Home » wawancara

Ratih Kumala: Penulis itu Pekerjaan yang Egois

Submitted by on 09/07/2012 – 2:48 pm2 Comments | 1,124 views

Rabu malam 4 Juli 2012, Twitter SepociKopi berkesempatan ngobrol bareng seorang penulis perempuan hebat yang karya-karyanya bisa dibilang beragam. Tamu kita, Ratih Kumala, saat ini bekerja sebagai script editor di sebuah TV swasta, dan bulan Maret 2012 lalu baru meluncurkan novel terbarunya, Gadis Kretek. Ini adalah novelnya yang  keempat sejak berkarier  sebagai penulis tahun 2003, ketika novel pertamanya, Tabula Rasa, memenangkan hadiah ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta.

Ratih Kumala lahir di Jakarta 4 Juni 1980. Ia menyelesaikan studi dari Jurusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Selain menulis novel dan cerita pendek, Ratih juga menulis skenario untuk televisi. Saat ini ia tinggal di Jakarta bersama suaminya, penulis Eka Kurniawan, dan putrinya Kidung Kinanti Kurniawan. Ratih Kumala juga menjadi orang yang berjasa atas terbitnya kumpulan cerpen Un Soir Du Paris, di mana Ratih menjadi kurator kumpulan cerpen SepociKopi tersebut.

Dalam QASK bersama admin twitter @SepociKopi, Ratih Kumala berbagi soal karier dalam bidang kepenulisan. Yuk, kita simak obrolannya malam itu.

Selamat malam semua, malam ini aku akan ngobrol tentang menjadi penulis profesional. Dalam hal ini, aku termasuk penulis yang “kemaruk”, nggak cuma nulis cerpen, tapi novel dan skenario. Kadang juga menulis artikel dan blog. Keliatannya sih judulnya sama-sama “menulis”, tapi ada perbedaan besar antara cerpen, novel, skenario. Tiap jenis punya tingkat kesulitan beda.

Di Indonesia ada tradisi “cerpen koran”, kalau menulis cerpen rata-rata 4-7 halaman ketik. Kalau di luar negeri cerpen bisa lebih panjang. Sebenarnya menulis cerpen itu paling asyik untuk mengeluarkan ide-ide yang “nakal”, bisa eksperimen bentuk, dibikin yang realis sampai surealis juga oke.

Biasanya, kalau sudah ada idenya, satu cerpen bisa kutulis dari dua jam sampai semalaman.  Cari ide cerpen itu buatku paling mudah didapat. Dari hal-hal kecil, sampai hal-hal absurd bisa jadi ide yang asyik.

Cerpen bisa menyedot perhatian pembaca kalau bahasa tutur yang digunakan unik. Mau pakai diksi yang aneh juga tak akan melelahkan pembaca  karena pendek . Berbeda dengan novel, yang menurutku tidak terlalu bisa bereksperimen dengan bahasa tutur yang terlalu ribet, karena pembaca bisa capek.

Ingat! Novel itu panjaaang lho jadi kamu bisa bereksperimen dengan cerita. Menulis novel itu musuhnya bisakah konsisten dengan ide awalmu? Karena biasanya tergoda untuk mengerjakan ide baru yang mendadak muncul. Tapi, sekali kamu sudah menyelesaikan novel pertamamu, kamu akan merasa puas dan lega.

Dengan novel dan cerpen kamu bisa menulis sesuai dengan idelismemu. Ini beda banget dengan skenario. Skenario itu meskipun yang  ditulis di credit title namamu, tapi sebetulnya itu karya banyak orang. Dalam skenario ada banyak orang  yang terlibat, ada produser dan sutradara. Mereka orang-orang  yang mengeksekusi naskahmu menjadi film.  Produser dan sutradara berhak mengutak-atik skenariomu sampai menurut mereka oke.

Karena mereka mempertimbangkan hal-hal teknis, seperti keterbatasan lokasi shooting, pemain, dan (yang paling penting) biaya, maka penulis skenario harus berkompromi. Pada kenyataannya skenariomu takkan terealisasi jika hal-hal teknis itu tak mendukung. Sangat mungkin skenariomu gagal diproduksi.

Oya, kalau mau belajar nulis cerpen yang oke, belajar deh sama Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu, dua orang ini pemenang cerpen Kompas lho! Kalau mau belajar nulis novel yang oke, dewa saya Pramoedya Ananta Toer, Hikaru Okuizumi, dan Ben Okri.  Kalau mau belajar skenario di Indonesia ada Mas Jujur Prananto, Salman Aristo dan tim @serunya screenwriting.

Tiap jenis tulisan punya tingkat kesulitan masing-masing. Tidak berarti skenario yang ditulis berdasarkan pesanan tingkatnya rendah.  Tidak semua orang bisa, mampu, dan mau menulis skenario sinetron stripping. Karena butuh komitmen, tenaga, dan pikiran yang fokus.

Kalau aku disuruh memilih  di antara cerpen novel dan skenario, aku lebih suka menulis novel.  Tapi, sejujurnya, tingkat kesulitan paling besar buat saya adalah skenario. Karena dalam menulis skenario saya harus menolerir, bekerja sama, bahkan didikte orang lain.

Penulis itu pekerjaan yang “egois”, sangat “aku”. Tapi tidak jika menulis skenario, kecuali kamu mau membiayai sendiri filmmu. Tapi kalau kamu mau disebut penulis profesional,  ya kamu harus bisa bekerjasama dengan orang  yang memesan skenariomu.

Penulis di Indonesia itu sebetulnya masih sedikit.  Yang bisa benar-benar menulis, lebih sedikit lagi.  Yang profesional cuma segelintir.  Kalau kamu mau jadi penulis profesional, kesempatan untuk itu masih sangat terbuka lebar.

Karier kepenulisan itu tak bisa diberikan padamu. Tidak seperti kerja kantoran yang ada jenjang karier, sejak awal harus ada tujuan yang jelas:  Apa tujuanmu jadi penulis? Nulis untuk film layar lebar dapat Piala Citra? Nulis novel dan dapat penghargaan sastra? Atau apa? Tentukan dulu.

Kalau bingung mau jadi cerpenis, novelis atau penulis skenario, lebih baik dicoba dulu semua. Mana yang paling nyaman buatmu?  Kalau ternyata nyaman sama semua, ya tulis saja semua selama bisa membagi waktu.

 

Tanya-Jawab

Q1 @DebbyNiken:   ide-idenya dari mana dan meramunya seperti apa mbak?

Jawab: Ide bisa dari mana saja. Kamu bisa lihat sekelilingmu, baca buku dan nonton film untuk memancing ide. Jangan pernah takut kehabisan ide. Saya justru khawatir tidak punya kekuatan untuk mengolah ide yang melimpah ruah.

Q2 @vioUul Hikaru menurutku rada absurd… atau terjemahan bukunya yang buruk?

Jawab: Karya Hikaru “The Stone Cry Out”, menurut saya sangat powerful. Dia mau pembacanya “menjadi batu yang ingin berteriak”. Seperti itulah yang saya rasakan ketika membaca bukunya. Mungkin jenis karya dia nggak terlalu bisa dinikmati semua orang, ini masalah selera saja.

Q3 @_bianglala:  Bagaimana dapat menjaga alur, agar tetap konsisten, gak ke mana-mana.

Jawab: Kata kuncinya “disiplin” dan “fokus”, karena kalau nulis memang sering muncul ide di tengah-tengah. Kalau tidak fokus, ya kamu bakal tergoda untuk nulis ide baru padahal ide lama belum selesai. Alhasil, tak ada yang selesai. Lebih baik, kamu catat aja ide barumu, lalu kamu simpan. Kalau udah selesai yang satu, baru beralih ke yang baru.

Q4 @DebbyNiken:   untuk novel, roman sastra atau metropop, mb ratih lebih asyik nulis mana?

Jawab: Saya paling menikmati menulis novel roman sastra.

Q5 RT @rahasiabulan: Penasaran gimana cara @ratihkumala bagi waktu menulisnya.

Saya cukup beruntung, karena tidak tergantung waktu-waktu tertentu untuk bisa nulis. Mungkin karena sudah terbiasa. Saya bisa pindah dengan mudah dari menulis novel, lalu diseling skenario, setelah deadline lewat, saya nulis novel lagi. Tapi keadaan seperti ini tidak terjadi secara otomatis, perlu latihan. Pada awalnya saya mengalami writer’s block, tidak bisa menulis novel selama setahun.

Q6 @siNGACOdet: indah, dari setting Rusia-nya Tabula Rasa, dan imajinasi bau kretek setelah baca Gadis Kretek, seperti JK Rowling Indonesia. Cerita @ratihkumala itu kan biasanya pakai setting sejarah, yang dikembangkan pertama settingnya dulu atau ide cerita?

Jawab: Yang dikembangkan alur ceritanya dulu, baru sejarah bisa didapat pas riset di proses penulisan.

@Alex, SepociKopi, 2012

2 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.