Home » Humaniora

Jeleknya Menjelek-jelekkan

Submitted by on 04/08/2012 – 9:30 am6 Comments | 808 views

Oleh: Yasmin

Manusia suka menjelek-jelekan dirinya sendiri. Yang berada dalam kelompok suka menjelekkan kelompoknya sendiri. Perhatikan kalimat ini: “Dasar orang Indonesia, nggak pernah bisa antre!” ucap seseorang yang 100% berkewarganegaraan Indonesia. Yang mengucapkan seolah-olah sudah pernah men-survey ke semua negara dan mengetahui dengan pasti bahwa warga negara-negara itu selalu antre, kecuali warna negara Indonesia. Oh my!

Pernah dengar warga kota tertentu yang menjelek-jelekkan lalu lintas di kotanya? “Makassar itu kota yang lalu lintasnya paling semrawut,” kata salah satu penduduk asli kota Makassar ketika saya berkunjung ke sana. Anehnya, kalimat yang sama juga saya dengar ketika bertandang ke Palembang dan Surabaya serta di beberapa kota lain, dikeluhkan oleh orang daerah itu sendiri. Aaaah… jadi yang “paling” itu yang mana sih? Belum ada yang melakukan penelitian, kan? Atau mungkin ada, tapi pastinya bukan pihak yang mengungkapkan pernyataan itu yang punya datanya, bukan?

Mengapa ya kita suka menjelek-jelekkan kelompok kita sendiri? Menurut pengamatan saya, kalimat menjelek-jelekkan kelompok sering terlontar sebagai ungkapan merendahkan diri, serta ungkapan keputusasaan bahwa sifat jelek tertentu tidak bisa diperbaiki, dianggap memang sudah dari sononya.

Saya lebih senang mendengar atau membaca slogan “budayakan antre” atau “harap antre” dan sebagainya, walaupun kedengarannya klise, namun dari kalimat itu terungkap makna, masih ada harapan untuk memperbaiki sifat jelek orang-orang yang tidak suka antre.

Atau, daripada mengeluh dan menyindir, “dasar orang Indonesia, tidak pernah bisa antre” tanpa didengar pelakunya, lebih baik menegur langsung orang yang nggak antre itu dengan kalimat manis: ”Maaf, Pak, silakan antre dari sebelah sana,“ sambil menunjukkan jalur antrean.  Ditegur begitu, biasanya pelaku terus malu dan mau mengantre. Ngomongnya bisa sambil tersenyum, daripada ngedumel pakai wajah cemberut dan nggak berani kalau didengar pelakunya pula. Coba deh perhatikan, ngedumel atau menyindir agak keras dan terdengar si pelaku penyerobot antrean justru lebih berpotensi jadi berantem lho.

Demikian pula dengan masalah kesemrawutan lalu lintas. Ketika mengeluh “lalu-lintas di kotaku paling semrawut,” bisa saja berarti yang mengucapkan tidak apa-apa jika ikut andil dalam kesemrawutan itu.

Sebenarnya masih ada peluang melawan kesemrawutan itu dengan memulai keteraturan dari diri sendiri. Berharap dan berpikir positif bahwa bukan kita satu-satunya yang melawan dengan aksi nyata, melainkan ada beberapa orang di luar sana. Atau setidaknya aksi kita telah menular kepada orang lain, hingga akhirnya lalu lintas pun jadi teratur.

Salah satu contohnya, misal di sebuah perempatan yang kacau, dengan lampu lalu lintas yang tak dihiraukan pengguna jalan yang lain, upayakan tetap mematuhi aturan. Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, ya tetap saja berhenti dan menunggu sampai hijau, walaupun mobil lain di depan melakukan pelanggaran, walaupun mobil lain di belakang mengklakson-klakson mendesak agar kita ikutan melanggar. Bergeming saja, ikuti peraturannya.

Anehnya, ini menurut pengamatan saya ya, hal berbeda terjadi di kalangan kelompok yang mengandung unsur fanatisme anggota kepada kelompok/komunitasnya, termasuk lesbian. Adakah lesbian yang menjelek-jelekkan lesbian sendiri? Kayaknya sih enggak.

Lesbian jarang menjelek-jelekkan kelesbianannya, bahkan justru menyuarakan sisi positifnya sebagai lesbian, seperti yang sering dikumandangkan di komunitas SepociKopi. Lesbian dan pintar, lesbian dan berkarier, lesbian dan mandiri,  lesbian berinvestasi, dan sebagainya.

Namun berbeda bila lesbian berada di kalangan hetero. Ketika kita sebagai lesbian berada di kelompok hetero dan mereka membicarakan tentang lesbian, diiringi ucapan yang menjelek-jelekkan, bagaimana coba?

Kadang, kalau saya dalam posisi itu saya sering kali diam. Bukan diam pembenaran. Tapi saya diam tanpa mengeluarkan kata apa pun dan beranjak dari kelompok itu. Ini terjadi karena memang sudah terjadi stigma buruk lesbian di kalangan hetero. Berkaitan dengan norma, agama dan sering kali juga berkaitan dengan salah kaprah sifat-sifat jelek personal lesbian yang sudah mendarah daging dan dimaknai sebagai sifat jelek lesbian secara umum. Ya itulah stigma.

Kadang-kadang bisa sih menyuarakan pembelaan atau pendapat kontra, tapi saya masih lihat-lihat kalangannya dan siapa orang-orang yang sedang terlibat. Syukur-syukur saat bisa mengambil kesempatan itu, saya berusaha menjelaskan dengan ringan tanpa terlihat coming out kalau saya lesbian.

Terlepas dari menjelek-jelekkan diri sendiri/kelompok sendiri atau dijelek-jelekkan kelompok lain, prinsip utamanya tetap berlaku: pilihan terbaik adalah memelihara sikap positif. Bagaimana akan berubah baik kalau tidak melakukan aksi atau untuk mengubah hal yang jelek. Menjelek-jelekkan diri sendiri atau kelompok bukanlah bagian aksi dari perubahan, tapi hanya keluhan yang tidak lebih dari omong kosong. Menjelek-jelekkan diri sendiri tidak akan membuat kita lebih baik. Menjelek-jelekkan orang lain pun tak juga akan membuat kita menjadi lebih baik dari orang/pihak yang dijelek-jelekkan. Mending membaik-baikkan, bukan?

Yasmin, SepociKopi, 2012

 

  

Tags: ,

6 Comments »

  • melon says:

    tp kl menurut peringkat kebobrokan negara2 di dunia…emang Indonesia ‘pantes’ ko…ahahahahaha

  • mira says:

    Lesbian.
    Begitulah minoritasnya. Mereka ‘mayoritas’ enggan kenal lebih dalam. Seolah tau segalanya. Seperti ‘mayoritas’ itu tidak memiliki negatif sama sekali. Menang kuantitas bukan berarti bisa tindih minoritas.

    Mudahnya kebahagiaan itu sesimpel menilai negatif pada orang ya. heran.

    Hidup positif!

  • Samuraii says:

    Waduh ada org Makassar yg ngomong gitu..cckck..padahal lalu lintas di Makassar gak semrawut” banget kayaknya.. Makassar kota damai cinta keteraturan.. Ayo berwisata ke Makassar..hhaha..jadi promosi :p..

  • Sya syka says:

    Setuju kak yas.. Dr pada menjelek2kan lebih baik diam

  • Alice Virgo says:

    Hahaha artikelnya menohok sekali. Saya dulu juga sering ngomong begitu, tapi setelah sering baca-baca website yang penuh orang asing saya baru sadar bahwa semua orang merasa negerinya yang “paling.” Orang Amerika bilang hukum di negara mereka paling bobrok, orang-orangnya paling menyebalkan, HAM paling tidak diakui, tapi orang Meksiko dan Indonesia pun bilang hal yang sama. Jadi sekarang kalau saya udah mau mikir yang “paling,” saya langsung teringat bahwa di negara lain pun ada orang yang juga sedang memikirkan yang “paling” tersebut.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.