<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Puisi</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/budaya/puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Puisi: Perayaan Sajak-sajak Cinta</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/06/puisi-perayaan-puisi-cinta/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/06/puisi-perayaan-puisi-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 09:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17891</guid>
		<description><![CDATA[Di bulan Februari, SepociKopi akan menampilkan deretan sajak cinta karya penyair terkenal manca negara. Untuk menghormati hari Senin sebagai hari seni, budaya, dan berita di situs SepociKopi, maka khusus di bulan istimewa ini, setiap hari Senin kita merayakan selebrasi cinta. Dengan kata-kata, roh, dan semangat yang dikandung oleh sepotong sajak, ia dapat setia menjaga dan menghidupkan api kemanusiaan. Hidup dalam sajak, berarti  ikut sejiwa dengan kata.
Selamat menikmati!
***
Tak Pernah Kau Kucinta Sedalam Itu
Oleh: Bertolt Brecht
Tak pernah kucinta kau sedalam itu, adikku,
Seperti di malam aku meninggalkanmu,
Hutan dalam pun menelanku, hutan yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/cute11.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17893" title="cute11" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/cute11-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" /></a>Di bulan Februari, SepociKopi akan menampilkan deretan sajak cinta karya penyair terkenal manca negara. Untuk menghormati hari Senin sebagai hari seni, budaya, dan berita di situs SepociKopi, maka khusus di bulan istimewa ini, setiap hari Senin kita merayakan selebrasi cinta. Dengan kata-kata, roh, dan semangat yang dikandung oleh sepotong sajak, ia dapat setia menjaga dan menghidupkan api kemanusiaan. Hidup dalam sajak, berarti  ikut sejiwa dengan kata.</p>
<p>Selamat menikmati!</p>
<p><span id="more-17891"></span>***</p>
<p><strong>Tak Pernah Kau Kucinta Sedalam Itu</strong><br />
Oleh: Bertolt Brecht</p>
<p>Tak pernah kucinta kau sedalam itu, adikku,<br />
Seperti di malam aku meninggalkanmu,<br />
Hutan dalam pun menelanku, hutan yang biru, adikku,<br />
Dan bintang memutih di barat itu</p>
<p>Tak sedikit pun aku tertawa, adikku, tak sedikitpun<br />
Di jalan iseng ke kelam nasibku<br />
Sementara wajah-wajah di belakang itu<br />
Berangsur memucat di hutan biru</p>
<p>Semua hal mengasyikkan di malam itu, adikku<br />
Tak pernah sebelum dan sesudah itu –<br />
Kuakui: hanya burung besar menemaniku,<br />
Dengan pekik lapar di gelap itu</p>
<p>(Judul asli:<em> Ich Habe Dich Nie Je So Geliebt/I Never Loved You More</em>)</p>
<p>***</p>
<p><strong>Bulan</strong><br />
Oleh: Joko Pinurbo</p>
<p>Bulan yang kedinginan<br />
berbisik padamu:<br />
“Bolehkah aku mandi sesaat saja<br />
di hangat matamu?”</p>
<p>Malam sepenuhnya milikmu<br />
ketika bulan tercebur<br />
ke dingin matamu.</p>
<p>Bulan itu bulatan hatimu,<br />
bertengger di dahan waktu.</p>
<p>(2010)</p>
<p>***</p>
<p><strong>Sebentar</strong><br />
Oleh: Joko Pinurbo</p>
<p>Sebentar lagi aku akan sampai di rambutmu,<br />
seperti embun hinggap di pucuk perdu.</p>
<p>Dua bentar lagi aku akan sampai di matamu.<br />
Semoga semakin nikmat perihmu.</p>
<p>&#8220;Siapakah kamu yang rela berlinang di mataku?&#8221;<br />
&#8220;Aku sebutir doa yang berasal dari tetes keringatmu.&#8221;</p>
<p>Tiga bentar lagi aku akan sampai di bibirmu.<br />
Lenyapkan aku, habiskan aku dalam hausmu.</p>
<p>***</p>
<p>@SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/06/puisi-perayaan-puisi-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi: Takut</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/30/puisi-takut/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/30/puisi-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 14:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17760</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dhea
Hujan dan kesendirian
Keduanya bahan baku
Yang mampu membangun ketakutanku
Dalam hitungan detik

Kegelapan menjadi atap
Menambah penderitaanku
Tiap detiknya begitu menyiksa
Matahari tak ingin membantuku
Untuk tinggal lebih lama
Tugasnya tlah selesai
Berganti bulan
@Dhea, SepociKopi, 2012
Tentang Dhea:
Harap kirimkan data diri kepada redaksi.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raining-girl.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17761" title="raining girl" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raining-girl-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Oleh: Dhea</p>
<p>Hujan dan kesendirian<br />
Keduanya bahan baku<br />
Yang mampu membangun ketakutanku<br />
Dalam hitungan detik</p>
<p><span id="more-17760"></span></p>
<p>Kegelapan menjadi atap<br />
Menambah penderitaanku<br />
Tiap detiknya begitu menyiksa</p>
<p>Matahari tak ingin membantuku<br />
Untuk tinggal lebih lama<br />
Tugasnya tlah selesai<br />
Berganti bulan</p>
<p>@Dhea, SepociKopi, 2012</p>
<p><strong>Tentang Dhea:</strong><br />
Harap kirimkan data diri kepada redaksi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/30/puisi-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi: Kangen Reda; Pergi, Bertumbuhlah</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/12/puisi-kangen-reda-pergi-bertumbuhlah/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/12/puisi-kangen-reda-pergi-bertumbuhlah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 08:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16670</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nitz dluminescence
Kangen Reda
Kangen
pecah
nyeri di dada.
Reda
di cangkir
bibir kita.
***

Pergi, Bertumbuhlah
Ketika perlahan-lahan,
Satu demi satu jejakmu mulai tiada
aku tahu tak mungkin menahan,
sesuatu yang tak ada di sini,
pergilah bersama angin…
Mengembaralah,
dan semoga kebahagiaan adalah inti dari semua ini.
Maka aku tak berhak menahan apa pun.
Dan semoga ada saat-saat di mana kamu mengenang hujan turun dan gelak tawa basah.
Bahkan yang indah sekali pun, harus berani kita lepaskan, bukan?
Pergi dan bertumbuhlah…
@Nitz dluminescence, SepociKopi, 2011
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/kissingkiss.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16671" title="kissingkiss" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/kissingkiss-276x300.jpg" alt="" width="276" height="300" /></a>Oleh: Nitz dluminescence</p>
<p><strong>Kangen Reda</strong></p>
<p>Kangen</p>
<p>pecah</p>
<p>nyeri di dada.</p>
<p>Reda</p>
<p>di cangkir</p>
<p>bibir kita.</p>
<p>***</p>
<p><span id="more-16670"></span></p>
<p><strong>Pergi, Bertumbuhlah</strong></p>
<p>Ketika perlahan-lahan,<br />
Satu demi satu jejakmu mulai tiada<br />
aku tahu tak mungkin menahan,<br />
sesuatu yang tak ada di sini,<br />
pergilah bersama angin…<br />
Mengembaralah,<br />
dan semoga kebahagiaan adalah inti dari semua ini.<br />
Maka aku tak berhak menahan apa pun.<br />
Dan semoga ada saat-saat di mana kamu mengenang hujan turun dan gelak tawa basah.<br />
Bahkan yang indah sekali pun, harus berani kita lepaskan, bukan?</p>
<p>Pergi dan bertumbuhlah…</p>
<p>@Nitz dluminescence, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/12/puisi-kangen-reda-pergi-bertumbuhlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi: Cinta Adalah</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/28/puisi-cinta-adalah/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/28/puisi-cinta-adalah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 05:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16356</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tinker Bell
Cinta adalah pejam mata, dirimu yang larut dalam kenangan.
Cinta adalah aroma hujan yang meleleh di puisiku.
Cinta adalah punggungmu yang menjauh dan aku yang masih menyimpan gigil nyeri.
Cinta adalah cium yang berulang-ulang datang, menampakkan dirinya
Cinta adalah rumah cahaya di ujung hatimu yang membawa diriku.
Cinta adalah kesunyian dan kamu mengisinya penuh-penuh.
Cinta adalah kegelapan yang mencari bara, surga yang menangisi kehilangan.
 Cinta adalah luka yang mengenali rindu di balik ciuman-ciumanmu.
Cinta adalah ranjang kita yang tak bisa memisahkan diri dari harum rambutmu.
Cinta adalah kesadaran bahwa aku adalah manusia fana dan kamu adalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/cute-fingers-hands-heart-love-romantic-Favim.com-64482_large.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16357" title="cute-fingers-hands-heart-love-romantic-Favim.com-64482_large" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/cute-fingers-hands-heart-love-romantic-Favim.com-64482_large-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Oleh: Tinker Bell</p>
<p>Cinta adalah pejam mata, dirimu yang larut dalam kenangan.<br />
Cinta adalah aroma hujan yang meleleh di puisiku.<br />
Cinta adalah punggungmu yang menjauh dan aku yang masih menyimpan gigil nyeri.<br />
Cinta adalah cium yang berulang-ulang datang, menampakkan dirinya<br />
Cinta adalah rumah cahaya di ujung hatimu yang membawa diriku.<br />
Cinta adalah kesunyian dan kamu mengisinya penuh-penuh.<br />
Cinta adalah kegelapan yang mencari bara, surga yang menangisi kehilangan.<br />
<span id="more-16356"></span> Cinta adalah luka yang mengenali rindu di balik ciuman-ciumanmu.<br />
Cinta adalah ranjang kita yang tak bisa memisahkan diri dari harum rambutmu.<br />
Cinta adalah kesadaran bahwa aku adalah manusia fana dan kamu adalah sayap di pundakku.<br />
Cinta adalah si penyusup nakal dalam debar jantungku.<br />
Cinta adalah kata-kata putih yang bertamasya di sekujur tubuhmu.<br />
Cinta adalah mawar, hujan, pelangi, pohon, angin, kuncup yang menakar kehadirannya, yang sulit kupahami.</p>
<p>@Tinker Bell, SepociKopi 2011</p>
<p><strong>Tentang Tinker Bell:</strong><br />
Salah satu tim admin Twitter yang selalu menggalau di TL @sepocikopi</p>
<p>*Puisi diambil dari Twitter @sepocikopi. Silakan menulis puisi cinta sebanyak-banyaknya di Twitter @sepocikopi agar bisa  di-<em>Retweet </em>oleh kami. Apabila lolos kuratorisasi Redaktur Seni Budaya, puisi yang di-<em>Retweet </em>akan dipublikasikan di kolom Puisi. (-Red)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/28/puisi-cinta-adalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi: Day 32</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/14/puisi-day-32/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/14/puisi-day-32/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 08:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16030</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Jo Siswandhi
untuk ayahku, si pendiam.
si canggung, si botanis, si tukang obat.
si acuh, si kaus putih, si bungsu.
hei pa,
apa kabar?
kapan terakhir kita bicara?
hari ini saya baru buka surat dari papa.
surat yang saya sudah simpan selama setahun lebih.
terakhir kali surat ini ada di saku celana,
yang kemudian masuk ke ransel,
dan diteruskan ke selipan buku,
dan bukunya di dalam koper.
setahun lalu, di terminal keberangkatan yang bersebelahan dengan landasan pacu.
hari terus berjalan ya pa.
seperti yang pernah kau bilang, tidak bisa diulang mundur.
dan kesalahan semakin bertumpuk,
dan saya masih hidup dalam dosa.
tahun berganti tahun, kami makin dewasa,
papa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/fishing.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16035" title="fishing" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/fishing-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" /></a>Oleh: Jo Siswandhi</p>
<p>untuk ayahku, si pendiam.<br />
si canggung, si botanis, si tukang obat.<br />
si acuh, si kaus putih, si bungsu.</p>
<p>hei pa,<br />
apa kabar?<br />
kapan terakhir kita bicara?</p>
<p><span id="more-16030"></span>hari ini saya baru buka surat dari papa.<br />
surat yang saya sudah simpan selama setahun lebih.<br />
terakhir kali surat ini ada di saku celana,<br />
yang kemudian masuk ke ransel,<br />
dan diteruskan ke selipan buku,<br />
dan bukunya di dalam koper.<br />
setahun lalu, di terminal keberangkatan yang bersebelahan dengan landasan pacu.</p>
<p>hari terus berjalan ya pa.<br />
seperti yang pernah kau bilang, tidak bisa diulang mundur.<br />
dan kesalahan semakin bertumpuk,<br />
dan saya masih hidup dalam dosa.</p>
<p>tahun berganti tahun, kami makin dewasa,<br />
papa masih menyebut saya si sulung yang acuh.<br />
mungkin kami belum makin dewasa pa, kami cuma tambah tua.<br />
melapuk, dan meranggas.<br />
diganti musim, diganti daun,<br />
tapi akarnya, tidak berubah.<br />
yang kami serap semakin dalam, adalah ingatan akan apa yang sudah kami lewati selama ini.</p>
<p>dulu, saya selalu mengamati papa di belakang pintu,<br />
sambil memainkan truk modifikasi dari kardus rokok dan karet penghapus.<br />
saya melihat papa sendirian, berkacamata plus, memegang gunting kecil,<br />
merapikan dahan-dahan bonsai,<br />
mengikat akar-akarnya, menyemprot sedikit di sana sini.<br />
lima belas tahun sudah berjalan sejak hari itu.</p>
<p>papa selalu bilang,<br />
orang makin tua, bukan makin muda.<br />
harus lebih hati-hati melangkah,<br />
lebih tahu prioritas, lebih luas memandang sekeliling.<br />
karena nantinya yang tersisa cuma cerita.<br />
cerita waktu kita muda, cerita yang akan berulang-ulang disampaikan dengan pilihan,<br />
kebanggaan, atau rasa malu.</p>
<p>kamu, sulung,<br />
gantinya papa nanti kalau papa sudah tidak ada lagi,<br />
sampai disana, biasanya saya akan berhenti mendengarkan,<br />
dan mulai merekap ulang apa yang pernah saya lihat, jauh kebelakang.<br />
saat itu, hati saya, masih batu.</p>
<p>sekarang pa,<br />
semuanya tidak penting lagi.<br />
semua yang saya lihat, sudah jadi sejarah yang ingin saya lepas.</p>
<p>saya melihat papa berubah, tahun demi tahun.<br />
memberi saya contoh, bahwa prioritas adalah istri dan anak.<br />
di atas semuanya, melawan roda dunia, menebas badai,<br />
hanya untuk orang yang kita sayang.<br />
untuk itu saya beryukur.</p>
<p>apa yang saya ingin katakan adalah apa yang jarang papa dengar selama ini,<br />
entah dari mulut saya, atau dari tindakan saya,<br />
atau dari frekuensi saya menelpon ke rumah, dan kita bicara.<br />
saya sayang papa.<br />
dan tidak ada sejarah, atau buku diktat lain yang bisa menyangkal bahwa kita punya penyakit turunan.<br />
sulit bicara dan pelupa.</p>
<p>:cari orang yang baik, sayangi baik-baik, jaga baik-baik, habiskan lebih banyak waktu ke sana, jangan cuma tahunya kerja dan cari uang. kalau punya talenta dikembangkan, jangan dilupakan, dan jangan lupa pulang.</p>
<p>dulu saya pikir talenta saya menggambar,<br />
rupanya talenta saya mengacau.</p>
<p>pa, ibarat catur, ster nya sudah dimakan lawan.<br />
saya cuma punya beberapa pion, dan jalan masih panjang.</p>
<p>jadi pa,<br />
untuk semua yang terjadi,<br />
yang kau ketahui dan tidak ketahui,<br />
saya, sulung yang canggung ini,<br />
meminta maaf dan menyatakan rindu.<br />
ingin bertemu.</p>
<p>@Jo Siswandhi, SepociKopi, 2011</p>
<p><strong>Tentang Jo Siswandhi:</strong><br />
harap kirim biodata Anda ke redaksi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/14/puisi-day-32/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi: Jingga</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/31/puisi-jingga/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/31/puisi-jingga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 09:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15696</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lipz
Rayumu tak lagi lirih kudengar dari bilik tarian kaleng bekas di tumpukan sampah itu lagi
kudapati raut tua nan lusuh bergelayut manja menembus dinding wajah kebodohanmu yang sempurna
jingga
begitu mengerikan kau sekarang ini
seperti kuntilanak untuk kedua kalinya mati di lembah lembah sunyi yang dingin
genggamanmu yang dulu seperti kelembutan surgawi pun tak lagi seperti elegi yang mengharu biru bagi kehormatanku
seperti kala aku sering menidurimu di malam malam gelap penuh setan keluyuran yang tak kunjung usai
atau acapkali kucumbui bibirmu yang penuh racun namun tak pernah mematikan buatku
terlintas kau selimuti bayi bayi kecil yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/butterfly_tree.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15698" title="butterfly_tree" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/butterfly_tree-300x243.jpg" alt="" width="300" height="243" /></a>Oleh: Lipz</p>
<p>Rayumu tak lagi lirih kudengar dari bilik tarian kaleng bekas di tumpukan sampah itu lagi<br />
kudapati raut tua nan lusuh bergelayut manja menembus dinding wajah kebodohanmu yang sempurna</p>
<p><span id="more-15696"></span>jingga<br />
begitu mengerikan kau sekarang ini<br />
seperti kuntilanak untuk kedua kalinya mati di lembah lembah sunyi yang dingin<br />
genggamanmu yang dulu seperti kelembutan surgawi pun tak lagi seperti elegi yang mengharu biru bagi kehormatanku<br />
seperti kala aku sering menidurimu di malam malam gelap penuh setan keluyuran yang tak kunjung usai<br />
atau acapkali kucumbui bibirmu yang penuh racun namun tak pernah mematikan buatku<br />
terlintas kau selimuti bayi bayi kecil yang mati lapar<br />
tapi dasar kau wanita jalang<br />
kau tendang mahluk tak berdosa itu ke danau</p>
<p>jingga<br />
hati telinga matamu sudah membatu mungkin</p>
<p>tak cukupkah bagimu<br />
selalu meninggalkan hati untuk dicacimaki seperti ini<br />
hati yang terobek robek ini<br />
bahkan sampai langit runtuh kau masih teriakan amarahmu padaku</p>
<p>setan kau ini!</p>
<p>Jingga<br />
sadarlah<br />
hati kita hancur<br />
terinjak injak ribuan kaki palsu yang tak satup un kuketahui jejaknya<br />
dan sisanya dijilati lalat-lalat hijau menjijikan tak tersisa</p>
<p>terbanglah kau jingga<br />
aku tetap di sini jadi sesuatu<br />
&#8220;hitam pekat&#8221; bagi siapa pun</p>
<p>@Lipz, SepociKopi, 2011</p>
<p><strong>Tentang Lipz:</strong><br />
silakan kirim biodata ke redaksi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/31/puisi-jingga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi: Gadis Kecilku</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/03/puisi-gadis-kecilku/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/03/puisi-gadis-kecilku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 03:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Say It Oud Loud]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15086</guid>
		<description><![CDATA[Gadis Kecilku
Oleh: Anak Peri
Mengajak membina hubungan
Menawarkan kedua putingnya
Seperti nyawa dari bayi baru lahir
Tetingkahnya lucu dan manis
Ia kekasihku
21-08-2011
Tentang Anak Peri:
Tinggal di Yogyakarta sebagai mahasiswi. Aktif di yayasan CaWan Indonesia.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/sleeping.jpg"><img class="size-medium wp-image-15088 alignleft" title="sleeping" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/sleeping-300x225.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a>Gadis Kecilku</strong><br />
Oleh: Anak Peri</p>
<p>Mengajak membina hubungan<br />
Menawarkan kedua putingnya<br />
Seperti nyawa dari bayi baru lahir<br />
Tetingkahnya lucu dan manis<br />
Ia kekasihku</p>
<p><span id="more-15086"></span>21-08-2011</p>
<p><strong>Tentang Anak Peri:</strong><br />
Tinggal di Yogyakarta sebagai mahasiswi. Aktif di yayasan CaWan Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/03/puisi-gadis-kecilku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi: Hawa</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/19/puisi-hawa/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/19/puisi-hawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 04:54:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14815</guid>
		<description><![CDATA[
Hawa
Oleh: Be
Aku merindui malammu,
tapi kini dalam mimpimu, aku tidak bernyawa.
Bisa saja mimpi kita hening,
atau bibir kita saling mendengki,
atau tangan kita yang berdusta,
tapi kita takkan dikhianati oleh mata, karena
hanya padamu, tatapan ini menyampaikan rindunya.
Aku merindui malammu,
telah kuselipkan mimpi apiku padanya,
agar tak ada sepi yang membuatmu menggigil.
Impianku adalah Adam yang mengabadikan nama Hawa.
Namun aku bukan Adam.
Tentang Be:
32 tahun. Geologis tinggal Bandung.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/adam_and_eve_by_Tokashi_Kimiko.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14817" title="adam_and_eve_by_Tokashi_Kimiko" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/adam_and_eve_by_Tokashi_Kimiko-300x292.jpg" alt="" width="216" height="211" /></a></p>
<p>Hawa<br />
Oleh: Be</p>
<p>Aku merindui malammu,<br />
tapi kini dalam mimpimu, aku tidak bernyawa.<br />
Bisa saja mimpi kita hening,<br />
atau bibir kita saling mendengki,<br />
atau tangan kita yang berdusta,<br />
tapi kita takkan dikhianati oleh mata, karena<br />
hanya padamu, tatapan ini menyampaikan rindunya.</p>
<p><span id="more-14815"></span>Aku merindui malammu,<br />
telah kuselipkan mimpi apiku padanya,<br />
agar tak ada sepi yang membuatmu menggigil.<br />
Impianku adalah Adam yang mengabadikan nama Hawa.<br />
Namun aku bukan Adam.</p>
<p><strong>Tentang Be:</strong><br />
32 tahun. Geologis tinggal Bandung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/19/puisi-hawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi: Sang Rajawali</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/08/22/puisi-sang-rajawali/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/08/22/puisi-sang-rajawali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 14:43:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14394</guid>
		<description><![CDATA[SANG RAJAWALI
Oleh: Cogansie
sayap kokoh
mengembang perkasa
melaju anggun
dalam buaian angin
tak gentar
walau badai menerpa
bentangkan sayap
pancarkan kharisma
mata tajam mengintai
menukik laksana lesatan peluru
mencengkeram erat
menggapai hasrat

pekikan rajawali menggelegar
penuhi langit
tunjukkan eksistensi
menyongsong sang surya
@Cogansie, SepociKopi, 2011
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/eagle.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/eagle.jpg" alt="" title="eagle" width="200" height="150" class="alignleft size-full wp-image-14397" /></a>SANG RAJAWALI<br />
Oleh: Cogansie</p>
<p>sayap kokoh<br />
mengembang perkasa<br />
melaju anggun<br />
dalam buaian angin</p>
<p>tak gentar<br />
walau badai menerpa<br />
bentangkan sayap<br />
pancarkan kharisma</p>
<p>mata tajam mengintai<br />
menukik laksana lesatan peluru<br />
mencengkeram erat<br />
menggapai hasrat<br />
<span id="more-14394"></span><br />
pekikan rajawali menggelegar<br />
penuhi langit<br />
tunjukkan eksistensi<br />
menyongsong sang surya</p>
<p>@Cogansie, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/08/22/puisi-sang-rajawali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi: For the Goddess Too Well Know</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/08/08/puisi-for-the-goddess-too-well-know/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/08/08/puisi-for-the-goddess-too-well-know/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 07:20:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14211</guid>
		<description><![CDATA[For the Goddess Too Well Known
Oleh: Elsa Gidlow
I have robbed the garrulous streets,
Thieved a fair girl from their blight,
I have stolen her for a sacrifice
That I shall make to this night.
I have brought her, laughing,
To my quietly dreaming garden.
For what will be done there
I ask no man pardon.
I brush the rouge from her cheeks,
Clean the black kohl from the rims
Of her eyes; loose her hair;
Uncover the glimmering, shy limbs.
I break wild roses, scatter them over her.
The thorns between us sting like love&#8217;s pain.
Her flesh, bitter and salt to my tongue,
I ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Light-Goddess-jpg.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14212" title="Light-Goddess-jpg" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Light-Goddess-jpg-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>For the Goddess Too Well Known</strong><br />
Oleh: Elsa Gidlow</p>
<p>I have robbed the garrulous streets,<br />
Thieved a fair girl from their blight,<br />
I have stolen her for a sacrifice<br />
That I shall make to this night.<br />
I have brought her, laughing,<br />
To my quietly dreaming garden.<br />
For what will be done there<br />
I ask no man pardon.<br />
I brush the rouge from her cheeks,<br />
Clean the black kohl from the rims<br />
Of her eyes; loose her hair;<br />
<span id="more-14211"></span>Uncover the glimmering, shy limbs.<br />
I break wild roses, scatter them over her.<br />
The thorns between us sting like love&#8217;s pain.<br />
Her flesh, bitter and salt to my tongue,<br />
I taste with endless kisses and taste again.<br />
At dawn I leave her<br />
Asleep in my wakening garden.<br />
(For what was done there<br />
I ask no man pardon.)</p>
<p><strong>Tentang Elsa Gidlow:</strong><br />
Penyair yang menjadi mentor dari gerakan feminisme lesbian berasal dari Inggris, bermigrasi ke Kanada ketika masih kecil. Menerbitkan <em>On A Grey Thread</em> di New York City tahun 1921, buku puisi lesbian pertama yang diterbitkan di Amerika. Menjadi jurnalis dan tahun 1986, Elsa menerbitkan buku autobiografi berjudul <em>Elsa: I Come with My Songs. </em>Buku biografi dan dirinya menjadi literaratur dan tokoh dari <em>The Gay And Lesbian Historical Society of Northern California</em>. Setelah menulis banyak buku, puisi, dan esai, Elsa meninggal dunia tahun 1986.</p>
<p>@SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/08/08/puisi-for-the-goddess-too-well-know/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

