Home » Coming Out, Humaniora

Menghadapi Momok Para Lesbian

Submitted by on 08/05/2012 – 11:46 am16 Comments | 2,171 views

Oleh: Ema

Lesbian punya momok. Mendengar istilahnya saja sudah merinding, apalagi kalau membayangkan rupanya. Si momok dibicarakan sembunyi-sembunyi, dengan hati was-was dan keringat mengucur deras. Sebenarnya semua bertanya dalam hati, ‘Semengerikan itukah momok yang sebenarnya?’ atau ‘Apa yang harus aku lakukan jika bertemu si momok?’. Sayangnya, ketakutan komunal terhadap momok terlanjur mematikan keberanian lesbian untuk mencari jawabannya.

Nah! Bagaimana kalau kali ini kita bicarakan si momok dengan terang-terangan dan gagah berani? Si Momok itu, tak lain dan tak bukan, adalah coming out! Nah lho, merinding semuanya, kan? Hehehe…

Dalam ilmu psikologi dan kajian LGBTIQ, coming out (CO) berarti mengenali diri sendiri sebagai lesbian (juga gay, biseksual, atau transgender); kemudian memberitahukan hal tersebut pada orang lain. CO bagi lesbian terdiri dari tiga tahap yang saling berkaitan erat.

Tahap pertama adalah mengenali dan memahami diri sendiri sebagai lesbian. Inilah fondasi bagi seluruh proses CO. Mengenali berarti mampu mengidentifikasi orientasi seksual diri, sedangkan memahami berarti menerima dan menghargai diri sepenuhnya, serta mampu memetakan posisi diri dalam lingkungan, keluarga, dan masyarakat.

Tahap tersebut tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan dukungan tahap kedua, yakni memberitahukan perihal orientasi seksual diri pada orang lain. Weits! Jangan pingsan dulu! Orang lain itu tidak hanya orangtua, keluarga, dan rekan kerja, lho. Komunitas lesbian dan organisasi LGBT itu orang lain pula. Dalam kelompok teman serupa, lesbian bisa saling berbagi cerita dan menguatkan. Dengan bergabung/mengikuti kegiatan organisasi LGBT, lesbian juga bisa mempelajari banyak hal penting seperti tentang konsep diri, kesehatan seksual dan reproduksi, romantic relationship, posisi diri dalam masyarakat, dan lain-lain. Lebih jauh lagi, lesbian bisa mendapat akses perlindungan hukum atau bantuan lainnya ketika menghadapi masalah dalam proses coming out.

Yah, tidak bisa dipungkiri bahwa ada juga komunitas lesbian/LGBT yang ternyata kurang produktif dan kurang mendukung perkembangan diri. Karenanya, menjadi cerdas dalam memilih komunitas juga penting sekali.

“Orang lain” berikutnya adalah komunitas/kelompok/organisasi lain yang menerima dan mendukung lesbian. Hal-hal berharga yang akan lesbian dapatkan ketika CO pada mereka, tidak jauh berbeda dengan CO pada teman serupa di atas. Namun, serunya, teman-teman yang ini biasanya straight semua. Semangat jadi berlipat ganda, dong, ketika teman yang bukan LGBT ternyata ikut mendukung dan siap melindungi kita. Contoh kelompok ini adalah lembaga bantuan hukum, organisasi perempuan, kelompok belajar di kampus, geng sahabat, komunitas sehobi, dan sebagainya.

Nah, sembari mencari ilmu pada teman-teman di atas, lesbian harus kembali mempertajam tahap pertama (memahami diri sendiri). Petakan posisi diri di lingkungan keluarga. “Saya anak nomor berapa? Apa harapan orangtua terhadap saya? Apa orangtua punya penyakit berat? Bagaimana sikap orangtua dan keluarga pada saya? Apakah mereka pemukul? Apakah mereka tipe orang yang mendahulukan dialog? Siapa saja yang bisa memberikan bantuan hukum pada saya? Bagaimana kalau saya diusir dari rumah atau dipaksa menikah?”.

Pemetaan ini penting untuk membantu lesbian memutuskan akan melanjutkan proses CO atau tidak. Pemetaan ini juga membantu untuk mengatasi beragam resiko buruk, juga memilih cara dan waktu yang tepat untuk CO pada orangtua dan keluarga. Pertanyaan seperti “Apa hobi orangtua saya? Menyanyi, menonton film, membaca, atau…?” juga akan sangat membantu dalam memilih cara CO.

Contohnya. Hobi orang tua membaca? Mungkin bisa disodori novel Gerhana Kembar (Clara Ng). Suka menonton film? Ajaklah menonton Glee. Hal yang sama juga berlaku untuk lingkungan kerja. Petakan posisi diri, dan siapkan skenario untuk menghadapi resiko-resiko terburuk.

Tahap ketiga! Ini dia yang paling menegangkan, yaitu CO pada keluarga, orangtua, atau rekan kerja. Idealnya, sih, lesbian melakukan ini dengan kesadaran penuh. Ingin menjalani hidup dengan damai dan jujur, ingin diterima apa adanya, dan alasan-alasan indah lainnya. Tapi faktanya, tahap ini biasanya dicapai karena terpaksa! Ya, terpaksa! Mantan pacar melapor ke kantor, ketahuan orangtua berciuman sama pacar, buku harian terbaca ibu/ayah, dan lain-lain, dan lain-lain.

Nah lho, kalau begini ceritanya, lesbian harus bagaimana, dong? Ya sudah, tidak ada jalan lain. Lesbian harus menyiapkan diri untuk coming out sejak sekarang, tak bisa ditunda-tunda. Mantan bisa menjadi macan dalam sekejap! Maka, mari menjalani tahap pertama dan kedua dengan tekun, supaya tidak kelimpungan kalau mendadak harus coming out.

Tidak semua proses coming out berdarah-darah, kok. Banyak juga sahabat lesbian yang melaluinya dengan damai. Semuanya kembali pada lesbian sendiri. Ketika segalanya disiapkan dengan baik, hal-hal buruk niscaya bisa dihindari. Yang jelas, jangan berharap proses coming out tidak menyakitkan dan makan hati. Tidak mungkin! Lesbian hampir pasti mengalami penolakan, sekali pun dari keluarga. Sabar adalah kata kuncinya. Jika lesbian saja butuh bertahun-tahun untuk menerima dirinya sendiri, masa orang lain disuruh menerimanya dalam sekejap?

Jika kau sedang menghadapi momok ini, jangan menyerah, Teman! Jangan berhenti membangun komunikasi dan pengertian bersama. Jangan pula menjadi pelaku kekerasan terhadap orangtua dan keluarga, baik psikis, verbal, maupun fisik. Kau tidak sendirian. Di sini ada keluarga sepocikopi yang setia menemani dan siap membantumu saat menjalaninya. Semangat!

@Ema, SepociKopi, 2012

Tags: , , , , , , , , , ,

16 Comments »

  • LOV says:

    Coming Out, apakah sebuah kebutuhan utama? Saya pikir itu hanya semacam keakuan ego kita. OK … kita sudah coming out ke orang tua dan keluarga. Next ? Apa yang kita butuhkan dari sebuah coming out kalau pada akhirnya CO itu hanya menyakitkan hati orang-orang yang kita kashi, ayah, ibu dan saudara-2 kita.

    Kita, gay & lesbian, punya problem yang sama.

    Menurut saya, alangkah lebih bijak kalau masalah ego seksual itu kita kesampingkan saja. Akan lebih berguna jika kita bisa mandiri, bersikap baik, tidak bergantung pada oarang lain.

  • melkie says:

    blon berani ,blon siap !! im such a coward!!! but i loved being lesbian…hehehe

  • me says:

    @ messi femme boleh tau ngga batasan apa aja yg dibatasin ttg gerak km akibat hal td?

  • And's says:

    Alhamdulillah sahabat, sodara n ortu sudah.. ^^

  • Rezubian.ndutz says:

    @ema : thx ema ^o^ sipp!! semangattt xD !!

  • Ema says:

    @meesi feme: aahh, kok tega banget sih mantanmu? terus, hubunganmu dgn orang tua gimana sekarang?

    @ndutz: wah, selamat ya buat usahanya. ayo, tetap dukung ibu kita! mereka pasti butuh dukungan untuk menghadapi masyarakat n keluarga.. :3 semangaaatt!!!

    @nemo: pukpukpuk… siapa yg nyuruh milih, Nemo?

    @stevan: amin… semoga juga tidak mendapat hal buruk dari diri sendiri yaa…

    @freud: halo! efek menyembunyikan diri biasanya hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran, selalu takut ketahuan, harus terus-terusan berbohong (pd orang lain dan diri sendiri), perasaan bersalah… “coming in” pada diri sendiri jelas harus. lebih baik lagi kalau bisa melalui tahap kedua yg kutulis di artikel ini. alasannya jg sudah kutulis di atas. sekali lagi, pd banyak kasus, lesbian CO karena terpaksa. jadi apa salahnya bersiap-siap?

    Fabel: doaku bersamamu! semangkaaa!!! :)) teman-teman terbaik akan tetap bersamamu.

    @hans n dudz: >.< dulu aku juga gak berani n gak siap CO ke ortu, tapi malah ketahuan. huhuu..

    @marcell: saluuuttt!! tetap berjuang yaaa… atur strategi paling tepat. :))

  • marcell says:

    Aku menjalani hbgn serius dgn partnerku skrg,,mulai dr tabungan hingga rencana kedepan sudah ada qt saling mengisi.kbtulan ak dan dia dulunya musuh bebuyutan tp qt malah jdian nah d saat CO d dpn tmn2 qt g canggung malahan d blg “tuhh kan mkny benci jadi cinta deh” finally ak skrg bebas bhkn skrg qt suka hang out brg tmn2 qt yg hetero dan sdh pd pny. Pacar.hopefully nnti bsa mulus saat CO sma family (semangat!!)

  • ndutz says:

    @f.freud : yah itu tergantung pribadi , tapi apakah lama-lama akan merasa nyaman dengan menyembunyikan itu semua ? semua pilihan ada di diri kita masing-masing , gak ada salahnya kalau memang gak mau CO :)

  • hanscristian says:

    saya tidak berani kawan..

  • fabel castell says:

    baru saja ‘meracuni’ teman2 kost pake novel sanubari jakarta..doakan saya! \m/

  • F.Freud says:

    Apa coming out tu hrus ya?
    bgmn klo qta menyembunyikan ‘identitas’ qta dr kluarga n tmen dket selamanya?
    pkoknya jgn smpe mrk tau lah. .
    ap akibatnya buat qta?

  • stevan says:

    aku belum pernah mendapat hal yang buruk dari lingkungan dan semoga hal ini terus berlanjut

  • Nemo says:

    aku tragis….pasanganku suruh memilih….(aku atau suaminya).
    Heh ….??!!

  • ndutz says:

    setuju banget dengan artikel ini :) Tahap pertama adalah tahap terpenting menurutku , karena tahap itulah yang bisa mendampingi kita sebagai lesbian melakukan tahap 2 dan 3 . CO itu memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar , sama seperti memahami tahap pertama . Q baru saja melakukan CO kepada orang tua n family ke 2 q , family ke 2 q sangat menghargai n mendukung q sebagai lesbian kalau memang ini pilihanku , tidak ada yang menghinaku sama sekali. Lalu baru kemarin q melakukan CO terhadap ibuku , awalnya beliau tidak bisa menerima itu dengan sepenuhnya , tetapi pda akhirnya beliau mau menerima pilihan hidupku menjadi seorang lesbian setelah q menjelaskan tntang lesbian n mengapa q menjadi lesbian . CO itu memang bikin “jantung berdegup kencang” dan berfikir sekencang kencangnya , memikirkan segi positif dan negatif orang lain tentang pilihan hidup kita menjadi lesbian . Bersikaplah baik , punya tanggung jawab yang serupa dengan pilihanmu menjadi lesbian , perlihatkan bahwa LGBT itu tidaklah negatif / orang yg bisanya hanya menyusahkan , tidak pnya semangat , psyco , dll . Tunjukkan pada orang lain bahwa kita adalah lesbian yang bisa berbakat seperti halnya orang lain di luar sana yang bisa meraih kesuksesan . Semangat buat para LGBT yang mungkin masih ragu untuk melakukan CO !! :)

  • meesi feme says:

    kalau aku pernah mantan pacar lapor ke orang tua.
    dan akibatnya semua gerakku di batasi :(

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.