<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Bumbu Rahasia</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/bumbu-rahasia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Mulutmu Doamu</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/20/mulutmu-doamu/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/20/mulutmu-doamu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 07:02:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14844</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Subuh, terlambat bangun. Semua kulakukan terburu-buru. Mandi seadanya. Memakai baju gamis ditutup dengan mukena putih berlurik bordiran bunga dan motif uget-uget. Sekarang siap menuju ke mesjid. Saat keluar lift, di lobi hotel Movenpick terlihat serombongan lebah, eh maaf&#8230; serombongan jamaah Indonesia yang baru tiba.  Suara mereka riuh seperti sekumpulan kokon, isinya ratu-ratu lebah penyengat. Cerewet dan mencemaskan barang-barang mereka. Ah, jika di lift tadi aku menicum bebauannya parfum khas Arab yang bisa dibeli di pertokoan jalan menuju mesjid, di lobi ini, aku mencium bau parfum Paris.
Cahaya lampu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/grand_mosque_window_inside.09061124001COQOQ.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14845" title="grand_mosque_window,_inside.09061124001COQOQ" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/grand_mosque_window_inside.09061124001COQOQ-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Subuh, terlambat bangun. Semua kulakukan terburu-buru. Mandi seadanya. Memakai baju gamis ditutup dengan mukena putih berlurik bordiran bunga dan motif uget-uget. Sekarang siap menuju ke mesjid. Saat keluar lift, di lobi hotel Movenpick terlihat serombongan lebah, eh maaf&#8230; serombongan jamaah Indonesia yang baru tiba.  Suara mereka riuh seperti sekumpulan kokon, isinya ratu-ratu lebah penyengat. Cerewet dan mencemaskan barang-barang mereka. Ah, jika di lift tadi aku menicum bebauannya parfum khas Arab yang bisa dibeli di pertokoan jalan menuju mesjid, di lobi ini, aku mencium bau parfum Paris.</p>
<p><span id="more-14844"></span>Cahaya lampu terang benderang. Sulit menemukan bintang di tengah bias sinar yang memenjar di sepanjang gedung pencakar langit. Tidak  heran, jika waktu salat Subuh pukul lima pagi, orang-orang sudah berada di mesjid pukul tiga pagi. Jam berapa mereka tidur ya? Itu pertanyaan pertama yang terlintas di benakku ketika di hari pertama tiba di Madinah, dan merasa sudah paling cepat bergegas ke mesjid pukul empat dini hari.</p>
<p>:Indonesia! Siti Rahmah! Siti Rahmah, Murah! Murah!&#8221; Para penjual Arab laki-laki bersuara lantang memanggil-manggil jamaah Indonesia yang ditandai dari kerudung dan mukanya yang selalu tersenyum manis. Beberapa perempuan bercadar menjajakan selendang tepatnya sejenis jilbab khas Arab di lantai pertokoan, berusaha memikat pembeli menunjuk-nunjuk ke dagangannya. Pedagang-pedagang ini pasti kaya raya karena sudah berdagang sejak dini hari.</p>
<p>Gejolak ekonomi memang dasyat di tempat ini. Kurma, jam tangan, kopiah, sandal India, parfum non alkohol berbau sangat Arab, baju muslim, payung, teko, permadani Turki, dan beragam mainan anak-anak mejeng keren seolah memaksa mata melirik. Dengan pejuangan yang hebat, akhirnya aku tiba di latar mesjid, sukses tanpa membeli apa pun. Tidak juga serenteng kurma muda kesukaanku. Di pintu masuk, para Askar Perempuan (polisi) memeriksa tasku. Mereka tidak memperbolehkan kamera dan segala bentuknya. Hape dan kamera juga haram. Seantero tas diperiksa, kecuali…</p>
<p>Aturan pertama tidak boleh membawa kamera di dalam tas. Jadi, tidak salah kalau aku menyelipkan kamera digitalku di dalam kaus kaki, tepatnya sejajar betis. Kriminal! Aku sudah terlalu banyak menonton film laga aksi. Masa kamera saja tidak sanggup kuselundupkan ke dalam mesjid? Dibanding Mekah, sebenarnya para Askar di Madinah lebih galak dan sangat ketat. Mereka juga memperhatikan gerak-gerik kita. Kameraku lolos.</p>
<p>Ruangan mesjid terasa sejuk dan sangat nyaman. Aku duduk di antara selasar tinggi menghadap ke sebuah deretan dispenser berisi Zamzam. Menunggu salat dimulai, aku duduk memerhati jemaah yang ada di sekitarku. Di sebelahku kebanyakan orangtua. Arah jam satu, tampak sekumpulan perempuan dari Indonesia. Tentunya dari grup tour yang tidak kukenal. Usai salat Subuh, kelompok ini sama denganku, tak membubarkan diri namun sibuk membaca Quran. Saat itulah aku mempergunakan kesempatan menjepretkan kameraku tadi dengan cara sembunyi-sembunyi. <em>Klik! Klik!</em></p>
<p>&#8220;Mbak, mbak dari Indonesia? Fotoin kami bisa? Nanti kirimi lewat email kalau sudah di Indonesia. Kami bayar juga nggak apa-apa.” Sebuah suara datang dari belakangku. Ternyata dua perempuan muda yang berasal dari kelompok arah jam satu tadi. Mau copot jantungku. Kupikir para Askar! Demi unta-unta yang bau, jangan harap kamera kembali kalau disita!</p>
<p>&#8220;Eh gimana motretnya ya? Saya juga diam-diam nih ambil gambar suasana mesjid,&#8221; kataku pucat.</p>
<p>Setelah mengajariku dengan licik, mereka akan duduk di antara jamaah. Aku harus mengambil foto mereka dan suasana di sekitarnya. Memang unik gambar-gambar di dalam mesjid tersebut. Saf rapi di antara para Arab yang memakai jubah dan beragam baju muslim yang unik.</p>
<p>&#8220;<em>Love</em>, sini? Dekat aku.&#8221; Perempuan muda ini memanggil perempuan yang berdiri di sampingku. <em>Love</em>? Kupingku menangkap kata <em>love </em>dengan sangat bermakna. <em>Love</em>, katanya?  Perempuan satunya bersikap genit-manja, menarik lengan perempuan di sebelahnya. Halah! Sejak momen itu kurasakan cinta mereka begitu bersinar. Rasanya risih. Aku merasa perlu memakai kaca mata hitam.</p>
<p>&#8220;Eh kufoto dua kali aja ya, Mbak. Saya takut ketahuan nih.&#8221; Mereka berdua mengangguk. Ah pose itu! Mereka duduk berdampingan yang satunya memeluk mushaf Quran di dada. Satunya lagi merangkul dari punggung. Pose lesbi banget. Sepersepuluh juta detik setiap lesbian yang melihat akan tahu apa yang mengikat mereka berdua. Aku menyeringai norak usai menjepret. Seorang Askar mendekati kami. Tiga dua, satu! Bikin jantung jatuh pokoknya. Askar hanya melewati kami sambil mengatur duduk jemaah lain yang menghalangi jalan. Piuh!</p>
<p>&#8220;Udah ya Mbak. Saya mau salat Duha,&#8221; kataku terbata ketakutan. Kameraku sudah berisi jepretan berharga sejak kemarin. Takkan kuikhlaskan jika disita Askar hanya gara-gara dua lesbian yang dimabuk asmara. Setelah menuliskan nama, email, dan nomor telepon, aku meninggalkan mereka.</p>
<p>“Mbak, mbaaak, nanti pulang bareng yuk! Kami di hotel Movenpick. Mbak di mana? Kami lewat pintu lima belas. Di sana ada pedagang yang menjual suvenir khas Mesir. Unik banget!&#8221; Apa? Movenpick? Souvenir Mesir?</p>
<p>&#8220;Saya di sini aja, Mbak.&#8221;</p>
<p>Si perempuan genit tadi menarik tanganku, &#8220;Kami traktir ya, kalau buka puasa nanti.&#8221;</p>
<p>Hah? Aku mulai berpikir-pikir apakah auraku lesbian juga terasa, sampai ia memaksaku bareng. Aku tersenyum lebar. &#8220;Mbak, udahan ya, saya ditunggu suami saya di luar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, maaf kupikir mbak belum nikah loh. Abis keliahatan gaya kayak anak muda.&#8221;</p>
<p>Suami? Suami kataku? Tentu saja itu omong kosong. Aku akhirnya keluar dari mesjid sambil beristighfar. Aku sudah tak peduli dengan pernak-pernik Mesir, sajadah rajutan Turki, atau apalah. Ampun ya Allah, aku memang lesbian, tapi aku nggak mau ketahuan sebagai lesbian, dan aku nggak mau bohong lagi.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/20/mulutmu-doamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chatting Asik di Milis SepociKopi</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/06/21/chatting-asik-di-milis-sepocikopi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/06/21/chatting-asik-di-milis-sepocikopi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 08:52:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12910</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin dan Bening
Mailing list Sepocikopi (Milis SK) diluncurkan pada 1 April 2011 yang lalu. Hingga hari ini &#8211; dalam waktu 2,5 bulan, anggotanya sudah mencapai 190 akun. Satu sisi, angka ini menunjukkan antusiasme teman-teman terhadap keberadaan sebuah milis sebagai sarana komunikasi dan diskusi dalam sebuah komunitas setelah selama ini menikmati sajian website SepociKopi. Di sisi lain,  memang tidak 100% anggota yang aktif dalam milis. Tapi seperti kata seorang teman, tidak  semua orang memiliki ketertarikan berkomunikasi aktif.
Seperti layaknya komunitas di dunia nyata, ada yang rame, heboh, cerewet, manja,  tetapi banyak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/MSN_by_VivzMind.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-12933" title="MSN_by_VivzMind" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/MSN_by_VivzMind-300x262.jpg" alt="" width="300" height="262" /></a>Oleh<strong>:</strong> Yasmin dan Bening</p>
<p>Mailing list Sepocikopi (Milis SK) diluncurkan pada 1 April 2011 yang lalu. Hingga hari ini &#8211; dalam waktu 2,5 bulan, anggotanya sudah mencapai 190 akun. Satu sisi, angka ini menunjukkan antusiasme teman-teman terhadap keberadaan sebuah milis sebagai sarana komunikasi dan diskusi dalam sebuah komunitas setelah selama ini menikmati sajian <em>website </em>SepociKopi. Di sisi lain,  memang tidak 100% anggota yang aktif dalam milis. Tapi seperti kata seorang teman, tidak  semua orang memiliki ketertarikan berkomunikasi aktif.</p>
<p><span id="more-12910"></span>Seperti layaknya komunitas di dunia nyata, ada yang rame, heboh, cerewet, manja,  tetapi banyak juga yang lebih senang sebagai &#8220;pendengar&#8221; yang baik. Yang lebih penting adalah keberadaan teman-teman di Milis cukup bisa menimbulkan perasaan nyaman dan merasa nggak sendirian di dunia yang luas ini.</p>
<p><strong>Ngobrolin Apa, Sih?<br />
</strong></p>
<p>Ratusan email sudah beredar di milis sejak hari pertama diluncurkan. Temanya beragam. Diawali dengan email kenalan sesama milister, dan berlanjut dengan pembahasan topik obrolan yang beragam.  Topik ringan seperti mau ke mana <em>weekend </em>besok alias<em> Thanks God It&#8217;s Friday</em>, disambut seru oleh anggota milis. Jelajah kuliner dan jelajah sudut-sudut kota bisa menjadi inspirasi untuk mengisi liburan akhir pekan bersama sahabat atau kekasih. Yang tak kalah serunya, topik serius seperti menjaga kelanggengan hubungan<em> </em>dan  <em>living together</em> menjadi obrolan hangat, nggak hanya buat anggota yang sudah punya pasangan, tapi juga jadi penyemangat buat yang sedang mengincar gebetan.</p>
<p>Yang masih jomblo pun nggak usah khawatir, curhat urusan naksir cewek <em>straight</em> yang hampir pernah dialami setiap lesbian mendapat tanggapan yang beragam, setidaknya bisa jadi pertimbangan untuk mengambil keputusan mau nembak sahabat atau memilih teman tapi mesra saja. Mau curhat bombay? Boleh kok&#8230; Seorang member yang baru saja berpisah dari pasangannya mengakui merasa seperti mendapat pelukan hangat dan merasa lebih tegar setelah membaca email-email dari teman di milis yang menanggapi curhatannya. Secara tersirat, teman-teman mengungkapkan, <em>&#8220;I can&#8217;t promise to fix all your problems, but I can promise you won&#8217;t have to face them alone.&#8221;</em></p>
<p><strong>Chatting bersama, yuk!<br />
</strong></p>
<p>Beberapa hari setelah milis berjalan dengan stabil, moderator menemukan fasilitas di yahoogroups untuk <em>chatting</em> bersama.  Wuah, ini seperti menemukan harta karun. Akhirnya diumumkanlah <em>chatting </em>bersama setiap Sabtu pukul 20.00 WIB, dengan <em>chatting </em>bersama perdana pada tanggal 9 April.  Sejak perdana hingga Sabtu terakhir ini, <em>chatting</em> bersama terus berlangsung.  Suasanyanya seru, penuh canda, terkadang sering serius juga. Siapa pun boleh bergabung, berkenalan, dan ikutan berbagi.  Namun <em>chatting </em>bersama seringkali dikeluhkan pada koneksi yang tidak kondusif.  Beberapa anggota terpaksa menahan keinginannya untuk <em>chatting </em>karena sulit masuk ke ruang <em>chat</em>.  Ada juga yang keluar masuk berkali-kali sejalan dengan usaha keras yang dilakukannya.</p>
<p><strong>Chatting Tematik Alias Kelas Gratis<br />
</strong></p>
<p>Puas dengan saling berkirim email? Hm&#8230; kadang kurang sih. Kita memiliki keinginan atau kebutuhan untuk berinteraksi secara<em> real time</em>, ngobrol, kenalan, dan tanya jawab. C<em>hatting</em> berbasis <em>web </em>di Yahoogroup ini sarana yang oke banget. Nggak perlu pakai acara saling meng-<em>add</em>, nggak usah bingung dengan pertanyaan &#8220;Dapat ID Yahoo-ku dari mana?&#8221;. Pokoknya, selama kamu anggota milis dan mau bergabung, silakan login di aplikasi ini. Dijamin bisa langsung <em>chatting </em>dan ngobrol dengan teman yang kebetulan sedang <em>online</em>.</p>
<p><em>Chatting </em>bisa jadi penting atau bisa jadi nggak penting. Bisa bermanfaat, atau cuma menghabiskan waktu. Tapi buat sebagian teman-teman, menghabiskan waktu dengan sesama lesbian yang lain dengan obrolan santai bisa jadi hal penting, lho. Bukankah bercanda dan tertawa adalah salah satu cara untuk tetap sehat dan waras? Namun, untuk menjembatani berbagai tipe, karakter dan kepentingan teman-teman, Moderator Milis menawarkan grup diskusi khusus yang disebut dengan<strong> Chatting Tematik</strong>. Dari kita, untuk kita, dan kepada kita. Kalau Indonesia punya program sosial Indonesia Mengajar, maka milis SepociKopi juga tidak mau kalah. SepociKopi Mengajar! Tanpa perlu ruang kelas, tatap muka, atau <em>fee </em>investasi yang harganya selangit. Semuanya serba gratis dan <em>online</em>!</p>
<p>Beberapa orang anggota milis langsung menawarkan diri untuk berpartisipasi menjadi <em>host </em>di <em>chatting </em>tematik ini. Sebut saja, Carmen yang mengusung tema sains untuk Kelas Sains di hari Sabtu pagi, serta kelas Lesbian Kristen di Minggu pagi.  Lalu ada Lakhsmi yang mengajak teman-teman lesbian untuk melek dalam urusan finansial di kelas Lesbian Melek Finansial pada hari Selasa sore.  Alex yang dikenal sebagai salah satu pakar fiksi dan film lesbian turut mengawal <em>chatting </em>tematik kelas Fiksi Lesbian Lokal Berkualitas di hari Kamis malam. Masih ada kelas-kelas lain yang akan muncul di hari-hari selanjutnya, digawangi oleh teman-teman lesbian lain yang sudah berpengalaman di area masing-masing.</p>
<p><em>Chatting </em>tematik ini memberikan pilihan tema dan jadwal beragam yang bisa dipilih oleh member milis untuk diikuti. Rasanya jadi seperti mengikuti sebuah kongres dengan jadwal seminar yang bisa kita pilih sesuai minat.  Atau seperti sebuah kampus virtual lesbian, dengan kelas-kelas yang terbuka untuk siapa saja. Keren deh!</p>
<p><strong>Kelas &#8220;SerSan&#8221; Bersama Carmen</strong></p>
<p>Sains? Masa sih bisa ngobrolin sains di ruang <em>chatting</em>?</p>
<p>Carmen, salah seorang penulis brilian di SepociKopi menawarkan ide &#8220;gila&#8221;. Ngobrolin sains di pagi buta. Jam lima pagi, lho. Hari Sabtu pula, hari libur di mana kebanyakan orang lebih memilih bergelung di balik selimut dan salah satu kesempatan untuk bangun saat matahari mulai tinggi.  Tapi ternyata kelas yang sudah berlangsung pada Sabtu,  tanggal 3 dan 11 Juni disambut antusias.</p>
<p>Sains yang selama ini terlihat menyeramkan dan membosankan dengan data-data penelitian ternyata di tangan Carmen bisa disajikan dengan lebih menarik. Dimulai dengan bahasan mitos versus fakta ilmiah seputar lesbian. Misalnya pertanyaan apakah seseorang menjadi lesbian karena disakiti laki-laki atau pola asuh orangtua itu adalah mitos atau fakta ilmiah? Atau bagaimana peran genetis dan pengaruh lingkungan?</p>
<p>Yang jelas, dengan serius tapi santai alias &#8216;SerSan&#8217;, Carmen mengajak peserta diskusi untuk mampu berfikir logis dan menumbuhkan kecintaan pada jurnal-jurnal hasil penelitian. Carmen membagikan beberapa jurnal dari University of Virginia yang membahas tentang <em>parenting</em> atau jurnal tentang dampak orientasi seksual terhadap <em>human development</em> sepanjang rentang hidup manusia ( <em>life span</em> )</p>
<p><strong>Melek Finansial Bersama Lakhsmi</strong></p>
<p>Ini nih, salah satu kelas yang paling seru. Lakhsmi mengajak teman-teman lesbian untuk melek finansial sejak dini. Lesbian yang masih kuliah pun harus pintar dan cerdas mengatur keuangan apalagi untuk lesbian yang sudah bekerja.  Tujuannya agar setiap lesbian bisa menikmati kehidupan yang layak, mandiri dan indenden sampai tua.  Serunya lagi, Lakhsmi tak sekedar melemparkan teori-teori finansial namun langsung mengajak para peserta diskusi untuk mengambil kalkulator dan menghitung asetnya masing-masing. Pemahaman teman-teman tentang harta juga dikoreksi. Hingga diujung diskusi, peserta yang tadinya menyeka keringat karena khawatir bisa semakin terpacu dan termotivasi untuk menabung, berinvestasi dan mengurangi pengeluaran untuk <em>lifestye </em>yang tidak perlu.</p>
<p><strong>Book Club Bersama Alex</strong></p>
<p>Novel lesbian mana saja, sih yang asik dibaca? Keingintahuan teman-teman terhadap bacaan yang bertema spesifik lesbian mungkin sudah terjawab oleh <a href="http://sepocikopi.com/category/seni-budaya/buku/" target="_blank">tulisan-tulisan dan review Alex di Sepocikopi</a>.  Tapi tentu mendiskusikannya akan lebih mengasikkan.  Book Club yang digelar pada Kamis malam pukul 21.30 WIB menjadi salah satu <em>chatting</em> tematik yang paling ramai dan riuh. Info-info novel lesbian mengalir deras dari para peserta diskusi. Hampir semua aktif mengomentari dan membagi informasi buku yang seru, termasuk celetukan-celetukan buku yang &#8220;nggak penting&#8221; dan nggak perlu dibaca/dibeli.</p>
<p>Suasana <em>chatting </em>bersama di <em>chat room </em>memang beragam suka dukanya. Seringkali peserta harus bersabar &#8220;keluar-masuk&#8221; karena koneksi yang tidak bersahabat. Selain itu pula kemampuan menghadapi berbagai macam karakter teman-teman yang berinteraksi di <em>chat room </em>juga suatu tantangan tersendiri. Namun, jika semua berjalan dengan baik, kita bisa membuat <em>chatting </em>sebagai salah satu aktifitas yang bermanfaat. Kalau sudah nyaman dan terbiasa berinteraksi saat chatting bersama, boleh kok langsung <em>add</em> Yahoo ID-nya dan lanjut ngobrol yang lebih pribadi <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, tertarik gabung kan? Silakan bergabung dengan ratusan teman-teman lesbian di <a href="http://asia.groups.yahoo.com/group/sepocikopi/" target="_blank">Milis SepociKopi</a>. Dan bagi yang masih belum di-<em>approve</em>, silakan <em>subscribe </em>ulang dengan mengirimkan email kosong ke <strong>sepocikopi-subscribe@yahoogroups.com</strong> dan melengkapi persyaratan yang dikirim saat mendaftar. Yuk, mariii!</p>
<p>@Yasmin, Bening, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/06/21/chatting-asik-di-milis-sepocikopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tertukar</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/03/30/tertukar/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/03/30/tertukar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 09:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=11311</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Saat bangun tidur, aku sangat kaget melihat jari-jariku. Ujung kukunya tiba-tiba memendek dan kecil. Ruas jarinya menjadi lebih kerdil dari biasanya. Lenganku ditumbuhi bulu-bulu halus yang lebih lebat. Aku pasti sedang bermimpi. Pontang-panting aku mendatangi cermin, sampai-sampai  kudengar suara ayahku berdeham, sebagai tanda agar aku diam dan meredam keributan pagi itu. Aku menarik napas dan berdiri di bentangan sebuah meja, meletakkan telapak tanganku di atasnya.
Pelan-pelan kudatangi cermin. Aku mencoba memegangi mulutku agar tidak berteriak. Oh, perawakanku! Ampun, Tuhan! Aku nyaris memecahkan cermin begitu melihat sosokku di sana. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: line-through;"><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/vans-era-black-yellow-540x396.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-11312" title="vans-era-black-yellow-540x396" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/vans-era-black-yellow-540x396.jpg" alt="" width="259" height="190" /></a></span>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Saat bangun tidur, aku sangat kaget melihat jari-jariku. Ujung kukunya tiba-tiba memendek dan kecil. Ruas jarinya menjadi lebih kerdil dari biasanya. Lenganku ditumbuhi bulu-bulu halus yang lebih lebat. Aku pasti sedang bermimpi. Pontang-panting aku mendatangi cermin, sampai-sampai  kudengar suara ayahku berdeham, sebagai tanda agar aku diam dan meredam keributan pagi itu. Aku menarik napas dan berdiri di bentangan sebuah meja, meletakkan telapak tanganku di atasnya.</p>
<p><span id="more-11311"></span>Pelan-pelan kudatangi cermin. Aku mencoba memegangi mulutku agar tidak berteriak. Oh, perawakanku! Ampun, Tuhan! Aku nyaris memecahkan cermin begitu melihat sosokku di sana. Seorang perempuan dengan dada menonjol memakai piama tidur mirip pakaian tidur lelaki. Rambut tak lagi sebahu, namun pendek dengan  gaya &#8220;dikedepankan&#8221; ala Justin Bieber. Kulihat sekelilingku, semuanya masih sama. Kulihat barang-barangku di lemari semua masih sama. Hanya saja aku menemukan satu lemari lain di sampingnya yang penuh dengan barang-barang aneh. Sepatu-sepatu itu bukan milikku. Koleksi tali pinggang, jam tangan beragam merek yang semuanya bergaya masuklin. Parfum-parfum itu rata-rata beraroma monoseks. Ini bau yang bukan milikku.</p>
<p>“Mooo! Aku harus menemuimu! Di tempat biasa,  setengah jam lagi! Aku akan siap-siap!”</p>
<p>Aku menutup telepon sahabatku yang tak berkata-kata lain kecuali terbata mengucapkan, “Ya.”</p>
<p>Sebatang cokelat lumer di meja dekat tempat tidur, kucuil lelehannya, mencicipinya dengan ujung jariku. Ini benar-benar asli. Aku berubah wujud menjadi orang lain. Buru-buru kupacu diriku, mencari barang-barang yang pantas kukenakan. Anehnya aku tidak membuka lemari yang biasa kusentuh, namun ke lemari yang berisi barang-barang yang bukan milikku.</p>
<p>Aku merapikan rambut, mengambil kemeja berlengan panjang, memakai jeans yang agak longgar, kemudian memilih sepatu yang sangat tidak feminim. Melengkapi dandanan itu, aku mengambil ban pinggang kulit yang menopang apik pinggulku. Hmm, pinggulku menjadi sangat padat dan menyerupai lelaki. Kukagumi sosok baruku di cermin yang nyaris kupecahkan tadi. Aku ganteng juga, pikirku dengan penuh percaya diri.</p>
<p>Aku keluar kamar, menyapa Ayah yang sedang sibuk membaca koran. Ia tidak melihat ke arahku. Apa ia tidak melihat keanehan putri kesayangannya yang biasa <em>lady </em>dan kini tiba-tiba berubah menjadi seorang yang bergaya maskulin?</p>
<p>“Yah, aku berangkat, ya!”</p>
<p>Beliau menggeser korannya dan melihat ke arahku, kemudian mengambil tangan yang kusodori. Ia masih seperti biasa. Tidak melihat perubahan yang terjadi. Pasti dunia mulai kiamat! Mengapa ayah masih melihatku seperti putrinya sehari-hari padahal aku telah menjadi sosok yang lain? Aneh!</p>
<p>“Hati-hati, Sayang. Jangan lupa cuci mobilmu, jorok sekali!&#8221;</p>
<p>Aku ngebut setengah mati, Momo pasti sudah menungguku. Aku terlambat sepuluh menit. Hapeku berdering. Dengan serampangan tanpa melihat siapa yang memanggil, aku menjawab, &#8220;Sabar! Aku masih di jalan!&#8221;</p>
<p>“Sayang, ini aku. Lagi di belakang mobilmu. Kenapa buru-buru?”</p>
<p>Kuhentikan mobilku di pinggiran trotoar. Kulirik kaca spion. Sebuah mobil mini parkir bersisian di belakang mobilku. Seorang perempuan asing berambut panjang dengan rok rapi mendatangi. Ia mengetuk pintu sisi kiri. Saat ia mendekat, kusadari ternyata ia Lala, pacar salah seorang temanku yang bernama Egi.</p>
<p>“Gi, aku kangen! Kenapa musti ngebut begitu?!”</p>
<p>Egi? Tuhan, benar saja aku berubah menjadi Egi! Lala merangkulku di dalam mobil, bergelayutan manja seolah-olah kami memang jadian. Ia juga mencium lembut bibirku. Aku  sempoyongan. Apa benar ia kekasihku?! Setahuku kekasih Egi adalah Rayya? Belum sempat aku menikmati kelembutan Lala, tiba-tiba panggilan telepon masuk.</p>
<p>“Sayang, kamu di mana? Kamu pasti sedang bersama Lala! Harusnya kamu ke tempatku dulu sebelum bertemu Lala. Bukannya kamu bilang akan memprioritaskanku dalam semua hal?”</p>
<p>Hah? Aku panik luar biasa. Yang menelepon itu,&#8230; Itu t-taaa-tadiii suara Rayya…</p>
<p>“Aku harus ke kantor. Ada <em>meeting </em>pagi hari ini. Semua sedang menungguku.&#8221; Ya, ya, mendadak aku pintar berbohong. Lala melonggarkan pelukannnya kemudian merapatkan tubuh dan payudaranya lagi sampai aku terasa sesak. Dia menciumku lama.</p>
<p>&#8220;Cepat pulang. Ingat loh, aku sudah membeli tiket nonton sore ini.”</p>
<p>Lala balik ke mobilnya. Aku menarik napas lega. Belum usai ketenanganku, tiba-tiba telepon lain lagi masuk.</p>
<p>&#8220;Sayang? Kamu jadi ke Bandung, kan? Kamu harus ingat, Sayang, aku nggak apa-apa kalau kamu tetap punya Rayya, tapi kamu harus selalu mencintaiku seperti janjimu.”</p>
<p>Janji? Janji dengan siapa? Kenapa kehidupanku, eh kehidupan Egi dikelilingi banyak perempuan? Aku susah bernapas. Kepalaku pening. Kumatikan semua hapeku, lalu diam sejenak di pinggiran jalan. Pelan-pelan kugerakkan mobil ke tempat yang sudah kujanjikan bersama Momo.</p>
<p>&#8220;Kenapa lama sih?&#8221; tanya Momo sebal.<br />
&#8220;Kamu nggak ngeliat aku berubah ya?&#8221;<br />
&#8220;Maksudmu?&#8221;<br />
&#8220;Lihat aku baik-baik! Kamu nggak lihat apa aku sekarang lebih macho?&#8221;<br />
&#8220;Kamu kenapa sih, mengkhayal jadi butchy lagi? Kesambet apa kamu?!&#8221;<br />
&#8220;Mooo! Aku berubah! Apa kamu nggak lihat? Aku berubah menjadi Egi. Ternyata Egi dikelilingi banyak perempuan-perempuan yang mencintainya.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa kamu berubah jadi reseh begini sih? Itu kan hidup orang lain, ya biar aja kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Masalahnya pacar-pacar Egi mendatangiku,  menelponku. Aku nggak kuat, Mo! Sebelum ketemu kamu ini salah satu pacarnya bergelayutan memelukku di mobil, mencium mesra bibirku.&#8221;</p>
<p><em>Plak! Plak! </em>Pipiku terasa panas!</p>
<p>Kubuka mata, Momo berada di sisi tempat tidurku. &#8220;Woy, sampai busuk nih, aku nungguin kamu! Kenapa hape harus dimatikan? Untung aku nyusul kamu ke sini! Ternyata kamu masih enak-enakan tidur.  Kita kan ada temu janji buat pemotretan! Cepetan banguuuuun! Waktumu sepuluh menit!&#8221;</p>
<p>Aku masih terpana. Ruas jariku pulih kembali, memanjang. Saat menuju ke kamar mandi, kulihat wajahku di depan cermin. Tuhan, terima kasih, itu memang diriku. Jadi cewek-cewek tadi&#8230;? Momo menatapku dengan bengis. Kubuka pintu kamar mandi dan membiarkan ia membara dengan marahnya.</p>
<p>Jalan menuju ke lokasi pemotretan, kulihat mobil Egi persis berada di tempat yang sama seperti yang kualami sebelumnya. Kulambatkan mobil. Aku melihat pacar Egi yang seksi itu sedang merangkulnya dengan mesra. Wajah Egi mirip wajahku tadi yang repot malayani, menjawab BB dan telepon dari cewek-cewek lainnya.</p>
<p>&#8220;Heh! Nggak usah reseh ngurusin hidup orang lain. Urus hidupmu sendiri!&#8221;</p>
<p>Suara Momo yang memekakkan telinga itu baru saja memerdekakanku dari sebuah beban yang tiada tara.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/03/30/tertukar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Lebih Indah Dari Gairah</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/03/26/lebih-indah-dari-gaira/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/03/26/lebih-indah-dari-gaira/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Mar 2011 04:15:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[l]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=11258</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: DeNi Melisa
Dear kekasihku tersayang,
Menurutmu semuanya tetap sama, tidak ada yang berubah. Seperti seribu malam silam, aku selalu bersemangat pulang ke rumah kita karena gairah menggulung malammu dalam gelora asrama. Entah berapa juta gairahku yang menjejak di tubuhmu. Yang jelas, tiap malammu adalah milikku, dan tiap malamku adalah kepunyaanmu.
Tapi, hari ini kau mesti tahu bahwa ada yang berubah di sini. Di hati, di pikiran, di dalam sikap dan laku kita. Ah, masa kau tidak menyadarinya? Atau cintamu yang terlalu besar membuat kau tak mau memperkarakan hal ini. Mungkin tak penting ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/Passion_by_fudexdesign.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-11259" title="Passion_by_fudexdesign" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/Passion_by_fudexdesign-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" /></a>Oleh: DeNi Melisa</p>
<p>Dear kekasihku tersayang,</p>
<p>Menurutmu semuanya tetap sama, tidak ada yang berubah. Seperti seribu malam silam, aku selalu bersemangat pulang ke rumah kita karena gairah menggulung malammu dalam gelora asrama. Entah berapa juta gairahku yang menjejak di tubuhmu. Yang jelas, tiap malammu adalah milikku, dan tiap malamku adalah kepunyaanmu.</p>
<p>Tapi, hari ini kau mesti tahu bahwa ada yang berubah di sini. Di hati, di pikiran, di dalam sikap dan laku kita. Ah, masa kau tidak menyadarinya? Atau cintamu yang terlalu besar membuat kau tak mau memperkarakan hal ini. Mungkin tak penting bagimu, karena mungkin, jika aku tidak salah tebak, hal yang paling penting bagimu adalah bahwa aku pulang ke rumahmu, memeluk kepalamu yang dempak di dadaku atau kau memeluk kepalaku yang peang di dadamu.</p>
<p>Baiklah itu hakmu untuk berperkara atau tidak. Yang jelas, aku ingin sekali menyadarkamu bahwa ada yang berubah dalam hubungan kita. Sadarkah? Hasrat itu mulai reda. Ya, hasrat, gelora, <em>passion</em>, <em>arousal</em>, atau apalah namanya. Yang kumaksud di sini adalah hasrat yang didorong oleh gairah seksual.</p>
<p>Mari kuajak kau mengingat-ingat tiga tahun silam. Bukankah kita begitu berhasrat? Rasanya kita bisa kesurupan jika tidak saling jumpa. Dan setiap kali kita bersama, yang ada dalam pikiran kita hanyalah bagaimana caranya bisa bercinta, bagaimana caranya bisa membawa gairah itu terbang menuju nirwana penuh kenikmatan. Sungguh, ini bukan gombal, dulu kamu seperti candu. Kamu lebih nikmat dari secangkir kopi hangat yang tersaji di malam dingin berhujan.</p>
<p>Tapi, coba amati diri kita sekarang. Oh, sayang ayolah, berikan sedikit waktumu untuk mengamat-amati hubungan kita. Meski aku selalu rindu padamu, meski setiap hari kuhadiahkan ciuman, meski aku tak bisa tidur nyenyak tanpa pelukanmu. Tapi, sadarkah bahwa sering kali kita melakukannya bukan dengan hasrat seksual yang dulu itu? Atau setidaknya hasrat itu tak semenggebu dulu.</p>
<p>Aduh sayang, jangan kamu salah mengartikan. Penurunan hasrat ini bukan berarti kita tidak saling mencintai lagi. Sumpah, suer, biar geledek disamber geluduk, deh. Sampai detik ini pun aku selalu merindukanmu, tiap menit, tiap jam. Aku selalu ingin dekat denganmu setiap saat. Tapi, bukan karena dorong hasrat seksual itu, sayang, melainkan karena dorongan kasih sayang, karena aku membutuhkanmu dalam tiap detik hidupku.</p>
<p>Jadi, salahkah jika tiba-tiba hasrat itu menurun? Tidak sayang. Itu sangat alamiah. Mari kujelaskan dengan sedikit teori. Maaf kalau membuatmu sedikit pusing dengan penjelasanku ini. Begini sayang, kamu pernah dengar <em>hormone phenylethylamine?</em> Iya, memang namanya agak susah, makanya orang-orang meringkasnya degan sebutan PEA. Nah, hasrat itu terkait dengan hormon PEA. Tiga tahun lalu, saat kita terbakar asmara, PEA memberikan sinyal sehingga hormon-hormon memicu timbulya hasrat seksual cinta. Tapi, PEA tidak berlangsung selamanya sebab setelah 2-3 tahun ia mulai menurun. Saat hasrat cinta reda, yang tersisa hanyalah kasih sayang. Hal ini konsisten dengan pengamatan di 62 budaya berbeda, tingkat perceraian memuncak pada tahun keempat perkawinan.</p>
<p>Dari teoari inilah maka muncul mitos tahun ketiga. Kamu pernah dengar? Banyak orang bilang bahwa pernikahan atau hubungan atau <em>living together</em> pada tahun ketiga biasanya akan mengalami cobaan-cobaan yang berat. Jika hubungan yang terjalin tidak didasari pada pondasi yang kuat, biasanya banyak pasangan yang gagal melewati tahun ketiga.</p>
<p>Sayang, jangan takut. Memang kedengarannya seram, apalagi tepat di hari ini kita merayakan <em>anniversary </em>kita yang ketiga. Tapi percayalah, asal hubungan kita di bangun di atas pondasi cinta yang tulus, asal kita bisa saling terbuka dan menerima, asal tidak semata-mata dibangun di atas dasar hasrat dan berahi, maka percayalah hubungan kita akan bertahan melewati tahun ke empat, lima, enam, bahkan sampai kita kakek-nenek, eh nenek-nenek.</p>
<p>Kamu lihat sendiri kan? Meski hasrat, gelora, <em>arousal </em>kita mulai menurun, tapi tiap-tiap hari kita lewati dengan manis, bukan? Bahkan aku dan kamu tidak pernah bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa saling memiliki. Memang ada yang bergeser sayang, yaitu kenikmatan hubungan kita bukan semata soal urusan ranjang melulu, tapi kenikmatan hubungan itu juga bisa didapatkan saat kita memasak bersama, saat kita bersama cekikikan nonton OVJ, saat kita bersama sibuk menawar kepiting di pasar, saat kita bersama membersihkan debu yang melekat di TV, saat kita bersama mengajak mami makan sate udang kesukaannya, saat kita bersama merapikan lemari pakaian yang memang tidak pernah bisa rapi. Itu adalah kenikmatan kita sekarang. Kenikmatan karena aku dan kamu bisa tetap bersama meski kita melewati cobaan seberat apa pun. Sumpah, nikmatnya mengalahkan kenikmatan seksual. Dan kenikmatan inilah yang akan membuat kita tetap bertahan melewati mitos tahun ketiga.</p>
<p>Sudah banyak pasangan lesbian yang berhasil melewati tahun ketiga ini dengan selamat. Ah, tak usah kusebutkan nama mereka. Yang jelas, aku yakin mereka telah mengerti apa itu fase peralihan dari gairah seksual menjadi kasih sayang. Mari kita contoh mereka sayang, senior kita, yang cintanya teruji, yang kasih sayangnya terbukti.</p>
<p>Oh, iya sebelum kusudahi surat ini, ijinkan aku mengecup jidadmu yang menggemaskan itu dengan penuh kasih sayang.<em> Happy anniversary</em>, sayang! Aku ingin bersamamu selamanya.</p>
<p>By,</p>
<p>Kekasihmu, pacarmu, yayangmu atau apalah namanya.</p>
<p>@DeNi Melisa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/03/26/lebih-indah-dari-gaira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Living Together</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/08/07/living-together-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/08/07/living-together-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 16:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/2010/08/07/living-together/</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh: Deni Melisa
Aku tersenyum saat membuka pintu rumah. Senyum itu muncul karena otakku mengingat lagi kejadian tiga jam lalu, saat aku dan beberapa teman kuliah berkaroke ria di Inul Vista. Menyenangkan!
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam saat motor telah selesai kuparkir. Saat masuk rumah, aku kaget melihat Mel yang tertidur di ruang tamu hanya beralaskan karpet plastik. Dia pasti menungguku. Hiks. Memandang Mel yang lelap, aku sadar bahwa aku tidak sendiri lagi, ada seseorang yang menungguku di rumah. Aku telah menikah, eh maksudnya living together.
***

Banyaknya orang yang bertanya kepadaku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://msdawe.deviantart.com/art/Dinner-for-two-121008131?q=boost%3Apopular+two+women&amp;qo=174"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/08/dinner_for_two_by_msdawe.png" alt="Dinner for two by msdawe" width="225" height="223" align="left" /></a> Oleh: Deni Melisa</p>
<p>Aku tersenyum saat membuka pintu rumah. Senyum itu muncul karena otakku mengingat lagi kejadian tiga jam lalu, saat aku dan beberapa teman kuliah berkaroke ria di Inul Vista. Menyenangkan!</p>
<p>Waktu menunjukkan pukul dua belas malam saat motor telah selesai kuparkir. Saat masuk rumah, aku kaget melihat Mel yang tertidur di ruang tamu hanya beralaskan karpet plastik. Dia pasti menungguku. Hiks. Memandang Mel yang lelap, aku sadar bahwa aku tidak sendiri lagi, ada seseorang yang menungguku di rumah. Aku telah menikah, eh maksudnya <em>living together.</em></p>
<p>***</p>
<p><span id="more-8012"></span></p>
<p>Banyaknya orang yang bertanya kepadaku tentang kehidupan <em>living together</em> (yang selanjutnya disingkat sebagai LT) mendorongku membuat tulisan ini. Sebelumnya, aku ingin menegaskan bahwa tulisan ini terinspirasi dari kehidupan bersama Mel. Jadi, tentu saja tidak selalu bisa diterapkan atau tidak selalu terjadi dalam kehidupan pasangan lesbian yang lain.</p>
<p>Baiklah, apa itu LT om?</p>
<p>LT yang dimaksudkan di sini adalah pasangan lesbian yang tinggal dan hidup serumah dengan partnernya. Ya, mirip dengan pernikahanlah, meski tanpa surat nikah dan statusnya tidak diakui, tapi hiruk pikuk LT mirip lika liku pernikahan hetero. Dan akan lebih mirip jika ditambah hadirnya anak.</p>
<p>So, hal-hal apa yang penting diketahui dari LT?</p>
<p><strong>1. Mengikat</strong></p>
<p>Sadar atau tidak, diterima atau ditolak, LT akan mengikat hidup kita. Kita jadi tidak bisa sebebas sebelumnya. Ada aturan yang harus dipatuhi, ada kesepakatan yang harus dijalankan. Misalnya, sebelum LT dengan Mel, aku bebas main PS semalaman, tapi sekarang tentu berbeda, aku harus nurut pada aturan yang Mel buat, yaitu main PS hanya boleh sampai jam 11 malam. Selain itu, aku juga dituntun memberi kabar tentang keberadaan dan kegiatanku kepadanya, misalnya, dimana aku berada, sudah makan atau belum, sudah BAB atau belum. (Soal BAB jadi wajib dilaporkan karena aku sering sembelit, dan ini membuat Mel kuatir)</p>
<p><strong>2. Butuh Adaptasi</strong></p>
<p>LT juga menuntut kita berdaptasi habis-habissan dengan partner. Apalagi jika kamu dan partner berasal dari dunia yang berbeda. Misalnya kamu berasal dari dunia nyata, dan partner berasal dari dunia goib. Serem kan!!!</p>
<p>Nah, sebagai contoh, aku dan Mel kebetulan berasal dari dua keluarga yang memiliki sistem yang kontras. Aku dibesarkan oleh keluarga yang bebas, sedangkan Mel dibesarkan dalam keluarga yang memiliki banyak aturan. Tentu dalam hal ini kami harus beradaptasi hingga titik darah penghabisan. Aku mulai belajar mengikuti aturan-aturan di keluarga Mel, misalnya cuci kaki sebelum tidur, selalu ijin jika keluar rumah walau hanya ke warung sekalipun, dan minum dengan menggunakan gelas pribadi. Begitu juga sebaliknya, Mel mulai beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan keluargaku yang lebih bebas aturan, maka jangan heran jika kami berdua sering nonton DVD hingga larut malam. Sssst jangan bilang-bilang mami ya.</p>
<p><strong>3. Komitmen</strong></p>
<p>Ini hal yang penting sis, jangan coba LT kalau belum berani berkomitmen. Sebab sepanjang hari kita akan melihat partner dengan beraneka eskpresi wajah yang nggak oke banget. Partner akan menyambut kita pulang kerja bukan dengan parfum, rok mini, dan lipstick jingga. Pemandangan yang akan dilihat adalah partner akan menyambut dengan menggunakan baju tidur dan rambut yang berantakan.</p>
<p>Juga jangan berharap partner akan selalu berkata-kata manis. Ada masa-masa dimana dia menjadi begitu sensi. Misalnya, Mel pernah marah besar hanya karena aku tidak memakan agar-agar buatannya atau aku pernah mogok ngomong seharian hanya karena Mel tidak mau menemaniku nonton sinetron Karmila (jadi ketahuan deh tontonannya).</p>
<p>Nah, untuk melihat sejauh mana komitmen kita, caranya gampang kok. Saat usia LT sudah memasuki hitungan tahun, cobalah tanya diri kita, apa kita makin cinta kepada partner dan makin menutup hati untuk perempuan lain, atau kita mulai merasa bosan dan kecantol pada perempuan yang lebih menggiurkan dari partner? Pasangan yang memiliki komitmen sejati adalah pasangan yang semakin lama LT dengan partner, akan semakin sayang dan semakin sulit membayangkan hidup tanpa partner.</p>
<p><strong>4. Keterbukaan</strong></p>
<p>Saat LT rasanya sudah tidak ada hal yang bisa dirahasiakan pada partner. Semua duka partner adalah duka kita juga. Begitu pula sebaliknya. Lagipula pasangan lesbian yang LT biasanya menjadi lebih peka terhadap <em>gesture</em> partnernya. Dia bisa tahu bahwa partnernya sedang menghadapi masalah hanya dengan melihat raut wajah partner. Pesanku, jangan sampai kebablasan ya. Bisa-bisa kamu salah terka. Seperti kisahku, saat pulang kuliah dengan tampang lesu. Baru saja aku membuka pintu, tiba-tiba Mel sudah mencecarku dengan seberondong pertanyaan.</p>
<p>“Kamu punya masalah ya, Hon? Muka kamu kusut gitu? Ada masalah apa sih? Ada yang bisa aku bantu?”</p>
<p>“Nggak kok!”</p>
<p>“Ah, jangan boong, aku tahu kok. Aku bisa menebak. Ayo ngaku. Ngaku ya <em>please, please, please</em>.”</p>
<p>“Oke aku ngaku. Aku punya masalah. Masalahnya adalah aku punya pacar cerewet.”</p>
<p>Maksudku hanya bercanda, tapi saat melihat Mel marah besar, saat memandang kukunya yang panjang dan lancip, kelihatannya aku memang dalam masalah besar sekarang. Tolong&#8230;!</p>
<p><strong>5. Menghadapi Masalah</strong></p>
<p>Permasalahan LT tidak hanya berkisar pada urusan romantis, cinta, mesra, pacaran dan selingkuh. Pasangan lesbian LT akan menghadapi masalah yang lebih kompleks. Mulai dari masalah belanja bulanan, hubungan dengan keluarga partner, genteng yang bocor, sampai masalah partner yang susah bangun pagi.</p>
<p>Kita bisa ribut dengan partner hanya untuk urusan-urusan sepele yang sebenarnya tidak mungkin diributkan jika hanya pacaran biasa. Misalnya, di hari libur, di pagi buta, aku harus ribut dengan Mel lantaran Mel ngotot ingin membersihkan sarang laba-laba di atas tempat tidur kami sekaligus mencuci seprai yang sudah dekil. Aku yang sudah jauh-jauh hari mengharapkan hari libur ini menjadi hari tidur, akhirnya ngamuk-ngamuk tidak karuan saat dibangunkan. Tapi untungnya, meskipun kita bisa ribut hanya untuk urusan sepele, kita juga bisa dengan mudah berbaikan kembali hanya karena masalah sepele.</p>
<p>Lanjut ke ceritaku tadi ya, mau tahu bagaimana akhirnya kami bisa berbaikan? Cuma karena masalah sepele kok. Karena terlalu kesal dengan ulahku, Mel menarik seprai sekuat tenaga, dan aku yang masih terkantuk mencoba menahan seprai itu. Karena terlalu semangat menahannya, aku malah <em>nyungsep</em> dengan sukses! (maaf aku tidak tahu bahasa Indonesia yang baku untuk kata “nyungsep” ). Nah melihat gaya <em>nyungsep</em>-ku yang lucu dan atraktif. Spontan Mel dan aku tertawa. Akhirnya, kami baikan. Aku membantu Mel membersihkan kamar, dan sebagai gantinya Mel mengijinkanku tidur sampai sore. Hore&#8230;!</p>
<p>Di akhir tulisan ini, aku ingin bertanya. Jika ada pemilihan pasangan LT terfavorit, kira-kira kalian akan milih kami nggak ya?</p>
<p>@Deni Melisa, SepociKopi, 2010</p>
<p><em>Dari editor Bening: Kayanya yang terfavorit tetap Bening dan Aa-nya deh. He he he. Begini nih, enaknya jadi editor :p</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/08/07/living-together-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Greedy</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/04/13/greedy/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/04/13/greedy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 06:51:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6740</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen Casanova
Malu. Sungguh aku malu. Rasanya kalau bisa tenggelam ke dasar mulut bumi, mungkin aku akan membenamkan diri. Menghilang sementara, menutupi rasa ini.
Semuanya dimulai dari ketikan-ketikan curhat tanpa filter di dunia maya, ujung-ujungnya aku merasa malu. Malu tapi mau (halah). Setelah ini kuceritakan menurut kronologis.
Pagi-pagi tadi aku membaca email-email sahabat-sahabatku masa sekolah dulu, di salah satu grup milis. Masih jaman pakai mailing list? Dalam hal ini mungkin merupakan pengecualian. Mailing list kami mengalami pasang surut aktif-tidak aktif. Namun biasanya, kalau aktif, pembahasannya berujung intens. Untukku pribadi mailing list ini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-6755" title="Greedy_by_silverghostDK" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/04/Greedy_by_silverghostDK-187x300.jpg" alt="Greedy_by_silverghostDK" width="187" height="300" />Oleh: Carmen Casanova</p>
<p style="text-align: justify;">Malu. Sungguh aku malu. Rasanya kalau bisa tenggelam ke dasar mulut bumi, mungkin aku akan membenamkan diri. Menghilang sementara, menutupi rasa ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Semuanya dimulai dari ketikan-ketikan curhat tanpa filter di dunia maya, ujung-ujungnya aku merasa malu. Malu tapi mau (halah). Setelah ini kuceritakan menurut kronologis.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi-pagi tadi aku membaca email-email sahabat-sahabatku masa sekolah dulu, di salah satu grup milis. Masih jaman pakai <em>mailing list</em>? Dalam hal ini mungkin merupakan pengecualian.<em> Mailing list </em>kami mengalami pasang surut aktif-tidak aktif. Namun biasanya, kalau aktif, pembahasannya berujung intens. Untukku pribadi<em> mailing list </em>ini berguna untuk tetap mengikuti berita-berita sahabat-sahabatku yang sudah menyebar ke mana-mana di ujung bumi. Tidak lucu kan kalau tiba-tiba teman sebangkuku dulu mengalami masa susah tapi aku tidak berkesempatan membantu?<span id="more-6740"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Namun tidak bisa dipungkiri, aku juga suka gosip-gosip. Apalagi diantara sahabat-sahabat lama. Rasanya senang kalau bisa dengar sahabat-sahabat yang notabene di lingkungan sama sekali berbeda, dengan adanya gosip-gosip itu jadi membicarakan hal yang sama. Cekikikan bersama, guyonan jadul yang sama seperti masa sekolah dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, senang juga melihat perubahan dari teman-temanku ini. Dimulai dari yang dulu manja sekali di masa sekolah, sekarang malah yang pertama jadi ibu—anak kembar lagi. Ada juga perubahan-perubahan yang bisa diamati dari curhat-curhat, seperti perubahan cara berpikir, jadi lebih dewasa, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya dimulai dari yang standar: 1) Apa kabarnya secara umum; 2) Masalah pekerjaan; 3) Masalah percintaan; 4) Masalah apa saja. Yang membuatku tercengang adalah, walau sudah cukup lama kami tidak bertemu, keterbukaan ternyata masih ada di antara kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Paling banyak keluhan ada pada masalah pekerjaan, berhubung kami adalah kelompok dewasa muda yang lagi semangat-semangatnya menanjak jenjang karir. Dari cerita teman-temanku, ada yang pindah-pindah kerja sudah 4 kali dalam 3  tahun. Dia sendiri depresi lihat <em>curriculum vitaen</em>ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang kelihatannya jenjang karirnya curam sekali, rasanya aku sendiri capek mendengar ceritanya, saking lelahnya kubayangkan. Yang kutahu, temanku yang satu ini bisa dibilang orang yang paling rajin yang pernah kutemui (baca: demen belajar). Tapi di pekerjaan yang satu itu, dia sampai sangat kelabakan dan mengaku turun berat badan sampai berkilo-kilo. <em>Mind you,</em> temanku ini bisa dibilang berkategori kurus, mengerikan membayangkan berat badannya masih turun.  Lalu disarankan pindah kerja. Tapi dia bilang, sayang, sudah terlanjur. Sudah ada di zona aman, katanya. Dihadapkan pilihan-pilihan memang menyebalkan, apalagi kalau lagi terasa stuck di zona aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga yang lagi merasa sejak masih orok akhirnya mendapatkan kestabilan di hidupnya di bidang finansial. Tanjakan karir cukup baik. Namun, hal itu berubah sejak mendengar kedua orangtua sakit parah. Mau tidak mau, ia memilih keluarga dibanding karir. Setelah itu mungkin akan dimulai dari nol lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Macam-macam ceritanya, hingga tiba rasanya waktuku untuk bercerita. Ikut terseret arus curhat-curhat keluhan. Namun&#8230; Entah apa yang dilakukan neuron-neuron yang beraktivitas di otakku ini. Apakah karena akhir-akhir ini lelah karena kuforsir mereka berhari-hari tanpa henti? Intinya, di curhat itu, aku merasa tidak puas akan semuanya. Aku merasa melakukan suatu hal yang sia-sia.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengeluh akan pekerjaanku yang membuat tulang-tulangku terasa rontok menjelang tidur. Aku mengeluh karena bosku mengejar-ngejarku terus dengan pekerjaan yang harus diselesaikan saat itu juga. Aku mengeluh dan khawatir karena atasanku yang lain merongrong aku untuk menjadi pembicara seminar di negeri yang jauh untuk beberapa bulan ke depan (yang namanya negerinya saja aku baru pertama kali dengar), yang bahannya saja aku belum sentuh. Padahal dia tahu aku kesehariannya bisa dibilang melompat-lompat dari sana ke sini tanpa henti. Aku mengeluh karena kolegaku merongrong aku untuk mengikuti proyeknya yang  mengharuskan kami bekerjasama dengan sekelompok orang sombong yang membayangkannya saja membuat sakit kepala. Aku mengeluh karena mahasiswa-mahasiswa bimbinganku yang suka panik atau minimal memasang tampang sendu setiap kali melihatku, membawakan hasil-hasil kemajuannya yang tidak seberapa, yang tulisannya membuat pusing karena tidak koheren, dan memasang alasan-alasan pintar kalau tidak ada ide (baca: memancing-mancing minta ide). Ingin kuberteriak, selesaikan bacaanmu, berpikirlah kreatif, dan jangan minta didikte! Selain itu aku khawatir mereka tidak mendapatkan hasil yang baik nantinya. Lalu aku mengeluh dan khawatir karena proyekku sendiri tidak ada kemajuan. Berpuluh-puluh jam kuhabiskan di laboratorium menuai hasil yang tidak seberapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kalian yang membaca keluhanku ini sudah merasa ingin muntah-muntah, saking enegnya? Sangat egosentrik sekali, ya, curhatku ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Alih-alih dapat dukungan, yang kudapat adalah semprotan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Carmen!!” kata temanku lewat email, “gue pengen nampar lo deh rasanya. Lo kedengeran beruntung dan <em>blessed</em>, tapi loe ga puas. <em>Greedy</em>! Carmen, ada banyak orang di luar sana yang butuh diperhatikan, dan kayanya saat ini gue merasa lebih baik memperhatikan orang lain daripada dengerin keluhan lo yang sebenarnya nggak butuh dikeluhkan apa-apa&#8221;.</p>
<p><em>Deng</em>. Aku merasa ditampar. Mungkin lebih baik ditampar fisik, karena aku punya kecenderungan masokis (halah kok jadi berbau-bau seksual). Jahat ya dia. Jahat, atau baik?</p>
<p style="text-align: justify;">Tersentak begitu, ditambah teman-temanku yang lain berkata bahwa mereka bangga padaku, temannya yang lesbian. Mereka bangga, katanya, karena aku berani mengambil jalan yang sesuai dengan <em>passion </em>awalku waktu sekolah dulu: Untuk berkontribusi bagi orang banyak. Mereka juga merasa seperti kutu (yang aku bingung, aku sama sekali tidak menganggap mereka kutu, bahkan jauh sekali dari itu). Disadari begitu, aku jadi malu. Malu sekali. Karena anggapan mereka sama sekali salah. Aku sama sekali tidak hebat. Bahkan jauh dari hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku selama ini lupa, bahwa bosku sangat percaya padaku sampai dia selalu tertarik melihat hasil pekerjaanku, karena itulah dia selalu menyempatkan diri ke ruanganku. Untuk apa aku mengeluh? Aku lupa, bahwa atasanku yang lain juga sudah bersemangat memberiku kesempatan untuk jadi pembicara, sedangkan kolegaku yang lain perlu mencari-cari sendiri. Semuanya demi tujuan utama seminar untuk masyarakat banyak. Untuk apa aku mengeluh? Dan masih ada waktu menyiapkan semuanya, untuk apa aku khawatir? Aku lupa bahwa kolegaku juga sangat percaya padaku sampai-sampai proyek dia pun dipercayakannya padaku. Walau kolega kerjasamanya nanti menyebalkan, namun toh tujuan utamanya nantinya untuk orang banyak. Untuk apa aku mengeluh? Bukankah ini jalan yang kuinginkan?</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lupa bahwa beberapa bulan yang lalu, aku senang sekali melihat mahasiswa-mahasiswaku yang sangat bersemangat untuk menjadikan proyek mereka berhasil, apalagi proyek sosial; dan lupa bahwa aku pernah menjadi satu diantaranya, yang berharap-harap cemas menunggu tanggapan pembimbingnya akan hasil kerja mereka. Untuk apa aku mengeluh? Aku lupa, bahwa proyekku sendiri sudah beruntung mendapat tunjangan yang cukup, walau belum berhasil sepenuhnya, paling tidak ada hasilnya. Untuk apa aku mengeluh? Aku juga lupa, walau tulang-tulangku terasa rontok sebelum tidur, partnerku selalu menyiapkan air panas di ember untuk merendam kaki (memang aneh dia, sok-sok jaman Victoria, tapi aku suka ihihihi). Dan kekasihku selalu menyempatkan pijat-pijat kecil yang terkadang aku jadi ikut-ikut pijat dia, lalu –sensor&#8211;. Padahal dia juga bekerja dari pagi sampai sore, terkadang lembur.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir-akhir ini yang kupikirkan adalah diriku, diriku, diriku: pekerjaan, finansial, semuanya. Aku lupa tujuan utamaku dalam hidup, dalam merantau. Aku selalu dihinggapi perasaan khawatir. Tapi lebih ke kekhawatiran akan diriku sendiri. <em>So selfish. So greedy.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Cukup tentang diriku. Stop, kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lesbian, kita ada di dunia ini pasti ada karena suatu hal, tidak hanya sebagai kaum yang perlu dikasihani. Cukuplah waktu dihabiskan untuk memikirkan diri sendiri yang berujung pada keserakahan, ketidakpedulian akan sekitar, dan kesukaan menjadi kaum tak berdaya yang patut dikasihani. Seperti yang aku pikirkan dan alami akhir-akhir ini. Stop!</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang saatnya untuk fokus kepada sesuatu selain kepada diri sendiri. Tunjukkan pada sekitar bahwa kita adalah kaum yang juga berguna bagi masyarakat banyak, tunjukkan kepedulian. Niscaya pada akhirnya mudah-mudahan kita menemukan kebahagiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini, aku sendiri akan memulai dengan menyambut mahasiswa-mahasiswaku dengan antusiasme yang sama terhadap proyek hebat mereka yang maunya untuk orang banyak itu. Ya, mulai dari sana, aku akan membantu mereka sepenuhnya, syukur-syukur menginspirasi. Tidak mustahil kan, lesbian menginspirasi generasi masa datang untuk hidup yang lebih baik?</p>
<p style="text-align: justify;">@Carmen Casanova, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/04/13/greedy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malari Lesbus</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/04/01/malari-lesbus/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/04/01/malari-lesbus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 09:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6628</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Suasana mall memang  menggelora; bau benda-benda baru menyeruak keluar masuk. Bagi yang shopaholic bau pabrik seolah aroma makanan lezat. Lihat desain sun glasses Moschino, Oliver Peoples, Dior at Safilo… waduh kerennya Miu miu David Clulow, Saint Laurent yang ciamik. Dari sana agak memutar ada Mango, sedang diskon 20 %, harganya sungguh menggoda! Di Zara ada sale winter jacket keren abis. Mampir deh! Nyerah! Aku menggesek kartu yang nilainya berupa beberapa lembar uang seratus ribuan, cukup. Cukup. Tiba-tiba aku teringat kata-kata eks patner: “Masih banyak orang miskin!” Buru-buru ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6629" title="snow" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/04/snow-300x199.jpg" alt="snow" width="240" height="159" />Oleh: Ade Rain</p>
<p>Suasana mall memang  menggelora; bau benda-benda baru menyeruak keluar masuk. Bagi yang <em>shopaholic </em>bau pabrik seolah aroma makanan lezat. Lihat desain sun glasses Moschino, Oliver Peoples, Dior at Safilo… waduh kerennya Miu miu David Clulow, Saint Laurent yang ciamik. Dari sana agak memutar ada Mango, sedang diskon 20 %, harganya sungguh menggoda! Di Zara ada <em>sale winter jacket</em> keren abis. Mampir deh! Nyerah! Aku menggesek kartu yang nilainya berupa beberapa lembar uang seratus ribuan, cukup. Cukup. Tiba-tiba aku teringat kata-kata eks patner: “Masih banyak orang miskin!” Buru-buru aku meninggalkan bebauan belanja!</p>
<p><span id="more-6628"></span>Belum usai godaan tadi, ada promosi <em>lingerie </em>dan<em> satin bra </em>di Debenhamm. <em>Yes, bra! </em>Tengah asyik-asyiknya aku meneliti <em>bra </em>tiba-tiba mataku kepergok seseorang perempuan. Sepertinya aku melihatnya di lantai dasar, loh kok…? Ia mengendap-ngendap dariku, berpura-pura tidak melihat. Ketika kudekati, ia membelakangiku seakan menganggapku manekin. Ketika aku ke depannya, ia malah menimang-nimang baju, menarik-narik bekas jahitan, melihat ke dalamnya, seolah-olah segerombolan sarang semut  tengah membuat sarang di sana. Aku berharap dia berbalik ke arahku, tapi dia acuh.</p>
<p>“Sstt, seseorang mengikutiku, Nak. Seseorang sedang menguntit.&#8221;</p>
<p>Di ruang ganti, aku dan Sulung bersalin pakaian. Sulung memakai  kemejaku, aku memakai kaus seksinya. Kami memisahkan diri, berjanji bertemu di tempat parkir. Sulung keluar lebih dulu, aku menyusul beberapa menit kemudian. Benar saja cewek itu mengikuti Sulung. Kami berkomunikasi lewat Blackberry Messenger. Tuhan, hari gini masih ada yang menguntit ternyata. Kuikuti perempuan misterius tadi. Dia mengekor Sulung ke arah parkir mobil. Tiba-tiba dia berhenti dan menerima telpon. Dengan seketika ia berbalik arah. Aha, gantian aku berpura-pura tidak melihat. Ampun, Tuhan! Dia menemui seseorang! Oh, dia? Lesbian yang berani mati mengejar-ngejar itu? Dia belum kapok meski pernah kuancam? Melihat perempuan itu lagi rasa-rasanya aku capek jadi lesbian. Bukan apa-apa dia benar-benar <em>stalker </em>sejati!</p>
<p>Tuhan sedang mengajariku ilmu jiwa, biar aku lulus jadi manusia. Soalnya, akhir-akhir ini banyak sekali tes-tes yang dibuat-Nya untuk mengukur seberapa kental kelesbiananku. Nih contohnya lagi, masih dalam situasi gamang dengan urusan cinta pribadi antara aku dan eks, muncul masalah lain, kali ini berasal dari seorang yang kuanggap sahabat. Entah setan apa yang membuatnya membeberkan semua curhatku pada salah seorang mantanku yang lain. Dia  mengaku sahabatku loh! Tapi tega membagi semua rahasia kami ke seseorang yang sepatutnya nggak perlu tau akan semua itu!</p>
<p>Oke, kapok? Ya, udah merasa bonyok nih! Tobat jadi lesbian? Entah! Hati masih penyok dengan masalah tak sengaja dari teman lesbian ke teman lesbian lain, akhirnya aku mengenal rantai makanan eh rantai borgol, eh maksudnya rantai persahabatan lesbian lain. Sebut saja Jamila.  Jamil ini benar-benar cewek te-o-pe-be-ge-te! Tidak ada yang kurang darinya, segala yang ada di dunia dia punya. Barangkali dengan berstandarkan hal tersebut ia berpikiran dapat memiliki siapa saja termasuk diriku.</p>
<p>Mulailah petulangannya mencari-cari cara agar bertemu denganku, mencuri informasi semua tentang aku. Perempuan sekaliber James Bond itu memang canggih menemukan semua data pribadi. Sampai aku makan siang di mana, jam berapa, dia berhasil nongkrong sebelum aku datang. Itu belum apa-apa, dia juga tahu semua detil masa laluku, karirku, nama ikan peliharaanku, majalah langganan, sampai merek parfum yang terakhir kali bisa dideteksi! Ia membuat hidupku penuh ketakutan.</p>
<p>Mulai dari  judul drama “Lesbian Digamang Cinta”, “Teganya Sahabat Lesbian”, “Dikejar Lesbian Tajir” “Di-<em>voodoo</em> Lesbian Penyihir”, apalagi? Belum, ini belum selesai. Masih dalam kurun waktu yang nggak begitu jauh, ada kejadian lagi. Suatu kali aku harus berangkat  ke sebuah ibu kota negara tetangga. Setelah pekerjaan selesai, aku dibawa berkeliling kota oleh teman lesbian yang sudah lama kukenal dan pernah  berkunjung ke Indonesia juga. Ia menyetir mobil dan aku duduk di sampingnya. Rasa tenang memang mahal, malam semakin larut. Usai mengunjungi salah seorang teman lain agak di luar kota, akhirnya kami pulang pukul dua dini hari. Entah setan apa, tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku dan membawa ke pahanya. Sementara dua teman di belakang kami hanya cengengesan. Pelecehan! Aku mual! Aku lolos dari mereka setelah diselamatkan teman-teman <em>straight</em>-ku; tentu dengan kisah sinetron yang teramat panjang juga! Capek deh!</p>
<p>Seluruh energi lesbianku rontok, gugur, jatuh ke jurang, di sana langsung di mangsa harimau lapar, sisa badan diinjak rombongan gajah. Sudah jadi puing dan serpihan dikerubuti semut. Remah-remahnya dikerubuti virus salmonela. Makhluk hidup semacam manusia yang nggak sengaja memegang  sisa-sisa dagingku dan lupa cuci tangan bakal langsung kena tipus akut! Cobaan bertubi-tubi itu membuatku terkena penyakit kronis bernama <em>malari lesbus.</em> Semua yang berbau lesbian membuatku, demam, sakit kepala, gatal-gatal, dan pusing. Kalau lagi berdenyut, aku cuma sanggup tiduran. Kalau dikategorikan kanker, ini stadium dua.</p>
<p>Sulung bilang duniaku terbalik. Ia benar. Ketika sakit begini, nalar normalku tak bisa lagi jalan. Aku menjadi kasar kepada teman-teman lesbian, sama sekali tidak bisa membedakan mana lesbian baik dan tidak. Dalam keadaan sakit begini, aku tidak sanggup bergaul dengan teman-teman lesbian mana pun. Tiga bulan merangkak pergi. Aku masih belum berhubungan dengan lesbian, rasanya memang ada yang kurang tapi sekaligus ada beban berat yang juga ikut berkurang. Keindahan dan ketakutan tidak bisa berdampingan. Rasa takutku masih besar dan aku belum bisa merasakan kembali keindahan bergaul dengan lesbian.</p>
<p>Semuanya sungguh berbalik. Jika dulu <em>euphoria </em>kehidupan <em>mal </em>berarti bau menarik, kini malah sebaliknya. Jika dulu aku beranggapan bertemu dengan lesbian di dunia nyata sama asyiknya seperti jalan-jalan di mal, tapi kini apa itu tadi? Mal (baca: lesbian)? Ah, kini hatiku bokek untuk cuci mata. Seleraku juga katro dan tertukar. Aku lebih menyukai bau buku bapuk dari toko buku bekas, sendirian bersandal jepit di bioskop, menyepi di balik dinding berwarna pucat, atau menghilang di akhir pekan ke dalam hutan hujan.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/04/01/malari-lesbus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berenang itu Menyakitkan, Kawan!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/03/04/berenang-itu-menyakitkan-kawan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/04/berenang-itu-menyakitkan-kawan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 06:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6268</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sebening Embun
Aku pernah memutuskan bahwa berenang adalah kemampuan hidup yang tidak akan pernah kukuasai. Tubuhku tidak begitu besar, tapi entah mengapa begitu nyemplung ke kolam renang mendadak aku berubah menjadi botol. Tercebur, megap-megap berbunyi blup-blup-blup, lalu lama-lama tenggelam.
Pernah sekali, aku salah nyebur. Karena malu dan takut diperhatikan pengunjung kolam yang lain aku memilih bagian kolam yang paling ujung, yang paling sepi. Bodohnya, aku tidak memperhatikan tanda-tanda dan peringatan kedalaman kolam. Dengan sok pede aku langsung nyemplung. Byurr! Sedetik kemudian aku baru sadar, bahwa kakiku tidak menyentuh dasar kolam. Astaga!
Aku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6269" title="swimming_goggle" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/swimming_goggle-300x300.jpg" alt="swimming_goggle" width="180" height="180" />Oleh: Sebening Embun</p>
<p>Aku pernah memutuskan bahwa berenang adalah kemampuan hidup yang tidak akan pernah kukuasai. Tubuhku tidak begitu besar, tapi entah mengapa begitu nyemplung ke kolam renang mendadak aku berubah menjadi botol. Tercebur, megap-megap berbunyi <em>blup-blup-blup</em>, lalu lama-lama tenggelam.</p>
<p>Pernah sekali, aku salah nyebur. Karena malu dan takut diperhatikan pengunjung kolam yang lain aku memilih bagian kolam yang paling ujung, yang paling sepi. Bodohnya, aku tidak memperhatikan tanda-tanda dan peringatan kedalaman kolam. Dengan sok pede aku langsung nyemplung. <em>Byurr</em>! Sedetik kemudian aku baru sadar, bahwa kakiku tidak menyentuh dasar kolam. <em>Astaga</em>!</p>
<p><span id="more-6268"></span>Aku panik. Panik sepanik-paniknya! Aku bergerak kalap, menggapai-gapai tepian kolam, menggapai apa saja yang bisa menarikku dari kolam jahanam ini. Tapi permukaan kolam rasanya begitu jauh tak tergapai, sementara tekanan air terus menghimpitku, menyedot habis oksigen yang tadi kusiapkan sebelum nyemplung. Aku lupa diri, aku bukan ikan yang bisa bernapas di air, alih-alih bernapas aku malah menelan air yang pekat dengan kaporit, tersedot lewat hidungku dan memerihkan mataku. Oh Tuhan, ampuni aku bila harus mati di kolam ini. Amiin.</p>
<p>Tapi ternyata aku belum mati. Seseorang mendorong tubuhku ke atas, dan sedetik kemudian semua pandangan tertuju padaku. Rasanya mending  pingsan deh, supaya nggak menanggung malu.</p>
<p>&#8220;Mbak, kalau belum bisa berenang, di ujung sana aja lebih dangkal.&#8221; Perempuan yang menolongku mengingatkan sambil menepuk-nepuk punggungku. Aku mengangguk, sambil menggigil hebat, menahan nyeri karena rasanya air tak berpendidikan itu ingin berlomba menjebol seluruh lobang di tubuhku.</p>
<p>Kuputuskan pelajaran berenangku tamat sebelum dimulai, aku DO. Aku coba menghibur diri, mungkin manusia diciptakan berbeda-beda, ada Deni si manusia ikan, ada Tarzan si manusia hutan, dan aku harus menemukan<br />
takdirku sendiri, menjauh dari kolam renang yang seperti ingin menelanku bulat-bulat! Terimakasih.<br />
<em><br />
Tujuh tahun kemudian. </em>Sekitar dua tahun yang lalu, orang tua partner mulai sering berkunjung atau terkadang kami ajak untuk liburan bareng dan menginap di hotel. Demi menyenangkan orang tua, aku menemani Mama berenang. Kusebut menemani karena ya hanya menemani. Mama berenang, aku main air di pinggir kolam. Oh iya, kali ini aku nggak mau malu-maluin pake acara kelelep segala, malu dong sama mertua. Jadi mending merogoh kocek untuk meminjam ban pelampung.</p>
<p>Pelan-pelan ketakutan dan traumaku pada air mulai berkurang. Aku mulai berani mencelupkan wajahku ke air kolam, melihat dasar kolam dengan mata terbuka. Dan dari kejauhan tumbuh rasa iri melihat Mama yang sudah berumur tapi masih lincah menyeberangi kolam renang dari ujung ke ujung, bolak-balik berkali kali.</p>
<p>Sejak itu, setiap ada kesempatan liburan bersama orangtua partner, aku minta diajarin. Mulai hal dasar seperti meluncur, mengambang, bernapas di air, dan berenang gaya anjing. Yang terakhir ini hanya istilahku saja, karena gerakannya persis seperti gerakan anjing berenang. Ternyata, berenang jadi salah satu kegiatan yang mendekatkanku dengan Mama. Sudah banyak topik bahasan serius yang kami obrolkan di kolam renang. Kupikir, ini yang namanya sambil menyelam minum air. Sambil mendekatkan diri dengan orang tua partner, sambil bersenang senang, sambil belajar berenang.</p>
<p><em>Oktober 2009</em> &#8211; Aku, partner dan kedua orangtuanya berlibur bersama di Anyer. Saat mendiskusikan rencana ini lewat telepon, Mama partner mengingatkan aku bahwa nanti acara utama di sana adalah berenang. Mama sempat bertanya sudah sejauh apa kemajuan renangku. Terang saja belum bisa apa-apa. Tapi demi menyenangkan hatinya, aku katakan saja sudah mulai bisa. Ternyata, cinta bisa menjadi motivasi yang sangat kuat!</p>
<p>Masih ada dua minggu sebelum liburan. Demi mengambil hati Mama, aku paksakan diri untuk belajar berenang, meski hanya dengan memperhatikan dan mencontek gerakan orang lain. Aku nggak peduli.</p>
<p>Belajar otodidak secara intensif ini ternyata cukup membantu. Setiap belajar, aku selalu membayangkan Mama. Bisa berenang dan bisa berlomba dengan beliau mencapai ujung kolam adalah impianku. Syukurlah, ketika di Anyer, kemampuan berenangku mulai berkembang,  meski belum bisa mengalahkan Mama. Sejak itu motivasiku semakin kuat. Aku ingin tidak sekedar bisa berenang, tapi juga bisa berenang dengan teknik yang benar.<br />
<strong><br />
GRATIS (BELAJAR BERENANG) SETIAP SAAT!</strong></p>
<p>Kompleks rumahku memang dilengkapi fasilitas kolam renang, gratis. Kalau mau yang agak ekslusif, di kompleks sebelah juga terdapat <em>sport club </em>dengan kolam renang yang asik. Tapi tetap saja aku tidak bisa berenang setiap saat. Padahal tidak ada cara lain selain berlatih, berlatih dan berlatih!</p>
<p>Hingga aku menemukan salah satu cara hebat! Imajinasi.</p>
<p>Aku menemukan satu hal, belajar (tentang apapun itu) tidak cukup hanya sekedar teori. Selain praktek, kamu butuh kombinasi visualisasi dan imajinasi. Dan teknologi membuat prosesnya menjadi lebih mudah.</p>
<p>Aku memulai dengan membaca artikel-artikel tentang bagaimana cara berenang dengan sedikit panduan gambar. Merasa belum puas, aku  merambah situs penyedia video. Dengan kata kunci sederhana, semacam <em>&#8220;Breast stroke, free style swimming&#8221; </em>aku menemukan berderet dokumentasi berharga. Mulailah aku berkenalan dengan Jimmy D Shea, dan perenang handal lainnya. Satu langkah berharga yang membawaku menemukan situs-situs yang menyediakan pelajaran renang gratis, kapan saja.</p>
<p>Sejak itu, aku berenang di lantai, aku berenang di kursi, aku berenang di bed saat menjelang tidur sambil membayangkan kolam renang sebenarnya. Aku memvisualisasikan perenang-perenang yang kulihat, kubayangkan dirikulah perenang hebat itu. Aku lincah. Aku meloncat dan aku mengayuh kakiku dengan cepat, merentangkan lengan membuat kayuhan yang kuat. Aku meluncur hingga ketepian.</p>
<p>Begitu berulang-ulang. Saat ada kesempatan dan waktu senggang, aku memutar kembali video pelajaran berenang yang telah kuunduh ke laptopku. Kutonton berulang-ulang, berulang-ulang dan berulang-ulang. Bila tiba saatnya aku nyempulung di kolam beneran, rekaman itu kuputar di otakku, kupaksa agar seluruh anggota tubuhku mengikuti perintahnya. Tidak mudah memang, sering kali aku harus berbicara dengan air, &#8220;Hai Air, aku datang. Jangan galak-galak, aku tidak akan menyakitimu. Aku yakin kita akan menjadi sahabat baik. Tolong jangan buat aku tersedak, itu sangat sakit, kawan!&#8221;</p>
<p>Dan dengan bangga aku katakan, aku berhasil! Bukan sekedar berhasil berenang, tapi berhasil melampaui ketakutanku, berhasil melampaui kelemahan mentalku. Bila orang mengatakan, sulit belajar berenang bila sudah dewasa (di sport club langgananku, kebanyakan peserta les renang adalah anak-anak. Peserta dewasa hanya bisa mengambil kelas privat dengan bayaran yang cukup mahal) namun aku bisa membuktikan, meski memulainya di usia tiga puluh dan hanya belajar sendiri, aku bisa. Kalau aku bisa, kamu bisa! Percayalah.</p>
<p>Kini, enam bulan setelah berniat serius belajar berenang, kini aku sudah mahir gaya dada dan gaya bebas. Bahkan penjaga kolam renang memuji kemampuanku, &#8220;Mbak, sepertinya di komplek ini hanya mbak satu-satunya perempuan yang bisa berenang gaya bebas. Gaya bebas kan berat, capek.&#8221;</p>
<p>Kubiarkan sesaat hatiku membuncah oleh pujian itu, kuanggap itu sebagai penghargaan atas usaha dan kerja kerasku selama ini. Sisanya, aku tidak mau lengah. Kunaikkan level target pencapaianku. Selain bertekad untuk bisa berenang dengan gaya kupu-kupu, aku harus mampu berenang lebih jauh, lebih cepat, lebih efisien.</p>
<p>Aku bersyukur, aku merasa inilah salah satu titik balik dalam hidupku, yang kuharap bisa menjadi titik yang mempengaruhi masa depanku. Karena entah mengapa, semua terasa lebih terang dari sebelumnya. Kesuksesan menaklukkan sebuah tantangan membuat aku lebih percaya diri. Dari sana aku mulai berani menerima tantangan yang lain. Kutantang diriku tidak hanya berkecimpung di kolam yang dangkal, tidak hanya di arus yang pelan, dengan satu keyakinan aku bisa berenang. Kutantang diriku tidak hanya menjadi karyawan biasa, karena aku akan berenang menjadi karyawan yang bisa diandalkan. Kuntantang diriku tidak hanya sekedar menjadi penulis blog, karena aku akan berenang menjadi pengarang yang sebenarnya. Kutantang diriku tidak hanya menjadi penulis kisah tentang diriku sendiri, tapi menjadi penutur kisah orang lain. Kutantang diriku, menjadi lebih bermanfaat tidak hanya bagi diriku dan orang di sekitarku, tapi bagi lebih banyak orang.</p>
<p>@Sebening Embun, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/04/berenang-itu-menyakitkan-kawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merengkuh Hidup Yang Lebih Baik</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/02/24/merengkuh-hidup-yang-lebih-baik/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/02/24/merengkuh-hidup-yang-lebih-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 00:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6203</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen Casanova
Hari ini hari Minggu, di mana aku dan partnerku, seperti biasa di siang menjelang sore, melakukan kegiatan hari libur dengan membaca di ruang perpustakaan. Senang rasanya menikmati hidup—dengan duduk di tempat yang penuh tanaman hijau (yang ditanam partner), membaca artikel-artikel terbaru buah pikiran cemerlang para penulisnya, dan ditemani oleh partner cantik yang kucinta. Setelah ini, biasanya kami mandi, dandan, bersiap-siap untuk pergi ke gereja sore. Sesekali partnerku yang sedikit kompulsif mulai bersih-bersih rumah selagi menungguku yang memang lebih lama menghabiskan waktu untuk bersiap-siap. Setelah selesai, kami beranjak menuju ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6204" title="So_Still___by_pacificdreams" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/02/So_Still___by_pacificdreams-199x300.jpg" alt="So_Still___by_pacificdreams" width="199" height="300" />Oleh: Carmen Casanova</p>
<p>Hari ini hari Minggu, di mana aku dan partnerku, seperti biasa di siang menjelang sore, melakukan kegiatan hari libur dengan membaca di ruang perpustakaan. Senang rasanya menikmati hidup—dengan duduk di tempat yang penuh tanaman hijau (yang ditanam partner), membaca artikel-artikel terbaru buah pikiran cemerlang para penulisnya, dan ditemani oleh partner cantik yang kucinta. Setelah ini, biasanya kami mandi, dandan, bersiap-siap untuk pergi ke gereja sore. Sesekali partnerku yang sedikit kompulsif mulai bersih-bersih rumah selagi menungguku yang memang lebih lama menghabiskan waktu untuk bersiap-siap. Setelah selesai, kami beranjak menuju mobil yang akan disetiri partnerku sesuai pembagian giliran jadi sopir (satu hari aku yang jadi sopir, hari berikutnya dia, dan seterusnya). Mobil ini sudah selesai kami cicil berdua, dan hanya satu karena garasi kami cuma cukup satu mobil saja.Mungkin nanti baru dibuat lebih besar setelah tanah sebelah rumah sudah mau dijual, jadi bisa dibikinkan garasi baru.</p>
<p><span id="more-6203"></span>Sesampai di gereja, partnerku dengan santai memarkirnya di pelataran parkir. Belum banyak mobil berjubel di sana, karena kami sudah sampai dua puluh menit sebelum kebaktian dimulai. Partnerku memang disiplin, aku jadi ikut-ikutan dengan gaya hidupnya yang lebih teratur. Dulu sebelum kami hidup bersama, jadwalku sangat tidak karu-karuan. Kolegaku tidak ada yang menyebutku sebagai orang yang punya manajemen waktu yang baik. Namun sejak hidup bersama partnerku, aku diajari sedikit demi sedikit tentang pentingnya hidup disiplin. Dan betapa mudah hidup rasanya setelah menjalaninya dengan baik. Menghargai waktu sendiri bagiku sama artinya dengan menghargai waktu orang lain. Dengan begitu, tak heran hidup menjadi terasa enak dan tidak perlu bersitegang karena <em>grusa grusu</em> dan teguran dari orang lain. Kolegaku pun rasanya lebih menghargai diriku di kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Hari ini khotbah pendeta sangat inspiratif—tentang perempuan-perempuan yang bekerja dan hidup secara teratur. Singkat kata perempuan-perempuan tersebut di tengah kekurangan dan status sosial mereka di lingkungan abad sebelum masehi, mereka tidak minder dan tidak menyerah saja pada nasib. Mereka bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka juga memanfaatkan kesempatan dengan baik. Mereka juga hidup secara teratur, karena tahu bahwa untuk mencapai kualitas hidup yang baik di masyarakat, perlu dimulai dari diri sendiri.</p>
<p>Aku tersenyum karena ingat pembicaraanku dan partner kemarin malam. Kemarin kami tertawa setelah bernostalgia pada waktu bertahun-tahun yang lalu, pada saat kami berdua merasa frustasi karena tekanan lingkungan, frustrasi  pada ekspektansi keluarga, frustrasi  pada ketidakadilan, dan diskriminasi yang selalu menghantui hidup kami karena kami lesbian. Namun saat itu pula kami memutuskan untuk tidak bergantung pada nasib, namun mulai dari diri sendiri untuk terus maju dan berjuang.  Jika kami bekerja dengan keras, menjadi ahli di bidang yang dibutuhkan masyarakat, maka akhirnya toh lingkungan akan membutuhkan kita, dan menerima kita sebagai pekerja profesional (bukan semata-mata sebagai  perempuan lajang yang gagal untuk memenuhi ekspektansi menikah). Dan lama-kelamaan, mudah-mudahan, mereka melihat bahwa hidup kita sama seperti mereka—yang juga mengejar hidup yang berkualitas dan yang layak sebagai sesama yang juga patut dicintai, seperti jenis sesama lainnya.</p>
<p>Aku melirik partnerku. Sosoknya yang sekilas dingin dan kaku juga melirik ke arahku. Dia tersenyum, dan senyum itu langsung menghapus kedinginannya. Mungkin dia teringat masa-masa di mana ia mengalami kesulitan untuk keluar dari zona amannya di pekerjaannya dahulu. Pekerjaan yang membuatnya stagnan dan seperti <em>stuck</em>. Dia mungkin memang jenis orang-orang yang kaku dan sulit menerima perubahan. Aku berusaha mengajaknya berkompromi. Berkompromi dengan visi-misiku: seorang perempuan yang punya ambisi tinggi. Ambisiku adalah untuk membuat diri lebih maju. Aku percaya bahwa kunci untuk menjadi kuat adalah menjadikan diri lebih kuat—dengan lebih maju dari orang-orang lain, dengan mempunyai wawasan luas yang mana agak mustahil untuk didapatkan di tempat zona aman. Aku makin mencintai partnerku kala itu, karena kemudian ia meninggalkan zona amannya—yang aku tahu tidak mudah buatnya—menangkap kesempatan baru, dan membuka wawasannya dengan cara bersekolah lagi.</p>
<p>Kami ingat masa-masa itu, di mana kami berjuang keras, mungkin lebih keras dari orang-orang lain (mungkin juga tidak, hehe). Kami bekerja, dia sekolah juga. Darah keringat dan air mata rasanya semua dikucurkan. Semuanya dilakukan untuk mencapai hidup yang lebih baik.</p>
<p>Setelah dari gereja, hari sudah hampir menjelang malam. Kami lalu bergegas pergi ke rumah makan tempat kami berjanji berkumpul dengan teman-teman. Di sana, di rumah makan bergaya kolonial itu, sudah menanti satu pasangan lesbian juga yang melambaikan tangannya ke arah kami. Tak sampai lima menit, pasangan lainnya sudah datang. Kali ini teman gayku dengan partnernya datang dengan bajunya yang modis. Aku mengenalnya sejak masa kuliah, teman seperjuangan hingga tingkat akhir pendidikan tinggi. Senang sekali melihatnya, karena seingatku dulu laki-laki lembut ini selalu diejek teman-teman lain karena gayanya yang lebih feminin, namun akhirnya teman-teman yang mengejek sekarang terdiam melihat betapa suksesnya dia di lingkungan akademisi. Dan betapa baiknya ia melakukan kontribusi sosial pada lingkungan di luar pekerjaannya.</p>
<p>Di meja itu kami juga berbincang-bincang dengan satu orang gay, dan dua orang perempuan hetero lajang yang datang belakangan. Aku bersyukur mengenal teman-teman saya ini. Teman tempat aku mencurahkan segala pengalaman yang bersangkutan dengan dunia lesbian. Teman yang memberikan masukan tanpa muatan penghakiman. Aku melirik partnerku, yang tertawa mendengar lelucon teman-teman lain. Aku tahu dia bahagia sekali hari ini, sama seperti diriku.</p>
<p>Sesampainya rumah, jam sudah menunjukkan pukul 9. Sebelum bersiap-siap tidur, aku menelepon orangtuaku. Sudah malam, namun aku tahu mereka masih terbangun di rumahnya. Mendengar suara ibu dan ayahku, rasanya hatiku berdesir rindu. Senang mendengar kabarnya yang baik, dan ayah ibuku yang sehat dan masih terus bekerja. Mereka memang pekerja keras. Ayahku tampaknya sedang memulai membuat buku tentang pengalaman hidupnya yang menakjubkan dan ibuku yang tetap aktif di kegiatan-kegiatan sosial memberdayakan perempuan. Aku menggigit bibirku, menahan keinginanku untuk bercerita kepada mereka tentang partnerku. Kami memang belum <em>coming out</em>, walau sudah berpuluh tahun hidup bersama. Sesuatu yang berat, karena hubunganku dengan ayah ibuku sangatlah baik.</p>
<p>Di sisi lain, aku bersyukur karena mereka sehat dan terdengar bahagia, dan tetap mencintaiku walau aku tidak memenuhi beberapa ekspektansi mereka. Dan di sini, selagi aku menutup telepon, partnerku memegang tanganku erat dan melayangkan pandangan penuh cinta. Aku tahu aku berada di rumah yang kudambakan.  Aku bersyukur sejak kecil mempunyai keluarga yang baik, hubungan keluarga yang baik, mendapatkan partner yang setia, teman-teman yang baik, dan pekerjaan yang menyenangkan. Mungkin terkadang hidupku terdengar membosankan. Namun aku tidak pernah malu bahwa aku lesbian. Mengapa? Karena aku juga sama seperti orang-orang lain—yang mengejar hidup yang berkualitas.</p>
<p>@Carmen Casanova, SepociKopi, 2010</p>
<p><strong>Tentang Carmen Casanova:</strong><br />
Seorang akademisi muda yang lesbian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/02/24/merengkuh-hidup-yang-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerbangan Gila</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/02/17/penerbangan-gila/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/02/17/penerbangan-gila/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 15:58:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6133</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Deru pesawat udara mendesing. Tempat dudukku di tengah, antara seorang pria dan pria lain. Tampaknya mereka kompak diutus ke bumi untuk membungkam ketenanganku agar terbang tidak nyaman dalam perjalanan itu. Terus terang satu jam sudah aku kepikiran pengin bunuh diri karena bau mulut di makhluk sebelahku, apalagi menguapnya rutin! Mereka berdua dengan santainya merampas kebahagiaanku.
Cowok tanggung di sebelah, mengambil sandaran tangan, kayaknya sengaja dijadikan etalase, pamer jam Rolex yang entah asli entah palsu, membiarkan tanganku terkulai menyempit ke badan, seolah ada surat kabar yang harus kuselipkan di ketiak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-6134" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/02/poci5.jpg" alt="poci" width="114" height="170" />Oleh: Ade Rain</p>
<p>Deru pesawat udara mendesing. Tempat dudukku di tengah, antara seorang pria dan pria lain. Tampaknya mereka kompak diutus ke bumi untuk membungkam ketenanganku agar terbang tidak nyaman dalam perjalanan itu. Terus terang satu jam sudah aku kepikiran pengin bunuh diri karena bau mulut di makhluk sebelahku, apalagi menguapnya rutin! Mereka berdua dengan santainya merampas kebahagiaanku.</p>
<p>Cowok tanggung di sebelah, mengambil sandaran tangan, kayaknya sengaja dijadikan etalase, pamer jam Rolex yang entah asli entah palsu, membiarkan tanganku terkulai menyempit ke badan, seolah ada surat kabar yang harus kuselipkan di ketiak selama penerbangan. Coba tengok si lelaki di sisi satu lagi, duduk mengangkang seakan sedang mengganjal selangkangannya dengan koper besar berisi harta karun dan takut dicuri orang. Kaki kirinya mepet rapat ke kaki kananku. Semoga paha itu tumbuh jamur dan kena hama sehingga cepat sadar bahwa ia sedang menyengsarakan tetangganya. Bagaimana aku mau duduk nyaman? Kalau tangan harus lengket ke badan dan kaki-kakiku saling memeluk. Keram bow!</p>
<p><span id="more-6133"></span>Beginilah kalau dapat penerbangan penuh coba, duduk di tengah diapit dua manusia nggak normal. Aku lesbian normal lho, Om, nggak menyiksa orang-orang di sekelilingku. Percuma mau menggumam apa pun hati tetap nggak tenang. Kepala sakit, mau meledak akibat aura dan gas aneh dari dua mas-mas mafioso ini. Terang aja aku gelisah jangan sampai <em>mashed potato </em>yang kulahap di bandara tadi jadi tape kentang di pangkuan mereka. Aku sudah merancang strategi perang, muntahan pertama mau diserak di tangan pria ini. Muntahan kedua di paha si duduk <em>nyerong. </em>Muntahan ketiga baru pura-pura manis menghabiskannya di kantong muntah. Si cowok <em>ngangkang </em>sudah  melihat bahasa tubuhku yang gelisah, tapi dia juga nggak mau membagi sandaran tangan, dua pria ini memang tega! Hiks!</p>
<p>Pengumuman cuaca yang kurang baik alias gangguan turbulensi membuat hatiku melonjak kesenangan, seakan mendapat kabar menang undian dengan hadiah <em>jackpot </em>menjambak si mas sebelah kiri, dan mencakar si <em>ngangkang. </em>Si rakus cepat-cepat merapikan duduk, secepat kilat tangan kiriku merebut sandaran lengan. Wuuus! I&#8217;ve got it! I&#8217;ve got it! Fiuh.</p>
<p>Aku memang agak susah kalau sudah diperlakukan tidak adil, naluri membalas dengan tindakan setimpal sukar dibendung, aku mau membeli selotip dan merekatkan lenganku di sana, ketiakku akhirnya bernapas. Namun aku belum menemukan cara untuk menghilangkan aroma busuk itu.</p>
<p>Setidaknya aku bisa sedikit bernapas lega, tinggal si <em>ngangkang. </em>Benar saja… aku mual beneran gara-gara bau jigong busuk tadi, apa ya yang dia makan? Pikiranku berkelana. “Wuakkk!!!” Suara itu tentu saja sengaja kukeraskan. Sudah tahu dong kalau sasaranku paha lengket itu… yuhu, pahanya secepat kilat menepi dari pahaku. Muntahannya belum ada… beluuum, kantong muntah kupasang dicorong mukaku, eh… suaraku drama itu makin keras.  “WUAAAK!!!” Si bau mulut benar-benar menutup mulutnya. Syukurlah paling nggak aku bisa menarik napas agak dalam.</p>
<p>Mudah-mudahan adegan muntahku tidak menular. Biasakan kalau ada yang muntah satu yang jijik sepuluh orang akhirnya muntah semua. Aku minta izin dengan bahasa isyarat numpang lewat mau ke toilet.</p>
<p>Tak jauh dari toilet, ada kursi kosong di <em>aisle, </em>aku minta izin pramugari duduk di sana. Dua perempuan sibuk mengobrol. Setengah jam kemudian aku baru “ngeh”, maklum baru saja merasakan kebebasan menghirup udara yang lebih baik dan rasanya seperti napi yang baru saja merasakan detik-detik kebebasan. Aku lupa siapa sekelilingku. Dua manusia sejenis ini kok&#8230; itu di bawah majalah… otakku masih lemot.  Di bawah majalah tangan mereka bergenggaman. Jebret, radarku jalan. <em>Couple? Oh my God, </em>baru saja aku nyaman duduk di situ,  tiba-tiba dapat pemandangan seronok pula.</p>
<p>Senangnya bisa ketemu sesama, tapi kenapa badanku jadi bawel.  Jangan oh jangan sekarang deh, aku mau kenalan sama mereka. Tiba-tiba bau mulut mas-mas tadi mampir di hidung. Nggak boleh muntah di sini Mereka bisa ill feel. “Mbak boleh minta kantong  muntahnya?” suaraku memelas. Di depan kursiku nggak ada kantong muntah. Kutunjuk ke arah kantongan kursi mereka.</p>
<p>Andro eh ternyata andro itu, dia tersenyum memberikannya padaku, jantungku melorot tapi belum sempat kunikmati  rasa dag dig dug, lambung membesar, kerongkongan terasa penuh… aku berusaha bergegas ke toilet, masih dalam keadaan berdiri, kantong langsung kutaruh di depan mulut…<br />
WUAAAAK!!! Kali ini benar-benar muntah, bukan bohongan!</p>
<p><em>Byuuurrr, </em>semua <em>mashed potato, </em>pisang dan jus semangka yang kumakan di bandara keluar dari lambung menuju mulut. Kantongan tersebut penuh, yaks maaf.</p>
<p>Memalukan, seumur-umur belum  pernah aku muntah selama terbang. Biasanya hanya waktu sakit. Pakai mabok di depan pasangan lesbi lagi!  Benar saja… mereka sudah nggak bicara apa-apa, ceweknya bersandar di bahu mbak andro, barangkali mualku menular padanya. Mungkin juga diam mereka berharap pesawat cepat mendarat dan berdoa sepanjang masa aku nggak muntah lagi. Aku cengengesan sendiri.</p>
<p>Kukutuki si bau mulut tadi. Kudamprat mas-mas yang selangkangannya ada net badminton. Kumaki diriku yang nggak bisa duduk manis di  samping mereka. Akhirnya aku tertidur, pindah tempat, duduk nyaman di <em>business class, </em>badanku ditutupi selimut hangat sama pramugari, tapi kok dalam mimpi itu si pramugari-nya mirip-mirip andro tadi itu ya.</p>
<p>Dasar gendeng. Ketika bangun roda pesawatku gedubrakan menyentuh landasan mendarat dengan selamat. Untung aku nggak ileran, si pasangan lesbian sudah duduk lurus tegak, langit di luar cerah. Mereka berdua melihat ke arahku dengan gimanaaa gitu. Barangkali iba lihat muka pucatku. Di ruang kedatangan, kulihat senyum Sulung dengan seikat kembang menyambut dengan mata melotot ke arah &#8220;pasangan&#8221; tadi… aku tahu matanya mau memberitahuku. Nak… nak, basiii!</p>
<p>Bahkan aku bakalan dikenang sama mereka, Naaak. Ada mbak-mbak katro yang pakai muntah di pesawat terbang! Kami berjalan menuju mobil, sulung mendorong troli, ketika kuceritakan pengalaman burukku, ketawa kuntilanaknya melengking, banyak penjemput menoleh ke arah kami, ketawa itu bukan cuma tawa bahagia menyambut seorang ibu pulang, tapi lebih daripada itu. Sulung membukakan pintu mobil sambil mengusap-usap punggungku,<em> “Welcome home, my mombian.”</em></p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/02/17/penerbangan-gila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

