Articles in the Puisi Category
Puisi, Seni Budaya »
Kepada Alm. Gesang
Oleh: Dee_sakura
Lukamu berlumut, berjamur hingga kisut
Matamu menerawang ke angkasa, merindu dia
yang sedang
bercinta…
Lalu lukamu terburai,
bersama anai-anai yang berai
Kisahmu mengalun bersama irama,yang perlahan meniti tangga surga..
Cinta cukup satu katamu,
Hingga ajal menuntunmu
Bergerak terbang bersama malaikatmu..
Puisi, Seni Budaya »
Dua
Oleh: Nina Pasaribu
Perempuan itu mengenakan kembali pakaiannya satu demi satu.
Perempuan itu menoleh dan tersenyum.
Perempuan itu mengangkat wajahnya, membalas.
Perempuan itu berjalan mendekat.
Perempuan itu berjalan menjauh;
Aku harus pulang.
Aku mengerti; lalu perempuan itu memaksakan sebuah senyum
seterpaksa rasa mengertinya.
Puisi, Seni Budaya »
Titik Hujan Untuk Daun Pink
Oleh: Amort
Pohon cintamu tumbuh tinggi,
Daun-daunnya berwarna pink
Maka ijinkan aku memetik satu,
Yang paling pucat lagi layu
Dan sebagai gantinya, meski kau tak meminta
Biarkan doaku menjelma
Menjadi titik hujan yang meresap tanah
Puisi, Seni Budaya »
Janji Sepi
Oleh: Nuage
Di saat sepi
aku melihatmu
menjelma daun-daun lembut
yang membuai angin sepanjang jalanku
mereka berjanji
tidak akan ada yang berubah
daun akan menguning dan jatuh
setiap tahun musim berganti
Puisi, Seni Budaya »
When My Soul Is Empty
by: Yaaku
I’ll let the wind blow me up
I’ll let the wave bring me to the cruel ocean
I’d like your claws to tear me into pieces
I’d love the fire to burn me down
When the devils whisper in me
I don’t care the angels cry
Never mind that fairy mercy and I’ll take no attention to the cupid’s smile
It’s just when my soul is empty
Puisi, Seni Budaya »
A-B-Che-De
Oleh: Talitha Anaya
Mbok, aku ingin pintar membaca
De-Che-Be-A
Nanti ya, Nduk. Kalau Bapak pulang,
kamu belajar membaca.
A-Be-Che-De
Pak, si Genduk pengen bisa mbaca
De-Che-B-A
Bu Ne, mau mbaca gimana, Genduk kan buta.
Gusti, nyuwun pangapuramu.
@Talitha Anaya, SepociKopi,2010
Tentang Talitha Anaya:
Karyawati yang hobi mencangkung, tinggal di Jakarta, 25 tahun.
Puisi, Seni Budaya »
9128
Oleh: Akapela Violinist
Kami datang ke ruang 9128 dengan satu tujuan
Demi kehidupan tenteram di masa depan
Atau demi menggapai tingginya bilangan
Kamu datang ke ruang 9128 dengan satu tujuan
Dengan serantang besar bekal yang hendak dibagikan
Bekal yang selalu menghangat dalam setiap pertemuan
Puisi, Seni Budaya »
Bulan Cokelat
Oleh: Bianca Timmerman
Lonte kecil lonte cokelat
Namamu artinya bulan. Apa wulan apa chandra
Napasmu dulu bau tahi burung camar kini wangi vodka
Kriwil-kriwil kena besi panas, tadinya rambutmu bebas berkibar angin
Bibirmu kasar sabut kelapa sekarang lembut rasa stroberi
Punggung dadamu tak terbalut kain
Kaku lidah itu bilang “blush on”
Kejang telunjuk dan jari tengahmu mengempit rokok
Memanjat naik naik naik
bersama dengan mereka yang selendangnya juga tipis-tipis
batang pinang yang ujungnya tergantung uang dan mata masyarakat
Puisi, Seni Budaya »
Adagio
Oleh: Morning Dew
Adagio yang mengalun pelan… mengalir
Mengguncang indra-indra
Menghasilkan kolam terdalam pada mataku
Adagio yang mengiris kalbu
Kala sakit tidak lagi teringat
Namun jejak luka terajah jelas…
di depan mata… setiap saat…
Membuatku merasakan kembali
Sebuah pilu terdalam… telah menahun
Puisi, Seni Budaya »
PENGUMUMAN!
Setelah tantangan TIDAK menulis puisi cinta, ternyata belum ada puisi bertema non-cinta yang bisa dimuat minggu ini.
Segeralah berpikir hal lain KECUALI cinta, jadikan ia puisi, lalu kirimkan kepada kami.
Karena kami masih percaya, lesbian bukan hanya zombie cinta.
Terima kasih.
Salam,
Redaktur Puisi SepociKopi





