  ia dengan segera memindahkan barang keramat tersebut ke tempat lain agar tak merusak konsentrasi ibadah.
“Maaf ya, aku memang senang menjemur pakaian dalam di jendela.”
“Ngga risi kalau tiba-tiba orang ngeliat ada siluet celana dalam dari luar?&#8221;“Kan ngga apa-apa biar tetangga pada tau yang berada di rumah ini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_fyhrxYN6pZo/SDPYv63J3bI/AAAAAAAABL8/iwy6PbxpaLc/s1600-h/underwear2.jpg"><img style="float:right;cursor:pointer;margin:0 0 10px 10px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fyhrxYN6pZo/SDPYv63J3bI/AAAAAAAABL8/iwy6PbxpaLc/s200/underwear2.jpg" alt="" border="0" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Mata tertuju pada bayangan dari balik jendela kamar milik seorang teman. Di balik <span style="font-style:italic;">vitrage</span> putih bercorak daun, tepat di tempat cahaya mentari datang, sebuah siluet hitam berbentuk segitiga yang biasa dipakai menutupi selangkangan tergantung menantang. Setiap kali menumpang solat di tempatnya,  ia dengan segera memindahkan barang keramat tersebut ke tempat lain agar tak merusak konsentrasi ibadah.</p>
<p>“Maaf ya, aku memang senang menjemur pakaian dalam di jendela.”</p>
<p>“Ngga risi kalau tiba-tiba orang ngeliat ada siluet celana dalam dari luar?&#8221;<br /><span class="fullpost"><br />“Kan ngga apa-apa biar tetangga pada tau yang berada di rumah ini perempuan sexy penyuka g-string style.”  Ia tersenyum sambil mengibas-ngibaskan benda segitiga itu di depanku.</p>
<p>“Alahai, jangan sampai kamu diperkosa gara-gara mempertontonkan celana dalam aduhai itu,” kataku dengan wajah mengejek, seraya bersiap-siap solat.</p>
<p>Perempuan <span style="font-style:italic;">straight </span>lajang yang mulai berkarier di usia 25 ini tampak  tak peduli dengan komentar siapa pun melihat jemuran benda penutup organ intim tersebut berangin-angin mengering di sana. Sama seperti dirinya yang tak peduli ketika sesiapa pun mengomentari mengapa dirinya masih saja sendiri, meskipun terkadang ia tak tahan dan ngedumel betapa kesal jika ada om atau tantenya yang mulai datang ke rumah mengenal-ngenalkan pria untuk dijadikan calon suami.</p>
<p>Tak ubahnya seperti siluet celana dalam tadi. Siapa pun orang iseng yang melihat benda segitiga itu dijemur di sana akan tergelitik bertanya dalam hati,” Kenapa juga celana dalam digantung di situ?” “Kenapa sih belum juga menikah di usia begitu?”</p>
<p>Pandangan umum sosial yang mengharuskan kehidupan lajang diakhiri ke jenjang pernikahan sepertinya tak boleh ada penolakan, mau tak mau harus dijalani. Menjadi seorang istri dianggap sebagai pil mujarab menghilangkan cap jelek perawan tua tak laku. Meski terbukti tak punya efek buruk, namun bagi para orangtua melihat anak perawannya belum juga menikah seperti duri dalam daging, kecil tak membunuh tapi sangat mengganggu.</p>
<p>Lalu bagaimana jika seorang lajang lesbian juga mengalami hal yang sama? Pernikahan mungkin hanya akan menyelamatkannya dari satu hal&#8230;&#8221;Oh&#8230;ternyata dia tidak lesbian kok&#8230;, buktinya dia menikah dengan pria.&#8221;  Buntutnya banyak dari para lesbian menikah ini pada akhirnya terjebak dalam pernikahan tersebut, memilih dua kehidupan yang berbeda, atau bagi yang sanggup memilih bercerai kemudian mencari pasangan  perempuan idaman. Toh sepertinya berstatus sebagai janda di keluarga dan masyarakat kita lebih terhormat daripada menjadi perawan tua.</p>
<p>Ada yang mengkhawatiran perempuan bujangan tidak mampu berbakti pada orang tua, benarkah? Bukannya dengan tak punya beban lain seseorang akan bisa lebih berkosentrasi merawat dan membahagiakan orangtua? Yang terkadang aneh lagi ada julukan si lajang tua di dalam sebuah pertemuan keluarga, hal ini juga merambah ke suasana kantor, ada yang mulai mengira-ngira negatif kenapa belum juga menikah di usia demikian.</p>
<p>Terkadang berkenalan dengan orang baru pun terasa sungkan melakukan percakapan dalam, apalagi tanya-jawab soal umur  gaya Indonesia, kemudian merembet ke pertanyaan sudah menikah? ” Aku butuh pria bervagina dan berpayudara lo!”  Mungkin suatu kali para lesbian lajang perlu berkonyol-konyolan ngomong begitu. Lalu menikmati muka teman-teman kantor yang memerah dengan keterusterangan tersebut.</p>
<p>Perempuan lajang  lesbian usia antara 25-40 tahun, mungkin memang pantas gelisah dengan keinginan hati umum. Desakan masyarakat yang normatif bahwa perempuan harus menikah dengan seorang pria, berkeluarga, punya anak, baru menjalani yang lain-lain.  Tapi rasanya semua ini tidak benar dan perlu dicarikan solusi, sehingga tidak ada prasangka negatif tentang sosok perempuan single. Pernikahan bukan  ajang eksperimen, mencoba-coba kemudian meninggalkan semuanya dengan gampang. Akan banyak hati yang tersakiti, orangtua, mertua, kakak, adik, ipar malahan mungkin anak akan menjadi  yang paling terkorbankan.</p>
<p>Lalu jika memilih sendiri, seberapa kuatkah perempuan lajang menerima dengan arif ucapan-ucapan ini?</p>
<p>“Pantas dia sukses dalam karier, nggak ada yang diurus selain dirinya…” Diucapkan dengan nada iri dan mencibir.</p>
<p>“Si  ibu itu pinter, kaya cantik dan sukses, tapi sayang ngga nikah?” Huh…</p>
<p>“Ibu itu perawan tua, kasihan ya?” Lho…</p>
<p>Sekali lagi, cara pandang mata umum melihat perempuan karier melajang ini seperti ada sesuatu yang merisaukan. Namun tak banyak yang bisa dilakukan, seperti  memandang siluet celana dalam yang sedang dijemur di balik kusen jendela tadi,  terlalu pribadi untuk dicampuri, terlalu malu untuk dibahas, dan agak sedikit tabu jika harus memberikan komentar, “ Kenapa sih celana dalam itu digantung jemur di jendela?” “Mengapa sih sudah mapan dan seumuran begitu belum juga menikah?”</p>
<p>Barangkali mereka tak harus melihat siluet dari luar jendela, coba izinkan masuk dan melihat lebih dekat. Jika berani dan tak merasa tabu coba tunjukkan dengan jelas bahwa celana dalam tersebut sebenarnya tidak berwarna hitam, yang sedang dijemur itu penuh warna-warni dengan desain perancang terkenal, bukan bermerk Victoria Secret, bukan Benetton, juga bukan Women&#8217;s Secret dengan model <span style="font-style:italic;">cheekie, v-string, </span>bikini, ataupun <span style="font-style:italic;">thongs, </span>tapi <span style="font-style:italic;">underwear </span>potongan maskulin bermerek Linea Uomo.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2008<br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2008/05/21/siluet-celana-dalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

