Articles in the Humaniora Category
FabuLezlyCool, Humaniora »
Oleh: Wasabi
Gila, sungguh gila melihat kehidupan kaum lesbian yang lagi keselek cinta. Cinta dipuja sampai to the max. Pacar dicintai sampai lebay. Ketika bertepuk sebelah tangan, kelihatan sedihnya seperti tiada hari esok. Apalagi ketika putus cinta, penderitaan patah hati seakan penderitaan satu-satunya dan termalang di dunia. Ternyata ini bukan fenomena zaman sekarang. Dari dulu, komunitas lesbian selalu berkutat di urusan cinta.
Humaniora, wawancara »
Oleh: Villinz dan Ade Rain
Sulit menemukan kelegaan di pagi hari? Maracau dan ngelayap semalaman dengan mata enggan tertutup karena kekalutan? Galau? Patah hati? Kehilangan sesuatu yang berharga? Merasa ada yang tak beres dengan kondisi diri sendiri sehingga rasanya mau mati saja? Butuh seseorang untuk berbagi? Bagaimana jika berbagainya dengan seorang profesional?
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Tya Andriani
Saya senang mengamati bagaimana kaum lesbian sering kali mengungkapkan rasa ketidakbahagiaannya sebagai lesbian. Ada saja yang menciptakan ketidakbahagiaan itu. Mulai dari hubungan percintaan, masalah coming out, urusan dengan keluarga, sampai problema pertemanan sesama lesbian. Ini kasus yang nyata dan selalu konsisten dari generasi ke generasi.
FabuLezlyCool, Humaniora »
Oleh: Chossy Tan
Envy is an insult to oneself. (Yevgeny Alexandrovich Yevtushenko, penyair dari Rusia)
Masih ingatkah kita akan tokoh kartun bernama si Sirik dan Juwita? Bagi teman lesbian di sini yang masa kecilnya suka membaca majalah Bobo, pasti tahu tokoh kartun tersebut. Aku menyukai cerita kartun itu.
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Cerita soal buku, saya punya pengalaman kecil yang sangat susah dihilangkan dari ingatan. Nenek saya adalah guru mengaji di sebuah lorong kecil di deretan perumahan yang cukup padat. Beliau yang tukang cerita ini mengatakan pada zaman ia kecil dulu ada beberapa menasah atau mesjid kecil yang ustadz-nya sangat rajin membuat cerita-cerita dalam aksara Arab Melayu. Cerita-cerita ini selalu ditulis di papan tulis dan ustadz mengharuskan semua murid madrasah menyalin cerita itu. Ia akan membacanya, dan murid-murid mengikutinya dengan serentak. Kisahnya pun unik tentang fabel, hewan-hewan khas kampung halamannya. …
Persona, Seni Budaya, wawancara »
Oleh: Vilinnz dan Ade Rain
Saya dan redaksi SepociKopi sangat beruntung sebenarnya ketika sebuah nama muncul dari Helga Worotitjan, yang menjadi nara sumber sepekan lalu untuk Tamu Istimewa Twitter SepociKopi. Sebenarnya beberapa kali sliwar sliwer memerhatikan deretan daftar link blog yang direkomendasikan beliau di blognya, saya acuh.
Humaniora, Keluarga »
Oleh: Deni Melisa
Jodoh, setuju atau tidak, umumnya masyarakat Indonesia memang agak memberikan perhatian khusus untuk masalah ini. Sebagian besar masyakarat Indonesia memiliki paradigma bahwa kesempurnaan hidup akan mencapai puncaknya jika seseorang menemukan pasangan hidupnya. Kerap kali pernikahan menjadi sebuah batu loncatan untuk meningkatkan status sosial di masyarakat.
Telezkop »
Oleh: Alex
Bersyukur. Siapa di antara kita yang sudah lama kehilangan kata ini dari kamus hidupnya? Seminggu terakhir ini dua tamu berbagi kisah di Twitter SepociKopi. Helga Worotitjan dan Suksma Ratri. Dua perempuan tangguh yang pernah mengalami kekerasan seksual dan satu lagi positif HIV. Kisah mereka memberi inspirasi dan menguatkan bukan karena mereka sekadar berani, tapi dalam ujian seberat apa pun ada rasa syukur terhadap kehidupan.
Mungkin bersyukur terasa mudah secara teori, namun dalam kenyataannya kita lebih sering menghitung apa yang tak kita miliki daripada menghargai keberuntungan kita. Cuaca panas, kita mengeluh. …
Humaniora, Opini »
Oleh: Zara Aulia
Bagaimana reaksi sesama lesbian waktu mendengar kata lesbian? Oke, mungkin kata ini sudah biasa dibaca di situs lesbian kesayangan kita semua. Bagaimana dengan kata-kata lainnya, seperti: homofobia, konservatif, radikal, liberal, atau sekuler? Lihatlah, bagaimana setiap kata mampu memberikan gambaran mengenai suatu hal. Saya tidak bisa menjabarkan tafsir yang satu dan tunggal ketika saya menyebutkan (salah satu) kata di atas.





