Home » FabuLezlyCool, Humaniora

FabuLezlyCool: The Way to the Top

Submitted by on 25/07/2012 – 9:00 amOne Comment | 943 views

Oleh: bE

Mencapai puncak sebenarnya impian semua orang dan itu hal yang sangat wajar. Termasuk para lesbian. Kita pasti tidak mau terus-terusan stagnan di posisi yang itu-itu saja tanpa ada kemajuan yang signifikan entah dari segi material dan spiritual.

Namun meskipun tujuan yang ingin diraih kurang lebih sama, ternyata cara yang dilakukan bermacam-macam. Masing-masing orang memilih cara yang dirasa paling sesuai untuk bisa mengantarkannya ke puncak, dan aku coba menguraikan tiga di antaranya:

1. Mendompleng orang lain

Kita pasti pernah menjumpai orang yang di dalam usahanya untuk bisa meraih posisi di puncak tidak segan-segan memanfaatkan orang lain yang lebih berpengaruh. Punya partner yang tenar di suatu bidang, maka lantas ikut mendompleng dengan harapan mendapat kemudahan dan memuluskan jalannya untuk mencapai puncak. Seperti parasit yang tidak segan mengisap kehidupan inang yang ditumpanginya agar bisa bertahan.

Aku tidak bilang bahwa orang yang suka mendompleng keberhasilan orang lain tidak memiliki kemampuan apa-apa, namun sering kali mereka terlalu malas dan beranggapan bahwa berusaha dan berjuang untuk meraih sesuatu hanya buang energi dan waktu. Oleh sebab itu dari pada bersusah-susah, mereka lantas memilih jalan pintas ini. Memanfaatkan pertemanan dengan lesbian berpengaruh lalu mendomplengnya.

Yang harus dijadikan pertanyaan utama adalah: apakah setelah mencapai puncak dia akan bisa merasakan kepuasan yang sama dengan orang-orang yang berhasil karena ketekunan dan kerja keras sendiri? Karena kenyataannya tidak ada keberhasilan yang bisa diraih dalam satu malam. Selain itu, apa mau terus-terusan jadi lesbian yang disepelekan di mana-mana karena cap tukang dompleng sudah menempel di dahi? Mau terus-terusan jadi lesbian parasit?

2. Menjegal dan menginjak orang lain

Dalam mencapai puncak tidak jarang kita harus menghadapi dan terlibat di dalam persaingan yang sengit dan hal itu sah-sah saja jika dilakukan dengan cara yang sportif dan kreatif.

Yang jadi masalah adalah jika persaingan itu dilakukan dengan cara yang tidak sportif, saling jegal bahkan menginjak orang lain untuk bisa naik ke puncak. Jika diibaratkan mutiara yang memiliki kilau masing-masing, maka kita lantas ingin terlihat berkilau dengan cara membuat mutiara lain buram.

Contohnya di dunia kerja. Kita mulai menyebarkan isu bahkan fitnah tentang lawan ’politik’ kita, hanya agar kita bisa mendapat porsi yang lebih besar untuk menggapai puncak keberhasilan. Sedangkan sebagai atasan tidak jarang kita membuat aturan yang menindas para bawahan. Semua itu dilakukan hanya demi nama dan lampu sorot di panggung megah. Bahkan di lingkungan lesbian juga pasti ada jenis persaingan tidak sehat seperti itu. Para ;esbian saling mengancam atau menyebarkan kabar jelek lesbian lain terkait kelesbianannya untuk memuluskan jalan masing-masing.

Apa sih yang sebenarnya dicari jika untuk menggapai puncak kita berdiri di atas penderitaan dan rasa sakit orang lain? Betapa banyak rasa sakit yang sangat ingin mereka tuntaskan. Pembalasan. Jika situasinya seperti itu, maka apakah setelah di puncak kita bisa merasa tenang? Mungkin untuk sementara kita bisa menyombongkan diri dengan kemampuan bermanuver, tapi ingatlah semua yang kita tanam akan berbuah, dan di kemudian hari kita jualah yang harus memanennya.

Apakah siap ditinggal sendirian di puncak yang dingin penuh onak?

3. Mendukung dan menumbuhkan orang lain

Hm… Bagaimana bisa kita menggapai puncak jika yang kita tumbuhkan adalah orang lain? Bukankah sewajarnya kita yang bertumbuh semakin tinggi sehingga bisa menggapai puncak?

Sebenarnya ini sama prinsipnya ketika kita mengajari orang lain. Bukan hanya satu orang yang belajar. Ketika mengajari orang lain, jangan pernah takut nantinya kita akan dikalahkan atau kecerdasan kita akan berkurang. Kita malah akan menjadi lebih ahli setiap kali kita mengajarkan sesuatu karena terjadi pengulangan. Sesuai dengan ungkapan ’Practice makes perfect’.

Jadi, ketika kita mendukung dan menumbuhkan orang lain, maka secara otomatis kita juga akan ikut bertumbuh. Keahlian yang kita miliki akan semakin terasah. Seperti pisau tajam yang akan semakin tajam jika diasah.

Misalnya di dunia yang kita jalani setiap hari entah itu kuliah, kerja dan pertemanan. Jadilah teman belajar yang sepenuh hati membantu teman di saat kesulitan dengan pelajarannya. Jadilah atasan yang tidak pelit ilmu agar bisa menciptakan kader-kader baru (agar bisa naik pangkat juga hehe). Jadilah sahabat yang bisa meningkatkan kualitas hidup teman agar menjadi pribadi yang lebih baik. Yakinlah, semua itu akan terbayar.

Hal itu juga bisa langsung kita lihat secara nyata di komunitas yang luar biasa ini. Para pendiri dan kontributor SepociKopi selalu berupaya mendukung dan menumbuhkan mental, semangat, dan wawasan para lesbian. Apakah semua itu hanya berakhir sia-sia? Lihat sendiri buktinya. Terjadi regenerasi yang berkesinambungan di komunitas ini yang diikuti inovasi yang tidak main-main pula. Sudah berapa banyak muncul lesbian yang berwawasan luas namun tetap rendah hati berkat oase ini?

Sebenarnya masih banyak cara lain yang belum aku sebutkan di sini, namun intinya kurang lebih sama. Selanjutnya tinggal kita memilih. Untuk bisa menggapai puncak apakah kita mau jadi tukang dompleng, tukang jegal atau pemberi kehidupan?

Pilihannya di tangan kita masing-masing.

@bE, SepociKopi, 2012

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.