Home » Telezkop

te.Lez.kop: Pertanyaan-Pertanyaan tentang Komitmen

Submitted by on 15/11/2012 – 5:41 pm11 Comments | 1,640 views

Oleh: Lakhsmi

Setiap orang sering kali jatuh cinta dengan kehebatan masing-masing dari pasangannya. Apalagi, dengan sifat mereka yang menarik dan wajah yang memesona. Siapa yang tidak? Ini hal yang wajar kok. Tapi berhati-hatilah, ini jalan yang licin. Dengan mudah kita bisa terpeleset dalam Jebakan Batman. Pertanyaannya adalah, apakah kita bisa menerima kelemahan pasangan? Bisakah kita melihat ke mata pasangan kita dalam-dalam – sampai terbentanglah semua kelemahannya – dan berkata dalam hati, “Sejujurnya, aku akan menerimanya, dan sedang menyiapkan diriku agar sanggup bekerja sama dengan semua kelemahanmu.”

Secara objektif, hal-hal baik akan menetap pada diri pasangan dan kita bisa menikmatinya. Hal-hal baik akan terus bersinar dan berkilau, memanjakan diri kita. Tapi, hal-hal buruk juga akan menetap. Dia akan menghancurkan kita dari dalam, seperti peri musim dingin yang datang untuk menggigilkan dan membekukan seluruh kehidupan.

Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan seorang sahabat yang sudah lama kami diikat rindu untuk saling mendekatkan diri, sejak kami dipertemukan pada sebuah acara yang ajaib. Dia bercerita tentang kehidupan lajangnya ketika dia masih memiliki cita-cita yang sangat tinggi, berbeda dengan cita-cita calon tunangannya. Tapi ketika dia menikah, dia dipaksa menjadi pengusaha, membantu pekerjaan suaminya. Ini pekerjaan yang amat jauh dari cita-citanya. Dengan berat dan berlawanan dengan hati nurani, dia melepaskan seluruh cita-citanya, dan mengabdikan diri menjadi pengusaha. Empat tahun kemudian, sampai detik ini, dia menjadi salah satu pengusaha perempuan hebat yang diakui oleh Indonesia Wajahnya sering bermunculan di berbagai media ekonomi dan bisnis.

Secara halus dan lemah lembut, dia berkata jujur kepadaku, “Lucu, aku tak terlalu jatuh cinta dengan pekerjaan ini. Aku berhasil sukses menjalani bisnisku karena aku berkomitmen. Itu saja. Sederhana, kan?”

Orang bisa berhasil melakukan sesuatu secara sukses dengan komitmen, tapi sedikit cinta. Kalau hal itu dibalik, banyak hubungan yang ada dengan penuh cinta menggebu-gebu tapi tak memiliki komitmen apa-apa. Berapa banyak lesbian yang memiliki ikatan seperti ini? Berapa banyak kaum muda hetero yang seperti ini juga? Mereka menganggap hubungan kasual yang diikat oleh cinta sudah cukup, karena mereka membiarkan “ke mana cinta akan membawa”. Tanpa komitmen, ke manakah cinta akan membawa hubungan yang seperti itu? Ke sebuah tempat di mana hubungan itu akan bertekuk lutut, menyerah kalah.

Kita bisa menghitung kebahagiaan kita bersama pasangan dari jumlah luka yang digoreskan dari partner, tanpa sengaja. Bukankah manusia memang penuh tidaksengajaan? Setiap luka itu berasal dari lidah mereka, kita kumpulkan sepanjang tahun dengan cara menelan semua kata-kata kemarahan, kata-kata kekecewaan. Ini semua bisa melemahkan romantisme, mengecilkan kadar cinta, melelahkan afeksi kita kepada pasangan. Namun, jika kita dikuatkan oleh komitmen, kita bisa mengingatkan lagi tujuan mengapa suatu hubungan harus terus

Menginginkan orang lain mungkin adalah suatu pekerjaan yang paling berbahaya dan penuh resiko. Berpacaran adalah pekerjaan yang rumit ketika kita sudah meleburkan seluruh dari kita ke dalam tangan pasangan untuk kebahagiaan diri sendiri. Artinya, tingkat kebahagiaan akan selalu tergantung dalam belas kasihan dari pasangan kita. Hubungan yang seperti itu akan sangat sulit. Cinta yang seperti itu akan habis. Maka, hancurlah suatu hubungan yang kelak harus di-recycle lagi dengan orang lain dalam hubungan yang berlaku selama beberapa tahun sebelum kembali kandas.

Apakah kita – kaum lesbian – memperlakukan cinta seperti kondom yang habis digunakan lalu dibuang ke kotak sampah? Apakah komitmen tak berlaku bagi pasangan lesbian? Apakah kita menyia-nyiakan, melupakannya, sehingga semua hubungan cinta kita hanya berdasarkan cinta yang menggebu-gebu saja? Perhatikan twitter, facebook, dan semua sosial media lesbian yang hanya dimanfaatkan untuk jejaring cinta. Sounds familiar?

Komitmen resmi dalam relasi heteroseksual yaitu pernikahan, secara riset memang membuktikan bahwa pernikahan tak selalu bisa menyelamatkan hubungan yang gagal. Tapi secara riset, pernikahan juga membuktikan bahwa komitmen mampu menyelamatkan cinta.

Bagi pasangan lesbian yang sudah berpacaran dengan serius, pikirkan kenyataan ini: pacaran adalah jutaan obrolan tanpa henti di segala tempat, di mana keintiman perlahan-lahan semakin melambat bagai roda yang kehilangan energi penggerak. Kita seakan-akan kehilangan cara berhitung untuk menjadi familiar dengan pasangan kita – terlalu familier, sehingga lama-lama kita tak lagi melihat dirinya sebagai manusia utuh yang memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi hanya segenggam udara kosong yang kita anggap dapat diprediksi dengan tepat.

Saat kita berada di titik itu, carilah dan bertanyalah: di manakah engkau berada, wahai komitmen?

@Lakhsmi, SepociKopi, 2012

Tags: ,

11 Comments »

  • okta says:

    Klo saya menganalogikan ‘rider with passenger’ menjalani suatu trek dengan garis finish yang sama (dari suatu titik (acuan) ke titik lain (tujuan)).
    motor saya adalah cinta, trek yang saya jalani adalah komitmen, dan garis finish adalah tujuan.
    Motor saya bisa kehabisan bensin, harus ganti oli, harus di cuci, didinginkan dulu lalu dipanaskan lagi, cek mesin, jangan lupa maintenance.
    Track saya, saya ambil di kehidupan nyata, dimana di dalamnya realita yang harus diambangi dengan logika.
    Passenger nya, yang mau melewati track ini bersama saya. wait…I need air to breath, because inside those molecule contains oxygen, but also carbon dioxide.
    Saat ‘kekosongan’ itu datang, mungkin saatnya saya dan pasangan berhenti sejenak di pit stop, istirahat. Upgrade motor, servis-maintenance. Dan di saat yang memang dirasa tepat, maka melaju lagi.
    Saya menggenggam peta, saya dapat menempuh track yang sudah saya tetapkan di peta, atau menciptakan track baru, agar kami dapat mengisi ‘kekosongan’ ini.

    *maap ya kepanjangan

  • Tim says:

    komitmen,apa ini ujian Lakhsmi?

  • Sessiz says:

    @ ara_prosa
    Setuju banget argumennya “Seberapa kuat alasan ia untuk mencapai tujuan” Kerennn…
    Cinta dan Komitmen tanpa tujuan “kosong”

  • suze says:

    Apprecite your comment Alice Virgo,jg reminder dari redaksi. Ada baiknya mengambil secarik kertas dan menulis plus dan minusnya bila:a.100% komitmen. b.break up. c.komitment dan punya L BFF(maaf Laks,diluar konteks) untk mengisi kekosongan hati. Salahkah bila pilihan pada C?bayangkan femme n femme berjalan bersama dan bebas berexpresi didepan publik…..sounds great!!salah??

  • Alice Virgo says:

    Setelah membaca tulisan Lakhsmi, saya jadi kepikiran terus beberapa hari ini, memikirkan ulang arti komitmen seperti yang digambarkan Lakhsmi beserta contoh2 dari orang-orang yang saya tahu.
    Awalnya saya juga merasa bahwa seperti kata ara_prosa dan suze, kaum homoseksual, karena tidak ada ikatan seperti lembaga pernikahan, anak, atau ekspektasi orangtua terhadap hubungan mereka, maka sulit bagi kita untuk berkomitmen.

    Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, saya rasa komitmen itu datangnya tetap dari cinta. Bukan cinta yang kasmaran, yang membuat hati berdebar-debar tidak bisa tidur, tapi cinta yang sudah berevolusi menjadi tanpa ekspektasi, tanpa meminta kembalian. Cinta yang sama dengan cinta yang kita berikan pada orangtua, dan mungkin saudara kandung dan keluarga besar. Bedanya, untuk pasangan, kita tidak terikat hubungan darah. Tapi saya berargumen, terkadang anak-anak mungkin berpikir bahwa mereka mencintai orangtuanya tanpa syarat, tapi tak jarang ide itu datang dari tekanan masyarakat bahwa anak harus mencintai orangtuanya karena mereka telah membesarkan, mengayomi, mendidik, mengurus, dll. Bentuk cinta yang sebenar-benarnya seharusnya tanpa alasan ‘karena: karena mereka sudah susah payah untuk kita.’ Bukan. Cinta tanpa syarat yang sesungguhnya datang karena kita mengenal orangtua kita luar dalam, baik saat mereka sedang marah maupun penuh cinta, saat bersusah dan berbahagia. Ketika kita bertumbuh bersama semua tingkah laku itu, lama-kelamaan kita bisa menerima bahwa begitulah adanya orangtua kita. Meski idealisnya anak dan orangtua saling mencintai tanpa syarat, ketidaksempurnaan mental salah satu pihak bisa menginterupsi hubungan mereka sehingga yang terlihat hanyalah bayangan cinta yang sesungguhnya penuh keterpaksaan. Yang saya maksud disini bukan sakit jiwa halnya skizofrenia atau bipolar disorder, tapi bisa berupa keinginan untuk mengontrol yang terlalu besar, yang kesemuanya disadari pihak tersebut dan bukan berupa sakit mental semisal Obsessive Compulsive Disorder, tapi murni karena ketakutan pihak tsb. Jika memang sikapnya disebabkan satu penyakit atau kelainan tertentu, maka seperti dikatakan Alex, mungkin sudah saatnya konseling dengan psikiater. Sayangnya kebanyakan orang akan tetap bersitegas bahwa dia tidak bermasalah, sehingga masalah justru akan merembes pada orang di sekelilingnya.

    Yang diterapkan pada hubungan keluarga, sama dengan yang membuat kita bisa mencintai pasangan tanpa syarat, yakni karena kita sudah kenal dia luar dalam, sudah menerima apa adanya, saat dia marah, sedih, bahagia, ataupun senang. Arti paling murni dan literal dari “I love you as you are.”

    Menurut saya, cinta tak bersyarat bisa timbul kalau pasangan pun mau membuka dirinya pada kita, dan sebaiknya juga mencintai kita tanpa syarat, karena dari masing-masing pihak berarti sudah tidak ada unsur keinginan yang bisa berujung pada kekecewaan, hanya penerimaan sempurna. Jadi, tidak semua pasangan bisa berujung pada komitmen seumur hidup, hanya jika keduanya sudah benar-benar menerima yang lain seutuhnya.

    Tapi, saya rasa ada juga kemungkinan komitmen putus, yakni bila pasangan kita yang memutuskan hubungan. Sekali lagi, penerimaan tak bersyarat berarti terimalah keputusannya, karena keberadaan pasangan semestinya bukan menjadi ketergantungan tapi sebagai seseorang yang kita cintai, sepenuhnya. Kemungkinan lain, bahwa cinta yang tadinya kita kira tidak bersyarat ternyata penuh tuntutan terpendam, sehingga sampailah satu titik dimana semua kekecewaan tertumpuk dan akhirnya membuat hubungan jadi negatif. Mungkin saja ada faktor lain yang saya belum temukan.

    Untuk komentar Suze, kebetulan saya baru baca blog Dewi Lestari, dan saya seratus persen setuju dengan kata Dee bahwa tidak adil menaruh anak sebagai alasan pernikahan karena nantinya dia malah memikul beban harus terus mengikat orangtuanya dalam pernikahan.

    (Ini merupakan hasil pemikiran yang baru, jadi mungkin ada kesalahan/ketidaksempurnaan)

  • suze says:

    Pada pasangan hetero,komitmen harus di perjuangkan mati2an karena terlahirnya anak2 dari benih ayah dan ibu.Anak2 tidak terlahir kedunia oleh karena keinginannya.Walau sudah tidak ada cinta sekalipun anak2tetap menginginkan ayah ibunya berada bersama mereka.Kadang2 apabila berada dalam keadaan seperti itu feel like a life in a mouse trap…..cant move on.Terus harus bagaimana?

  • dly says:

    komitmen sngt pntng dlm khdupan,hidup tnpa komitmen sama saja dgn hidup tnpa tujuan.
    kadang itu yg di lupakan dlm hdup,apalagi klu udah masalah cinta…

  • ara_prosa says:

    Tulisan lakhsmi ini bagiku bagai senjata cakram dengan banyak mata pisau di tiap sisinya. Aku harus melihat kemana arahnya terbang. Karena ketika tersentuh bisa merobek banyak tepi diri.
    Secara umum, memang benar terkadang hubungan bisa dipaksa jalan karena sebuah komitmen. Kadang bukan karena cinta sepenuhnya. Di twitland beberapa waktu yang lalu aku bertanya pada seorang teman yang mengeluhkan jaringan provider yang lemot dan kebetulan sama dengan yang kugunakan. Aku tanya mengapa tetap menggunakannya?. Dia bilang terpaksa dan tidaklah mudah untuk memutuskannya karena nomernya sudah banyak dikenal kolega. See, aku lihat di situ bahwa terkadang relationship bisa dipaksa atau kadang terpaksa tetap dijalankan karena suatu alasan. Nah permasalahannya alasan itulah yang harus ditemukan oleh tiap pasangan. Alasan yang terkuat.

    Dalam kehidupan hetero ada pernikahan, ada keluarga, ada keturunan, ada nama baik yang bisa dijadikan alasan untuk tetap berjalan walau mungkin tak ada cinta di sana. Bagaimana dengan kehidupan homo?? alasan tersebut saat ini masih sulit untuk diwujudkan. Maka cinta adalah salah satu alasan yang harus dipilih oleh sebagian besar penganutnya. Padahal cinta wujudnya absurd. Ukurannya tidak jelas.
    Aku yakin sebagian besar kaum lesbian, atau LGBT, ada yang tidak ingin menjadikan cinta layaknya kondom seperti yang dikatakan di atas. Tidak ingin wujud cintanya hanya sekedar pacaran dan obrolan tanpa makna. Namun pada kenyataannya ada sebagian lesbian yang memang melakukaknnya tanpa sengaja. Hanya karena masih bingung dalam mencari wujud yang tepat untuk mengikat cinta. Arah pikirnya masih terbatas pada kaum hetero dimana wujud ikatan cinta adalah ‘pernikahan’.
    Dan ikatan itulah yang dijadikan tujuan. Jadi jika tujuan itu dianggap tidak mungkin akhirnya menganggap hanya sedang bermain dengan angin.

    Merujuk pada ilustrasi yang disampaikan lakhsmi lewat sosok orang yang bisa sukses padahal dilakukan dengan sedikit cinta tetapi dengan banyak komitmen. Bagi aku pribadi,bukanlah seberapa besar kekuatan cinta atau komitmennya.Tetapi seberapa kuat alasan ia untuk meraih kesuksesan sebagai bagian dari tujuan. Tujuan yang ingin dia raih bisa membuat dia tetap berkomitmen baik komitmen pada tujuannya ataupun pada jalan yang ia pilih. Komitmen bisa diciptakan, bisa tercipta, bisa menciptakan begitu juga dengan cinta. Bukan karena mereka semua bisa dicapai. Tetapi ada pusat gravitasi yang besar yang dinamakan tujuan.

    Itulah menurutku yang selama ini menjadi sumber masalah, kita tidak memiliki alasan yang besar dan kuat. Alasan kita masih terbatas pada cinta yang absurd. Atau pada ikatan pernikahan yang saat ini masih tidak mungkin dilakukan. Jika seperti ini, maka komitmen menjadi sebuah omong kosong.

    Kesimpulannya bagiku, kita harus memiliki alasan paling besar mengapa cinta dan komitmen harus tetap ada dan saling menjaga. Dan alasan itu harus dicari dan didapatkan. Dan alasan yang mudah bagiku adalah tujuan masa depan yang memiliki ukuran. Sebelum aku melangkah dengan seseorang, aku terbiasa bertanya apa tujuan dan konsep masa depannya. Karena dari sanalah aku dan dia bisa mencari alasan mengapa harus bersama. Karena aku tahu cinta bagaikan air, bisa pasang, bisa surut. Bisa menguap lalu tiada. Maka tujuan yang kuat akan melahirkan komitmen kuat untuk menjaganya.
    Memang bagi sebagian besar orang, mungkin termasuk aku, tidaklah mudah berpikir futuristik. Dan lewat tulisan-tulisan cerdasnya, SK, bisa menjadi media pembelajaran dalam rangka mengonsep pikiran masa depan.
    Thanks SK dan laks atas tulisannya. Memberi jeda sesaat pada akhir pekan yang panjang.

    Dimanakah engkau berada wahai komitmen?
    Kata komitmen,” Aku ada diantara sosok manusia dan tujuannya”

  • Wil Twilite says:

    Sependapat dengan Kak Ann… Indah, tajam dan menusuk… Komitmen adalah dua cincin kembar yang tak terlihat, namun kita tahu bahwa kita ada pada zona yang nyaman dan aman dengan pasangan… Dan bukan sekedar hubungan tanpa status, dan tanpa masa depan… Aku selalu berangan, ada dalam rencana masa depan kekasih perempuanku… Dan rasanya hal ini wajar adanya… ^^

  • Stranger Annie says:

    I love this article much… Indah dan tajam kata-katanya… sampai banget maksudnya.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.