Articles in the Bengkel Menulis Category
Bengkel Menulis, Humaniora »
Oleh: Lakhsmi
Akhirnya, untuk menyambut ulang tahun SepociKopi yang keempat, situs ini mengadakan perlombaan untuk tiga kategori: Have Your Say, Telezkop, dan Cerpen setelah tahun kemarin hanya mengadakan perlombaan menulis Resensi Camilan. Boleh dibilang, perlombaan ini adalah perhelatan yang paling besar dari semua perhelatan kepenulisan di situs ini. Ada tiga kategori pemenang yang memiliki tiga karakteristik yang berbeda. Hadiah yang ditawarkan juga memiliki angka rupiah yang lebih menggelembung dibanding tahun-tahun sebelumnya. Terima kasih kepada teman-teman dan pembaca SepociKopi yang siap menawarkan dukungan dalam bentuk dana untuk acara ulang tahun SepociKopi di …
Bengkel Menulis, Humaniora »
Oleh: Lakhsmi
Banyak yang mengirim cerpen ke meja redaksi SepociKopi dan sejauh ini – selama tiga setengah tahun bekerja, kami hanya berhasil meloloskan dua cerpen. Sebenarnya, peraturan pertama untuk kolom cerpen di situs ini memang diprioritaskan kepada cerpen-cerpen yang pernah dipublikasikan di media umum sebelumnya. Untuk karya yang belum pernah dipublikasikan, cerpen tersebut harus lulus dengan kriteria paling minim yang tim redaksi gariskan. Apa itu kriteria paling minim yang redaksi gariskan? Sangat sederhana: harus menarik.
Pertanyaannya menjadi semakin bikin penasaran: bagaimana caranya tahu jenis cerpen yang menarik? Baca saja cerpen-cerpen yang …
Bengkel Menulis, Humaniora »
Oleh: Lakhsmi
Books say: she did this because. Life says: she did this. Books are where things are explained to you; life is where things aren’t. — Julian Barnes
Baiklah, suatu kebanggaan SepociKopi berhasil menyandingkan beberapa cerpenis yang namanya selangit di antologi Un Soir du Paris, mengadakan diskusi LGBT secara simultan di dua kota; Jakarta dan Surabaya, memberikan sounding yang kencang ke seluruh pembaca fiksi Indonesia, dan melihat hasil penjualan mencengangkan dua fiksi besutan SepociKopi yaitu Club Camilan dan Un Soir du Paris.
Itu terjadi dalam jangka waktu setahun! Di antara kesibukan pekerjaan …
Bengkel Menulis, Humaniora »
Oleh: Lakhsmi
Di suatu siang, aku sedang bekerja di depan laptopku sambil berkomunikasi lewat Blackberry Messenger dengan beberapa teman sekaligus. Siang yang basah dan temaram. Aku rasa aku baik-baik saja di siang itu ketika aku membuka kotak email SepociKopi. Beberapa email yang masuk di kotak sana mendadak membuatku seperti melihat aliran sungai Ciliwung yang terbentang di depan mataku seketika: kotor dan macet.
Apa yang membuatnya seperti itu? Email-email yang masuk adalah email-email yang berisi kiriman sepotong dua potong tulisan yang hendak ditampilkan di situs tersayang ini. Tulisan-tulisan itu semuanya bernuansa kesedihan, putus asa, …
Bengkel Menulis, Humaniora »
Oleh: Lakhsmi
Berbahasa. Ah, malas nggak sih membicarakan berbahasa? Sepertinya tidak ada topik lain yang menarik. Kayak masih di Sekolah Dasar saja, membicarakan topik yang nggak penting. Huh. Tapi ternyata urusan berbahasa ini menjadi urusan top di tangga permasalahan dunia tulis menulis dan berbicara.
Memangnya kenapa sih musti berbahasa yang baik dan benar? Seberapa pentingnya dia? Dulu aku mengira EYD singkata dari Ejaan yang Disempurnakan, tapi setelah memperhatikan tulisan-tulisan yang dikirim ke meja redaksi SepociKopi, aku mengambil kesimpulan bahwa EYD itu singkatan dari Eh Yape Deeeh! Banyak sekali penulis atau blogger yang …
Bengkel Menulis, Humaniora »
Oleh: Lakhsmi
Beberapa minggu belakangan ini, SepociKopi diserbu dengan banyaknya kiriman cerpen karya kaum lesbian. Sejauh ini, sejujurnya tidak ada satu pun yang layak untuk dipublikasikan. Ruang cerpen SepociKopi dibuka untuk semua cerpen LGBT yang sudah pernah ditayangkan di media massa lain (koran, majalah, tabloid, situs-on-line), tapi juga tetap terbuka bagi karya yang belum pernah dipublikasikan. Nah, cerpen yang belum pernah dipublikasikan di media mana pun (tapi dikirim ke meja redaksi SepociKopi) mendapat tawar-menawar dan rambu-rambu ketat dalam penghitungan nilai-nilai tematik dan estetiknya oleh kami. Tulisan Bengkel Menulis kali ini …
Bengkel Menulis, Seni Budaya »
Oleh: Lakhsmi
Mau tahu bagaimana geliat sastra LGBT di negara nun jauh di sana, di mana homoseksualitas sudah lebih baik daripada di Indonesia? Intip yuk. Penghargaan Lambda adalah penghargaan sastra LGBT paling bergengsi Amerika. Penghargaan ini kerap disebut sebagai the Lammy, penghargaan yang merayakan karya-karya sastra dengan tema LGBT. Misi mereka adalah membesarkan, menghormati, dan menjaga sastra LGBT melalui program-program yang mendukung karya-karya indah, membuka cakrawala kesempatan, dan mendorong perkembangan para penulis pemula.
Sejarah yayasan Lambda Literary dimulai ketika L. Page Maccubin, pemilik toko buku LGBT terkenal Lambda Rising Bookstore di Washington …
Bengkel Menulis, Seni Budaya »
Oleh: Lakhsmi
Siapa yang pernah ke toko buku LGBT di sini? Tunjuk jari yang tinggi. Membeli buku bergenre LGBT di toko buku Indonesia saja sudah ketakutan, bagaimana menguatkan diri untuk melangkah memasuki toko buku di luar negeri yang khusus menyediakan buku-buku bertema LGBT? Huh, sudah pasti gemetaran. Yang belum pernah atau belum berani, kebayang atau tidak pemandangan itu?
Ada banyak sekali toko buku LGBT di seluruh dunia. Memang kebanyakan bertebaran di Eropa dan Amerika. Sampai sampai sejauh ini belum terdata toko buku LGBT di daerah Asia. Yang terdekat dari Indonesia tentu saja …
Bengkel Menulis, Seni Budaya »
Oleh: Lakhsmi
Tiga tahun lalu, aku memandang situs sayoni.com dengan air muka iri. Kapan lesbian Indonesia bakal punya media sebagus ini? Jangankan media, membaca karya-karya lesbian yang bertebaran saja membuat aku putus asa. Belum lagi gerakan pemimpin komunitas lesbian yang berkonsentrasi pada sayap kanan, politis, dan berkiblat ke barat. Tidak ada media yang bisa memayungi kebutuhan lesbian sehari-hari. Semuanya membuatku frustrasi dan merasa suaraku juga ikut terbungkam.
Padahal kita butuh media, lebih daripada butuh sekedar kongkow dengan teman-teman lesbian di kafe atau mal anu. Media adalah sumber informasi yang mendidik, menghibur, dan …
Bengkel Menulis, Seni Budaya »
Oleh: Alex
Editor. Banyak orang sudah merinding mendengar kata ini. Pekerjaan editor memang memberikan aura yang menimbulkan decak kagum bagi yang mengerti pekerjaannya, tapi juga kadang memberikan kesinisan bagi mereka yang tidak tahu-menahu. Berhubung SepociKopi adalah satu-satunya media lesbian yang memiliki dewan editor di susunan redaksionalnya—yang bekerja dengan sesuai kode etik seorang editor, ada baiknya saya menjelaskan apa fungsi dan pekerjaan editor di suatu media terhormat sehingga pembaca lesbian memiliki perspektif yang (lebih) luas.
Tugas utama editor adalah membaca. Mulai sejak naskah masuk, dia sudah membacanya, lalu memberi catatan revisi kepada penulis, …





