Home » Archive

Articles in the Cuci Mata Category

Cuci Mata »

[21 Mar 2009 | 9 Comments | 90 views]

Oleh: Sidney
Weekend ini seperti biasa aku ke mal. Berjalan tak tentu arah sehabis makan di restoran sushi, aku melihat orang-orang berkerumun dari jarak sepuluh meter. Kakiku bergerak ke sana tidak bisa menahan rasa ingin tahu. Ada apa sih ramai-ramai seperti ada penjualan minyak goreng murah, pikirku. Ternyata bukan minyak goreng yang dijual, melainkan hape Blackberry.
Saking ramainya, perempuan-perempuan cantik mbak SPG yang biasanya diabaikan dan dijauhi kini malah cuma duduk santai sementara orang-orang berbondong mengelilinginya. Bahkan si mbak tampak kewalahan dicecar pertanyaan.
Aku jadi makin penasaran.

Cuci Mata »

[14 Mar 2009 | 10 Comments | 65 views]

Oleh: Sidney
Istilah “Don’t judge a person by its appearance”, pasti sudah sering kita dengar. Nasihat nenek atau obrolan antar sesama. Pasti sudah sering sekali mendengar cerita tentang orang yang penampilan luarnya kumuh tapi ternyata konglomerat. Atau penampilan luarnya mentereng ternyata banyak utang.
Tapi belakangan ini karena kita sering dididik untuk berpikir “Don’t judge the book by its cover.” Kita sering mencari hal negatif dari sesuatu yang kelihatan bagus. Perempuan muda yang cantik semampai dan menenteng tas Hermes pasti dia cuma modal cantik doang tanpa otak. Perempuan kaya dan terkenal, pasti dia …

Cuci Mata, Humaniora »

[7 Mar 2009 | 3 Comments | 35 views]

Oleh: Karen
Biasanya rubrik Cuci Mata diisi oleh partnerku, Sidney. Hanya saja hari ini dia berhalangan hadir. Karena itu aku akan mengisinya. Aku berusaha keras meniru gaya tulisannya (katanya peniruan di awal pembelajaran menulis itu baik), sehingga harap dimaklumi kalau tulisanku tidak sebagus karyanya.
***
“Mbak tolong bill-nya.” Pelayan menghampiri mejaku dan Sidney.“Pembayarannya dengan kartu kredit ABC atau tunai?”“Kartu kredit lain, Mbak,” jawab Sidney. “Kenapa?”“Kalau dengan kartu kredit ABC dapat diskon 30%.”“Cuma dengan kartu kredit ABC aja?” tanya Sidney lagi.“Iya, Bu. Sementara ini kerja sama kita dengan kartu kredit ABC.”“Saya nggak punya, pakai …

Cuci Mata »

[28 Feb 2009 | One Comment | 247 views]

Oleh: Sidney
Malam weekend partner mengajakku menghadiri pertunjukkan musik klasik dan soprano yang diadakan di kafe yang dijadikan pusat budaya. Aku sebenarnya bukan tipe pecinta kegiatan arts, partner yang lebih menyukai kegiatan semacam itu. Dia bergaul dengan perempuan-perempuan dari kalangan atas. Apalagi di pertunjukkan musik klasik dan soprano yang merupakan bagian dari penggalangan dana ini biasanya dihadiri oleh sahabar-sahabat partner.
Acara dibuka dengan makanan kecil hors d’oeuvre dan free flow wine. Rich and famous Jakartans are among the guests. Beberapa teman partner memang perempuan sosialita, perempuan-perempuan yang biasa dilihat di majalah-majalah …

Cuci Mata »

[21 Feb 2009 | 8 Comments | 98 views]

Oleh: Sidney
Blackberry. Siapa yang lagi nggak demam sama Blackberry? Di mana-mana, sejauh mata berhasil memandang, para manusia yang mau dianggap melek teknologi atau fashionista menenteng Blackberry. Aku juga mulai keranjingan benda itu, sejak salah seorang manager di kantorku memiliki Blackberry. Dia menularkan virus demam Blackberry kepadaku sehingga kepalaku mulai dipenuhi dengan benda tersebut.
Sementara manager lainnya barusan juga membeli Nokia E71 dan entah bagaimana, biarpun divisinya berjauhan (sangat berjauhan malah!) dengan divisiku, virus nokia N71-nya melayang-layang di udara menuju meja kerjaku. Digempur dua virus yang mematikan membuat daya tahanku menurun. Hmmm, …

Cuci Mata »

[14 Feb 2009 | No Comment | 78 views]

Oleh: Sidney
Valentine. Kata itu mengingatkanku pada warna pink dan kartu berbentuk hati. Setelah merayakan Valentine beberapa kali dengan partner (dan mantan dan gebetan ), aku tidak terlalu menanti-nantikan Valentine (lagi). Kataku sok bijak, toh tiap hari kita bisa saling memberi tanda cinta. Kataku sok ramah, toh tiap hari kita bisa saling bersilahturahmi dengan saudara dan keluarga. Kataku sok inspiratif, toh tiap hari kita bisa memeluk ayah-bunda. Dan kataku sok segala-galanya (termasuk sok udah gede, sok dewasa, sok dituakan, sok pinter, sok paling bener, sok dogmatis), toh tiap hari …

Cuci Mata »

[7 Feb 2009 | 4 Comments | 40 views]

Oleh: Sidney
Aku sudah memutuskan tidak akan ke mal weekend ini. Mamiku memintaku mengantarnya ke hypermarket. Katanya mau beli beras. Kupikir why not? Sekali-sekali aku mau jadi anak berbakti ke orangtua. Mumpung hari ini aku sedang tidak ada janji dengan partner atau teman-teman lesbianku.
Kupikir sudah masuk minggu kedua biasanya yang namanya supermarket atau hypermarket sudah tidak seramai akhir bulan. Ternyata aku salah besar. Mulai dari parkiran yang penuh sampai orang-orang berjibun mendorong kereta belanja. Sepertinya sebagian orang di Jakarta menggunakan hypermarket sebagai sarana hiburan. Kulihat ada anak-anak yang gembira didorong dengan …

Cuci Mata, Humaniora »

[31 Jan 2009 | 5 Comments | 35 views]

Oleh: Sidney
Jika diandaikan dalam perang, tas dan sepatu adalah amunisi bagi perempuan. Coba buka mata kalau berada di mal, lihat beragam tas dan sepatu yang mencolok mata. Nggak usah jauh-jauh deh, coba lihat jenis dan sepatu yang kamu punya. Mulai dari sepatu berhak tinggi dalam beragam model sampai sandal santai untuk kegiatan kasual biasanya dimiliki para femme. Buat yang andro/butch, biasanya punya koleksi sepatu kets, sepatu bot, sampai sandal kulit ala bapak-bapak. Kalau melihat koleksi tas para femme, ada saja tas bermerek sampai tas kualitas KW 2 hasil berburu di …

Cuci Mata »

[24 Jan 2009 | 3 Comments | 69 views]

Oleh: Sidney
Hari gini tinggal di Jakarta siapa sih yang nggak pernah ke mal? Puluhan mungkin ratusan mal tersebar di kota Jakarta tercinta ini. Kafe dan resto pun jadi tempat nongkrong wajib tiap weekend. Ke mal pun jadi lebih sering dibanding ke rumah ibadah.
Bisa dibilang kita bersosialisasi, makan, minum, “nyetor” di toilet, bermain, mencari hiburan, bahkan bekerja pun di mal. Entah berapa puluh jam per minggu yang kita habiskan untuk hidup di mal. Coba mulai sekarang kumpulkan karcis parkil mal, lalu setiap bulan hitung jumlah jam yang kita habiskan di sana. …

Cuci Mata, Humaniora »

[17 Jan 2009 | 2 Comments | 98 views]

Oleh: Sidney
Kejadian ini hampir sebulan lewat, tapi baru teringat lagi waktu temanku men-tag fotoku di salah satu jaringan social network. Foto aku dan serombongan cewek dalam office party yang sedang tos-tosan memegang gelas wine di tangan. Ada juga foto aku dan teman-teman lain yang lagi girang memeletkan lidah, tetap dengan gelas wine di tangan. Ada foto aku sendiri tetap dengan gelas wine di tangan.
You know what they’re saying about social networking such as Facebook or Friendster or whatever… kamu bergabung karena ingin “dilihat” dan “melihat”. Yang terutama adalah kamu …