Articles in the Humaniora Category
Humaniora, Perempuan »
Oleh: Aderain
Ratusan mata memenuhi panggung, barisan perempuan cantik melewati stage satu per satu, iring-iringan musik berirama gembira melengkapi atmosfir panggung catwalk. Aku masih bersama Jemi ketika para model mengenakan rancangannya melangkah bersilang se-elegan lenggok kucing.
Belakang panggung heboh dengan aneka instruksi, secepat kilat model berganti salin, menanggalkan satu per satu pakaian. Seorang penata membantu mereka merapikan setiap rancangan di badan, memastikan semuanya pas dan lengkap. Bolak-balik Jemi terlihat tegang ketika beberapa model masih wira wiri mencari asesori.
“Please, pada hitungan ke -20, Ajeng masuk duluan! Sofie belum siap sama sekali!”“Tujuh enam …
Perempuan, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Negara besar ini patut berbesar hati, pasalnya menurut data terbaru 2008 masyarakat yang mulai bisa mengenal huruf terus bertambah. Berkurangnya indeks buta huruf ini tentu saja berkah, dengan demikian diharapkan angka kebodohan di negara tercinta ini akan ikut turun. Dalam Laporan United Nation Development Programm, Indonesia menempati peringkat 96 dalam hal tingkat kemelekhurufan warganya yang mencapai 87,9% dari total jumlah penduduk. Peringkat yang setara dengan Suriname, Bahrain dan Malta ini di bawah peringkat sebagian besar negara Asia Tenggara. Bisa disebutkan Brunei di peringkat 70 (92,7%), Filipina dan …
Humaniora, Partnership, Relationship »
Oleh: Bening
“Jadi Ning langsung ke kantor Aa? Atau gimana?” tanyaku kebingungan. Begitulah Aa, ia kerap meminta sesuatu hal tanpa ada kejelasan bagaimana teknis pelaksanaannya. Sementara buatku tidak cukup hanya petunjuk “Dik, nanti ke kantorku, ya!” Bahkan kadang, buat Aa tidak penting menjelaskan ada keperluan apa aku diminta datang. Pokoknya, datang saja dulu.
“Pulang aja dulu, Dik. Acaranya usai jam kantor, kok. Adik ganti baju kerja dengan baju santai saja”
“Heh, acara?!” tukasku kaget. Seingatku tidak ada rencana apa-apa dengan Aa.
“Karaoke”“Hah, Ning ikut?! Itu kan acara kantor Aa?!” suaraku melengking saking bingungnya.
“Udaaah, ikut …
Humaniora, Opini, Renungan, Tentang Cinta »
Oleh: De Ni
Cemburu? Dulu aku bingung mengapa orang bisa cemburu membabi buta pada pasangannya. Dulu bagiku cemburu adalah penjara bagi sebuah kebebasan. Dua tahun hidup dengan Ranti dan dicemburui habis-habisan mesti tanpa ikatan cinta, cukup membuat aku mual pada kata cemburu. Jadi, aku bersumpah pada diriku, aku tidak akan pernah membiarkan kata cemburu masuk dalam kamus percintaan.Halah, ternyata semua omong kosong dan bualan belaka. Aku mengutuki sumpah yang aku ikrarkan pada diriku sendiri. Aku berteriak pada jiwaku yang bodoh itu untuk tidak melarangku berada dalam cemburu. Sebab hanya orang bodoh …
Humaniora, Tentang Cinta »
Oleh: Frizzy Jo
Boss, lagi ngapain? SMS dari Dee.
Jariku lincah mengetik balasan SMS. Nih baru sampe parkir SunMall. Kenapa?
Ngapain ke SunMall? Mending temenin gue yuk. Besuk temen melahirkan di RS Pondok Indah.
Lama aku terdiam, berpikir keras. Lalu kubalas pesan dari Dee. Gue mau makan-makan sekeluarga. Ultah adik gue. Sorean baru bisa. Is it okay?
Okay! Gue samperin ya, sampe gue telp lo lagi.
Habis makan gue nyalon sebentar ya. Rambut gue dah liar tak terkendali, hehehe. Nanti gue aja yang telp lo. See ya.Kumasukkan hape ke dalam tas. Setelah memastikan motorku terkunci dengan …
God, Humaniora, Spiritualisme, Twilight Zone »
Oleh: Lakhsmi…mungkin jarum jam bosan bergerak ke arah yang sama terus menerus setiap tahun sehingga suatu hari mereka mendadak memutuskan bergerak ke arah sebaliknya… (*)
Kadang aku ingin bus yang kutumpangi bergerak mundur, pulang ke rumah, membayangkan meninggalkan senja yang sedang kusongsong menjadi semakin menjauh, menuju subuh yang berada di belakang punggungku, mencari-cari wajah seseorang dari masa lampau ketika bus yang kutumpangi melewati halte-halte sangkala lalu. Ada begitu banyak halte yang kulewati sepanjang perjalananku, halte yang mempunyai kisah yang berbeda di tiap-tiapnya, beberapa halte terlihat sangat familiar sebab pernah kutiduri emperannya, …
Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Kebencian, sakit hati, jengkel, kesal , tersinggung, dan banyak lagi perasaan-perasaan negatif manusia acap kali meninggalkan efek yang dalam. Tak jarang hal itu menyisakan penderitaan dashyat. Jika berhubungan dengan sakit hati antar negara, peperangan pun tak terelakkan. Dalam konflik hubungan antar suku agama, dan ras, ketersinggungan ini berarti perang antar kampung. Bahkan, aksi tawuran antar kelompok massa sering kali juga dipicu hal-hal kecil.
Sakit hati memang susah dicarikan obatnya. Salah satu cara untuk menyelesaikan hal-hal semacam ini hanyalah dengan dialog dan mengikhlaskan kejadian itu dari dalam hati. Ahli …
Humaniora, Personal Life, Your Story »
Oleh: Bibiy
Sekarang aku tahu apa bedanya antara berhubungan dengan lelaki dan perempuan. Jawabannya sederhana. I can be the real me whenever I am with women. I always become someone else when I am with men.
Mengatakannya memang terkesan mudah. Asal goblek, kalau kata ibu seorang teman ketika mengomentari orang yang suka asal ngomong. Tapi aku tidak asal goblek karena begitulah yang aku rasakan saat berhubungan dengan laki-laki dan perempuan. Ini terjadi tidak hanya sekali, tapi berulang kali.Misalnya untuk urusan mengungkapkan perasaan. Aku begitu sulit untuk bermanja-manja dengan pasangan lelakiku. Seolah ada …
Humaniora, Ibu, Personal Life, Your Story »
Oleh: Justine Ht
Aku tersadar dari lamunanku saat pramugari mengumumkan sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandar udara kotaku. Kota di mana kuhabiskan lebih dari separuh usiaku. Kutebar pandangan melalui kaca jendela, kotaku terlihat sangat kecil. Meskipun di kota ini kutemukan cintaku tapi aku tidak pernah mencintainya. Kota mati. Damai tapi gersang. Kota dengan budaya patriarki yang sangat mengakar. Orang hidup menurut tatanan yang ada, membiarkan jiwa terkubur tanpa impian.
Kulambaikan tanganku pada papa dan mamaku yang telah menunggu di ruang kedatangan. Ah… aku sangat merindukan mereka. Untuk mereka aku kembali ke …
God, Humaniora, Spiritualisme, Tentang Cinta »
Oleh: Alex
Di saat menjelang lebaran begini, saya sering terkenang pada Umi. Buat saya, Umi ibarat ibu kedua. Dia adalah perempuan tua tetangga sebelah rumah, janda yang usianya lebih tua sedikit daripada usia ibu saya. Sejak saya jadi anak yatim ketika berusia lima tahun, ibu saya harus bekerja dari pagi hingga sore untuk menghidupi lima anaknya. Di rumah ada masanya ketika kami tidak punya televisi, sehingga akhirnya saya lebih sering main ke rumah Umi pada siang hari sepulang sekolah.
Umi memiliki usaha katering makanan Arab-Timur Tengah. Saya menikmati menonton kesibukan memasak diiringi …





