Articles in the Buku Category
Buku, Seni Budaya »
Oleh: Lakhsmi
Apa yang dimaksud dengan fiksi lesbian dan bukan fiksi lesbian atau fiksi heteroseksual?
Pembaca khususnya peneliti akademis berpijak pada berbagai jenis pendekatan yang mendefinisikan ruangan luas bernama kritik sastra. Hasilnya memang selalu penuh ambiguitas. Masih terjadi kesulitan menciptakan definisi jelas antara fiksi lesbian maupun bukan fiksi lesbian. Mengapa?
Sebab penelitian mendalam dari para akademisi terus-menerus dilanjutkan dalam mengkaji bacaan yang “bersifat heteronormatif tapi memiliki kode dan sandi lesbian” (kerap dikenal dengan kata subtext). Subtext menjadikan garis pembatas antara fiksi lesbian dan bukan fiksi lesbian berada di area samar-samar. Masih …
Buku, Seni Budaya »
Oleh: Lakhsmi
Seratus tahun sudah buku Anne of Green Gables diterbitkan dan dibaca oleh puluhan juta pencintanya. Buku itu ditulis oleh Lucy M. Montgomery (1874-1942), penulis Kanada yang telah menghasilkan banyak novel, cerita pendek, serta puisi, dan diterbitkan pada tahun 1908. Mulanya buku tersebut ditujukan untuk para pembaca dewasa, tapi belakangan, seri Anne of Green Gables dimasukkan ke dalam genre prosa kanak-kanak. Sejak terbit sampai dengan perayaan seratus tahun Anne of Green Gables, buku itu telah terjual lebih dari lima puluh juta kopi, mengalahkan buku-buku klasik lainnya seperti To Kill a …
Buku, Seni Budaya »
Oleh: Lakhsmi
Siapa yang tidak kenal Famous Five? Dialihbahasakan sebagai Lima Sekawan dalam bahasa Indonesia, Famous Five ditulis oleh Enid Mary Blyton (11 Agustus 1897 – 28 November 1968) – seorang penulis buku cerita anak kebangsaan Inggris yang sangat populer dan telah menulis lebih dari 700 karya (novel, cerpen, puisi, skenario) selama 45 tahun karir kepenulisannya. Karya-karyanya diterjemahkan ke-90 bahasa dunia. Beliau menulis cerita anak berdasarkan berbagai macam karakter yang dapat dinikmati oleh kanak-kanak dari bermacam umur. Enid termasuk dalam enam penulis yang karyanya diterjemahkan paling banyak. Berdasarkan data Index …
Buku, Seni Budaya »
Oleh: Lakhsmi
“…bukan itu saja,” Yuichi melanjutkan tanpa mampu menahan geli, “dia itu laki-laki.” (hal. 16)
Beginilah nyaris pada awal cerita pembaca telah diperkenalkan dengan sosok Eriko, ibunda Yuichi yang kontroversial. Sebab dia sebenarnya adalah ayah kandung Yuichi yang melakukan operasi plastik. Eriko adalah perempuan cantik yang memiliki kelab malam, bekerja mati-matian demi membesarkan putra tunggalnya yang telah kehilangan ibu kandung saat masih bayi.
Cerita bergulir dimulai saat Mikage Sakurai, seorang gadis muda ditinggal mati oleh neneknya sehingga menjadi sebatang kara. Namun, Yuichi – seorang pekerja yang menyayangi almarhum neneknya membuka pintu apartemennya …
Buku, Seni Budaya »
Oleh: Alex
Apa yang kaulakukan jika kau sudah menikah, memiliki tiga anak, dan jatuh cinta pertama kalinya dengan perempuan?
Alice Jordan memiliki kehidupan yang sempurna. Rumah idaman di pedesaan yang baru dibelikan oleh suaminya, Martin. Tiga anak yang melengkapi hidup berkeluarganya. Dan suami setia dan pekerja keras yang tak menuntut macam-macam darinya.
Akan tetapi, Alice tidak bisa menghilangkan perasaan depresinya. Perasaan bahwa dia menjalani hidup selama 31 tahun sambil “tidur”. Niatnya untuk meneruskan hobi melukis di rumah baru yang dinamai The Grey House di desa Pitcombe, Inggris, ternyata membuat Alice makin tertekan. Setelah …
Buku, Opini »
Oleh: Lakhsmi
Sejak aku menulis blog bertema lesbian dua tahun lalu, gairah menulis belum meledak setidaknya seperti sekarang. Blogger lesbian meningkat dan para pembacanya (lesbian) juga meningkat. Itu ditunjukkan dari jumlah blog lesbian yang bertambah (The Planets) serta menaiknya tingkat hit blog SepociKopi ke angka yang mengagumkan. Sebagai (media) blog yang mempunyai celah marketing sempit, yaitu kelompok minoritas homoseksual (lesbian, khususnya), jumlah hit yang masuk ke blog SepociKopi sungguh mencengangkan. Artinya, gejala itu mempertegas konstatasi ketertarikan yang besar pada budaya baca.Aktivitas membaca adalah jalan dan sarana kemajuan. Gejala berkembangnya blog dan …
Buku, Opini, Seni Budaya »
Oleh: Robyn
Seorang pria muda keluar rumah pondokannya di suatu pagi buta. Tidak seperti teman-teman seusianya yang pergi ke bar atau pesta di rumah teman, ia menuju kawasan asrama putri dan mengendap-endap ke ruang tidur seorang mahasiswi.
Tidak, pria muda itu bukan pacar sang perempuan. Ia tidak datang untuk memberikan kencan kejutan. Ia datang untuk membunuh. Ia menghampiri tubuh cantik yang terlelap di atas ranjang, memukul belakang kepalanya dengan benda keras hingga tewas.
Dua paragraf di atas saya sadur dari kliping berita pembunuhan Lynda Ann Healy, mahasiswi Universitas Washington, Amerika Serikat, yang menjadi …
Buku, Humaniora, Opini, Seni Budaya »
Oleh: Lakhsmi
Fiksi dan non fiksi, apa yang membuat mereka berbeda? Seperti namanya – non fiksi, dan semua orang mengetahuinya bahwasanya yang ada di dalam buku-buku non fiksi adalah cabang-cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai rumusan tepat serta terurai dari eksperimen penelitian yang berdasarkan fakta-fakta dan kenyataan. Sementara di ujung spektrum terjauhnya, fiksi – mempunyai wajah yang berbeda.
Menurut Hamsad Rangkuti, seorang sastrawan, cerpenis, dan pemenang penghargaan sastra bergengsi Indonesia Khatulistiwa Award, “Sastra = kebohongan”. Sebuah analisis dan pernyataan yang berani dan jujur. “Menulis sastra” berarti menulis kebohongan. Dengan demikian kita dapat menarik …
Buku, Opini »
Oleh: Alex
Apa yang membuat sebuah buku (fiksi) dianggap sebagai buku yang baik? Tema, gaya bahasa, gaya bercerita, plot? Ada yang bilang bahwa buku fiksi yang bagus harus mengandung unsur drama yang kuat, alur cerita yang menarik, plot dengan sebab-akibat yang jelas, dan penokohan yang hidup. Namun, sefiksinya satu karya fiksi, dia memiliki nilai logika dan kemampuan untuk membangun sebuah realitas.
Realitas seperti apa yang ditampilkan dalam fiksi?
Seorang sahabat mengatakan bahwa sastra menggambarkan realitas yang tak tergambarkan dalam dunia real. Pengarang bisa menciptakan realitas apa pun yang diinginkannya. Saya setuju dengan pendapatnya, …
Buku, Opini »
Oleh: Alex
“Aku nggak suka baca novel,” demikian kata seorang sahabat. “Aku cuma baca novel lesbian,” lanjutnya dengan bangga.
“Mana yang bagus?”
“Semuanya bagus. Semuanya gue banget.”
Beberapa kali saya mendapat sambutan seperti itu saat chatting dengan sahabat-sahabat lesbian. Koleksi bukunya cuma novel-novel bertema lesbian dengan tokoh utama atau tokoh-tokoh minor yang lesbian. Saya prihatin dengan kondisi ini.Sebagai orang yang hidup dan bernapas dalam buku, saya kecewa. Saya tidak melihatnya sebagai kebanggaan. Saya mengukur kecerdasan dan wawasan seseorang dari buku-buku yang dibacanya. Saya belajar banyak dari buku-buku yang saya baca. Di dalam buku saya …





