Home » Telezkop

te.Lez.kop: Ruang Yang Memerdekakan

Submitted by on 19/07/2012 – 8:09 pm14 Comments | 1,330 views

Oleh: Alex

Salah satu pasangan lesbian favorit saya adalah Susan Sontag dan Annie Leibovitz. Dua perempuan luar biasa, yang satu adalah penulis, kritikus, esais dan satu lagi fotografer hebat. Mereka menjalin hubungan hingga dipisahkan maut, sejak tahun 1980-an sampai  kematian Sontag tahun 2004. Susan Sontag dan Annie Leibovitz tinggal di apartemen yang berseberangan di New York, dan bisa saling melihat apartemen yang lain tanpa tinggal bersama. Membaca informasi ini dalam obituari Susan Sontag membuka mata saya tentang gagasan kebebasan dan ruang dalam cinta.

Konon, jatuh cinta berjuta rasanya. Rasanya ingin bisa bersama sang kekasih sepanjang waktu. Seperti ada efek adiksi untuk berdekatan selalu dengannya. Kondisi ingin selalu berdua ini tidak jarang melumpuhkan sosok pribadi kita sebagai manusia utuh.  Kita kehilangan minat melakukan hobi dan apa yang dulu kita lakukan saat sendirian. Bahkan sering kali bisa jadi kita berubah kepribadian. Kalau dulu penggemar anjing, bisa jadi fans kucing karena kekasih baru ternyata peliharaannya kucing.

Saat terpisah, BBM, SMS, teleponan adalah sesuatu yang wajib sifatnya. Ada lho teman saya yang teleponnya harus “on”  waktu mereka berjauhan, bahkan si pacarnya ikut mendengarkan ketika teman saya itu rapat.  Saat mendengar ceritanya, saya hanya bisa melongo, dalam hati berkata, “Nggak sehat banget sih? Apa nggak stres ya pacaran ala ‘satpam’ gini?” Akhirnya tiga bulan kemudian mereka putus. Alasannya, nggak kuat dicemburui terus-menerus.

Pada awal hubungan kelihatannya barengan terus itu romantis, lama-lama nih pacar kok clingy dan cemburuan sih? Enam bulan pertama dalam hubungan adalah masa bulan madu. Tapi di tahap ini juga, jika kita mau saja meluangkan sedikit waktu untuk mendengarkan nalar kita, biasanya logika dan nalar  memantulkan gema jika hubungan tersebut ujungnya tidak beres. Kadang kita terlalu dibutakan cinta untuk bisa melihat dengan dengan fokus pada masa ini.

Hubungan yang sehat itu semestinya tidak saling bergantung. Kalau mau makan aja harus ditemenin melulu, bisa mati kelaparan lho nanti… atau ya versi nggak lebaynya adalah sakit maag. Ke mana-mana harus diantar, aduh, mau cari pacar atau sopir sih?  Mau ngapain pun harus berdua, malah ada yang bajunya kembaran. *kriikk. Pacar kan bukan mesin penyambung hidup, yang kalau  dilepas dari kita bisa membuat kita mati.

Hubungan yang sehat itu harus saling  memberi ruang. Ruang bagi masing-masing pihak untuk melakukan aktivitas mereka sendiri tanpa dicemburui. Bukan yang setiap satu jam wajib lapor lokasi  dan keberadaannya. Pacar, bagaimanapun, bukan milik kita.  Kita justru mencintai dirinya karena awalnya dia adalah pribadi yang utuh. Tidak ada hubungan yang sempurna. Dan berpasangan tidak menjadikan kekasih kita  atau diri kita sempurna karena keberadaan yang lain. Namun kita bisa menjadi diri yang sempurna bagi diri kita sendiri.

Setiap makhluk hidup butuh ruang untuk tumbuh. Begitu pun suatu hubungan, karena bagaimanapun hubungan adalah makhluk hidup yang memiliki nyawanya sendiri, diberi oksigen dan air dalam bentuk  cinta kita. Tanpa adanya ruang, masing-masing pihak tak bisa  tumbuh dan berkembang dengan baik. Kamu tidak bisa jadi kekasih yang lebih baik dengan kebersamaan bak kembar siam itu. Malah bisa jadi cinta itu jadi hubungan yang memerangkap kita dan membuat kita sesak di dalamnya.

Cinta sejati itu buta, tapi punya indra perasa. Mengikatnya tanpa ruang untuk berkembang akan membunuhnya. Ujungnya kalau terus-menerus seperti ini, adalah munculnya rasa bosan. Apa lagi yang bisa kita bagi dengan pasangan jika kita selalu melulu bersama?  Lama-lama individu yang ada di dalam diri kita akan mati.  Biarkan pasangan kita (sesekali) punya momen bahagia tanpa kita, demikian pula sebaliknya. Biarlah dia membagi momen bahagianya dengan kita, dengan semangat menggebu dan kerlip matanya yang lucu ketika menceritakannya.

Berapa banyak pasangan lesbian yang berada dalam hubungan “wajib lapor” seperti yang disebutkan di atas? Atau tinggal bersama namun setelah bertahun-tahun malah seperti tak punya identitas pribadi masing-masing dan jadi membosankan.  Walau sudah bosan setengah mati, alasan mereka mempertahankan kebersamaan adalah karena kenangan dan ikatan emosi dan terbiasa bersama.  Duh, kok rasanya menyedihkan sih?  Membayangkan itu, setelah dipikir-pikir, lucu juga kalau bisa “tinggal bersama” versi Sontag dan Leibovitz itu. Bersama namun ada jarak dan ruang yang mendekatkan kita dengan pasangan. Memandang kekasih dari jendela balkon apartemen dan menikmati cinta yang sudah belasan atau puluhan tahun dalam ruang yang memerdekakan.

“I want to be able to be alone, to find it nourishing – not just a waiting.”
-Susan Sontag, Reborn: Journals and Notebooks, 1947-1963

@Alex, SepociKopi, 2012

Tags: ,

14 Comments »

  • Orin says:

    Setuju bgt dengan artikel nya ka alex ini. Seharusnya cinta memberikan ruang. Love is freedom. Kita memberikan waktu dan ruang bagi pasangan kita untuk melakukan aktivitas yang ia inginkan dan membebaskan ia menjadi dirinya. Membebaskan ia menjadi dirinya yg lebih baik yg terbaik. Seperti kata ka alex, makhluk hidup butuh ruang untuk hidup.. Nah mungkin kita suka lupa ama hal yg satu ini. Ketika kita memberikan pasangan ruangnya, kita juga bisa menggunakan ruang kita untuk menjadi diri yg lebih baik. Meningkatkan kualitas diri kita juga sendiri,hehe.. Maap jadi sok tau tp saya hanya bertekad bulat dan berniat tulus untuk mengingatkan, mari kita selalu tingkatkan kualitas diri kita :D *nyegir kuda super lebar* hehe

  • whiteyli says:

    Ajibbb bgt niy tulisan…seseorang kudu baca ini niy ;)..so simpel yet deep,kl udah g comfort tinggal bareng dan cm nyakitin satu sama laen hidup sendiri jg g ada slhnya…yg penting lakukan yg terbaik untuk diri sendiri dan keluarga :)

  • Gia says:

    Hallo semua.. :)
    Aku seneng bisa baca banyak artikel disini. Dan jujur untuk artikel kali ini sedikit banyak bikin aku berpikir ulang mengenai hubunganku dengan dia yang jauh disana. Kadang rasanya wajar, karna jarak memisahkan dan hanya handphone sebagai alat komunikasi yang paling praktis, aku selalu ingin dia punya waktu. Sebal rasanya ketika dia tidak adil. Tidak dapat memberikan ‘jatah waktu’ untukku. Jadi mungkin aku terkesan seperti ‘wajib lapor??’ padahal ngga gitu maksud aku. Haha. Loh kok jadi curcol?? :p
    Okei, yang pasti buat kak alex makasih ya buat tulisannya. Semoga aku bisa lebih baik lagi kedepannya. :D

  • mira says:

    Ini artikel pertama yang kubaca dari situs ini. Ini juga mengubah pandanganku secara keseluruhan atas isi situs. Tulisan ini sebenar-benarnya isi maksud saya yang susah buat diomongin.

    ah~
    Terimakasih banyak ya,

  • Stranger Annie says:

    Alex,

    Aku harus angkat topi untuk tulisan kamu yang ini. Luar biasa banget buatku kata-kata sederhana kamu rangkai menjadi tulisan yang sangat enak dibaca, mudah dimengerti dan tepat sasaran.

    Aku setuju banget deh dengan isi paragraf ketujuh: Setiap makhluk hidup butuh “ruang” untuk “tumbuh”. Ini maknanya dalam lho, Lex. Semoga mereka yang membacanya bisa menarik hikmah dari tulisan ini.

    Great Alex!

  • Kim says:

    @parikesitn1nna @amy TRUE LOVE SETS YOU FREE WITH MAKE A LITTLE SPACE.. :D
    Thanks for ur article alex :*

  • Amy says:

    Setuju bgt ma ka alex :D make a little space

  • arajuna says:

    Kebebasan itu seperti pisau brmata dua.

    Yg penting rasa tanggung jawabny aj. Manusia bs berubah.

  • Adette says:

    Ouch!
    Artikel Alex kali ini menohokku bangeettt.. ^^

    Makasih banyak untuk pencerahannya, ya.

  • parikesit n1nna says:

    Mantanku dulu freak out waktu aku bilang, “kalo tinggal bersama, aku gak mau satu kamar berdua.” kadang i need to be me myself in sanity, clarity, peace and serenity. Meski udah jalan bersama lama dgn partner sekarang, masih belum ada progress berarti untuk rencana tinggal bersama, berdua. Yang ada malah sama teman2 jg, not only the two of us. Salut sama mereka yg saling menjaga kebebasan, true love sets you free.

  • bE says:

    Like this. Bukan hanya yg LT bisa terperangkap hubungan wajib lapor. Yg LDR juga. Oleh karenanya masing2 memang wajib punya ‘me time’ dan memahami konsep manusia utuh jd gak disalah artikan saat ‘absen lapor’ hehe.

    Emangnya udah pasti partner yg rajin laporan lebih setia?

  • @reshitta says:

    Bener juga sih , kita harus mengasih ruang buat ku dan pasanganku.
    Tapi , aku berbeda.
    hampir setengah hari aku dan psanganku selalu bersama.
    Aku anak kos yg slalu gk betah kalo lama2 diem dikosan , sedangkan pasangan aku anak rumah.
    Tp pasangan aku gk pernah betah jg tinggal dirumah..
    Gimana-gimana aku sm pasanganku tiap hari kluar bersama..
    Aku jadi takut pasangan ku lama2 bosan kalo aku sm dia bertemu setiap hari.
    Kalo akunya sih , gk pernah bosan sm pasangan ku :)
    Trs apa yg aku lakuin ??

    #eh jadi curhat =))

  • vera says:

    Asyik bangets kalau bs punya hubungan spt mreka yah, minimal bs lihat update an status pasangan di media social atau bbm aja udah senang, smentara masing2 sibuk dgn aktifitas rutinnya dan cuma ktemuan di akhir minggu, maklum punya pasangan yg punya keluarga :)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.