Home » L'Amour

L’Amour: Sleeping Kiss

Submitted by on 15/07/2012 – 10:00 am21 Comments | 5,291 views

Oleh: Gitara

Matanya tampak terpejam, lampu kamar pun sudah ia matikan sejak satu jam yang lalu. Mataku pun terpejam, tapi aku belum tidur. Aku masih ingin merasakan keberadaannya di dekatku dengan sadar. Kumiringkan posisi tubuhku agar leluasa memperhatikan sosoknya di kegelapan kamar. Kubetulkan letak selimut yang menutupi tubuh kami berdua.

Meski ingin membelainya agar ia tahu aku masih menjaganya, tapi aku tidak berani menyentuhnya, entah kenapa. Aku hanya diam, berpura-pura tidur. Aku bisa menghirup aroma tubuhnya dan merasakan ketenangan. Paduan aroma sampo, sabun mandi, dan sabun muka yang kami pakai sebelum naik ke tempat tidur.

Mataku yang sudah beradaptasi dengan suasana gelap kini mampu melihat jelas  raut khas seseorang yang sedang berpetualang di dunia mimpi, walau aku harus mencuri-curi kesempatan dengan sedikit membuka kelopak mataku.

Lalu aku pura-pura terbangun dengan mimik lelah. Kuusahakan gerakan sehalus mungkin, agar ia tidak terganggu oleh pengamatan nggak penting yang kulakukan di tengah malam seperti ini. Kupikir-pikir, untuk apa aku membuat mimik seperti ini, toh dia sekarang sudah terlelap. Tapi aku takut ia juga berpura-pura tidur seperti yang kulakukan. Aku malu kalau sampai ketahuan diam-diam memandanginya.

Aku meraih handphone-ku yang terletak di meja lampu di balik punggungnya. Jam di handphone-ku menunjukkan pengamatanku sudah berlangsung selama 15 menit sejak ia memejamkan matanya. Perlahan kuletakkan handphone-ku kembali.

“Sayang, kamu belum tidur?” ucapnya lembut. Sontak tubuhku berhenti bergerak sebelum kepalaku sempat menyentuh ke bantal. Kanapa kataku? Ia masih belum benar-benar tertidur. Aku canggung dengan perasaan campur aduk. Aargh…

Belum sempat aku menjawab, tampaknya matanya sudah terpejam lagi. Sepertinya ia benar-benar tertidur, bukan berpura-pura sepertiku. Mungkin karena lelah bersenang-senang seharian bersamaku di Gelanggang Samudra tadi siang, memanfaatkan momen weekend setelah seminggu sibuk di kampus dengan urusan masing-masing. Aku pun kembali merebahkan tubuhku ke posisi semula dan kembali mengamatinya. Membiarkan tubuhnya beristirahat.

Sosok yang tengah terpejam di sebelahku, adalah perempuanku. Perempuan yang begitu sabar mencintai seorang andro yang manja sepertiku. Ia memang tidak pernah mengucapkan kata-kata cinta secara terbuka, tapi aku bisa merasakannya. Mungkin terkesan terlalu pedetapi sikap dan perlakuannya yang membuat aku berpikir seperti itu.

Jarak kami sudah begitu dekat sekarang, hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Jantungku bahkan berdetak lebih kencang dari semenit yang lalu, saat tiba-tiba ia bergerak mengubah posisi tidurnya menghadapku. Aku bisa merasakan embusan nafasnya yang teratur membelai pori-pori wajahku, menyusup ke memoriku dan kusimpan rapi di sana. Rasanya aku terhipnotis irama nafasnya, benar-benar menenangkan. Ingin segera kutemui ia di alam mimpi.

Baru setengah kesadaranku terbuai, ketika ada gerakan yang kembali membuatku tersadar. Perempuan itu mengeser tubuhnya semakin dekat. Hidung kami bersentuhan. Meski tersadar aku tak membuka mata, dan kembali sibuk mengatur degupan jantungku. Ia menempelkan bibirnya di bibirku. Ya, hanya menempelkan, tapi bisa membuatku seperti terserang demam. Ah, harusnya tadi aku yang memulainya, bukan dia. Tapi kubiarkan ini berlangsung, aku tetap pura-pura tertidur.

Semenit berlalu, aku mulai merasakan embusan nafasnya menderu. Adrenalinku meningkat. Inilah ciuman pertama semenjak kami bersama-sama selama tiga bulan ini. Membuatku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak berdaya. Bukankah seharusnya aku yang melakukannya? Menciumnya lebih dulu? Ah, sepertinya aku tidak harus memperdebatkannya di saat seperti yang justru bisa merusak mood-nya.

Aku menarik tanganku yang sejak tadi berada di antara tubuh kami, kuletakkan ke atas tubuhnya memeluknya seperti guling, seolah aku masih terlelap. Dia mendadak berhenti, tapi bibirnya masih menyentuh bibitku. Aku bisa merasakan kekesalannya aku bergeming, tidak bergerak dan merespons apa yang ia lakukan.

Memang di matanya aku sosok andro yang cuek, nyebelin,dan manja. Tapi aku bersikap begitu hanya karena ingin terus diperhatikan olehnya. Aku senang saat berhasil mempermainkan emosinya, melihatnya cemberut dan tiba-tiba tersenyum kembali saat aku mengusap kepalanya.

Belum sempat aku membalas perlakuan manisnya tadi, tiba-tiba ia menggigit lembut bibirku, membuatku bertingkah seperti seseorang yang kaget dalam tidur. Ternyata dia benar-benar kesal. “Yang, kamu ihh…” desisnya lirih.

“Ehmm, dari tadi aku belum tidur kok, Sayang.” Aku langsung memeluknya.

Ucapanku tampaknya membuat ia semakin kesal tapi ia tetap tenang di pelukanku. Aku berhasil memberanikan diri menyentuhnya malam itu, memeluknya, memberikan kenyamanan terhadapnya, menunjukkan rasa sayangku dengan sikap, bukan sekadar kalimat yang terucap, seperti yang ia tunjukkan dan ia lakukan terhadapku.

@Gitara, SepociKopi, 2012

Tags: ,

21 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.