<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Have Your Say</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/have-your-say/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Have Your Say: Kesetiaan pada Cinta Putih</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/03/have-your-say-kesetiaan-pada-cinta-putih/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/03/have-your-say-kesetiaan-pada-cinta-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 11:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17838</guid>
		<description><![CDATA[Apakah cinta lesbian isinya dengan cinta penuh pengkhianatan yang saling menyakitkan? Mungkin tidak. Masih banyak lesbian yang bisa berbahagia sampai usia hubungan yang sangat lama. Cinta putih bukan hanya diinginkan oleh pasangan lesbian, kaum heteroseksual juga merindukannya. Dengarkan kisah cinta sahabat lesbian kita, Visca, yang cinta pertamanya hancur gara-gara ketiadaan rasa setia.
Mati lampu dan saya jadi teringat Ambar. Kalau lagi liburan begini, biasanya dia yang selalu menghibur saya. Naikin mood, bikin bahagia, dan selalu menyemangati. Apalagi kalau keadaan rumah lagi tidak sinkron, rasanya semua terlihat sangat menyebalkan, hmm… dialah selimut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/cala-lily-white.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17839" title="cala lily white" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/cala-lily-white-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a><em>Apakah cinta lesbian isinya dengan cinta penuh pengkhianatan yang saling menyakitkan? Mungkin tidak. Masih banyak lesbian yang bisa berbahagia sampai usia hubungan yang sangat lama. Cinta putih bukan hanya diinginkan oleh pasangan lesbian, kaum heteroseksual juga merindukannya. Dengarkan kisah cinta sahabat lesbian kita, Visca, yang cinta pertamanya hancur gara-gara ketiadaan rasa setia.</em></p>
<p><em><span id="more-17838"></span></em>Mati lampu dan saya jadi teringat Ambar. Kalau lagi liburan begini, biasanya dia yang selalu menghibur saya. Naikin <em>mood</em>, bikin bahagia, dan selalu menyemangati. Apalagi kalau keadaan rumah lagi tidak sinkron, rasanya semua terlihat sangat menyebalkan, hmm… dialah selimut nyaman itu. Dia akan selalu ada di samping saya.</p>
<p>Bukan hal mudah untuk saya sebagai seorang <em>straight </em>yang tiba-tiba disuguhi cinta seorang sahabat perempuan. Ini tidak pernah saya bayangkan. Waktulah yang mengajarkan saya untuk mencintai, membalas tulus cintanya. Saya belajar untuk mencintainya dari waktu ke waktu sampai pada akhirnya saya melihat keseriusannya untuk hidup dengan saya.</p>
<p>Hubungan cinta yang indah ternyata sementara. Di antara hubungan kami, muncul Dana—teman kuliah Ambar yang kebetulan juga lesbian. Suatu hari Dana mengantarkan Ambar bertemu dengan saya di kampus. Itu adalah saat pertama kalinya saya bertemu dengan Dana. Dana menjadi satu-satunya sahabat lesbian saya. Menjadi tempat cerita, satu-satunya yang saya percaya untuk menceritakan hubungan saya dengan Ambar, bahkan di saat buruk sekali pun. Dialah yang menjadi penambah kebahagiaan hubungan kami, tetapi kemudian dia jugalah yang menjadi malapetaka bagi saya. Keterpurukan dan kesakitan dalam hidup saya pun dimulai sejak saat itu.</p>
<p>Dana memang berbeda dengan saya. Saya adalah tipikal perempuan yang serius dalam menjalin hubungan. Saya tidak pernah bermain-main apalagi dalam hubungan lesbian. Saya akui, selama sembilan bulan, saya membuat Ambar berpikir bahwa dialah yang selalu menjadi penyebab atas semua pertengkaran kita. Sosok Dana membuat Ambar merasa bahwa saya bukanlah perempuan yang selama dia inginkan. Sosok perempuan yang benar-benar berbeda dengan saya dalam segala hal. Ambar jatuh cinta padanya.</p>
<p>Dana pernah meminta Ambar untuk menjadi pacarnya. Tetapi Ambar menolaknya karena saat itu ada saya. Dana menunggu Ambar, menunggu saya dan Ambar putus. Apakah ini yang dibilang setia? Menunggu pacar orang lain sedang dia sudah memiliki pacar juga? Lalu merebutnya dengan sangat sempurna?</p>
<p>Ambar mulai berpaling dari saya. Dia memilih Dana dan membiarkan saya tersakiti tiap detiknya. Dia membiarkan semuanya terjadi. Saya hancur, jatuh, dan sesak karena lupa bagaimana caranya bernapas. Banyak hal yang sudah saya korbankan. Segalanya, Ambar tahu semua itu. <em>My first kiss, my first girlfriend, my first romance experience. </em>Seluruh diri dan cinta saya dia dapatkan semua. Padahal saya selalu menjaga tubuh saya dari mantan-mantan pacar lelaki saya. Tetapi hanya dalam waktu singkat Ambar sanggup melupakan semua itu. Dia membuang saya jauh-jauh dari hidupnya, membiarkan Dana menari-nari di atas kesakitan saya.</p>
<p>Benar mereka terlihat bahagia, namun ada satu orang lagi yang sakit seperti saya. Namanya Nullish. Nullish adalah kekasih  Dana. Hubungan  Dana dan pacarnya memang sedang tidak baik. Saya tidak tahu hal-hal detil tentang itu. Yang pasti sejak kebersamaan mereka, situasi antara saya, Ambar, Dana,dan  Nullish naik turun. Banyak hal yang tidak dapat diterima dengan akal dan nurani .</p>
<p>Seribu pertanyaan berkeliaran membabi buta. Sampai sekarang saya tidak pernah mendapatkan jawaban dari semua drama ini. Seperti apakah yang disebut cinta lesbian? Apakah ada cinta lesbian yang setia sampai mati? Merasakan luka dari drama lesbian dan kisah-kisah yang pernah saya baca, saya pelan-pelan menyadari, barangkali benar cinta lesbian susah untuk setia.</p>
<p>Akhir dari drama ini, Dana dan Nullish akhirnya bisa memperbaiki hubungan mereka. Dana akhirnya mengakui bahwa dia tidak menyanyangi Ambar dan hanya Nullish yang dapat membuatnya bahagia. APA?! Bisa-bisanya dia berkata  seperti itu setelah semua yang dia lakukan. Sedangkan saya dan Ambar? Menyadari apa yang terjadi sebelumnya di antara kami, Ambar memutuskan tidak menjalin hubungan dengan siapa pun sampai ia menjadi manusia berkualitas, demikian yang dikatakannya. Apakah menjadi setia sama dengan kualitas?</p>
<p>Saya belum mendapat jawabannya. Belum juga bisa berhenti menangisi semua ini, padahal sudah berjalan selama lima bulan sejak kejadian itu. Meski hati saya merasa lega hubungan Ambar dan Dana berakhir, namun kenyataan yang saya sadari yang terjadi antara saya dan Ambar adalah jurang. Kalau Ambar membaca tulisan saya ini, ketahuilah bahwa saya tidak pernah mengekang cinta. Saya hanya ingin tahu, apakah ada cinta abadi itu? Apakah ada seorang lesbian yang akhirnya begitu lama hidup bersama orang yang dicintainya?</p>
<p>Dulu saya begitu percaya Ambar berbeda dari kisah lesbian-lesbian nakal yang saya ketahui. Ambar tidak akan mungkin mengkhianati saya, karena cintanya begitu besar. Tetapi apa yang saya dapatkan ini adalah pelajaran berharga sama seperti kisah-kisah pahit yang pernah dituliskan. Apa yang saya alami barangkali juga sama dengan yang dialami pasangan lain. Apakah ini bukti bahwa cinta lesbian susah untuk setia?<br />
Berbahagialah mereka yang masih sedang dan berhasil melewati kepahitannya, dan masih bisa bersama-sama.</p>
<p>Semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan tetapi bukan berarti harus merebut kebahagiaan orang yang telah dibangun dengan susah payah. Belajar dari semua pengalaman ini, saya mengerti bahwa cinta begitu mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk dipertahankan. Sedang kesetiaan hanya dimiliki oleh orang-orang yang mengerti bahwa cinta itu sakral bukan dangkal. Terlepas dari hubungan lesbian ataupun heteroseksual, semua orang bisa saja melakukan kesalahan, termasuk orang yang kita cintai. Memaafkan dan melupakan adalah cara terbaik untuk mengobati luka di hati.</p>
<p>@Visca, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/03/have-your-say-kesetiaan-pada-cinta-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Pasanganku Intraseksual</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/27/have-your-say-pasanganku-intraseksual/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/27/have-your-say-pasanganku-intraseksual/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 03:29:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17704</guid>
		<description><![CDATA[Intrakseksual adalah manusia yang memiliki kelamin ganda. Secara fisik, terkadang kelamin ganda itu terlihat, terkadang hanya tampak satu saja. Adakah lesbian yang merasa memiliki kelamin ganda? Dengarkan kisah sahabt lesbian kita, Ardita, yang mengaku memiliki pasangan intraseksual. 
Ini adalah kedua kalinya saya memposting tulisan di SepociKopi. Tapi tulisan saya yang pertama tidak diterbitkan. But it&#8217;s okay, mungkin memang waktu itu tulisan saya belum memenuhi syarat penerbitan. Sekarang saya mencoba menulis lagi di SepociKopi. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saya yang cukup unik.
Jadi begini. Sudah tiga tahun ini saya menjadi seorang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/guy-giving-flowers-111208.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17705" title="guy-giving-flowers-111208" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/guy-giving-flowers-111208-300x236.jpg" alt="" width="300" height="236" /></a><em>Intrakseksual adalah manusia yang memiliki kelamin ganda. Secara fisik, terkadang kelamin ganda itu terlihat, terkadang hanya tampak satu saja. Adakah lesbian yang merasa memiliki kelamin ganda? Dengarkan kisah sahabt lesbian kita, Ardita, yang mengaku memiliki pasangan intraseksual. </em></p>
<p><em><span id="more-17704"></span></em>Ini adalah kedua kalinya saya memposting tulisan di SepociKopi. Tapi tulisan saya yang pertama tidak diterbitkan. <em>But it&#8217;s okay, </em>mungkin memang waktu itu tulisan saya belum memenuhi syarat penerbitan. Sekarang saya mencoba menulis lagi di SepociKopi. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saya yang cukup unik.</p>
<p>Jadi begini. Sudah tiga tahun ini saya menjadi seorang lesbian. Benar-benar lesbian karena saya mempunyai pasangan dan dia adalah seorang perempuan. Setidaknya <em>saat ini </em>dia adalah seorang perempuan. Eh? Mengapa ada kata &#8220;saat ini&#8221;? Benar sekali. Ada kemungkinan status keperempuanan partner hanya sementara dan tinggal sebentar lagi. Kenapa? Partner saya bukanlah seorang perempuan seutuhnya. Setidaknya itulah yang dia rasakan. Dia merasa bahwa dia adalah seorang laki-laki yang terjebak di tubuh seorang perempuan.</p>
<p>Mungkin banyak perempuan yang merasakan apa yang partner saya rasakan. Terutama perempuan lesbian yang berlabel butch. Mereka pasti mengerti. Awalnya, saya berpikir kalau partner saya adalah seorang perempuan lesbian yang menyukai hal-hal yang berbau maskulin sehingga dia merasa dirinya seorang laki-laki.</p>
<p>Tapi ternyata saya salah. Setelah semakin lama saya mengenalnya, ada beberapa kejanggalan yang terjadi pada partner. Seperti misalnya, siklus menstruasinya yang tidak menentu. Suatu hari, partner mengatakan dia tanpa sengaja mengeluarkan cairan yang seharusnya hanya bisa dikeluarkan oleh seorang laki-laki dewasa. Itu cukup mengejutkan untuk saya, mengingat bahwa apa yang saya lihat dari fisik partner saya adalah seorang perempuan.</p>
<p>Oleh karena itu, kami memutuskan untuk memeriksakan keanehan ini kepada dokter. Ternyata partner saya memiliki kemungkinan seorang hermaprodit atau intraseksual. Partner memiliki penyakit kelainan pada kromosom yang menyebabkan ambiguitas genital atau biasa disebut dengan kelamin ganda. Ada banyak sekali tes-tes yang harus dilakukan untuk memastikan ini semua secara medis, sementara kesibukan pada pekerjaam membuat partner memiliki waktu yang tidak luang.</p>
<p>Namun terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sangat mengganjal di hati saya. Yaitu, apabila nanti partner dinyatakan secara medis memiliki kelamin ganda dan dia memutuskan menjadi seorang laki-laki seutuhnya, lalu yang terjadi dengan saya? Apakah saya akan ikut berubah menjadi heteroseksual? Atau saya terjebak menjadi biseksual atau malahan tetap sebagai lesbian? Sampai sekarang, sementara saya mencintainya sebagai seorang perempuan. Hal ini benar-benar menimbulkan kejanggalan dan kebingungan pada diri saya sendiri.</p>
<p>Tapi bukan berarti saya tidak menginginkan partner saya berubah. Saya akan menjadi orang pertama yang berbahagia untuknya jika suatu saat nanti dia telah benar-benar berubah menjadi seorang laki-laki. Saya tau persis seperti apa penderitaan yang dia rasakan saat terjebak di dalam ketidakpastian gender dan seksualitasnya. Saya juga tau persis bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan kejelasan status gender dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan dan keluarga.</p>
<p>Mungkin yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah berharap jika nantinya dia adalah seorang laki-laki, dia tetap akan mencintai saya dengan caranya yang seperti sekarang ini. Caranya yang lembut dan penuh kasih. Caranya yang santun dan apa adanya. Caranya yang kuat dan tegas. Caranya yang selalu menjunjung tinggi prinsip kebersamaan, keterbukaan, dan kesetiaan. Caranya yang akan mampu membuat saya bertahan meski pun saya harus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan fisiknya yang baru sebagai laki-laki. Hmm&#8230; Tak apa kan? Bukankah pada kenyataannya hati adalah penuntun setia untuk menuju apa yang benar-benar kita cari, inginkan, dan butuhkan?</p>
<p>@Ardita, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/27/have-your-say-pasanganku-intraseksual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Saya Adalah Tipe Q</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 02:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17317</guid>
		<description><![CDATA[Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.
Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6.jpg"><img class="size-medium wp-image-17401 alignleft" title="raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.</em></p>
<p>Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya seolah membiarkan segala sesuatunya berjalan begitu saja, seperti air mengalir.</p>
<p>Saya mulai penasaran dengan orientasi seksual setelah saya mengenal Andien, sahabat saya yang luar biasa saya sayangi. Semakin dewasa, saya semakin intens mencari jati diri saya. Karena begitu besar rasa sayang saya kepada Andien, dalam beberapa bulan terakhir, saya getol mencari artikel-artikel homoseksual, khususnya lesbian.</p>
<p>Sempat ngeri, karena beberapa artikel ketika saya mengetik <em>keyword </em>“Lesbian”, sebagian besar artikel yang keluar dari <em>search engine Google</em> adalah cerita-cerita panas tentang lesbian. Sempat berfikir, kaum homoseksual sepertinya memiliki kecenderungan dengan aktivitas seksual yang lebih tinggi dibanding mereka yang hetero. Kengerian lain yang sempat saya baca adalah mengenai kecenderungan sifat posesif dari kaum homoseksual. Memiliki perasaan yang lebih mendalam, umumnya pasangan homo lebih sulit melepaskan pasangannya ketika rasa cinta itu masih terpendam dalam hati. Bahkan dari artikel yang pernah saya baca, kaum homo lebih cenderung pendendam dan memiliki potensi lebih besar untuk membunuh. Entah juga sih kebenarnnya, itu hanya sebatas pengetahuan yang pernah saya baca.</p>
<p>Beberapa artikel juga memaparkan lesbian dari sudut pandang psikologi. Ini terdiri dari apa saja faktor seseorang bisa menjadi lesbian, pertentangan batin yang mereka rasakan, serta bagaimana menyikapi orientasi seksual lesbian yang dianggap &#8220;menyimpang&#8221;. Dari sini, saya bisa memandang bahwa lesbian sama seperti manusia lainnya yang cukup menarik untuk dipelajari dan dikaji lebih lanjut dari sudut pandang keilmuan.</p>
<p>Saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca artikel-artikel terkait homoseksual, tak hanya lesbian tetapi juga kaum gay, hingga saya menemukan situs Sepocikopi. Wow, benar-benar tidak menyangka. Membaca SepociKopi membuat saya berada di antara takjub, heran, aneh, tetapi juga salut. Takjub dan heran karena ternyata ada situs yang benar-benar menampung dan mungkin menjadi wadah para perempuan lesbian yang selama ini menjadi kaum minoritas.</p>
<p>Pasti semua sependapat, bahwa kehadiran SepociKopi menjadi oase bagi para lesbian di Indonesia. Di tengah keheranan saya, saya juga salut dengan SepociKopi karena tulisan-tulisan dan artikel yang disajikan berisi kisah nyata, opini, dan wawasan terkait dunia lesbian yang dikemas dari sudut pandang yang berbeda, apa adanya, dan mengedepankan intelektualitas. Dan yang paling penting, tidak berbau pornografi seperti artikel-artikel lesbian kebanyakan.</p>
<p>Hampir setiap hari saya menyempatkan diri untuk membaca Sepocikopi. Walaupun tidak membenarkan orientasi seksual para lesbian, namun membaca SepociKopi membuat saya bisa melihat lesbian dari sudut pandang lain. Beberapa cerita, bahkan membuat saya terharu dan kagum atas mereka apa yang mereka alami dan bagaimana mereka menyikapinya. Saya benar-benar belajar dari mereka.</p>
<p>Dari artikel, saya mencoba menyambangi ke jejaring social Facebook untuk mengenal lebih dekat dengan kaum lesbian. Dari hasil pencarian pertemanan dengan kata kunci “lesbian” di sana saya menemukan banyak akun-akun lesbian, dan saya memilih membuka akun komunitas lesbian. Sempat membaca status-status yang ditulis serta komen-komen yang ditinggalkan. Hal ini cukup mengejutkan buat saya. Jadi sedikit geli, aneh, unik, serem, dan ada lucu-lucunya. Dengan beberapa pertimbangan, saya pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan nomor handphone (HP) pada dinding komentar di salah satu status mereka.</p>
<p>Malamnya saya mendapatkan SMS yang tiba-tiba mengajak berkenalan. Dari SMS-nya, ia mengaku berasal dari Surabaya dan menanyakan hal tentang saya. SMS kedua datang dari teman lesbian di Jakarta dan terakhir dari Sukabumi, hanya tiga orang. Yang membuat saya heran, SMS-SMS perkenalan yang awalnya begitu semangat dan menggebu-gebu, semua berakhir begitu saja ketika mereka mengetahui saya bukan atau lebih tepatnya belum mengetahui apakah saya lesbian atau tidak. Lah, faktanya seperti itu, mau mengakui lesbian kok rasanya aneh. Faktanya saya tidak pernah pacaran dengan perempuan dan tidak pernah punya teman lesbian.</p>
<p>Mau tidak mengakui, di satu sisi saya pernah begitu menyayangi seorang perempuan. Makanya saya bilang “Tidak tau.” atau “Bukan.”, setiap kali mereka bertanya “Apakah kamu lesbian?” Jawaban saya berakhir dengan menjauhnya mereka, bahkan mereka sama sekali tidak membalas SMS-SMS saya berikutnya. Malah, slah satu dari mereka mereka yang begitu menggebu-gebu berkenalan dengan saya, mendadak berkata bahwa dia bukan lesbian dan meminta maaf kepada saya. Haduh, saya jadi bingung sendiri. Kenapa mereka seperti itu?</p>
<p>Selama ini banyak sekali lesbian yang beranggapan mereka tidak diterima masyarakat karena dianggap menyimpang. Homoseksual menganggap selama ini masyarakat yang tidak mau menerima kehadirannya. Tapi kenapa ketika ada seseorang yang ingin mengenal keberadaan kaum lesbian, justru lesbian malah bersikap introver dan menarik diri? Padahal saya tidak berniat menjadikan lesbian sebagai objek pemuas rasa penasaran saya. Kendati sedikit kecewa, namun tetap berusaha untuk bisa memahami sikap mereka. Mungkin bukan hal yang mudah untuk bisa membuka diri dengan orang di luar komunitas lantaran menganggap diri lesbian sebagai kaum berbeda. Atau mungkin juga karena memang tak nyaman untuk menjalin hubungan/persahabatan dengan orang baru yang bukan/belum lesbian?</p>
<p>Entahlah, sampai sekarang saya masih bingung dengan orientasi seksual saya dan belum memiliki seorang teman lesbian satu pun. Adakah yang ingin menjadi sahabat saya?</p>
<p>@miss_lazy77, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Jatuh Cinta Pada Teman</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/06/have-your-say-jatuh-cinta-pada-teman/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/06/have-your-say-jatuh-cinta-pada-teman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 10:08:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17109</guid>
		<description><![CDATA[Memiliki perasaan yang lebih kepada sahabat? Banyak manusia yang merasakan hal ini. Dari pertemanan biasa, muncul perasaan bunga-bunga indah yang membuat hari-hari menjadi bahagia. Namun bagaimana kalau sahabat itu sudah memiliki kekasih? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Sunny, yang jatuh cinta kepada teman sendiri.
 Nama saya Sunny. Setahun lalu saya berkenalan dengan seorang teman lesbian, sebut saja namanya Bintang. Saya dan Bintang mulanya jarang mengobrol, tapi suatu hari saya melihat stat YM-nya yang mengatakan bahwa dia baru saja membaca buku yang saya suka. Saya pun mengajaknya mengobrol. Ternyata Bintang adalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/kawaii.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17110" title="kawaii" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/kawaii-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><em>Memiliki perasaan yang lebih kepada sahabat? Banyak manusia yang merasakan hal ini. Dari pertemanan biasa, muncul perasaan bunga-bunga indah yang membuat hari-hari menjadi bahagia. Namun bagaimana kalau sahabat itu sudah memiliki kekasih? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Sunny, yang jatuh cinta kepada teman sendiri.<br />
<span id="more-17109"></span> </em>Nama saya Sunny. Setahun lalu saya berkenalan dengan seorang teman lesbian, sebut saja namanya Bintang. Saya dan Bintang mulanya jarang mengobrol, tapi suatu hari saya melihat stat YM-nya yang mengatakan bahwa dia baru saja membaca buku yang saya suka. Saya pun mengajaknya mengobrol. Ternyata Bintang adalah teman yang nyambung dan asyik diajak berbicara tentang apa saja.</p>
<p>Saya sudah punya pacar saat itu. Namun setelah beberapa bulan, saya putus dengan pacar saya. Saya menghabiskan waktu bercerita kepada Bintang tentang hati yang yang terlukai. Mantan saya selingkuh dengan teman kantornya. Bintang sendiri juga memiliki pacar yang sudah bersama dengannya selama tiga tahun.</p>
<p>Berbulan-bulan kami mengobrol tentang segala hal. Keinginan saya untuk menemuinya tidak saya lakukan karena saya tidak mau membuat pacar Bintang merasa terancam dan tidak suka dengan kehadiran saya. Suatu hari, Bintang dikirim oleh kantornya untuk menghadiri seminar di kota saya. Saat itulah, saya dan Bintang menyempatkan diri bertemu. Tidak ada acara apa-apa, hanya makan malam yang mulanya kikuk karena kami belum pernah bertemu sebelumnya.</p>
<p>Setelah kekakuan mencair, kami kembali seperti dulu saat kami mengobrol di dunia maya. Tertawa-tawa. Bercerita ini itu. Mengobrol segala hal. Nyambung sekali. Selama saya mengobrol dengannya, saya mulai menjadi curiga dengan diri saya. Saya merasakan deg-degan waktu memandang wajahnya. Saya merasakan kupu-kupu di perut saya. Saya kepingin menyatakan rasa suka saya kepada Bintang.</p>
<p>Tapi saya tahu itu tidak mungkin. Bintang sudah memiliki pacar. Akhirnya makan malam kami pun berakhir. Bintang kembali ke hotelnya dan saya kembali ke kehidupan saya. Itu adalah pertemuan kami yang pertama dan terakhir. Saya tidak pernah pergi ke kotanya dan Bintang juga tidak pernah datang lagi ke kota saya.</p>
<p>Selama beberapa bulan belakangan ini, sebagai lesbian jomblo, saya mencari-cari perempuan yang tepat untuk menjadi pendamping saya. Tapi selama itu, lagi-lagi Bintang selalu ada buat saya. Dia tidak pernah menjauh dari hidup saya. Dia selalu menjadi telinga buat saya berbagi curhat. Saya senang memiliki Bintang sebagai sahabat, walau sejujurnya saya tidak bisa mengenyahkan perasaan cinta saya kepadanya. Akhirnya karena tidak tahan, aku mengatakan terus terang kepada Bintang bahwa saya menyayanginya lebih daripada teman, tapi saya tidak akan pernah merebutnya dari pacarnya.</p>
<p>Bintang terlalu sayang sama pacarnya sehingga meyakinkan saya bahwa dia tida akan berselingkuh dengan saya. Dia juga bilang bahwa dia tidak memiliki perasaan apa-apa kepada saya kecuali rasa pertemanan yang wajar dan biasa. Saya senang mendengar pengakuan Bintang walaupun saya tahu saya ditolak. Setidaknya saya sudah bersikap jujur dan adil kepada Bintang.</p>
<p>Sebulan lalu saya sudah punya pacar. Pacar saya tahu tentang keberadaan Bintang dan bisa menerima Bintang sebagai teman dia juga. Perasaan saya kepada Bintang sudah berubah, tidak lagi jatuh cinta tapi perlahan mengalir menjadi rasa sayang dan peduli kepada sahabat. Namun saya dan Bintang pernah saling berjanji untuk selalu bersama. Kami percaya hidup adalah proses dan takdir. Jika suatu hari saya dan Bintang memang akan dipersatukan oleh alam raya, saya percaya kami tidak bisa mengelakkan takdir itu. Namun untuk sementara, kami menjalani hidup kami masing-masing dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>@Sunny, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/06/have-your-say-jatuh-cinta-pada-teman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Cinta Pertama dengan Perempuan Straight</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/30/have-your-say-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/30/have-your-say-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 03:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17008</guid>
		<description><![CDATA[Apakah terlalu menyakitkan kalau cinta pertama dengan perempuan straight? Mulanya mungkin dia tidak tahu, tapi ketika rasa semakin menggigit, maka menyatakan cinta adalah satu-satunya cara untuk mengetahui apakah kita jatuh cinta dengan perempuan yang tepat. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Dejiro yang berjuang ketika jatuh cinta pertama kali dengan perempuan straight.
Inisialnya W.  Dia adalah cinta pertamaku. Sayang sekali ternyata dia straight. Pertama kali aku ketemu W adalah waktu aku berbelanja ke salah satu departement store di kotaku. Senyumanya melelehkan hatiku. Meski baru bertemu pertama kali, anehnya aku semakin penasaran dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/romantic-feel-of-flowers-Part-2-17.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17009" title="romantic-feel-of-flowers-Part-2-17" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/romantic-feel-of-flowers-Part-2-17-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Apakah terlalu menyakitkan kalau cinta pertama dengan perempuan </em>straight<em>? Mulanya mungkin dia tidak tahu, tapi ketika rasa semakin menggigit, maka menyatakan cinta adalah satu-satunya cara untuk mengetahui apakah kita jatuh cinta dengan perempuan yang tepat. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Dejiro yang berjuang ketika jatuh cinta pertama kali dengan perempuan </em>straight<em>.</em></p>
<p><em><span id="more-17008"></span></em>Inisialnya W.  Dia adalah cinta pertamaku. Sayang sekali ternyata dia <em>straight</em>. Pertama kali aku ketemu W adalah waktu aku berbelanja ke salah satu <em>departement store</em> di kotaku. Senyumanya melelehkan hatiku. Meski baru bertemu pertama kali, anehnya aku semakin penasaran dan ingin tau dirinya. Aku malah ingin lebih dekat dengan W. Akhirnya, aku memutuskan untuk mendekati W dengan melamar bekerja di tempat yang sama. Memang, cinta membuat orang rela melakukan apa saja!</p>
<p>Beruntungnya aku diterima kerja di sana. Aku ditempatkan di <em>counter </em>kemeja. Ternyata, setelah aku selidiki, W bekerja di bagian <em>counter </em>celana yang bersebelahan dengan <em>counter </em>kemeja. Meski kerjanya <em>shift</em>, mataku tak pernah lelah memandangi W. Yah, perhatianku selalu aku pusatkan hanya kepada W. Boleh dibilang, melek 24 jam.</p>
<p>Seminggu berlalu. Aku masih belum tau namanya, hingga suatu hari W menghampiriku. Dia bertanya, &#8220;Apa ini punya kamu ya?&#8221; sambil menyodorkan gantungan kunci berbentuk sepatu mini tiga dimensi. Belum sempat aku mengatakan terima kasih, dia sudah pergi meninggalkanku. Gantungan kunci berbentuk sepatu memang punyaku. Aku memang suka mengoleksi gantungan kunci dan pin lucu. Memang sih, tiga hari yang lalu, gantungan kunciku hilang, tapi kuanggap, ya sudahlah tidak apa-apa. Ternyata W menghampiriku dan dialah yang menemukan gantungan kunciku. Hatiku senang sekali! Akhirnya aku bisa langsung bertatapan wajah dengan W meski hanya hitungan detik.</p>
<p>Setelah kejadian itu, aku semakin penasaran. Diam-diam, aku meminta nomor hapenya dari temenku yang juga satu <em>counter </em>dengannya. Aku tidak berani meminta sendiri. Sejak saat itu, aku mulai berkenalan dengannya lewat SMS dan telepon. Lucu rasanya. Aku senang sekali, membuat hari-hariku bersemangat. Yang paling aku ingat, dia sering membalas SMS-ku dengan pertanyaan, &#8220;Maksudnya?&#8221; Kangen sekali dengan masa-masa itu.</p>
<p>Dalam hati, aku berinisiatif untuk memberikan gantungan kunci yang sama dengan punyaku. Aku mencari-cari ke tempat aku membeli benda tersebut, tapi ternyata sudah terjual semua. Aku mencari ke tempat lain, tapi tidak ketemu. Akhirnya aku berputar-putar keliling kota, tapi tetap tidak dapat. Akhirnya cuma mendapatkan gantungan kunci bentuk sepatu yang dua dimensi, tidak mirip punyaku. Daripada tidak dapat apa-apa, akhirnya aku putuskan untuk membeli gantungan kunci itu. Esoknya, aku berikan untuk W.</p>
<p>Semakin hari aku semakin dekat dengannya, tapi sepertinya dia hanya menganggapku sebatas adik dan kakak aja. Minggu kedua bekerja, aku baru tau kalau W sudah mempunyai pacar. Hancur banget hatiku saat aku mengetahui berita itu. Esoknya, ketika aku masuk kerja, ada seorang lelaki ya mencariku. Saat aku menemui dirinya, dia melabrak dan menjotosku. Dia juga mengancam agar aku menjauhi hidup W. Tapi, biarpun aku apes, aku tidak peduli.</p>
<p>Aku memutuskan untuk <em>resign </em>dari tempat kerjaku. Tepat tanggal 31 Mei 2010, aku pergi ke kos-kosan W. Kami bermain <em>game </em>di Dream Zone, berhujan-hujanan bareng, dan berangkat bekerja bareng. Pokoknya aku senang sekali. Pas malamnya, aku memberikan kue tar Blackflorest ke dia. Kami makan berdua sebagai malam perpisahan.</p>
<p>Pas hari Valentine, aku memberanikan diri untuk mengajaknya berpacaran, tapi ternyata dugaanku benar. Dia hanya menganggapku sebagai adiknya aja. Sejak saat itu, sikap W berubah. Dia semakin menjauh dari kehidupanku. Nomor hapenya tidak aktif lagi. Aku benar-benar kehilangan kontak dengannya. Aku semakin terpuruk, sedih, dan merasa hidupku tak berguna. Berbulan-bulan aku terlihat seperti orang frustasi karena sikap W terhadapku. Perlu waktu untuk kembali pulih dari keterpurukan hatiku, sehingga akhirnya aku bisa melewati hari-hariku yang teramat berat.</p>
<p>Mungkin semua yang telah aku lakukan untuknya tak pernah berarti dalam hidupnya. Tapi yang harus W tahu, aku selalu mencintainya. Aku yakin dia mengerti dan memahami hatiku yang tak pernah lelah menunggu dirinya.</p>
<p>@Dejiro, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/30/have-your-say-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Sayangku Diriku dan Putraku</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/23/have-your-say-sayangku-diriku-dan-putraku/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/23/have-your-say-sayangku-diriku-dan-putraku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 04:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16892</guid>
		<description><![CDATA[Lesbian yang memiliki anak mengharapkan memiliki pasangan yang bersikap dewasa dan menjadi seorang istri yang berdedikasi untuk mencintai seorang anak. Mampukah lesbian menerima tanggung jawab sebesar itu? Membesarkan anak bukan urusan sepele, namun berliku dan berat. Apakah lesbian hanya menginginkan cinta semanis madu gulali tanpa mengerti nilai tanggung jawab? Dengarkan kisah D&#8217;Heart seorang mombian yang berkisah tentang pengalaman hidupnya dengan pasangan perempuannya.
Hari ini semuanya sudah berakhir. Sekali pun aku ingin merengkuh kepergian cintaku namun tanganku tak berdaya. Untuk kesekian kalinya kembali hatiku berdarah. Aku hanya bisa menatap pekatnya malam dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/mother-son-flower.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16893" title="Mother and young son putting flowers in vase" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/mother-son-flower-193x300.jpg" alt="" width="193" height="300" /></a>Lesbian yang memiliki anak mengharapkan memiliki pasangan yang bersikap dewasa dan menjadi seorang istri yang berdedikasi untuk mencintai seorang anak. Mampukah lesbian menerima tanggung jawab sebesar itu? Membesarkan anak bukan urusan sepele, namun berliku dan berat. Apakah lesbian hanya menginginkan cinta semanis madu gulali tanpa mengerti nilai tanggung jawab? Dengarkan kisah D&#8217;Heart seorang mombian yang berkisah tentang pengalaman hidupnya dengan pasangan perempuannya.</em></p>
<p><em><span id="more-16892"></span></em>Hari ini semuanya sudah berakhir. Sekali pun aku ingin merengkuh kepergian cintaku namun tanganku tak berdaya. Untuk kesekian kalinya kembali hatiku berdarah. Aku hanya bisa menatap pekatnya malam dan mencoba menghitung rintik-rintik air hujan yang jatuh. Aku teringat kata-kata yang pernah kutuliskan untuknya: &#8220;Ketika hujan turun, cobalah untuk menghitung setiap tetes yang jatuh. Sebanyak itulah aku mencintaimu.&#8221; Namun kali ini bukan cuma tetas air hujan yang kucoba hitung namun juga bersamaan dengan tetesan air mataku yang sukar kubendung.</p>
<p>Luka itu masih merah. Dia adalah satu di antara tiga perempuan yang akhirnya aku pilih untuk mendampingi hidupku, untuk menemaniku membesarkan anakku semata wayang yang mulai beranjak remaja. Aku berharap banyak padanya. Sekali pun dia lebih muda dariku, aku percaya akan kedewasaannya dan juga besarnya cintanya kepadaku.</p>
<p>Hampir tiga tahun aku lalui bersamanya. Tepatnya bertiga dengan putraku, suka duka kami jalani bersama.  Perkembangan anakku yang agak lambat dalam belajar agak tertolong dengan kehadiran dirinya.  Harus kuakui dia cukup pandai dan piawai mengajar anak seusia anakku. Aku bangga padanya dan aku yakin dia yang terbaik untuk aku dan anakku. Sejujurnya, aku tidak sanggup kalau harus membesarkan anakku sendirian. Pengalaman pahit ditinggalkan seorang lelaki dalam hidupku cukup membuatku berpikir mampukah aku menjadi Mama sekaligus ayah buat anakku?  Aku perlu seseorang menemaniku. Dulu aku bersyukur dia bersedia menerimaku dan anakku.</p>
<p>Namun, waktu memberikan jawaban yang berbeda dari harapanku. Perlahan, namun pasti, ritme rumah tangga yang semula terlihat ideal dan indah berubah. Kekasihku mulai mengeluhkan tingkah laku anakku yang terlalu aktif, malas belajar, dan tidak juga menjadi pandai. Harus aku akui, anakku memiliki kekurangan dari segi prestasi belajarnya. Dia mencoba mendisiplinkan hidup anakku, bahkan terkadang memberikan sangsi  jika anakku melanggar aturan namun juga memberikan penghargaan jika anakku berbuat baik.</p>
<p>Aku senang dengan pola asuh yang dia terapkan sekali pun kadang-kadang aku tidak tega melihat anakku ditegur dan dimarahi olehnya.  Kadang aku memberi kelonggaran dengan memaafkan kesalahan yang dilakukan anakku dan itu memicu pertengkaran kami. Perkembangan anakku yang lambat  rupanya membuat dia kehilangan kesabaran. Namun aku melihat <em>progress </em>yang cukup baik dibanding sewaktu aku belum hidup bersamanya.  Beberapa kali aku berusaha menguatkan kekasihku untuk mengerti bahwa masing-masing anak memiliki waktu sendiri untuk mengalami perubahan. Aku memintanya dengan sangat supaya dia rela mengesampingkan kekesalan hatinya dan memahami sikon anakku.</p>
<p>Beberapa waktu  yang lalu, dia berkata dia merasa jenuh dengan ritme hidupnya. Dia merasa belum siap berperan sebagai istri yang mendampingiku. Dia merasa berat harus berdiri di antara aku dan anakku; berusaha memahami aku dan juga anakku. Menurutnya, aku dan anakku adalah pribadi yang sukar diubah olehnya. Selain itu, dia juga mulai berpikir untuk meraih cita-cita dan menyalurkan bakatnya. Sepertinya dia akan sia-sia hidup denganku, sebab secara umur dia masih muda.</p>
<p>Dia mulai mengikuti aktivitasnya di band bersama teman-temannya. Aktivitas itu mengharuskannya untuk berlatih hingga larut malam atau manggung pada hari wiken. Agak berat aku mengizinkannya karena membuat waktu kami bersama menjadi berkurang, namun dia memintaku untuk mendukungnya. Seiring waktu, aku mendapatkan pekerjaan di luar kota yang membuatku hanya pulang di hari-hari wiken. Aku berharap dia ada di rumah ketika aku pulang, namun ternyata tidak.</p>
<p>Hingga suatu saat dia merasa hubungan kami harus diakhiri. Aku terenyak mendengarnya. Ibarat dua orang yang sepakat mendayung perahu kecil menuju lautan lepas, tiba-tiba saja salah satu berhenti  dan berbalik pulang meninggalkan aku sendirian di lautan lepas. Hatiku terluka. Ingin rasanya aku berkata &#8220;<em>Please, don’t leave me alone</em>&#8220;, tapi kata yang tak terucap itu tak bergaung di hatinya. Dia ingin mengubah hubungan kami menjadi teman baik yang saling mendukung saja. Namun bukan teman baik yang aku butuhkan saat ini, melainkan  orang terdekat yang sedia berbagi beban, berbagi cinta untuk sama-sama mengasihi putraku.</p>
<p>Sudah waktunya aku berusaha menerima kenyataan pahit ini. Dalam hati aku bertanya &#8220;mengapa&#8221;. Mengapa selalu berujung begini? Mengapa selalu ada yang terluka? Ah, banyak pertanyaan yang terpendam di dalam hatiku, bergaung di kesunyian malam. Pertanyaan biarlah kujadikan pertanyaan yang tak terjawab saja. Aku selalu berdoa, walaupun aku harus mendayung perahu kecil ini sendirian, aku percaya aku akan tegar untuk melanjutkan perjalanan hidupku. Sebab aku adalah seorang ibu untuk putraku yang sangat membutuhkanku.</p>
<p>@D’Heart, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/23/have-your-say-sayangku-diriku-dan-putraku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Berpura-pura Menjadi Lelaki</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/16/have-your-say-berpura-pura-menjadi-lelaki/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/16/have-your-say-berpura-pura-menjadi-lelaki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 04:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16744</guid>
		<description><![CDATA[Berpura-pura menjadi lelaki untuk menarik perhatian lawan jenis? Bukankah masih banyak perempuan yang tidak bisa mencintai lelaki namun hanya perempuan? Begitulah yang seharusnya terjadi pada hubungan percintaan: kejujuran. Tanpa kejujuran dan keterbukaan, sulit untuk memulai hubungan yang memiliki masa depan. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, ReNn, yang bercerita tentang usahanya mencintai seseorang.
Saat itu aku sedang bimbang dengan kejelasan orientasi seksualku. Dari semasa kecil dulu sudah banyak pertanda bagaimana aku mempunyai perhatian dan perasaan melindungi yang lebih ke sesama jenis. Perawakanku tomboi. Rambutku cepak. Aku lebih suka mainan laki-laki. Sepertinya orangtuaku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/romantic_mood_wallpaper_033.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16745" title="romantic_mood_wallpaper_033" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/romantic_mood_wallpaper_033-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Berpura-pura menjadi lelaki untuk menarik perhatian lawan jenis? Bukankah masih banyak perempuan yang tidak bisa mencintai lelaki namun hanya perempuan? Begitulah yang seharusnya terjadi pada hubungan percintaan: kejujuran. Tanpa kejujuran dan keterbukaan, sulit untuk memulai hubungan yang memiliki masa depan. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, ReNn, yang bercerita tentang usahanya mencintai seseorang.</em></p>
<p><em><span id="more-16744"></span></em>Saat itu aku sedang bimbang dengan kejelasan orientasi seksualku. Dari semasa kecil dulu sudah banyak pertanda bagaimana aku mempunyai perhatian dan perasaan melindungi yang lebih ke sesama jenis. Perawakanku tomboi. Rambutku cepak. Aku lebih suka mainan laki-laki. Sepertinya orangtuaku tidak menganggap ada yang salah dengan itu. Banyak foto jadi bukti bagaimana mereka mendadaniku berkesan lebih maskulin dibanding feminim.</p>
<p>Sampai umurku seperempat abad, aku belum pernah berpacaran dengan perempuan. Ada banyak pertimbangan dan ketakutan untuk melewati “garis batas aman” itu, sehingga aku memilih berpacaran dengan laki-laki dan mengesampingkan perasaan khususku terhadap perempuan. Tapi hari itu, aku merasakan “tombol” itu terpencet, yang membuatku berpikir aku ingin tetap melewati “garis batas aman” itu bagaimanapun caranya.</p>
<p>Baru sekian menit dari aku membulatkan tekad untuk lebih mengenal dunia lesbian &#8211; dunia yang kucurigai adalah dunia yang sebenarnya sudah ingin kumasuki dari dulu &#8211; aku menerima sebuah SMS nyasar. SMS berlagak nyasar dan ujung-ujungnya ingin kenalan pastinya sudah sering kita terima bukan? Tapi biasanya kita bisa tahu dari bahasanya, apakah si pengirim SMS itu perempuan atau laki-laki. Inilah untuk pertama kalinya aku menerima SMS nyasar di mana aku yakin pengirimnya adalah perempuan. Tanpa pikir panjang, aku merespon SMS itu. Mungkin saja ini jalan pembuka buatku mengenal dunia lesbian, pikirku waktu itu.</p>
<p>Benar, ternyata dia adalah perempuan. Aku mengaku sebagai laki-laki, jelas karena tujuanku ingin mendekati, mengetahui, dan merasakan bagaimana menjalin hubungan dekat dengan seorang perempuan. Aku tidak menyangka responsnya begitu baik padaku. Kebohongan demi kebohongan kulakukan. Aku berkenalan dengan nama, alamat, kantor, bahkan gender palsu. Aku intens mengirim SMS ke dirinya, sambil memberikan perhatian, sedikit <em>flirting</em>, dan ternyata dia mulai suka kepadaku dan berniat mengajak ketemuan.</p>
<p>Berkali-kali dia ingin menelfonku tapi aku selalu mempunyai alasan kalau aku belum bisa mengobrol langsung, apalagi ketemuan. Singkat cerita, akhirnya dia terpesona oleh SMS-ku dan kita jadian via SMS. Tanpa kehilangan akal, aku berniat menemuinya . Dia minta dijemput di sebuah rumah sakit. Aku mengiyakan, tapi karena masih jam kerja, aku menyuruh adik kandungku (perempuan), untuk menggantikan tugasku. Tentu saja sosok adik perempuanku itu adalah aku sendiri. Kini aku berperan ganda, sebagai sosok laki-laki (si kakak) yang menjadi pacarnya, sekaligus sosok perempuan tomboi (si adik) yang selalu dimintai tolong si kakak untuk menggantikan perannya dengan alasan belum siap ketemuan. Dengan bermodalkan dua nomor hape yang berbeda, semuanya seperti berjalan lancar sesuai yang kuinginkan.</p>
<p>Hari itu aku melihat langsung sosok perempuan itu. Orangnya ramah, mudah tersenyum, dan berpenampilan femme. Tapi sayangnya dia adalah cewek <em>straight</em>. Menjemputnya jelas tidak akan kulewatkan begitu saja. Aku mengajaknya makan agar kami bisa mengobrol panjang lebar. Dia menjelaskan bagaimana dia mengenal kakakku tanpa sengaja via SMS, kemudian akrab selama lebih dari sebulan dan akhirnya jadian. Pacar yang tidak percaya diri untuk ketemuan, gila kerja, tapi dengan segala peraturan konyol seperti tidak boleh menelpon. Dia bilang dia merasa nyaman, menemukan banyak kecocokan, merasa begitu dicintai dan dihargai, perasaaan yang belum pernah dia miliki dengan mantannya. Semua tetek bengek kejanggalan itu diterimanya sebagai pribadi yang unik dan agak misterius, menambah daya tarik.</p>
<p>Setelah pertemuan itu, beberapa kali aku masih dimintanya menemani datang ke undangan teman atau sekedar makan malam berdua. Sebagai &#8220;adik&#8221; tentu saja. Lewat diriku, dia bercerita bagaimana dia semakin hari semakin sayang sama kakakku dan sengaja mengajakku pergi agar kakakku tidak cemburu kalau misal dia pergi dengan orang lain. Agak geli aku mendengarnya, tapi sungguh manis sekali cara dia ingin menjaga kepercayaan kekasihnya.</p>
<p>Dua bulan dia jadian denganku. Bertepatan dengan tahun baru, dia meminta aku menjemputnya dan mengajakku melewatkan pergantian tahun seperti layaknya dua orang yang sedang berpacaran. Apa yang harus kulakukan? Tentu saja aku mencari alasan untuk menolaknya. Kebetulan jaringan operator juga sedang mengalami <em>trouble </em>sehingga SMS-nya datang terlambat. Baru setelah aku sampai rumah sekitar jam dua pagi, aku menerima SMS bertubi-tubi darinya. Aku shock berat. Ternyata dia sangat sedih. Dia merasa aku tidak memedulikannya, tidak menganggapnya layak sebagai pacar. Selama dua bulan, dia selalu mengalah, sabar diperlakukan tidak adil, tapi menurutnya kali ini keterlaluan.</p>
<p>Serasa berpuluh pisau menancap jantungku. Aku merasakan sakit yang dirasakannya. Aku langsung sadar aku terlalu egois, memperlakukannya tidak adil dengan melakoni dua peran yang semuanya hanya demi kepentinganku semata. Dia mencintai sosok laki-laki itu, dan bukan aku. Sedangkan orang yang dicintainya tidak pernah ada. Hanya ada aku, adik perempuan dan orang yang dia sebut pacar.</p>
<p>Aku menangis untuknya malam itu. Betapa besar penyesalanku karena telah menyakiti hatinya. Aku menghancurkan hati perempuan yang tulus mencintaiku. Aku yakin sebelumnya dia telah menangis lebih sering karenaku, lebih sakit dariku. Aku tidak menunggu lama untuk mengakhiri keegoisanku. Pagi harinya, aku menemuinya sebagai &#8220;adik&#8221; dan menjelaskan semuanya. Tidak pernah ada sosok laki-laki yang selama ini dipacarinya. Itulah kenapa dia tidak pernah mau ditelpon apalagi ketemuan, karena sosok itu adalah perempuan.</p>
<p>Sayangnya, waktu itu aku belum punya cukup keberanian untuk mengakui bahwa akulah si pacar yang sesungguhnya. Aku bilang perempuan yang menjadi pacarnya adalah sahabat dekatku, seorang lesbian. Aku memang pengecut waktu itu! Tidak pernah kubayangkan, demi hanya untuk mencari jawaban atas kebingungan dan rasa penasaranku tentang dunia lesbian, aku tega melukai hati seorang perempuan. Lesbian adalah pecinta perempuan, dan tidak sepatutnya aku malah menyakiti hati perempuan. Setelah berbelit-belit menjelaskan, dia tetap tidak percaya dan berpikir kekasihnya tidak cukup mencintainya dan hanya mencari-cari alasan untuk memutus cintanya.</p>
<p>Dia mengatakan akan melupakan dan mengikhlaskan kisah mereka berakhir. Dia juga bercerita sehari sebelum malam tahun baru, dengan keinginan mau memberikan kejutan, dia berusaha menemuiku di kantor di mana aku mengaku bekerja. Betapa kagetnya dia karena tidak ada karyawan yang bernama sama. Lalu dia mencari aku ke rumah dengan bekal nama dan alamat rumah yang pernah kuberikan dulu. Lagi-lagi dia kecewa karena tidak berhasil menemukan rumahku. Padahal dia membawa dua bingkisan kado, satu untukku dan satu untuk kakakku. Sepertinya dia sudah bisa menduga, inilah akhir dari segalanya.</p>
<p>Akhirnya aku hanya menerima kado buatku saja. Aku berulang kali meminta maaf atas kebohongan dan kekacauan ini. Dia menjawab bahwa ini semua sudah takdir, mungkin memang belum jodohnya. Aku tahu dia sebenarnya begitu sedih dan kecewa menerima kenyataan ini. Berkali-kali dia tampak menyeka sudut matanya, berusaha tetap tegar saat berbicara. Ya Tuhan, aku kagum dia bisa berbesar hati menghadapi semua ini. Bahkan aku belum bisa memaafkan diriku sendiri.</p>
<p>Satu pelajaran berharga yang kudapatkan, aku sekarang yakin aku memang pecinta perempuan, tapi aku tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Aku takkkan mau mendekati perempuan <em>straight </em>dengan berpura-pura sebagai laki-laki. Karena yang dicintainya adalah aku yang lelaki. Selanjutnya, kupastikan aku mencari pacar dengan sesama lesbian, karena dengan mereka aku bisa dengan nyaman berkata, &#8220;Aku perempuan dan sedang mencari kekasih perempuan.&#8221;</p>
<p>@ReNn, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/16/have-your-say-berpura-pura-menjadi-lelaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Ditinggal Menikah</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/09/have-your-say-ditinggal-menikah/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/09/have-your-say-ditinggal-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 10:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16554</guid>
		<description><![CDATA[Sendiri lagi setelah kekasih memutuskan menikah dengan lelaki lain? Apakah memang begitu masa depan pasangan kekasih lesbian, tanpa memiliki harapan dan impian? Mungkin sebaiknya sebelum memulai hubungan sudah meyakini diri dan pasangan akan ke mana percintaan mereka melangkah. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Sansan, yang ditinggal menikah oleh kekasihnya.
Semua berawal saat aku melanjutkan SMP dan harus tinggal di asrama perempuan. Waktu meninggalkan bangku SMP dan masuk ke jenjang SMA, aku juga melanjutkan di tempat yang sama. Pada awal jauh dari keluarga, aku merasa tersiksa banget. Aku menangis hampir tiap hari. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/flowers-in-blue-lines.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16555" title="flowers-in-blue-lines" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/flowers-in-blue-lines-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><em>Sendiri lagi setelah kekasih memutuskan menikah dengan lelaki lain? Apakah memang begitu masa depan pasangan kekasih lesbian, tanpa memiliki harapan dan impian? Mungkin sebaiknya sebelum memulai hubungan sudah meyakini diri dan pasangan akan ke mana percintaan mereka melangkah. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Sansan, yang ditinggal menikah oleh kekasihnya.</em></p>
<p><em><span id="more-16554"></span></em>Semua berawal saat aku melanjutkan SMP dan harus tinggal di asrama perempuan. Waktu meninggalkan bangku SMP dan masuk ke jenjang SMA, aku juga melanjutkan di tempat yang sama. Pada awal jauh dari keluarga, aku merasa tersiksa banget. Aku menangis hampir tiap hari. Untunglah orangtuaku masih sering datang ke asrama untuk menjengukku. Tindakan mereka bisa mengurangi kesedihanku.</p>
<p>Kisahku di asrama dan sekolah ternyata menyenangkan. Lama-kelamaan aku merasa nyaman dan bahagia. Akhirnya aku mempunyai banyak teman. Mereka adalah sahabat yang peduli dan sayang pada diriku. Mereka baik hati, bahkan aku selalu diperlakukan dengan spesial oleh mereka. Bahagia banget rasanya!</p>
<p>Aku tak cuma memiliki sahabat, tapi juga memiliki semacam musuh/orang yang kubenci. Sebut saja namanya NR. Aku benci banget sama NR, namun bukan cuma aku saja yang membencinya. Banyak sekali orang yang tidak menyukai perilaku NR, termasuk sahabat-sahabatku. Bagiku, NR itu orangnya menyebalkan. Dia judes, pemalas, pemarah, tidak bersahabat, keras kepala, dan sombong. Tidak heran, NR selalu sendiri.</p>
<p>Suatu hari, aku mendengar dari temen, bahwa katanya walau hati NR keras seperti batu, NR juga tidak bisa sayang sama orang. Nah, di situlah muncul rasa penasaran di dalam hatiku. Apa iya ada orang sekeras itu? Rasa benciku sama NR mulai berubah menjadi rasa penasaran. Aku ingin menaklukkan dirinya dan bisa membuatnya menyayangi diriku. Pelan-pelan aku mulai mendekati NR. Aku mengajaknya mengobrol. Ah, ternyata NR tidak seburuk yang dikatakan orang-orang. Sebenarnya, dia menyenangkan!</p>
<p>Akhirnya, aku menjadi semakin dekat dengan NR. Kami selalu melakukan segalanya bersama-sama. Akibat kedekatanku dengan NR, aku mulai dimusuhi sahabat-sahabatku. Aku mulai tidak peduli. Kukatakan pada mereka bahwa aku lebih memilih NR. Beberapa bulan setelah kedekatanku dengan NR, kami mulai melakukan sentuhan-sentuhan manis, pelukan dan kecupan di pipi. Semua itu rutin kami lakukan sebelum tidur.</p>
<p>Suatu malam, NR dan aku tidur sekamar. Waktu itu aku sedang merasakan sakit perut, jadi niat NR sebenarnya adalah menjagaku. Sepanjang malam, tangan NR terus-terusan mengusap-usap perutku sambil terus menciumi pipiku bahkan akhirnya bibir NR menempel di bibirku. Kami berciuman. Setelah kejadian itu, kami sering melakukan kemesraan yang manis. Setelah lulus, kami terpaksa harus berpisah. Jakar Jakarta-Bandung kami tempuh untuk bersama-sama. Kadang aku menginap di rumah NR atau NR menginap di rumahku.</p>
<p>Suatu saat, aku panik banget pas NR tidak memberi kabar apa-apa, atau datang buat menginap di rumahku. Pelan-pelan, dia menjauh. Dia mulai sulit dihubungi, bahkan sempat selama dua bulan, dia menghilang. Aku mendapat SMS dari NR yang mengatakan dia mau menikah dan memintaku hadir di pernikahannya. Aku lemas rasanya. Badan serasa tak bertulang. Aku cuma membalas SMS-nya memintanya agar aku menciumnya untuk terakhir kalinya. SMS itu tidak dibalas oleh NR sama sekali.</p>
<p>Hari pernikahan NR akhirnya datang juga. Aku memberanikan diri datang, melangkah dengan tangis. Aku mencoba tegar dan menguatkan diriku.  Sakit rasanya saat melihat gadis yang telah mencium bibirku bersanding dengan pria lain. Di pernikahan itu, NR memeluk dan mencium kedua pipiku. Aku tersenyum perih dan mengucapkan selamat buat pernikahannya.</p>
<p>@Sansan, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/09/have-your-say-ditinggal-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Cintaku yang Buta</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/02/have-your-say-cintaku-yang-buta/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/02/have-your-say-cintaku-yang-buta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 11:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16426</guid>
		<description><![CDATA[Berpacaran dengan biseksual atau dengan lesbian yang masih galau dengan kelesbianannya? Tentu sebuah perjuangan yang sangat berat. Apalagi jika pasangan itu bersikap semena-mena, tak menganggap kehadiran diri sebagai kekasih. Cinta yang tak memedulikan kehancuran hati pasangannya tentu saja bukanlah layak disebut cinta. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Rhea yang bercerita tentang kekasihnya yang memperlakukannya bak ban cadangan.
 
Saya sebenarnya bingung dari mana harus memulai cerita ini, tapi mungkin semua berawal ketika saya menyadari bahwa saya berbeda dengan perempuan lain.
Nama saya Rhea, berusia 22 tahun dan telah memiliki seorang perempuan luar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/blackflower.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16428" title="blackflower" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/blackflower.jpg" alt="" width="275" height="183" /></a>Berpacaran dengan biseksual atau dengan lesbian yang masih galau dengan kelesbianannya? Tentu sebuah perjuangan yang sangat berat. Apalagi jika pasangan itu bersikap semena-mena, tak menganggap kehadiran diri sebagai kekasih. Cinta yang tak memedulikan kehancuran hati pasangannya tentu saja bukanlah layak disebut cinta. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Rhea yang bercerita tentang kekasihnya yang memperlakukannya bak ban cadangan.<br />
<span id="more-16426"></span> </em></p>
<p>Saya sebenarnya bingung dari mana harus memulai cerita ini, tapi mungkin semua berawal ketika saya menyadari bahwa saya berbeda dengan perempuan lain.</p>
<p>Nama saya Rhea, berusia 22 tahun dan telah memiliki seorang perempuan luar biasa yang hidup bersama saya selama lima tahun. Lima tahun bukan waktu yang singkat, kan? Lima tahun adalah waktu yang lumayan panjang bagi sebuah hubungan percintaan, tetapi kami sendiri hampir tidak pernah mendefinisikan jenis hubungan yang sedang kami jalani ini. Apakah cinta, persahabatan, atau cinta persaudaraan?</p>
<p>Pernah suatu kali saya bertanya padanya, “Apa sih kita ini?”</p>
<p>Dia hanya menjawab, “Jika dikatakan sahabat, hubungan kita lebih dari itu. Mungkin kita ini seperti saudara.&#8221;</p>
<p>Mungkin kami berdua memang sudah begitu dekat layaknya saudara, tapi yang kami lakukan lebih dari sekedar saudara. Kami saling mencintau, dan kami melakukan hal-hal pribadi yang sering orang lain lakukan ketika berada dalam sebuah hubungan percintaan. Kami sering berbeda pendapat, namun lebih sering lagi kami mengumbar kata-kata cinta dan sayang. Saya memanggilnya ‘Ay’, dan dia memanggil saya ‘Aya’.</p>
<p>Namun hal yang belum pernah dia tahu, bahwa saya adalah seorang pencinta perempuan, berbeda dengan perempuan kebanyakan. Saya memang belum pernah mengatakan secara langsung bahwa saya adalah seorang lesbian, tetapi perhatian dan rasa sayang saya kepada dirinya yang penuh sering saya katakan kepadanya. Bagi saya, telah cukup itu semua untuk menggantikan pernyataan tentang orientasi seksual diri ini.</p>
<p>Kami pergi selalu berdua. Ke mana-mana kami selalu berdua. Makan berdua, bahkan kami juga sering mandi berdua. Kalau kami berada dalam suatu persahabatan yang beranggotakan delapan orang, kami telah terbiasa untuk berdua, meski banyak teman-teman yang protes tentang ekslusivitas kami. Mengapa kami selalu berdua, begitu tanya mereka. Dalam urusan finansial, kami membaginya berdua, hingga tidak ada istilah ‘uang saya’ atau ‘uangmu’. Yang ada hanyalah ‘uang kami’. Ketika salah satu dari kami sakit, yang lain pun ikut khawatir. Ketika saya sakit misalnya, sangat terlihat bahwa dia begitu mengkhawatirkan saya dan malah dia sering mengatakan untuk menggantikan rasa sakit yang saya derita.</p>
<p>Tetapi, di sisi lain, kami bukanlah seperti dua sejoli yang sedang dimabuk cinta. Dalam hubungan kami, dia jatuh cinta dengan beberapa lelaki. Dalam bagian ini, saya ditempatkan sebagai seorang sahabat. Namun ketika saya benar-benar ingin lepas dari dia, dia kecewa. Dia ingin saya selalu ada untuk dirinya. Tidak adil memang, tetapi mungkin dia sudah benar-benar menjadi candu bagi saya. Saya menjadi pasrah dan menerima dirinya, tidak dengan hatinya. Saya sendiri telah mencoba berkali-kali untuk mencintai seorang saja lelaki.  Tetap saya tidak pernah mampu menyukai laki-laki.</p>
<p>Kami, &#8211; dia tepatnya &#8211; mempunya mimpi-mimpi besar. Dia dengan tentang lelaki idamannya, tentang jodohnya, tentang pernikahannya, tentang anak-anaknya, dan sebagainya. Lain halnya dengan saya. Saya hanya akan bertahan di sini, bertahan untuk selalu mencintainya seperti pertama kali saya menciumnya. Saya telah berkali-kali mencoba lepas dari dia, lepas dari hubungan ini, tetapi lagi-lagi saya tidak mampu melihatnya berjuang sok tegar dengan kesulitan-kesulitan yang dia hadapi. Saya luluh. Akhirnya saya yang mendampinginya dalam segala situasi. Yah, saya sadar bahwa dia memang sedang menggantungkan diri kepada saya. Sungguh saya juga bingung sebab saya menikmati ‘penggantungan’ itu.</p>
<p>Mungkin apa yang saya lakukan terlihat bodoh, tetapi saya mencintainya, mencintai dirinya apa adanya, pun dengan segala cinta yang dia miliki kepada orang lain.</p>
<p>@Rhea, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/02/have-your-say-cintaku-yang-buta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Perasaanku Dipermainkannya</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/25/have-your-say-perasaanku-dipermainkannya/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/25/have-your-say-perasaanku-dipermainkannya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 05:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16265</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan percintaan mana pun membutuhkan komitmen agar hubungan tersebut bisa berjalan dengan baik dan lancar. Bukankah romantisme tidak selalu harus menakar cinta, melainkan banyak hal-hal lain yang penting untuk menyuburkan sepasang kekasih? Bagaimana kalau salah seorang tidak terlalu membaktikan dirinya dalam hubungan cinta ini? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita Die3 yang merasa pasangannya mempermainkan keseriusannya berkomitmen.
&#8220;Kamu cantik. Kamu selayaknya berbahagia dengan orang lain.&#8221; Begitu kata-kata mantan, menggema di telingaku ketika lagi-lagi dia memutuskanku untuk yang kedua belas kalinya. Ya, dua belas. Aku tidak salah menulis. Sudah dua belas kali kami ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/flower-standing-out.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16268" title="flower standing out" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/flower-standing-out-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><em>Hubungan percintaan mana pun membutuhkan komitmen agar hubungan tersebut bisa berjalan dengan baik dan lancar. Bukankah romantisme tidak selalu harus menakar cinta, melainkan banyak hal-hal lain yang penting untuk menyuburkan sepasang kekasih? Bagaimana kalau salah seorang tidak terlalu membaktikan dirinya dalam hubungan cinta ini? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita Die3 yang merasa pasangannya mempermainkan keseriusannya berkomitmen.</em></p>
<p><em><span id="more-16265"></span></em>&#8220;Kamu cantik. Kamu selayaknya berbahagia dengan orang lain.&#8221; Begitu kata-kata mantan, menggema di telingaku ketika lagi-lagi dia memutuskanku untuk yang kedua belas kalinya. Ya, dua belas. Aku tidak salah menulis. Sudah dua belas kali kami putus-sambung. Dua minggu lalu, hubungan kami kembali kandas karena lagi-lagi dia menggunakan kata yang sering diucapkannya saat kami bertengkar atau dia meminta putus.</p>
<p>Aku jatuh cinta sama dia. Namanya cantik, secantik orangnya. Sebut saja dia sebagai Cantik. Saking cantiknya, aku sering menyebut namanya berkali-kali kalau aku lagi sendiri. Hanya sekadar menikmati betapa cantik namanya ketika kuucapkan di bibirku. Aku tidak menyangka kalau akhirnya kedekatan kami membuat hubungan pertemanan kami bergeser menjadi hubungan percintaan.</p>
<p>Aku dan Cantik jadian setahun lalu, tepatnya tanggal cantik 10 Oktober 2010. Semuanya terasa sangat cantik. Aku sangat bahagia. Tampaknya dia juga berbahagia karena dia selalu mengatakan bahwa aku adalah bidadarinya yang dikirimkan dari langit untuk dirinya.</p>
<p>Sayangnya, hubungan kami tidak secantik permulaan kami. Baru sebulan kami jadian, kami bertengkar hebat. Sebenarnya, berbeda pendapat sudah sering terjadi di antara kami. Ngambek-ngambekan dan beda opini mewarnai hubungan kami. Tapi, pertengkaran yang sangat besar tak terelakkan lagi. Saat kami bertengkar, Cantik menjauh dan tak bisa kuhubungi.</p>
<p>Selanjutnya, begitulah pola yang terjadi setiap kami bertengkar. Cantik akan menghilang dari hidupku. Teleponnya tidak diangkat. SMS tidak dijawab. BBM juga tidak dipedulikan. Bahkan pada putus kami yang kesepuluh di bulan Juli, dia menghapus diriku di BBM <em>list</em>-nya. Ketika kami jadian, dia meng-<em>add </em>aku lagi dan ketika putus lagi, dia menghapus sekali lagi.</p>
<p>Setiap kali kami jadian kembali, aku berkali-kali mengingatkan tentang sikapnya yang tidak bagus kalau kami sedang bertengkar. Dia meminta maaf dengan polos. Dia bilang, saat putus dengan aku, dia merasa sangat sakit hati. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan hatinya adalah dengan menjauh dariku.</p>
<p>Selama setahun aku dibuat bingung dengan sikap-sikapnya. Kalau lagi kangen sama aku setelah dia memutuskanku beberapa saat (dan menghilang) tahu-tahu dia akan mendekatiku dengan mesra. Dia menyapaku lewat YM. Dia menghubungiku lagi. Aku berkali-kali luluh setiap dia kembali ke pelukanku lagi. Tapi itu hanya sesaat karena setelah itu kami berbeda pendapat, dan lagi-lagi dia menghindari diriku.</p>
<p>Aku merasa dia mempermainkan perasaanku. Aku bagai mainan yang diambil saat dia ingin main, diletakkan saat dia sudah bosan. Aku merasa dia tidak pernah mau serius dengan aku. Aku merasa dia tidak pernah ingin berkomitmen denganku. Dan, aku merasa dia tidak mencintaku sedalam cintaku padanya.</p>
<p>Pada jadian yang kesebalas kali, kukatakan padanya bahwa kali ini adalah kali terakhir aku mau kembali menerima dirinya. Jika dia memutuskanku sekali lagi, maka aku rasa aku sudah cukup lelah dengan permainan cinta ini. Aku mau melepaskan dirinya dan melepaskan hidupku dari ketergantungan dengannya. Kukatakan hal itu dengan serius kepadanya. Waktu itu, dia mengangguk-angguk dan mengatakan bahwa dia mengerti yang aku maksud. Dia juga berjanji untuk berusaha lebih keras agar serius dan berkomitmen dalam hubungan ini.</p>
<p>Namun janji tinggalah janji. Dengan kalimat standar yang sering diucapkan, kembali dia meninggalkanku. Kali ini, aku sudah lebih siap. Kutegarkan hatiku menerima kepergiannya. Kulapangkan hatiku dengan menghapus namanya di BBM <em>list</em>-ku dan mem-<em>block </em>seluruh koneksiku dengannya. Bukan aku yang menginginkan semua berakhir seperti ini, namun dia yang terus menerus membuatku sengsara. Sudah cukup hatiku disiksa oleh kesedihan. Kini saatnya aku bangkit, tegar, dan independen. Kata temanku yang menguatkanku, &#8220;Masih banyak cewek lain secantik dia. Jangan kuatir, pasti mereka mau sama kamu.&#8221;</p>
<p>Aku percaya pada omongan sahabatku. Kini sudah dua minggu berlalu tanpa aku memikirkannya sedikit pun. Dua minggu berlalu tanpa penyesalan. Aku jomblo, tapi aku jomblo yang bahagia karena sekarang pikiranku terbuka. Hatiku juga terbuka, siap menerima si cantik yang lain yang siap kudampingi dan kucurahkan cintaku yang tulus padanya.</p>
<p>@Die3, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/25/have-your-say-perasaanku-dipermainkannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

