Articles in the Humaniora Category
Humaniora, Opini »
Oleh: Appu
Pada awal tahun, teman saya, seorang perempuan heteroseksual yang gay-friendly, bercerita tentang keluh-kesah sahabat gaynya. Sahabatnya berkata bahwa ia memutuskan untuk berhenti berkomentar di beberapa forum gay Indonesia di dunia maya. Capek, jelasnya, karena di antara kaum homoseksual sendiri terdapat perbedaan pandangan-pandangan yang justru saling menjatuhkan.
Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Gue punya pacar cowok tapi sering berfantasi ciuman dengan cewek. Saya baru sadar saya lesbian setelah saya punya dua anak. Katanya kelesbianan bisa dicegah, tapi tak bisa diobati benar nggak sih? Ada yang punya pertanyaan yang sama dengan pernyataan teman lesbian yang masuk ke e-mail redaksi SepociKopi itu? Berapa usiamu ketika menyadari dirimu lesbian? Apakah usia mempunya faktor signifikan terhadap homoseksualitas?
Konon usia dalam stigma yang ada memiliki pengaruh luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Umur juga merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur tingkat pendidikan, kinerja di perusahaan, kesehatan, …
Humaniora, Kesehatan dan Seksualitas, Opini »
Oleh: Edith
…Bahkan ketika kamu adalah seorang homoseksual, kamu tidak punya hak untuk mengklaim seseorang itu berkecenderungan atau bahkan seorang homoseksual atau bukan…
Saya benar-benar kesal dengan orang yang dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang punya indikasi menjadi homoseksual, hanya karena ia sudah berinteraksi dengan komunitas lesbian dan gay. Bagi saya, tidak ada yang layak untuk mempublikasikan, menebak-nebak, mendeklarasikan orientasi seksual atau identitas gender seseorang kecuali dianya sendiri.
Ini terjadi pada seorang teman dari Solo. Dia berencana mengadakan kegiatan bertema tentang homoseksual dan dia merasa sangat tidak nyaman ketika seorang lesbian yang seharusnya sudah …
Friendship, Humaniora, Opini, Partnership, Relationship, Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Yasmin
“‘Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.
Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya. Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.
Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan …
Have Your Say, Humaniora, Label, Sepocikopiana »
Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.
Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya …
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Alex
Dalam dunia heteroseksual ini, siapa pun takkan mendebat bahwa sebagai lesbian kita adalah kelompok minoritas. Berbagai gerakan homoseksual menjeritkan kondisi kita yang terdiskriminasi, terpinggirkan, jadi warga kelas dua, blablabla, dan lain sebagainya.
Tidak hanya homoseksual yang mengalami hal itu, mereka yang berbeda dari mayoritas juga mendapat diskriminasi. Mulai dari warga keturunan hingga urusan popularitas di sekolah. Siapa pun yang kelihatannya culun dan bukan kelompok populis, jadi sasaran bullying.
Tapi ironisnya, banyak orang yang berada dalam lingkungan mayoritas ingin selalu tampil beda. Beda is cool. Dan mereka memamerkan keberbedaan mereka …
FabuLezlyCool, Humaniora »
Oleh: Lo
Beberapa waktu lalu, aku iseng nongkrong di Malioboro tengah malem bersama sohib. Kebetulan kami sama-sama pecinta suasana tengah malam. Sepi, dingin, bebas, damai deh pokoknya. Kami mengobrol dan berbagi rokok dengan kenalan baru, seorang pengamen, Pak Anton namanya. Pria paruh baya, gempal, lusuh, gurat wajahnya seolah menyimpan sejuta cerita hidup. Benar saja. Sampai pagi tiba pun kami tak selesai (dan tak bosan) mendengar perjalanan hidupnya.
Singkatnya, Pak Anton ini dilahirkan di keluarga yang berkecukupan. Saat muda dulu, ia sempat menjadi pengusaha eksportir sukses. Ilmu sosiologi dan manajemen dikuasai total …
Friendship, Sepocikopiana, Ulang Tahun »
Oleh: Bening
Saat baru mengenal SepociKopi, Alex adalah makhluk yang sangat kuhindari. Ketika mulai berbagi rahasia dengan Lakhsmi aku menulis catatan dengan huruf kapital: JANGAN BERITAHU ALEX! Aku nggak mau temenan sama pasangan yang kayak kembar dempet, yang apa-apa urusan orang lain diceritakan pada partnernya. Beberapa kali Lakhsmi berusaha mendekatkanku dengan Alex, menyuruhku komunikasi langsung dengan Alex, tapi selalu kutolak.
Begini ceritanya… Sekitar tahun 2004, aku berusaha mengungkap sisi lesbianku dengan membaca sebuah forum. Di sanalah pertama kali kulihat nama Alex58id terpampang. Seorang aktifis lesbian yang aktif menggagas festival LGBT dengan pengetahuannya …
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.
Humaniora, Opini »
Oleh: Justin
Kekuatan jari telunjuk adalah judul yang saya pilih karena terinspirasi dari kejadian di suatu acara perkawinan. Saat itu saya melihat seorang anak menunjuk-nunjuk temannya, menuduh si temanlah yang memecahkan gelas. Apa yang terjadi kemudian? Akan saya beritahukan nanti dong (kalau tidak tulisan saya hanya beberapa baris saja, bukan?).





