Articles in the Coming Out Category
Coming Out, Friendship, Humaniora, Opini »
Oleh: Yasmin
Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman lesbian yang baru pulang dari nongkrong di kafe, dia bercerita, “Tadi beberapa meja di samping mejaku, kursi-kursinya diduduki pasangan-pasangan lesbian,” katanya.
Mendengar kalimat itu dalam benak saya langsung terpikir bahwa teman saya kenal dengan pasangan-pasangan yang dia ceritakan. Tapi pada saat saya tanya dan memastikan pernyataannya, dia menjawab, “Enggak. Aku nggak kenal. Tapi sudah pastilah mereka lesbian, kan terlihat dari penampilannya, yang satu butch gitu, dan pasangannya femme.”
“Belum tentu lho,” sanggah saya. “Jangan pernah nge-judge seseorang lesbian hanya karena penampilannya atau dua orang perempuan …
Coming Out, Humaniora, Lagak Lajang, Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar A.
Ada hamparan perasaaan yang muncul ketika melihat kolom yang sama terbit lagi di majalah ini. Namanya, hamparan perasaan bangga, senang, sekaligus iri dan cemburu. Bangga dan senang, tak perlu dijelaskan lagi. Tapi iri dan cemburu yang muncul di hati penulisnya sendiri, bagaimana menafsirnya? Kalaulah semuanya ideal, dualisme sungguh tak diperlukan lagi kehadirannya. Menjadi ini, lalu besok menjadi itu, adalah fase menjijikkan yang harus saya hadapi setiap waktu. Bermuka dua. Saya adalah orang yang bermuka dua, menjadi pengajar baik-baik di institusi, lalu berubah menjadi lesbian munafik yang nangkring sana-sini …
Coming Out, Friendship, Humaniora »
Oleh: Yasmin
Bermula dari reuni ekstrakurikuler almamater saya, tahun 2008 lalu, terucaplah slogan seperti tertulis pada judul di atas: Love You Like a Sista. Sista itu slang dari sister kami gunakan buat gaya-gayaan saja. Sebenarnya kalimat ini contekan, beberapa komunitas lain menggunakan kalimat ini juga. Kata sister/sista kami pakai karena sekolah kami khusus perempuan.
Meskipun dari almamater yang sama, tidak semuanya kami kenal dari zaman kami duduk di bangku sekolah, karena rentang angkatan yang sangat panjang. Kami tidak ketemu satu sama lain saat sekolah, melainkan baru kenal menjelang reuni. Namun, nama besar …
Coming Out, Sepocikopiana »
Oleh: Edward
Coming out adalah sebuah pilihan. Ketika pertama kali kita menemukan dan menyadari bahwa diri kita “berbeda” dari yang lain, ada semacam perasaan takut, tersingkirkan, dan tertolak dari lingkungan. Dalam kasus saya sendiri, ketika saya pertama kali menyadari bahwa saya “berbeda” dari yang lain, ada keinginan untuk coming out tetapi takut dengan respons keluarga dan temam sebab masih dianggap tabu/terlarang di masyarakat Indonesia.
Tetapi jika saya tidak coming out ada semacam perasaan/beban yang mengganjal dalam hati saya. Saya takut untuk mengakuinya dan itu merupakan beban. Pertama kali saya menyadari saya lesbian …
Coming Out, Perempuan, Sepocikopiana »
Oleh: Frizzy Jo
Jika dalam tulisan sebelumnya aku membahas tentang pertanyaan yang cukup sering dilontarkan kepada seorang lesbian yaitu “Kenapa kamu menjadi lesbian?” maka dalam tulisan kali ini aku ingin membahas pertanyaan yang tidak kalah sering dilontarkan bahkan oleh diri kita sendiri sebagai lesbian.
Banyak perempuan yang merasa gelisah saat menyadari bahwa dirinya berbeda dengan perempuan pada umumnya. Dan seiring perjalanan mencari jati diri, ia semakin bertanya-tanya tentang apa yang ia rasakan terhadap perempuan lain. Muncul perasaan telah mengkhianati adat ketimuran dengan kelaziman perempuan berpasangan dengan lelaki. Sehingga jika …
Coming Out, Humaniora »
Oleh: De Ni
Kamu lesbian? Ya, iyalah! Oke, baiklah, memang kita lesbian. Tapi tahukah kamu, berada di tahap mana tingkat kelesbiananmu sekarang? Ups! jangan bingung, homoseksualitas memiliki tahap kok. Menurut Cass, ada enam tingkatan homoseksualitas.
Tahap pertama disebut sebagai tahap kebingungan identitas (identity confusion).
Pada tahap ini kita mengalami kebimbangan terhadap perasaan cinta yang muncul dalam hati. Tentang orientasi seksual yang menyimpang dari orientasi seks pada umumnya. Kita tidak tahu jawabannya mengapa kita lebih tertarik pada Cindy daripada sama Joko. Mengapa kita jatuh cinta pada perempuan macho dan bukan laki-laki perkasa?
Coming Out, Humaniora »
Oleh: Ade Rain
Aku membuka sajadah, membentang ke arah kiblat. Diam-diam mengusir gusar, merenung amalan. Rintik hujan tinggal satu-satu menembus hening malam, mengusik sepi. Cepu-cepu serangga malam berisik mengerik di antara serak lengking katak jantan yang berjuang menarik perhatian para betina. Usai dua salam, kutinggalkan ruang baca, menggenggam pelan engsel pintu kamar Sulung, menatap tidur lelapnya di antara tebaran buku-buku pelajaran. Glek! Tidurnya mati.
Lima jam mundur ke belakang, aku mengempas badan di sofa kamar itu, ia langsung mengusikku dengan rentetan permintaan, “Aku ingin membawa guruku makan siang ke …
Coming Out, Humaniora »
Oleh: Arinie
Gebyar seremonial menyambut hari kemerdekaan negara tercinta kita, Indonesia, sudah lewat. Kemerdekaan yang sarat dengan perayaan meriah dan seringkali menjadi ajang prestise dan prestasi bagi sebagian orang, seakan menjadi sesuatu yang harus dirayakan dengan simbol-simbol yang kerap kali justru kosong dari makna dan hakekat kemerdekaan itu sendiri.
Kemerdekaan juga seringkali dimaknai sebagai sebuah kebebasan yang (kadang) kebablasan. Kebebasan yang miskin nilai dan norma. Padahal sebagai umat manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang sama, kita telah diberi hak merdeka dalam arti sebenarnya, kemerdekaan hakiki yang justru membuat kita berbeda karena derajat …
Coming Out, Humaniora, Ibu »
Oleh: De Ni
Enggan sebenarnya aku memakai celana abu-abu itu. Beberapa bulan lalu, celana panjang itu adalah celana favoritku, sebelum semua kantongnya bolong. Baik samping kiri kanan mau pun belakang. Sudah beberapa kali aku menyimpan uang di saku dan uang itu kabur melewati celah kantong. Tapi hari ini terpaksa kugunakan celana itu. Pasalnya, hujan yang turun dalam beberapa hari ini membuat hampir semua celanaku masih menggantung di jemuran.
Siang yang begitu terik dan antrian parkir yang panjang, membuatku hampir menangis merasakan matahari menyusup di sela-sela jaket. Setelah menunggu 20 menit, sampailah aku …
Coming Out, Humaniora »
Oleh: Grey Sebastian
Pernahkah kalian mengalami hidup di antara dua dunia? Di mana sewaktu-waktu kalian harus selalu siap berubah menjadi dua orang yang berbeda. Aku rasa semua orang pernah mengalami hal ini. Bukankah hidup itu memang punya dua sisi, seperti uang logam?
Aku sangat percaya bila dunia memang di ciptakan dalam dua sisi. Hitam dan putih, kanan dan kiri, atas dan bawah, lurus dan belok, baik dan buruk, asli dan palsu, nyata dan maya. Dan manusia selalu berada di antara keduanya.
Sulit merealisasikan diri sendiri di dunia nyata karena tekanan dan tuntutan dari …





