Home » Friendship, Humaniora

Mas Yoyok

Submitted by on 07/07/2012 – 9:58 am10 Comments | 1,578 views

Oleh: Yasmin

Beberapa waktu yang lalu, topik “I’ll go straight for…” merebak di SepociKopi. Bermula dari bercandaan Alex dan Fla di Twitter, dibawa ke milis dengan sahut-sahutan seru, kemudian dibawa lagi dan ditulis di website ini. Kalau teman-teman pada menjawab pria pujaannya artis dan bintang film Korea atau Hollywood, saya dalam hati menjawab, ” I’ll go straight for Mas Yoyok.” Hahaha. Siapa tuh?

Waktu saya duduk di bangku SMP, ada sesosok cowok yang sekelas dengan saya bernama Yoyok. Kami memanggilnya Mas Yoyok. Mengapa Mas? Karena dia kakak Ninik, teman sekelasku juga. Ninik selalu manggilnya Mas Yoyok, jadi kami ikut-ikutan. Mas Yoyok sebenarnya kakak kelas kami, tapi dia pernah nggak naik kelas, entah di kelas berapa, sehingga jadi sekelas sama adiknya dan saya. Bukan itu saja, sebenarnya lagi, Mas Yoyok sekelas dengan abangku sebelum dia tinggal kelas. Jadi gitu, hubungan saya dan Mas Yoyok dari beberapa arah.

Sebagai remaja galau orientasi seksual, saya tidak terlalu memperhatikan sosok Mas Yoyok. Saya lebih noleh ke cewek-cewek lucu, sambil bertanya-tanya kok saya begini ya, kok dia begitu ya? Gitu deh. Mas Yoyok berlalu begitu saja, posisinya hanya sebagai teman saya yang kakaknya Ninik dan teman abang saya.

Beberapa belas tahun kemudian, berlangsung reuni SMP. Saya datang, dan bertemu teman-teman lama, termasuk Mas Yoyok. Waktu itu saya sudah memantapkan diri sebagai lesbian dan punya pacar. Waktu itu juga umur kami sudah 30an, yang agak-agak penuh pertanyaan orang, kok belum menikah, mana pacarnya, dan sebagainya. Jadi wujud cowok tidak menarik perhatianku. Mas Yoyoknya sendiri  disebut-sebut sebagai cowok single di antara teman-teman yang pada sudah menikah dan punya anak. Tapi di pertemuan ini Mas Yoyok terlihat jelas di mata saya sebagai cowok yang paling baik di antara cowok-cowok yang waktu itu tidak saya mengerti di mana letak indahnya. Saya sempat bilang ke teman saya, Paula alias “Pol”, yang tahu kalau saya lesbian. Lalu begini tanggapannya, “Lu masih bisa sama cowok?” Mendengar tanggapan ini saya pun mengkeret, huh ya sudahlah saya jadi lesbian saja. Hahaha… ini apaan sih?

Waktu berlalu, pacar datang dan pergi silih berganti dalam kehidupan saya.  Hubungan saya dengan pacar seperti mengalami siklus yang sama, yaitu nyari, naksir, pdkt, pacaran, bosan, dia selingkuh, putus. Lalu berulang lagi, nyari, naksir, pdkt, pacaran, bosan, dia selingkuh, putus, begitu terus sampai berkali-kali. Lalu proses nyambung-putusnya agak berubah sedikit: nyari, naksir, pdkt, pacaran, bosan, saya putusin.

Aduh, saya ini makin tua makin tega sepertinya. Bosan dengan proses-proses itu, akhirnya saya melajang. Dalam waktu yang cukup lama. Proses asmara cuma dari jomblo ke naksir, kemudian redup, ya tetap jomblo sih, jomblo abadi.

Suatu hari, kami mengadakan reuni SMP lagi.  Kali ini saya jomblo dalam arti sebenarnya. Kami sudah pada tua. Yang sudah menikah, anak-anaknya bahkan sudah besar-besar.  Hanya Mas Yoyok beda sendiri, dia berstatus bapak seorang anak yang masih kecil.

“Mas, anakmu piro?” tanya saya, menanyakan anaknya sudah berapa.

Siji, satu. Masih kecil Yas, aku telat kawin soalnya, nggak laku-laku,” jawab Mas Yoyok. Lucu bener jawabannya.

Lalu setelah Mas Yoyok berlalu, saya didekati Paula, yang masih ingat kalau saya pernah “ngelirik” Mas Yoyok.

“Ngapain nanya-nanya Mas Yoyok?” tanyanya iseng.

“Pol, gue tuh kalo dipaksa jadi straight mau aja lho, asal kawinnya sama Mas Yoyok,” jawabku asal.

“Hahaha udah gue duga. Yoyok emang baik, sebenernya pas tuh sama elo, sama-sama Jawa. Tapi lu telat sih. Lo terlalu membesar-besarkan orientasi seksual elo. Lesbian dibesar-besarkan. Nah, sekarang mana cinta sesama perempuan yang dulu lo bela-belain. Nggak ada kan? Dan Yoyoknya sekarang udah kawin deh, udah punya anak,” cerocos Paula yang bikin saya makjleb. Bener sejuta persen nih anak! “Ya nggak tau juga sih kalo sama Yoyok lo langgeng apa enggak. Dia itu emang baik tapi sebenernya kurang pinter orangnya,” tambah Paula, mengingat Mas Yoyok yang pernah tinggal kelas.

“Iya sih, itu juga pertimbangan gue, selain Yoyok-nya juga nggak naksir gue. Hahaha. Tapi ya Pol, soal kurang pintar, harusnya hajar aja ya, toh teman-teman kita banyak yang cerai karena suaminya pintar tapi ternyata jahat, selingkuh, KDRT, jobless, de el el. Toh gue juga sama perempuan yang gue cintai akhirnya putus-putus juga,” jawabku antara asal dan serius. Pembicaraan pun berlanjut ke gosip-gosip teman yang cerai. Hallah…

Sebelum bergosip sebenarnya saya mau nerusin kalimat saya tadi. Nggak laki-laki nggak perempuan, cinta itu nggak ada yang abadi (ini berdasarkan yang saya alami ya), bukan cuma yang hetero yang cerai karena selingkuh, yang homo juga begitu. Sekadar menyisakan kisah asmara yang bukan milik kita lagi. Buat apa?

@Yasmin, Sepocikopi, 2012

Tags: , , ,

10 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.