Home » Archive

Articles in the Humaniora Category

God, Humaniora, Ibu, Keluarga, Spiritualisme, Twilight Zone »

[24 Dec 2011 | 6 Comments | 169 views]
Malam Natal Kita

Oleh: Deni Melisa

Malam Natal selalu mengingatkanku padamu, Ibu. Cengkeh yang biasa kau tusukkan di atas kue nastar kita, aromanya menyerebak di dapurmu. Aroma cengkeh itu sudah lama tak mampir ke hidungku. Sudah lama sekali, sejak kau meninggalkanku bergelut di dunia yang fana ini.

Sekarang, yang ada bukan aroma cengkeh, tapi aroma gurihnya ayam panggang. Hidup telah berubah Ibu, masa telah berganti. Meski di malam Natal ini aku tetap bersama orang-orang terkasih, tapi itu bukan kau, bukan Papa, bukan Cici, bukan Koko. Mereka adalah orang-orang yang berbeda dengan cinta yang sama. Mereka …

God, Humaniora, Spiritualisme, Twilight Zone »

[24 Dec 2011 | 12 Comments | 193 views]
Kado Natal

Oleh: Frizzy Jo
Aku tak pernah suka tempat ini, sejak dulu, kemarin, mau pun esok. Tempat ini terlalu ramai dan memusingkan. Terlalu banyak orang di sini. Tua dan muda, pria dan wanita, bahkan abang-abang yang memajang dagangan beraneka produk kelas menengah ke bawah semakin memperparah sakit kepalaku.
Aku terus berjalan dengan wajah lurus menatap ke depan. Seperti zombie, kata teman-temanku yang sering menemaniku melewati tempat ini. Sedikit pun aku tak mengurangi kecepatan langkahku, hingga orang-orang yang memperhatikanku bisa saja menduga kalau aku sedang mengejar copet yang mengambil isi tasku. Aku tak peduli. …

Telezkop »

[22 Dec 2011 | 14 Comments | 452 views]
te.Lez.kop: The First Time

Oleh: Alex
Sejak kapan kau tahu bahwa kau lesbian? Mungkin itu jenis pertanyaan yang muncul 9 dari 10 kali percakapan saat kita tahu bahwa lawan bicara kita adalah lesbian. Seakan ada batas waktu mulai dan berakhir saat kau “menjadi” lesbian.
Kesadaran saat kita tahu bahwa kita lesbian biasanya berkaitan dengan manusia lain, atau tepatnya, perempuan lain, yang membuat kita menyadari keberadaan perasaan tersebut. Bukannya menyukai lawan jenis, seperti mayoritas manusia, kita jatuh cinta pada seseorang yang berkelamin sama. Dan semua rasa ini membuatmu… bingung. Kalau kata anak zaman sekarang… galau, gitu.

FabuLezlyCool, Humaniora »

[21 Dec 2011 | 7 Comments | 281 views]
FabuLezlyCool: Cuma Punya Teman

Oleh: Wasabi
Bagi gue, teman adalah segala-galanya. Sejak gue SMP, gue percaya teman adalah rumah kedua gue. Gue punya kakak dan kakak gue tinggal di luar negeri, mengikuti suaminya. Gue tinggal di kota ini sendirian, nggak memiliki saudara. Kedua orangtua gue tinggal di kota kelahiran gue, nggak mau tinggal bersama gue di kota ini. Jadi teman adalah satu-satunya yang bisa gue andalkan. Kalau gue susah, gue selalu mencari teman untuk bala bantuan.

Humaniora, Tajuk »

[20 Dec 2011 | 10 Comments | 182 views]
Tajuk: (Bukan) Ibu dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Ketika aku masih duduk di sekolah dasar, aku paling malas bangun pagi. Namun, ibuku ini selalu sabar membujuk agar aku menghirup udara bersih setiap hari. Dia menemaniku bermain badminton di bawah sinar mentari. Katanya biar tulang-tulangku kokoh dan sekuat baja. Ayahku, beliau selalu mengajakku menyempatkan diri berkunjung ke tetangga kami yang kulit dan statusnya sangat berbeda. Sehingga aku mengenal apa artinya kemuliaan dan toleransi. Mereka memelihara sehelai jiwaku yang masih kecil untuk selalu peduli dengan kepapaan orang lain.

Humaniora, Opini »

[20 Dec 2011 | 6 Comments | 177 views]
Dictionary for Self Improvement

Oleh: Krishna
Benarkah karena kita berbeda, kita tidak bisa meraih yang terbaik untuk diri kita? Pertanyaan yang sama telah memenuhi benak saya sejak lama. Pertama kali menyadari saya berbeda ketika saya berumur sepuluh tahun. Hidup terasa aneh karena bagaimana mungkin teman-teman saya sibuk membicarakan anak laki–laki tampan di kelas sebelah, sementara saya sibuk mengagumi teman sekelas yang imut bagaikan boneka? Lain waktu teman–teman sibuk bermain boneka, saya sibuk bermain layang–layang bersama abang di sawah belakang rumah.

Friendship, Humaniora, L'Amour, Remaja, Sepocikopiana »

[18 Dec 2011 | 12 Comments | 514 views]
L’Amour: The Power of Love

Oleh: Fahry
Aku Fahry, anak yang dilahirkan dari keluarga yang biasa saja. Masa kecilku indah dan sering menjadi jagoan yang memakai rok. Aku mempunyai banyak teman dan selalu mendapat perhatian orangtuaku. Dan aku tumbuh menjadi gadis yang tomboy.
Suatu ketika aku aktif di kegiatan ekskul renang. Di sinilah aku bertemu dengan Thessa. Gadis yang sangat baik, lugu, polos, dan manis, lebih mirip anak SMP daripada remaja yang beranjak dewasa. Aku sering menggodanya ketika berenang, karena aku ditunjuk sebagai tentornya saat itu. Jujur saja, aku merasakan ada perasaan aneh ketika bertatap muka dengannya. …

Coming Out, Friendship, Humaniora, Opini »

[17 Dec 2011 | 18 Comments | 572 views]
Tuduhan Lesbian

Oleh: Yasmin
Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman lesbian yang baru pulang dari nongkrong di kafe, dia bercerita, “Tadi beberapa meja di samping mejaku, kursi-kursinya diduduki pasangan-pasangan lesbian,” katanya.
Mendengar kalimat itu dalam benak saya langsung terpikir bahwa teman saya kenal dengan pasangan-pasangan yang dia ceritakan. Tapi pada saat saya tanya dan memastikan pernyataannya, dia menjawab, “Enggak. Aku nggak kenal. Tapi sudah pastilah mereka lesbian, kan terlihat dari penampilannya, yang satu butch gitu, dan pasangannya femme.”
“Belum tentu lho,” sanggah saya. “Jangan pernah nge-judge seseorang lesbian hanya karena penampilannya atau dua orang perempuan …

Humaniora, Telezkop »

[15 Dec 2011 | 8 Comments | 392 views]
te.Lez.kop: Diam-diam Menyayangi

Oleh: Tya Andriani
Pernah diam-diam menyayangi seseorang dan tak pernah bisa mengungkapkan perasaan ini? Tunjuk tangan yang pernah! Ada beberapa kendala mengapa tidak bisa mengatakan cinta kepada the object of my affection. Pertama, dia sudah punya pacar. Dua, dia tidak mungkin digapai (beda tingkat sosial, ekonomi, status, atau bahkan beda orientasi seksual. Yup, dia straight). Ketiga, lebih enak diam-diam mencintainya daripada dijadikan pacar. Menurut beberapa teman-teman lesbian, mereka memilih nomor tiga karena tidak ribet, ruwet, dan tetap bisa tetap menyayanginya tanpa merusak hubungan.

Humaniora, Opini »

[15 Dec 2011 | 15 Comments | 426 views]
Menulislah, Biar Dapat Pacar!

Oleh: Saraswati Firdauz
Tengah malam ini, aku terkena insomnia lagi, tapi tidak masalah. Aku selalu menyukai tengah malam. Kutengok dia yang sudah terlelap sejak jam sebelas. Awalnya, aku memilih untuk mengganggunya saat tidur. Memberikan sentuhan dan kecupan ringan, tapi setengah jam kemudian aku bosan. Lalu aku ingat, dia bercerita tentang mantannya. Dia memintaku membuka FB mantannya.