Articles in the Humaniora Category
Humaniora, Personal Life »
Oleh: Arie Gere
“Dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu!”
Dulu, waktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Sailormoon adalah film kartun favoritku. Semua tokoh-tokohnya yang cantik dan lucu membuat posisi duduk tidak mau beranjak dari depan TV. Selain Usagi (tokoh utama Sailormoon), tokoh yang sampai sekarang tetap menjadi favoritku adalah, Haruka Tenoh (Sailor Uranus) dan Michiru Kaioh (Sailor Neptunus). Bukan, aku bukan maniak tokoh-tokoh di dalam manga ataupun kartun-kartun lainnya. Aku hanya salah seorang penggemar berat Haruka. Berat sekali.Aku pernah kecewa dengan penayangan Sailormoon di salah satu televisi swasta yang tidak …
Humaniora »
Oleh: Bening
“Say, sekarang jam berapa?” Aa mengerang menarik badannya hingga berbunyi gemeletak. Kuraih HP yang kuletakkan di bawah bantal.
“Wah, udah setengah delapan A…!” pekikku. Aku langsung bangkit, menarik tirai yang menutupi jendela kaca yang lebarnya hampir selebar kamar yang kami tempati. Sayang sekali jika sampai melewatkan pemandangan pagi.
Begitu tirai sudah merapat dan terkumpul di kedua ujungnya, cahaya terang langsung menyusup ke dalam kamar. Sebenarnya, tidak seterang yang kuharapkan. Kugeser pintu kaca ke arah kiri, memberi jalan masuk bagi udara pagi memenuhi kamar. Aroma pantai yang khas, bercampur dengan aroma manis …
Humaniora, Tentang Cinta »
Oleh: Robyn
Ia perempuan yang bermata indah. Aku selalu menjadi makhluk ahistoris dan jatuh cinta ribuan kali setiap kali menatapnya. Tak bermasa lalu dan tak bermasa depan. Ia adalah candu yang membuatku lebur dalam dunia warna warni lollipop semanis Bailey’s.
Momen pertama kami bertemu mirip salah satu adegan film Titanic yang dimampatkan jadi sepersekian detik. Ia seperti Kate Winslet yang berjalan menuruni tangga sementara aku adalah si Leonardo yang terpesona memandangnya.
Walau bukan di ballroom pesta dan waktunya tak cukup panjang untuk membuat lagu Celine Dion mengalun, pertemuan ini menjadi cikal bakal kisah …
Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Naiknya harga bahan bakar minyak mungkin saja tak berimbas langsung bagi para lesbian mapan. Paling-paling hanya mengurangi jatah menyimpan, atau menghentikan hobi tak perlu, kenaikan ini takkan mempengaruhi perekonomiannya sama sekali. Bagi para perempuan karier, pengusaha sukses, kenaikan ini mungkin terasa ketika membayar gaji staf atau pegawai, di saat mereka menuntut penyetaraan penghasilan setelah semua sektor barang dan jasa naik, begitu pun hal ini tak berpengaruh banyak pada dirinya.Secara logika kenaikan harga bahan bakar minyak membuat seluruh sektor kehidupan mengalami kenaikan biaya yang sama besar dengan kenaikan harga …
Friendship, Humaniora »
Oleh: Lakhsmi
Ingat pepatah yang mengatakan bahwa pena lebih ampuh daripada pedang dan gagasan dapat mengubah dunia? Bagiku dan bagi banyak perempuan lesbian, semuanya berawal dari kegelisahan, sedikit angan, dan tekad. Mengumpulkan dan memajang ratusan kisah blog yang menyentuh hati tentang dunia lesbian membutuhkan puluhan purnama dan ratusan gerak angin. Cerita-cerita di sini bukanlah cerita baru, bukan hal-hal yang sempurna tentang hidup. Kebanyakan kisah itu adalah kisah pengulangan, ditambah dengan rincian unik dari jutaan kombinasi tentang petualangan hidup yang berbeda, maka jadilah sebingkai narasi yang istimewa, segar, dan asli.
Itulah anugrah yang …
Humaniora, Perempuan »
Oleh: Fredric
Dulu pekerjaan saya pernah membuat saya terpaksa harus mengenakan pakaian yang bercirikan sangat “wanita”; rok, dengan setelan yang warnanya senada, dan sepatu tertutup. Kebebasan saya dimulai saat waktu menunjukkan pukul lima. Teng! Buru-buru saya menyelesaikan pekerjaan saya dan berjalan cepat ke toilet kantor untuk berganti baju seragam yang rasanya membuat gatal.
Sekarang saya tidak perlu lagi terpaksa mengenakan seragam itu. Sehari-hari, saya mengenakan kaus dan jins atau kemeja dengan celana panjang. Saya menyukai gaya fashion yang maskulin. Walaupun saya berusaha keras untuk memilih baju di bagian perempuan, tapi saya selalu …
Humaniora, Tentang Cinta »
Oleh Cassey
Senja merayap turun di langit Jakarta. Sinarnya lelah, langkahnya nelangsa. Kusibak partisi dan mengamati deretan mobil yang lalu lalang di jalan Sudirman. Seakan tak pernah lelah, seakan tidak pernah kehabisan bensin walau harga BBM sudah membubung tinggi.
Di seberang sana, gedung tinggi hitam itu selalu mengingatkan aku padamu. Dua tahun kita hanya berselisih jarak selebar jalan Sudirman. Hanya berselisih beberapa jam kerja untuk akhirnya pulang bersama. Hatiku hangat setia melihat kau melangkah gontai keluar dari gedung yang mengukungmu sedari terang masih mengembang. Seketika begitu tubuhmu menyentuh kursi di sebelahku, matamu …
Humaniora, Tentang Cinta »
Oleh: Lakhsmi
Karena ini bukan mimpi. Kalau mimpi maka semuanya adalah ilusi. Aku selalu tersenyum memandangmu senyum yang begitu lebar dari ujung ke ujung pipi kanan ke pipi kiri. Kusentuh bibirmu hidungmu sampai ke tepi. Aku mencintaimu dengan seluruh bermacam bauran perasaan yang mengisi belanga hati.
Menatap wajahmu seperti membayangkan angkasa dengan subuh yang sempurna. Bibirmu adalah bintang pagi berwarna biru berpendar sangat lembut dan patuh dengan lengkung jejak perjalanannya. Aku ingin mencium bintang itu membiarkannya tergelincir di tanganku lalu mendekapnya erat-erat ke bibirku sehingga kedua lengkung itu berpelukan erat. Terasa basah …
Friendship, Humaniora »
Oleh: Nine Muses
Sampai beberapa hari kemudian, aku masih terkena sihir bengong mikirin Georgina dan makhluk-berkulit-kodoknya. Untung liburan kuliah telah tiba, jadi pelajaranku nggak terganggu gara-gara patah hati. Yang terganggu pastinya cuma teman-temanku yang aku curhatin abis-abisan. Nggak pagi, siang, dan malam, aku berkubang duka nestapa dan termehe-mehe tiada henti.
Suatu hari Eve temanku nggak sanggup lagi menghadapi air mata bombayku. Dia berkata cepat, “Nine, aduh Nine!”
“Apa sih?” tanyaku berusaha cool. Aku sadar Eve pasti berusaha mengalihkan pembicaraan dari topik pembicaraan tentang Georgina. Mungkin dia nyari topik lain, seperti kapan musim panen …
Humaniora, Partnership »
Oleh : Bening
Ini hari kedua pemajangan voucher liburan di depan monitor Aa. Taktikku berhasil. Meski obrolan malam kami masih dipenuhi cerita-cerita seputar kantor, setidaknya sesekali aku bisa mengalihkan perhatian aa, menyelingi pembiacaraan dengan rencana-rencana yang akan kami lakukan nanti.
“Dik, kemarin beli voucher hotelnya di mana?” tanya aa.
“Di travel agent Itu A’,” jawabku sekilas. Aku masih fokus menatap monitor, browsing lokasi-lokasi menarik di sekitar tempat liburan nanti.
“Caranya gimana dik?” aa mengajukan pertanyaan yang membuatku bingung. Ia sedang bercanda atau sedang serius. Kupalingkan wajah, menatap Aa.
“Cara apanya, A?” keningku mengernyit.
“Iya, cara beli …





