Home » FabuLezlyCool, Humaniora

FabuLezlyCool: Cermin

Submitted by on 04/07/2012 – 7:33 pm2 Comments | 1,117 views

Oleh: bE

Diceritakan bahwa ketika Narcissus meninggal setelah terjatuh ke danau saat asyik mengagumi ketampanannya, dewi-dewi penghuni hutan muncul dan menyadari danau yang selama ini airnya selalu segar sekarang menjadi danau air asin seperti air mata.

“Mengapa kau menangis?” Dewi-dewi itu bertanya.

“Saya menangisi Narcissus,” jawab Danau.

“Ah, itu bukan hal yang mengejutkan,” kata mereka. “Selama ini kami selalu berusaha mengejarnya di hutan, namun hanya kau yang bisa menariknya mendekat dan menikmati ketampanannya.”

“Tapi… Apakah Narcissus memang benar-benar tampan?” Danau tiba-tiba bertanya.

“Siapa lagi selain kau yang tahu?” Para Dewi bertanya keheranan. ”Lagi pula, di tepianmulah dia selalu berlutut setiap hari mengagumi dirinya!”

Danau terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya berkata, ”Saya memang menangisi Narcissus, tapi saya tidak pernah menyadari ketampanannya. Saya menangis karena setiap kali dia berlutut di tepian, saya jadi bisa melihat keindahan saya sendiri yang terpantul di matanya.”

***

Siapa di antara kita yang tidak pernah melihat cermin? Siapa yang tidak pernah mematut-matutkan diri di depan cermin? Paling tidak dalam sehari kita pasti ’memeriksakan’ diri di depan cermin. Entah itu di kamar mandi, di kamar rias, atau bahkan sekilas di spion mobil yang sedang parkir ;-)

Saat bercermin apakah kita bisa mengatur apa saja yang boleh dan tidak boleh ditampilkan di cermin? Atau jangan-jangan ada yang memiliki cermin yang bisa ’menutupi’ ketidaksempurnaan seperti kemampuan Photoshop? Hm, kalau ada yang cerminnya bisa begitu, tolong info beli dimana ya? Hi hi hi.

Menurutku cermin salah satu benda yang paling jujur karena akan memantulkan objek apa pun di hadapannya apa adanya. Bahkan cermin di dunia Harry Potter juga jujur mempelihatkan keinginan terpendam siapa pun yang berdiri di depannya. Tapi yang ingin aku kemukakan di sini bukan tentang benda berkilau yang kita lihat sehari-hari.

Dunia sekitar sebenarnya juga cermin yang akan dengan jujur memantulkan apa pun yang ditangkapnya. Cara kerjanya juga mirip dengan cermin biasa. Siapa pun kita, apa pun yang kita lakukan semua akan dipantulkan dengan jujur dan sempurna oleh cermin semesta ini.

Prakteknya mudah. Coba saja saat berjalan dan berpapasan dengan orang lain kita tersenyum ramah, maka ’cermin’ itu akan memantulkan hal yang sama. Orang-orang akan balas tersenyum. Saat menolong orang lain, maka bayangan itu terlihat ketika kita menerima pertolongan dari orang lain. Coba kalau kita cemberut atau memaki-maki, maka pastinya itu juga yang akan dipantulkan kembali.

Demikianlah cara kerja cermin semesta ini. Perlakuan yang kita terima dari orang lain sebenarnya hanyalah pantulan bayangan kita di cermin. Baik atau buruk semua akan dipantulkan dengan sempurna. Dan itu berlaku terhadap seluruh penghuni dunia ini, termasuk kita para lesbian.

Sudah cukup sering kita mendengar kisah atau bahkan melihat sendiri perlakuan masyarakat luas kepada kaum lesbian. Betapa banyak cerca dan hinaan yang ditumpahkan kepada kaum lesbian. Bahkan mungkin ada yang melakukan aksi anarkis dan teror ketika tahu ada lesbian di antara mereka. Pokoknya kisah-kisah seram sejenis itulah.

Tapi merujuk filosopi cermin tadi, maka bukannya balik menghujat mereka, kita justru harus memandang lebih dalam ke diri kita. Apa yang sudah kita perbuat sehingga harus menghadapi pantulan bayang seperti itu? Hal-hal yang mungkin kita sudah lupa di masa lalu yang baru kembali sekarang.

Aku ingat saat pertama kali mengaku sebagai Lesbian, sahabatku langsung mencetus setengah bertanya, berharap konfirmasi apakah lesbian kaum yang eksklusif. Mungkin kesan itu yang ia tangkap menyangkut kaum lesbian karena cenderung hanya ingin bergaul dengan sesamanya dengan alasan merasa bisa lebih saling mengerti, menerima dan sepaham. Sikap yang lantas membuat para lesbian seolah lupa bahwa sebenarnya mereka tidak jauh berbeda dengan penghuni dunia yang lain. Jika ungkapan saat kasmaran dunia adalah milik berdua, maka demikian juga halnya dengan kaum lesbian. Tidak sedikit lesbian yang mungkin hingga saat ini berpikir bahwa dunia mereka hanyalah sebatas hal-hal yang berhubungan dengan kelesbianan mereka. Yang lain pun dilewatkan.

Jika saja para lesbian mau meluangkan sedikit waktu untuk bisa lebih memahami diri masing-masing, maka tidak akan ada kegalauan stadium tinggi tentang derita yang tak berkesudahan. Tentang penolakan yang masih terus diterima di lingkungannya.

Yang akan ditemukan adalah kita semua—terlepas dari segala embel-embel lain—hanyalah manusia yang punya kesempatan yang sama untuk menempati dunia ini. Dan oleh karenanya bersikaplah demikian. Jangan malah mengucilkan diri dan mempersempit pandangan hanya karena ingin ’eksklusif’. Jika kita memutuskan untuk mengganggap mereka hanya sebagai pengganggu di dunia kita, maka jangan terkejut jika mereka juga merasa keberadaan kita tidak lebih hanya sebagai pengganggu.

Wajar saja jika kita merasa lebih nyaman di antara para sahabat lesbian, tapi kenapa tidak dengan yang lainnya? Pembatasan itu yang akan membuat kita terus terkungkung, tidak bisa keluar melihat langit biru yang luas. Jadilah pribadi yang sejuk dan nyaman, maka kita akan bisa meraih kenyamanan yang sama. Dan di saat itu, seperti Narcissus dan danau, kita akan sama-sama bisa melihat keindahan kita saling terpantul.

@bE, SepociKopi, 2012

Tags: , ,

2 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.