Home » Telezkop

te.Lez.kop: The Loneliness of Being Lonely

Submitted by on 02/08/2012 – 2:50 pm17 Comments | 872 views

Oleh: Alex

Ada hari ketika kita dihunjam kesepian yang amat sangat,  jam-jam hampa yang terasa sangat lama. Kesepian yang  begitu memekakkan telinga hingga kita bisa mendengar degup jantung kita sendiri. Makhluk bernama kesepian itu menyelinap perlahan merasuk ke dalam hati dan bersarang di benak kita. Dia membelenggu ingatan kita dalam ruang yang mengisolasi. Bagaikan momok, kesepian itu melekat memerangkap kita di dalamnya.

Kepedihan terbesar dari kesepian bukannya kesendirian, tapi karena begitu banyak kisah dan kenangan dalam benak kita yang ingin kita bagi bersama seseorang. Dan tak ada seseorang yang bisa kita ajak berbagi di sana. Kenangan dan kisah itu bertumpuk, menyesaki kita hingga rasanya melumpuhkan.

Kita melakukan berbagai perjalanan, bertemu dengan manusia-manusia lain untuk menghilangkannya tapi kesepian itu tetap mengintai. Karena kesepian tak berkaitan dengan kesendirian, kita bisa saja merasa kesepian di tengah keriuhan. Jadi percuma saja mencari pelarian dari pertemuan dengan sahabat maya maupun nyata karena kesepian itu berasal dari dalam diri kita.

Kesepian adalah emosi manusia yang terdalam. Ketika kesepian muncul, tubuh memberi sinyal pada otak kita bahwa kita membutuhkan kontak dan manusia lain. Dunia zaman sekarang dengan interaksi dunia maya yang tinggi juga persahabatan sosial media dengan Facebook dan Twitter ternyata menyisakan rongga amat dalam di hati kita. Kita makin jarang bertemu manusia lain. Dan jika kita bertemu, kita sibuk dengan gadget dan sosial media kita. Sibuk meng-update status sehingga membuat pertemuan pun terasa hambar.

Ratusan teman di FB dan Twitter tidak menjamin kita tidak kesepian. Kita terkoneksi dengan beragam jaringan, tapi tak terkoneksi dengan diri kita sendiri. Banyak lesbian yang terbelenggu kesepian amat sangat  karena tak bisa berbagi kisah dirinya dengan sahabat dekat. Bahkan tidak jarang yang menjurus ke depresi. Kemudian dia pun mencari. Menjelajah mencari sahabat lesbian yang kemudian digenggamnya erat-erat takut tak bisa menemukan lagi orang yang bisa diajak berbagi cerita.

Ia pun terus mencari, pacar dan sahabat yang lebih banyak, untuk mengisi gelisahnya itu. Tapi ketika pulang, yang didapatinya hanya kesepian. Kesepian itu tetap menggerogotinya, membuatnya gelisah uring-uringan. Bagaimana kamu membunuh kesepian jika dia ada di dalam dirimu?  Malah mungkin kesepianlah yang membunuh kita lebih dulu, lewat malam-malam sunyi ketika jiwa kita disilet mimpi buruk dan sulit tidur, perlahan-lahan menumpukkan beragam penyakit ke fisik kita.

Saya tidak punya jawaban atas pertanyaan, “Bagaimana cara menghilangkan kesepian kita?” Yang punya jawabannya adalah diri kita sendiri. Bagaimana membuat diri kita nyaman dengan rasa sepi? Bagaimana kita keluar dari belenggu itu. Saya bisa saja menjawab, “Bersosialisasilah, pelihara hewan, atau cari kegiatan positif.” Tapi semua kembali ke subjektivitas kita sebagai individu… Bagaimana cara kita hidup dengan kesepian itu.

Saya sendiri juga subjek dari kesepian. Ada kalanya saya tak sanggup turun dari ranjang ketika dibelenggu rasa sepi yang menyesakkan itu.  Ada jam-jam mengerikan antara pukul dua dan empat pagi yang melumpuhkan sekaligus menajamkan seluruh indra saya. Dan saya berusaha memeluk rasa itu, bukan melawannya. Menerimanya sebagai bagian dari diri saya. Berhasil? Ada kalanya tidak.

Kita kesepian karena kita ingin kesepian dan kita sendiri yang menjadikan diri kita kesepian. Akan tetapi, bagaikan rasi bintang yang terhubung, manusia-manusia yang kesepian saling terkoneksi di alam raya ini. Dan ketahuilah wahai kamu yang kesepian, bahwa kita tidak sendirian.

@Alex, SepociKopi, 2012

  

Tags: , ,

17 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.