<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Cuci Mata</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/cuci-mata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Happy Healthy Sidney</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/01/cuci-mata-happy-healthy-sidney/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/01/cuci-mata-happy-healthy-sidney/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 16:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17793</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Januari sudah berakhir. Kita sudah masuk bulan Februari lho. 1-2-12. Tanggal bagus untuk kawinan tuh. Berapa banyak yang kondangan hari ini? Atau malah nggak ada yang mikir untuk kondangan karena lesbian dan kondangan itu bukan dua kata yang berdampingan. Kapan nyusul etc, blablabla&#8230; Eh, capek kali ya ngomongin kawinan nggak ada habisnya.

Aku nggak mau bahas kawinan sebenarnya. Mau bahas soal kesehatan fisik. Liburan sudah berlalu. Makan enak sudah di perut. Bahkan sudah keluar dari perut. Tapi lebih banyak yang jadi lemak di perut.  Tadi siang aku lunch meeting ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/poci.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17794" title="© Copyright 2011 CorbisCorporation" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/poci-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Januari sudah berakhir. Kita sudah masuk bulan Februari lho. 1-2-12. Tanggal bagus untuk kawinan tuh. Berapa banyak yang kondangan hari ini? Atau malah nggak ada yang mikir untuk kondangan karena lesbian dan kondangan itu bukan dua kata yang berdampingan. Kapan nyusul etc, blablabla&#8230; Eh, capek kali ya ngomongin kawinan nggak ada habisnya.<br />
<span id="more-17793"></span><br />
Aku nggak mau bahas kawinan sebenarnya. Mau bahas soal kesehatan fisik. Liburan sudah berlalu. Makan enak sudah di perut. Bahkan sudah keluar dari perut. Tapi lebih banyak yang jadi lemak di perut.  Tadi siang aku lunch meeting dengan kawan lama. Rasanya perih hati ini waktu kawanku bilang, &#8220;Sid, muka lu kok makin kayak bakpao? Pipi lu makin tembem. Diet dong!&#8221;</p>
<p>Aku memberinya <em>killer look&#8230; How could you said those things after a big lunch? </em>Kalau kata ABG sekarang, rasanya jleeeb! Selama lima detik aku kepingin jadi penderita bulimia. Tapi masa mau dimuntahin makanannya? Kan sayang. Lagian, aku nggak mau sehat dengan cara yang sakit kok.</p>
<p>Aku langsung ingat<em> membership</em> fitnesku yang sudah kubayar dengan potongan langsung kartu kredit tiap bulannya tapi ternyata&#8230; Jreng jreng terakhir kukunjungi&#8230; 3 bulan lalu. Rasanya setelah dibilang tembem tadi pengin lari 3 jam di <em>treadmill</em>.</p>
<p>Pulang dari kantor, rencananya mau fitnes. Tapi aku harus menemani sepupuku cek kolestrol di rumah sakit. Aku langsung merasa sakit leher dan kepingin tes kadar kolestrolku meskipun nggak punya keluhan seperti dia. Pusing-pusing, kesemutan di wajah, dan keram. Tapi aku jadi merasa ikutan cemas. Akhirnya aku juga cek kadar kolestrol dan berpikir untuk <em>full medical check up</em>.</p>
<p>Tapi yang paling membuatku takut di rumah sakit itu bukan hasil tes darah atau dokternya, tapi&#8230; Timbangan. Ketika harus menimbang berat badan, aku merasa dikhianati. Rasanya sakit banget melihat angka di timbangan. Seperti diselingkuhi lima pacar lesbian sekaligus. Padahal sebenarnya sudah merasakan gejala-gejala diselingkuhi dengan naiknya ukuran baju, misalnya dari L ke XL. Dari XL ke Simpati.</p>
<p>Di dalam tubuh lesbian yang sehat terdapat jiwa lesbian yang sehat juga. Mestinya begitu, kan, kalau menurut pepatah lesbian 101. Tapi tak peduli lesbian atau bukan, kesehatan itu sesuatu yang nggak bisa ditawar lagi. Berhubung bulan kemarin adalah perayaan ulang tahun SepociKopi, aku jadi diingatkan akan usia. Inget umur, Sid, begitu nasihat bijaksana nenek Sidney. Maksudnya? Ya, maksudnya semakin maju usia, lesbian seharusnya makin ingat persiapan fisik, mulai dari asuransi sampai penjagaan tubuh. Siapa yang mau jadi lesbian yang di usia produktif terpaksa harus menelan bermacam-macam obat pencegah kolesterol, darah tinggi, gula darah, asam lambung, asam urat, dan lain-lain? Bagaimana bisa menyayangi kekasih kalau kita cuma bisa bolak-balik rumah sakit doang? Hellooow! Mending bolak-balik mal deh.</p>
<p>Sehabis menulis ini, aku langsung bawa sepatu olahraga ke mobil, taruh<em> gym bag</em>-ku dan nggak menyia-nyiakan ratusan ribu per bulan untuk<em> fitness centre</em> yang tak terpakai.  Pokoknya, kalau ada <em>lunch meeting</em> lagi, kawanku akan melihat  <em>body</em> Jennifer Lopez di hadapannya.</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/01/cuci-mata-happy-healthy-sidney/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Happy Shopping Day</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/04/cuci-mata-happy-shopping-day/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/04/cuci-mata-happy-shopping-day/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 16:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[mantan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17083</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Pada malam Tahun Baru, kami sekeluarga iseng ke mal untuk dinner, ceritanya. Tentu bisa membayangkan dong berapa juta manusia Jakarta yang ada di mal pada malam itu. Ratusan juta manusia berjubel berdesakan dorong-dorongan untuk cuci mata. Seperti nggak ada tempat lagi di dunia ini buat penduduk Jakarta menghabiskan Tahun Baru. Ini sebenarnya olok-olokan pada diri sendiri juga. Paham, kan?
Saking ramainya, kami terpaksa harus menunggu 1,5 jam untuk bisa makan malam di resto favorit. Daripada menunggu dengan muka manyun, tentunya aku dan Mom berkeliling dong. Ke mana lagi kalau bukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/shopp.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17086" title="shopp" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/shopp-300x239.jpg" alt="" width="300" height="239" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Pada malam Tahun Baru, kami sekeluarga iseng ke mal untuk <em>dinner</em>, ceritanya. Tentu bisa membayangkan dong berapa juta manusia Jakarta yang ada di mal pada malam itu. Ratusan juta manusia berjubel berdesakan dorong-dorongan untuk cuci mata. Seperti nggak ada tempat lagi di dunia ini buat penduduk Jakarta menghabiskan Tahun Baru. Ini sebenarnya olok-olokan pada diri sendiri juga. Paham, kan?</p>
<p>Saking ramainya, kami terpaksa harus menunggu 1,5 jam untuk bisa makan malam di resto favorit. Daripada menunggu dengan muka manyun, tentunya aku dan Mom berkeliling dong. Ke mana lagi kalau bukan <em>shopping </em>bareng<em>? Like mother, like daughter. </em>Pap-ku tampak cemas biasanya kalau ibu dan anak ini sudah bersatu di mal, jadi dia memilih pura-pura lihat mobil atau elektronik.</p>
<p>Mom mendadak kepingin cari daster baru. Daster? Di mana aku mesti cari daster batik kesukaannya? Masa pura-pura liburan ke Jogja atau Solo untuk beli daster. Niat banget kan perjuanganku untuk beli baju Imlek buat Mama. Xixixi, memang niat liburan aja deh. Mom sudah nyaris mau aja kuajak liburan ketika matanya mampir melihat <em>sale </em>Kate Spade.</p>
<p>Iseng, aku ikut melihat arah tatapannya.</p>
<p>“Warna itu cocok buatmu,” kata Mom. Tanpa perlu ditunjuk pun, aku sudah tahu yang mana tas yang cocok untukku. Aku dan Mom sehati dalam urusan belanja. Kami melangkah bersama menuju butik Kate Spade. Ini salah restorannya yang menyuruh kami menunggu. Ihiks. Firasatku mengatakan 80 banding 20 kami akan membeli tas itu.</p>
<p>Sebelum sempat masuk ke butik, tiba-tiba ada tangan yang menyambar tubuhku. Kaget. Kupikir copet. Tapi kok bisa ada copet di mal?</p>
<p>Aku terbelalak memandang tante-tante di depanku, menjijing tas Hermes dengan rambut disasak tinggi dan sepatu Loubotin-nya. Tidak hanya aku yang kaget, ibuku juga.</p>
<p>Itu&#8230; mantanku semasa kuliah.</p>
<p>Sidney? sapanya</p>
<p>Tess? jawabku.</p>
<p><em>Shock </em>dong.</p>
<p>Kok bisa sih ketemu dia di sini? Dulu hubungan kami lumayan buruk dan kami putus karena Tess memutuskan untuk menikah. Serius. Dia memakai kata “memutuskan”. Dia bilang, “Sid, aku memutuskan untuk menikah. Jadi sebaiknya kita putus saja.”</p>
<p>Dia berbasa-basi penuh kepalsuan. Di belakangnya dua <em>baby sitter </em>mengiringi langkah seorang balita dan satu batita yang berada di <em>stroller</em>.</p>
<p><em>“Keep in touch ya&#8230;” </em>teriaknya sambil berlalu.<br />
Langsung kubuang kartu nama yang diberikannya padaku ke tempat sampah tidak jauh dari sana.</p>
<p><em>“Good</em>,” kata ibuku. “Mom nggak pernah suka dia. Waktu dulu kalian berteman, kamu <em>moody </em>sekali. Tidak seperti pertemananmu sekarang (Mom menyebut nama partner) yang buat kamu sering senyum.”</p>
<p>Mom, seandainya Mom tahu seperti apa buruknya hubungan kami dulu. Lalu aku berpikir&#8230; apakah Mom sebenarnya tahu sejauh apa hubungan kami. Antara aku dan si tante bersasak itu dan partner sekarang?</p>
<p>Entahlah, karena aku tidak bertanya, dan Mom juga tidak melanjutkan topik. Karena beberapa menit kemudian kami amat sibuk, dengan kantong Kate Spade berisi tas warna pink itu sudah ada dalam jinjinganku.</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/04/cuci-mata-happy-shopping-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: I Love Me</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/21/cuci-mata-i-love-me/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/21/cuci-mata-i-love-me/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 12:46:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16872</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Bukannya mau memberi kesan narsis atau egois tapi mencintai yang terpenting adalah mencintai diri sendiri. Siapa gitu pernah bilang, sebelum kita bisa membahagiakan orang lain, kita harus bahagaia lebih dulu. Sama dengan cinta. Sebelum kita mencintai diri orang lain, kita harus bisa mencintai diri sendiri. Sebelum bisa memanjakan orang lain, kita harus bisa memanjakan diri. I can go on and on about this, but I think you&#8217;ve got my point.
Tadi sore aku baru mendapat kabar tentang seorang teman yang sakit. Oleh dokter, dia diagnosis&#8230; kurang gizi dan kurang makan. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/poci1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16873" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/poci1.jpg" alt="" width="256" height="329" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Bukannya mau memberi kesan narsis atau egois tapi mencintai yang terpenting adalah mencintai diri sendiri. Siapa gitu pernah bilang, sebelum kita bisa membahagiakan orang lain, kita harus bahagaia lebih dulu. Sama dengan cinta. Sebelum kita mencintai diri orang lain, kita harus bisa mencintai diri sendiri. Sebelum bisa memanjakan orang lain, kita harus bisa memanjakan diri. <em>I can go on and on about this, but I think you&#8217;ve got my point</em>.</p>
<p>Tadi sore aku baru mendapat kabar tentang seorang teman yang sakit. Oleh dokter, dia diagnosis&#8230; kurang gizi dan kurang makan. Alamak jreng-jreng. Hari gini? Bengong dong aku. Langsung membayangkan headline di koran lampu merah “Seorang Eksekutif Muda Ditemukan Tewas di Apartemen Mewah Karena Kurang Gizi”.</p>
<p><span id="more-16872"></span>Aku nggak habis pikir membayangkan bagaimana seseorang bisa menyakiti dirinya sedemikian rupa sampai kurang gizi. Ini perempuan sukses, lajang, mandiri, dan memutuskan untuk merusak dirinya secara sadar. Masa sih dia sama seperti bapak-bapak pengangguran yang kalau ada uang Rp.10.000 lebih memilih rokok daripada makan? Ya ampun, tepok jidat benturin kepala si bodoh ini ke dinding.</p>
<p>Bagaimana bisa ada seseorang yang sanggup liburan di Paris, <em>tweeting</em> sedang minum Merlot di resto paling <em>hip </em>di Jakarta, beli tas Kate Spade waktu sale kemarin, tapi kurang gizi? Ini kan ibaratnya ada orang yang bisa minum kopi Starbucks tapi pulang ke rumah makan nasi plus kecap manis dan krupuk. <em>Where&#8217;s the logic in this? Is she stupid or what?</em></p>
<p>Sibuk sampai nggak sempat makan? Oh, <em>please </em>deh! Bahkan Bill Gates atau Oprah Winfrey aja masih sempat makan kok.</p>
<p>Diet? Okelah diet? <em>Hello? </em>Hari gini diet kan banyak program khusus yang tidak membuatmu harus melaparkan diri sampai didiagnosis kurang gizi. Walau aku bersyukur diberkahi tubuh langsing dan tidak perlu diet menguruskan badan, tapi aku tahu ada program diet dengan makanan sehat dan teratur yang membuat kita bisa menyantap makanan yang diatur kalorinya dan gizi seimbang.</p>
<p>Patah hati sampai nggak mau makan? <em>Shrug</em>&#8230; ya ampun. Baca paragraf pertama deh. Bagaimana bisa kita mencintai orang lain kalau kita nggak mencintai diri sendiri. Atau yang lebih buruk lagi, bagaimana bisa ada orang yang merusak dirinya sendiri dengan memasukkan segala zat beracun macam nikotin dan alkohol tapi tidak makan makanan sehat dan berharap dicintai?</p>
<p><em>I love myself </em>ini sungguh bukan cuma slogan. Aku nggak pernah membayangkan ada orang yang sebegitu bodohnya mau merusak diri hingga mendengar cerita ini. Makan merupakan kebutuhan utama manusia. Sakit kurang makan dan kurang gizi jika dialami oleh orang yang hidupnya berkecukupan, menurutku, itu kegiatan merusak diri secara sadar.</p>
<p>Bagaimana dengan lesbian? Benci dengan kelesbianan diri sampai harus merokok tanpa henti? Banyak tuh yang seperti itu. Ada teman lesbianku yang mendadak jadi perokok akut setiap percintaannya babak belur. <em>Unbelievable, how much she hates herself! </em>Bukan juga cerita baru kalau dapat kabar lesbian bunuh diri karena ditolak cintanya. Atau lesbian menyakiti tubuhnya saat berantem dengan pacar dengan cara menyilet-nyilet. Brrr, <em>my body is shivering just to think about it</em>. Mana cakep sih miting dengan bos besar dengan lengan bekas silet terbuka di atas meja?</p>
<p>Aduh, ngomongin semua ini membuatku makan di restoran enak dan nonton bioskop. Tapi tentu saja tidak sendirian, enaknya bersama partner. Mencintai diri sih memang oke, tapi ingat loh, manusia tidak sanggup hidup sendirian. Karena itulah enaknya punya pasangan yang sayang sama aku. <em>I love her! </em>*wink*</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/21/cuci-mata-i-love-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Antik Batik</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/01/cuci-mata-antik-batik/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/01/cuci-mata-antik-batik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 13:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[mode]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16434</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Di acara kawinan kemarin&#8230; Wait. Bukan, bukan kawinan &#8220;itu&#8221; tapi kawinan adiknya kakak ipar yang berlangsung di taman &#8211; I never get pesta taman di Jakarta pada musim hujan ya&#8230;. Dengan keribetan perlunya pawang hujan de el el &#8212; aku lagi-lagi disadarkan dengan betapa batik sudah jadi pakaian resmi kenegaraan, eh, maksudnya kondangan.
Para pria yang hadir memakai batik dengan kain cemerlang yang tampak mahal. Sementara perempuannya memakai gaun/kebaya batik indah yang membuat pemakainya jadi makin anggun dan cantik. Rambut disasak tinggi, leher jenjang nan indah, batik yang membalut tubuh&#8230; ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/batik.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16439" title="batik" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/batik-214x300.jpg" alt="" width="214" height="300" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Di acara kawinan kemarin&#8230; <em>Wait. </em>Bukan, bukan kawinan &#8220;itu&#8221; tapi kawinan adiknya kakak ipar yang berlangsung di taman &#8211;<em> I never get </em>pesta taman di Jakarta pada musim hujan ya&#8230;. Dengan keribetan perlunya pawang hujan de el el &#8212; aku lagi-lagi disadarkan dengan betapa batik sudah jadi pakaian resmi kenegaraan, eh, maksudnya kondangan.</p>
<p><span id="more-16434"></span>Para pria yang hadir memakai batik dengan kain cemerlang yang tampak mahal. Sementara perempuannya memakai gaun/kebaya batik indah yang membuat pemakainya jadi makin anggun dan cantik. Rambut disasak tinggi, leher jenjang nan indah, batik yang membalut tubuh&#8230; Oh, cantiknya perempuan indonesia. Belakangan ini, aku sering mengenakan kebaya kalau mendapat undangan acara mulai dari pernikahan sampai acara resmi, seperti launching produk perusahaan atau ulang tahun bos. Kata partner, aku terlihat sangat cantik dengan kebaya.</p>
<p>Pada hari kerja di kantor, sebulan sekali pada Jumat minggu pertama kami memakai batik. Ini konsensus bersama loh, bukan keharusan. Tapi kami senang melakukannya karena sering kali aku jadi punya alasan beli batik baru. Iya, kan? Kan nggak mungkin pakai batik yang sama selama setahun. Nanti dikira seragam.</p>
<p>Memakai batik bukan cuma sekadar karena batik dari Indonesia. Tapi ada kebanggaan sebagai orang Indonesia yang memakainya. Pada tahun 2009 UNESCO sudah menetapkan Batik sebagai the Intangible Cultural Heritage from Indonesia. Bangga dong kita! Sayangnya nggak banyak orang Indonesia yang tahu bahwa Batik sudah diakui secara internasional sebagai warisan budaya Indonesia. Bahkan Obama datang di Bali kemarin itu juga pakai batik untuk menghormati kita. Batik bukan sekadar pakaian, tapi mengandung arti filosofis.</p>
<p>Salah satu arti filosofis dari batik adalah kesabaran. Pernah lihat orang membatik dengan canting? Aku tak pernah lupa ketika melihat seorang ibu membatik dengan penuh cinta dan sabar menggambar motif di atas kain dengan cantingnya. Selembar kain batik itu berarti keringat, cinta, dan kesabaran dari si pembatik. Jadi jangan komplain deh bilang batik asli itu mahal bikinnya saja bisa berbulan-bulan. Karena setiap lembar kain itu unik. Memiliki kisah sendiri.</p>
<p>Aku dapat warisan kain batik dari omaku. Sampai sekarang kain batik itu masih kusimpan dan pernah ditawar sama seorang kolektor tapi tak mau kulepas. Walaupun tawarannya bisa buat beli tas Bottega Veneta sih tetap saja tak mau kulepas. Tas Hermes sekalipun nggak bakal bisa mengganti warisan yang tertinggal dari kain batik peninggalan Oma.</p>
<p>Kesabaran itu penting, harta berharga dalam hidup. Indah banget filosofis kesabaran. Apabila semua dikerjakan dengan tekun, teliti, dan berkualitas, maka satu elemen penting agar bisa menjadi sukses tentu saja adalah kesabaran. Menjadi lesbian yang sukses itu jalan hidup artistik. Makanya, perlu kesabaran. Butuh pendidikan yang tinggi dan mendaki karier sebelum menjadi lesbian mapan yang bisa menjadi apa adanya di masyarakat. Itu belum termasuk hubungan percintaan ya. Hubungan percintaan yang lama pasti didasari oleh kesabaran sepasang lesbian untuk memperjuangkan komitmen, kesetiaan, dan kematangan pribadi.</p>
<p>Kalau lesbian belum apa-apa udah nggak sabar pengin lari dari rumah bersama pacar padahal pendidikan masih morat-marit dan tidak punya pekerjaan, bagaimana bisa menjadi lesbian yang mapan, baik dalam hubungan percintaan maupun finansial? Miskin itu bukan kebanggaan, bukan juga kartu As buat bersikap semena-mena dengan yang berpunya, Jenderal!</p>
<p>Ah, kini saatnya memilih kain batik yang bisa aku cocokkan dengan kebaya di acara <em>cocktail party</em> dengan dubes negara tetangga. Sidney mau pasang sanggul dulu. Ciao! Salam kebanggaan batik!</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/01/cuci-mata-antik-batik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Happy 3rd Anniversary, Sid!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/16/cuci-mata-happy-3rd-anniversary-sid/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/16/cuci-mata-happy-3rd-anniversary-sid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 16:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[hari istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16106</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Membaca Tajuk 2 Juta Pengunjung dan Kita kemarin membuatku ternganga. Sungguhan lho, sampai mulutku terbuka dan bengong. Padahal lagi ngopi-ngopi cantik sama pacar, sempat-sempatnya buka iPad untuk membuka situs SepociKopi. Man, 2 juta gitu&#8230; Coba kalau itu rupiah, wuih dapat dompet Braun Buffel tuh, dompet ya bukan tas&#8230;. Tapi membandingkan SepociKopi dengan rupiah, menurutku sih itu seperti menjual diriku. Sejak awal para penulis tahu visi SepociKopi adalah berbagi dan kerelaan memberi.
November ini juga menandai sudah tiga tahun aku menulis di SepociKopi, ini membuatku menganga lebih lebar lagi. Tiga tahun. Ebuset, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/poci3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16107" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/poci3.jpg" alt="" width="350" height="232" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Membaca Tajuk <a href="http://sepocikopi.com/2011/11/15/dua-juta-pengunjung-dan-kita/">2 Juta Pengunjung dan Kita</a> kemarin membuatku ternganga. Sungguhan lho, sampai mulutku terbuka dan bengong. Padahal lagi ngopi-ngopi cantik sama pacar, sempat-sempatnya buka iPad untuk membuka situs SepociKopi. <em>Man</em>, 2 juta gitu&#8230; Coba kalau itu rupiah, wuih dapat dompet Braun Buffel tuh, dompet ya bukan tas&#8230;. Tapi membandingkan SepociKopi dengan rupiah, menurutku sih itu seperti menjual diriku. Sejak awal para penulis tahu visi SepociKopi adalah berbagi dan kerelaan memberi.</p>
<p>November ini juga menandai sudah tiga tahun aku menulis di SepociKopi, ini membuatku menganga lebih lebar lagi. Tiga tahun. Ebuset, lama juga. Waktu berlalu tidak terasa. Kerutan di mataku semakin dalam. (*brb* buat <em>appointment </em>untuk totok aura). Aku ingat waktu pertama kali mendapat SMS ajakan menulis di SepociKopi, saat itu aku sedang duduk menikmati espresso di Roma selewat makan siang sehabis dari Trevi Fountain dan berpikir suatu hari aku harus kembali ke kota ini lagi.</p>
<p><em><span id="more-16106"></span>Poof, just like a sign</em>, SMS itu masuk. Dari orang yang nggak tahu apa-apa tentang SepociKopi aku melahap semua isinya waktu pulang ke Indonesia. Yah, nggak semua sih, namanya juga dijeda-jeda dengan kegiatan membaca laporan dari bos dan panggilan sekretaris untuk urusan ini-itu. Tapi aku membaca cukup banyak untuk tahu seperti apa visi dan misinya SepociKopi.</p>
<p>Selama tiga tahun ini, aduh, aku jadi rada serius nih, nggak apa-apa ya. Lagian rubrikku kan namanya cuci mata, anggaplah ini cuci mata di SepociKopi. Selama tiga tahun ini kulihat banyak penulis muncul lalu hilang. Ada yang cuma mau curhat, ada yang mencari kenalan atau pacar, ada yang kehilangan ide. Ada pula yang kelihatan banget punya semangat besar seakan-akan sumber tenaganya berasal dari negeri antah berantah. Tapi dari penulis-penulis yang bertahun-tahun menulis di sini, kulihat ada bakti dan dedikasi tulus tanpa kenal pamrih. Hiks, aku jadi terharu. (sodorin tisu-red)</p>
<p>Sebanyak-banyaknya uang, dia akan habis. Aku tahu ini karena yah <em>you know</em>, bagaimana gilanya aku <em>spending money</em>. Tapi keikhlasan dan niat baik itu tak kenal pupus. Bahwa di dunia yang gila dan kita mati-matian kepingin punya pacar seperti <em>Twihards </em>antre nonton <em>Breaking Dawn</em>, ada dunia kecil buat lesbian di sudut ini yang mendapat jutaan pengunjung. Dunia di mana kita bisa jadi diri kita tanpa perlu men-<em>deny </em>siapa diri kita.</p>
<p>Kalau SepociKopi sedang merayakan dua juta pengunjung, maka aku diam-diam juga merayakan tiga tahun menulis di situs ini. Tulisanku memang tidak pernah serius dan mungkin isinya paling tidak penting dari semua artikel di SepociKopi, namun bagiku yang terpenting adalah niatku untuk berbagi buat sesama lesbian. Hidupku di dunia <em>off line </em>sudah <em>rempong </em>dengan bisnis, pacar, dan belanja, maka sejujurnya dunia kecil <em>online</em>-ku di SepociKopi memberikan kesegaran yang berbeda untukku. Mungkin akulah yang seharusnya berterima kasih kepada SepociKopi. Situs ini yang memberikanku oase kecil di tengah gurun pasir tandus hidupku yang garing kriuk kriuk (<em>note to self:</em> Cari tiket pesawat ke Bali buat <em>holiday</em>).</p>
<p>Itu jelas nggak bisa digantikan oleh uang sebanyak apa pun. Ajakan menulis tiga tahun lalu datang tanpa rayuan, tanpa iming-iming. Aku lagi memikirkan sepatu baru yang aku butuhkan, sekalian titipan tas buat pacar. Pesan itu hanya berbunyi, <em>“Sid, lo masih ingat gue, kan? Alex. Dulu kita pernah ngupi dan ngobrol banyak soal ide dan gagasan berbagi dan gue tau lo punya potensi menulis. Coba deh mampir ke situs SepociKopi. Elu lihat. Di sana kita punya ruang untuk berbagi dengan sesama.”</em></p>
<p><em>And the rest is history&#8230;</em></p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/16/cuci-mata-happy-3rd-anniversary-sid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Pacar Kelima</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/26/cuci-mata-pacar-kelima/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/26/cuci-mata-pacar-kelima/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 16:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15599</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Tadi siang teman kantorku ditelepon oleh petugas penawaran kartu kredit. Setelah dua menit menolak dengan nada yang manis, temanku menutup telepon sambil menggerutu, &#8220;Nawarin kartu melulu. Sekali-sekali nawarin untuk bayarin tagihan gue dong.&#8221;
Coba lihat hampir setiap hari hape kita dijejali tawaran KTA dan betapa seringnya kita mendapat telepon yang menawari kita kartu kredit tambahan, pinjaman dengan bunga ringan, kartu kredit lain dari bank entah.

Bagaimana kita tidak tergoda punya sampai lima kartu kredit jika kartu kredit A menawari bonus tertentu. Kartu kredit B menawari promo resto bejibun. Kartu kredit C ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/poci2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15600" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/poci2.jpg" alt="" width="270" height="186" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Tadi siang teman kantorku ditelepon oleh petugas penawaran kartu kredit. Setelah dua menit menolak dengan nada yang manis, temanku menutup telepon sambil menggerutu, &#8220;Nawarin kartu melulu. Sekali-sekali nawarin untuk bayarin tagihan gue dong.&#8221;</p>
<p>Coba lihat hampir setiap hari hape kita dijejali tawaran KTA dan betapa seringnya kita mendapat telepon yang menawari kita kartu kredit tambahan, pinjaman dengan bunga ringan, kartu kredit lain dari bank entah.<br />
<span id="more-15599"></span><br />
Bagaimana kita tidak tergoda punya sampai lima kartu kredit jika kartu kredit A menawari bonus tertentu. Kartu kredit B menawari promo resto bejibun. Kartu kredit C menawari diskon di sana-sini. Selalu saja ada alasan bagi kita untuk memiliki kartu kredit baru. Belum lagi iming-iming bebas biaya tahunan, dengan syarat dan ketentuan berlaku.</p>
<p>Dulu aku pernah punya kartu kredit untuk perempuan. Yang katanya dapat bonus ini dan diskon itu untuk kegiatan perempuan macam spa, salon, hingga mamogram. Tapi aku cuma pakai kartu kredit itu selama setahun karena setelah itu aku udah nggak dapat <em>free annual </em>lagi. Yang setelah kupikir-pikir kok kartu khusus perempuan itu nggak menawariku acara <em>lesbian night </em>di mana gitu ya? Hm&#8230;</p>
<p>Bila kuanalogikan antara kartu kredit dan pacar, punya banyak kartu kredit seperti punya banyak pacar. Awalnya kelihatan menjanjikan, mengiming-imingi kita dengan segala kenikmatan hidup tapi oh tapi tunggulah ketika tagihan datang. <em>You enjoy it, you pay.</em> Bayangkan kalau kita punya lima pacar. LIMA. Lima lesbian yang bakal mengunyah-ngunyah si pacar kalau sampai nggak mengurus kelimanya dengan baik. Membayangkannya saja sudah pusing. Sama seperti me-<em>maintain </em>kartu kredit. Punya lima kalau nggak bisa bayar, levelnya sama seperti dikejar hiu dari film <em>Jaws</em>. <em>*Jaws&#8217;s music score in background* </em></p>
<p>Baiknya kita cukup punya satu  kartu kredit. Kalau masih kurang, ada kartu debet, atau kipas-kipas saja dengan segepok uang tunai ala mafia yang membawa uangnya di koper. Kartu-kartu kredit kedua dan seterusnya hanya godaan yang menanti untuk menjerat korban. Bayangkan tawaran-tawaran kartu kredit itu seperti lesbian-lesbian keren nan bermutu yang berseliweran dan menawarkan diri agar dimiliki. <em>Jleb!</em></p>
<p>Mungkin sudah saatnya kita menoleh dan memandang si pacar sebagai kartu kredit platinum yang cuma ada satu-satunya di jagat raya semesta ini, dengan nama kita tertera dengan tinta emas di kartu itu. Kitalah  ratu pemilik kartu kredit tersebut, sehingga semenarik apa pun tawaran kartu kredit lain, kita nggak tergoda.</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
<p>PS: sembari menulis ini di mal, &#8216;kartu kredit platinum&#8217; tadi digesek untuk membeli dompet baru. Xixixi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/26/cuci-mata-pacar-kelima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Friendship is Overrated</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/05/cuci-mata-friendship-is-overrated/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/05/cuci-mata-friendship-is-overrated/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 14:05:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15145</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Getaran Ping BBM mengagetkanku yang sedang kencan dengan  partner.
“Sibuk?” Pertanyaan berikut muncul di layar BBM-ku. D’oh! Kenapa juga nge-Ping kalau setelahnya nanya apakah aku sibuk atau tidak.   Menurutku Ping BBM itu tujuannya urgent. Ada yang penting yang harus  disampaikan nggak perlu pakai basa-basi lagi. Sebal no. 2.
“Whatsup?” jawabku.
“Betul  ya si X* nggak keterima di perusahaanmu?”
* X  adalah pacar si pengirim BBM, kita sebut saja namanya Z.
“Ya,  betul,” jawabku lagi.
“Nggak  bisa kamu tolongin gitu? Ngomong sama siapa biar bisa diterima? Dia down banget. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/friendship-bracelet.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15152" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/friendship-bracelet-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Getaran Ping BBM mengagetkanku yang sedang kencan dengan  partner.</p>
<p>“Sibuk?” Pertanyaan berikut muncul di layar BBM-ku. D’oh! Kenapa juga nge-Ping kalau setelahnya nanya apakah aku sibuk atau tidak.   Menurutku Ping BBM itu tujuannya <em>urgent</em>. Ada yang penting yang harus  disampaikan nggak perlu pakai basa-basi lagi. Sebal no. 2.</p>
<p><em>“Whatsup?” </em>jawabku.</p>
<p>“Betul  ya si X* nggak keterima di perusahaanmu?”</p>
<p>* X  adalah pacar si pengirim BBM, kita sebut saja namanya Z.</p>
<p>“Ya,  betul,” jawabku lagi.</p>
<p>“Nggak  bisa kamu tolongin gitu? Ngomong sama siapa biar bisa diterima? Dia <em>down </em>banget.  Kamu kan temannya. Lagi pula kita kan ada di kolam yang sama.”</p>
<p id="yui_3_2_0_1_1317816523477104">Kubiarkan BBM itu lama tanpa kubalas.  Sebal no.3.</p>
<p>Dalam  gemas beberapa menit berikutnya aku menjawab, “Begini ya, X-mu yang berharga itu sudah kubantu dengan  kupromosikan namanya ke manajer HRD. <em>For her advantage</em>, dia dipanggil lebih dulu  dibanding pelamar lain. Ini bukan perusahaan milikku pribadi. Jika memang ini  perusahaan milikku pribadi,  X juga  harus mengikuti  prosedur penerimaan karyawan. Aku cuma menunjukkan jalannya, sisanya bergantung  pada kemampuan dia dan apakah dia dianggap cocok bekerja di perusahaan itu.”  Sebal tingkat dewa! Lagi pula, kenapa juga pacarnya ikut-ikutan mengirim BBM dengan gaya sok hero gitu?</p>
<p>Untuk  bisa mencapai sebal nomor 1, mari kita mundur ke kejadian tiga minggu  sebelumnya. Perusahaan tempatku bekerja membuka lowongan marketing. Aku membantu menyebarkan informasi tersebut melalui Broadcast  Message. Memang sih banyak yang keki kalau dapat<em> broadcast message, </em>tapi hey ini  lowongan kerja, siapa tau ada siapamu yang butuh kerja?</p>
<p>Satu-satunya yang menjawab BBM-ku adalah X, seorang sahabat lesbian yang  sudah kukenal lebih dari 5 tahun. Ternyata dia berniat pindah kerja dari  perusahaan lama dan berniat mengajukan lamaran ke tempatku.</p>
<p id="yui_3_2_0_1_1317816523477113">Agar  lebih mempermudah proses lamarannya, kuminta X mengirim surat lamarannya melalui  e-mail padaku, agar bagian HRD tahu bahwa aku merekomendasikan   orang ini. Minggu lalu dia dipanggil untuk wawancara kerja. Wawancara di  tempatku ini biasanya ramai, pewawancara bisa 3 orang atau bahkan lebih,  mewakili HRD, <em>user</em>, manajer. Aku termasuk salah satu pewawancara. Maaf, aku  nggak bisa cerita detail diskusi kami, tapi intinya adalah X  tidak  lolos seleksi berikutnya. Dan kami memilih kandidat lain.</p>
<p>Supaya  mengakhiri penderitaannya menunggu, aku segera memberitahu X dengan berat hati  dia tidak lolos. Tapi <em>jreng-jreng</em> deh&#8230; ternyata si  X langsung  membalasku dengan mengganti statusnya bertubi-tubi dengan pernyataan betapa  kecewanya dia. Membalas dengan status lho, bukan membalas dan menyampaikannya  langsung padaku. Sebal no. 1.</p>
<p><em>I  don’t think i have to explain myself to her</em>. Menurutku dalam hubungan  profesional, kita harus bisa memisahkan antara persahabatan dan pekerjaan. Oke,  kita teman di luar, tapi jika urusan kerja, ada respek dan profesionalitas  tertentu yang harus dijaga. Mungkin kita bisa jadi teman, tapi nggak cocok jadi rekan kerja. Atau bahkan nggak cocok jadi <em>roomate.</em></p>
<p>Memangnya kenapa kalau aku temannya? Plus lagi kenapa kalau dia teman  lesbian? Jadi aku harus bertanggung jawab atas kesejahteraan hidup (terutama)  teman-teman lesbianku karena kami punya semacam kode bersama, gitu? Dalam hal ini  kurasa <em>(Sometimes)</em><em> friendship is overrated</em>. <em>Sistahood</em> antar <em>lesbian is (definitely) overrated</em>.  Sebagai orang dewasa kita sudah nggak perlu lagi kan beriringan sama-sama seperti anak  TK yang mau ke toilet, kan?</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/05/cuci-mata-friendship-is-overrated/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Hang Out Till You Drop</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/14/cuci-mata-hang-out-till-you-drop/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/14/cuci-mata-hang-out-till-you-drop/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 15:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14706</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Sudah dua hari terakhir ini aku ngantuk berat, pinggang juga ngilu. Setelah kupikir-pikir, penyebabnya ternyata aku gak&#8230; gak&#8230; gak&#8230; gak kuattt&#8230; begadang. Pada hari Sabtu kemarin aku dan beberapa teman lesbian yang sudah kukenal lebih dari sepuluh tahun lalu hang out gitu di club. Pulang ke rumah jam empat pagi&#8230; ya ampunnnn. Aku langsung tepar tidur sampai jam duabelas siang.
Hari Senin yang hellish karena jalanan Jakarta sudah kembali normal. Normal dengan kemacetan yang dimulai sejak mobilku masuk ke jalan raya bukanlah menjadi mobil satu-satunya di sana ketika berangkat kerja. Telapak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/istockphoto-vector-blonde-girl-disco.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14718" title="istockphoto-vector-blonde-girl-disco" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/istockphoto-vector-blonde-girl-disco-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Sudah dua hari terakhir ini aku ngantuk berat, pinggang juga ngilu. Setelah kupikir-pikir, penyebabnya ternyata aku <em>gak&#8230; gak&#8230; gak&#8230; gak kuattt</em>&#8230; begadang. Pada hari Sabtu kemarin aku dan beberapa teman lesbian yang sudah kukenal lebih dari sepuluh tahun lalu <em>hang out</em> gitu di <em>club</em>. Pulang ke rumah jam empat pagi&#8230; ya ampunnnn. Aku langsung tepar tidur sampai jam duabelas siang.</p>
<p>Hari Senin yang <em>hellish </em>karena jalanan Jakarta sudah kembali normal. Normal dengan kemacetan yang dimulai sejak mobilku masuk ke jalan raya bukanlah menjadi mobil satu-satunya di sana ketika berangkat kerja. Telapak kakiku sepertinya hampir putus karena pegal. *<em>note to self: </em>mulailah berpikir menggunakan sopir, Sid!*</p>
<p><span id="more-14706"></span>Pulang kantor ternyata pinggangku mulai berdenyut. Sialnya gara-gara urusan jatuhnya harga saham dan perbedaan waktu antara Jakarta dan Amerika, aku nggak bisa tidur. Grrr&#8230; Apakah ini karena aku sudah berumur? <em>No way, I am not gonna tell you my age! </em>Atau seperti kata temanku, “Kamu jarang <em>clubbing </em>sih, Sid, jadi badanmu shock.”</p>
<p>Gila aja, kali! Ayolah, pergi lagi, bujuk si iblis temanku itu. Malam ini katanya sekalian perpisahan sama seorang sobat yang tanggal lima belas besok akan pindah tugas ke Kanada. Kapan lagi bisa ngumpul-ngumpul? Nggak enak hati, aku terpaksa mengiyakan. Tapi nggak mau ke tempat yang terlalu bar banget, mau yang ada makanan enak, pulangnya jangan terlalu malam karena besoknya aku kan kerja. Ya, nek, jawab temanku berbarengan.</p>
<p>Jadilah kemarin malam kami sudah duduk manis di sebuah <em>club </em>di Jakarta Selatan yang menyajikan makanan dan kalau sudah di atas jam sepuluh jadi tempat <em>clubbing</em>. Aku bertekad pulang jam sepuluh malam pokoknya. Kami makan, ngobrol, cekikikan, dan mendoakan sobatku itu segera mendapat bule lesbian yang bisa dinikahinya di Kanada lalu membayari kami, tiga sahabat baiknya, tiket pesawat dan akomodasi ke Kanada&#8230;. oh, plus tur ke berbagai kota di sana.</p>
<p>Kebanyakan ngobrol dan entah siapa yang mulai memesan “minuman lucu berwarna biru dengan payung kecil di atasnya”, tahu-tahu musik mulai berdentam-dentam keras. Pengunjung yang datang pun kelihatannya bukan kepingin memesan steik.</p>
<p>Aku&#8230; mulai menguap. Sekali, dua kali, lalu&#8230; <em>bruk</em>. Kepalaku dengan nyamannya menimpa bahu salah satu temanku dan pelan-pelan menggeser ke lengan sofa tanpa aku sadari. Eh, gila ya di antara dentuman lagu Nicky Minaj, aku ketiduran.<em> Oh. My. God. </em>Nggak banget deh ini. Dan sumpah aku nggak menyentuh minuman biru dengan payung lucu itu. Masa <em>iced lemon tea </em>bisa bikin teler</p>
<p>Aku terbangun dalam keadaan kaget. Belum disiram sama teman-temanku yang menertawakanku habis-habisan. Dan langsung diposting di status Facebook dengan segala penghinaan buat diriku. Aduh, bener-bener me.ma.lu.kan. Bisa-bisanya sih ketiduran di <em>club </em>di tengah-tengah lagu Nicky Minaj yang bikin telinga bocor dan manusia-manusia berlalu lalang?</p>
<p>Tapi aku nggak pernah sanggup begadang atau <em>clubbing</em> bahkan merokok juga aku nggak kuat. Dengan gaya hidupku yang rajin yoga, tidur cepat, makan makanan sehat, kayanya aku nggak cocok jadi lesbian deh. Loh kok gitu? Ya gitu, sebab menurut berita-berita di koran yang kubaca, katanya lesbian adalah manusia malam yang suka bermabuk-mabukkan di bar. Hehehehehe&#8230; *(Ketawa ala pemabuk)*</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/14/cuci-mata-hang-out-till-you-drop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Belanja Cantik dan Sukses</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/08/18/cuci-mata-belanja-cantik-dan-sukses/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/08/18/cuci-mata-belanja-cantik-dan-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 14:16:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[fesyen]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14349</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
&#8220;Sid, besok 17an kita lihat sale sandal yuk.&#8221; Demikian seorang teman lesbian mengirim BBM pada siang hari, mengajakku melihat sale up to 70% sandal/sepatu berlogo buaya di sebuah mal di Jakart Barat. Sedetik aku tergoda ingin mengiyakan ajakan sahabat lesbian yang kebetulan teman SMA-ku ini.  Lucu juga sih, di hari kemerdekaan, diajak upacara di mal. Tapi membayangkan antreannya yang pasti mengular gila-gilaan, sejujurnya aku masih trauma sisa mengantre beli android bulan lalu. Yap, aku menolak ajakannya. Bayangkan, Sidney menolak ajakan melihat sale.
&#8220;Tapi murah-murah lho, Sid,&#8221; rayu temanku lagi. &#8220;Yuk, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Girls-Shopping.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14351" title="Girls-Shopping" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Girls-Shopping-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>&#8220;Sid, besok 17an kita lihat <em>sale </em>sandal yuk.&#8221; Demikian seorang teman lesbian mengirim BBM pada siang hari, mengajakku melihat <em>sale up to</em> 70% sandal/sepatu berlogo buaya di sebuah mal di Jakart Barat. Sedetik aku tergoda ingin mengiyakan ajakan sahabat lesbian yang kebetulan teman SMA-ku ini.  Lucu juga sih, di hari kemerdekaan, diajak upacara di mal. Tapi membayangkan antreannya yang pasti mengular gila-gilaan, sejujurnya aku masih trauma sisa mengantre beli android bulan lalu. Yap, aku menolak ajakannya. Bayangkan, Sidney menolak ajakan melihat <em>sale</em>.</p>
<p><span id="more-14349"></span>&#8220;Tapi murah-murah lho, Sid,&#8221; rayu temanku lagi. &#8220;Yuk,  Lisa juga mau. Sekalian cuci mata, mungkin ada andro-andro cakep yang ikut mengantre sandal. Lisa juga pasti nraktir kita makan sushi sehabis belanja-belanja cantik.&#8221; Aku sedikit goyah. Sahabat lesbianku satu ini ya&#8230; Pintar sekali merayuku denganku tiga kegemaranku. <em>Sale, </em>sushi, dan andro. Tapi aku mengeraskan hati, dan tetap menolak.</p>
<p>Nah, pada hari kemerdekaan kemarin aku diajak makan sushi sama partner di mal tempat <em>sale </em>berlangsung. Teganya! Ini bukan hari merdeka namanya. Aku melirik <em>banner </em><em>sale </em>itu beberapa kali lalu melirik partnerku dan aku melihat dia menahan senyum. Tahu bahwa aku tergoda. Jahatnya! Tapi aku tidak mau kalah dan tidak mengajaknya ke sana.</p>
<p>Pagi ini dalam suasana pasca liburan, kantorku penuh dengan gejolak adrenalin yang belum surut. Alias masih malas-malasan kerja. Rasanya kepingin buru-buru jam pulang sehingga aku bisa pulang ke apartemen partnerku dan masak di sana.<em> Tik tok. </em>Jam pulang tiba. Tiba-tiba bosku memanggil.</p>
<p>&#8220;Sid, kemari sebentar.&#8221;<br />
Pasti mau dikasih<em> last minute </em>kerjaan deh.<br />
&#8220;Sid!&#8221; Panggilnya lagi, lebih mendesak.<br />
&#8220;Ya, Bu?&#8221; Aku bergerak ke arahnya.<br />
&#8220;Sid, nanti kita ke <em>sale </em>sandal yuk. Sebentar lagi kita jalan.&#8221; Aku bengong. Dia menyebut dua nama manajer lain yang bakal ikut dan klien kami. Aduh! Bayangkan, klien juga ikutan. K.L.I.E.N.</p>
<p>Bagaimana ini? Diajak gaul sama bos-bos ke <em>sale </em>yang sudah kutahan sejak kemarin. Bagaimana bisa menolak<em> female bonding</em> dengan bos, manajer, dan klien? Ini atas nama bisnis, bukan main-main. Bukan ajakan ala teman lesbianku kemarin. Akhirnya aku luluh. Aku harus patuh dengan panggilan bisnis, bukan?<em> I can resist everything except temptation,</em> kata Oscar Wilde. Sepanjang perjalanan menuju mal, aku menyugesti diriku, &#8220;Lihat aja, jangan beli apa-apa.&#8221; Kuucapkan berkali-kali seperti mantra.</p>
<p>Tapi, ini kan Sidney ya. Aku sudah tahu <em>ending</em>-nya. Dalam suasana <em>sale </em>yang ramai dan penuh orang kalap, aku terseret-seret. Akhirnya aku membeli sandal dengan diskon 50 persen. Setidaknya, aku berhasil menahan diri tidak membeli sepatu kanvas Hello Kitty warna <em>pink</em>.</p>
<p>Apa kabar dengan belanja bisnisnya? Berhasil dengan baik, akhirnya klien dengan rupa bahagia langsung menyetujui permintaan bos untuk menurunkan <em>budget</em>-nya, di antara keriuhan memilih sandal. Inilah pentingnya belanja-belanja cantik dengan para eksekutif perempuan. Seharusnya setiap lesbian mengerti pentingnya aktivitas <em>sale </em>untuk meluluhkan hati cewek gebetan. Ini sudah terbukti! Sekarang, aku mengetik tulisan ini sambil menunggu orderan sushi. Ditraktir bos yang sedang bahagia &#8211; dapat sandal, klien yang oke, dan gosip di lingkungan bisnis. Ihiy!</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/08/18/cuci-mata-belanja-cantik-dan-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Iklan Oh Iklan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/07/27/cuci-mata-iklan-oh-iklan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/07/27/cuci-mata-iklan-oh-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 16:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13978</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Aku adalah perempuan yang lemah bujukan iklan. Bentangkan saja iklan se-billboard tentang sale tertentu, apa pun benda yang dijual, aku pasti tergoda&#8230; Yeah, I&#8217;m that weak.
Jadi wajar kan aku langsung menjadi lemah tak berdaya, meleleh melihat iklan billboard sepanjang jembatan penyeberangan yang menginformasikan bahwa ada sale gadget tertentu menyambut peluncuran perdananya, one day only di sebuah mal.
Iming-iming diskon sampai 1,5 juta rupiah dan plus-plus lain seperti betapa kerennya kita memiliki gadget terbaru yang belum dijual resmi, membuatku meradang. Iklan berwarna satu halaman di surat kabar satu hari sebelum peluncuran ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Cell-Phones.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-13980" title="Cell Phones" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Cell-Phones-300x240.jpg" alt="" width="300" height="240" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Aku adalah perempuan yang lemah bujukan iklan. Bentangkan saja iklan se-<em>billboard</em> tentang sale tertentu, apa pun benda yang dijual, aku pasti tergoda&#8230; <em>Yeah, I&#8217;m that weak</em>.</p>
<p>Jadi wajar kan aku langsung menjadi lemah tak berdaya, meleleh melihat iklan <em>billboard </em>sepanjang jembatan penyeberangan yang menginformasikan bahwa ada <em>sale gadget </em>tertentu menyambut peluncuran perdananya, <em>one day only</em> di sebuah mal.</p>
<p>Iming-iming diskon sampai 1,5 juta rupiah dan plus-plus lain seperti betapa kerennya kita memiliki <em>gadget </em>terbaru yang belum dijual resmi, membuatku meradang. Iklan berwarna satu halaman di surat kabar satu hari sebelum peluncuran produknya, membuatku gatal-gatal ingin menyeret partner untuk menemaniku antre sejak pagi buta.</p>
<p>Tentu saja partner yang nalarnya lurus itu menolak. “Buat apa?” tanyanya.</p>
<p>“Buat punya,” jawabku keras kepala. Pokoknya. Aku. Mau. Punya. Gadget. Itu.</p>
<p>Akhirnya pada hari H, aku menemukan korban seorang sahabat lama yang memang imannya sama lemahnya dengan imanku. Kami adalah perempuan-perempuan “LBI” alias “Lemah Bujukan Iklan”. Sejak pagi hari, di mal kami sudah antre mengular yang ramainya seperti ada pembagian BLT. Euforia pun makin meluap.</p>
<p>Gila, sejak mal belum buka saja orang sudah antre cuma buat ambil nomor. Aku sudah deg-degan cemas nggak dapat nomor, akhirnya dapat nomor. 800-an. Konon jatah penjualan perdana ini cuma 1000 buah. Aku mengelus dada, untung sudah dapat nomor.</p>
<p>Kami pun menanti dengan manis sambil tegang-tegang cemas nomor kami terlewat jika kami keasyikan lama-lama mencoba sepatu. Konyol aja kan, kalau sudah antre sejak pagi malah kelewat gara-gara sibuk keliling mal. <em>See</em>, nalar Sidney masih bekerja&#8230;.</p>
<p>Akhirnya&#8230; jreng, jreng, jreng&#8230; aku berhasil! Berhasil, berhasil, berhasil *lompat ala Dora* mendapat <em>gadget android tablet</em> ini. Hati girang bukan kepalang&#8230; penantian di mal hingga bayar parkir 18000 rupiah pun terbayar sudah. *mendesah lega*</p>
<p>Kupamerkan barang itu pada orang-orang di rumah dengan bangga. Lihat, lihat, tuh&#8230; keren ya&#8230; Anggukan dan desahan macam aaah, ooooh, woooow terdengar selama sekitar sepuluh menit, setelah itu hanya aku dan <em>angry birds</em>-ku di gadget tersebut. Lalu&#8230; aku bosan.</p>
<p>Kutaruh gadget impian itu di samping BlackBerry, iPhone, iPod touch, dan Kindle-ku. Yak! Aku seakan sedang melihat display toko <em>gadget</em> di ITC. Sebelum sempat memikirkan jawaban, kenapa ya aku jadi pengumpul<em> gadget</em> seperti ini, terdengar pertanyaan Mama di belakangku, “Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu beli barang baru ini?”</p>
<p>Aku garuk-garuk kepala bingung. Pertanyaan Mama menjadi gema yang panjang di kepalaku ketika aku lagi seru-serunya ngumpul dengan teman-teman lesbian. Beberapa dari mereka aktif di milis SepociKopi dan ruang <em>chatting</em>. Waktu aku tanya mereka, &#8220;Ngapain sih kenalan dengan banyak lesbian? Bukannya nggak ada bedanya teman lesbi dan teman heteroseksual?&#8221;</p>
<p>Jawaban mereka sama seperti lagakku menggaruk-garuk kepala sewaktu ditanya Mama.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230;. apa ya? Supaya punya punya banyak teman.&#8221; Lalu mereka ramai-ramai mengocehiku, &#8220;Enak lagi punya banyak teman lesbian, Sid! Emangnya lu yang cuma ngumpulin <em>gadget </em> doang! Teman lesbian nggak bisa disamakan dengan <em>gadget </em>ya!&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Gadget</em> <em>is so much better than lesbian friends</em>,&#8221; jawabku. &#8220;Paling tidak di <em>gadget </em>kamu bisa melempari burung-burung yang marah tapi nggak bisa kan melempari teman-temanmu yang marah?&#8221;</p>
<p>*kaboooor aaahhh*</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/07/27/cuci-mata-iklan-oh-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

