Articles in the Bengkel Menulis Category
Bengkel Menulis, Seni Budaya »
Oleh: Lakhsmi
Ini diawali dengan seorang sahabat lesbian yang hendak memenuhi tugas universitasnya dengan melakukan wawancara kepadaku seputar jurnalisme SepociKopi. Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban menarik (dan menantang) membuat kami menghabiskan satu malam di Y!M dengan tingkat keseriusan yang santai. Dari sanalah, aku berkilas balik tentang ribuan tulisan-tulisan yang dipublikasikan secara kongkrit di sepocikopi.com.
Sepocikopi.com adalah media – itu sudah jelas – bukan suatu komunitas lesbian. Media dengan hukum yang patuh pada aturan jurnalistik, terlahir dari masyarakat lesbian yang kritis dan cerdas. Para pembacanya – yang mencintai media tersebut – bolehlah disebut sebagai komunitas. …
Bengkel Menulis, Humaniora »
Oleh: Lakhsmi
Bayangkan skenario ini: Dengan semangat membara, kamu berhasil menghasilkan naskah (baik non fiksi atau fiksi atau bahkan fiksi bertema lesbian) yang menurutmu – dan menurut pacar kamu tentu saja – sudah sangat keren sekali. Sekarang saatnya untuk berhadapan dengan penerbit. Setelah tiga bulan menunggu kabar berita apakah karyamu akan diterima, tahu-tahu kamu mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan bahwa dia mewakili penerbit yang sudah membaca karyamu. Dia – seorang editor ingin bertemu denganmu, mengembalikan naskahmu dengan beberapa catatan.
Glek.
Bengkel Menulis »
Oleh: Lakhsmi
Bayangkan situasi ini: kamu sudah capek-capek menulis dan sudah setengah mampus menghasilkan buah-buah pemikiranmu dalam suatu karya, sekarang saatnya untuk berhadapan dengan editor media/penerbit yang kamu kirimkan naskahmu. Apa yang terjadi di sana? Ini adalah langkah pertama menuju “revisi naskah”. Percayalah, langkah ini nggak menyenangkan, malah kebalikannya – sangat menyakitkan atau menyebalkan, seperti bulir-bulir padi yang menjerit-jerit ngamuk ketika harus ditumbuk biar bungkusnya pecah semua.
“Proses berkencan” bersama editor ini bisa menghancurkan egomu sampai benyek dan membuatmu merasa menjadi manusia yang memiliki hari terburuk sepanjang sejarah tata surya. Untuk melindungi …
Bengkel Menulis »
Oleh: Lakhsmi
Orang normal tidak akan pernah suka mendengar kelemahannya dibeberkan pada pekerjaan yang telah ia lakukan dengan sepenuh hati, namun bagaimana kamu deal dengan berbagai kritik pada tulisanmu mendefinisikan siapa dan bagaimana kamu sebagai penulis/blogger. Kritik oleh redaksi SepociKopi, termasuk juga tulisan-tulisanmu sendiri di blog pribadi, Facebook, Twitter, Plurk, forum dapat menyakitkan dan membuat terluka. Kamu bisa menganggapnya sebagai hal yang sangat serius seperti kegagalan ujian semester atau keputusan untuk amputasi kaki. Bagaimana memiliki kekuatan menghadapi kritik? Tenang, tenang, jangan depresi. Yuk kita hadapi sengatan kritik ini dengan cara-cara asyik …
Bengkel Menulis »
Oleh: Lakhsmi
Tak ada yang lebih cantik daripada tulisan sarkasme. Berasal dari kata Latin yakni “sarcasmus” yang nenek moyangnya dari ranting kata Yunani yakni “sarkasmos” atau “sarkazein”, memiliki arti harafiah sebagai “menggigit bibir dengan penuh kemarahan” atau “menguliti”. Tujuan sarkasme adalah menciptakan humor dalam nuansa ironis atau menghasilkan bentuk tulisan yang berlawanan dengan kenyataan.
Sudah banyak tulisan-tulisan di SepociKopi yang terbungkus nuansa sarkastik, sayangnya masih banyak pembaca lesbian yang tidak mengerti permainan humor dan kejenakaan mirisnya di sana. Semuanya kelihatan dari komen-komen para pembaca yang nggak nyambung dengan isi tulisan. Bengkel Menulis …
Bengkel Menulis »
Oleh: Lakhsmi
Suka membaca buku terjemahan? Pasti dong! Orang yang mencari buku terjemahan bukan berarti ia tidak mengerti bahasa aslinya, tapi faktor lain seperti harga buku asli lebih mahal dan tingkat kesulitan mencarinya membuat buku terjemahan sangat dibutuhkan. Sayangnya, tidak semua buku diterjemahkan dengan baik. Banyak sekali buku-buku bagus yang diterjemahkan dengan sangat buruk.
Pernah tidak menemukan buku yang rasanya susah dimengerti atau membosankan sampai akhirnya tidak dapat dibaca? Ternyata nih, setelah membaca buku aslinya yang berbahasa asing, buku tersebut sangat menarik untuk dibaca. Kenapa? Ini disebabkan penerjemahan yang kurang baik.
Bengkel Menulis »
Oleh: Lakhsmi
Banyak orang mengirim naskah ke SepociKopi, beberapa langsung mendapat jawaban, beberapa membutuhkan waktu lebih dari dua minggu untuk dipertimbangkan status naskahnya. Tentu saja kegelisahan menunggu selalu terasa nggak enak, sehingga banyak yang langsung to the point mengejar para editor yang bersangkutan melalui YM atau email, lalu bertanya tanpa ba-bi-bu, “Eh, Mbak Lax, gimana tulisanku? Kok lama nggak ada beritanya?”
Jangankan mengirim naskah ke SepociKopi, mengirim naskah ke perusahaan penerbitan atau redaksi media mana pun (majalah, koran, tabloid), pasti menciptakan debar-debar cemas yang tinggi. Sebelum rasa penasaran sukses membuat para pengirim …
Bengkel Menulis »
Oleh: Lakhsmi
Pernah merasa deja-vu bahkan merasa capek ketika sedang membaca novel? Coba intip deretan kisah di bawah ini, kira-kira pernah merasa membacanya atau tidak:
1. bangun pagi, terlambat, tergesa-gesa menuju sekolah, kemudian bertemu dengan si anak baru yang juga terlambat ke sekolah
2. dua perempuan berteman akrab, semakin akrab, kemudian ternyata mereka adalah sepasang lesbian
3. tokoh perempuan yang miskin tapi cantik dan baik hati, bertemu dengan lelaki sempurna, lalu mereka jatuh cinta dan hidup bahagia selama-lamanya
Bengkel Menulis »
Oleh: Lakhsmi
Bacalah judul di atas sekali lagi dan serap kalimatnya baik-baik. Benar banget! Sebelum memulai, aku sudah menyampaikan peringatan terang benderang: JANGAN MEMBACA TULISAN INI! Tujuannya supaya tidak ada pembaca yang terjebak lalu terkubur hidup-hidup. Judul di atas sudah berteriak sekencang-kencangnya agar tulisan ini tidak usah dibaca! Setuju? Setuju banget! Tapi ada catatan kecil di akhir kalimat yang bikin penasaran. Apa sih yang dimaksud dengan kata (kalau…)? Begini maksudnya:
JANGAN MEMBACA TULISAN INI KALAU…
Bengkel Menulis »
Oleh: Shinigami
Gampangkah menulis prosa? Ya dan tidak. Gampangkah menulis puisi? Saya rasa akan lebih banyak orang yang menjawab iya daripada tidak. Entah, mungkin kecenderungan itu timbul karena bentuk fisik puisi yang relatif jauh lebih pendek daripada prosa, sehingga orang berpikir membuat puisi itu lebih mudah. Tinggal merangkai sekian baris kata-kata saja. Well, ya dan tidak.
Saya masih ingat pada suatu paparan tentang keunikan (menulis) puisi yang pernah saya baca di internet. Tulisan itu mengilustrasikan (menulis) puisi sebagai seseorang yang mengepak tasnya untuk bepergian selama akhir pekan. Tentu saja karena hanya untuk …





