Home » Friendship, Humaniora, Remaja

Undangan Makan Malam

Submitted by on 18/09/2012 – 9:30 am11 Comments | 2,529 views

Oleh: Vastro Hec

Wajah di cermin itu memandangku gelisah mempertanyakan keputusanku malam ini. Satu tahun bukan waktu yang sebentar, sepanjang waktu itu tidak pernah ada kontak antara kami berdua. Malam ini, di hari ulang tahunnya, aku memantapkan tekad menerima ajakan untuk makan malam. Lagi pula kami akan pergi berempat, aku, dia, sahabatku, dan temannya.

Tepat di awal hari ulang tahunnya, aku menghubunginya setelah satu tahun lebih perpisahan kami. Tidak ada yang spesial, hanya sekadar pesan singkat ucapan selamat ulang tahun. Dia membalasnya dengan wajar, seperti tidak pernah ada kekosongan komunikasi selama satu tahun di antara kami. Lalu siangnya, sebuah pesan singkat mampir di handphone-ku. Dia mengajakku makan malam bersama temannya dan sahabatku. Tanpa berpikir panjang segera kubalas dan mengatakan aku akan datang.

Aku tahu, aku mengambil banyak sekali risiko dengan menemuinya. Putusnya hubungan kami tahun lalu karena kedua orangtuaku, hingga untuk pertemuan ini aku harus menjaganya serapi mungkin. Namun masalah terbesar datang dari diriku. Apakah aku sudah siap menemuinya kembali dengan status yang jauh berbeda dari sebelumnya? Apakah aku siap menerima perlakuan yang sangat berbeda darinya? Karena hatiku masih sangat merindukan dan mencintainya. Aku pernah berpacaran dengan orang lain setelah berpisah dengannya, namun tempatnya di hatiku masih belum bisa tergantikan.

Dia wanita pertama yang berhasil membuatku jatuh cinta. Membuatku merasakan indahnya mencintai dan dicintai. Dia berhasil meyakinkanku bahwa tak ada tidak dapat dilalui selama kita menghadapinya bersama. Naif, mungkin itu kata yang tepat menggambarkan kami berdua saat itu. Cinta memang memabukkan hingga kenyataan mengempaskan kami dan menyadarkan bahwa dalam sebuah hubungan akan melibatkan banyak pihak lain yang bisa meruntuhkannya.

Setahun ini aku hanya sedikit mendengar kabarnya, namun aku tahu dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Aku sadar, posisiku di hatinya telah tergantikan. Dia telah menemukan penggantiku yang dirasa baik untuknya.

Aku masih gelisah dengan keputusanku. Sanggupkah aku melihat semua kenyataan dengan mataku sendiri? Waktu terus bergulir mendekati waktu yang telah kami janjikan.

Aku duduk di dalam mobil, memandang hampa ke depan. Pikiran dan tubuhku menolak turun dan menemuinya, namun rasa rindu yang terus menggerogoti hati mendorong tubuhku beranjak meninggalkan mobil. Aku tahu, cepat atau lambat aku harus menghadapinya, menghadapai kenyataan yang sulit kuterima ini.

Sejenak ingatanku kembali ke masa-masa terindah kami. Tak banyak ungkapan atau sikap mesra yang kami lakukan layaknya pasangan lain. Bagi kami, menghabiskan waktu berdua itu sudah lebih dari cukup. Berbicara layaknya sahabat, bertengkar layaknya adik-kakak, bercanda tanpa perlu malu-malu, hingga berdebat hal-hal yang tidak penting selalu mengisi kebersamaan kami. Kenangan itulah yang tersisa, terus menghantui dan mengoyak hatiku.

Hingga suara pesan masuk membuatku tersadar dari lamunan. Sahabatku memberitahu tempat duduk mereka di dalam restoran. Aku menghela napas, membayangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Aku keluar dari mobil, mencoba terus menjaga raut wajahku agar terlihat netral tanpa gurat emosi yang berlebihan.

Perlahan kubuka pintu restoran menuju tempat yang telah ditentukan. Aku melangkah pelan sambil menundukkan kepala, menutupi perasaan gelisah yang terus menghantui. Semakin dekat dengan meja mereka, kuberanikan diri mengangkat wajah untuk melihat kenyataan yang harus kuterima sekarang meskipun aku tidak ingin.

Dan di sanalah mereka…

Temannya melambai ke arahku dan memanggilku bergabung dengan mereka. Di seberang meja, ada dua wajah yang sangat kukenal. Mantan kekasihku dan sahabatku tersenyum kepadaku. Tangan kanannya merangkul mesra sahabatku, sedangkan tangan kirinya menggenggam lembut jemari sahabatku…

Aku membalas senyuman mereka dengan senyum terbaikku. Segera bergabung dan berkata dalam hati, “Semoga hubungan kalian indah hingga akhirnya.”

@Vastro Hec, SepociKopi, 2012

Tags: ,

11 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.