L’Amour: Sleeping Kiss
Matanya tampak terpejam, lampu kamar pun sudah ia matikan sejak satu jam yang lalu. Mataku pun terpejam, tapi aku belum tidur. Aku masih ingin merasakan keberadaannya di dekatku dengan sadar. Kumiringkan posisi tubuhku agar leluasa memperhatikan sosoknya di kegelapan kamar. Kubetulkan letak selimut yang menutupi tubuh kami berdua.
Meski ingin membelainya agar ia tahu aku masih menjaganya, tapi aku tidak berani menyentuhnya, entah kenapa. Aku hanya diam, berpura-pura tidur. Aku bisa menghirup aroma tubuhnya dan merasakan ketenangan. Paduan aroma sampo, sabun mandi, dan sabun muka yang kami pakai sebelum naik ke tempat tidur.
Mataku yang sudah beradaptasi dengan suasana gelap kini mampu melihat jelas raut khas seseorang yang sedang berpetualang di dunia mimpi, walau aku harus mencuri-curi kesempatan dengan sedikit membuka kelopak mataku.
Lalu aku pura-pura terbangun dengan mimik lelah. Kuusahakan gerakan sehalus mungkin, agar ia tidak terganggu oleh pengamatan nggak penting yang kulakukan di tengah malam seperti ini. Kupikir-pikir, untuk apa aku membuat mimik seperti ini, toh dia sekarang sudah terlelap. Tapi aku takut ia juga berpura-pura tidur seperti yang kulakukan. Aku malu kalau sampai ketahuan diam-diam memandanginya.
Aku meraih handphone-ku yang terletak di meja lampu di balik punggungnya. Jam di handphone-ku menunjukkan pengamatanku sudah berlangsung selama 15 menit sejak ia memejamkan matanya. Perlahan kuletakkan handphone-ku kembali.
“Sayang, kamu belum tidur?” ucapnya lembut. Sontak tubuhku berhenti bergerak sebelum kepalaku sempat menyentuh ke bantal. Kan, apa kataku? Ia masih belum benar-benar tertidur. Aku canggung dengan perasaan campur aduk. Aargh…
Belum sempat aku menjawab, tampaknya matanya sudah terpejam lagi. Sepertinya ia benar-benar tertidur, bukan berpura-pura sepertiku. Mungkin karena lelah bersenang-senang seharian bersamaku di Gelanggang Samudra tadi siang, memanfaatkan momen weekend setelah seminggu sibuk di kampus dengan urusan masing-masing. Aku pun kembali merebahkan tubuhku ke posisi semula dan kembali mengamatinya. Membiarkan tubuhnya beristirahat.
Sosok yang tengah terpejam di sebelahku, adalah perempuanku. Perempuan yang begitu sabar mencintai seorang andro yang manja sepertiku. Ia memang tidak pernah mengucapkan kata-kata cinta secara terbuka, tapi aku bisa merasakannya. Mungkin terkesan terlalu pede, tapi sikap dan perlakuannya yang membuat aku berpikir seperti itu.
Jarak kami sudah begitu dekat sekarang, hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Jantungku bahkan berdetak lebih kencang dari semenit yang lalu, saat tiba-tiba ia bergerak mengubah posisi tidurnya menghadapku. Aku bisa merasakan embusan nafasnya yang teratur membelai pori-pori wajahku, menyusup ke memoriku dan kusimpan rapi di sana. Rasanya aku terhipnotis irama nafasnya, benar-benar menenangkan. Ingin segera kutemui ia di alam mimpi.
Baru setengah kesadaranku terbuai, ketika ada gerakan yang kembali membuatku tersadar. Perempuan itu mengeser tubuhnya semakin dekat. Hidung kami bersentuhan. Meski tersadar aku tak membuka mata, dan kembali sibuk mengatur degupan jantungku. Ia menempelkan bibirnya di bibirku. Ya, hanya menempelkan, tapi bisa membuatku seperti terserang demam. Ah, harusnya tadi aku yang memulainya, bukan dia. Tapi kubiarkan ini berlangsung, aku tetap pura-pura tertidur.
Semenit berlalu, aku mulai merasakan embusan nafasnya menderu. Adrenalinku meningkat. Inilah ciuman pertama semenjak kami bersama-sama selama tiga bulan ini. Membuatku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak berdaya. Bukankah seharusnya aku yang melakukannya? Menciumnya lebih dulu? Ah, sepertinya aku tidak harus memperdebatkannya di saat seperti yang justru bisa merusak mood-nya.
Aku menarik tanganku yang sejak tadi berada di antara tubuh kami, kuletakkan ke atas tubuhnya memeluknya seperti guling, seolah aku masih terlelap. Dia mendadak berhenti, tapi bibirnya masih menyentuh bibitku. Aku bisa merasakan kekesalannya aku bergeming, tidak bergerak dan merespons apa yang ia lakukan.
Memang di matanya aku sosok andro yang cuek, nyebelin,dan manja. Tapi aku bersikap begitu hanya karena ingin terus diperhatikan olehnya. Aku senang saat berhasil mempermainkan emosinya, melihatnya cemberut dan tiba-tiba tersenyum kembali saat aku mengusap kepalanya.
Belum sempat aku membalas perlakuan manisnya tadi, tiba-tiba ia menggigit lembut bibirku, membuatku bertingkah seperti seseorang yang kaget dalam tidur. Ternyata dia benar-benar kesal. “Yang, kamu ihh…” desisnya lirih.
“Ehmm, dari tadi aku belum tidur kok, Sayang.” Aku langsung memeluknya.
Ucapanku tampaknya membuat ia semakin kesal tapi ia tetap tenang di pelukanku. Aku berhasil memberanikan diri menyentuhnya malam itu, memeluknya, memberikan kenyamanan terhadapnya, menunjukkan rasa sayangku dengan sikap, bukan sekadar kalimat yang terucap, seperti yang ia tunjukkan dan ia lakukan terhadapku.
@Gitara, SepociKopi, 2012










weitss mantap tu hehehehe
aiih jadi kangen dipeluk partner
just that?? aaargh nanggung ceritanya
tapi keren,bikin aku deg2an jg bacanya :p
Jadi mupeng ih
masih hangat2nya tuh, saya jg ma pacar sebelum tdr pasti ciuman dl sebelum tdr dan itu membuat makin nyenyak tdr..apalagi aksi kuda2an yg berikutnya terrealisasi, . .makin enak tdr. pacar mmg org yg plg mengerti aku.
Walah.. Jadi pengen..
Dag dig dug duer jantungku..
Panas dingin bacanya, pengen di cup cup muach muach juga.. Hehe..
eaa berasa baca penggalan fanfic
aaaiih… jadi kangen yayank ne….
nggak bisa dapat ciuman pengantar tidur
duuuh so sweet bangetz jd kpengen dpeluk dbelai dcium
Hikz…jd kangen ang_ku… ;(
Great writing! Enjoy sekali bacanya. Bener-bener membawa emosi dan memberi kehangatan di hati
Serasa baca preview novel.
ketika dulu dia sedang kesal padaku, sering diam-diam aku melihat parasnya dan mencuri kesempatan mengecup keningnya dan pura-pura tidur waktu Ndoro Putri (Tuan Putri) mengulet.
So sweet,jadi kangen kekasih ku yg mungkin sudah terlelap.crita nya romantis
Hiks.kangen mantan
Two thumbs up
Baca cerita ini aku malah tiba2 nangis sendiri, rasanya ada sesuatu yang hilang. Galau deh, keingetan masa yang menyenangkan sama dia walaupun sekarang (‘dipaksa’) terpisahkan oleh jarak.
Keingat masa lalu yg gak mngkin terulang kembali
so sweet. . .
debar jantung mnderu…manis…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, kita kerap mendengar bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Pepatah bijak itu bahkan tegas mengatakan merugilah orang yang kualitas hari kemarinnya sama saja dengan hari ini dan celaka jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Pernahkan kita bertemu teman lama yang rasanya dari zaman mIRC sampai era Whatsapp masih berkutat dengan masalah itu-itu saja? Atau justru orang tersebut adalah diri sendiri?
Lesbian, kehidupan yang berkualitas seharusnya ibarat meniti tangga, terus bergerak dan melangkah lebih tinggi. Pada posisi yang lebih tinggi seharusnyalah kita berhadapan dengan masalah yang lebih menantang. Itu sebabnya SepociKopi menganggat tema ini, untuk mengingatkan kita semua untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam bidang apa pun yang kita tekuni.
Lesbian, bulan ini juga kita memperingati hari Pendidikan Nasional. Pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku untuk mendewasakan manusia. Tidak ada cara lain untuk meraih kehidupan yang lebih baik selain terus dan terus mendidik diri. Selamat menikmati didikan SepociKopi untuk seluruh pembaca setia. Peluk dan cium buat semuanya.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 62 queries. 0.878 seconds.