Community and Travelling: Sepotong Roti dari Macau-3
Tulisan sebelumnya : Sepotong Roti dari Macau
Kami pun kembali menyusuri Senado Square menuju ke halte bus.
“Mampir sebentar ke warung Indonesia nggak apa-apa kan? Ada kaset buat dance yang mau kucari.”
“Oke, Mbak, nggak masalah.” Warung Indonesia? Saya jadi penasaran.
Kami lalu berbelok ke sebuah gang kecil dengan penjual sayuran di kanan-kirinya, sampai akhirnya saya bisa mengenali warung yang dicari lewat papan namanya: “Warung Malang Indonesia”.
“Tunggu bentar ya.”
Mbak sekar tampak akrab dengan penunggu warung dan beberapa pengunjung yang ada di sana. Aku tersenyum kecil melihat isi warung yang tak beda jauh dengan toko kelontong di Indonesia pada umumnya.
“Eh, Sekar, suwi nggak kethok, Rek, golek opo arepan?” tanya perempuan penjaga warung dengan logat Jawa Timur yang kental.
“Ono kaset lagu progresif anyar gak?”
“Walah, mbuh, Rek, golekono dhewe, nek gak ono judule yo bengung golekine. Dandananmu soyo ayu, Rek. Jenengmu wes gak Indra maneh ta?” lanjut si penjaga warung sambil tertawa cekikinan.
Indra? Well, gaydar saya mulai memancarkan sinyal! Mbak Sekar cuma tersenyum saja menanggapi gurauan si penjaga warung. Tak lama, ia pun pamit dan mengajak saya ke halte bus terdekat.
Sudah jadi rahasia umum, memang, kalau banyak buruh migran di Hong Kong adalah lesbian. Entah yang benar-benar meyakini hal itu lewat proses kesadaran diri yang panjang, atau sekadar mengikuti tren semata. Banyak yang menganggap mereka “tertular” oleh pekerja perempuan asal Filipina yang kebanyakan memang punya kekasih sesama pekerja perempuan.
“Aku pernah nulis novel, sebenarnya sih cuma di diary aja awalnya,” kata Mbak Sekar membuka percakapan saat bus mulai melaju menyusuri ruas jalan utama Macau.
“Tentang apa, Mbak?” tanyaku penasaran.
“Yah, tentang keluarga, tentang pernikahanku yang berantakan, sampai akhirnya aku memutuskan kerja di luar negeri. Dari kecil, aku ngerasa dianaktirikan oleh orangtua. Yang disayang cuma adikku aja. Pas sudah menikah dan punya anak, suamiku selingkuh waktu aku kerja di Singapura. Sempat berusaha baikan lagi, tapi nggak bisa. Akhirnya aku mutusin untuk balik kerja ke luar negeri, ke Hong Kong terus ke sini. Awal-awal di sini penampilanku nggak begini. Makanya tadi orang di warung manggil aku Indra,” cerita Mbak Sekar sambil mengeluarkan hand phone-nya dari dalam tas.
Aku tersenyum sembunyi-sembunyi. Entah takdir entah apa hingga aku bertemu dengan mbak yang satu ini, yang bisa bercerita dengan lancarnya kepadaku, orang asing yang belum tiga jam ditemukannya di alun-alun Macau. Cerita tentang jati diri yang kutahu tidak akan mudah dibaginya.
“Ini fotoku dulu,” lanjut Mbak Sekar sambil menyodorkan handphone-nya kepadaku.
Di layarnya kulihat foto Mbak Sekar dengan style yang sangat kontras dengan gayanya sekarang. Sosok dengan rambut ala Mitha The Virgin yang dicat biru, kemeja kotak-kotak, sepatu army look, lengkap dengan tumpukan gelang dan kalung. Membuat saya teringat beberapa “buthcy kecil” yang sering saya lihat berseliweran di Stasiun Kota.
“Kelihatan beda banget, ya?” tanya Mbak Sekar sambil berpaling pada saya. Saya cuma bisa tersenyum.
“Aku dulu jadi rebutan cewek-cewek, lho. Malah ada yang sampai berantem gara-gara aku,” ucapnya lagi.
“Yang bener, Mbak?” tanya saya sepenuhnya penasaran.
“Iya. Kalau di sini, yang tampilan begini biasanya punya nama cowok, namaku dulu Indra. Mungkin aku awalnya karena ngerasa kecewa sama keluarga dan suami aja,” jelasnya.
“Kenapa sekarang berubah feminin, Mbak?”
“Nggak tau ya, capek aja bergaya cowok,” jawabnya sambil tertawa. “Di sini banyak sih yang kayak begini. Tapi sebenarnya nggak seperti yang dibayangin orang-orang. Kita begini bukan cuma ngejar hubungan di tempat tidur kok. Apa ya, lebih ke rasa butuh seseorang yang bisa jadi sandaran di negeri orang yang jauh dari saudara. Kita ngerasa butuh tempat curhat dan teman yang selalu bisa diandalkan. Ya ada juga sih yang lebih ngejar ke hubungan seksual, tapi nggak semua begitu,” terangnya mengalir begitu saja.
Saya merasa Mbak Sekar seperti ingin mengkontra anggapan di luar sana tentang hubungan lesbian di antara pekerja migran Indonesia di Hong Kong dan Macau. Entah mengapa ia bisa begitu saja bercerita pada saya. Penampilan saya biasa saja, jauh dari kesan androgini atau feminin. Saya jadi teringat celetukan partner saya yang menganggap kadang kala saya seperti punya magnet yang membuat perempuan menyemut di sekitar saya. Hiperbolis!
(Bersambung)
@Rafilus Olenka, SepociKopi, 2012










Menghitung hari lagi buat nungguin cerita di macau ini. Hmm…, jangan2 mesti nunggu 2 minggu lagi krn ada libur idul fitri. #huhuhu…:’(
aaaaawwwww……. bersambung… lagi ? Aku kesal dengan cerita ini karena membuatku berhenti menunggu lanjutannya….. apalagi yang sesion ini… bner2 perjuangan ni buat nungguin….
Aduh, nanggung bgt neh .
Mesti nggu seminggu lagy deh. . ;(
tuch kan,bersambung lagi….
alamak..!!
G ngerti bahasa jawanya..hihi –”
Nunggu sambungan nya lagi,tapi emang bener sih di hongkong migran nya kbnykn lesbian,termasuk teman aku yg sampai merrid di hongkong dan dandanan nya yang bikin org” iri,keren abis
aku juga mau ke hongkong
lnjut aja … biar ga bkin pnasaran…
Makanya susah jaga kamu
Proud of you girl
saya belum membaca isinya, tapi nama penulisnya membuat saya tertarik untuk mencumbu tiap lekuk aksaranya. sangat Budi Darma.
dan saya pun terpaksa menikmati kerinduan untuk bersua kembali dg kemolekan rerumpun aksara Rafilus Olenka.
Btw dmna ya saya bs temui komunitas ini… Jd pnasaran
ya disini!
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, kita kerap mendengar bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Pepatah bijak itu bahkan tegas mengatakan merugilah orang yang kualitas hari kemarinnya sama saja dengan hari ini dan celaka jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Pernahkan kita bertemu teman lama yang rasanya dari zaman mIRC sampai era Whatsapp masih berkutat dengan masalah itu-itu saja? Atau justru orang tersebut adalah diri sendiri?
Lesbian, kehidupan yang berkualitas seharusnya ibarat meniti tangga, terus bergerak dan melangkah lebih tinggi. Pada posisi yang lebih tinggi seharusnyalah kita berhadapan dengan masalah yang lebih menantang. Itu sebabnya SepociKopi menganggat tema ini, untuk mengingatkan kita semua untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam bidang apa pun yang kita tekuni.
Lesbian, bulan ini juga kita memperingati hari Pendidikan Nasional. Pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku untuk mendewasakan manusia. Tidak ada cara lain untuk meraih kehidupan yang lebih baik selain terus dan terus mendidik diri. Selamat menikmati didikan SepociKopi untuk seluruh pembaca setia. Peluk dan cium buat semuanya.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 65 queries. 0.634 seconds.