Home » Film, Humaniora, Opini, Seni Budaya

The Hunger Games: Ada Harapan dalam Kegelapan

Submitted by on 04/05/2012 – 10:11 am8 Comments | 1,767 views

Oleh: bE

Sejujurnya, aku dan partner sama-sama belum membaca buku The Hunger Games dan hanya mengenal tokoh Katniss dari SepociKopi, tapi kami memutuskan untuk mengikuti ajakannya menikmati ‘permainan’ yang satu ini.

Nah, singkat cerita kami akhirnya menonton filmnya. Tulisan ini bukan resensi film The Hunger Games. Ada beberapa hal menarik yang aku tangkap sebagai pesan yang ingin disampaikan lewat kisah The Hunger Games. Mungkin teman-teman juga merasakan yang sama, tapi mungkin juga tidak, karena itu aku memutuskan untuk menuliskan pesan-pesan yang berhasil kutangkap di sini:

1. Rasa takut
Di film ini dikisahkan seorang pemimpin (presiden) yang menjalankan pemerintahan dengan menggunakan ‘rasa takut’ untuk mengontrol rakyat. Dia menciptakan sebuah permainan berdarah yang dijadikan sebagai salah satu tradisi pemerintahannya. Agar permainan ini tampak menarik dan dapat menyatukan semua distrik, permainan itu diselimuti dengan semboyan pengorbanan, keberanian, dan lain-lain yang sifatnya kepahlawanan.

Namun seluruh warganegaranya selalu dilanda ketakutan yang amat sangat setiap kali turnamen tiba. Di balik semboyan heroik tadi, turnamen tersebut selalu dianggap sebagai hari kematian. Bayangkan, hanya satu orang yang boleh hidup! Kejam bukan? Di sini aku tidak sepenuhnya menyalahkan sang presiden. Yang aku rasa aneh adalah warganya juga terlibat dalam melestarikan tradisi itu.

Kembali ke dunia lesbian. Bukankah hal ini sama dengan para lesbian yang setiap hari memilih untuk hidup dalam ketakutan? Aku sebut “memilih” karena sebenarnya hidup ini memang pilihan. Kita mempunyai kemerdekaan untuk memilih sendiri, bukan orang lain. Aku gelisah melihat para lesbian yang mengeluh dan termehek-mehek tentang hidup yang kejam kepadanya. Menyalahkan kelesbianannya, menangisi hal-hal yang menyakitkan yang terjadi pada hidupnya, dan lain-lain. Coba ingat-ingat kembali, apakah memang benar kita tidak turut andil di dalam penderitaan itu? Ketika kita sudah memilih untuk menjadi seorang penakut, maka kita secara otomatis mengundang hal-hal yang menakutkan ke dalam hidup kita.

Analoginya mungkin begini. Bayangkan kita sedang berjalan seorang diri di malam hari. Tidak ada kendaraan yang berlalu lalang. Minim penerangan plus pohon besar yang berderet di pinggir jalan. Sunyi sepi. Nah, sangat manusiawi kalau perasaan takut mulai tumbuh. Hal-hal yang menakutkan berbayang-bayang. Ilusi dan imajinasi yang menakutkan semakin intens, seiring dengan meningkatnya adrenalin di dalam diri. Dan akhirnya, kita melihat si ‘mbak’ bergaun putih melayang, yang ternyata bekas spanduk yang berkibar di pohon. Tuh kan, parno sih.

Terus, bagaimana dong mengantisipasinya? Rasa takut adalah wajar, tapi tetaplah memilih karena hidup adalah pilihan. Pilihlah dengan berani dan bijak. Pilihlah hidup seperti apa yang kita inginkan dan berhentilah menyalahkan sekeliling. Mereka tidak bersalah apa-apa, kok.

2. Jati diri sebagai manusia

Seiring dengan berjalannya waktu di arena pertarungan, semua peserta mengalami perubahan. Hal ini berkaitan dengan kondisi lapangan yang mengharuskan bertahan-atau-mati. Masing-masing peserta berupaya menghilangkan kesempatan peserta lain untuk hidup. Semua merasa harus menjadi pemenang; menjadi si pencuri kematian. Namun, sang heroine dalam cerita ini, Katniss, sepertinya tidak terlalu terusik dengan hal itu. Dia tidak pernah benar-benar mencabut hak hidup orang lain, namun berusaha mempertahankan sisi kemanusiaannya.

Kadangkala, kita dihadapkan pada pilihan hidup yang akan mengubah kita selamanya. Tekanan sosial memaksa kita melepas status demi upaya untuk membaur. Hal itu selalu kita hadapi setiap saat. Namun apa pun yang terjadi, jangan pernah melupakan bahwa jati diri kita adalah kemanusiaan kita.

Itu juga berlaku buat para lesbian. Meski banyak hal-hal yang kurang menyenangkan muncul di depan mata, maka jangan lantas menarik kesimpulan bahwa hal itu muncul karena sisi kelesbianan. Ingatlah, masalah hadir karena sederhananya, kita semua manusia. Manusia tak pernah terlepas dari godaan kejahatan dan kebaikan, serta perjuangannya.

3. Cinta
Nah, ini yang paling seru. Namun bukan cinta personal yang ingin aku bahas, melainkan cinta universal. Pesan itu aku tangkap ketika sang Presiden bertanya tentang pin yang dikenakan Katniss selama kompetisi. Pada awalnya, Katniss menyebut pin itu adalah pemberian adiknya, namun di akhir cerita, dia menyebut pin itu pemberian distriknya.

Alangkah bijaknya jika kita semua juga bisa seperti itu. Kita tidak lagi berjalan di gang sempit yang khusus dibuat untuk partner dengan alasan cinta, melainkan kita berjalan di jalan besar lima jalur dengan pemandangan yang terbentang dan langit mahaluas di atas kepala. Kita tidak lagi memperkecil jarak pandang kita, terkurung oleh cinta. Kita tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan yang lebih besar menanti di depan mata, terkurung oleh cinta.

Aku yakin para pendiri serta seluruh pihak yang mendukung SepociKopi sudah berada pada tahap itu. Bukan hanya cinta personal, tapi cinta yang universal. Bukankah cinta yang menyatukan kita semua di sini?

Film telah usai. Kutemukan di akhir cerita, Katniss memberikan harapan. Harapan adalah enerji yang dimiliki manusia, enerji yang lebih kuat daripada rasa takut. Harapan inilah yang akhirnya bisa mempersatukan para distrik yang sedari dulu diprogram untuk saling membunuh dan bermusuhan dalam sebuah tradisi bernama The Hunger Games.

Hope, is wishing something would happen. Faith, is believing something will happen. Courage, is making something happen.

Kita, sebagai lesbian, apakah juga seperti itu? Kita sebagai lesbian, apakah tetap memegang harapan di hati, ketika gelap tiba dan ketakutan tak mau sirna?

@bE, SepociKopi, 2012

  

Tags: , , , , , , , ,

8 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.