Articles in the Humaniora Category
FabuLezlyCool, Humaniora »
Oleh: Chossy Tan
Seekor kutilang sedang terbang, dan melihat seekor kucing berteriak, “Cacing, cacing segar!” Burung kutilang tertarik. Ia segera terbang merendah dan mendekati kucing itu. “Bolehkah aku membeli cacing segar itu?” tanya kutilang. “Boleh. Hanya dengan sehelai bulu sayapmu kamu dapat menikmati tiga ekor cacing segar,” jawab kucing. Kutilang pun menukar sehelai bulu sayapnya dengan tiga ekor cacing.
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Perempuan muda bersepatu kets, mengenakan jins, dan kaos bertuliskan Blue Jeans tertegun di dalam sebuah toko baju. Dengan serius, dia menatap sederetan gaun, blus, rok, dan sepatu. Sesekali matanya pindah ke sebuah cermin besar. Dia masih memerhatikan cermin, lalu pindah ke deretan gaun. Bertanya dalam hati, ah mengapa dirinya tak berkenan memilih gaun seperti perempuan lazimnya?
Humaniora, Opini »
Oleh: JustNoone
Personality. Seringkali kita mendengar atau membaca kata tersebut. Yah, kepribadian/watak dalam bersosialisasi itu penting bukan? Penting juga di dunia kerja, dan tentunya penting di dunia lesbian. Salah satu faktor penting dalam memilih pasangan yang tentunya perempuan. Perempuan biasanya lebih mengutamakan perasaan daripada logika, karena itulah ada yang menyebutkan bahwa perempuan bisa disebut manusia galau. Setuju atau tidak? Terserah masing-masing pribadi.
Buku, Remaja »
Oleh: Alex
Perkenalkan Paul. Anak kelas dua SMA dan gay. Gay yang sudah coming out ke keluarganya dan diterima baik hingga ke sepenjuru kota. Kota kecil di New Jersey, Amerika Serikat. Dan inilah hidupnya sebagai gay dan kisahnya dengan sahabat-sahabatnya.
Paul bersahabat dengan Joni, gadis yang menjadi sahabat baiknya sejak kanak-kanak. Juga Tony, yang sama-sama gay namun tidak seterbuka Paul dan tidak diterima dengan baik oleh orangtuanya yang amat religius. Lalu ada sahabatnya Infinite Darlene, yang aslinya lelaki tapi berpakaian perempuan, ratu homecoming yang juga bintang futbol. Semua tokoh dengan kepribadian beragam …
Humaniora, Label »
Oleh: Yasmin Sutomo
Saya mulai mengenal dunia lesbian, mengakui diri sebagai lesbian dan berteman dengan sesama lesbian (termasuk mulai pacaran sama perempuan, eheeem…) di tahun 80an. Kala itu lesbian yang tomboy—baik sedikit tomboy maupun tomboy banget—disebut Butch. Pasangannya “pasti” Femme. Sebenarnya mungkin tidak se-saklek itu, tapi di lingkungan tempat saya bergaul ya begitu.
Kondisi ini makin lama menjadi stigma dalam kelompok lesbian pertemanan saya bahwa sesama Butch dilarang saling naksir. Begitu juga kalau ada pasangan yang keduanya berpenampilan feminin, kami akan memandang dengan aneh. Siapa yang jadi laki dan siapa yang jadi …
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Lakhsmi
“Eksistensi melebihi esensi.”
Adakah yang setuju dengan pernyataan di atas? Kalau tidak mengerti, coba pikirkan tentang keberadaan lesbian di diri ini. Apakah kita adalah lesbian sebagai manusia, atau manusia sebagai lesbian? Jangan mengira aku sedang bermain-main dengan kalimat. Contoh konkritnya adalah, gelas beling yang terbuat dari kaca. Eksistensi adalah gelasnya itu sendiri dan esensi adalah kaca itu.
Ada humor yang berdasarkan eksistensi ini. Ceritanya begini:
FabuLezlyCool »
Oleh: Lo
Akhir–akhir ini entah bagaimana, sudah banyak teman–temanku yang tahu orientasi seksualku, entah mencari tahu dengan cara sopan sampai yang melanggar privasi. Yah, sebenarnya aku sangat enggan untuk mendiskusikan masalah ini. Ini lagi, ini lagi, pikirku. Bukannya aku yang tertekan atas rahasiaku yang terbongkar, sebaliknya, justru sahabatku yang kalang kabut. Baiklah, sahabat, kuberitahu kau kebahagiaanku, tapi kumohon jangan lagi kau menanyakan hal yang sama terus-menerus.
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Berapa banyak sih orang bekerja sesuai dengan bidang pendidikannya? Kebanyakan pekerja tidak mampu membedakan antara pekerjaan dan karier lho. Atau berapa banyak dari kita yang sangat memperhatikan gaya hidup, baik dalam hal pola makan, bergaul, memperhatikan kerapian dan kecantikan diri?
Selama setahun ini kebanyakan orang terpaku pada rutinitas kerja. Tanpa disadari, semua itu menyebabkan pada pemenuhan atas tuntutan dapur semata sehingga tidak mampu mengoptimalkan passion hidup. Orang tidak bekerja karena memang ingin dan menyukai pekerjaan tersebut, namun memaksa diri pada kebutuhan-kebutuhan pokok saja. Kalau benar begitu, jangan-jangan bidang yang …
Gaya Hidup, Humaniora, Mix n' Match »
Oleh: Carmen
Selamat hari Natal 2011, teman-teman! Apakah kamu pembaca baru SepociKopi yang bisa dibilang nyasar di sini? Atau pembaca lama yang baru kembali dan kaget lihat tampilan baru situs ini? Ataukah penggemar setia yang selalu baca artikel baru, namun belum sempat eksplorasi situs? Atau ada yang baru baca SepociKopi cuma kalau lagi bingung mau ngapain? Apapun karaktermu, peluk cium untuk semua!
Di hari yang penuh syukur ini, aku ingin berbagi kado informasi dengan mencoba-coba memandu newbie hingga die-hard fans SepociKopi. Sejarah situs SepociKopi bisa dilihat di sini Tentang Kami dan di …





