Home » Archive

Articles in the Cerpen Category

Cerpen, Seni Budaya »

[24 Jan 2011 | 16 Comments | 899 views]

Perempuan Tua dalam Kepala
Oleh: Avianti Armand
Cerpen ini dipublikasikan di harian Kompas Minggu, 23 Januari 2011
DI dalam kepalaku hidup seorang perempuan tua pemarah yang gemar menghentak-hentakkan kaki dan berteriak-teriak. Begitu tuanya, dia menyerupai seonggok pohon kering-keriput, bungkuk, dan bengkok di sana-sini dengan sudut-sudut yang janggal. Suaranya seperti derit roda kekurangan minyak. Jika dia berteriak, aku terpaksa menutup telinga.
Dia menghuni sebuah rumah reyot dari batu tanpa jendela. Hanya ada satu pintu besi berkarat yang selalu berbunyi saat membuka dan menutup. Seluruh dinding rumah itu ditumbuhi lumut gelap yang lebat. Ulat-ulat gemuk berwarna …

Cerpen, Seni Budaya »

[20 Dec 2010 | 13 Comments | 620 views]

Insensatez
Oleh: Agus Noor
Cerpen ini dimuat kumcer Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia (Galang Press, 2004)
MAYA telanjang, telentang di ranjang. Dan aku memandanginya gamang. Seperti ada keasingan yang perlahan menggenang, memenuhi kamar. Cahaya kekuningan lampu kamar yang remang membuat kulitnya yang langsat seperti diluluri madu. Dia menggeliat, memberi isyarat agar aku segera mendekat. Tapi aku hanya duduk di sofa, memandanginya. Ada sesuatu yang tak kunjung aku fahami. Padahal dia sudah menyiapkan suasana yang begini romantis. Musik yang lembut, yang selalu diputarnya berulang-ulang bila kami bercinta. Harum opium yang menyebar dari asap …

Cerpen, Seni Budaya »

[25 Oct 2010 | 12 Comments | 418 views]

Mantenan
Oleh: Moci
Cerpen ini belum pernah dipublikasikan di media lainnya
Apa enaknya jadi manten? Pertanyaan itu terlontar dalam pikiran Gandis. Dalam setiap lamunan, dalam setiap tawa, dalam setiap sedih yang ia rasakan. Selalu menari-nari dalam pikirannya.
***
Tiga hari lagi Gandis melepas masa lajangnya. Bukan karena dijodohkan, tapi memang pilihan hatinya. Semuanya sudah diatur; mulai dari gaun pengantin, undangan, hantaran, transportasi, band, katering, souvenir. Semua bukan Gandis yang memilih. Ia hanya duduk dan tersenyum, itu saja tugasnya.
“Hmmm, apa enaknya jadi manten?” desah Gandis.

Cerpen, Seni Budaya »

[20 Sep 2010 | 4 Comments | 576 views]

Dua Perempuan di Satu Rumah
Oleh: A.S. Laksana
Cerpen ini dimuat di harian Kompas, 30 Agustus 2009
Sampai tiba hari kematiannya, Oktober 1984, Seto sudah melakukan enam perbuatan tak pantas, memecahkan tempurung lutut anak buahnya yang berkhianat, dan menulis 37 puisi yang menyedihkan. Ia ditembak mati pada dini hari dan mayatnya dibuang di dekat petak-petak tambak di pesisir utara Semarang dan kelihatannya memang sengaja ditaruh di tempat yang mudah dilihat orang. Ketika hari terang, tiga orang yang berangkat mengail menemukan mayat Seto terbungkus karung. Umurku 5 tahun ketika pemberantasan misterius itu berlangsung dan …

Cerpen, Seni Budaya »

[21 Jun 2010 | 13 Comments | 375 views]

Gadis dengan Kardigan Ungu
Oleh: Deni Oktora
Cerpen ini dimuat di Kompas.com
Selasa, 25 Mei 2010
Mataku terpana pada seorang gadis yang tengah berdiri di halte seberang. Jaraknya mungkin terpaut delapan meter dari tempat aku kini berdiri. Namun kecantikan parasnya terasa dekat sekali hingga aku bisa menangkap gambar lesung pipit tersungging di pipinya yang merona kemerahan. Ah. Siapakah gadis dengan kardigan ungu tersebut? Ingin rasanya aku mengurungkan niat pulang ke rumah demi melihat sosoknya lebih dekat. Lebih intim. Lebih nyata. Lebih… dan lebih…

Cerpen, Seni Budaya »

[24 May 2010 | 7 Comments | 235 views]

Rendezvous
Oleh: Agus Noor
Rendezvous dimuat di majalah Gatra, 2002
Suatu malam aku terdampar di sebuah kafe. Ah, terdampar! Aku merasa pas dengan ungkapan itu.
Aku terapung terseret arus kesunyian cahaya yang menggenangi jalanan kota. Seperti bersampan, mobil meluncur pelan dan tenang. Kulihat malam menyepuhkan kelam, dan aku menikmatinya sebagaimana kelelawar terpesona pada kegelapan yang gaib. Begitulah, seperti biasanya, aku keluar rumah dengan gairah yang meruah, untuk menikmati gemerlap cahaya yang megah. Masih bisa kucium hangat senja menguap di kaca-kaca gedung-gedung yang berubah gemerlap, dan kusaksikan kota yang perlahan merekah dipulas gairah aneka warna …

Cerpen »

[23 Nov 2009 | 13 Comments | 141 views]

Sent
Oleh: Abmi Handayani
Sent dimuat di majalah Esquire, April 2009

Jakarta
“Silakan.” Sebuah mug diletakkan di samping kamera.
“Makasih.”
Lelaki itu membuang nafas, melihat sekeliling kafe baru ini. Dia datang kemari atas saran seorang teman. Sesekali siapapun pasti butuh sesuatu yang baru. Ia menyeruput kopinya, melirik seorang lelaki muda yang melintas. Lelaki itu balas melirik.
Mendadak dia ingat sesuatu. Dikeluarkannya sebuah amplop hijau dari dalam tasnya. Dibolak-baliknya amplop itu. Beberapa hari yang lalu perempuan itu memang pernah menanyakan alamatnya, tanpa memberi tahu buat apa. Tunggu saja, jawabnya. Dan pagi ini penjaga kosnya menyerahkan sebuah amplop saat …

Cerpen, Seni Budaya »

[12 Oct 2009 | 17 Comments | 322 views]

Oleh: Stefanny Irawan
Bulan Merah Jambu dimuat di Harian Media Indonesia Minggu, 18 Juli 2004

Hari masih prematur dan mimpi masih mencumbui tiap tidur. Tapi kau sudah berdiri di situ, di depan pintu. Bik Su membangunkanku. Ada tamu, itu jawabnya kepada wajah bingungku. Dan di situlah dirimu, di ruang tamu, tak diundang namun telah ada, lengkap dengan segalanya yang membuatku jatuh cinta dulu. Saat itu juga aku tahu, bulan merah jambuku, aku akan menjadi merpati sedih di waktu subuh.
Waktu seakan beku. Aku hanya menatapmu yang balik menatapku. Apa yang membawamu, bulan merah …

Cerpen, Seni Budaya »

[3 Aug 2009 | 4 Comments | 409 views]

Balada Hari Hujan
Oleh: Linda Christanty
Dimuat di kumpulan cerpen Kuda Terbang Mario Pinto (KataKita, 2004)
Ia menguncupkan payung ungunya, lalu mengibaskan ujung mantel yang basah. Butir-butir air meluncur dan meresap ke tanah. Dari balik pintu kaca yang mirip etalase toko itu ia leluasa melihat ke dalam ruangan. Hanya ada sepasang muda-mudi yang bercengkrama sambil asyik mengunyah makanan.
Hari masih terlalu pagi untuk orang-orang yang takut pada cuaca dingin bulan Juni. Kelopak-kelopak bakung di bawah jendela terlihat segar berair. Ia membayangkan teman-teman prianya masih meringkuk dalam pelukan istri atau pacar mereka seperti kucing demam. …

Cerpen, Seni Budaya »

[6 Jul 2009 | One Comment | 228 views]

BADAI BUNGA
Oleh: Triyanto Triwikromo
Dimuat di harian Jawa Pos, 15 Juli 2007
SUNGGUH kau harus berterima kasih pada lima perempuan Meksiko yang memaksamu membeli buket bunga mawar saat bersama Michael kau belajar mencicipi escargot di Le Claufotis Restaurant. Jika saja di keriuhan Sunset Boulevard kau tak mendesiskan kata-kata cinta di telinga malaikat tanpa sayap itu sambil memberikan bunga-bunga harum yang kaubeli dengan harga murah, bukan tidak mungkin kekasih Hollywood-mu itu memburu pria lain di The Abby Est 191. Di klub gay yang tak pernah pindah dari North Robertson 692 itu, bisa saja …