Home » Archive

Articles in the Telezkop Category

Telezkop »

[13 Jun 2013 | 7 Comments | 866 views]
te.Lez.kop: Lesbian dalam Tempurung

Oleh: Lakhsmi
Mengamati komen-komen yang bertebaran dalam setiap artikel-artikelku di SepociKopi (khususnya artikel terakhir:  ”Lesbian Lebay Versus Lesbian Kritis“  aku mengingat tulisan Antonio Gramsci dalam karyanya yang hebat: Prison Notebooks. Buku ini adalah catatan yang ditulis oleh Gramsci—seorang filsuf dan penganut Marxisme—ketika dipenjara oleh rezim fasis Italia di tahun 1926. Catatan-catatannya ditulis secara acak sebanyak tiga ribu halaman dengan berbagai tema, khususnya pemikiran-pemikiran tentang kritik ekonomi, kritik materialisme, sejarah, intelektual dan pendidikan.  

Telezkop »

[6 Jun 2013 | 6 Comments | 546 views]
te.Lez.kop: State of Fear

Oleh: Alex

We’re living in a state of fear, demikian kata sahabatku suatu hari. Perkataannya membuatku tercenung dan membuatku berpikir lama setelah kami membahas soal ketakutan ini. Rasa takut adalah bagian dari perasaan kita sebagai manusia. Tapi sebagai lesbian, kita memiliki ketakutan ekstra karena orientasi seksual kita yang minoritas. Takut ketahuan lesbian menjadi makanan kita sehari-hari.
Pada masa ini, barang siapa yang punya uang dan massa, dialah yang punya kuasa menyebarkan teror dan ketakutan. Coba kita lihat sekeliling kita. Mereka yang punya massa banyak bisa bertingkah semena-mena dan menakut-nakuti mereka yang …

Telezkop »

[30 May 2013 | 27 Comments | 1,439 views]
te.Lez.kop: Lesbian Lebay Versus Lesbian Kritis

Oleh: Lakhsmi
Di sekolah, anak-anak yang pandai menghafal tampaknya menjadi anak-anak yang selalu dianggap pintar. Anak-anak ini tumbuh, menjadi besar dan berubah. Sebagian menjadi lesbian, sebagian lagi menjadi kaum straight. Yang tak berubah hanya satu: kenyataan bahwa sedikit sekali kaum cendekia dewasa yang tak bisa membedakan arti “pintar” yang sesungguhnya.

Telezkop »

[23 May 2013 | 13 Comments | 651 views]
te.Lez.kop: Give Up the Ghost

Oleh: Alex
Kita memiliki beban masa lalu, hantu-hantu yang mengganggu hidup kita. Hantu di sini bukan berarti harfiah, tapi suatu kiasan. Give up the ghost bisa berarti eufemisme dari kematian atau berhenti berusaha melakukan sesuatu karena kita tahu kita takkan berhasil. Di era motivator menjual kesuksesan ini, kita seakan diiming-imingi janji kesuksesan dan jika kita terus berusaha, kita akan berhasil. Padahal menurut saya, itu lebih banyak jualan kecapnya dibanding kebenarannya.  Sering kali harapan akan keberhasilan itu bisa membuat kita jadi gila, dan seharusnya kita belajar untuk tahu kapan saatnya harus berhenti.
Kegigihan …

Telezkop »

[16 May 2013 | 14 Comments | 964 views]
te.Lez.Kop: Still I Rise

Oleh: Lahksmi
Kau tulis sejarah tentangku
Dengan segala jejak dusta penuh kepalsuan
Kau tolak aku ke lumpur
Tapi bagai debu, aku bangkit.
 
Apa semangatku mengganggumu?
Mengapa kau menghasutku dengan wajah suram?
Sebab aku berjalan bagai pemilik tambang minyak
Yang mengalir di ruang tamu rumahku
Puisi di atas adalah penggal pertama dari puisi Still I Raise oleh Maya Angelou. Puisi yang menantang bagi orang-orang yang menentangnya. Aku bergetar membaca puisi ini. Puisi yang relevan dengan kehidupan para lesbian.
Orientasi seksual sering kali menjadi hal yang tidak ingin dibicarakan, sehingga bagi beberapa lesbian, mereka menganggapnya suatu rahasia besar. Sehingga lahirlah para intimidator …

Telezkop »

[9 May 2013 | 13 Comments | 733 views]
te.Lez.kop: Broke Bitch Syndrome

Oleh: Alex
Ketika kita punya pacar, semua terasa indah. Ketika kita punya pacar, kita ingin memberikan segalanya pada sang kekasih. Tapi di balik pelangi indahnya cinta, judul tulisan ini bisa terjadi pada kita semua. Apa yang dimaksud dengan Broke Bitch Syndrome? Ini adalah semacam sindrom atau kondisi ketika kita bokek berat karena harus membiayai kebutuhan pasangan kita. Kondisi ini sering terjadi pada pasangan lesbian.
Lupakan semua kesenangan yang bisa kita nikmati. Saat punya kekasih, kita ingin memberikan yang terbaik untuknya.  Jadi kita lupakan dulu keinginan membeli smartphone terbaru saat kekasih perlu membeli …

Humaniora, Telezkop »

[2 May 2013 | 16 Comments | 1,124 views]
te.Lez.kop: Kamu Ingin Bunuh Diri?

Oleh: Lakhsmi
Kalau kamu ingin bunuh diri, berhentilah sejenak dan bacalah tulisanku. Kalau kamu tahu ada temanmu (atau mantanmu) yang ingin bunuh diri, ajaklah dia membaca tulisanku. Kalau kamu tidak tahu apa-apa tentang bunuh diri, bacalah tulisanku juga agar kamu mendapat informasi dan pencerahan, mungkin kamu membutuhkannya di masa depan. Membaca tulisanku hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, aku janji.

Telezkop »

[25 Apr 2013 | 9 Comments | 1,078 views]
te.Lez.kop: Ketergantungan Cinta

Oleh: Alex
Saat jatuh cinta, kita rasanya ingin menempatkan orang yang kita jatuhi cinta di atas segalanya. Betul, nggak? Bagi sebagian orang, cinta berarti memberikan segala yang kita miliki sampai hanya rasa sakit yang tersisa. Cinta seperti itu berarti kita mengalami Ketergantungan Cinta. Cinta yang berarti di atas segalanya ingin tetap bersama apa pun yang terjadi bagaimanapun caranya, bahkan sampai mati sekalipun seperti Romeo dan Juliet.

Partnership, Telezkop »

[18 Apr 2013 | 20 Comments | 1,056 views]
te.Lez.kop: Komplotan Mantan

Oleh: Lakhsmi
Pacarku punya mantan. Tentu saja, semua orang memiliki mantan, apalagi lesbian. Mantannya pacarku senang mencari-cari pacarku untuk mengobrol, apalagi jika dia sedang galau. Dulu, pacarku punya mantan yang membenci mantan-mantan pacarku. Pacarku dilarang berhubungan sama sekali; dilarang berbicara bahkan menyapa mantan-mantannya; dilarang bertemu. Apa yang terjadi selanjutnya?

Telezkop »

[11 Apr 2013 | 4 Comments | 737 views]
te.Lez.kop: Yang (Tak) Tercerahkan

Oleh: Alex
Pernahkah kamu bertemu heteroseksual yang memiliki sudut pandang dan pendapat yang kita anggap konyol atau bahkan bodoh terhadap kaum LGBT? Pemikiran yang menurut kita sudah ketinggalan zaman dan salah total. Atau bahkan secara total menyatakan kebenciannya pada kaum LGBT. Kita, sebagai lesbian yang merasa sudah pintar, dengan mudah bisa menilai dan menghakimi pendapat tersebut bahkan kalau perlu beramai-ramai mem-bully-nya di media sosial.