<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Humaniora</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/humaniora/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Tajuk: Hubungan Percintaan Langgeng dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/07/tajuk-hubungan-percintaan-langgeng-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/07/tajuk-hubungan-percintaan-langgeng-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 10:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17923</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Apa ada cinta lesbian yang hubungannya langgeng dan lama? Bagi yang merasa frustrasi melihat hubungan lesbian yang kelihatan jarang langgeng, jangan cepat putus asa. Banyak kok di antara kita yang hubungannya bertahun-tahun. Ketika kita bertemu dia tahun lalu, pacarnya A, bertemu lagi di tahun berikutnya pasangannya masih sama.
Memang, rata-rata pasangan lesbian langgeng seperti ini tampaknya tidak begitu banyak berinteraksi di dunia maya. Mereka lebih memfokuskan diri pada kehidupan asli. Jadi, data tentang mereka sangat minim ditemukan. Alangkah senangnya jika ada rekan-rekan lesbian yang mau melakukan riset tentang hal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/love-forever-promise.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17924" title="love forever promise" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/love-forever-promise-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Apa ada cinta lesbian yang hubungannya langgeng dan lama? Bagi yang merasa frustrasi melihat hubungan lesbian yang kelihatan jarang langgeng, jangan cepat putus asa. Banyak kok di antara kita yang hubungannya bertahun-tahun. Ketika kita bertemu dia tahun lalu, pacarnya A, bertemu lagi di tahun berikutnya pasangannya masih sama.</p>
<p><span id="more-17923"></span>Memang, rata-rata pasangan lesbian langgeng seperti ini tampaknya tidak begitu banyak berinteraksi di dunia maya. Mereka lebih memfokuskan diri pada kehidupan asli. Jadi, data tentang mereka sangat minim ditemukan. Alangkah senangnya jika ada rekan-rekan lesbian yang mau melakukan riset tentang hal ini sehingga data akurat tentang pasangan lesbian berumur panjang bisa mengimbangi kisah  drama Oh Mama Oh Papa yang banyak kita dengar dari curhat-curhat selama ini.</p>
<p>Benar, banyak kisah yang membuat kita bergidik. Baru saja kita bertemu teman lesbian itu dengan pacar barunya, beberapa bulan kemudian kita sudah dikenalkan dengan pasangan terkininya yang lain. Tahun berikutnya, ternyata sudah yang lain lagi. Aduh!</p>
<p>Banyak faktor yang dapat membuat hubungan kita dengan pasangan awet. Berjuta ragam tips di internet mengajarkan manusia bagaimana memelihara hubungan cinta dengan pasangan. Memiliki hubungan harmonis dan sanggup menjalani suka duka hidup bersama-sama merupakan impian setiap pasangan. Cinta menjadi bagian penting dari tema hidup. Tanpa cinta, kehidupan ini seperti <em>gadget </em>canggih tanpa sinyal, seperti sayur tanpa garam. Sepanjang peradaban manusia, cinta selalu menjadi legenda paling menyenangkan untuk diketahui. Hubungan cinta abadi selalu menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang.</p>
<p>Psikolog asal Swiss, Jerman dan Amerika Serikat melakukan riset menarik soal hubungan langgeng. Penelitian itu mengatakan bahwa  pasangan yang baru mengenal dan hidup bersama selama satu hingga dua tahun ternyata lebih saling mengerti satu sama lain dibandingkan yang telah hidup bersama selama empat puluh tahun. Konon, hal ini bisa terjadi karena pada awal hubungan, mereka benar-benar mencoba untuk saling mengenal. Lalu ketika usia hubungan berjalan lama, mereka berpikir sudah tahu segala sesuatu tentang pasangannya.</p>
<p>Para peneliti ini melakukan pengamatan pada dua kelompok pasangan, yang tua dan muda. Mereka diberikan pertanyaan kesukaan pasangan terkait tiga hal yaitu film, makanan, dan <em>furniture </em>dapur. Dari hasil jawaban, 38 pasangan muda yang berusia antara 19 hingga 32 tahun dan baru hidup bersama rata-rata dua tahun satu bulan memiliki jawaban yang lebih tepat. Hal itu dibandingkan dengan dua puluh pasangan tua, berusia antara 62 hingga 78 tahun yang telah hidup bersama selama empat puluh tahun sebelas bulan. Para peneliti memperkirakan, pasangan muda memang lebih termotivasi  untuk mengenal dan mengerti pasangan ketika memulai hidup bersama. Tetapi sayangnya, motivasi tersebut menurun seiring berjalannya waktu.</p>
<p>Berdasarkan riset di atas, seperti halnya tanaman, ternyata cinta perlu dipupuk dan disiram sepanjang hari. Cinta memerlukan proses setiap waktu untuk bisa mengerti terhadap keinginan dan perubahan yang ada dalam pasangan. Cinta membutuhkan adaptasi, cinta butuh ilmu, cinta butuh materi, cinta butuh seluruh potensi hidup untuk mempertahankannya.</p>
<p>Membangun cinta dengan pasangan perlu modal perhatian dan ekstra keras setiap saat, seperti usaha kita di saat baru berkenalan. Analoginya mungkin bisa seperti ini, dalam cinta perlu tawar menawar, mirip transaksi jual beli. Keduanya bisa sama-sama untung ketika kesepakatan tercapai. Bentuk jual beli dalam cinta tentu saja bukan seperti jual-beli yang nyata. Jual beli dalam cinta terjadi dalam makna spiritual, emosional, pengetahuan, pengalaman, dan banyak faktor lain.</p>
<p>Biasanya di awal pertemuan, cinta yang benar-benar kuat akan mendorong seseorang mengatakan dalam hatinya, oh perempuan inilah pilihan saya, kehidupan saya akan diisinya sampai akhir. Didukung dengan pupuk yang hebat yakni tingkat pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman yang cukup maka cinta akan selamat meskipun godaan datang silih berganti.</p>
<p>Saya adalah salah satu yang begitu percaya dengan pomeo bahwa &#8220;sifat seseorang tidak jauh-jauh dari pasangannya&#8221;. Secara sederhana, kalau saya lihat teman saya baik, maka dengan segera saya akan mengatakan bahwa pasangannya juga baik dan menyenangkan. Kalau tidak, pasti sudah lama mereka berpisah. Namun, sudah pasti faktor penentu seperti kepercayaan diri, tingkat pendidikan atau pengetahuan, serta pengalaman menjadi sumber kelanggengan dalam sebuah hubungan yang harus selalu dipupuk.</p>
<p>Tips berpasangan langgeng bisa saja bertebaran dan dengan mudah didapatkan. Cinta bisa saja tumbuh subur dan menghilang di antara kedua manusia. Kesetaraan dalam pasangan bisa saja terjadi. Riset ilmiah tentang dunia percintaan bisa saja terus menerus dilakukan oleh para ilmuwan. Tapi yang harus diingat, hubungan percintaan bukan sekadar ilmu atau tips, tapi hubungan percintaan yang langgeng adalah sebuah seni, yang bukan hanya harus dipelajari seumur hidup, tapi juga dihayati sepenuh jiwa raga.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/07/tajuk-hubungan-percintaan-langgeng-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dasyatnya Kopdar Kedua Jakarta</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/04/dasyatnya-kopdar-ke-2-jakarta/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/04/dasyatnya-kopdar-ke-2-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 08:39:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[pertemanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17808</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Samuel Steffany
Dasyat! Itulah kata yang mewakili ekspresiku saat pertemuan Kopdar ke-2  anggota milis SepociKopi Jakarta yang dilaksanakan Minggu, 29 Januari 2012 lalu.
Seperti rentetan dari keberhasilan Kopdar pertama, Kopdar kedua ini pun mendapat animo besar dari anggota milis. Membludaknya jumlah peserta menunjukkan antusiasme yang positif dari anggota milis SepociKopi. Bayangkan saja pengumuman pertama jumlah peserta yang mendaftar mencapai 36 orang. Wow! saya saja terkaget-kaget. Tangan keringatan dan degup jantung tak beraturan. Bagi saya pribadi yang pemalu ini, jelas membutuhkan keberanian ekstra bertemu dengan lesbian sebanyak itu. Haduh! nggak bisa tidur ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/Life.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17866" title="life colour2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/Life-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Samuel Steffany</p>
<p>Dasyat! Itulah kata yang mewakili ekspresiku saat pertemuan Kopdar ke-2  anggota milis SepociKopi Jakarta yang dilaksanakan Minggu, 29 Januari 2012 lalu.</p>
<p>Seperti rentetan dari keberhasilan Kopdar pertama, Kopdar kedua ini pun mendapat animo besar dari anggota milis. Membludaknya jumlah peserta menunjukkan antusiasme yang positif dari anggota milis SepociKopi. Bayangkan saja pengumuman pertama jumlah peserta yang mendaftar mencapai 36 orang. Wow! saya saja terkaget-kaget. Tangan keringatan dan degup jantung tak beraturan. Bagi saya pribadi yang pemalu ini, jelas membutuhkan keberanian ekstra bertemu dengan lesbian sebanyak itu. Haduh! nggak bisa tidur nyenyak deh memikirkan pertemuan itu.</p>
<p>Upss&#8230; sebelum keterusan curhat, saya lanjutkan ya. Koordinator Kopdar 2 Jakarta sekaligus moderator milis SepociKopi menjelaskan, total keseluruhan jumlah pendaftar 47 orang, tapi yang hadir 34 orang. Beberapa orang mengabarkan pembatalannya pada hari H karena berbagai alasan. Kebanyakan karena kebetulan ada acara mendadak, walau sebetulnya sangat ingin menghadiri Kopdar. Ini berarti jumlah peserta hampir tiga kali lipat dari Kopdar pertama. Dengan jumlah sebanyak ini, para peserta berbisik-bisik mesra sambil senyum-senyum manis, &#8220;Sepertinya Kopdar ke-3 kita harus menyewa Balai Kartini. deh. He he he.&#8221;</p>
<p>Acara Kopdar dimulai molor dari waktu yang ditetapkan, pukul 14.00 WIB karena menunggu peserta lain yang datang terlambat. Salah satunya saya. Yaa&#8230; maklumlah, saya harus mengumpulkan keberanian dulu beberapa saat sebelum masuk ke tempat pertemuan, mengingat ini adalah ajang ketemuan dengan lesbian-lesbian keren dan manis-manis. Ngarep juga sih ada yang kecantol sama saya&#8230; hi hi hi.</p>
<p>Awalnya memang agak susah untuk mulai bersosialiasi karena meja peserta terpisah-pisah. Atas inisiatif kami sendiri, meja dan kursi kafe kami berantakin dan kami tata ulang. Kami menggabungkan meja dengan meja, menyejajarkan kursi dengan kursi hingga membentuk lingkaran. Tujuannya agar seluruh peserta bisa saling memandang, hingga memudahkan perkenalan dan aktivitas berbagi cerita, tentunya dengan segudang candaan yang benar-benar membuat mulut pegal, ketawa terus!</p>
<p>Akhirnya acara dimulai. Diawali dengan sambutan kecil dari Koordinator, dilanjutkan pengisian kuesioner. Loh, kok jadi serius gitu sih Kak Momod? Menurut Momod, kuesioner bertujuan untuk melihat tanggapan peserta tentang Kopdar dan untuk mendapatkan masukan tentang bentuk penyelenggaraan Kopdar berikutnya yang diinginkan peserta. Setelah diberi waktu beberapa saat untuk mengisi kuesioner, dilanjutkan dengan membahas hasil kuesioner tersebut secara terbuka.</p>
<p>Ada tiga pertanyaan sederhana. Pertama, bagaimana sebaiknya penyelenggaran Kopdar? Hampir seluruh peserta berpendapat, sebaiknya Kopdar juga diisi dengan diskusi-diskusi ringan. Ada juga yang ingin ada kegiatan lain seperti aktivitas <em>outbond </em>bersama, hingga aktivitas amal/sosial. Pertanyaan kedua, bagaimana frekuensi Kopdar? Jawaban peserta bervariasi, tapi lebih banyak memilih 2 bulan sekali. Ketiga, pertanyaan apakah mau datang ke Kopdar berikutnya? Dan semua peserta menjawab ya! Dengan harapan, Kopdar berikutnya bisa lebih seru lagi.</p>
<p>Yang membuat peserta jingkrak-jingkrak kegirangan di Kopdar ke-2 Jakarta ini adalah kehadiran salah satu pentolan SepociKopi, Kak Alex! Ya benar, Kak Alex hadir di antara kami! Sesuatu banget nggak sih? Dengan kehadiran Kak Alex kami mendapat gambaran yang jelas tentang SepociKopi, termasuk bagaimana SepociKopi dikelola, serta trik supaya tulisan bisa dimuat di SepociKopi.</p>
<p>Selain itu, Kak Alex yang ternyata kocak, sibuk memperhatikan jari-jari para peserta Kopdar, kemudian menimbang dan memutuskan kami lesbian atau bukan. Ha ha ha. Konon katanya ciri lesbian terlihat dari panjang jari-jari tertentu. Dan ternyata, jika dilihat dari teori jari, saya bukan lesbian tulen, saudara-saudara! <em>Oh no!</em> Padahal rasanya di jidat saya sudah ada logo &#8220;L&#8221;-nya loh. Ha ha ha…</p>
<p>Sungguh, berjalannya waktu tak terasa. Tahu-tahu sudah menjelang malam. Para peserta Kopdar satu per satu berpamitan pulang. Saling berjabatan tangan memberikan senyum persahabatan, namun ada juga beberapa yang masih tinggal, berbincang asyik dengan kenalan barunya.</p>
<p>Kak Momod pun merasa senang dan lega karena acara Kopdar ke-2 bisa berlangsung lancar dan sukses. Harapan Kak Momod semua peserta senang, bukan cuma jawaban senang ketika ditanya, tapi betul-betul senang dari hati yang paling dalam. Semoga Kopdar berikutnya bisa terwujud dengan berbagai kegiatan seru seperti yang diinginkan peserta Kopdar yang tertulis dalam kuesioner. Amin.</p>
<p>@Samuel Steffany, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/04/dasyatnya-kopdar-ke-2-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noktah Merah: The Children’s Hour, dari Sejarah Sampai Seni Pertunjukkan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/03/noktah-merah-the-childrens-hour-dari-sejarah-sampai-seni-pertunjukkan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/03/noktah-merah-the-childrens-hour-dari-sejarah-sampai-seni-pertunjukkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 13:24:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Noktah Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17850</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Apa yang terjadi ketika sepasang kepala sekolah/guru perempuan dituduh memiliki hubungan yang tidak alamiah oleh seorang murid? Cerita yang benar-benar terjadi pada tahun 1810 di Skotlandia diangkat menjadi pentas teater dan pembuatan film Hollywood selama dua kali, termasuk remake-nya. Pentas teaternya dipertunjukkan di Broadway pada tahun 1934, ditulis oleh penulis teater/screenplay Amerika yang sangat terkenal Lillian Hellman. Pertunjukkan ini berjalan selama dua tahun sebelum bergerak ke London  dan Dublin. Sepanjang sejarah teater Amerika, inilah salah satu pentas pertama yang mengangkat isu lesbianisme.
Naskah drama in, diberi judul oleh sang kreator ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour5.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17851" title="hour5" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour5-192x300.jpg" alt="" width="192" height="300" /></a>Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Apa yang terjadi ketika sepasang kepala sekolah/guru perempuan dituduh memiliki hubungan yang tidak alamiah oleh seorang murid? Cerita yang benar-benar terjadi pada tahun 1810 di Skotlandia diangkat menjadi pentas teater dan pembuatan film Hollywood selama dua kali, termasuk <em>remake</em>-nya. Pentas teaternya dipertunjukkan di Broadway pada tahun 1934, ditulis oleh penulis teater/<em>screenplay </em>Amerika yang sangat terkenal Lillian Hellman. Pertunjukkan ini berjalan selama dua tahun sebelum bergerak ke London  dan Dublin. Sepanjang sejarah teater Amerika, inilah salah satu pentas pertama yang mengangkat isu lesbianisme.</p>
<p><span id="more-17850"></span>Naskah drama in, diberi judul oleh sang kreator Lillian Hellman, <em>The Children&#8217;s Hour</em> dianggap sebagai karya klasik yang sangat terkenal. Ceritanya berdasarkan<em> true story</em> pada penuduhan dan kebohongan yang disebarkan oleh seorang anak perempuan bernama Mary Tilford. Dia menyebarkan gosip bahwa Karen Wright dan Martha Dolbie &#8211; sepasang kepala sekolah/guru &#8211; memiliki hubungan tidak alamiah. Kata &#8220;lesbian&#8221; tidak pernah diucapkan sebab pada zaman itu, lesbianisme masih belum dinamai. Walaupun tuduhan itu tidak benar, nenek Mary memercayainya sehingga menghancurkan sekolah  itu sendiri.</p>
<p>Karen dan Martha melawan Mary di pengadilan, tapi kalah. Hubungan Karen dan kekasih lelakinya, Dr. Joe Cardin terancam putus. Ketika kedua perempuan itu sedang duduk merenungi nasib kekalahan mereka, Martha mengakui perasaan cintanya kepada Karen. Bahwa tuduhan itu bukanlah bohong, melainkan benar. Karen protes terhadap pengakuan Martha. Walaupun Karen tidak memiliki perasaan yang sama kepada Martha, Karen tetap ingin tinggal bersama Martha. Martha tidak setuju, sebab dia yakin perasaannya kepada Karen adalah kehancuran bagi hidup Karen. Martha memutuskan bunuh diri.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour6.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17852" title="hour6" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour6-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></a>Tentu saja pada tahun 1810, orang-orang masih belum mengerti rasa cinta yang tumbuh di antara sesama jenis, sehingga mereka takut terhadap perasaan itu. Homoseksualitas sangat dianggap tabu dan tidak benar. Perempuan tak bisa mengatakan perasaannya kepada sesama jenis. Di kota kecil, walaupun tidak ada saksi dan bukti bahwa dua kepala sekolah dan guru itu adalah lesbian, penduduknya langsung menuding dan menuduh mereka.</p>
<p>Di zaman sekarang, cerita seperti ini bukanlah cerita homoseksual modern yang mempertunjukkan kenyataan lesbian. Namun <em>The Children&#8217;s Hour</em> ini adalah penghormatan kepada kisah sejarah yang realis pada era di mana kaum lesbian tidak memiliki pilihan apa-apa atas cinta dan hidup mereka, kecuali bunuh diri atau menolak perasaan yang tumbuh itu. Ketika sang penulis naskah Lillian Hellman menyutradarai pertunjukkan ini di tahun 1952, dia mengatakan bahwa cerita ini bukan tentang lesbian, tapi tentang kebohongan yang menyakitkan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17853" title="hour2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour2-300x229.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a>Pada tahun 1936, teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> diangkat menjadi film dengan judul <em>These Three</em>. Lagi-lagi, naskah film ini juga ditulis oleh Lillian Hellman. Walaupun pada tahun itu, kata &#8220;homoseksual&#8221; adalah ilegal di negara bagian New York, tapi hukum seakan-akan berhasil &#8220;ditelikung&#8221; pada seni pertunjukkan ini sehingga baik teater Broadway maupun filmnya bisa melenggang dengan sukses dan menuai komen dari publik. Film ini mendapat pujian dari berbagai kalangan, termasuk media dan orang-orang penting di dunia sineas Hollywood.  Di film ini, aktris Bonita Granville yang memerankan Mary Tilford mendapat nominasi Academy Award untuk Best Supporting Actress.</p>
<p>Pada tahun 1961, film <em>These Three</em> dibuat <em>remake </em>dengan judul asli sesuai dengan pertunjukkan teaternya <em>The Children&#8217;s Hour</em>. Aktris yang sangat terkenal di zaman itu, Audrey Hepburn membintangi film ini sebagai Karen Wright. Sampai tahun 2012 sekarang, komunitas lesbian seluruh dunia, khususnya Amerika, masih merekomendasikan film ini sebagai film lesbian klasik yang layak ditonton, selain untuk mengenang sejarah homoseksual, juga sebagai tonggak pencapaian kaum lesbian dalam seni pertunjukkan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17854" title="hour4" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour4-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" /></a>Tahun 2011, pertunjukkan teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> dipertunjukkan di London, dengan Keira Knightley dan Elizabeth Moss yang menjadi aktris pendukung. Setelah nyaris seratus tahun sejak peristiwa yang sesungguhnya terjadi, termasuk pertunjukkannya di pentas Broadway dan film layar lebar, teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> di tahun 2011 memperlihatkan perbedaan yang nyata. Bagaimana isu lesbian abad 19 ditafsirkan oleh para aktris zaman sekarang? Bahasa tubuh yang dipertontonkan pada teater kali ini lebih terlihat sebagai perempuan tahun 2011 dibandingkan dengan perempuan tahun 1810, 1936, atau 1961. Beberapa dialog diperbaiki sehingga terlihat segar dan modern, juga mengubah bagaimana cinta Martha Dolbie menjadi &#8220;hadiah indah&#8221; untuk Karen. Walau akhir cerita melawan <em>happy ending</em>, pertunjukan teater <em>The Children&#8217;s Hour </em>ini masih tetap relevan menggugat hati nurani tentang kejahatan atas kebohongan,  romantisme kejujuran, dan keberanian untuk mencintai.</p>
<p>Menikmati cerita sejarah tentang dua perempuan di tahun 1810 lewat panggung teater dan teknologi layar lebar, sebagai lesbian kita kembali diajak untuk merenung tentang apa yang menjadikan kita lesbian dan apa yang kita lakukan dengan kelesbianan ini. Untuk detil filmnya, silakan lihat resensi SepociKopi film <a href="http://sepocikopi.com/2007/09/05/childrens-hour-ketika-lesbian-masih-dianggap-aib/">The Children&#8217;s Hour</a>. Lesbian, semoga hidup kita semakin diperkaya dan diinspirasi oleh berbagai seni bergenre homoseksual yang artistik dan filosofis.</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2012</p>
<p>Keterangan gambar:<br />
1. Poster teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> untuk pertunjukkan di London tahun 2011<br />
2. Salah satu adegan film<em> The Children&#8217;s Hour</em><br />
3. Poster film <em>The Children&#8217;s Hour</em> dengan aktris Audrey Hepburn<br />
4. Poster pertunjukan teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> oleh mahasiswa di kampus lokal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/03/noktah-merah-the-childrens-hour-dari-sejarah-sampai-seni-pertunjukkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: My Secret Identity</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/02/te-lez-kop-my-secret-identity/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/02/te-lez-kop-my-secret-identity/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 16:37:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17814</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh: Alex
Seorang sahabat straight bertanya pada saya tentang mekanisme nickname lesbian. “Jadi semua orang punya nickname?”
“Iya,” jawab saya.
“Jadi kalau ketemuan atau ngobrol semuanya akan saling memanggil dengan nickname?”
“Iya,” jawab saya lagi.
“Hm, kok jadi seperti secret agent dengan code name rahasia gitu?” tanyanya. “Repot ya jadi lesbian,” katanya lagi setelah diam sejenak.
Mendadak saya jadi berpikir dia ada benarnya. Repot ya, jadi lesbian. Harus bikin nickname. Harus hati-hati ketemu dengan orang yang baru dikenal karena bisa jadi dia berniat jahat dengan melaporkan kita ke keluarga atau kantor kalau tahu kita lesbian. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/poci1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17815" title="© Copyright 2010 CorbisCorporation" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/poci1-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a> Oleh: Alex</p>
<p>Seorang sahabat <em>straight </em>bertanya pada saya tentang mekanisme <em>nickname</em> lesbian. “Jadi semua orang punya <em>nickname</em>?”<br />
“Iya,” jawab saya.<br />
“Jadi kalau ketemuan atau ngobrol semuanya akan saling memanggil dengan <em>nickname</em>?”<br />
“Iya,” jawab saya lagi.<br />
“Hm, kok jadi seperti<em> secret agent</em> dengan <em>code name </em>rahasia gitu?” tanyanya. “Repot ya jadi lesbian,” katanya lagi setelah diam sejenak.</p>
<p><span id="more-17814"></span>Mendadak saya jadi berpikir dia ada benarnya. Repot ya, jadi lesbian. Harus bikin <em>nickname</em>. Harus hati-hati ketemu dengan orang yang baru dikenal karena bisa jadi dia berniat jahat dengan melaporkan kita ke keluarga atau kantor kalau tahu kita lesbian. Harus punya kehidupan rahasia dengan nama macam Bond, Alex Bond.</p>
<p>Banyak di antara kita yang memiliki kehidupan ganda. Satu dengan nama asli dan satu dengan <em>nickname </em>lesbian. Kita membagi waktu kita dalam dua kehidupan. Kehidupan nyata lengkap dengan pencitraannya dan kehidupan lesbian juga lengkap dengan pencitraannya. Capek kan membayangkan punya 2 kehidupan semacam itu? Belum lagi kalau punya akun facebook dan twitter yang melengkapi kehidupan ganda tersebut. Bisa-bisa kerjaaan kita cuma<em> update</em> status setiap jamnya. Kapan kerja atau sekolahnya? Kapan urus keluarga atau berteman secara real?</p>
<p>Akhirnya kita terpaksa harus memilih salah satu agar bisa eksis total. Tidak jarang  yang memilih untuk menjalani hidup seperti James Bond bukan Ian Fleming. Karena menjalani hidup seperti agen rahasia flamboyan dengan identitas palsu itu lebih menyenangkan daripada harus bersusah payah dalam dunia realitas. Enak kan membayangkan hidup seperti Bond? Dikelilingi perempuan cantik, uang banyak, keren, dan selalu menang lawan penjahat.</p>
<p>Seperti James Bond yang sudah berganti “wajah” dari era Sean Connery hingga Daniel Craig. Demikan pula identitas lesbian kita. Saat identitas itu udah uzur atau terlalu nista lagi untuk kita pakai, kita tinggal bikin <em>nickname </em>baru. Mudah, kan? Eksistensi kita sebagai lesbian akan selalu <em>cool, </em>keren, dan hanyut dalam pencitraan. Padahal semuanya semu dan maya. Hingga&#8230; kita sendiri tidak mengenal siapa diri kita sesungguhnya.</p>
<p>Kita jadi sibuk dalam lingkup lesbian sampai lupa bahwa itu sebenarnya pencitraan yang awalnya kita buat sendiri. Pencitraan demi pencitraan itu kita buat dan olah terus-menerus sampai dia membayangi sosok realitas kita. Sampai ke tahap kita membenci dan tidak nyaman dengan kehidupan real kita karena dia<em> uncool</em>, tidak dikelilingi orang-orang lain yang memuja-muji, tidak bisa menang melawan kekejaman hidup, kurang terkenal, tidak sehebat yang diangan-angankan, dan tentu saja, ini bukan hidup yang kita impikan. Padahal tanpa sosok real kita&#8212;alias diri kita sendiri&#8212;sebenarnya <em>nickname</em> itu tak pernah ada.</p>
<p>Kita sibuk tenggelam dalam dunia ciptaan kita dengan segala kenikmatannya, semakin tenggelam di dalamnya tanpa keinginan untuk membuat dunia real kita dengan hidup yang lebih baik, hidup yang kita inginkan. Orang lupa dunia ciptaan itu nantinya akan kedaluwarsa dan mengantar kita pada realitas yang harus kita jalani dan tak mungkin kita enyahkan. Ini mirip seperti orang yang keranjingan bermain RPG atau Sims.</p>
<p>Pada akhirnya kita harus memilih di mana kita akan hidup. Akankah kita bertahan pada realitas semu ciptaan kita dan merasa diri hebat dengan segala kedigdayaan palsu yang kita peroleh dari sana? Atau menjadi sosok lesbian dengan kehidupan real yang sehat? Saya sering sekali melihat lesbian yang menyia-nyiakan potensi aslinya karena hidupnya lebih terfokus pada identitas lesbiannya yang dirasakannya lebih hebat dan bermakna.  Benarkah ada jenjang prestasi dalam pekerjaan sebagai &#8220;lesbian&#8221;? Hanya diri kita masing-masing yang bisa menjawabnya.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/02/te-lez-kop-my-secret-identity/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: Tergila-gila Pujian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/01/fabulezlycool-tergila-gila-pujian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/01/fabulezlycool-tergila-gila-pujian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 10:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17786</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Chossy Tan
Setiap tahun di hutan digelar kontes menyanyi antar binatang. Semua binatang boleh mengikuti audisi di wilayah masing-masing. Di pinggiran hutan nampak seekor babi yang lugu dan ndeso ikut mendaftar. Babi berhasil lolos audisi dan masuk ke babak duapuluh besar. Maka dia berangkat ke hutan. Babi  menunjukkan kemampuan menyanyinya di depan para juri. Para juri kagum dengannya. Mereka tidak menyangka Babi yang udik ini mampu memikat mereka dengan suaranya yang indah. Pujian tak henti-henti mengalir untuk Babi. Tentu saja Babi senang bukan main.
Babi terlena dengan pujian yang terus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/compliment.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17787" title="compliment" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/compliment-296x300.jpg" alt="" width="296" height="300" /></a>Oleh: Chossy Tan</p>
<p>Setiap tahun di hutan digelar kontes menyanyi antar binatang. Semua binatang boleh mengikuti audisi di wilayah masing-masing. Di pinggiran hutan nampak seekor babi yang lugu dan ndeso ikut mendaftar. Babi berhasil lolos audisi dan masuk ke babak duapuluh besar. Maka dia berangkat ke hutan. Babi  menunjukkan kemampuan menyanyinya di depan para juri. Para juri kagum dengannya. Mereka tidak menyangka Babi yang udik ini mampu memikat mereka dengan suaranya yang indah. Pujian tak henti-henti mengalir untuk Babi. Tentu saja Babi senang bukan main.</p>
<p><span id="more-17786"></span>Babi terlena dengan pujian yang terus berdatangan, sehingga dia merasa semakin tidak percaya diri dengan kemampuannya. Saking tidak percaya dirinya, bagai minum air laut, dia terus menerus dahaga akan pujian dan berdoa agar peserta lain tidak usah dipuji. Dia menganggap dirinya paling jago setelah dipuji dan sangat yakin akan memenangkan kontes. Babi menjadi semakin asyik dengan acara jumpa fans dan sibuk berfoto-foto dengan para pengagumnya daripada berlatih untuk mempersiapkan diri babak selanjutnya.</p>
<p>Sampailah pada babak final yang diikuti lima peserta. Sorak-sorai para penonton mengelu-elukan Babi. Babi semakin terfokus pada pujian. Ketika dia tampil, Babi kalut dan kebingungan karena lupa syair lagu.  Akhirnya babi tersingkir dalam  kontes tersebut.</p>
<p><em>Pujian</em>. Siapa sih yang tidak suka dipuji? Tidak ada seorang pun yang menolak pujian, meskipun mulut berkata tidak, tetapi hati berbunga-bunga. Jujur saja, kita suka dihargai bahkan dikagumi. Itulah mengapa, pujian sebenarnya bukan permen manis, tapi tantangan bagi kita untuk tetap menjaga kemampuan dan tak terjebak dalam kehausan pujian.</p>
<p>Saya juga menyukai pujian, apalagi ketika tulisan saya dipuji mbak Bening. Saya sempat sangsi, benarkah  mbak Bening memuji tulisan saya? Tidak salah tuh? Itu adalah reaksi awal saat membaca komentar darinya yang mengatakan tulisan saya membuatnya tercekat. Lebih lagi, ketika beliau berkata kalau tulisan saya bisa menembus media umum jika dipoles sedikit lagi.  Membayangkan saja saya tidak berani, mengingat saya masih terlalu dini untuk disebut penulis.</p>
<p>Masih teringat jelas ketika pertama kali saya  belajar menulis pada setahun yang lalu. Itu sedikit memaksa karena saya benar-benar buta soal tulis-menulis. Beruntung, saat itu saya mengenal dua orang penulis SepociKopi. Tanpa malu, saya bilang ke mereka, &#8220;Ajari saya menulis.&#8221; Gayung pun bersambut, mereka berdua mengajari saya dasar-dasar menulis. Di antaranya bagaimana menentukan tema, menyusun kalimat, cara menempatkan tanda baca, kapan harus mengganti paragraf, dan menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Meskipun begitu saya nggak terlalu mudeng  juga, maklum Pentium Satu.</p>
<p>Namun saya tidak menyerah. Saya bertekun diri untuk terus menulis. Dengan semangat  dan keinginan yang menggebu untuk belajar, akhirnya pelan-pelan saya bisa merangkai kata-kata dengan lebih baik. Dan ternyata&#8230; menulis itu mengasyikkan. Saya menjadi ketagihan dibuatnya.</p>
<p>Ketekunan saya berbuah manis. Tulisan saya tampil di SepociKopi dan beberapa waktu lalu mendapat pujian dari mbak Bening. Saya girang dan bangga. Bayangkan, menulis adalah hal baru bagi saya.  Tapi eits, tunggu dulu. Kegirangan saya harus cukup sampai di sini. Saya tidak mau pujian itu membuat saya kelaparan akan pujian terus menerus, karena sebagai penulis yang masih hijau mendapat pujian seperti itu kadang membuat terlena. Hal tersebut akan memicu rasa cepat puas diri dan kebanggaan semu.</p>
<p>Saya tidak ingin takabur dengan pujian itu. Saya ingin tulisan saya benar-benar muncul di media dan diapresiasi kalangan yang lebih luas (lagi). Pujian  yang saya dapatkan saat ini menjadi  cambuk semangat untuk menghasilkan tulisan yang lebih bagus, bukannya berpesta pora mabuk kepuasaan. Saya  masih harus belajar lebih tekun karena masih banyak teknik menulis saya yang masih lemah.</p>
<p>Pujian selayaknya tidak menjadikan saya pongah tetapi seharusnya membuat saya semakin rendah hati untuk terus belajar, tidak cepat puas diri, dan lebih bersemangat menggali potensi  untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Siapa lesbian di sini yang tergila-gila disanjung terus menerus?</p>
<p>@Chossy Tan, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/01/fabulezlycool-tergila-gila-pujian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Umur Dewasa dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/31/tajuk-umur-dewasa-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/31/tajuk-umur-dewasa-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 11:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17776</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Sultan Muhammad al-Fatih Murrad atau Sultan Muhammad II menjelang usianya yang ke-22 tahun harus menggantikan ayahnya. Waktu itu 18 Februari 1451 M. Dalam catatan sejarah Ad-Daulah al-Utsmaniyyah menceritakan bahwa sejak muda Sultan Muhammad II yang gemar menyerap dan menangkap ilmu pengetahuan ini merupakan orang muda yang sangat aktif,  masa mudanya tidak sedikit pun dibiarkan sia-sia. Semangat belajarnya tinggi, keinginannya menyatukan banyak wilayah di sekitar kerajaan ayahnya sangat kuat. Satu hasratnya yang terbesar adalah menaklukkan Konstantinopel.
Untuk impian itu ia menyiapkan 250.000 pasukan terlatih. Ia kerahkan ulama dan para ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/how-old-are-you-really-pal.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-17777" title="how-old-are-you-really-pal" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/how-old-are-you-really-pal.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Sultan Muhammad al-Fatih Murrad atau Sultan Muhammad II menjelang usianya yang ke-22 tahun harus menggantikan ayahnya. Waktu itu 18 Februari 1451 M. Dalam catatan sejarah <em>Ad-Daulah al-Utsmaniyyah </em>menceritakan bahwa sejak muda Sultan Muhammad II yang gemar menyerap dan menangkap ilmu pengetahuan ini merupakan orang muda yang sangat aktif,  masa mudanya tidak sedikit pun dibiarkan sia-sia. Semangat belajarnya tinggi, keinginannya menyatukan banyak wilayah di sekitar kerajaan ayahnya sangat kuat. Satu hasratnya yang terbesar adalah menaklukkan Konstantinopel.</p>
<p><span id="more-17776"></span>Untuk impian itu ia menyiapkan 250.000 pasukan terlatih. Ia kerahkan ulama dan para insinyur ke medan perang, bahu membahu memproduksi  meriam yang salah satunya diberi nama meriam Sultan Muhammad. Konon, bobotnya mencapai ratusan ton dan membutuhkan puluhan lembu untuk menariknya. Sultan Muhammad sangat serius dengan cita-citanya tersebut.</p>
<p>Kota Konstantinopel merupakan sebuah kota laut, yang tak mungkin dikepung kecuali dari lautan, maka ia menyiapkan sekitar 400 kapal. Seluruh persiapan itu berlangsung hingga akhirnya pada 6 April 1453 M, pasukan itu telah mendekati Konstantinopel. Pukul satu dini hari, dipimpin langsung olehnya, Sultan muda ini melakukan serangan umum ke kota Konstantinopel, kota ini benar-benar takluk di tangan seseorang yang umurnya baru genap 24 tahun.</p>
<p>Rasanya agak sulit membayangkan seseorang berusia 24 tahun sanggup memimpin pasukan dalam jumlah besar untuk menaklukkan sebuah kota yang sangat kuat itu. Seseorang dalam usia yang masih sangat belia, memiliki tingkat kedewasaan yang menakjubkan sejarah masa lalu dengan kematangan dan jiwa kepemimpinan yang luar biasa.</p>
<p>Berfakta pada sejarah Indonesia, Sultan tersebut tidak sendirian. Di tahun 1928 di Rotterdam, Bung Hatta yang genap berusia 26 tahun ditangkap dan disidang di Den Haag. Saat itu beliau membacakan pledoi,  “Hanya satu tanah air yang dapat disebut Tanah Airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku.” Sebuah pembelaan yang mencerminkan kedewasaaan, semangat, prinsip, dan kematangan jiwa.</p>
<p>Bung Hatta tentu tidak sendirian, banyak tokoh lain yang telah mengisi usia muda mereka dengan semangat kepahlawanan. Soekarno sejak usia 21 tahun telah aktif dalam pergerakan dan mulai menulis rutin di koran Oetoesan Hindia. Bung Tomo yang menyemangati pejuang republik dengan pidatonya di RRI pada November 1945 berusia 24 tahun.</p>
<p>Dari fakta di atas menunjukkan betapa usia atau umur tidak bisa dijadikan alat untuk menunjukkan bawah seseorang telah dewasa atau tidak. Banyak sekali hal-hal yang menunjukkan orang yang berumur dewasa tidak menunjukkan seseorang itu dewasa. Bahkan justru orang yang berumur muda terkadang lebih memiliki pikiran yang cukup dewasa yang seharusnya dimiliki orang yang berumur cukup.</p>
<p>Pada tahun 2002 Chaplin, seorang psikolog mengenalkan secara  psikologi dua jenis usia yakni <em>chronological age</em> (usia kronologis) dan <em>mental age </em>(usia mental). <em>Chronological age</em> atau disebut juga usia kalender adalah usia seseorang yang dihitung sejak lahir sampai waktu tertentu. Menurut Chaplin, dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang ditanya berapa usianya, pada umumnya dijawab dengan usia kronologis. Sedangkan<em> mental age </em>adalah usia yang merujuk pada tingkat kemampuan mental seseorang setelah dibandingkan dengan kelompok seusianya.</p>
<p>Menurutnya lagi untuk menentukan usia mental seseorang dibutuhkan metode tertentu, biasanya secara formal dengan menggunakan tes kemampuan psikologis. Dengan demikian penentuan usia mental seseorang secara formal membutuhkan rekomendasi ahli yang berkecimpung di bidang pengukuran psikologis. Usia mental seseorang tidak selalu sejajar dengan usia kronologisnya. Bisa saja seseorang memiliki usia mental yang lebih tinggi atau mungkin lebih rendah dari usia kronologisnya.</p>
<p>Mereka yang memiliki usia mental lebih tinggi dari usia kronologisnya, maka dalam tampilan perilakunya akan terlihat lebih dewasa dan lebih matang dibanding kelompok seusianya. Sebaliknya mereka yang memiliki usia mental yang lebih rendah dari usia kronologisnya, maka dalam tampilan perilakunya terlihat kurang dewasa dan kurang matang dibanding orang-orang seusianya. Pernah lihat orang-orang yang kelihatannya usia berusia tinggi, namun ternyata tingkah lakunya tak berbeda dengan anak-anak?</p>
<p>Dalam berbagai banyak definisi dan penjabaran psikologi dapat disimpulkan kedewasaan meliputi kemampuan untuk mengendalikan amarah, menyelesaikan perbedaan-perbedaan tanpa kekerasan atau perusakan. Kedewasaan adalah kesabaran, ketekunan, kemampuan untuk menghadapi ketidak nyamanan, kemampuan berhadapan dengan frustrasi, termasuk ketidaknyamanan atau kekalahan tanpa keluhan. Kedewasaan juga adalah kerendahan hati, serta jiwa besar untuk mengatakan,&#8221;saya salah&#8221;. Kedewasaan adalah kemampuan untuk membuat keputusan, kemampuan untuk berdiri teguh atas keputusan yang telah dibuat, juga berarti bahwa saya dapat diandalkan.  Kedewasaan adalah sebuah seni hidup damai.</p>
<p>Berdasarkan pegangan tersebut, bagi lesbian apakah kedewasaan itu penting? Apakah kedewasaan bagi seorang lesbian sangat dibutuhkan? Jelas bahwa kedewasaan  pada diri lesbian sangat dibutuhkan untuk menyokong kualitas hidup. Dengan kedewasaaan, kaum lesbian mampu menyelesaikan masalah dengan bijak. Pengalaman yang dukung dengan pengetahuan dan keinginan belajar yang tinggi menjadi hal penentu seseorang menjadi dewasa. Dengan banyak belajar dari kesalahan yang sudah diperbuat, melihat pengalaman orang lain, membandingkannya dengan referensi dan bacaan dari keilmuwan yang dimiliki, kaum lesbian seharusnya bisa meningkatkan kedewasaan tersebut demi menjadi lesbian yang berkarya di masyarakat.</p>
<p>Berdasarkan fakta sejarah di atas, tidak penting apakah kita lesbian berusia muda, parobaya, atau tua, jika kehebatan Sultan Muhammad II masih jauh sebatas mimpi, semangat bung Hatta baru ditimang-timang, kepercayaan diri Soekarno secuil pun tak menular pada pribadi kita, atau gampangnya jika sisi perubahan hidup setiap tahunnya menurun. Bayangkan jika kaum lesbian hanya menjalani  keseharian dengan banyak keluhan, kerap menggantungkan hidup pada orang lain, selalu mengharapkan rasa kasihan, tidak mandiri atau berdikari, semena-mena kepada orang lain,&#8230; Hmmm, barangkali sudah waktunya kita bertanya pada diri sendiri, “Dewasakah saya?”</p>
<p>Di bulan Januari, saat SepociKopi merayakan ulang tahun kronologisnya yang kelima, bayangkan usia mental situs ini. Dengan menyentuh hati banyak orang, menolong mereka yang kebingungan, merengkuh mereka yang tidak tahu mau melangkah ke mana, menyentil kaum lesbian, memberi terus menerus tanpa menghitungkan apa-apa, dan membuat pembaca tertawa lagi dan lagi, saya menganggap usia mental situs SepociKopi melebihi usia kronologisnya. Bagaimana dengan diri kita sendiri? Sudahkah kita bercermin bersama-sama, wahai lesbian?</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/31/tajuk-umur-dewasa-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eits, Ini Privasiku!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/31/eits-ini-privasiku/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/31/eits-ini-privasiku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 10:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17771</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Adette Curly
Suatu hari, seorang kawan lesbian bertanya mengenai hal-hal pribadi. Misalnya, bagaimana rupa kekasih saya, siapa namanya, apa nama samarannya, mana akun jejaring sosialnya, mengapa dia tak pernah memberi komentar pada status-status Facebook saya, dan lain sebagainya. Anda pernah mengalami kejadian semacam ini? Jika ya, Anda tidak sendirian.
Mungkin dari sekian banyak teman lesbian, saya yang termasuk sangat pelit membeberkan identitas sang pujaan hati. Bagaimana pun caranya mendesak, saya tidak akan pernah membocorkan informasi sekecil apa pun.
Tujuan pemikiran saya sih, sebenarnya sangat sederhana. Hanya ingin melindungi privasi si Dia. Posisinya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/social-media-privacy.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17772" title="social-media-privacy" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/social-media-privacy-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Oleh: Adette Curly</p>
<p>Suatu hari, seorang kawan lesbian bertanya mengenai hal-hal pribadi. Misalnya, bagaimana rupa kekasih saya, siapa namanya, apa nama samarannya, mana akun jejaring sosialnya, mengapa dia tak pernah memberi komentar pada status-status Facebook saya, dan lain sebagainya. Anda pernah mengalami kejadian semacam ini? Jika ya, Anda tidak sendirian.</p>
<p><span id="more-17771"></span>Mungkin dari sekian banyak teman lesbian, saya yang termasuk sangat pelit membeberkan identitas sang pujaan hati. Bagaimana pun caranya mendesak, saya tidak akan pernah membocorkan informasi sekecil apa pun.</p>
<p>Tujuan pemikiran saya sih, sebenarnya sangat sederhana. Hanya ingin melindungi privasi si Dia. Posisinya yang sangat penting di lingkungan pekerjaan, membuatnya harus ekstra hati-hati dalam melindungi nama baik dan menjaga sikap. Terlebih lagi dalam lingkungan keluarganya, yang belum dapat menerima hal-hal di luar norma masyarakat. Saya tidak mau mengambil resiko &#8211; bila suatu saat &#8211; ketika menunjukkan foto Sang Doi, ternyata ada yang mengenalinya. <em>No no, it&#8217;s too risky for her!</em></p>
<p>Apakah kekhawatiran saya ini berlebihan? Menurut saya tidak. Bahkan sangatlah wajar. Kami adalah lesbians <em>in the closet</em>, dan saya merasa memiliki kewajiban untuk turut menjaga nama baiknya. Sebutlah saya &#8220;bermain aman&#8221;. Namun bukankah rasa aman itu yang menciptakan kenyamanan dalam sebuah hubungan? Apakah satu-satunya bukti kemesraan sepasang kekasih adalah dengan berbalas pesan pribadi di <em>wall </em>Facebook untuk kemudian diperlihatkan pada khalayak umum? Mungkin itu cocok bagi sebagian orang. Tapi tidak bagi kami.</p>
<p>Status-status di Facebook khusus lesbian saya hanyalah tempat untuk menyalurkan perasaan, uneg-uneg, yang tak dapat saya sampaikan secara langsung di “dunia nyata”. Saya bahkan tidak peduli, apakah pacar membacanya atau tidak. Memang, pacar tidak memiliki Facebook khusus lesbian yang memungkinkan kami bertukar pesan di <em>wall</em>. Menurutnya ada cara berkomunikasi yang lebih efektif ketimbang mengumbar kemesraan di depan publik. Setiap hari kami terhubung melalui media telpon dan <em>messenger</em>. Kami juga bersua di dunia nyata. Saling menggengam. Menikmati langit bertabur gemintang hingga fajar menjelang. Bila keberadaannya yang dipertanyakan, dengan mantap saya akan berkata, <em>she&#8217;s real!<br />
</em><br />
Tak saya pungkiri, pastilah menyenangkan bila ada teman yang bertanya dan memperhatikan. Namun batasilah keingintahuan itu. Jangan sampai membuat orang yang ditanyai merasa gerah.  Hargailah privasi orang lain. Tidak semua orang &#8211; lesbian maupun hetero &#8211; merasa senang bila dicecar terus menerus dengan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya pribadi, yang ujung-ujungnya malah terkesan usil.</p>
<p>Mari kita belajar mengendalikan sikap diri sendiri dan jangan repot mengurusi urusan pribadi orang lain. Coba alihkan energi itu untuk hal lain. Menggali informasi lebih dalam lagi pada pasangan masing-masing, misalnya. Siapa tahu ada yang belum terungkap. Dengan begitu kan, jadi bisa lebih mengenali pasangan.</p>
<p>@Adette Curly, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/31/eits-ini-privasiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamu Lesbian Ya?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/28/kamu-lesbian-ya/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/28/kamu-lesbian-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 11:23:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[stereotipe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17725</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Frizzy Jo
Siapa di antara pengunjung Sepocikopi yang masih bergidik mendengar orang di sebelah kita mengucapkan kata lesbian? Atau jangan-jangan masih ada yang langsung lari terbirit-birit ketika ada yang dengan gamblangnya berkata, “Jalan kamu macho banget sih. Jangan-jangan kamu lesbian ya?!”
Beberapa minggu lalu seorang teman bercerita kepadaku. Jantungnya hampir saja jatuh lepas dari pengaitnya (memangnya ada ya pengait jantung?). Awalnya ia menyapaku dan menanyakan hal-hal yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar di dunia lesbian.
“Jo, kamu pakai jam tangan, nggak?”
“Pakai. Kenapa memangnya?”
“Di sebelah mana? Kanan atau kiri?”
Mendengar pertanyaan kedua ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/poci4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17727" title="© Copyright 2011 CorbisCorporation" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/poci4-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Oleh: Frizzy Jo</p>
<p>Siapa di antara pengunjung Sepocikopi yang masih bergidik mendengar orang di sebelah kita mengucapkan kata lesbian? Atau jangan-jangan masih ada yang langsung lari terbirit-birit ketika ada yang dengan gamblangnya berkata, “Jalan kamu macho banget sih. Jangan-jangan kamu lesbian ya?!”</p>
<p>Beberapa minggu lalu seorang teman bercerita kepadaku. Jantungnya hampir saja jatuh lepas dari pengaitnya <em>(memangnya ada ya pengait jantung?). </em>Awalnya ia menyapaku dan menanyakan hal-hal yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar di dunia lesbian.</p>
<p><span id="more-17725"></span>“Jo, kamu pakai jam tangan, nggak?”</p>
<p>“Pakai. Kenapa memangnya?”</p>
<p>“Di sebelah mana? Kanan atau kiri?”</p>
<p>Mendengar pertanyaan kedua ini, aku langsung menebak bahwa temanku ini baru saja memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan <em>gaydar</em>. Isengku kambuh. Langsung saja kujawab dengan cueknya.</p>
<p>“Sebelah kanan dong. Aku kan lesbian.”</p>
<p>Niatnya sih mengisengi eh ternyata temanku ini super duper polos. “Oooh, jadi benar ya kalau memakai jam tangan di sebelah kanan itu memang lesbian… hmm…”</p>
<p>“Lagi ngedeketin cewek tapi ragu dia itu lesbian atau bukan ya?”</p>
<p>“Emm… bukan gitu, Jo. Emm… kayaknya anak bosku lesbian juga deh.”</p>
<p>“Heh? Tahu dari mana?”</p>
<p>“Tadi saat kunjungan ke pabrik, kami jalan berdua menyusul rombongan yang sudah jalan duluan. Eh, tiba-tiba dia nembak aku “Kamu lesbian ya?” Mau copot jantungku, Jo.”</p>
<p>Aku serta merta tertawa mendengar ceritanya. Ceritanya sudah basi. Sumpah. Tapi entah mengapa selalu saja memberikan kesegaran kalau ada yang bercerita tentang betapa parnonya mereka menghadapi situasi seperti yang dialami temanku ini.</p>
<p>“Terus kamu jawab apa?”</p>
<p>“Ya aku tanya dia “Kenapa memangnya?” Eh dia malah senyum-senyum bikin penasaran dan bilang, “Tuh, pakai jam tangannya di sebelah kanan.”</p>
<p>Aku pernah mengalami apa yang dialami oleh temanku. Tidak seekstrem itu sih. Tapi tetap saja mendengar ada yang mengucapkan kata lesbian, rasanya diriku mengerucut mengecil seperti iklan krim penghilang bekas luka yang ada di media elektronik. Kemudian seiring perjalanan hidupku, aku belajar untuk hidup berdamai dengan sisi lesbianku.</p>
<p>Banyak yang bertanya kepadaku, bagaimana sih caranya berdamai. Dan aku hanya bisa menjawab, “Terimalah bahwa kamu memang seorang lesbian.” Menerima bahwa diri kita lesbian bukan lantas kita kemudian mencari sejuta cara untuk hidup sebagai lesbian. Aku pribadi memilih untuk me-manusiawi-kan sisi lesbianku dengan cara menganggapnya sebuah hal yang biasa saja, bukan sebuah hal yang istimewa dan harus dilebih-lebihkan.</p>
<p>Menjadi lesbian bukanlah pilihan, namun bagaimana menjalani kehidupan sebagai lesbian adalah pilihan. Hidup selibat dalam kehidupan lesbian adalah pilihan. Mencari pasangan perempuan untuk menjalani kehidupan lesbian berpasangan juga merupakan pilihan. Mau menjadi lesbian yang tertutup nggak ada yang melarang, mau terbuka ya silakan terbuka. Semua kembali kepada pilihan masing-masing pribadi.</p>
<p>Masih banyak hal sederhana yang mungkin sebaiknya lebih diperhatikan dibandingkan bila hidup kita terus menerus diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang isinya melulu tentang lesbian. Lebih baik memikirkan sisa hidup orangtua yang masih tersisa untuk kita isi dengan kebahagiaan sebelum mereka tutup usia dan meninggalkan penyesalan yang mendalam karena selama ini kita sibuk memikirkan ke-lesbian-an kita.</p>
<p>Masih ada sahabat-sahabat di luar sana yang menerima Jo sebagai seorang Jo, bukan Jo sebagai hetero atau Jo sebagai lesbian. Masih ada tugas-tugas kantor atau kuliah yang tidak bisa diselesaikan dengan ke-lesbian-an kita. Masih banyak hal yang mungkin ada di sekitar kita tapi kita menutup mata terhadapnya.</p>
<p>Jadi nggak usah terlalu lebay menghadapi ke-lesbian-an kita. Jadi ketika temanku bertanya kepadaku bagaimana responsku jika aku ada di posisi dia waktu itu, kira-kira akan begini ceritanya,</p>
<p>“Jo, kamu lesbian ya?”</p>
<p>“Kenapa? Jalanku keren kayak jagoan ya? Atau kamu lihat semua cewek-cewek pada ngeliatin aku terus-menerus? Udah, dimaklumi aja, kan pesonaku bukan cuma buat cowok aja tapi juga buat cewek, kucing juga boleh kalau mau bla bla bla… “</p>
<p>Dan aku jamin anak bosku nggak akan punya kesempatan buat senyum-senyum mikir aku ini beneran lesbian atau bukan karena sibuk mikirin gimana cara yang asyik buat nyumpal mulutku yang super bawel!</p>
<p>@Frizzy Jo, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/28/kamu-lesbian-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Kesepian Oh Kesepian!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/26/te-lez-kop-kesepian-oh-kesepian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/26/te-lez-kop-kesepian-oh-kesepian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 09:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17675</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tya Andriani
&#8220;Saya kesepian. Kenalan dong.&#8221;
Selalu ada kata-kata &#8220;kesepian&#8221; dan ajakan &#8220;kenalan&#8221; di nyaris semua Facebook atau situs lesbian. Menurut kakak-kakak redaksi SepociKopi, Guestbook, komentar, mention Twitter, dan wall Facebook SepociKopi juga dihajar oleh puluhan (atau ratusan?) lesbian yang mengatakan kesepian dan mengajak kenalan. Menurut SepociKopi, media ini memiliki aturan main bagi setiap postingan, sehingga pesan-pesan &#8220;kesepian&#8221; dan &#8220;kenalan&#8221; itu sebagian dihapus jika tidak sesuai dengan rules dan regulation SepociKopi.
Saya tidak mau membahas peraturan SepociKopi di sini, namun saya terusik dengan komen-komen &#8220;kesepian&#8221; yang sering ditebarkan oleh lesbian. Saya berbagi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/lonely-window.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17678" title="lonely window" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/lonely-window-260x300.jpg" alt="" width="260" height="300" /></a>Oleh: Tya Andriani</p>
<p>&#8220;Saya kesepian. Kenalan dong.&#8221;</p>
<p>Selalu ada kata-kata &#8220;kesepian&#8221; dan ajakan &#8220;kenalan&#8221; di nyaris semua Facebook atau situs lesbian. Menurut kakak-kakak redaksi SepociKopi, Guestbook, komentar, mention Twitter, dan wall Facebook SepociKopi juga dihajar oleh puluhan (atau ratusan?) lesbian yang mengatakan kesepian dan mengajak kenalan. Menurut SepociKopi, media ini memiliki aturan main bagi setiap <em>postingan</em>, sehingga pesan-pesan &#8220;kesepian&#8221; dan &#8220;kenalan&#8221; itu sebagian dihapus jika tidak sesuai dengan <em>rules </em>dan <em>regulation </em>SepociKopi.</p>
<p><span id="more-17675"></span>Saya tidak mau membahas peraturan SepociKopi di sini, namun saya terusik dengan komen-komen &#8220;kesepian&#8221; yang sering ditebarkan oleh lesbian. Saya berbagi cerita dulu di sini. Saat saya menyadari orientasi seksual saya, yang saya lakukan pertama kali adalah berusaha mengenali diri saya sendiri. Bagaimana cara mengenali diri saya sendiri? Dengan mencari-cari bacaan yang berhubungan dengan homoseksual. Untunglah saya menemukan SepociKopi sehingga bacaan-bacaan ilmiah dan ringan yang saya butuhkan untuk mengenali diri saya sendiri sudah tersedia dengan mudah.</p>
<p>Saya tidak begitu saja serta merta menulis untuk SepociKopi. Butuh waktu yang lama untuk menyesap artikel-artikel yang tertulis di sini, menelannya, membiarkannya menjadi gizi bagi diri saya sebelum saya memutuskan untuk &#8220;berbagi&#8221;. Saya setuju dengan pernyataan salah satu penulis di SepociKopi yang mempertanyakan mengapa lesbian serta merta &#8220;ingin menulis&#8221; untuk SepociKopi, bukannya &#8220;membaca&#8221; dulu sehingga dapat mengenal dirinya sendiri. Terlepas apakah tulisannya diterima redaksi karena sesuai dengan standar SepociKopi, saya juga mempertanyakan lesbian yang langsung tersetrum menulis dan berbicara, sebelum diam, membaca, dan mendengarkan.</p>
<p>Proses menerima orientasi seksual seharusnya dimulai dari proses mengenali diri sendiri. Ibarat orang yang kelaparan dan haus, yang harus dilakukan pertama kali adalah makan makanan yang bergizi sehingga tubuhnya kuat dan sehat. Ironisnya, kalau tubuh sendiri belum kuat dan sehat, bagaimana caranya bisa membantu orang lain menyuapkan makanan ke mulut mereka? Bagaimana lesbian bisa menjadi lesbian yang sehat jiwa raga jika hal pertama yang dilakukan bukannya makan, melainkan ikut-ikutan ribet mengurus orang lain makan?</p>
<p>Untuk pesan &#8220;Tolong saya kesepian, saya mau kenalan&#8221;, nasehat saya sebenarnya adalah kesepian takkan bisa diisi dengan bersama-sama orang baru, atau bersama-sama kenalan lesbian baru. Kesepian memiliki sifat menetap. Ada orang yang berusaha mengusir kesepiannya dengan pindah kota, pindah negara, pindah pasangan, pindah teman, dan lain-lain; namun itu hanyalah jawaban instan. Untuk jangka panjang, kesepian akan tumbuh lagi di kota lain, di negara lain, di pasangan lain, di sahabat-sahabat/relasi lain. Aktvitas mengusir kesepian dengan mengubah sahabat/tempat/lingkungan hanya obat yang tak memiliki kesembuhan jangka panjang.</p>
<p>Bagaimana mengusir kesepian yang dimiliki oleh kaum lesbian? Dengan melakukan penguatan diri! Bagaimana cara melakukan penguatan diri? Dengan banyak membaca tulisan-tulisan positif, bermutu, ilmiah yang berhubungan dengan ilmu-ilmu dan dunia homoseksualitas. Membaca, menonton seperti mengisi otak/pikiran kita dengan gizi tinggi, sehingga ketika perasaan-perasaan kesepian itu hadir, maka perasaan takkan membuat pikiran menjadi berkabut. Jika pikiran sehat, maka perasaan pun menjadi lebih sehat. Apalagi dengan tulisan/artikel yang mendukung homoseksualitas, lesbian akan tahu bahwa kita tidak sendirian. Dengan kesimpulan tersebut, lesbian takkan perlu mengusir kesepian dengan mencari-cari relasi/teman/pacar sesama lesbian lain.</p>
<p>Jika pikiran juga sudah sehat dan segar, maka lesbian juga tidak perlu memposting komen-komen di mana-mana yang terdengar putus asa, memelas, dan menyedihkan, seperti &#8220;Kesepian. Butch mencari Femme yang mau mengerti isi hati gue luar dalam&#8221;. Atau &#8220;Jomblo kesepian. Mencari Andro yang mau menerima diri aq apa adanya.&#8221; Atau &#8220;Femme membutuhkan belaian butch untuk mengusir kesepian q di dunia ini.&#8221; Atau &#8220;No label mencari no label atau Femme atau Andro, ASAP, butuh persahabatan sejati. Syukur-syukur menjadi kekasih hati.&#8221; Atau &#8220;Beloq yang kesepian. Mencari beloqer lain.&#8221;</p>
<p>Membaca komen-komen seperti itu, lesbian mana yang tak merasa terhina? Sejujurnya, saya merasa malu sekali.</p>
<p>@Tya Andriani, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/26/te-lez-kop-kesepian-oh-kesepian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: Lilin-lilin Kecil</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/25/fabulezlycool-lilin-lilin-kecil/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/25/fabulezlycool-lilin-lilin-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 04:15:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17650</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lo
Ada satu filosofi yang kusuka tentang lilin. Dunia telah memberi sosok-sosok lilin yang setia menerangi sekelilingnya, sekali pun api perlahan akan menghabisinya. Bagi mereka yang hidup dalam terang, lilin tak begitu berarti. Tapi bagi hening dan gelapnya malam, lilin menjadi hadiah tak terkira.
Di dunia kecil ini, Sepocikopi adalah lilin itu. Dan kita, kaum lesbian, yang hidup dalam dunia yang dibuat gelap, menjadi elegan oleh cahaya yang berpendar. Sebagai generasi SepociKopi, aku belum pernah tahu bagaimana rasanya  menjadi lesbian sebelum era ini. Membayangkannya saja sudah  membuatku lemas.
Sejak dua ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/candle.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-17651" title="candle" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/candle-240x300.gif" alt="" width="240" height="300" /></a>Oleh: Lo</p>
<p>Ada satu filosofi yang kusuka tentang lilin. Dunia telah memberi sosok-sosok lilin yang setia menerangi sekelilingnya, sekali pun api perlahan akan menghabisinya. Bagi mereka yang hidup dalam terang, lilin tak begitu berarti. Tapi bagi hening dan gelapnya malam, lilin menjadi hadiah tak terkira.</p>
<p><span id="more-17650"></span>Di dunia kecil ini, Sepocikopi adalah lilin itu. Dan kita, kaum lesbian, yang hidup dalam dunia yang dibuat gelap, menjadi elegan oleh cahaya yang berpendar. Sebagai generasi SepociKopi, aku belum pernah tahu bagaimana rasanya  menjadi lesbian sebelum era ini. Membayangkannya saja sudah  membuatku lemas.</p>
<p>Sejak dua jam lalu aku bergulat hebat. Satu sisi, aku diajak bersikap pesimis tentang ulang tahun SepociKopi. &#8220;Pesta telah usai, kado sudah banyak, kamu terlambat,&#8221; kata suara hatiku. Tapi bagian hati yang lain menumpahkan rasa tak enak yang tidak terkira. &#8220;Tidak adakah hadiah kecil untuk sosok yang telah memberimu seteguk kedamaian?&#8221; begitu desaknya.</p>
<p>Baiklah. Izinkan aku memberi kado di kala pesta sudah dibereskan dan SepociKopi sudah bergegas untuk lari di hari selanjutnya. Pelan, kurangkai kata-kata di Blackberry. Izinkan aku mematikan lampu dan menyalakan lilin. Izinkan aku menghadiahkan lilin untuk kita semua. Ini bukan lilin biasa. Tidak dijual di mana pun dan tidak bisa dibeli.</p>
<p>Rasa memiliki dari para penghuni SepociKopi membuat lilin-lilin ini takkan pernah habis. Keberagaman sosok di dalamnya telah menciptakan suasana yang berbeda dari tiap cahayanya. Tulisan-tulisan SepociKopi yang berpendar seperti api, begitu remang dan halus, menenangkan hati yang gundah. Di lain waktu, apinya merah menyala, sungguh menghangatkan jiwa. Ada kalanya, sinarnya temaram syahdu, mendekatkan hati pada Sang Pencipta. Dengan kerlipnya, lilin membantu untuk mengenali lorong-lorong gelap yang menyesakkan. Di saat tertentu, apinya menyentak panas, mengingatkan pada siapa saja yang mencoba bermain dengan api. Walau kecil, lilin tetaplah dihidupi oleh api yang mampu membakar hutan ribuan hektar.</p>
<p>Bergantian aku, kamu, kita menjaga lilin ini supaya tidak padam. Satu persatu sosok datang dan pergi. Ada yang turut menyalakan api, ada yang sebagian datang untuk mencari cahaya. SepociKopi adalah lilin-lilin kecil itu. Aku tak rela SepocikKopi menjadi lilin yang lumer dan kehilangan api sinarnya di masa depan. Lilin-lilin kecil ini tak boleh habis. Aku, kamu, kita semua bersatu, menjaga lilin ini agar tidak padam, dan membiarkan dunia kecil ini menjadi terang oleh kehadirannya.</p>
<p>Lilin-lilin kebanggaanku sudah berumur lima tahun. Bahkan sejak tiga jam lalu aku sudah menyerah ketika menyusun kata-kata untuk menggambarkan rasa banggaku pada deretan lilin milik SepociKopi. Super duper bangga? Bangga banget? Bangga sekali? Bangga setengah mati? Bangga bukan main? Ah, semuanya kurang untuk mewakili kebanggaan ini. Pokoknya aku yang akan protes kalau mereka yang berjasa besar memajukan umat lesbian ini tidak dimasukkan ke surga <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/sJ8RgMq-rMo" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Karena lilin tidak bisa berbicara, biar kutebak salah satu permintaannya di ulang tahun SepociKopi kali ini. Bisakah kita mengejanya? Selain meminta agar kita menjaganya supaya tak pernah padam, ia juga meminta kita menjadi sepertinya. Ia telah menbantu, mendidik, dan menjaga kita sedemikian rupa, maka ilmu dan cinta itulah yang harus kita sampaikan pada dunia. Kaum lesbian harus juga siap menjadi sosok lilin di dunia yang sebenarnya.</p>
<p>Selamat ulang tahun, lilin-lilin kecilku. Tetaplah menjadi lilin yang menerangiku, kamu, dan kita semua.</p>
<p>@Lo, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/25/fabulezlycool-lilin-lilin-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

