Articles in the Relationship Category
Friendship, Humaniora, Opini, Partnership, Relationship, Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Yasmin
“‘Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.
Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya. Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.
Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan …
Partnership, Relationship, Sepocikopiana »
Oleh: Cleo Andromeda
Apakah Anda mempunyai fobia terhadap sesuatu? Pasti setiap orang mempunyai ketakutannya masing-masing, entah pada serangga, ruangan gelap, atau mungkin pada makanan tertentu. Secara umum, fobia adalah rasa ketakutan yang kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk menjauhi sesuatu yang ditakuti itu. Orang menjadi fobia terhadap sesuatu karena merasa sesuatu ini akan menyakitinya atau memiliki trauma tersendiri terhadap sesuatu ini.
Bagaimana dengan fobia terhadap komitmen? Pernahkah punya pengalaman berurusan dengan orang seperti ini? Atau mungkin Anda sendiri adalah orang dengan fobia terhadap komitmen?
Menurut Cambridge …
Partnership, Relationship, Sepocikopiana »
Oleh: Bening
“Dik, sabun kita habiiss…” teriakan partner terdengar melengking dari kamar mandi.
Aku yang sudah selesai mandi duluan dan sedang mengenakan pakaian, menunda menyorongkan kaus yang sudah kukeluarkan dari lemari lalu menghampiri pintu kamar mandi.
“Iya, maaf ya… pakai yang ada dulu ya, Say. Soalnya kemarin sudah ke Carefour tapi sabun kayak sabun kita lagi kosong. Ada sih merek yang sama, tapi aromanya lain. Mau coba?”
Dengan kepala memutih oleh busa shampo, partner menggeleng kuat-kuat, tanpa mengucap sepatah kata pun.
Sebut saja namanya Sabun Charming (untuk menghindari tulisan ini menjadi promosi gratis produk tersebut …
Relationship, Sepocikopiana »
Oleh: Krisha
Siapakah diantara kita yang memiliki sahabat? Saya yakin banyak yang mengacungkan jari telunjuk ke udara, sebagaimana halnya saya sendiri. Namun berapa banyak yang memiliki sahabat yang mengetahui identitas seksualmu yang sesungguhnya? Jumlah tangan yang teracung pastilah menurun drastis, tapi lihat tanganku masih teracung.
Relationship, Sepocikopiana »
Oleh: Ade Rain
Ini seperti salat hari raya di tanah lapang. Untung masih gelap. Halaman mesjid masih sejuk. Salat seperti ini alas kaki harus ditaruh di dekat tempat kita duduk. Untung saja aku membawa plastik. Sandal kumasukkan ke dalamnya. Di sampingku seorang ibu Arab, memberi kode apakah aku masih memiliki kantong lagi.
Relationship, Sepocikopiana »
Oleh: Quintus Dias
Malam ini aku teringat Siska. Dia seorang teman lama masa sekolah yang tiba-tiba mengirim sms. Dia menanyakan tentang janji bertemu kembali yang pernah aku sampaikan sekitar tiga bulan yang lalu.
“Aku kira kamu sudah pindah ke Kalimantan”. Bunyi sms balasanku.
“Belum. Akhir bulan ini. Di sini urusan masih ribet.”
Siska balik membalas SMS-ku. “Terus, tokonya siapa yang urus?”
Partnership, Relationship, Sepocikopiana »
Oleh: Frizzy Jo
“Sejauh apa seseorang dapat bertindak atas nama cinta?”
Penggalan kalimat di atas aku temukan saat membaca The Choice, novel karya Nicholas Spark. Aku rasa jawabannya mudah: seseorang bisa bertindak di luar batas kewajaran jika sudah berurusan dengan yang namanya cinta. Ada yang rela mengubah kebiasaannya demi mendapat simpati dari orang yang ia cintai, ada yang rela menjadi “tukang ojek” dadakan. Memulai pagi dengan mengantar sang kekasih ke tempat kerja. Sore, menjemput kekasihnya ke kantor lalu mengantarnya ke kampus. Malam, menjemput ke kampus lalu mengantarnya pulang ke rumah. Setiap hari menempuh …
Relationship, Sepocikopiana »
Oleh: Chossy Tan
Untuk segala sesuatu kita memang harus belajar segalanya melalui proses. Jangan percaya dengan hal yang instan karena itu hanya tipuan atau imitasi yang tidak akan tahan lama. Kalau mau pandai menulis, perlu proses belajar menulis yang lama sehingga kita benar-benar jadi seorang penulis. Kalau mau bisa bermain piano, perlu belajar piano dengan sungguh-sungguh sehingga kita benar-benar bisa memainkan piano. Sama halnya jika kita ingin mengenal seseorang maka kita mulai belajar untuk mengenalnya sehingga bisa benar–benar berteman dengannya.
Relationship, Sepocikopiana »
Oleh: Sarah
Angkat tangan yang suka nongkrong di mal bareng teman–teman lesbiannya? Satu, dua, tiga,… seratus. Wah, banyak. Angkat tangan yang nongkrongnya pake acara ngerokok sambil tertawa keras-keras? Wah, banyak juga. Satu lagi, angkat tangan yang nongkrongnya pake acara ngerokok, tertawa keras-keras, terus peluk-pelukan sama pacarnya? Wuihhh, tetep banyak. Eh, ada yang berbisik, pake cium-ciuman juga? Hmmm…





