Home » Film, Seni Budaya

Film: SHE Their Love Story

Submitted by on 17/09/2012 – 3:03 pm31 Comments | 13,503 views

Oleh: Alex

Sukses film “Yes or No” pada tahun 2010 yang disusul dengan pembuatan film kedua “Yes or No” pada tahun 2012 menunjukkan minat besar terhadap film bertema lesbian di Thailand. Selain film “Yes or No”, pada bulan Maret 2012, produser film Thailand juga merilis film bertema lesbian lain berjudul “She: tHEiR Love Story”.

“She” berkisah tentang dua cerita dalam hidup empat perempuan. Bua (Penpak Sirikul) dan June (Ann Baker). Da (Apassaporn Sangthong) dan Be (Kitchya Kaesuwan). Bua adalah pengusaha resort yang sukses dan sudah menikah selama 20 tahun. Ia memutuskan untuk bercerai dari suaminya untuk menjalani sisa hidupnya yang tidak lama lagi. Pada saat itulah Bua bertemu dengan June, fotografer freelance, yang mengajarkannya arti cinta sejati.

Sementara Da adalah kolumnis yang kariernya rusak karena perbuatan jahat kekasih prianya. Ia tak pernah membayangkan punya hubungan dengan sesama perempuan sebelum bertemu dengan tetangganya yang tomboi, Be. Awalnya dia membutuhkan Be untuk pembuatan artikel dan penasaran dengan kehidupan lesbian, hingga kemudian perasaan cinta pada Be pun mulai tumbuh di hatinya.

June walau berpenampilan tomboi belum bisa menerima kenyataan dirinya sebagai lesbian, dan selalu menganggap dirinya berdosa karena memiliki orientasi seksual berbeda dari mayoritas. Be yang punya masalah dengan ayahnya, tidak pernah merasa dirinya layak bahagia dalam cinta sehingga sering berganti-ganti pasangan.

Disutradarai oleh Sranya Noithai, film ini mau tidak mau pasti dibandingkan dengan “Yes or No”. Jika bicara soal chemistry antara pemainnya, jelas “Yes or No” tak terkalahkan. Akting para pemain di sini, kecuali aktris senior Penpak Sirikul yang memang sudah berkualitas, bisa dibilang cuma standar akting sinetron lokal. Namun kelebihan dari “She” adalah film ini menggarap tema yang sedikit lebih kaya dibanding “Yes or No”.

“She” menampilkan wajah dan kehidupan lesbian Thailand secara khusus, namun juga masih bisa masuk dalam konsep “wajah dan kehidupan lesbian Indonesia’” karena sisi Asia-nya. Bagaimana homoseksual di belahan dunia Timur masih dianggap melanggar norma. Hanya mereka yang nekat melanggar patokan norma standar itulah yang bisa menemukan kebahagiaan dalam cinta.

Sekali lagi, jika dibandingkan dengan “Yes or No” cerita film “She” ini tidak semanis “Yes or No” tapi cuma itu saja keunggulannya. Yang bagusnya konflik dalam film “She” juga tidak melulu cinta. Namun pengambilan gambar, editing, aktingnya menyedihkan dan tak tertolong. Musiknya juga tidak membantu, malah mengganggu. Jangan harapkan akting kelas festival saat menonton film ini. Tapi saya juga tidak mengerti kenapa setahun terakhir ini kualitas film-film Thailand secara umum merosot ke jenjang sinetron, padahal lima tahun lalu mereka bisa menghasilkan film-film yang lumayan berkualitas.

Masih penasaran ingin menonton film ini? Silakan saja, tapi jangan berharap terlalu banyak. Tonton saja kalau sudah tidak ada kerjaan lain di waktu luang. Tidak perlu buru-buru, atau lebih baik nonton ulang “Yes or No” saja jika mengharapkan nonton film lesbian romantis.

@Alex, SepociKopi, 2012

Tags: , ,

31 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.