te.Lez.kop: OUT!
Seminggu terakhir ini dua selebriti dunia coming out. Satu adalah Diana King, penyanyi asal Jamaica yang pada tahun 1990-an sempat terkenal dengan lagu pop-reggae “I Say a Little Prayer”. Melalui page Facebook-nya, Diana King menyatakan secara terus terang bahwa dirinya lesbian. Majalah Entertainment Weekly edisi 20 Juni 2012 menampilkan cover berjudul “The New Art of Coming Out in Hollywood”.
Kemudian di minggu yang sama, akhir pekan ini, pengakuan yang mengguncang dunia adalah pernyataan jurnalis/penyiar CNN, Anderson Cooper yang menyatakan secara terbuka, “The fact is, I’m gay.” Pernyataan itu disampaikan melalui e-mail pada Andrew Sullivan—jurnalis/blogger favorit saya—yang atas izin Mr. Cooper mempublikasikan pernyataan tersebut ke webnya di Thedailybeast.com. Anderson Cooper sejak lama memilih diam jika ditanya tentang kehidupan pribadinya. Namun, dia berubah pikiran ketika memutuskan untuk mengakui secara resmi apa yang sudah menjadi rahasia umum tersebut.
Recently, however, I’ve begun to consider whether the unintended outcomes of maintaining my privacy outweigh personal and professional principle. It’s become clear to me that by remaining silent on certain aspects of my personal life for so long, I have given some the mistaken impression that I am trying to hide something—something that makes me uncomfortable, ashamed or even afraid. This is distressing because it is simply not true.
Pernyataan Anderson Cooper di atas menyadarkan saya bahwa semakin kita diam, kita memberi kesan bahwa kita menyembunyikan homoseksualitas kita sebagai sesuatu yang tidak normal. Pernyataan bahwa diri mereka gay atau lesbian yang dilakukan orang-orang macam Anderson Cooper secara terbuka, atau samar ala Jodie Foster, memberi kekuatan pada kita semua, bahwa kita tak perlu malu menjadi lesbian.
Di belahan dunia lain, jumlah negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis makin meningkat. Jangan tanya di Indonesia kapan ya dilegalkan. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu seperti juga menjawab, kapan korupsi musnah di muka bumi ini. Akan tetapi perlahan tapi pasti keberadaan kita sudah mendapat validasi legal secara hukum di dunia ini, walau belum di negara kita sendiri.
Saya menyadari tidak semua orang bisa sesantai itu untuk mengakui secara terbuka di publik bahwa dirinya lesbian, apalagi di Indonesia. Namun mengaku atau tidak, tingkat kenyamanan menjadi diri kita sendiri harus kita tingkatkan. Kita tidak bisa lagi berharap “Biar aku sendiri hidup dalam lemari manisku, dan aku akan keluar jika dunia sudah lebih baik.” Seperti tulisan saya minggu lalu, “Kalau bukan kita sendiri yang melakukan sesuatu, siapa lagi?”
Tapi perlu diingat sebelum ingin lari ke mal dan mencium pasangan kita untuk menunjukkan eksistensi diri, public display affection bukanlah cara coming out yang baik. Bukan begitu caranya. Tempatkan diri kita ke posisi pemerhati, jika kita masih risi melihat pasangan (hetero/homoseksual) berkecipak-kecipuk kecup-kecupan atau peluk-pelukan sampai saling pangku di depan umum seperti sedang di club dan setengah mabuk, sebaiknya kita juga tidak melakukannya. Berprestasilah setinggi mungkin, capai karier jadi yang terhebat, lalu tunjukkan siapa dirimu. Seorang Anderson Cooper, jurnalis perang yang berprestasi, dengan menyatakan dirinya gay memberi secercah harapan bahwa kita jelas bukan pecundang. Gay/lesbian bukan sekadar penggila clubbing yang hidup di antara alkohol dan asap rokok, lalu membunuh pasangannya karena cemburu, yang selama ini sering diberitakan di media massa.
Namun sayangnya hate crime juga meningkat. Tanggal 22 Juni 2012, dua gadis muda pasangan lesbian ditembak di Texas. Satu meninggal, satunya lagi luka parah, pelaku belum tertangkap namun kemungkinan motifnya adalah kejahatan karena kebencian. Mungkin perlu satu generasi lagi ketika kaum LGBT tidak lagi menjadi objek atau sasaran kejahatan. Semakin banyak pengakuan publik yang dilakukan oleh mereka yang berprestasi akan membantu proses penerimaan masyarakat terhadap kaum LGBT. Akan ada masa nanti ketika kita hidup berdampingan dengan keluarga dan sahabat dekat kita yang setelah tahu kita lesbian berkata, “I love you anyway, no matter what.”
Coming out tidak perlu dengan gegap gempita. Tidak perlu dengan membunyikan genderang. Pikirkan masak-masak sebelum mengambil keputusan, lakukan dengan bijak setelah menganalisis baik-buruknya, jangan lakukan hanya karena emosi. Ingat, kita tidak bisa meng-undo pengakuan coming out kita. Ambil napas dalam-dalam, dan embuskan. Satu bisikan lembut di telinga sahabat. Kalimat pengakuan melalui chat. Twit tersamar penuh arti di akun social media kita. Dan pada akhirnya kita memulai suatu langkah kecil menuju dunia yang terbiasa dengan keberadaan homoseksual…. hingga akhirnya keberadaan kita menjadi sesuatu yang wajar adanya.
@Alex, SepociKopi, 2012










Setuju kak alex !
coming out? ga perlu coming out, biarkan mereka tau tanpa diiberi tau
yah kalo terang benderang, siap2 aja dengan FPI
Like this kk alex..
My fam know if im gay
N some my bestfriend
But i dont have a lot gay friend..
ttp ga gampang,ketika aku da coming out keluarga ku justru smakin nekan n sibuk berupaya utk ngobatin aku.
well said dear Alex..
i love the “Gay/Lesbian bukan sekedar penggila clubing yang hidup diantara alkohol dan asap rokok, lalu membunuh pasangannya karena cemburu” part.
its not a lifestyle like most of homophobia used to say. gay people do fall in love with each other, right?!
weel i’m kind of disagree with “(tidak) membunuh pasangannya karena cemburu” because women r build for drama, so when women being with women its not just doble d drama, its world war III, hahaha.. u know what i meant, its a good things hahaha..
it wasn’t really that easy to coming out here. just like another well said by u “berprestasilah setinggi mungkin, capai karir jadi yang terhebat, dan tunjukan siapa dirimu” that’s why most of Indonsia lesbian r very successful women, because we need to make sure we’re financially safe and in good job position, so it will be safe to coming out.
once again Alex, well said, i would like to read more of ur words or maybe hv a conversation..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, kita kerap mendengar bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Pepatah bijak itu bahkan tegas mengatakan merugilah orang yang kualitas hari kemarinnya sama saja dengan hari ini dan celaka jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Pernahkan kita bertemu teman lama yang rasanya dari zaman mIRC sampai era Whatsapp masih berkutat dengan masalah itu-itu saja? Atau justru orang tersebut adalah diri sendiri?
Lesbian, kehidupan yang berkualitas seharusnya ibarat meniti tangga, terus bergerak dan melangkah lebih tinggi. Pada posisi yang lebih tinggi seharusnyalah kita berhadapan dengan masalah yang lebih menantang. Itu sebabnya SepociKopi menganggat tema ini, untuk mengingatkan kita semua untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam bidang apa pun yang kita tekuni.
Lesbian, bulan ini juga kita memperingati hari Pendidikan Nasional. Pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku untuk mendewasakan manusia. Tidak ada cara lain untuk meraih kehidupan yang lebih baik selain terus dan terus mendidik diri. Selamat menikmati didikan SepociKopi untuk seluruh pembaca setia. Peluk dan cium buat semuanya.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 61 queries. 0.751 seconds.