Home » Archive

Articles in the Puisi Category

Puisi, Seni Budaya »

[22 Mar 2010 | 2 Comments | 71 views]

Melankoli Semesta
Oleh: Abmi Handayani
bangun aku dari segala mimpi
kutemukan diri bersemayam di peluk-Mu
bersama milyaran zat, warna, dan hembus napas
yang terus ada meski satu telah gugur
menyambut surya dan gejolak hari
menanti abyad langit dan gemulai kelip bintang
aku bukan hanya setitik debu, ya Khalik
melainkan nyaris tak ada
seakan bayu meniupterbangkanku menjadi serpihan
menghelaku ke segala penjuru-Mu
tuk memburas dengan ratusan wajah;
berliter muram; berkilogram sukacita;
menenun kejadian demi kejadian bagai laba-laba dan sarangnya
sebelum Kau utuhkan aku kembali dalam lepas nyawa dari raga
tuk mendengar tutur ruhku tentang segalanya

Puisi, Seni Budaya »

[8 Mar 2010 | One Comment | 69 views]

Alufiru
Oleh: Zetha Septina Abdu
kita melewati masa kecil dengan amat lucu
tanpa lolipop, balon warna-warni
dan tak pernah tahu bagaimana cara membuat gelembung dari permen karet
usia mengumpul dalam ketukan langkah berirama tango
dan kita mengenangnya
sebagaimana bunyi harmonika
yang dimainkan dengan leher kaku
berusaha melarikan senja dengan suara seserak mungkin
karena pagi hari selalu saja datang lebih cepat
sementara mimpi-mimpi diburu dan ditombaki
pada sebuah akhir yang dipaksakan,
kita selalu menunggu gerimis menderas menjadi hujan
membiarkan curahnya memenuhi seluruh kekosongan
sebuah cara sederhana, kelak kita berharap ia punya nama:
tapi bukan cinta
Tentang Zetha Septina Abdu:
Tinggal di kota berhati nyaman, masih saja suntuk menyelesaikan skripsi …

Puisi, Seni Budaya »

[22 Feb 2010 | 12 Comments | 351 views]

Menunggumu (Bukan Lagunya Rhoma Irama)
Oleh: Nina Pasaribu
Nada- nada bertalu
Dalam untaian waktu
Masih kuingat gurih ciummu
Pada lidah nafsuku
Malam itu dingin merasuk sembilu
Hangatmu oh membungkus adaku
Satu
Demi satu
Biarkan waktu mengecup inginku

Puisi, Seni Budaya »

[8 Feb 2010 | 6 Comments | 156 views]

[Untitled]
Oleh: D Luminescence
Pergilah sejenak, mengalpa
Dan mencari tahu, jawaban beribu tanda tanya
Cobalah kau cium harum bunga
Agar sejenak jenuhmu terlupa
Karena sesungguhnya, jenuhku mengalpa

Puisi, Seni Budaya »

[25 Jan 2010 | 6 Comments | 1,267 views]

Ingin Ku Mendua
Oleh: Ip
Ingin ku mendua dengan yang muda
Tenang serasa berdua dengan si dia
Serasa awan memandang ku suka
Wahai yang muda, mari kita bercinta

Puisi, Seni Budaya »

[11 Jan 2010 | 6 Comments | 52 views]

[Untitled]
Oleh: Kenn Miroku
Aku…
Adalah perempuan yang tak pandai bercerita,
Aku…
Adalah perempuan yang sedih,
Aku…
Adalah perempuan dengan perasaan terkoyak dan takut,
Aku…
Adalah perempuan yang berjuang mengubur senyum dan tawanya,
Aku…
Adalah perempuan yang ingin melumat habis kelembutan dan kesabaran hati
selama ini.
Sebab aku bosan dan lelah untuk hidup.

Puisi, Seni Budaya »

[28 Dec 2009 | 6 Comments | 193 views]

Para Ibu
Oleh: Melinda Napitupulu
Seorang ibu bergumam
Kucoba wariskan senyumku
Di bibir anakku
Dan perahu kuparkirkan di pundaknya
Jika air bah memarah
Buah hatiku, lanjutkan hidup

Puisi »

[14 Dec 2009 | 7 Comments | 205 views]

Tepukan di Bahu dan Sebotol Bir Dingin untuk Seorang Kawan
Oleh: Bianca Timmerman
Patah hati dapat menonjolkan clavicula dan tulang rahang kita
Mata kita menyayu diterpa malam-malam berair-mata, asap rokok dan deru alkohol
Tiba-tiba kita jadi seksi dan siap berwisata di tengah lantai dansa
Tiba-tiba kacamata kuda kita lepas dan kilau senyum bidadari-bidadari di baliknya tampak pula
Bianglala berlampu kedap-kedip dan komidi putar berpita-renda, kawan
Mari berpesta!

Puisi, Seni Budaya »

[30 Nov 2009 | 7 Comments | 212 views]

Merry dan Kelamin Baru
Oleh: Zetha Septina Abdu
Merry terkepung malam di lampu merah
saat usia mengumpulkan kecemasan
aspal jalan raya serupa lantai dansa
membetoti bibir-bibir lelaki dan janggut kasar
untuk menghisap ngilu
pada silikon yang mengelupasi tubuhnya

Puisi, Seni Budaya »

[16 Nov 2009 | 12 Comments | 92 views]

Pilihan
Oleh: Nina R. Pasaribu
Perempuan separuh baya itu memasuki kantor kerjaku dengan yakin
Sendiri
Tunjukan apa yang harus dilakukan.
Anda tinggal memilih di ruang pamer.
Dia memilah
Memilih
Yang cokelat oak dengan ukiran bunga Lili.
Anda yakin?
Sebuah anggukan dalam
Mengapa Anda melakukan ini?
Agar tak ada yang perlu repot.
Bagaimana dengan suami Anda?
Istri saya meninggal setahun yang lalu, kanker payudara.
Oh.
Saya permisi dulu.
Dia meninggalkan perusahaan peti matiku;
tetap dengan langkah yakin