Home » Have Your Say, Ibu, Sepocikopiana

Have Your Say: Jatuh-Bangun Kehidupanku

Submitted by on 06/07/2012 – 3:00 pm17 Comments | 3,189 views

Buat sebagian orang, lesbian adalah bawaan lahir, tapi buat sebagian yang lain, ada yang memilih mencintai perempuan setelah menghadapi kepahitan hidup karena ulah lelaki. Keluarga broken home, ayah yang kasar dan tidak setia, kekasih pria yang mendua di depan mata, dan lain sebagainya. Tapi siapa bilang kehidupan percintaan dengan perempuan juga selalu berbuah manis?  Mari dengar penuturan teman kita, Imeysa, yang jatuh-bangun urusan cinta, hingga menyadari ada yang lebih penting selain galau-urusan-pacar, yaitu pendidikan dan cinta dari sang bunda.

Aku perempuan superfeminin dan open minded di antara teman-temanku saat  SMA. Sehingga ketika Mel mengatakan bahwa dia sebenarnya tidak berpacaran dengan laki-laki, aku dengan santai mengatakan, “Sudahlah, Mel, cinta itu nggak pernah salah . Cinta nggak kenal jenis kelamin, kalau sama aku woles ajalah ya.” Mel bernafas lega dan mulai bercerita banyak tentang dunianya padaku.  Teman kedua yang mengaku pacaran dengan cewek adalah Antung, temanku dari SMP yang berpenampilan tomboi. Aku dan Antung  duduk sebangku sejak kelas 2 SMA sampai kelas 3. Walaupun aku bukan lesbian, beberapa kali aku dikenalkan dengan buchi yang suka denganku, tapi aku santai saja dan memilih berteman dengan mereka. Pengakuan ketiga muncul dari sepupuku sendiri, dia mengaku lesbian dan berpacaran dengan teman se-kosnya. Lagi-lagi aku maklum dan tidak menganggap masalah.

Saat itu aku tengah menjalin hubungan dengan cowok satu sekolah denganku. Hubungan itu sudah menginjak usia 3 tahun dan kami sudah merencanakan menikah. Tak pernah terpikir  kalau dia akan menyakitiku sama seperti  Abi  menyakiti Mamah…

***

Memang, keluargaku broken home. Sejak kecil aku sudah meliat Mamah kerja banting tulang sendirian dan dengan mata kepalaku sendiri pula aku menyaksikan Abi bermesraan dengan wanita lain. Itu sebabnya aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak butuh seorang abi! Aku, Mamah dan Abang berjuang habis-habisan agar tetap bisa sekolah dan kami memang berhasil mendapatkan beasiswa. Hanya yang kusayangkan adalah Mamah dan Abi rujuk. Itulah fase terberat dalam hidupku, saat  Abi memonopoli semua urusan di rumah termasuk teman-teman mana yang boleh berteman denganku.

Aku memang tidak supercantik tapi entah mengapa banyak sekali laki-laki yang mendekati, walaupun hanya sebatas SMS dan telepon. Tapi ada juga yang sampai berani datang ke rumah, bahkan ada yang sampai berkelahi. Aku sering heran dengan mereka yang berusaha mendapatkan hatiku, padahal aku takut kalau mereka ke rumah akan berakibat buruk karena memancing kemarahan Abi.

Puncaknya, seorang buchi, datang  ke rumahku. Abi sangat membencinya, karena menurut Abi itu sangat berpengaruh pada orentasi seksualku. Banyak sekali dari keluarga Abi yang lesbian dan mereka open. Abi memarahiku saat aku pergi dengan dan sepupuku ke komplek sebelah untuk menunjungi temanku. Aku ditelepon dan dipaksa pulang saat itu juga. Aku meminta sepupu untuk tetap ikut ke rumahku karena aku merasakan akan ada hal buruk terjadi padaku.

Abi memanggilku dan memintaku membuatkan teh. Aku pun menyiapkan air panas di gelas terlebih dahulu. Ternyata Abi datang dari arah belakang dan menyiramkan air panas di gelas itu ke badanku. Air panas itu mendesis di kulitku dan rasanya sangat sakit sekali. Aku menangis dan Cika, sepupuku, menarikku keluar dari rumah sementara Mamah menarikku masuk. Tapi Cika lebih kuat. Abi dan Mamah kembali cerai setelah bertengkar hebat dan menalak cerai mamah dengan talak 3. Mamah angkat kaki dari rumah dan aku di rumah tanteku. Aku senang dan lega lega dengan perceraian itu, juga terluka mengingat perasaan Mamah. Aku merasa bersalah. Aku ingin memeluknya saat itu tapi tidak memungkinkan.

Life must go onAku, Mamah dan Abang kembali menjalani kehidupan bersama, walaupun Mamah sering menerima terror dari Abi yang mengancam keselamatanku. Aku diantar-jemput berangkat  sekolah dan di masa sulit itulah aku menemukan laki laki yang kurasa bisa melindungiku. Tapi ternyata aku salah. Selama apa pun aku menjalani hubungan dengannya, tidak mencegahnya dari berselingkuh, bahkan anggota keluargaku sendiri melihat dia bersama perempuan lain. Malam itu juga aku mengakhiri hubungan. Aku malu, sakit hati dan terpuruk. Sempat aku meminta hubungan itu diperbaiki tapi dia menolak dan memilih selingkuhannya. Aku memilih mundur dan pelan-pelan membangun hidupku lagi.

Aku pun berkenalan dengan seorang buchi. Dia menguatkanku, menuntunku menjalani hari-hari yang berat. Meneleponku dan menemani saat tangisku meledak mengingat semua rasa sakit yang kualami. Tapi itu pun hanya sementara. Hanya sesaat setelah aku menyerahkan hatiku dan bisa tersenyum, dia pun membuatku jatuh dan kembali terpuruk.

Aku sempat berucap, aku benci pada tuhan yang tidak pernah membuatku bahagia. Kali ini, aku tidak mau berlama-lama. Aku kembali berkenalan dengan beberapa perempuan lain untuk melupakan kesakitanku, juga melupakan kehidupanku sebagai straight.

Hingga aku pun berkenalan dengan “R” buchi anak Jakarta lewat Twitter dan sering chatting via BBM, saat itu aku lagi patah hati (untuk kesekian kalinya dan sedang galau tralala-trilili) dengan kekasih yang kuanggap selalu mengabaikanku. Dia menguatkanku, datang bagai malaikat membawa kebahagian. Entah mengapa aku selalu mudah jatuh cinta pada orang yang bisa menguatkanku. Kami berpacaran LDR selama 2 bulan.

Sementara itu aku konflik dengan Mamah dan Abang. Karena untuk menghormati  garis keturunanku, Mamah sangat tidak setuju aku menjadi model. Aku sembunyi-sembunyi melakukan photoshoot dengan beberapa photografer dan hasil fotonya sampai ke tangan Abang. Aku dimaki habis-habisan dan aku disuruh berhenti kuliah. Aku mengiyakan, masuk kamar dan mulai mengepak keperluanku. Aku pun memesan tiket Banjarmasin-Jogjakarta untuk penerbangan esok paginya. Aku menjual smartphone-ku dan berangkat secara sembunyi-sembunyi, dibantu beberapa teman di Jogjakarta. Kemudian aku segera ke Jakarta karena “R” menyanggupi menanggung kehidupanku.

Di Jakarta aku mulai merasakan hidup bahagia, tapi aku tidak memikirkan perasaan Mamah dan Abang yang terluka dan merasa bersalah memakiku. Awalnya aku bekerja di salah satu toko retail, tapi “R” menyarankan agar aku bekerja di restoran Jepang yang dimanageri sahabatnya.  Aku tidak betah kerja di sana karena senior yang tidak ramah dan pekerjaannya yang berat hingga membuat tanganku bengkak. “Anak mami, anak manja!” itulah ucapan “R” saat aku resign dan dia menyuruhku pulang ke Banjarmasin.

Aku menelepon Mamah karena sangat tersinggung dengan ucapan “R”. Layaknya anak kecil yang megadukan perbuatan temanku pada Mamah, aku menceritakan semuanya. Mamah emosi dan langsung menyuruh om-ku yang di Bekasi menjemputku.  Namun  sekali lagi aku dan “R” baikan, dan “R” memintaku tidak pulang ke Banjarmasin karena sudah terbiasa denganku. Saat itu aku memaafkannya, tapi aku menolak permintaannya karena kepikiran Mamah dan kuliahku yang berantakan.

Aku memang anak manja, dan Mamah pun selalu menuruti kemauanku. Mamah bercerita kalau semua fasilitasku di Banjarmasin sudah dicabut Abi, termasuk soal transportasi ke kampus. Tapi Mamah bilang Abang masih menyanggupi semuanya walaupun tidak semewah dulu. Aku mengiyakan karena aku sangat ingin pulang dan mengakhiri penderitaan versiku.

Aku sedih ketika harus berpisah dengan “R” dan bukannya tidak menghargai semua pengorbanannya untukku selama aku di Jakarta. Tapi aku tak bisa terus-terusan begini. Demi kuliahku, aku harus pulang ke Banjarmasin. Hubungan jarak jauh kami tidak berlangsung baik bahkan “R” sering memutuskan aku secara sepihak, membuat aku terpuruk bahkan mulai melupakan kuliahku yang harusnya kuperbaiki.

Akhirnya kita sama-sama lelah dengan semuanya. Dia mengatakan padaku bahwa dia sudah punya kekasih baru dan bosan padaku. Di telepon aku hanya bisa terdiam lalu hanya meminta dia jaga diri dan kesehatannya baik-baik.

Kini aku sudah semester 4. Aku merangkak membenahi hatiku, membenahi kuliahku dan mencari sesuatu yang bisa menyenangkan hatiku sampai semua benar-benar pulih. Dan tulisan ini kubuat sebagai dedikasi dan permintaan maafku kepada Mamah dan Abang.

@Imeysa, SepociKopi, 2012

Tags: , ,

17 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.