Home » Community and Traveling

Community and Travelling: Sepotong Roti dari Macau-3

Submitted by on 16/08/2012 – 9:30 am12 Comments | 1,032 views

Oleh: Rafilus Olenka

Tulisan sebelumnya : Sepotong Roti dari Macau

Kami pun kembali menyusuri Senado Square menuju ke halte bus.

“Mampir sebentar ke warung Indonesia nggak apa-apa kan? Ada kaset buat dance yang mau kucari.”

“Oke, Mbak, nggak masalah.” Warung Indonesia? Saya jadi penasaran.

Kami lalu berbelok ke sebuah gang kecil dengan penjual sayuran di kanan-kirinya, sampai akhirnya saya bisa mengenali warung yang dicari lewat papan namanya: “Warung Malang Indonesia”.

“Tunggu bentar ya.”

Mbak sekar tampak akrab dengan penunggu warung dan beberapa pengunjung yang ada di sana. Aku tersenyum kecil melihat isi warung yang tak beda jauh dengan toko kelontong di Indonesia pada umumnya.

“Eh, Sekar, suwi nggak kethok, Rek, golek opo arepan?” tanya perempuan penjaga warung dengan logat Jawa Timur yang kental.

Ono kaset lagu progresif anyar gak?”

“Walah, mbuh, Rek, golekono dhewe, nek gak ono judule yo bengung golekine. Dandananmu soyo ayu, Rek. Jenengmu wes gak Indra maneh ta?” lanjut si penjaga warung sambil tertawa cekikinan.

Indra? Well, gaydar saya mulai memancarkan sinyal! Mbak Sekar cuma tersenyum saja menanggapi gurauan si penjaga warung. Tak lama, ia pun pamit dan mengajak saya ke halte bus terdekat.

Sudah jadi rahasia umum, memang, kalau banyak buruh migran di Hong Kong adalah lesbian. Entah yang benar-benar meyakini hal itu lewat proses kesadaran diri yang panjang, atau sekadar mengikuti tren semata. Banyak yang menganggap mereka “tertular” oleh pekerja perempuan asal Filipina yang kebanyakan memang punya kekasih sesama pekerja perempuan.

“Aku pernah nulis novel, sebenarnya sih cuma di diary aja awalnya,” kata Mbak Sekar membuka percakapan saat bus mulai melaju menyusuri ruas jalan utama Macau.

“Tentang apa, Mbak?” tanyaku penasaran.

“Yah, tentang keluarga, tentang pernikahanku yang berantakan, sampai akhirnya aku memutuskan kerja di luar negeri. Dari kecil, aku ngerasa dianaktirikan oleh orangtua. Yang disayang cuma adikku aja. Pas sudah menikah dan punya anak, suamiku selingkuh waktu aku kerja di Singapura. Sempat berusaha baikan lagi, tapi nggak bisa. Akhirnya aku mutusin untuk balik kerja ke luar negeri, ke Hong Kong terus ke sini. Awal-awal di sini penampilanku nggak begini. Makanya tadi orang di warung manggil aku Indra,” cerita Mbak Sekar sambil mengeluarkan hand phone-nya dari dalam tas.

Aku tersenyum sembunyi-sembunyi. Entah takdir entah apa hingga aku bertemu dengan mbak yang satu ini, yang bisa bercerita dengan lancarnya kepadaku, orang asing yang belum tiga jam ditemukannya di alun-alun Macau. Cerita tentang jati diri yang kutahu tidak akan mudah dibaginya.

“Ini fotoku dulu,” lanjut Mbak Sekar sambil menyodorkan handphone-nya kepadaku.

Di layarnya kulihat foto Mbak Sekar dengan style yang sangat kontras dengan gayanya sekarang. Sosok dengan rambut ala Mitha The Virgin yang dicat biru, kemeja kotak-kotak, sepatu army look, lengkap dengan tumpukan gelang dan kalung. Membuat saya teringat beberapa “buthcy kecil” yang sering saya lihat berseliweran di Stasiun Kota.

“Kelihatan beda banget, ya?” tanya Mbak Sekar sambil berpaling pada saya. Saya cuma bisa tersenyum.

“Aku dulu jadi rebutan cewek-cewek, lho. Malah ada yang sampai berantem gara-gara aku,” ucapnya lagi.

“Yang bener, Mbak?” tanya saya sepenuhnya penasaran.

“Iya. Kalau di sini, yang tampilan begini biasanya punya nama cowok, namaku dulu Indra. Mungkin aku awalnya karena ngerasa kecewa sama keluarga dan suami aja,” jelasnya.

“Kenapa sekarang berubah feminin, Mbak?”

“Nggak tau ya, capek aja bergaya cowok,” jawabnya sambil tertawa. “Di sini banyak sih yang kayak begini. Tapi sebenarnya nggak seperti yang dibayangin orang-orang. Kita begini bukan cuma ngejar hubungan di tempat tidur kok. Apa ya, lebih ke rasa butuh seseorang yang bisa jadi sandaran di negeri orang yang jauh dari saudara. Kita ngerasa butuh tempat curhat dan teman yang selalu bisa diandalkan. Ya ada juga sih yang lebih ngejar ke hubungan seksual, tapi nggak semua begitu,” terangnya mengalir begitu saja.

Saya merasa Mbak Sekar seperti ingin mengkontra anggapan di luar sana tentang hubungan lesbian di antara pekerja migran Indonesia  di Hong Kong dan Macau. Entah mengapa ia bisa begitu saja bercerita pada saya. Penampilan saya biasa saja, jauh dari kesan androgini atau feminin. Saya jadi teringat celetukan partner saya yang menganggap kadang kala saya seperti punya magnet yang membuat perempuan menyemut di sekitar saya. Hiperbolis!

(Bersambung)

@Rafilus Olenka, SepociKopi, 2012

  

Tags:

12 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.