Home » Have Your Say

Have Your Say: Tak Berakhir di Sini

Submitted by on 29/06/2012 – 11:39 pm11 Comments | 1,937 views

Mencintai adalah memberi dukungan penuh, tanpa pamrih, meski kadang hati menjerit lirih. Bahagia adalah memberi dukungan konsisten. Seberapa kuat kita mampu berjuang untuk cinta, untuk membahagiakan orang yang dicintai? Dengarlah cerita sahabat kita, Araneyaa, cinta yang ia miliki, membuatnya mempu melalukan hal-hal yang semula tak tebayangkan.

Frey, dia kekasihku. Kekasih yang selama ini selalu dalam pikiran, hati dan jiwaku. Lebih dari dua tahun kami bersama. Berawal dari Facebook, dia adalah kakak tingkatku dulu yang sempat aku kenal, kakak tingkat yang tidak banyak bicara tetapi dia pintar.

Dia ada di kota lain saat kami mulai akrab di Facebook. Dia bercerita akan menikah tahun itu, dia sudah lelah dengan paksaan orang tua dan saudara-saudaranya. Empat hari setelah dia dilamar, kami makin akrab dan jadian. Saat-saat itu benar-benar kita tidak peduli pada apa pun dan siapa pun. Dia datang ke kotaku dan aku juga beberapa kali datang ke kotanya. Setelah lima bulan usia hubungan kami, dia memintaku untuk meninggalkannya. Dia tidak mau aku jadi selingkuhannya, dia mau aku jadi yang pertama pada suatu saat nanti.

Akhirnya kami putus. Setelah Idul Fitri ternyata dia ijab kabul, tanpa kabar berita darinya. Aku mengetahui dari adiknya. Aku mengucapkan selamat, kemudian dia membalasnya dengan hati yang sangat terpukul, dia hanya ingin mati saat itu. Aku selalu memberinya semangat untuk tetap bertahan, bertahan untukku. Karena setiap hari dia bercerita selalu tersiksa perasaannya, dia menangis, dia merasa jijik dengan dirinya saat itu.

Satu bulan setelah ijab kabulnya, dia datang ke kotaku untuk menemuiku. Aku tidak bisa menahan diri untuk ikut dengannya. Aku tinggal di rumahnya, mempersiapkan segala keperluan acara pernikahannya. Mengantar undangan dan mempersiapkan suvenirnya yang harus menempelkan foto dia dan suaminya. Aku melakukannya dengan hati remuk redam. H-1 aku putuskan untuk pulang, aku takut tidak akan kuat melihatnya ada di pelaminan. Malam pun datang, kami berdua ada di kamar adiknya. Dia menangis tak kunjung henti, dia ingin aku membawanya pergi, dia ingin ikut aku pulang ke kotaku. Aku benar-benar sangat bingung saat itu, tetapi aku masih bisa menahan air mataku.

Akhirnya aku berpamitan dengan orang tuanya dan saudara-saudaranya, dia mengantarku pulang. Setelah keluar dari rumahnya spontan aku menangis, di atas motornya aku memeluknya erat sekali. Aku pun tahu dia juga menangis, tanganku basah terkena tetesan air matanya. Kami tidak mampu berkata-kata lagi, hanya ingin menangis sepuasnya.

Di atas bus, aku melihatnya sangat hancur, dia tidak berhenti menangis, aku pun juga. Empat hari setelah acara pernikahannya adalah acara wisudaku, dia berkata akan datang. Dan subuh-subuh dia sudah sampai di kotaku. Aku amat sangat senang. Dua hari kami bersama, jalan-jalan ke mana pun yang kami inginkan. Sampai akhirnya kami ada di terminal, tahu bahwa kami akan berpisah lagi. Tetapi ternyata tidak secepat itu, dia naik ke busku dan menarik tanganku untuk naik ke busnya. Kami terdiam. Dan aku menginjakkan kaki lagi di kotanya, tinggal di kos bersama.

Setiap malam minggu dan hari minggu, dia pulang ke rumah suaminya. Saat itu aku mulai membenci malam minggu dan hari-hari libur, karena aku akan sendiri dengan pikiranku yang penuh dengan bayangannya. Sampai dia hamil, sampai suami dan keluargannya tahu tentang hubungan kami, kami tetap bersama. Hingga sekarang anaknya hampir 1 tahun, aku menganggapnya seperti anakku sendiri.

Saat ini aku masih di kotanya, sudah hampir 2 tahun aku tinggal di kota ini. Kami sembunyi-sembunyi bila bertemu, sangat tidak nyaman, tetapi demi semuanya kami harus lakukan. Aku akhirnya mengambil kuliah lagi dan 4 bulan lagi aku akan lulus, akan bekerja di kota lain, dan akan meninggalkannya. Aku sedih mengetahui akan berada jauh darinya lagi. Hampir tiap malam aku tidak bisa tidur.

Minggu ini dia berkata akan mengontrak rumah dan akan membawa anaknya. Kami makin tidak punya banyak waktu lagi untuk bersama. Spontan aku menangis, aku hanya ingin waktu yang hanya 2 minggu ini hanya terlewati bersamanya, tidak ada yang lain. Aku tahu aku egois, tetapi aku hanya ingin menghabiskan waktu sebelum aku liburan dan sebelum aku pulang ke kotaku. Tetapi aku akan selalu menerima apa keputusannya, karena aku sangat menyayanginya. Semua hanya untuk kebahagiaannya. “Semoga kelak bisa menjalani hidup bersamamu”, itu yang dia tulis untukku.

Aku tidak mampu lagi berharap, aku hanya ingin menjaga hati ini untuknya. Untuk Frey, jadi bunda yang terbaik dan yang terkeren buat jagoan kita ya. Aku selalu menunggumu menjemputku.

@Araneyaa, SepociKopi, 2012

  

Tags: , ,

11 Comments »

  • inka says:

    seperti yg akan aq alami… berharap bgt hbngn kami bisa seperti ini… walaupun terlihat sdkt egois… tp aq tetap ingin dia bs menunggu… sampai kita benar2 bs bersama…

  • demas says:

    sayang bgt kamu begitu transparan, jika saja kamu bisa bersabar dan menutupi hubungan mu dengan frey tentu smuanya akan lebih mudah dan masih bs dijalani… :’( terharu bgt gw bacanya krn pernah juga ngerasain ini

  • kalyto says:

    Heheh..ur not alone kok @araneyaa…aku jg tetap menunggu seseorang tapi bukan karna dia akan menikah.kenyamanan dan “kegilaan” saat kita bersama yang bikin aku bisa nunggu dia biarpun kl ketemu cuma bisa itungan jam. Bukan muluk untuk nunggu tapi sambil nunggu tetep kita harus lakukan kegiatan positif dengan sosoknya untuk motivasi kita karena ga akank nutup kemungkinan hasil dari penantian itu berbuah manis…..hehehhe….just keep smile to face ur day :)

  • rendy says:

    patner saya minta izin utk menikah& dia jg minta agar saya tetap bersama dia biar pun nanti dia telah bersuami,apa kah saya akan bs sekuat itu melihat dia bersama suaminya kelak…

  • pure says:

    kalo menurutku sich jangan terlalu berharap muluk2…akhirnya akan kecewa…buka mata dan logika…kalo udah ada anak ga mungkin bisa lepas dari ikatan pernikahan..siap2 aja jadi yang ketiga..setelah anak dan suaminya…pengalamanku itu yg terjadi…hingga kebal punya rasa sakit..terus aku berpikir mau sampai kapan aku bertahan seperti itu..??

  • chanbie says:

    Berasa ngaca baca tulisan ini. Hopefully you guys live together and so do us .

  • BemT says:

    andai aku bs menunggu sekuat itu. Aku tdk cukup sabar menunggu. Tp aku jg tdk kuat berpisah. Krnnya I will fight. Fight to be together.

  • araNeyaa says:

    thanks SK, thanks guys :)

    akhirnya 2minggu ini kita lewati bersama.
    dan malam minggu ini dia akan menemaniku,
    sebelum aku pergi dari kota ini,
    dan untuk mengganti malam2 minggu yg membuatku tak menentu. hehehe
    semoga kelak kita benar2 bisa bersama :)

    .Fong&Cupay aku tak ingin putus asa, aku ingin tetap menunggunya ;)

    .Bebe mungkin benar, hidup itu bukan pilhan. semangattt Be :D

  • Bebe says:

    Sedih bangeeeeeeeet :’( :’( aku juga memutuskan untuk lurus dan sangat sangat tersiksa :’( kenapa harus begini yah hidup itu?? :’(

  • c u p a y says:

    Hampir mewek aku baca nya :’)
    Aku tahu perasaan di antara kalian berdua benar2 kuat
    Jadi, jangan lelah nunggu Frey yaa Ara ;)

  • fong says:

    Dijalani dgn legawa aja, biar waktu yang membantu mengurangi bebanmu dan membantu untuk memutuskan yg terbaik kedepannya, jgn putus asa yah (?’??’?)9

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.