Home » L'Amour

L’Amour: Surat Untuk “E”

Submitted by on 12/08/2012 – 1:54 pm11 Comments | 3,050 views

Oleh: Pitos Latos

Kamu mulai mengemasi barangmu. Tak ada yang ingin kamu lewatkan. Mengemasi semua, merapikannya dalam setiap kardus, lalu mengeceknya lagi. Aku hanya diam di sudut ruangan, memperhatikanmu. Diam tapi penuh kecamuk di dalam hati. Kamu tidak tahu. Mungkin tidak akan pernah tahu gejolak ini. Sesekali kuhirup nafas panjang, mencoba menenangkan diri.

“Yang ini kayaknya sudah beres”, suaramu terdengar begitu riang. “Pulang kampung! Puji Tuhan aku sudah kangen sekali dengan rumah!” Kamu memang sangat bahagia. Bagaimana tidak, aku tahu rindumu yang membuncah.

Empat tahun lebih merantau ke Pulau Jawa untuk menempuh kuliah. Meninggalkan keluargamu, sahabat-sahabat terbaikmu, dan masih banyak orang yang kamu sayangi dan juga menyayangimu. Aku yang selalu mendengar keluh-kesahmu tentang beratnya hidup sendiri tanpa mengenal siapa pun, waktu itu aku hanya berkata, “Kamu orang yang baik, supel, dan ceria. Begitu melihatmu orang pun akan suka dengan pembawaanmu. Wajahmu juga cantik. Bersabarlah sebentar, tidak lama lagi kamu akan menemukan banyak teman”.  Saat itu kamu hanya menghela napas. Tapi tidak butuh satu minggu, benar adanya. Kamu bahkan menjadi salah satu Maba (Mahasiswa baru) terpopuler di kampus.

“Mbak tahu di mana Mr. Polongku?” tanyamu membuyarkan lamunanku. Aku bangkit berdiri dari dudukku. Menghampiri meja belajarmu dan mengambil boneka hijau bulat yang kita namai Mr. Polong karena berbentuk seperti kacang polong tetapi memiliki dua tangan, dua kaki pendek, dan kumis tebal yang lucu. Aku menyodorkannya padamu. “Kenapa tak tampak olehku, bah!” Kamu berseru riang dengan logat Batak-mu. Aku tersenyum dan hanya mengangkat bahu.

Mr. Polong, boneka yang kuberikan padamu. Hadiah pertamaku, untukmu, di hari ulang tahunmu yang ke-19. Teringat betapa bingungnya aku saat itu. Mau beli kado apa ya buat kamu. Yang terpikir olehku hanya sesuatu yang lucu. Tapi kamu suka apa? Aku tidak tahu pasti.

Saat itu kita baru sebulan kenal gara-gara karena aku yang mengospek kamu. Masih ingatkah bagaimana pertemuan pertama kita? Rambutmu saat itu masih pendek. Dari sekian banyak Maba, entah mengapa kamu langsung menyita perhatianku. Sampai saat ini pun aku tidak tahu sebabnya. Yang jelas aku hanya ingin bisa dekat denganmu.

“Mbak! Mbak kok pendiam sekali? Biasanya cerewet?” Untuk kesekian kalinya kamu membuyarkan lamunanku.

Tersenyum sekilas. “Aku cuma kepikiran mungkin kita nggak akan ketemu lagi.” Senyummu pudar. Wajahmu mulai murung. “Eh! Jangan sedih… Maaf ya… Padahal kamu dari tadi sudah senang banget. Maaf, sudah bikin kamu sedih…” Menyesal rasanya membuatmu bersedih. Ucapanku telah menghapus senyumanmu. “Hei! Senyum dong, Elen… Muka galau gitu. Macam ABG pula bah!” rayuku, sambil menirukan logat Batak-mu.

Kamu tertawa. Kamu selalu mengejekku habis-habisan setiap aku menirukan logat Batak-mu. “Mbak ini tak ada bakat bicara macam orang Batak…”

Aku balas tertawa. Senang melihatmu ceria kembali. Kutepuk pundakmu pelan. “Nanti kalau aku punya uang banyak, aku boleh ya main ke Samosir?”

Dia tertegun, lalu tersenyum. “Iyalah! Nanti biar aku saja yang jadi tourist guide-nya”.

Kami tertawa, bersama.

Malamnya ketika aku sudah pulang ke kosku, kuambil secarik kertas dari laci dan mulai menulis.

26 Juli 2012. 9:45pm

Surat untuk “E”—yang mungkin tidak akan pernah kaubaca.

Teruntuk kamu yang selalu tersimpan di hati.

Mengenalmu mengubah hidupku. Kau perempuan pertama yang membuatku jatuh cinta dan berkali-kali patah hati. Cukuplah aku saja yang tahu. Bersamamu membuatku bahagia, tapi juga tersakiti karena perasaan yang menyesak di hati. Seperti sedang meminum susu yang dibubuhi racun sedikit demi sedikit. Pada akhirnya aku juga yang mati. Cukup aku saja yang merasakannya.

Karna kamu aku belajar, dan mengerti, bahwa tidak semuanya bisa kita miliki. Termasuk keinginanku untuk selalu memilikimu.

For my beautiful girl, aku berharap suatu saat nanti, Tuhan masih mengijinkan kita bertemu. Saat aku bisa sepenuhnya bahagia untukmu. Saat tidak lagi rasa sakit karena diam-diam mencintaimu.

HP-ku tiba-tiba berbunyi. Ada SMA masuk. Kulihat nama yang tertera di layar. Kubuka dan kubaca. Isinya, “2morrow ada wktu? Temani beli buku bs?
Sender by: Evi

Selamat jalan, Elen. Entah kapan bisa bertemu lagi. Lagu untukmu kali ini dari Maudy Ayunda—Perahu Kertas.

@Pitos Latos, SepociKopi, 2012

Tags: ,

11 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.