Home » L'Amour

L’Amour: And I Had You

Submitted by on 08/07/2012 – 4:26 pm17 Comments | 2,977 views

Oleh: Pitos Latos

Satu bulan berlalu. Dipotong masa ujian akhir semester dan libur masa tenang sebelum ujian, totalnya sebulan tanpa Evi. Sekedar berpapasan di kampus saja tidak. Sepertinya jadwal kita berbeda. Huh… padahal kan kangen… Kalian pasti bertanya-tanya, di pertemuan terakhir kami kenapa aku tidak minta nomor HP-nya? Jawabannya karena aku terlalu gugup gara-gara dia masuk ke kelasku hanya untuk bertanya siapa namaku. Aku sampai nggak berani lihat mukanya. Jadi untuk sekedar ngobrol pun aku juga nggak berani. Mengecewakan ya? Iya, apalagi kalau tahu setelah itu kita tidak bertemu lagi.

Tapi hari ini aku berniat untuk lebih berusaha mengejar Evi. Kemarin aku sempatkan melihat jadwal kuliahnya di kantor jurusan Manajemen. Dan hari ini dia ada jadwal kuliah. Aku nggak ada jadwal kuliah, tapi demi dia aku bela-belain ke kampus di siang bolong.

Sesampai di kampus aku masih celingak-celinguk melihat sekitar siapa tahu aku bisa menangkap sosoknya. Kukerahkan “Radar Evi-ku” ke segala arah. Hasilnya nihil. Hmm… mungkin sudah masuk kelas ya? Bergegas aku menuju kelasnya. Kudapati kelas yang kosong. Kulirik jam tanganku, 12.45. Bukannya pas sama jam masuknya? Sekali lagi aku celingak-celinguk mencari-cari sosoknya. Hasilnya tetap nihil.

Kuubah radarku mencari teman seangkatannya. Ketemu! Kuhampiri dia dan bertanya, “Manajemen 2010, kan?” Cowok tengil ini melihatku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Hei, nggak bisa  lebih sopan ya? Tapi kupendam saja. Lebih penting buat mencari tahu tentang Evi walau sumbernya harus dari cowok seperti ini.

“Iya. Ada apa?” jawabnya centil sambil senyum-senyum sendiri.

Arrggghhh… sabar Pitos. “Emm… Kalau nggak salah anak Manajemen 2010 ada kuliah di ruang II kan hari ini?” Dia mengangguk tetap sambil tersenyum-senyum nggak jelas. “Terus, kok kelasnya kosong?”

Dia diam sebentar lalu menjawab, “Jadwalnya diganti, Mbak. Ini saya berangkat karena nggak ada yang kasih tahu kalau ada perubahan jadwal.”

Rasanya langsung kecewa. Hari ini pun berlalu tanpa Evi. “Oh, ya sudah. Makasih ya,” jawabku mencoba tetap ramah.

Tapi tiba-tiba dia berkata, “Mbak lagi nyari orang ya?” Aku yang sudah siap beranjak pergi menatapnya lagi. Kok dia bisa tahu? Bisa membaca pikiran?

“Kok tahu?” tanyaku curiga.

Sambil senyum-senyum dia menjawab, “Tahu dong. Kan yang Mbak cari itu saya.” Arrggghhh… Enough!

Sudah tidak ketemu Evi, malah ketemu cowok tengil yang nggak banget! Apa hari ini masih belum cukup buruk? Panas, haus! Aku pun berjalan ke kantin dengan gontai. Kebiasaan burukku, lama memutuskan mau beli apa. Jadi aku hanya berdiri di depan lemari es. Beberapa kali aku dipaksa minggir karena ada mahasiswa lain yang mau membeli minuman.

Aku masih berkonsentrasi memutuskan mau beli minuman bersoda atau teh saja. Tiba-tiba muncul tangan yang mengambil dua botol teh. Aku cuek saja. Tapi orang itu berkata, “Bingung ya? Yang ini saja. Aku yang traktir.”

Aku menoleh ke belakang, kudapati sosoknya dengan senyuman yang selalu membuatku meleleh. “Evi…” Alu melongo nggak percaya apa ini benar dia? Masak sih aku bisa seberuntung ini?

Dia menyadari kebingunganku. Di tempelkannya botol teh dingin itu ke pipiku. Rasa dingin merambat menyadarku otakku kembali. “Mbak, ini kan dingin. Tapi pipi Mbak kok langsung merah?” tanyanya sambil senyum-senyum jahil.

“Dingin bisa bikin pipi merah,” jawabku asal. Dia hanya tersenyum dan menyodorkan botol minuman itu padaku. Aku menerimanya. Kemudian dia mengajakku duduk di luar kantin.

Sekali lagi duduk di sampingnya membuat jantungku berdegup nggak keruan. Tapi kali ini aku nggak mau mengulangi kebodohan yang sama. Tanpa basa-basi kusodorkan HP-ku padanya. Dia melirik sekilas, dan tanpa banyak bertanya dia mengambilnya mengetikkan deretan angka. Kemudian dia menekan tanda call. Lagu dari Sky Sailing, Sailboats, mengalun dari kantong celananya. Dia lalu menekan tombol reject.

“Sekarang Mbak sudah punya nomorku. Jadi nggak perlu bingung nyari aku lagi.”

Sekilas teringat adegan jayus bersama cowok tengil tadi. Apa Evi bisa membaca pikiranku juga? Kuhindari pertanyaan kok tahu. “Aku nyari kamu?! Ah, perasaanmu saja.”

Dia diam sebentar lalu, “Hari ini Mbak kan nggak ada jadwal kuliah? Kenapa ke kampus? Kenapa juga tadi tanya ke temanku soal jadwal kuliah angkatanku?”

Diberondong pertanyaan begitu aku reflek menjawab, “Kok tahu?”

“Karena aku dari tadi ada di belakang Mbak. Aku tadi lihat Mbak di parkiran. Mbak kelihatan buru-buru. Aku kejar, ternyata Mbak ke kelasku. Aku lihat Mbak ngobrol sama Fikar. Terus aku tanya ke Fikar ngobrol apa sama Mbak. Setelah itu aku ngikutin Mbak ke kantin,” jelasnya.

“Jadi nggak ada yang kebetulan?” kataku perlahan.

“Kebetulan tetap ada. Kebetulan aku juga nggak tahu jadwal kuliah diganti. Tapi selebihnya karena aku juga mau ketemu Mbak.”

Kami berdua diam. Berusaha mencerna semua yang terjadi perlahan-lahan. Ketika lidah ini sudah tidak kelu, masih menatapnya, “Lain kali kalau mau ketemu janjian lewat SMS aja ya?” tanyaku.

Dia mengangguk. Tersenyum.

Nggak ada siang yang lebih indah dari siang ini.

@Pitos Latos, SepociKopi, 2012

  

Tags: , ,

17 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.